• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 45-51)

Penelitian bertujuan mengetahui efektivitas teknik pembersihan residu kalsium hidroksida pasca pemberian sebagai medikamen saluran akar dengan tiga perlakukan yang berbeda. Perlakukan tersebut adalah irigasi dengan NaOCl 2,5% + EDTA 17%, Irigasi NaOCl 2,5% + EDTA 17% + Sikat Saluran Akar, Irigasi NaOCl 2,5% + EDTA 17 % + File NiTi ProTaper F2. Gigi dibelah dan diamati dibawah mikroskop stereo dengan pembesaran 12x tampak residu pada semua sampel perlakuan. Luas permukaan residu dihitung dalam satuan mm2 menggunakan program AXIOCAM yang terintegrasi dengan sistem mikroskop stereo. Data hasil luas permukaan residu kalsium hidroksida pada gigi dihitung 4 mm apeks dari arah koronal.(Gambar. 5.1)

Gambar. 5.1 (A) Permukaan residu Ca(OH)2 setelah dibersihkan menggunakan

CanalBrush. (B) Hasil perhitungan luas permukaan residu dalam mm2 menggunakan program AXIOCAM.

Pada penelitian ini dilakukan uji normalitas pada data numerik menggunakan uji Shapiro-Wilk, karena jumlah data kurang dari 50. Disebut

normal apabila nilai probabilitas lebih dari 0,05. Data diperoleh dari 3 perlakuan berbeda pada pembersihan dinding saluran akar pasca medikamen kalsium hidroksida. Kemudian data yang diperoleh dari tiga kelompok perlakuan diuji dengan Anova untuk memeriksa perbedaan pengukuran kebersihan dinding saluran akar. Bila sebaran data tidak normal, maka data tersebut dilakukan uji statistik Kruskal-Walis.

Tabel 5.1 Sebaran Uji Normalitas pada Tiga Kelompok Perlakuan

Kelompok N Nilai rata-rata ± SD Nilai p*

P1 10 0,78 (+ 0,365) 0,535

P2 10 0,68 ( + 0,35) 0,522

P3 10 0,775 (+ 0,489) 0,062

Keterangan: *uji normalitas Shapiro-Wilk p>0,05 P1 : Irigasi NaOCl 2,5% + EDTA 17%

P2: Irigasi NaOCl 2,5% + EDTA 17 % + Sikat Saluran Akar P3: Irigasi NaOCl 2,5 % + EDTA 17 % + Jarum Endodontik NiTI

Berdasarkan perhitungan uji normalitas data pada tabel 5.1 menggunakan Shapiro-Wilk didapatkan semua kelompok perlakuan normal dengan p > 0,05. Maka semua perlakuan dilakukan uji One Way Anova.

Tabel 5.2 Analisis Residu Kalsium Hidroksida

Kelompok N Beda rerata 95% Confidance Interval Nilai p*

Minimum Maksimum

P1 x P2 10 0,1 -0,2936 0,4936 0,805

P1 x P3 10 0,987 -0,3886 0,3886 0,999

P2 x P3 10 0.887 -0,2986 0,4886 0,822

Keterangan: *Anova p<0,05

Analisa statistik pada kelompok perlakuan irigasi saja yaitu NaOCl 2,5% + EDTA 17% dengan kelompok perlakuan NaOCl 2,5% + EDTA 17% + Sikat saluran akar menunjukan beda rerata 0,1 dengan rentang minimum – 0,2587 – 0,4936 memiliki nilai kemaknaan p=0,805. Pada kelompok perlakuan irigasi saja NaOCl 2,5% + EDTA 17% dan kelompok perlakukan secara stastistik NaOCl 2,5%+EDTA 17%+ NiTi ProTaper F2 menunjukan tidak ada perbedaan

32

Universitas Indonesia bermakna pada pola pembersihan sehingga penambahan instrumentasi menggunakan jarum endodontik NiTi tidak berbeda bermakna. Ditunjukan dengan beda rerata 0,987 dengan rentang min -0,3886-0,3886 dengan nilai kemaknaan p=0,999. Pada kelompok perlakuan NaOCl 2,5% + EDTA 17%+Sikat saluran akar dengan kelompok perlakuan NaOCl 2,5% + EDTA 17% + Jarum endodontik NiTi menunjukan beda rerata 0,887 dengan rentang minimum – 0,2986 – 0,4886 memiliki nilai kemaknaan p=0,822

BAB 6 PEMBAHASAN

Gigi yang digunakan pada penelitian ini adalah premolar satu rahang bawah dengan akar tunggal yang dikonfirmasi dengan menggunakan rontgen foto, hal ini bertujan untuk mendapatkan keseragaman sampel. Jumlah keseluruhan sampel adalah 30 dengan masing-masing kelompok perlakukan 10 sampel. Sampel gigi yang diambil dan disimpan dalam larutan salin untuk mempertahankan kelembaban gigi dan mengkondisikan keadaan biologis seperti dalam mulut. Semua gigi ditentukan panjangnya menggunakan K-file ISO 10 mengunakan visual sampai ke arah foramen apikal lalu dikurangkan 0,5 mm dan dicatat sebagai panjang kerja. 23, 27

Sampel gigi dipreparasi saluran akar menggunakan teknik crowndown, teknik ini dapat memfasilitasi larutan irigasi yang lebih optimal di dalam saluran akar yang dapat membersihkan serbuk dentin hasil preparasi sehingga diharapkan saluran akar lebih bersih dari debri preparasi saluran akar.43 Teknik ProTaper umum digunakan dalam perawatan saluran akar untuk membersihkan dan membentuk saluran akar, instrumen ini mengadaptasi teknik crown down dengan ciri instrumen berupa progresif taper dengan penampang berbentuk convex

triangular yang disertai dengan modified guiding tip.44, 45 ProTaper yang

digunakan adalah teknik rotari dengan tujuan menyeragamkan hasil preparasi saluran akar. Instrumen minimal yang dibutuhkan adalah dua file finishing untuk preparasi daerah sepertiga apeks gigi pada saluran akar tunggal.46

Sedangkan bahan irigasi yang digunakan adalah NaOCl 2,5% dan EDTA 17%. Secara umum irigasi bertujuan menghilangkan debri atau jaringan lunak, memiliki kemampuan sebagai pelumas, mensterilkan saluran akar dan menghilangkan smear layer.47, 48 Natrium hipoklorit merupakan salah satu bahan irigasi yang bersifat oksidasi reduksi berupa larutan jernih dan mengandung sekitar 5% khlor.49 Sedangkan irigasi EDTA berfungsi sebagai chelator, yaitu suatu bahan organik yang dapat menarik ion logam seperti kalsium yang berikatan secara kimia untuk meningkatkan pembersihan secara kemo-mekanis selama

34

Universitas Indonesia perawatan saluran akar terutama untuk mengatasi saluran akar yang terkalsifikasi atau sempit dan diharapkan terjadi penurunan kekerasan dentin. 50, 51

Aplikasi kalsium hidroksida pada saluran akar yang menggunakan teknik injeksi non setting kalsium hidroksida (UltraCal XS) yang berisi 35% kalsium hidroksida dalam aquades dan barium sulfat sebagai bahan radioopak. Gibson, dkk (2008) menyatakan teknik injeksi lebih baik dari pada spiral filler dengan nilai 74% pengisian menunjukan densitas yang baik dibandingkan grup menggunakan spiral filler 36%.25, 30 Kalsium hidroksida dibiarkan selama tujuh hari didalam saluran akar pada suhu 370C dalam kondisi lembab menyerupai kondisi mulut. Sebagaimana diketahui tujuh hari merupakan waktu minimal kalsium hidroksida mencapai pH 9,3-10.52

Rirruci, dkk (1997) dan Windley, dkk (1997) menyatakan keberadaan kalsium hidroksida pada dinding saluran akar dapat mempengaruhi kesuksesan perawatan saluran akar.53,54 Calt (1997) melaporkan bahwa residu kalsium hidroksida akan berinteraksi dengan siler ZOE menghasilkan kalsium eugonolate yang dapat larut pada kondisi tertentu.11 Menurut Barbizam, dkk (2008) Residu kalsium hidroksida diketahui akan mempengaruhi adhesi siler ke dinding saluran akar dan mempengaruhi kualitas hermetis pada saat pengisian saluran akar.55

Selain sebagai irigasi saluran akar pada saat preparasi NaOCl dan EDTA digunakan kembali sebagai pembersih medikamen kalsium hidroksida memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan hanya menggunakan NaOCl saja.3, 11 Menurut Prajogi (2007) meskipun menggunakan bahan irigasi EDTA 17% + NaOCl 2,5%, NaOCl 17%+ As. Sitrat 10% masih memperlihatkan residu yang tertinggal pada dinding saluran akar.23 Kondisi ini sama halnya dengan penelitian ini yang menunjukan penggunaan NaOCl 2,5% + EDTA 17 % saja tidak berbeda bermakna dengan kelompok penambahan dengan sikat saluran akar dan jarum endodontik NiTi. Tasdemir, dkk (2011) memperlihatkan residu kalsium hidroksida pada semua sampel penelitian meskipun telah menggunakan instrumentasi menggunakan passive ultrasonic irrgation dan CanalBrush.17

Penelitian penggunaan CanalBrush sebagai pembersih medikamen kalsium hidroksida masih terbatas. Pada awalnya CanalBrush merupakan

isntrumen kecil dan fleksibel yang ditujukan untuk membantu pembuangan debri dari saluran akar pasca instrumentasi saluran akar, digunakan bersamaan dengan cairan irigasi.25 Kozak dkk (2009) menyatakan CanalBrush memiliki efisiensi sedikit lebih tinggi pada pembersihan residu kalsium hidroksida dibandingkan dengan beberapa teknik pada saluran akar buatan. CanalBrush diketahui memiliki efektivitas pada saluran akar yang sempit dengan cara kontak langsung dengan dinding saluran akar. 56

Sedangkan penggunaan jarum endontik dalam proses pembersihan dinding saluran akar pasca medikamen kalsium hidroksida memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan penggunaan cairan irigasi saja. Kuga dkk (2010) melakukan pembersihan medikamen kalsium hidroksida dilakukan dua jarum endodontik NiTI yang berbeda dengan gigi dipreparasi sampai dengan F2 ProTaper yang dibersihkan menggunakan ProTaper F1 memberikan hasil yang lebih baik daripada K3 dengan ukuran tapering yang sama dengan F2.25 Namun penelitian lain yang dilakukan oleh Kuga dkk (2012) menggunakan tiga jarum endodontik rotari yang berbeda menunjukan tidak ada perbedaan bermakna pada pola pembersihan sisa medikamen yang menyisakan residu medikamen kalsium hidroksida.26 Penggunaan F2 ProTaper sebagai alat instrumentasi pembersihan pada penelitian ini mencoba mengikuti penelitian sebelumnya yang bertujuan membersihkan tanpa mempengaruhi bentuk preparasi akhir yaitu F3 ProTaper.25

Walaupun secara statistik tidak memberikan perbedaan bermakna. Penelitian ini menunjukan sikat saluran akar terbukti mampu membersihkan saluran akar dari medikamen kalsium hidroksida. Residu yang tertinggal pada ujung saluran akar menggunakan sikat saluran akar mempunyai luas permukaan paling sedikit dibandingkan dengan jarum endodontik NiTi ProTaper dan irigasi NaOCl 2,5%+EDTA 17%. Sikat saluran akar yang digunakan pada penelitian ini menggunakan ukuran medium dengan ukuran Do yang sama dengan D0 F3 ProTaper pada perparasi akhir tiap sampel. Sedangkan jarum endodontik NiTi yang digunakan lebih kecil daripada Do preparasi akhir yaitu F2 dengan D0 = 25.

36

Universitas Indonesia BAB 7

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 45-51)

Dokumen terkait