Penelitian dan Pembahasan
C. Try Out alat penelitian
2. Hasil Penelitian
Untuk mendapatkan kesimpulan yang tidak menyimpang dari tujuan penelitian, maka dilakukan uji asumsi yang meliputi uji normalitas sebaran dan uji homogenitas (Arikunto, 1989).
a. Uji Normalitas Sebaran
Uji ini dilakukan untuk mengetahui apakah distribusi frekuensi sebaran variabel bersifat normal atau tidak (Arikunto, 1989). Uji Normalitas dilakukan
dengan program SPSS for Windows versi 13,00 dengan One Sample
Tabel 6
Hasil Penghitungan Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov
Wiraniaga Non Wiraniaga
Kolmogorov-Smirnov 0,783 0,432
Asymp.Sig(p) 2-Tailed 0,572 0,992
Pada tabel. 6 dapat diketahui skor tingkat stres kerja pada karyawan wiraniaga diperoleh p sebesar 0,572, karena p > 0,05 maka distribusi skor tingkat stres adalah normal. Hasil uji normalitas untuk skor tingkat stres kerja pada karyawan non wiraniaga sebesar 0,992, karena p > 0,05 maka distribusi skor tingkat stres kerja adalah normal.
b. Uji Homogenitas
Analisis ini dilakukan untuk menguji berlaku tidaknya asumsi untuk ANOVA yaitu apakah sampel memiliki varian yang sama. Homogenitas varian dalam penelitian ini diketahui melalui Levene test seperti terlihat pada tabel.6 dibawah ini :
Tabel 7
Hasil Uji Homogenitas Varians
Levene Statistic df1 df2 Sig.
0,198 1 58 0,658
Ho dalam uji coba ini varian populasi adalah identik. Ho akan diterima jika nilai probabilitas lebih dari 0,05 (p > 0,05) sedangkan jika probabilitas kurang dari 0,05 maka Ho akan ditolak.
Pada hasil analisa tabel. 7 terlihat bahwa Levene tes hitung adalah 0,198 dengan probabilitas 0,658 Dengan nilai probabilitas yang lebih besar dari 0,05 maka Ho diterima, sehingga dapat dibuktikan memiliki kesamaan.
c. Uji Hipotesa
Setelah dilakukan Uji Normalitas dan Uji Homogenitas maka dilakukan Uji
Hipotesa dengan menggunakan Independent Sample t-test dengan program SPSS
13,00 for Windows. Hipotesis dalam penelitian ini adalah “Ada perbedaan tingkat stres kerja antara karyawan wiraniaga dan karyawan non wiraniaga PT Gramedia Widiasarana Indonesia”. Rangkuman hasil Uji Hipotesis dapat kita lihat pada tabel. 8 berikut ini :
Tabel. 8
Rangkuman Hasil Uji Hipotesis (Independent Sample t-Test)
Stres Kerja wiraniaga non wiraniaga
N 30 30 Mean 110.7333 100.6667 SD 11.64395 12.02392 Std Error 2.12588 2.19526 Df 58 T 3,294 P 0,002 Keterangan :
Taraf Signifikasi ( 5 %, two – tailed )
N : Jumlah subjek
SD : Besarnya Standar Deviasi
T : Hasil perhitungan uji-t
P : Probabilitas
Jumlah subjek dari karyawan wiraniaga dan karyawan non wiraniaga adalah
60 orang. Berdasarkan tabel. 8 diatas dapat diketahui rerata (Mean) yang
diperoleh dari kelompok karyawan wiraniaga sebesar 110.7333, sedangkan rerata (Mean) dari karyawan non wiraniaga adalah 100.6667. Mean adalah jumlah skor
total dibagi dengan jumlah subjek (hadi, 1997). Nilai standar deviasi dari karyawan wiraniaga sebesar 11.64395 dan nilai standar deviasi dari karyawan non wiraniaga adalah 12.02392. Standar deviasi adalah pengukuran statistik yang digunakan untuk melihat variabilitas (penyebaran nilai-nilai) dan distribusi skor (Hadi, 1997). Pada tabel. 8 juga tercantum nilai standar error dari karyawan wiraniaga sebesar 2.12588 dan bagi karyawan non wiraniaga adalah 2.19526. Standar error adalah deviasi standar error yang menunjukkan besarnya variasi error pengukuran pada sekelompok subjek (Azwar, 1999). Nilai standar error dari kedua kelompok subjek ini akan mempengaruhi perhitungan standar error perbedaan mean antara kedua kelompok subjek yang nantinya turut menentukan harga uji-t. Harga uji-t (3,294) dan nilai P (0,002) adalah harga yang digunakan sebagai patokan dalam menolak atau menerima hipotesis. Nilai P = 0,002 pada penelitian ini menjadikan hipotesis penelitian ini diterima karena P < 0,05, sedangkan harga uji-t menunjukan nilai perbedaan antara kedua subjek penelitian. Hasil dari penelitian yang terdapat pada tabel. 8 dapat diketahui bahwa karyawan wiraniaga memiliki tingkat stres kerja yang lebih tinggi daripada tingkat stres kerja karyawan non wiraniaga.
Hasil itu menjadikan hipotesis penelitian yaitu “ ada perbedaan tingkat Stres kerja antara karyawan wiraniaga dan karyawan non wiraniaga PT Grasindo Jakarta” diterima. Perbedaan itu ditunjukkan pada tabel. 8 dengan perbedaan Mean atau rerata yang diperoleh masing-masing kelompok karyawan wiraniaga yaitu 110.7333 dan karyawan non wiraniaga sebesar 100.6667.
d. Kategori Skor Penelitian
Untuk mengetahui tingkat Stres kerja dari kelompok subyek penelitian dilakukan dengan cara menguji signifikasi perbedaan antara mean empiris dan mean teoritis. Dengan cara ini, peneliti tidak menetapkan lebih dahulu kriteria kategorisasinya melainkan akan menguji apakah mean kelompok subjek penelitian berbeda secara signifikan dari mean teoritis (Azwar, 1993). Hasil pengumpulan data penelitian, diperoleh data dengan deskripsi sebagai berikut :
Tabel. 9
Deskripsi Data Penelitian
Deskripsi Data wiraniaga non wiraniaga
Mean SD Xmax Xmin 110.7333 11.64395 126.00 88.00 100.6667 12.02392 123.00 72.00
Berikut ini adalah hasil uji signifikasi antara mean empiris dan mean teoritis serta standar deviasi hasil penelitian.
Tabel. 10
Mean Teoritis, Mean Empiris, dan Standar Deviasi
Alat ukur
Tingkat Stres Kerja
Mean Teoritis Mean empiris SD
Karyawan wiraniaga 135 110.7333 11.64395
Karyawan non wiraniaga 135 100.6667 12.02392
Mean teoritik adalah rata-rata skor alat penelitian. Mean teoritik ini diperoleh dari angka yang menjadi titik tengah alat ukur penelitian. Mean empirik adalah rata – rata skor data penelitian. Mean empirik diperoleh dari angka yang merupakan rata – rata data hasil penelitian. Pada tabel. 10 dapat dilihat bahwa mean tingkat stres kerja baik karyawan non wiraniaga dan karyawan wiraniaga mempunyai skor lebih rendah dibandingkan skor teoritisnya. Berdasarkan hasil tersebut maka dapat diketahui bahwa baik karyawan wiraniaga dan karyawan non
wiraniaga mempunyai kategori yang rendah atau bisa dikatakan memiliki kecenderungan memilih jawaban pada kategori yang rendah.
E. Pembahasan
Pada penelitian ini tidak membahas lebih dalam mengenai tinggi rendahnya tingkat stres kerja, karena penelitian ini hanya ingin mengetahui ada atau tidaknya perbedaan tingkat stres kerja antara karyawan wiraniaga dan non wiraniaga. Setelah dilakukan uji analisis data dengan menggunakan teknik T test (Independent Sample T-test), maka didapat nilai t (3,294) dan nilai P (0,002) dimana nilai P adalah harga yang digunakan sebagai patokan dalam menolak atau menerima hipotesis. Nilai P = 0,002 pada penelitian ini menjadikan hipotesis pada penelitian ini diterima karena P < 0,05, sedangkan harga uji-t menunjukan nilai perbedaan antara kedua subjek penelitian.
Sesuai dengan hasil di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa ada perbedaan tingkat stres kerja antara karyawan wiraniaga dan non wiraniaga pada PT Gramedia Widiasarana Indonesia. Dengan demikian hipotesis penelitian telah terbukti. Tampak nilai mean pada kedua subjek berbeda dimana nilai mean karyawan wiraniaga (110.7333) lebih tinggi daripada karyawan non wiraniaga (100.6667). Hal ini menunjukan bahwa karyawan wiraniaga mempunyai tingkat stres yang lebih tinggi dari pada karyawan non wiraniaga.
Karyawan wiraniaga merupakan stick holder (ujung tombak) perusahaan,
keberhasilan dalam pemasaran banyak tergantung pada keterampilan para wiraniaga dalam menyesuaikan produk perusahaan dengan kebutuhan konsumen dan juga dalam melakukan penjualan (Clindiff, Shill & Giovoni, 1988). Hal ini
menjadi tidak mudah ketika mereka harus bersaing dengan para karyawan wiraniaga dari perusahaan lain, yang juga menawarkan produk sejenis dengan harga dan kualitas yang bersaing. Mereka juga harus berjuang demi mempertahankan pekerjaannya, karena penilaian perusahaan terhadap prestasi kerja mereka hanya tergantung dari berapa banyak barang yang dapat ia jual pada pelanggan dihubungkan dengan target yang telah ditetapkan oleh perusahaan menurut grade atau pangkat yang ia miliki (Dwiatmaja, P.W, 2005), dan juga bagaimana kemampuan karyawan tersebut dapat menjalin hubungan baik dengan konsumen.
Mereka juga harus mempertahankan pekerjaannya, Maslow (1967a) mengungkapkan teori mengenai motivasi manusia, bahwa manusia mempunyai
dua macam kebutuhan yaitu kebutuhan dasar (basic needs) dan metakebutuhan–
metakebutuhan (metaneeds). Kebutuhan dasar meliputi rasa lapar, kasih sayang (afeksi), rasa aman, harga diri dan sebagainya. Sedangkan metakebutuhan– metakebutuhan meliputi kebaikan, keteraturan, kesatuan, keindahan dan sebagainya (Hall & Lindzey, 1978). Bekerja adalah merupakan salah satu cara manusia untuk memenuhi kebutuhan–kebutuhan dasar tersebut. Manusia bekerja karena memang manusia merasa kekurangan dan untuk menutupi kekurangannya tersebut sebagai kompensasinya manusia harus bekerja.
Dilain pihak yang juga menjadikan alasan mereka tetap mempertahankan pekerjaannya adalah karena semakin sempitnya lapangan pekerjaan di negri kita saat ini. Semakin meningkatnya angka pengangguran membuat para karyawan wiraniaga menjadi tidak mempunyai pilihan selain mempertahankan
pekerjaan-nya. Hal ini adalah berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan akan rasa aman para karyawan wiraniaga sebagai manusia, pada pendahuluan juga ditekankan mengenai kebutuhan akan rasa aman tersebut dari para karyawan wiraniaga dan non wiraniaga. Dimana kebutuhan rasa aman para karyawan wiraniaga tampak lebih tinggi, mengingat tekan yang dialami oleh para karyawan wiraniaga lebih besar dari pada karyawan wiraniaga di tengah ketidakpastian status kerja mereka. Karyawan wiraniaga berjuang lebih keras demi memenuhi kebutuhan akan rasa aman tersebut di tengah ketidak pastian akan status kerja mereka.
Hal diatas menunjukan sangat tingginya stresor yang dialami oleh para karyawan wiraniaga. Namun begitu banyak dari mereka yang tetap tidak dapat mempertahankan pekerjaannya. Seperti yang telah diungkapkan oleh Selye (1979), stres merupakan kelelahan dan ketegangan dari suatu tuntutan (demand), kelelahan dan ketegangan membuat mereka merasa sudah tidak mampu lagi melakukan pekerjaannya.
Berbeda dengan para karyawan non wiraniaga, tekanan yang dialami para karyawan non wiraniaga tidak sekompleks seperti yang dialami oleh para karya-wan wiraniaga. Baik itu dari lingkungan perusahaan ataupun dari lingkungan sosial. Status kerja dan penilaian prestasi kerja mereka ditentukan dari berbagai macam faktor tidak seperti karyawan non wiraniaga, bisa dikatakan pula hal ini bisa membuat mereka para karyawan non wiraniaga berada pada posisi yang lebih “aman” dan inilah yang membuat mereka lebih bisa bertahan daripada karyawan wiraniaga dan memiliki tingkat stres kerja yang lebih rendah daripada karyawan wiraniaga.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN