2 (SADARI). SADARI perlu dilakukan ketika
HASIL PENELITIAN
1. Karakteristik Anak dan Orangtua
Data hasil penelitian ditunjukan dalam Tabel 1. Dari hasil penelitian yang dilakukan di Yayasan Perguruan Bodhicitta Medan tahun 2013 diperoleh hasil distribusi responden umur 11 tahun sebanyak 37 (43,0%) responden, umur 12
tahun 34 (39,5%) responden, umur 10 tahun sebanyak 15 (17,4%).
Berdasarkan jenis kelamin, dimana jumlah responden anak laki-laki sebanyak 40 (46,5%) responden, dan responden anak perempuan sebanyak 46 (53,5%).
Dari 86 responden terdapat 8 responden yang orangtuanya tamat SD (9,3%), 12 responden yang orangtuanya tamat SMP (13,9%), 30 responden yang orangtuanya tamat SMA (34,9%), 28 responden yang orangtuanya tamat S1 (32,6%), 6 responden yang orangtuanya tamat S2 (7,0%), dan 2 responden yang orangtuanya tamat S3 (2,3%).
Dari 86 responden terdapat 50 responden yang orangtuanya bekerja sebagai wiraswasta (58,1 %), 16 responden yang orangtuanya bekerja sebagai tenaga pengajar (18,6%), dan 20 responden yang orangtuanya bekerja sebagai karyawan (23,3%)
2. Pola Konsumsi Energi dan Protein Anak Vegetarian dan NonVegetarian Tabel 1. Distribusi Tingkat Konsumsi
Energi Pada Anak Vegetarian dan Nonvegetarian Kelas V Sekolah Dasar di Yayasan Bodhicitta Medan Tahun 2013
No Tingkat Konsumsi Energi Vegetari an Non Vegetari an Jumlah n % n % n % 1 Defisit < 70% AKG 12 14,0 2 2,3 14 16,2 2 Kurang 70%-80% AKG 20 23,3 8 9,3 28 32,6 3 Sedang 80%-99% AKG 16 18,6 16 18,7 32 37,2 4 Baik ≥ 100% 4 4,7 8 9,3 12 14,0 Jumlah 52 60,6 34 39,6 86 100,0
5 Pola konsumsi Berdasarkan tingkat konsumsi energi responden diperoleh responden dengan pola konsumsi defisit sebanyak 14 (16,2%) responden, responden dengan pola konsumsi energy kurang sebanyak 28 (32,6) responden, responden dengan tingkat konsumsi energi sedang sebanyak 32 (37,2%) responden dan responden dengan tingkat konsumsi energi baik sebanyak 12 (14,0) responden.
3. Status Gizi Anak Vegetarian dan Nonvegetarian
Tabel 2. Distribusi Frekuensi Tinggi Badan Menurut Umur Pada Anak Vegetarian dan Nonvegetarian Kelas V Sekolah Dasar di Yayasan Bodhicitta Medan Tahun 2013 No Tinggi Badan/ Umur Anak Total Vegetaria n Nonveget arian f % f % f % 1 Tinggi 17 19,7 6 7,0 23 26,7 2 Normal 25 29,1 23 26,7 48 55,8 3 Pendek 8 9,3 5 5,8 13 15,2 4 Sangat Pendek 2 2,3 0 0 2 2,3 Jumlah 52 60,4 34 39,6 86 100
Jumlah anak dengan indeks massa tubuh menurut umur dikatakan normal pada anak vegetarian sebanyak 19 (22,1%) responden dan pada nonvegetarian sebanyak 4 (4,6%) responden. Jumlah anak dikatakan sangat kurus pada anak vegetarian sebanyak 12 (13,8%) responden dan pada anak nonvegetarian sebanyak 3 (3,6%) responden.
4. Prestasi Belajar Anak Vegetarian dan Anak Nonvegetarian
Diperoleh bahwa jumlah responden dengan prestasi belajar kurang sebanyak 55 (64,0%), dan jumlah responden dengan prestasi belajar baik sebanyak 31 (36,0%) responden. Jumlah anak dengan prestasi belajar pada kelompok anak vegetarian dikatakan baik sebanyak 14 (16,3%) responden dan pada nonvegetarian sebanyak 22 (25,6%) responden. Jumlah anak dengan prestasi belajar kurang pada kelompok vegetarian sebanyak 38 (44,2%) responden dan pada nonvegetarian sebanyak 12 (13,9%) responden.
Tabel 3. Distribusi Prestasi Belajar Pada Anak Vegetarian dan Nonvegetarian Kelas V Sekolah Dasar di Yayasan Bodhicitta Medan Tahun 2013 No Prestasi Belajar Anak Total Vegetarian Nonvegeta rian n % n % n % 1 Kurang 38 44,2 12 13,9 50 58,1 2 Baik 14 16,3 22 25,6 36 41,9 Jumlah 52 60,5 34 39,5 86 100 5. Jenis Vegetarian
Diperoleh bahwa jumlah responden dengan menganut jenis vegetarian
lacto-ovo sebanyak 26 (50,0%), jumlah
responden yang menganut jenis vegetarian ovo sebanyak 12 (23%), Diperoleh bahwa jumlah responden dengan menganut jenis vegetarian lacto sebanyak 10 (19,2%), dan jumlah responden dengan menganut jenis vegetarian murni/vegan sebanyak 4 (7,7%).
Tabel 4. Distribusi Jenis Vegetarian Pada Anak Vegetarian Kelas V
6
Sekolah Dasar di Yayasan Bodhicitta Medan Tahun 2013 N o Jenis Vegetarian Jumlah n % 1 Vegetarian Murni 4 7,7 2 Lacto-ovo Vegetarian 26 50,0 3 Lacto Vegetarian 10 19,2 4 Ovo Vegetarian 12 23,0 Jumlah 52 100,0 PEMBAHASAN
Pola Konsumsi Anak Vegetarian dan Non Vegetarian
Diketahui bahwa pola konsumsi anak vegetarian defisit sebanyak 34 (39,5%) dan nonvegetarian 16 (18,6%) pada anak kelas V sekolah dasar di Yayasan Perguruan Bodhicitta Medan Tahun 2013.
Hal ini dikarenakan jenis makanan yang diasup oleh para anak mencakup jenis makanan, frekuensi makanan ataupun tingkat konsumsi energi dan tingkat konsumsi protein pada anak vegetarian kurang baik dan penelitian ini dilakukan hanya dalam 1 (satu) hari jadi hasil (sistem
recall 24 jam) yang diperoleh kurang
memuaskan pada anak kelas V sekolah dasar di Yayasan Perguruan Bodhicitta Medan tahun 2013. Kemungkinan daya ingat anak pada jenis, jumlah makanan yang diasup kurang tepat pengkategoriannya.
Menurut Siagian (2010), sistem metode ingatan 24 jam ini kurang cocok diterapkan pada usia anak-anak karena daya ingat yang masih kurang sehingga subjek akan memperkirakan secara berlebihan atau kurang dari perkiraan asupan makanan yang dikonsumsi serta
aspek lainnya yang membuat penakaran terhadap asupan makanan tidak baik.
Tinggi Badan Menurut Umur (TB/U) Anak Vegetarian dan Non Vegetarian
Berdasarkan tinggi badan menurut umur pada anak vegetarian yang dikatakan normal sebanyak 17 (19,7%) responden dan nonvegetarian 23 (26,7%) responden di Yayasan Perguruan Bodhicitta tahun 2013.
Menerapkan pola makan yang benar kepada anak-anak sejak dini, akan berdampak positif terhadap kesehatan, berat badan, kebutuhan pelayanan kesehatan mereka di kemudian hari. Hal ini banyak dikarenakan oleh konsumsi makanan yang kurang beragam serta pada penelitian terdahulu yang dilakukan peneliti anak vegetarian memang memiliki pertumbuhan yang lebih lambat dibanding anak non vegetarian di Yayasan Perguruan Bodhicitta tahun 2013.
Indeks Massa Tubuh Menurut Umur Pada Anak Vegetarian dan Non Vegetarian
Jumlah anak dengan indeks massa tubuh menurut umur dikatakan normal pada anak vegetarian sebanyak 19 (22,1%) responden dan pada nonvegetarian sebanyak 4 (4,6%) responden. Jumlah anak dikatakan sangat kurus pada anak vegetarian sebanyak 12 (13,8%) responden dan pada anak nonvegetarian sebanyak 3 (3,6%) responden.
Vegetarian atau vegetarianisme merupakan aliran agama Budha dimana kaum penganutnya tidak mengonsumsi produk-produk hewani dan turunannya. Banyak alasan seseorang mengubah pola makan dari semula pemakan daging
7 menjadi vegetarian seperti alasan kesehatan, ekonomi, etika dan alasan spiritual. Isu kesehatan menjadi salah satu alasan utama seseorang menjadi vegetarian. Makanan nabati ternyata berdampak sangat baik bagi kesehatan umum dan bisa menghindarkan atau mengurangi risiko berbagai penyakit degeneratif. Sehingga mempengaruhi indeks massa tubuh anak.
Prestasi Belajar Pada Anak Vegetarian dan Non Vegetarian
Jumlah anak dengan prestasi belajar pada kelompok anak vegetarian dikatakan baik sebanyak 14 (16,3%) responden dan pada nonvegetarian sebanyak 22 (25,6%) responden. Jumlah anak dengan prestasi belajar kurang pada kelompok vegetarian sebanyak 38 (44,2%) responden dan pada nonvegetarian sebanyak 12 (13,9%) responden.
KESIMPULAN
Setelah data dianalisa maka dihasilkan kesimpulan sebagai berikut : 1. Pola konsumsi anak non vegetarian
sedikit lebih baik dari anak vegetarian dikarenakan asupan makanan anak non vegetarian lebih bervariasi sehingga tingkat kecukupan energi dan proteinnya lebih baik daripada anak vegetarian.
2. Jenis vegetarian yang paling banyak ditemukan adalah Lacto-ovo sebanyak 26 anak (50%). Yaitu anak vegetarian yang masih boleh mengkonsumsi telur dan susu serta olahannya.
3. Prestasi belajar pada kelompok anak non vegetarian lebih tinggi dibanding anak vegetarian dilihat dari perbandingan nilai pelajaran.
SARAN
1. Memberikan penyuluhan tentang makanan bergizi dan mendorong anak agar memperbaiki pola belajar dan konsumsi yang tidak baik pada anak vegetarian dan nonvegetarian.
2. Perlu diadakannya seminar kepada orangtua murid vegetarian agar para orangtua tersebut lebih tepat memilih bahan makanan vegetarian yang mempunyai nilai protein, kalsium, zat besi yang dibutuhkan dalam masa pertumbuhan anak.
3. Peneliti selanjutnya diharapkan dapat memberikan masukan yang lebih baik dan pada populasi yang besar dengan menilai aspek-aspek lainnya yang mempengaruhi pola konsumsi, status gizi dan prestasi belajar pada anak sekolah dasar kelas V.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, M.H. 2008. Peranan Gizi dan Pola
Asuh dalam Meningkatkan Kualitas Tumbuh Kembang Anak.
http://www.whandi.net, diakses 22
Januari 2013
Almatsier, S. 2002. Prinsip Dasar Ilmu
Gizi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama
As’ad, S. 2007. Gizi Kesehatan Ibu dan
Anak. Proyek Peningkatan
Pendidikan Tertinggi. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Christien, I. 2007. Asupan Energi Protein,
Status Gizi, dan Prestasi Belajar Anak Sekolah Dasar Arjowinangun I Pacitan. Skripsi. Jurusan Gizi
8 Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta
Fajriyah, N. 2008. Gambaran Karakteristik
Ibu. Jakarta: Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Indonesia Giam, CK, Teh KC. 2002. Sport Medicine
Exercise and Fitness Singapore :
PG Publishing Pte Ltd
Judarwanto, W. 2004. Mengatasi Kesulitan
Makan pada Anak. Jakarta: Penebar
Swadaya
Khomsan, A. 2004. Peranan Pangan dan
Gizi untuk Kualitas Hidup. Jakarta:
PT Gramedia Pustaka Utama
Lemeshow, David, WH, Janelle, K & Stephen KL, 1997, Penerjemah Pramono Kusnanto. Besar Sampel
dalam Penelitian. Yogyakarta: Gajah
Mada University Press
Miewald C. 2003. Dietetian of Canada.
Canadian Journal of Dietetic Practice and Research 64(2):62-81.
Moehji, 2003. Ilmu Gizi 2. Jakarta: Penerbit Paras Sinar Siranti
Notoatmojo, S. 2002. Metode Penelitian
Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta
Novita, 2007. Pengaruh Status Gizi dan
Lingkungan Belajar terhadap Prestasi Belajar Siswa SD di Beberapa Kelurahan Kecamatan Pasar Minggu Jakarta Selatan.
{Skripsi}. Bogor: Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pertanian IPB
Prapti, A. 2008. Konsumsi Pangan, Status
Gizi, dan Prestasi Belajar pada Siswa-Siswi SMA Assalam Surakarta.{Skripsi}. Surakarta:
Universitas Negeri Surakarta
Purnakarya. 2010. Pengaruh Zat Gizi Pada
Prestasi. (online).
http://zatgizi,wordpress.com/
2010/10/13/, diakses tanggal 19 Januari 2013
Purwanto, Ngalim, M. 1996. Psikologi
Pendidikan. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya
Riyadi, H. 2001. Buku Ajar Metode
Penilaian Status Gizi secara Antropometri. Bogor: Jurusan Gizi
Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga Fakultas Pertanian IPB _______. 2003. Penilaian Status Gizi
Secara Antropometri. Diklat
Kuliah Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. Falkutas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor
Sediaoetama, AD. 1996. Ilmu Gizi untuk
Mahasiswa dan Profesi. Jakarta:
Dian Rakyat
Siagian, A. 2010. Epidemiologi Gizi. Jakarta : Erlangga
Soekirman. 1999. Ilmu Gizi dan
Aplikasinya untuk Keluarga dan Masyarakat. Jakarta: Departemen
Pendidikan Nasional
Soemantri, AG. 1978. Hubungan Anemia
Kekurangan Zat Besi dengan Konsentrasi dan Prestasi Belajar.
{Skripsi}. Program Pascasarjana Universitas Diponegoro Semarang Suhardjo. 1989. Perencanaan Pangan dan
Gizi. Jakarta: Penebar Swadaya
Sukadi, O. 2005. Hubungan Status Gizi
dengan Prestasi Belajar Siswa di Sekolah Dasar Negeri Jrakah II Desa Jrakah Kecamatan Selo Kabupaten Boyolali. TA Gizi, UMS
Supariasa, dkk. 2001. Penilaian Status
Pendahuluan
Peningkatan status kesehatan masyarakat di Indonesia sudah mulai menunjukkan hasil nyata. Keberhasilan pembangunan kesehatan ini, salah satunya dapat dilihat dari periode 2004 sampai dengan 2007 terjadi penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dari 307 per 100.000
kelahiran hidup menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup. Keberhasilan tersebut masih perlu terus ditingkatkan, mengingat AKI di Indonesia masih cukup tinggi dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. Berdasarkan target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2010-2014, mengupayakan agar AKI dapat diturunkan menjadi 118 per
FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KETERLAMBATAN RUJUKAN