BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.2. Hasil Pengamatan dan Wawancara
Nama : Abdul Riza
Umur : 33 tahun
Tanggal : 16 Juni 2016
Tempat : Kantor BKPEKDT
Informan pertama dalam penelitian ini adalah Abdul Riza. Pria yang akrab disapa Reza ini lahir dengan beragama Islam di Medan pada Tanggal 18
46
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA November 1983. Pria berusia 33 Tahun ini adalah ayah dari seorang anak dan merupakan lulusan Teknik Industri ITM. Bang Reza ini sudah enam tahun menjadi bagian dari BKPEKDT. Walau masih tergolong muda beliau sudah diangkat menjadi Kepala Bidang Penelitian & Pengembangan. Pria campuran Padang dengan Mandailing ini sebelumnya bekerja di pelayaran serta aktif di organisasi seperti Lembaga Survey Indonesia. Beliau menambahkan lagi Ia senang berorganisasi apalagi organisasi yang berhubungan dengan kemasyarakatan.
Pada saat mewawancarai informan peneliti menggunakan kata sapaan “Bang” karena menurut peneliti usia beliau masih tergolong muda serta agar lebih nyaman saat berkomunikasi. Sebelum peneliti masuk ke pertanyaan, Bang Reza mengatakan bahwa mereka (BKPEKDT) mempunyai website yaitu; www.laketoba.org. Beliau menuturkan di dalam website tersebut terdapat hal-hal yang diperlukan peneliti, seperti data-data kegiatan maupun dokumentasi kegiatan. Namun saat peneliti mencoba membuka website tersebut tidak bisa dibuka.
Menurut Bang Reza strategi yang sudah dilakukan dalam usaha memajukan potensi pariwisata di Danau Toba itu bersifat secara tidak langsung, dimana tugas mereka mengkoordinasikan pihak-pihak terkait yaitu seperti Kepala Daerah Setempat, Gubernur, Wakil Gubernur serta Lembaga. Tindakan mengkoordinasi pihak-pihak terkait dimana meliputi perbaikan ekosistem yang ada di sekitar Kawasan Ekosistem Danau Toba yang mana ekosistem itu seperti air, lahan pertanian atau pun hasil perikanan. Perbaikan ekosistem ini nantinya akan berdampak ke pada pariwisata.
“BKPEKDT ini tidak hanya bercerita tentang pariwisata, dia bercerita tentang ekosistem. Jadi ekosistem itu kan meliputi lingkungan dan pariwisata lah kan, tapi BKPEKDT ini sebenarnya dia lebih condong ke lingkungan, sekitar lingkungan tapi berdampak ke pariwisata contohnya kayak ini, apa, kita kegiatan danau toba award, danau toba award itu bertujuan kita memotivasi masyarakat di sekitar situ kayak kita beri penghargaanlah. Pokoknya gitulah dia bakor ini. Udah itu, istilah nya yaitulah dia, ini kan lingkungan yang berdampak kepada pariwisata itu contohnya kegiatan forum perkapalan, di forum perkapalan itu bakor ini mencoba berkoordinasi menyampaikan sama mereka kayak pesan-pesan inilah: jangan buang oli di danau, jangan buang sampah sembarang, itu kita sampaikan ke mereka, cara menyampaikan itu di dalam forum.”
47
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA Menurut narasumber kegiatan yang telah yang telah dilakukan berkisar mengenai lingkungan dimana membuat berbagai kegiatan percontohan seperti dalam bentuk event yang nantinya akan mengajak dan diikuti oleh masyarakat. Contoh kegiatan yang mereka lakukan berkisar seperti kegiatan stimulant, dimana kegiatan tersebut mengajak masyarakat untuk lebih memperhatikan lingkungan. Event-event yang telah mereka laksanakan, meliputi: Gerakan Aku Cinta Danau Toba, Gerakan Pengendalian Sampah, Clean Up Danau Toba. kegiatan ini adalah dengan cara mereka langsung ke danau untuk membersihkan sampah.
Saat menyampaikan setiap kegiatan Bang Reza mengungkapkan lebih sering melakukan pemberitahuan secara langsung atau tatap muka, dimana biasanya mereka langsung mendatangi kantor-kantor daerah setempat untuk melakukan kerjasama guna menjalankan sebuah acara. Setelah mengkoordinasi dengan kepala daerah biasanya mereka mendatangi sekolah-sekolah yang ada di sekitaran Kawasan Danau Toba untuk kemudian memberitahu melalui pihak sekolah Kepala sekolah untuk mengajak anak-anak sekolah tersebut untuk mengikuti kegiatan yang akan berlangsung. Kegiatan yang di lakukan berupa membagikan bibit-bibit tanaman untuk kemudian di tanam anak sekolah tersebut. Beliau menuturkan kegiatan ini dilakukan kepada anak usia sekolah agar mereka mengerti dan nantinya ketika dewasa akan lebih mencintai lingkungan. Pada usia ini merupakan usia terbaik bagi mereka untuk mempelajari lingkungan. Sekolah yang dipilih pun dilakukan dengan cara acak dimana setelah itu barulah mereka melakukan komunikasi dengan Kepala Sekolah terpilih.
“Kayak macam Gerakan Aku Cinta Danau Toba itu dia kita mengajak anak-anak sekolah untuk melakukan penanaman pohon. Umumnya itu kita mengajak mereka itu misalnya di sepanjang jalan menuju sekolah mereka. Di kampong-kampung umumnya kan mereka masih jalan. Jadi mereka; ituloh pohon yang kita kita tanam, sembari kita tanamakan juga rasa kecintaan mereka terhadap lingkungan karna ya tujuan utamanya itu kan kalau dari sejak dini mereka sudah mencintai lingkungan yakan, kan sudah terpatri ketika sudah dewasa ya kan, jadi mereka bisa lebih memahami lingkungan itu seperti apa. Emang sih yang diajak itu anak SMP dan SMA. ”
Dalam menyebarkan informasi maupun mengkoordinasikan pihak-pihak terkait, Bang Reza lebih senang menggunakan cara lama, seperti melalui diskusi atau forum, yang mana dalam forum tentunya langsung bertatap muka kepada
48
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA lawan bicara sehingga pesan yang disampaikan lebih terorganisir. Ketika menyampaikan kegiatan yang akan mereka lakukan kepada masyarakat pun hanya menggunakan Baliho, Poster, Stiker, dan Buletin. Dimana isi pesan dibuat se-persuasif mungkin untuk menyampaikan tujuan yang ingin dicapai.
“Ya berupa inilah, kayak baliho. Kayak baliho itu ada kita pasang di Sembilan kabupaten kotalah, disitu kita ada pasang dia kayak, salah satu contoh pesannya: Danau Toba, pokoknya untuk anak cucu lah bahasanya dia.”
Adapun penggunaan koran atau radio hanya sekedarnya saja ketika ada kegiatan berlangsung. Beliau menambahkan lagi, biasanya mereka menggundang atau memberi press release kepada wartawan untuk kemudian wartawan publikasikan. Selain koran, radio juga digunakan untuk menyampaikan kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan, namun sama seperti koran, radio yang mereka gunakan hanya saat ketika akan berlangsungnya kegiatan. Radio yang digunakan merupakan radio daerah yaitu Radio Green Samosir.
“Televisi gak ada, tapi kalau radio itu kita kerjasama dengan Radio Green Samosir namanya, jadi Radio Green Samosir ini kan dia aktif masalah lingkungan, kayak kegiatan kita kadang kita undang mereka ya mereka meliput langsung contohnya kegiatan aku cinta danau toba di tanah ponggol samosir, itu langsung mereka liput, langsung di publikasi ke masyarakat, karena kan langsung dihadiri sama bupatinya.”
Saat ditanyakan kepada beliau mengapa tidak menggunakan media berbasis internet seperti Facebook dan Twitter, rencana untuk membuat media tersebut ada namun belum dapat terealisasi, sementara itu yang mereka punya saat ini hanyalah website.
“Memang rencana seperti itu ada, jadikan mungkin disekitar tahun ini jugalah nanti dimunculkan seperti facebooknya BKPEKDT, nanti kita muculkanlah daerah-daerah wisata Danau Toba.”
Respon yang diberikan oleh masyarakat kepada kegiatan yang dilakukan biasanya bernilai positif, yang mana masyarakatnya justru menyarankan untuk mengulangi kegiatan yang sama pada tahun yang akan datang. Tetapi dari segi wisatawan tidak pernah ada respon dikarenakan tujuan wisatawan datang itu hanya untuk berlibur bukan untuk ikut melakukan kegiatan yang ada disana.
49
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA Media yang efektif menurut beliau dalam penyampaian pesan kepada masyarakat adalah melalui media cetak. Dimana media cetak seperti koran dapat langsung dibaca masyarakat, poster atau pun baliho dapat langsung terlihat oleh orang-orang yang ada di sekitaran Kawasan Danau Toba.
“Sebenarnya kalau disini kan gini dek, banyak disini bekas-bekas kepala dinas, jadi mereka lebih senang publikasinya itu ya media-media cetak, jadi lebih senang itu, kan kalau media cetak kan langsung dibaca orang, tercerna dia, maklumlah namanya orang tua.”
Kesulitan yang dialami saat menjalankan program tidak begitu berat, dimana beliau menuturkan saat mengadakan program tujuannya adalah untuk hal yang positif, sehingga jarang ada kesulitan yang dialami. Jika pun mengalami kesulitan hanya beberapa dari masyarakat yang meminta uang sebagai uang makan mereka. Dari sisi wisatawan, menurut Bang Reza tidak pernah ada wisatawan yang merespon program mereka. Dimana kegiatan wisatawan itu hanya untuk berlibur.
“Kalau kesulitan mungkin tidak begitu terasa, karena umumnya kalau kita untuk mengajak yang baik, pasti orang mau respon, kalau ada ini-ini sikit tidak begitu ini kalilah. Ya wajarlah itu, namanya kadang-kadang kalau kita ngajak orang melakukan pembersihan enceng gondok di kawasan ini, yakan kita ngajak orang ya adalah sedikit uang makannya, paling itu ajalah. Kalau kesulitan yang gimana-gimana gak ada sih. Wisatawan tidak pernah ada sih ya, karena gini juga sih umumnya, wisatawan-wisatawan ke danau toba cuma mau buat rekreasi, bukan mau gimana, tapi ada juga dia, paling mereka hanya melakukan penelitian, kayak kemarin ada melakukan kerjasama sama kita mengenai penelitian kualitas air.”
Program yang sudah direncanakan dianggap sudah baik oleh narasumber, dimana program atau kegiatan yang dilaksanakan dapat memberitahu kepada masyarakat bagaimana semestinya menjaga lingkungan, serta pentingnya kebersihan Danau Toba untuk masyarakat sekitar. Namun belakangan, narasumber menuturkan bahwa kurang adanya perhatian dari pemerintahan sendiri terhadap lingkungan sekitar Danau Toba, beliau beranggapan bahwa pemerintah hanya memikirkan tentang hasil yang akan di dapat dari pariwisata tanpa memikirkan lingkungan.
“Sebenarnya kalau rencana program sudah bagus kayak contohnya kan. Kalau program itu, kalau kita bilang ya sudah bagus sih, cuma karna kita sebatas berkoordinasi jadi paling yang perlu kita tingkatkan itu, kita terus mendorong pihak-pihak yang terkait untuk tetap eksis dan melakukan secara stimulant apa-apa yang jadi yang perlu diperhatikan di Danau Toba. Karna kan kadang, kita
50
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA bukan menjelekkan apa, pemerintah kota sendiri tidak begitu peduli. Contohnya ini kita bilang, kalau bicara mutu air, inikan sekarang udah dengar juga kan tentang Badan Otorita Danau Toba, jadikan itu dia bergerak dibidang pariwisata aja kan. Pemerintah sendiri aja tidak memperhatikan lingkungannya, dia hanya berpariwisata aja, akhirnya kayak kerambah-kerambah itu, enceng gondok, itukan. Tapi itu-itu sebagian sih udah kami kerjakan. Pokoknya yang kami kerjakan pembersihan enceng gondok, yakan udah itu pengendalian sampah, itu pengendalian sampah itu kita mengajak, seperti kita buat event, acara, kita kumpulkan anak-anak sekolah meliputi juga penduduk sekitar kita buat di pantai parbaba, di Samosir. Itulah kita ajak anak-anak itu sembari kita memberikan bantuan tong sampah. Itu kita sebut Gerakan Pengendalian Sampah.”
Dalam menjalankan program stimulant ini yang paling menjadi hambatan menurut Bang Reza adalah adalah mengenai masalah anggaran.
“hambatannya? paling masalah anggaran, kalau hambatan sih paling gak ada, ya keterbatasan anggaran lah kami-kami jujur keterbatasan anggaranlah karena jujur aja, karnakan eheem yang kita buat kecil-kecilnya dek. Caranya yang kita bentuk event-event. “
Ketika ditanyakan apa yang harus dilakukan BKPEKDT kedepannya setelah Danau Toba masuk jadi Destinasi Pariwisata Prioritas Bang Reza mengatakan bahwa hal yang harus diperbaiki adalah mengenai sifat atau karakter masyarakat yang ada di sekitaran Danau Toba yaitu sifat melayani orang. Membandingkan dengan Pulau Jawa, Bali serta Aceh yang mana masyarakatnya sudah sangat terbuka dengan wisatawan serta baik melayani wisatawan. Karena itulah mereka membuat berbagai forum termasuk forum pendidikan. Forum pendidikan ini nantinya akan diwakili murid-murid terbaik untuk diundang bersama narasumber yang berkompeten dalam memberitahu mengenai lingkungan di sekitar Danau Toba.
Komunikasi yang dijalin dengan pihak pusat meliputi; Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Kehutanan Lembaga Penelitian LIPI serta Kementrian Kelauatan & Perikanan. Dimana hal-hal yang nantinya berkaitan dengan Danau Toba akan saling dibagikan.
Di sisi lain Bang Reza menambahkan banyak sebenarnya orang sukses yang bersuku Batak, namun hanya mementingkan diri sendiri. Beliau mengatakan hal ini dikarenakan terdapatnya tokoh yang mempunyai peran penting di Tanah
51
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA Batak tersebut namun kepentingan serta apa yang dia miliki tidak beliau bagikan kepada masyarakat sekitar.
“Sebenarnya cemana ya kita bilang, banyak orang-orang kaya umumnya orang-orang Batak banyak yang kaya tapi mereka hanya mentingkan diri mereka sendiri, kalau kamu pernah ke Balige, ada namanya hotel yang punyanya T.B. Silalahi, dia itu marketingnya bagus, banyak wisatawan-wisatawan yang datang pake bus, tapi ya itu, mereka hanya datang dari Medan langsung hotel, udah gitu.”
Selain dari sifat mementingkan diri sendiri, yang menjadi kesulitan yaitu sifat masyarakat disana yang susah diatur. Dimana terkadang para pemangku jabatan serta organisasi, komunitas ataupun yayasan di wilayah Kawasan Danau Toba masih tidak saling berkoordinasi.
“kadang kesulitan gini dek, kesulitannya bukan maksudnya apa. Sifat kita yang susah di atur masih ada. Jadi kadang-kadang ada kesannya pemerintah PEMKAB nya bekerja sendiri-sendiri.”
Informan II
Nama : Aidil Aksa
Umur : 36 tahun
Tanggal : 20 Juni 2016
Tempat : Kantor BKPEKDT
Peneliti kemudian melanjutkan wawancara dengan Bang Aidil Aksa. Pertemuan yang terjadi dengan narasumber yang satu ini bisa dibilang tak terduga. Peneliti awalnya berniat untuk menemui Bang Reza selaku gatekeeper untuk penelitian ini, namun ternyata beliau tidak ada ditempat, sehingga peneliti memutuskan untuk mewawancarai Bang Aidil saja.
Informan kedua dalam penelitian ini adalah Pria kelahiran Bukit tinggi, 4 Mei 1980. Pria ini bernama Aidil Aksa. Di tahun 2016 ini beliau menginjak usia 36 tahun. Bang Aidil yang merupakan lulusan S1 Komputer di Universtitas Putra Indonesia Padang ini sudah menikah dan memiliki dua orang anak. Bang Aidil yang sebelumnya merupakan tenaga honor dibadan lingkungan hidup, kemudian
52
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA masuk menjadi anggota BKPEKDT pada Tahun 2010. Bang Aidil sendiri merupakan staf sekretariat dimana tugasnya yaitu membantu para kepala bidang.
Hampir serupa dengan apa yang disampaikan oleh Bang Reza Menurut beliau tugas dari BKPEKDT ini yaitu badan koordinasi, dimana mengkoordinasikan instansi terkait dalam pengelolaan lingkungan di kawasan Danau Toba. Instansi terkait yang dimaksud itu seperti badan lingkungan hidup daerah dan kementrian perikanan. Bentuk dari kegiatan yang dilakukan merupakan bentuk percontohan, seperti agroforesti, kegiatan aksi Aku Cinta Danau Toba, kegiatan aksi pengendalian sampah dan segala kegiatan berskala kecil untuk lingkungan Ekosistem Kawasan Danau Toba.
Dalam memberitahukan informasi mengenai kegiatan yang akan diadakan, biasanya beliau terlibat secara langsung melakukan hubungan tatap muka dengan instansi-instansi terkait serta masyarakat secara langsung. Selanjutnya beliau mendiskusikan bersama seperti apa baiknya nanti jalannnya acara serta siapa-siapa sajakah yang layak menjadi narasumber.
“Kita kerjasama dengan camat, kita melibatkan sekolah, kita kerjasama dengan kepala sekolah. Sebelumnya kita survey dulu sebelum melakukan kegiatan. Kalau kegiatan aku cinta danau toba ini kita melibatkan siswanya, kerjasama dengan guru. Kegiatan itu kan kami buat ini berpusat di samosir, kita koordinasi dulu dengan instansi terkait dimana cocoknya kegiatan ini dilaksanakan misalnya seperti kegiatan pembersihan enceng gondok, kira-kira enceng gondoknya banyaknya dimana, itu diarahkan sama instansi terkait di daerah bisa aja camat bisa aja badan lingkungan hidup atau instansi lain.”
Perencanaan yang telah dilakukan dalam meningkatkan jumlah wisatawan merupakan bentuk akibat dari setiap kegiatan yang mereka lakukan, dampak ini secara tidak langsung berpengaruh pada kegiatan pariwisata. Badan ini bertugas melakukan pengontrolan Kerambah Jaring Apung (KJA) yang melebihi ambang batas sedangkan untuk dampak yang secara langsung Bang Aidil ini mengatakan tidak ada kaitannya dengan wisata.
“Mungkin itu gak ada ya, kami lebih menjaga ekosistemnya aja, ekosistem kawasan danau toba aja ya, kami paling ngontrol KJA ya kan, mungkin itu udah melebihi ambang batas. Kalau untuk memajukan pariwisata, ya kita tidak bisa membuat kebijakan, jangan lakukan itu kita hanya sebatas koordinasi saja. Untuk memajukkan masyarakat, kita buat kegiatan-kegiatan percontohan aja, skala kecil. Mungkin macam kami ada buat kegiatan danau toba award, jadi kegiatan
53
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA danau toba award itu kita misalnya menilai hotel, kapal, desa, itu nanti kita kasih penghargaan.”
Dalam melakukan kegiatan-kegiatan percontohan, mereka biasanya mendatangi langsung camat kemudian mengajak sekolah-sekolah melalui kepala sekolah serta guru yang ada disekolah terpilih. Media yang digunakan pun sedikit hanya berupa website serta stiker, poster dan buletin. Buletin ini mulai digunakan pada tahun 2010. Jika pun menggunakan koran hanya sepintas saja digunakan ketika ada kegiatan atau event yang berlangsung. Beliau menambahkan media yang mereka gunakan cukup efektif dengan masyarakat disana seperti spanduk, poster ataupun baliho karena mengingat lokasi sasaran yang masih berbentuk desa.
“kita punya website, itu websitenya (sembari menunjuk ke sebuah tulisan yang ada di papan tulis). Paling itulah kita ada punya poster, kita ada stiker, ada punya kita menerbitkan buletin mulai dari tahun 2010, 2011. Ini ada edisinya ini. Di koran itu selintas kalau ada kegiatan-kegiatan, baru nanti dimasukkan ke koran.”
Kesulitan yang dirasakan menurut pandangan Bang Aidil bisa dibilang tidak terlalu menganggu, dikarenakan setiap kegiatan yang dilakukan sudah mempunyai susunan acara tersendiri dimana susunan tersebutlah yang direalisasikan di lapangan. Hal lain juga yang mendasari pernyataan beliau adalah kegiatan yang mereka adakan ini hanya dalam bentuk kecil dan tidak terlalu besar sehingga masih mudah untuk mengaturnya.
“kita udah format kegiatan ini ya kita realisasikan dilapangan, InsyaAllah berjalan dengan lancar, yah itu hanya dalam bentuk kecil, misalnya. Ruang lingkupnya gak terlalu besar gitu. Macam penilaian itu, mungkin kita menilai desa ini, desa ini, kita ambil contohnya aja yakan, jadi kita angkat. Misalnya penilaian hotel, ini hotel-hotel masuk kriteria berwawasan lingkungan atau sampahnya di bagus dibuangnya, diolahnya, bagus kebersihannya, dijaganya, TPA-nya, TPS nya semua dijaganya.”
Dari tanggapan yang dilontarkan oleh narasumber program yang direncanakan ini sudah cukup baik. Dikatakan cukup karena badan ini hanya bersifat badan koordinasi sehingga terbatas jika mau melakukan sebuah program ataupun kegiatan. Adapun kegiatan yang dilakukan hanya berupa percontohan-percontohan saja seperti mengingatkan masyarakat supaya menjaga kebersihan serta untuk tidak membuang sampah ke danau. Hambatan yang dikemukakan oleh
54
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA narasumber ketika menjalankan program lebih berkisar pada perilaku masyarakat sekitar yang keras.
“hambatan itu pasti ada aja, karena apalagi perilaku kita Orang Batak ini keras-keras, tak mau dibilangi juga kadang, susah. Perilaku.”
Respon yang diberikan masyarakat setiap diadakannya kegiatan bernilai positif, dimana masyarakat meminta untuk mengulangi lagi kegiatan yang sama di tahun yang akan datang. Namun dari segi wisatawan sendiri belum pernah ada respon yang didengar oleh narasumber.
“Kita gak ada indikatornya ya, dia merespon seperti apa. Maksudnya komplainnya gitu? Respon ada, setelah selesai acara dia gini: iyalah tahun-tahun besok disini lagi, kita adakan lagi yang lebih dari ini Pak. Responnya baik. Respon negatif, saya dengar langsung gak ada, postif aja karna kita kan udah bikin kegiatan, kita rangkul mereka, kita libatkan lurah, camat, semua kita libatkan.”
Tujuan BKPEKDT tidak ada yang berubah walaupun Danau Toba sudah lebih diperhatikan oleh pemerintah mengingat tujuan mereka adalah untuk mengkoordinasikan berbagai pihak terkait yang ada di sekitaran Kawasan Danau Toba untuk lebih memperhatikan lagi Ekosistem Danau Toba. Tantangan yang akan dihadapi kedepannya dengan mengubah pola pikir masyarakat yang ada disana untuk membatasi keramba jaring apung.
“Tantangannya ya kita harus merubahkan pola pikir orang disana, membatasi keramba jaring apung atau kalau memang harus diangkat, biar airnya bersih lagi, biar airnya tidak melewati ambang batas kan udah ada ininya, baku mutunya. Tidak melebihi itu, tidak tercemar, dan orang mandi pun tidak gatal lagi yakan.”
Dalam menjalankan beberapa kegiatan BKPEKDT juga berkerjasama dengan beberapa bagaian pemerintahan pusat seperti LIPI dan mencari informasi ke kementerian lingkungan hidup
Dalam mewujudkan Geopark Kaldera Danau Toba mesti diadakan lagi kerjasama-kerjasama serta memperbaiki infrastruktur yang ada sehingga wisatawan tertarik untuk ke Daerah Wisata.
“Ya kita lakukanlah perlahan-lahan, mengadakan kerjasama-kerjasama mulai merintis kegiatan-kegiatan kecil, kegiatan besarnya juga, paling itulah mungkin infrastrukturnya mungkin harus diperhitungkan juga, masyarakatnya.
55
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA Kembali kemasyarakatnya lagi, mungkin pembangunan daerah-daerah wisata seperti outbond.
Kedepannya yang ingin dilakukan tetap sebatas koordinasi dan mengulangi kegiatan-kegiatan lama, mengkoordinasikan ke instansi terkait sehingga masyarakat menjadi lebih mengerti dan paham.