• Tidak ada hasil yang ditemukan

III.4. IKAN KARANG

III.4.1. Hasil Pengamataan Ikan Karang

Dari hasil pengamatan, jumlah total individu ikan karang di perairan Pulau Waigeo bagian selatan dicatat 4.611 individu, meliputi kelompok ikan major 3.197 individu ikan target 1.302 individu dan ikan indikator 112 individu. Perbandingan antara ikan major : ikan target : ikan indikator menjadi 29 : 12 : 1.

Gambar 12. Peta komposisi persentase ikan major, ikan target dan ikan indikator hasil monitoring dengan metode “UVC” di perairan Pulau Waigeo bagian selatan, Kabupaten Rajaampat, 2009. Dari hasil sensus, jumlah individu ikan karang dari kelompok ikan major, didominasi oleh Amblyglyphidodon curacao (suku Pomacentridae). Jenis ini dicatat sebanyak 275 individu, kemudian diikuti oleh Pseudanthias hutchii (suku Serranidae) 250 individu dan Pomacentrus moluccensis juga dari suku Pomacentridae, 155 individu. Dari kelompok ikan ekonomis penting (ikan target), jumlah individu tertinggi diwakili oleh 2 Jenis dari suku Caesionidae, yaitu Caesio teres dan Caesio caerulaurea. Masing-masing 270 individu dan 250 individu. Dengan sifat hidup yang bergerombol (scooling) membuat kedua jenis ikan tersebut juga ditemukan dengan jumlah individu yang cukup tinggi pada lokasi pengamatan di perairan Batangpele maupun perairan Biak.

Kehadiran ikan indikator yang diwakili oleh suku Chaetodontidae dalam pengamatan ini, sebanyak 23 jenis dengan total individu 112 individu. Dimana tidak ada jenis yang memiliki jumlah individu yang dominan, tetapi semua jenis hadir dengan jumlah individu yang relatif berimbang. Sepuluh

23

Reef Health Monitoring 2009 (Rajaampat-P. Waigeo Selatan)

besar jenis ikan karang yang memiliki kelimpahan tertinggi ditampilkan dalam Tabel 4.

Jumlah suku ikan karang yang ditemukan pada masing-masing lokasi pengamatan, menunjukkan bahwa suku Pomacentridae adalah yang tertinggi yaitu 2,208 individu dengan jumlah jenis yang diwakili sebanyak 48 jenis. Tempat kedua ditempati oleh suku Caesionidae, walaupun memiliki jumlah jenis yang relatif sedikit, suku ini hadir sebanyak 617 individu. Tingginnya jumlah individu ini dipengaruhi oleh hadirnya Caesio teres dan C. Caerulaurea, dimana kedua jenis ini dicatat sebanyak 520 individu (84,28%) dari total individu yang dicatat. Selanjutnya diikuti oleh suku Serranidae (366 individu). Sedangkan suku yang hadir dengan jumlah individu yang terendah diwakili oleh Cirrhitidae (1 individu). Kelimpahan masing-masing suku pada setiap lokasi pengamtan disajikan dalam Tabel 5.

Tabel 4. Kelimpahan individu ikan karang berdasarkan dominasi jenis hasil monitoring dengan metode ”UVC” di perairan Pulau Waigeo bagian selatan, Kabupaten Rajaampat, 2009.

No. Jenis Jumlah

individu Kategori

1 Amblyglyphidodon curacao 275 Major

2 Caesio teres 270 Target

3 Caesio caerulaurea 250 Target 4 Pseudanthias hutchii 250 Major 5 Pomacentrus moluccensis 155 Major

6 Chromis weberi 125 Major

7 Chromis ternatensis 120 Major 8 Pomacentrus amboinensis 115 Major 9 Chromis Amboinensis 105 Major

24

Reef Health Monitoring 2009 (Rajaampat-P. Waigeo Selatan)

Tabel 5. Kelimpahan individu ikan karang berdasarkan dominasi suku hasil monitoring dengan metode “UVC” di perairan Pulau Waigeo bagian selatan, Kabupaten Rajaampat, 2009.

No. Suku Jumlah Individu

1 Pomacentridae 2208 2 Caesionidae 617 3 Serranidae 366 4 Labridae 304 5 Apogonidae 236 6 Acanthuridae 174 7 Scaridae 151 8 Lutjanidae 139 9 Chaetodontidae 112 10 Mullidae 66 11 Pomacanthidae 55 12 Scolopsidae 31 13 Holocentridae 23 14 Siganidae 22 15 Balistidae 21 16 Lethrinidae 18 17 Zanclidae 15 18 Haemulidae 12 19 Carangidae 11 20 Ephippidae 5 21 Bleniidae 4 22 Dasyatidae 4 23 Sauridae 4 24 Aulostomidae 3 25 Tetraodontidae 3 26 Monacanthidae 2 27 Ostraciidae 2 28 Scorpaenidae 2 29 Cirrhitidae 1

25

Reef Health Monitoring 2009 (Rajaampat-P. Waigeo Selatan)

III.4.2. Hasil analisis ikan karang

Pada penelitian yang dilakukan di wilayah perairan Waigeo Selatan, Kabupaten Rajaampat, pada tahun 2009 ini (t2), berhasil dilakukan pengambilan data pada semua stasiun penelitian yang dilakukan pada penelitian baseline tahun 2006, yaitu sebanyak 7 stasiun. Rata-rata jumlah individu per transek yang ditemukan pada masing-masing waktu pengamatan disajikan pada Gambar 13 sedangkan rata-rata jumlah jenis disajikan pada Gambar 14.

Gambar 13. Plot interval rata-rata jumlah individu ikan karang hasil monitoring dengan metode “UVC” pengamatan tahun 2006, 2007 dan 2009 di perairan Pulau Waigeo bagian selatan, Kabupaten Rajaampat, 2009.

26

Reef Health Monitoring 2009 (Rajaampat-P. Waigeo Selatan)

Gambar 14. Plot interval rata-rata jumlah jenis ikan karang hasil monitoring dengan metode “UVC” pengamatan tahun 2006, 2007 dan 2009 di perairan Pulau Waigeo bagian selatan, Kabupaten Rajaampat, 2009.

Gambar 13 menunjukkan bahwa rata-rata jumlah individu ikan karang pada tahun 2009 (t2) lebih besar dari tahun sebelumnya, 2007 (t1). Namun menurut hasil uji ANOVA satu arah rata-rata jumlah individu ikan tidak berbeda nyata antara tahun pengamatan, p = 0,096 (Tabel 6). Sebelum uji ANOVA dilakukan, data telah ditransformasi dengan ‘logaritma natural’ (ln) untuk memenuhi prasyarat uji ANOVA.

Tabel 6. Uji one way ANOVA untuk jumlah individu dan jenis ikan karang hasil monitoring dengan metode “UVC” di perairan pantai Pulau Waigeo bagian selatan, Kabupaten Rajaampat, 2009.

*) Ada beda nyata jika p<0,05

Parameter Sumber variasi Jumlah kuadrat Derajat kebebasan Kuadrat rata-rata F p Jumlah Individu Antar tahun 2,948 2 1,474 2,683 0,096 Dalam tahun 9,891 18 0,549 Total 12,839 20 Jumlah jenis Antar tahun 0,300 2 0,150 0,638 0,540 Dalam tahun 4,230 18 0,235 Total 4,530 20

27

Reef Health Monitoring 2009 (Rajaampat-P. Waigeo Selatan)

Pada Gambar 14, terlihat nilai rata-rata jumlah jenis pada tahun 2009 (t2) lebih besar dibandingkan pada tahun 2007 (t1). Namun menurut hasil uji ANOVA satu arah rata-rata jumlah jenis ikan tidak berbeda nyata antara tahun pengamatan, p = 0,540 (Tabel 6). Hal ini berarti selama tahun pengamatan tidak ditemukan perubahan jumlah individu dan jenis yang signifikan.

28

Reef Health Monitoring 2009 (Rajaampat-P. Waigeo Selatan)

BAB IV. KESIMPULAN DAN SARAN

IV.1.KESIMPULAN

Berdasarkan data yang diperoleh di lapangan, kemudian dilakukan analisa data hasilnya adalah sebagai berikut:

o Hasil uji lanjut Tukey, rata-rata persentase tutupan dari ketegori karang mati beralga (DCA), pada t1 berbeda nyata dengan t0 dan t2, sedangkan antara t0 dan t2 tidak berbeda nyata.

o Hasil analisis statistika secara umum, untuk persentase tutupan karang hidup (LC = rerata ± kesalahan baku), dari 7 stasiun yang diamati dalam selang waktu t0 (2006), t1 (2007) dan t2 (2009) terlihat adanya peningkatan persentase tutupan antara t0 (22,32 ± 5,68%) dan t1 (19,66 ± 5,42%). Namun antara t1 dan t2 terjadi peningkatan persentase.

o Hasil uji Tukey, didapatkan rata-rata jumlah individu Drupella cornus mengalami penurunan yang signifikan antara t0 (2006) dan t1 (2007). Antara t1 (2007) dan t2 (2009) tidak berbeda nyata.

o Hasil uji ANOVA menunjukkan bahwa rata-rata jumlah individu dan jenis ikan tidak berbeda nyata antara tahun pengamatan 2006 (t0) dengan 2007 (t1) dan 2009 (t2).

IV.2.SARAN

Hasil pengamatan yang diperoleh selama di lapangan maka dapat diberikan beberapa saran sebagai berikut:

o Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini mungkin tidak seluruhnya dapat menggambarkan kondisi perairan Kabupaten Rajaampat secara keseluruhan mengingat penelitian kali ini difokuskan hanya pada Pulau Waigeo bagian selatan.

o Lokasi penelitian umumnya merupakan laut terbuka yang pada saat musim ombak besar akan sangat sulit dilakukan pengamatan. Penggunaan kapal penelitian yang berukuran besar (bukan kapal nelayan setempat yang umumnya berukuran kecil), pemilihan waktu penelitian yang tepat yaitu disaat musim tenang, serta alokasi waktu penelitian yang cukup akan lebih memungkinkan untuk pengambilan titik stasiun yang lebih banyak sehingga sampel yang terambil akan lebih mewakili daerah penelitian.

o Dengan meningkatnya kegiatan di darat di wilayah Kabupaten Rajaampat, pasti akan membawa pengaruh terhadap ekosistem di perairan ini, baik secara langsung maupun tidak langsung. Untuk itu, penelitian kembali di daerah ini sangatlah penting dilakukan untuk mengetahui perubahan yang terjadi sehingga hasilnya bisa dijadikan

Dokumen terkait