BAB II TINJAUAN PUSTAKA
B. Hasil Penelitian yang Relevan
Penelitian terdahulu merupakan penelusuran pustaka yang berupa hasil penelitian, karya ilmiah ataupun sumber lain yang digunakan peneliti sebagai perbandingan terhadap penelitian yang dilakukan. Di skripsi ini penulis akan mendeskripsikan beberapa penelitian yang ada relevansinya dengan judul penulis antara lain :
1. Skripsi yang ditulis oleh Dinda Diah Vitasari, 2020, Jurusan Pemberdayaan Masyarakat Islam, Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember 2020 yang berjudul “Program Kekhususan OMSK (Orientasi Mobilitas Sosial dan Komunikasi) dalam Mengembangkan Konsep Lingkungan pada Anak Tunanetra di SDLB Negeri Patrang Jember”. Berdasarkan hasil penelitian, penelitian yang penulis teliti memiliki persamaan dan perbedaan dengan penelitian terdahulu.
Perbedaan yang terlihat pada subyek peneliti. Penelitian yang penulis teliti dilakukan pada anak tunanetra di Yayasan Raudlatul Makfufin. Selain itu,
44 Nur’aeni, Psikologi Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus, (Purwokerto: UM Purwokerto Press, 2017), Cet. ke-1, h. 40.
penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui Pengembangan Pembelajaran Orientasi Mobilitas Sosial dan Komunikasi dalam membentuk karakter anak tunanetra. Sedangkan pada penelitian terdahulu lebih menekankan tujuan pada Penerapan Program Kekhususan OMSK (Orientasi Mobilitas Sosial dan Komunikasi) dalam Mengembangkan Konsep Lingkungan pada Anak Tunanetra.
Persamaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu terletak pada topik kajian, yaitu Pengembangan Pembelajaran Orientasi Mobilitas Sosial dan Komunikasi.
Kontribusi penelitian ini adalah dapat membantu penulis untuk memperoleh informasi yang serupa dengan peneliti.
2. Skiripsi yang ditulis oleh Deni Cahya Padholi, Jurusan Pendidikan Luar Biasa, Universitas Negeri Yogyakarta Tahun 2015 yang berjudul “Peningkatan Kemampuan Orientasi dan Mobilitas Anak Tunanetra Kelas V di SLB A Yaketunis Yogyakarta melalui Kegiatan Pramuka”. Perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian yang penulis teliti terletak pada metode penelitian, penelitian terdahulu penulis menggunakan metode kuantitatif sedangkan penelitian yang penulis teliti menggunakan metode kualitatif . Sedangkan persamaan penelitian terdahulu dengan penelitian yang penulis teliti yaitu sama-sama mengkaji tentang Pengembangan Pembelajaran Orientasi Mobilitas Sosial dan Komunikasi.
Kontribusi penelitian ini adalah dapat membantu penulis untuk memperoleh informasi yang serupa dengan peneliti.
3. Skripsi yang ditulis oleh Sutriyaningsih, Program Studi Pendidikan Luar Biasa, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret Surakarta Tahun 2010 yang berjudul “Meningkatkan Kemampuan Berorientasi dan Mobilitas
dengan Peta Timbul bagi Anak SDLB Tunanetra Kelas I di SLB ABC Swadaya Kendal Tahun Pelajaran 2009/ 2010”. Perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian yang peneliti teliti terletak pada subyek. Pada penelitian terdahulu subyek penelitiannya Meningkatkan Kemampuan Berorientasi dan Mobilitas dengan Peta Timbul. Sedangkan persamaan penelitian terdahulu dengan peneliti yang penulis teliti yaitu sama-sama mengkaji anak tunanetra. Kontribusi penelitian ini adalah dapat membantu penulis untuk memperoleh informasi yang serupa dengan peneliti.
4. Jurnal Skripsi yang ditulis oleh Kharisma Cahaya Aqli, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya 2014, yang berjudul “Perancangan Alat Bantu Mobilitas Bersuara Dalam Ruangan Bagi Tunanetra Berbasis RFID (Radio Frequency Identification)”. Perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian yang penulis teliti terletak pada subyek penelitiannya. Pada penelitian terdahulu subyek penelitiannya alat bantu mobilitas tunanetra, RFID. Sedangkan persamaan penelitian terdahulu dengan penelitian penulis yaitu sama-sama mengkaji anak tunanetra. Kontribusi penelitian ini adalah dapat membantu penulis untuk memperoleh informasi yang serupa dengan peneliti.
56 A. Tujuan Penelitian
Berdasarkan judul penelitian di atas, peneliti merumuskan beberapa tujuan penelitian ini sebagai berikut :
1. Untuk Mengetahui Karakter anak tunanetra di Yayasan Raudlatul Makfufin.
2. Untuk Mengetahui Pengembangan Pembelajaran Orientasi Mobilitas Sosial dan Komunikasi (OMSK) dalam membentuk karakter anak tunanetra di Yayasan Raudlatul Makfufin.
3. Untuk Mengetahui Faktor pendukung dan penghambat Pengembangan Pembelajaran Orientasi Mobilitas Sosial dan Komunikasi (OMSK) dalam membentuk karakter anak tunanetra di Yayasan Raudlatul Makfufin.
B. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Yayasan Raudlatul Makfufin yang beralamat di Jalan H. Jamat Gang Masjid I No. 10 A, RT. 002 RW. 05 Kampung Jati, Kelurahan Buaran, Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan, Banten 15316.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan selama 3 bulan, mulai dari bulan November 2020 sampai dengan bulan Januari 2021.
C. Latar/ Setting Penelitian
Peneliti ini mengambil objek penelitian di Yayasan Raudlatul Makfufin terletak di Jalan H. Jamat Gang Masjid I No. 10 A, RT. 002 RW. 05 Kampung Jati, Kelurahan Buaran, Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan, Banten 15316.
Penelitian ini dilakukan karena peneliti tertarik dengan siswa sisiwi SDLB di Yayasan Raudlatul Makfufin dan Pembelajaran Orientasi Mobilitas Sosial dan Komunikasi (OMSK) dalam membentuk karakter kepada siswa siswi SDLB.
Dalam kegiatan pembelajarannya didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai, program kegiatan Yayasan ini meliputi, pemberantasan buta huruf Al-Qur’an Braille dan dasar-dasar agama, Pendidikan Luar Sekolah (PLS) berupa program kejar paket A, B, dan C, Pesantren Al-Qur’an Tunanetra, Sekolah Khusus Islam Terpadu (SKh-IT), Majlis Ta’lim, kursus komputer bicara, pengadaan Al-Qur’an Braille & pembraillean buku-buku sumber agama islam, peringatan hari besar islam dan pengkaderan jama’ah melalui IKJAR (Ikatan Jama’ah Raudlatul Makfufin).
D. Metode Penelitian 1. Metode Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, karena peneliti ingin memahami bagaimana pengembangan pembelajaran orientasi mobilitas sosial dan komunikasi (OMSK) dalam membentuk karakter anak tunanetra di Yayasan Raudlatul Makfufin.
Metode penelitian yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah metode studi kasus, karena peneliti ingin mempelajari dan memahami pengembangan pembelajaran orientasi mobilitas sosial dan komunikasi (OMSK) dalam membentuk karakter anak tunanetra di Yayasan Raudlatul Makfufin.
Subjek penelitian ini berupa individu, kelompok dan lembaga.
2. Prosedur Penelitian
Dengan digunakan metode kualitatif ini maka data yang didapatkan akan lebih lengkap, lebih mendalam, kredibel dan bermakna, sehingga tujuan penelitian dapat dicapai. Desain penelitian kualitatif ini dibagi dalam empat tahap, yaitu : a. Perencanaan kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini adalah sebagai berikut:
analisis standar sarana dan prasarana, penyusunan rancangan penelitian, penetapan tempat penelitian, dan penyusunan instrumen penelitian. Pelaksanaan pada tahap ini peneliti sebagai pelaksana penelitian sekaligus sebagai human instrumen mencari informasi data, yaitu mempelajari dan memahami tentang pengembangan pembelajaran orientasi mobilitas sosial dan komunikasi (OMSK) dalam membentuk karakter anak tunanetra dalam waktu yang sudah ditentukan.
Selain itu peneliti juga menganalisis kebutuhan sarana dan prasarana dan mengobservasi; ketersediaan sarana dan prasarana di yayasan secara langsung.
b. Analisis data. Analisis data dilakukan setelah peneliti melakukan wawancara mendalam terhadap guru OMSK serta observasi langsung ditingkat Sekolah Dasa Luar Biasa.
c. Evaluasi semua data kebutuhan, ketersediaan dan penggunaan peralatan sarana dan prasarana yang telah di analisis kemudian di evaluasi sehingga diketahui kebutuhan peralatan sarana dan prasarana berdasarkan Kurikulum 2013.
E. Data dan Sumber Data 1. Data
Data yang diperlukan dalam penelitian pustaka pada penulisan skripsi ini bersifat “field research”, yaitu penelitian lapangan, penelitian yang tidak dimaksudkan untuk menguji hipotesis tertentu tetapi berusaha memberikan dengan sistematis format fakta-fakta aktual dan apa adanya.
Pada bagian pembahasan peneliti menggunakan data-data yang berkaitan dengan Pengembangan Pembelajaran Orientasi Mobilitas Sosial dan Komunikasi (OMSK) dalam Membentuk Karakter Anak Tunanetra.
2. Sumber Data
Dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data dilakukan pada kondisi yang alamiah, sumber data primer dan teknik pengumpulan data lebih banyak pada observasi berperan serta, wawancara mendalam dan dokumentasi. Dalam penelitian ini untuk mendapatkan data yang dibutuhkan maka sumber data yang penulis gunakan terdiri dari dua macam, yaitu data primer dan data sekunder.
a. Sumber Data Primer
Sumber data primer merupakan sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data.45 Sumber data primer dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh dari hasil wawancara di lapangan, antara peneliti dan subjek bertemu secara langsung untuk menggali informasi yang diperlukan untuk penelitian. Data yang diperoleh langsung dari Yayasan Raudlatul Makfufin, diantaranya Kepala Yayasan Raudlatul Makfufin, Guru OMSK Yayasan Raudlatul Makfufin, dan siswa/i SDLB Yayasan Raudlatul Makfufin.
b. Sumber Data Sekunder
Sumber data sekunder merupakan sumber yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data.46 Sumber data sekunder dalam penelitian ini adalah yang diperoleh langsung dari pihak-pihak yang berkaitan berupa data-data sekolah dan berbagai literatur yang relevan dengan penelitian.
Data sekunder diperoleh dengan dokumen-dokumen dari sekolah Yayasan Raudlatul Makfufin jenjang SDLB.
F. Teknik dan Prosedur Pengumpulan Data
Adapun cara pengumpulan data yang digunakan adalah : 1. Pengamatan/ Observasi
45 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, kualitatif, dan R & D, (Bandung:
cv. ALFABETA, 2008). h. 308.
46 Ibid., h. 309.
Observasi adalah alat pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat secara sistematik gejala-gejala yang diselidiki.47 Observasi ini dilakukan secara langsung di Yayasan Raudlatul Makfufin untuk mengamati Pengembangan Pembelajaran Orientasi Mobilitas Sosial dan Komunikasi (OMSK) dalam membentuk Karakter Anak Tunanetra. Dalam hal ini, peneliti menggunakan pengamatan terlibat karena peneliti mengikuti pembelajaran OMSK anak tunanetra di Yayasan Raudlatul Makfufin.
2. Wawancara
Wawancara adalah suatu kejadian atau suatu proses interaksi antara pewawancara dan sumber informasi atau orang yang diwawancarai melalui komunikasi langsung.48 Jenis pertanyaan yang digunakan merupakan jenis pertanyaan konfirmatif yaitu memastikan data yang ada dalam teori dengan realita terkait dengan Pengembangan Pembelajaran Orientasi Mobilitas Sosial dan Komunikasi (OMSK) dalam membentuk Karakter Anak Tunanetra di Yayasan Raudlatul Makfufin.
3. Dokumen
Dokumen merupakan catatan atau karya seseorang tentang sesuatu yang sudah berlalu. Dokumen tentang orang atau sekelompok orang, peristiwa, atau kejadian dalam situasi sosial yang sesuai dan terkait dengan focus penelitian
47 Cholid Narbuko & H. Abu Achmadi, Metodologi Penelitian, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2007), h.
70.
48 A. Muri Yusuf, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif & Penelitian Gabungan,(Jakarta:
KENCANA, 2014). h. 372.
adalah sumber informasi yang sangat berguna dalam penelitian kualitatif.49 Dokumen dapat berupa catatan, buku teks, jurnal, makalah, surat, dan sebagainya di Yayasan Raudlatul Makfufin.
G. Teknik Analisis Data
Analisis data menurut Bogdan dan Taylor mendefinisikan analisis data sebagai proses merinci usaha secara formal untuk menemukan tema dan merumuskan hipotesis (gagasan) seperti disarankan oleh data.50
Penelitian ini menggunakan analisis data model Miles dan Huberman, di mana aktivitas dalam analisis data dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas. Adapun langkah-langkah dalam analisis data ini, yaitu reduksi data, display data, dan kesimpulan/ verifikasi.
a. Reduksi data berarti membuat rangkuman, memilih tema, membuat kategori dan pola tertentu sehingga memiliki makna. Reduksi data merupakan bentuk analisis untuk mempertajam, memilih, memfokuskan, membuang dan menyusun data ke arah pengambilan kesimpulan.
b. Display data merupakan proses menyajikan data setelah dilakukan reduksi data.
Penyajian data dalam penelitian kualitatif dilakukan dalam bentuk ikhtisar, bagan, hubungan antar kategori. Selain itu, penyajian data dapat pula dilakukan dalam bentuk tabel, grafik, charta dan sebagainya.
49 Cholid Narbuko & H. Abu Achmadi, loc. cit.
50 Ibid., h. 138.
c. Kesimpulan merupakan langkah ketiga setelah penyajian data ialah pengambilan kesimpulan dan vertifikasi. Pada penelitian kualitatif, kesimpulan awal yang diambil masih bersifat sementara, sehingga dapat berubah setiap saat apabila tidak didukung bukti-bukti kuat. Tetapi apabila kesimpulan yang telah diambil didukung dengan bukti-bukti yang shahih atau konsisten, maka kesimpulan yang diambil bersifat kredibel.51
H. Validitas Data
Untuk melakukan pemeriksaan keabsahan data dalam penelitian ini, maka peneliti menggunakan uji kredibilitas. Uji kredibilitas ini digunakan untuk membuktikan apa yang diamati oleh peneliti sesuai dengan apa yang terjadi di lapangan. Adapun teknik yang digunakan, yaitu :
1. Kredibilitas (Credibility)
Kredibilitas (Credibility) merupakan data hasil penelitian yang dilakukan benar-benar menggambarkan keadaan objek yang sesungguhnya. Adapun teknik yang digunakan untuk menguji kredibilitas data penelitian kualitatif, yaitu pepanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan, trigulasi, pengecekan sejawat, kecukupan referensi, analisis kasus negatif, dan pengecekan anggota.
2. Transferbilitas (transferability)
Transferbilitas (transferability) merupakan hasil penelitian dapat diterapkan atau digunakan pada situasi lain yang memiliki karakteristik dan konteks yang relatif
51 Ibid., h. 147-149.
lama. Transferbilitas sebagi persoalan empiris bergantung pada kesamaan antara konteks lokasi penelitian dengan lokasi lain yang akan diterapkan.
3. Dependabilitas (Dependability)
Dependabilitas (Dependability) merupakan pengujian yang dilakukan dengan mengadakan audit terhadap keseluruhan proses penelitian mulai dari menentukan masalah, menentukan sumber data, pengambilan data, melakukan analisis data, memeriksa keabsahan data dan membuat kesimpulan.
4. Konfirmabilitas (Confirmability)
Konfirmabilitas (Confirmability) berarti menguji keseluruhan proses dan hasil penelitian sehingga diperoleh kepastian. Pengujian ini dilakukan oleh seorang auditor independen atau pembimbing untuk mendapatkan hasil penelitian yang objektif.52
52 Ibid., h. 127-137.
65
A. Gambaran Umum tentang Latar Penelitian
Sebagaimana yang tertera di penelitian dalam Bab ini diuraikan secara mendetail mengenai gambaran umum latar penelitian Yayasan Raudlatul Makfufin Serpong Tangerang Selatan. Secara sistematis bahasan diurutkan berdasarkan sub bab aspek Sejarah sekolah, Demografi dan Lingkungan, dan aspek Latar Sosial, Ekonomi dan Budaya.
1. Sejarah Yayasan Raudlatul Makfufin (Taman Tunanetra)
Yayasan Raudlatul Makfufin (Taman Tunanetra) yang terletak di Kampung Jati, Buaran, Serpong, Kota Tangerang Selatan adalah Lembaga khusus Tunanetra. Didirikan oleh Raden Halim Shaleh pada tanggal 26 November 1983. Sesuai dengan Namanya, Yayasan Raudlatul Makfufin mempunyai spesialisasi dan prioritas pengajaran agama Islam kepada Tunanetra Muslim seluruh Indonesia. Hal ini erat kaitannya dengan Raden Halim Shaleh sebagai seorang pendidik di Sekolah Luar Biasa (SLB) yang prihatin dengan kondisi tunanetra pada minimnya sarana belajar bagi kaum tunanetra, padahal kewajiban ibadah bukan hanya berlaku bagi orang yang sempurna tapi juga mereka yang cacat, sedang pendukungnya sangat minim.
Raden Halim Shaleh kemudian mendatangi Kantor Departemen Agama RI untuk kepentingan Pendidikan dan mencari Al-Qur’an Braille dan
meminjamnya, tetapi pihak Depag tidak mengizinkan karena hanya memiliki dua Al-Qur’an Braille saja yang “sewaktu-waktu diperlukan untuk kepentingan pameran.”53
Yayasan Raudlatul Makfufin memang awalnya didirikan oleh Departemen Agama, tetapi hanya pendiriannya saja, sedangkan dana operasional murni dipenuhi Yayasan, dari sumbangan atau zakat dan infak umat islam, bahkan Departemen Sosial-pun tidak menyalurkan bantuannya. Tiap Ramadhan, Raden Halim Shaleh mengirim proposal ke berbagai Yayasan atau para dermawan untuk menjelaskan misi Yayasan Raudlatul Makfufin.
Yayasan Raudlatul Makfufin juga berbeda dengan Yayasan lain. Santri yang dating belajar di Sekolah Luar Biasa (SLB), sedang pendalaman agama di Yayasan Raudlatul Makfufin. Pelajaran utama di Yayasan Raudlatul Makfufin adalah membaca Al-Qur’an, sedang ilmu agama lain seperti fiqih dan ibadah sosial lainnya bisa didapat jamaah di temapt lain.
Dalam kurun usia yang tergolong masih muda, telah banyak hasil yang dicapai oleh Yayasan Raudlatul Makfufin, diantaranya, system Pendidikan yang semula hanya berupa majelis ta’lim ala kadarnya, kini telah berkembang dengan mendirikan Pesantren Al-Qur’an Tunanetra Raudlatul Makfufin, Sekolah Khusus Islam Terpadu (SKh-IT) Yarfin dengan manajemen Pendidikan modern namun tetap kental nilai-nilai keagamaannya.
53 Dokumen Yayasan Raudlatul Makfufin
Yayasan Raudlatul Makfufin dinilai telah mampu membangun kepercayaan para tunanetra dalam pengajaran dan pengembangan ilmu-ilmu agama. Hal itu dibuktikan dengan semakin banyaknya jumlah santri baik local maupun non lokal yang berasal dari luar kota (Jakarta, Sumatera dan Kalimantan) yang diikuti dengan pencapaian prestasi yang semakin meningkat, baik ketika mengikuti event-event tingkat regional maupun nasional. Hal ini tentu saja tidak lepas dari peran serta aktif pendiri dan para penerusnya yang dengan gigih mencari dan meramu cara terbaik untuk membina tunanetra muslim Indonesia agar tidak tertinggal jauh dengan mereka yang tidak memiliki keterbatasan.54
Tentunya bukan suatu hal yang mudah untuk merealisasikan itu semua.
Dibutuhkan suatu usaha yang sungguh-sungguh, kesabaran, keuletan dan manajemen yang optimal. Dan bukan suatu hal yang ringan pula mempertahankan dan bahkan meningkatkan hasil yang telah dicapai tersebut untuk dapat mewujudkan lembaga yang ideal, namun tetap mengikuti perkembangan zaman, yang nantinya diharapkan dapat mencetak kader-kader da’i muslim, generasi qur’ani yang mandiri, yang mampu mengembangkan pengetahuan agama mereka bagi agamanya, bangsa dan negaranya dengan tetap berpegang teguh kepada aqidah Ahlussunnah wal-Jamaah.
Pada Tahun 1991, H. Munawir Sjadzali, MA. yang waktu itu menjabat Mentri Agama RI, memiliki perhatian khusus, dengan memberikan pinjaman
54 Dokumen Yayasan Raudlatul Makfufin
sebidang tanah milik Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di jalan Kertamukti, Ciputat. Tak hanya itu, H. Munawir Sjadzali juga ikut andil mensukseskan pembangunan gedung untuk pusat kegiatan Yayasan Raudlatul Makfufin. Pada tahun 1992, H. Munawir Sjadzali jualah yang meresmikan gedung Yayasan Raudlatul Makfufin. Sejak itu, seluruh kegiatan Yayasan Raudlatul Makfufin dapat terpusat di satu lokasi.
Seiring waktu berjalan, pada tahun 2009, muncul kebijakan pemerintahan yang mengharuskan Yayasan Raudlatul Makfufin pindah lokasi.
Kebijakan ini mengharuskan seluruh asset negara, termasuk lahan yang ditempati Yayasan Raudlatul Makfufin, dikembalikan kepada negara, dalam hal ini Departemen Agama untuk pembangunan Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tanah yang ditempati Yayasan Raudlatul Makfufin hanya sebatas pinjaman dengan status Hak Guna Pakai.55
Kebijakan pengembalian tanah pinjaman mengharuskan Yayasan Raudlatul Makfufin berpikir keras untuk mencari lokasi baru dan membangun kembali gedung baru. Untuk membangun gedung baru, butuh dana yang tidak sedikit. Melalui jalur perundingan dengan pimpinan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, akhirnya disepakati UIN akan membantu pembangunan gedung baru.
Pada akhirnya Yayasan Raudlatul Makfufin mendapat wakaf dari seorang hamba Allah, berupa tanah seluas 1.000 meter2 di Buaran Serpong Tangerang Selatan. Untuk membangun gedungnya, pihak UIN Syarif
55 Dokumen Yayasan Raudlatul Makfufin
Hidayatullah Jakarta aktif mengumpulkan dana sosial, salah satunya dengan melaksanakan fun-rishing ke banyak pihak. Sekaligus ini bukti tanggung jawab pihak UIN untuk mengganti bangunan gedung Yayasan Raudlatul Makfufin sebelumnya.
Pembangunan gedung baru Yayasan Raudlatul Makfufin (YRM) akhirnya terlaksana dan pada tahun 2010, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, MA. membubuhkan tanda tangannya diatas batu prasasti, sebagai tanda peresmian Gedung. Hadir pula saat itu pelaksanaan tugas (Plt) Walikota Tangerang Selatan, Ir. HM. Shaleh, MT.
Meski diresmikan oleh Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Yayasan tidak ada sangkut-pautnya secara formal kelembagaan dengan UIN. Kehadiran Rektor UIN hanya sekedar meresmikan Gedung baru, sebagai tindak lanjut dari kebijakan perapihan aset milik negara dan membuat gedung lama YRM dibongkar.56
Adapun untuk Sekolah Khusus Islam Terpadu (SKh-IT) sendiri baru berdiri pada tahun 2016, alasan SKh-IT itu sendiri dibangun karena dulu lokasi Yayasan Raudlatul Makfufin di Jakarta agak berdekatan dengan sekolah SLB.
Jadi dulu banyak santri Yayasan Raudlatul Makfufin tinggalnya di Yayasan Raudlatul Makfufin tapi sekolahnya di SLB. Ketika pindah ke Buaran, Tangerang Selatan sekolah SLB agak jauh khususnya tunanetra, hingga akhirnya didirikanlah Sekolah Khusus Islam Terpadu (SKh-IT) Raudlatul
56 Dokumen Yayasan Raudlatul Makfufin
Makfufin pada tahun 2016, agar siswa tunanetra dapat belajar dengan mudah tanpa harus ke sekolah SLB.57
2. Visi, Misi, dan Motto Yayasan Raudlatul Makfufin
Sebagai lembaga Pendidikan, tentu memiliki visi dan misi tertentu.
Sebab dengan adanya visi, misi dan motto maka suatu Lembaga akan terbayang ke arah mana Lembaga tersebut di dirikan dan akan jelas tujuan yang hendak dicapai oleh suatu Lembaga tersebut.
Bagi Lembaga Pendidikan, sangatlah penting visi dan misi karena begitu banyak manusia dan generasi muda menggantungkan harapan dan masa depannya di Lembaga Pendidikan tersebut. Lembaga Pendidikan tentulah harus mempunyai tujuan yang jelas agar siswa-siswa nya dapat mewujudkan impian dan harapannya.
Adapun motto bagi suatu Lembaga Pendidikan juga sangat penting, karena dengan adanya motto di suatu Lembaga akan membuat siswa menjadi termotivasi dan semangat dalam hal belajar. Arah dan tujuan serta motto tersebut tertuang dalam visi, misi dan motto Lembaga Pendidikan tersebut.
Adapun visi dari Yayasan Raudlatul Makfufin adalah sebagai Wahana Pembinaan Aqidah Islamiyah bagi warga dan keluarga tunanetra untuk mencapai kesejahteraan lahir batin, duniawi maupun uhkrowi.
Sedangkan misi dari Yayasan Raudlatul Makfufin, berikut misinya yaitu:
57 Ade Ismail, Ketua Yayasan Raudlatul Makfufin, Wawancara Pribadi, Buaran, 25 Desember 2020
a. Membina dan mengembangkan Aqidah Islamiyah berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul bercirikan Ahlussunah waljamaah.
b. Menyelenggarakan Pendidikan formal dan non formal yang bersifat inklusif maupun khusus yang berbasis keislaman.
c. Mengusahakan tumbuhnya nilai-nilai sosial ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat pada umumnya, warga dan keluarga tunanetra khususnya.
d. Meningkatkan kualitas sumberdaya tunanetra berbasis ilmu pengetahuan dan tekhnologi.
Motto dari Yayasan Raudlatul Makfufin yaitu “Tiada Mata Tak Hilang Cahaya”58
3. Sarana dan Prasarana Yayasan Raudlatul Makfufin
Suatu Lembaga Pendidikan, tidak terlepas dari sarana dan prasarana yang merupakan alat/ bahan pendukung demi berlangsungnya proses belajar dan mengajar di sekolah. Sarana dan prasarana memiliki peranan yang sangat penting dalam setiap lembaga atau instansi. Oleh karena itu, sarana dan prasarana merupakan faktor pendukung demi kelancarannya proses pembelajaran. Begitu juga di Yayasan Raudlatul Makfufin, demi kelancaran
Suatu Lembaga Pendidikan, tidak terlepas dari sarana dan prasarana yang merupakan alat/ bahan pendukung demi berlangsungnya proses belajar dan mengajar di sekolah. Sarana dan prasarana memiliki peranan yang sangat penting dalam setiap lembaga atau instansi. Oleh karena itu, sarana dan prasarana merupakan faktor pendukung demi kelancarannya proses pembelajaran. Begitu juga di Yayasan Raudlatul Makfufin, demi kelancaran