BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2 Hasil Penelitian
4.2.3 Hasil Pengamatan dan Wawancara
Setelah melakukan wawancara dengan kelima informan, berikut dipaparkan hasil pengamatan dan wawancara dari masing-masing informan sebagai berikut:
1. Informan I
Nama Informan : Andri Cipto Utomo
Jabatan : Pranata Humas BNPB
Tanggal Wawancara : 05 April 2019 Waktu Wawancara : 13.00 – 14.00 WIB
Tempat Wawancara : Ruang Kerja Humas BNPB, Lantai 12
Informan yang diwawancarai pertama kali adalah Andri Cipto Utomo yang berada pada posisi Jabatan Fungsional Pranata Humas BNPB. Beliau menjadi informan yang pertama diwawancarai karena jadwal beliau yang tidak begitu padat saat peneliti tiba di Gedung BNPB. Walau demikian, peneliti memilih beliau untuk dijadikan informan juga karena posisi beliau yang strategis di Humas BNPB. Sebagai Pranata Humas, beliau memiliki fungsi strategis dalam menyampaikan informasi ke publik, sehingga peneliti menilai bahwa beliau dapat dijadikan salah satu informan kunci dalam penelitian ini. Berdasarkan wawancara yang dilakukan, beliau mengatakan bahwa tugas Humas BNPB tidak terlalu jauh berbeda dengan tugas Humas di lembaga pemerintah lainnya, yaitu menjadi garda terdepan dalam sebuah lembaga/institusi dalam mengkomunikasikan beragam informasi baik terkait lembaga/institusi tersebut, maupun pekerjaan yang dilakukan oleh lembaga/institusi tersebut. Humas bertugas untuk mempublikasi dan menyebarkan informasi dan mengedukasi masyarakat melalui informasi tersebut.
65
“Humas itu garda terdepan misalnya ingin mengkomunikasikan suatu kejadian bencana itu valid, atau akurat, data atau hoax. Jadi untuk menghindari hoax, humas itu harus menjadi yang terdepan memberi informasi bencana secara valid dan akurat untuk menghindari hoax. Jodesc Humas itu banyak. Sebenarnya kita itu ada mengedukasi masyarakat, memberikan informasi kepada masyarakat, terus menyampaikan rilis ke wartawan untuk liputan. Jadi intinya, humas itu perpanjangan dari BNPB ke masyarakat, menyampaikan informasi kepada masyarakat, data dan informasi.”
Terkait salah satu tugas Humas BNPB adalah bertanggungjawab terhadap kegiatan publikasi informasi, Humas BNPB sangat gencar melakukan publikasi yang merupakan kegiatan terpenting dalam elemen kegiatan kehumasan, terutama ketika menyangkut publikasi informasi kebencanaan, yang merupakan pusat perhatian BNPB.
Publikasi informasi kebencanaan penting dilakukan untuk membuat masyarakat paham mengenai bencana apa saja yang terjadi dan bagaimana cara menyikapinya, dan yang paling penting agar masyarakat Indonesia dapat lebih aware terhadap bahaya bencana yang mungkin mengancam di daerahnya.
“(Publikasi) penting banget. Kalau misalnya kita tidak publikasikan data yang kita punya, informasi yang kita punya, masyarakat kan engga akan tahu bencana apa yang ada di Indonesia, apa aja sih bencana di Indonesia, emang semuanya udah pada tahu. Kenapa bisa terjadi gempa, gimana cara menyelamatkan diri, kan harus kita kasih tau masyarakat supaya lebih aware.”
Terkait dengan kegiatan publikasi informasi kebencanaan, informasi yang disampaikan tentunya tentang bencana, sebelum bencana terjadi, saat bencana terjadi, dan setelah bencana terjadi.
Humas menyampaikan keadaan terkini terkait suatu bencana, meliputi berapa jumlah korban dan kerusakan, apa yang harus dilakukan masyarakat, dan lain-lain. Semua informasi
dipublikasikan agar masyarakat dapat lebih tanggap terhadap bencana.
“Pasti terkait bencana, dari yang pra bencana, misalkan sekarang ada edukasi apa yang sudah dilakukan BNPB misalnya dalam masa pra bencana, mitigasi apa yang sudah kita lakukan, bisa buat Desa Tangguh kah, bangun mitigasi vegetative, struktural, dan masih banyak. Setelah itu, ada masa saat tanggap darurat, saat bencananya. Ya kita menginformasikan berapa jumlah orang yang meninggal, apa saja yang sudah dilakukan pemerintah, terus bagaimana penanganannya, dan apa yang harus dilakukan masyarakat, itu juga. Setelah itu, rehabilitasi-rekonstruksi juga masuk ke pasca bencana. Jadi setelah mereka tanggap bencana, apa yang harus dilakukan? Merelokasi penduduk dari tempat A ke tempat B yang lebih aman dari zona berbahaya ke wilayah aman, seperti itu.”
Dalam menjalankan keseluruhan kegiatan publikasi, Humas tidak bekerja sendiri. Di dalam Humas BNPB sendiri, terdiri dari subbagian media cetak dan media elektronik. Di samping itu juga ada jabatan fungsional Pranata Humas yang membantu pekerjaan subbag media cetak dan media elektronik. Beragam informasi dipublikasikan melalui media milik BNPB sendiri, namun juga ada media di luar kepemilikan BNPB, seperti grup WAPENA (Wartawan Peduli Bencana) dan MEDKOM (Media Komunikasi).
WAPENA adalah kumpulan wartawan contributor yang dididik dan dilatih di forum komunikasi wartawan sehingga dapat menjadi agen Humas BNPB dalam penggandaan informasi. MEDKOM merupakan kumpulan wartawan media yang dirangkul BNPB untuk diajak bersinergi untuk membuat artikel tentang bencana yang harapannya kelak bisa dimuat di media wartawan masing-masing.
“Dan kalau masalah penyebaran tadi dibantu siapa, tiap teknik ada. Jadi kita ibarat sekarang dibantu, sekarang kan zamannya medsos, bisa lewat medsos. Kita ada website, kita punya majalah, kita punya grup WAPENA (Wartawan Peduli Bencana). Jadi kita ada temen-temen wartawan juga yang menjadi agen kita untuk penggandaan informasi. Jadi wartawan-wartawan kontributor kita didik, kita latih di forum komunikasi
67
wartawan. Nah setelah mereka selesai, kita bangunlah WAPENA. Nanti juga ada grup MEDKOM, Media Komunikasi.
Jadi di sini, kita punya tujuh (7) MEDKOM dan tujuh (7) WAPENA. MEDKOM. Media Komunikasi. Itu sebenarnya gagasan Pak Topo. Jadi sebanyak mungkin wartawan kita blasting, tulis rilis yang dibikin BNPB ke mereka. Harapannya, satu, mereka bisa memuat itu di media mereka. Kedua, paling enggak, mereka teredukasi, apa sih yang sudah kita lakukan, apa yang terjadi di bencana. Ketiga, untuk menghindari dari hoax.
Sekarang kan, bencana itu banyak yang ngambil kesempatan.
Misalkan, gunung Agung meletus, ternyata bukan Gunung Agung yang meletus, nanti Gunung Sinabung. Terus yang tentang pariwisata, berdampak juga terhadap pariwisata kan, yang di Bali sampai satu periode satu bulan kalau ga salah, lebih ya kayaknya, ya pokoknya triliunan deh dampaknya dari hoax itu impact nya lumayan banyak karena sebenarnya kan, yang kena erupsi itu hanya radius 5 kilometer dari gunung, enggak sampe se-Bali. Tapi gunung itu dipindahkan ke tengah, jadinya se-Bali kena erupsi.”
Tidak hanya melatih wartawan dalam membuat berita tentang bencana, Humas BNPB juga kerap melakukan pelatihan internal terhadap karyawan Humas BNPB. Pelatihan ini bertujuan untuk menciptakan Humas yang handal dalam penyusunan berita atau artikel kebencanaan. Humas BNPB juga ikut membantu Pelatihan Bimbingan Teknis (Bimtek) di BPBD agar kemudian tim BPBD dapat handal dalam menyajikan sebuah berita yang akurat untuk kemudian dapat dikirim ke BNPB dan dipublikasikan. Tidak hanya pelatihan untuk membuat artikel atau berita, beberapa kesempatan juga diadakan pelatihan fotografi dengan langsung mengundang fotografer senior. Pada beberapa kesempatan, pelatihan berujung pada kompetisi antar peserta pelatihan.
“(Benar kita melakukan pelatihan internal karyawan Humas) Kita juga supaya temen-temen, kita kan terbatas nih orang-orangnya di Humas, yang kalau ada kegiatan ga bisa semua ikut berangkat. Nah jadi kita kayak buat agen-agen kecil di masyarakat supaya mereka bisa juga menulis atau mewartakan kegiatan apa yang mereka lakukan, misalnya mereka ada kegiatan bimtek temen-temen BPBD di mana gitu, BPBD di Aceh
misalnya, agar mereka bisa mewartakan, mengirim berita ke kita agar nanti kita muat di website kita atau di medsos. (Artikelnya) Tentang kegiatan mereka, kegiatan unit kerja masing-masing.
Dulu juga sebelumnya ada workshop foto, terus apa lagi ya.. Jadi kita bikin games kecil-kecilan gitu, jadi temen-temen yang hobi foto kita kumpulin, kita ajak. Ga hanya kamera, tapi handphone juga. (Pelatihan fotografi) Ada mentor nya, Pak Arben Rambe, fotografer senior di Kompas, waktu itu pernah periksa fotonya ini kurang apa. Paling tidak, temen temen itu bisa mengoreksi kekurangannya apa, kelebihannya apa, satu. Kedua, kita kompetisikan juga setelah dikasih teori, praktekkan di sekeliling aja. Fotonya di sekeliling aja. Mereka praktek, potret, kita liat mana yang bagus, kita kasih hadiah, 300 ribu, 200 ribu.”
Kegiatan tersebut dilakukan untuk menciptakan karyawan Humas yang semakin terampil dalam mengambil dan mempublikasikan informasi. Tidak hanya untuk internal Humas, setiap tahun BNPB, melalui Humas, mengadakan award dalam Lomba Kreativitas Kebencanaan dengan berbagai macam kompetisi yang terbuka untuk umum. Perlombaan yang tersedia berbagai macam, seperti lomba karya tulis, lomba foto, poster, video, radio, jingle. Kegiatan ini sudah berlangsung dari 2012 hingga sekarang dan diselenggarakan bertepatan dengan Bulan Peringatan Risiko Kebencanaan Nasional yang biasa dilaksanakan di bulan Oktober awal atau akhir, dengan tempat penganugerahaan award yang berbeda-beda setiap tahunnya, tergantung kota yang ditunjuk untuk menjadi tempat penyelenggaraan Bulan Peringatan Risiko Kebencanaan Nasional.
“Lomba Kreativitas Kebencanaan, kayak kemarin terakhir itu ada lomba karya tulis, lomba foto, poster, video, radio, jingle, yang kemarin itu karya tulis kita singkat lagi menjadi blog, ikuti perkembangan zaman, lumayan udah 6 kali, dari 2012.
Penyerahan hadiahnya, setelah kita kompetisi kan sampai Oktober, dilakukan itu bulan Oktober akhir atau Oktober awal, berbarengan dengan bulan Peringatan Risiko Kebencanaan. Nah itu, bisa di mana aja. Kemarin kan di Medan, tahun ini di Babel.
Sebelumnya sempat di Manado.”
69
Dalam kegiatan publikasi informasi kebencanaan, Humas BNPB memiliki beberapa media, yaitu media cetak dan media elektronik. Untuk media cetak, Humas BNPB mencetak majalah GEMA dalam periode tertentu, yaitu dalam setahun tiga kali.
Kemudian, ada juga dicetak Buku Saku Bencana yang dicetak berdasarkan jenis bencana yang kerap terjadi pada suatu periode tertentu. Selanjutnya, Humas BNPB juga membuat Komik Edukasi Bencana yang disegmentasikan untuk anak-anak. Di samping itu, ada juga buku profil BNPB dan leaflet yang dicetak dalam bentuk buku tulis dan dibagikan kepada anak-anak sekolah dasar.
“Kalau media cetak itu yang rutin, kita punya majalah Gema.
Majalah itu empat bulan sekali, setahun itu tiga kali, jadi terbitnya bulan April, Agustus, Desember, itu majalah empat bulanan kami. Kedua, ada buku Edukasi Bencana, tergantung bencananya apa. Kalau bencananya kemarin terakhir Merapi, banjir bandang di Magelang, terus ada yang edukasi tentang Simelue, pulau pulau kecil kan biasa lebih rawan karena kalau misalnya kena bencana, udah terisolir, kita gabisa masuk, nah kayak gitu, ada buku pembelajaran istilahnya. Ketiga, kita buat ga hanya untuk orang dewasa dan orang umum, kita juga bikin untuk anak-anak, kayak buat komik, Komik Edukasi Bencana.
Nah ada lagi sebenarnya jurnal, tapi jurnal itu temen-temen bidang Data. Terus, buku profil, buku Gema, leaflet. Nah, kemarin leaflet ini kita cetaknya dalam bentuk buku tulis, kan karena kalau leaflet kebanyakan kalau dipegang, habis baca buang kan. Nah kita coba untuk menyasar temen-temen, adek-adek kita SD, SMP lah kita kasih buku tulis, tapi belakangnya itu ada informasi tentang bencana, pra bencana, tanggap bencana, pasca bencana, secara keseluruhan saat ada bencana, kita harus ngapain, dalam buku tulis. Jadi secara ga langsung, kalau buat adik-adik mereka belajar, pasti baca. Asal ga disampul cokelat ya, haha. Itu yang cetak.”
Untuk media elektronik, Humas BNPB membuat program radio ADB (Aspara Dita Budaya) untuk mengedukasi masyarakat yang tinggal di pesisir dengan menciptakan sandiwara tentang kolosal, tentang edukasi bencana, mengapa gunung berapi meletus, dan lain sebagainya. Produksi dilakukan sampai 100 episode dan kemudian
disiarkan di beberapa titik kabupaten/kota. BNPB juga memiliki channel media elektronik lainnya yaitu BNPB TV dengan membuat sebuah program animasi berjudul Keluarga Tangguh dan sejumlah vlog yang melibatkan publik figur. Selain itu, BNPB juga aktif publikasi melalui media sosial, yaitu Youtube, Instagram, Twitter, Facebook, dengan username sebagai berikut:
Youtube : BNPB Indonesia
Instagram: @bnpb_indonesia
Twitter : @BNPB_Indonesia
Facebook : Badan Nasional Penanggulangan Bencana
Website : www.bnpb.go.id
“Kalau elektronik, kita satu tahun ada semacam kayak ADB (Aspara Dita Budaya), itu melalui radio. Jadi mengedukasi masyarakat yang tinggal di pesisir yang cuma kesehariannya dengerin radio, nah kita nyasarnya ke situ. Jadi, bikin sandiwara tentang kolosal, yang tentang edukasi bencana, kenapa gunung berapi meletus, nah itu cukup menarik dan responnya lumayan bagus. Terus kita juga ada ke masyarakat, ada temu wicara juga, terus ke mahasiswa dan sebagainya. Setelah itu kita juga pakai medsos. Media sosialnya itu ada empat, Youtube, Instagram, Twitter, Facebook. Terus ada Whatsapp, terus ada website. Kita juga ada BNPB TV, sama kita edukasi melalui media televisi, misalkan kayak kita bikin animasi Keluarga Tangguh, terus kita sebarkan lagi. Atau misalnya video vlog kecil seperti kemarin BP (Bambang Pamungkas), jadi edukasi dari publik figur kita gunakan juga, dongeng bencana. Ya entar tayang di TV dan di media sosial. (Untuk ADB sendiri) Jadi kita produksi sandiwaranya 1 sampai 100 episode, nah nanti itu disiarkan, di-relay di, kemarin itu, 80 lokasi kabupaten/kota di Indonesia.”
Tidak hanya itu, Humas BNPB juga menggunakan media lain, seperti media pertunjukan untuk mengedukasi masyarakat tentang bencana. Untuk masyarakat tradisional, Humas BNPB juga menggunakan media tradisional untuk lebih mudah menyampaikan informasi kepada publik. Humas BNPB menggunakan pertunjukan
71
wayang untuk kegiatan edukasi bencana. Ini telah menjadi agenda tahunan Humas BNPB.
“(Terdekat ini) Ada katanya bikin wayangan. Yang tradisional kita juga ada edukasi bencana lewat wayangan. Jadi kalau kita sudah menggapai temen-temen milenial melalui medsos, Youtube, dan lain sebagainya, tapi kita juga merangkul temen-temen kita yang di daerah, di pinggiran, melalui seni tradisional.
Jadi secara ga langsung, kita edukasi masyarakat, saat mereka dengerin wayang kan ada lucunya. Jadi mereka itu dalangnya kita kasih buku saku edukasi bencana, terus sampaikan ini, daerah sini, misalkan kemarin di Garut, ancamannya gunung meletus, ancamannya gempa bumi, ancamannya ini mungkin bisa disampaikan. Kalau misalnya gunung meletus, larinya jangan ke atas gunung, malah ke bawah gunung, harus di luar radius itu, yang harus diikutin itu siapa, BNPB, bukan yang lain.
Biar masyarakat teredukasi juga. Soalnya di pinggiran itu kan sebenarnya kebanyakan orang tua. Yang terdekat ini akan dilaksanakan di Pekalongan, Jawa Tengah.”
Dari semua kegiatan publikasi yang sudah dilakukan, tim Humas sendiri kerap melakukann evaluasi untuk melihat apa yang masih kurang dan apa yang dapat ditambahkan untuk ke depannya. Dari kegiatan-kegiatan tersebut yang sudah dievaluasi, ada beberapa kegiatan yang dinilai kurang efektif yaitu seperti kegiatan animasi Keluarga Tangguh yang dinilai gagal dalam animasinya. Walau demikian, ada kegiatan lainnya juga yang dinilai efektif dan mendapat respon positif dari masyarakat, seperti Asmara di Tengah Bencana. Informan menyatakan bahwa salah satu unsur yang menjadi tolok ukur keberhasilan sebuah kegiatan publikasi adalah respon audience.
“Kalau dari internal sendiri, kita sudah evaluasi kemarin kegiatan animasi yang Keluarga Tangguh itu, kurang efektif, akhirnya kita hentikan, karena kita mau kampanyekan keluarga yang tangguh untuk hadapi bencana, ternyata gagal di animasinya yang kurang baik. Terus evaluasi lain misalnya Asmara di Tengah Bencana, lumayan respon nya bagus, jadi kita lanjutkan di tahun ini. Evaluasi, paling dari anemo masyarakat
dan media sosial. (Kebanyakan) Positif. Tapi kita juga menilai diri sendiri, dalam arti kayak tadi animasi. Menurut kita aja ga bagus, apalagi orang lain. Tapi anak-anak suka suka aja sih, kayak animasi Tangga, Tangkas, Tangguh. Jadi kita ada animasi yang motor bisa terbang, pernah kita puterin waktu kunjungan di sini. Anak-anak SD datang ke sini, dia liat ada yang “Ah, norak nih”. Terus kita putar di Garut, anak-anaknya “Wah keren (sambil bertepuk tangan)”. Tingkat sasaran video nya harus sesuai tempat juga, kayak di sini mungkin ga pas karena sering liat film lebih bagus, kalau di daerah kan mungkin gadget nya ga secanggih anak-anak yang tinggal di Jakarta. Setelah habis edukasi di lapangan, kita tanya gimana responnya, menarik ga?
Kita tanya, kita rekam di video, terus kita catat yang kurang ini, yang lebih ini. Buat pembelajaran kita, kurang lama, kurang ini.”
Dalam melakukan tugas dan fungsinya sebagai Humas BNPB, seringkali tim Humas menemukan kesulitan sehingga cukup menghambat kinerja Humas, terutama dalam penyediaan dan pendistribusian informasi kebencanaan. Informan mengatakan bahwa hambatan terbesar dalam Humas BNPB adalah mengenai ketersediaan SDM. SDM yang sedikit tersedia di Humas menjadikan seringkali Humas harus repot dalam melakukan pekerjaan peliputan dan dokumentasi. Hal ini terjadi karena ketika suatu bencana terjadi di sebuah daerah, maka harus ada tim Humas yang dikirim ke daerah. Tim Humas yang berangkat kadang hanya berjumlah 1-3 orang, yang kemudian pekerjaan di kantor akan menjadi sedikit lebih lambat. Dilema antara harus memilih pekerjaan kantor atau peliputan di lapangan, yang di mana keduanya membutuhkan ketersediaan dan keterampilan dalam mengerjakan pekerjaan masing-masing. Strateginya adalah harus multi-tasking, satu orang harus mampu mengerjakan banyak hal.
“Kalau di Humas, kekurangan orang aja sebenarnya, satu.
Kedua, kita sebenarnya kalau Pranata Humas itu kan fungsional.
Di setiap unit itu, ada satu satu satu. Jadi secara ga langsung, dia itu jadi kontributor kita gitu untuk informasikan kegiatannya masing-masing. Terus ada satu temen-temen Pencegahan dan
73
Siap Siagaan lagi bikin apa kegiatan menanam mangrove misalnya, karena kita lagi ngeliput kegiatan kepala BNPB dan dianya ada kegiatan. Kalau misalnya kita ada satu orang yang stay di unit Pranata Humas nya itu, oke. Menurut saya sih itu.
Kendala nya sih itu, biar informasi juga bisa cepat disampaikan.
Jadinya (untuk penyelesaian) multi-tasking. Misalnya kalau ke daerah, dari kementerian minimal kirim empat (4), kita Cuma dua (2). Satu foto, satu video, sama nulis dan sebagainya. Kadang kalau kepepet banget, cuma satu orang. Dan juga kemampuannya belum merata. Jadi misalnya di checklist, menulis, foto, video, ngedit, nge-drone, dan sebagainya yang dibutuhkan di lapangan, kan. Nah paling satu orang belum merata. Ada yang cuma bisa tiga, ada yang cuma bisa satu atau dua, minimal dua deh.”
2. Informan II
Nama Informan : Theophilus Yanuarto, S.S., M.Si.
Jabatan : Kasubbag Media Elektronik Humas BNPB Tanggal Wawancara : 05 April 2019
Waktu Wawancara : 14.30 – 15.00 WIB
Tempat Wawancara : Ruang Kerja Humas BNPB, Lantai 12
Informan kedua dalam proses wawancara ini adalah Theophilus Yanuarto, S.S., M.Si. yang menjabat sebagai Kasubbag Media Elektronik Humas BNPB. Peneliti memilih beliau untuk menjadi informan, di samping karena memegang jabatan yang strategis, juga karena beliau yang bertanggungjawab terhadap segala bentuk publikasi informasi di media elektronik, yang tentunya mendapat banyak perhatian dari masyarakat. Oleh karena itu, peneliti merasa informan memiliki kapasitas yang cukup untuk memberi informasi terkait penelitian ini. Berdasarkan wawancara yang dilakukan, informan mengatakan bahwa masyarakat Indonesia belum sepenuhnya siap dalam menghadapi bencana, sehingga masih diperlukan usaha yang keras dari BNPB untuk mempublikasikan informasi dan mendidik masyarakat. Tingginya angka korban dan
kerusakan selama bencana terjadi di Indonesia menunjukkan bagaimana masyarakat Indonesia dan BNPB masih memiliki pekerjaan yang besar supaya lebih aware dan tangguh terhadap bencana.
“Kalau kita bicara data, bisa jadi kita bisa mengambil asumsi.
Jadi kalau kita bicara jumlah orang meninggal karena bencana di 2017 itu sekitar 377. Nah kalau kita bicara lagi jumlah korban meninggal di tahun 2018 sekitar 4000. Jadi kenaikannya itu hamper 12 kali lipat. Nah dari situ kita bisa mengambil sih sebetulnya berasumsi apakah sebenarnya masyarakat itu sudah siap atau belum. Karena ada banyak permasalahan seperti misalnya terkait dengan tata ruang dan perencanaan tata wilayah misalnya. Wilayah Kota Palu itu sebenarnya tidak cocok untuk pembangunan, baik itu untuk pemukiman maupun infrastruktur.
Yang terjadi apa, itu justru malah dilanggar kan. Dari situ kita bisa lihat, kita tidak tahu tuh yang kurang paham pemerintah daerahnya atau masyarakatnya, yang jelas jumlah korban sangat tinggi di situ, dan kita bisa berasumsi apakah masyarakat sudah siap atau belum. (Dengan demikian) Ya memang butuh usaha yang keras ya karena sebenarnya penanggungjawab utama bencana itu kan di daerah, yang paling utama. Jadi kita sifatnya hanya bersinergi membantu aja.”
Karena peran edukasi bencana itu menjadi tugas besar BNPB, maka Humas hadir untuk melakukan publikasi informasi dan pada beberapa kesempatan, juga memberikan sosialisasi kepada masyarakat mengenai budaya sadar bencana. Dengan demikian, humas memegang peranan yang penting di BNPB.
“Pentingnya Humas itu karena yang pertama kita juga peran untuk sosialisasi kepada masyarakat. Berikutnya, kita juga memiliki peran untuk meningkatkan kapasitas kehumasan di tingkat daerah, karena yang jadi permasalahan tingkat daerah itu, struktur BPBDnya dia tidak memiliki Humas. Dia menempel
“Pentingnya Humas itu karena yang pertama kita juga peran untuk sosialisasi kepada masyarakat. Berikutnya, kita juga memiliki peran untuk meningkatkan kapasitas kehumasan di tingkat daerah, karena yang jadi permasalahan tingkat daerah itu, struktur BPBDnya dia tidak memiliki Humas. Dia menempel