• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A.1. Hasil pengamatan karang

Pengamatan terumbu karang dengan metode LIT telah dilakukan di 6 stasiun yang berada pada Desa Sawo dan Desa Tuhamberua. Pengamatan kali ini dilakukan untuk memonitor perkembangan karang dua tahun sebelumnya. Hasil pengamatan, selanjutnya diuraikan berdasarkan masing-masing titik pengamatan.

Stasiun NIAL 01

Lokasi penelitian terletak pada Pantai Utara Nias bagian timur, persisnya di Desa Sawo, Teluk Bengkoang. Pengamatan dilakukan pada posisi yang sama dengan tahun sebelumnya yaitu pada tahun 2005. Pada pengamatan kali ini masih dite-mukan transek permanen yang dipasang 2 tahun yang lalu walaupun kondisinya sudah tidak seperti semula, sebagian tali ada yang putus. Pantai ber-pasir putih yang diselingi dengan pohon kelapa. Pada lokasi ini dibuat sebagai budidaya rumput laut, yang sebelumnya tidak ada. Pada daerah ini didominasi oleh karang bercabang (branching) dari jenis Porites nigrescens dan Porites cylindrica. Sama halnya dengan soft coral yang didominasi oleh Sinularia sp dan Sarcophyton sp juga masih dijumpai pada lokasi ini. Substrat terdiri dari karang mati yang ditumbuhi algae (turf algae) dan rubble. Pada lokasi ini masih sering terjadi gempa kecil yang mengakibatkan keruhnya perairan dan goncangan pada karang. Hal ini terlihat pada saat

dilakukan pengambilan data di air, terjadi gempa dan terlihat air menjadi keruh akibat sedimen naik ke permukaan. Dari hasil LIT diperoleh persentase tutupan karang hidup yaitu sebesar 33,60%. Per-sentase ini merupakan yang tertinggi dibandingkan dengan lokasi lainnya. LIPI 2006 melaporkan bahwa tahun 2005 persentase karang mencapai <15 %. Hal ini berarti terjadi kenaikan pada persentasenya.

Stasiun NIAL 02

Pengamatan dilanjutkan ke arah teluk masih dengan posisi yang sama dan menemukan transek yang dipasang pada tahun sebelumnya. Substrat terdiri dari pecahan karang mati dan turf algae. Ler-eng terumbu landai yaitu sekitar 20o. Pada bagian karang yang mati mulai ada rekruitmen (recovery) namun masih sangat sedikit. Karang umumnya ber-bentuk bercabang (branching) yang didominasi oleh

P o r it es c yl in d ric a. Pocillopora verrucosa juga terli-hat dalam ukuran yang kecil. Pada lokasi ini juga dijumpai predator karang yaitu Acanthaster planci. Dari hasil LIT diperoleh persentase tutupan karang hidup yaitu sebesar 2,93%. Persentase ini meru-pakan yang terkecil dibandingkan dengan lokasi lainnya. Pada pengamatan yang dilakukan pada ta-hun 2005 dilaporkan bahwa tutupan karang hidup pada daerah ini < 5%. Hal ini berarti tidak ada pe-rubahan yang nyata dibandingkan dengan 2 tahun sebelumnya.

Gambar 3. Rerata persentase tutupan dari seluruh stasiun LIT untuk masing-masing kategori biota dan substrat.

Acropora Non Acropora Fleshy seaweed Dead coral Dead coral algae Others Rubble Rock Sand Soft coral Silt Sponge

Tabel 1. Rerata persentase tutupan dari seluruh stasiun LIT untuk masing-masing kategori biota dan substrat.

NIAL 01 NIAL 02 NIAL 03 NIAL 04 NIAL 05 NIAL 06 2005 Acropora 0.00 1.60 0.37 0.00 0.00 0.00 Non_acropora 14.37 3.47 25.87 27.10 26.70 23.20 Dead scleractin-ian 26.67 19.23 19.93 7.47 11.07 4.13 Algae 25.03 40.50 37.20 27.30 45.20 47.20 Other fauna 0.83 0.47 6.27 2.77 1.57 0.90 Abiotic 33.10 34.73 10.37 35.37 15.47 24.57 2007 Acropora 0.00 0.20 0.27 0.00 0.70 0.07 Non Acropora 33.60 2.73 15.47 19.13 9.13 21.90 Fleshy seaweed 4.13 0.10 0.00 0.00 0.00 0.33 Dead coral 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 Dead coral algae 48.67 70.03 34.43 56.07 39.67 52.53 Others 0.00 0.00 1.27 0.97 0.00 0.93 Rubble 6.60 26.17 41.60 8.67 7.90 2.33 Rock 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 Sand 0.00 0.00 2.40 5.93 40.20 13.40 Soft coral 0.00 0.77 0.00 0.00 0.27 0.00 Silt 1.17 0.00 4.57 8.17 0.00 2.00 Sponge 5.83 0.00 0.00 1.07 2.13 6.50 Totals 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00

Gambar 4. Persentase tutupan karang, biota bentik lainnya dan kategori abiotik hasil monitoring di perairan Lahewa Kabupaten Nias. # # # # # # P. Sarangbaung P. Senau P. Mausi Tg. Dowi Tg. Sowu Tg. Laaya Tg. Laoya Tg. Ginigini Tg. Toyolawa Tg. Sosilutte Tg. Tanah Nasi MUZOI TEFAO SIHENEASI LAWIRA I LAAYA MOAWO ALO'OA FINO SAWO BALEFADORO TUHO OMBOLATA LOLOFAOSO SIFAHANDRO LASARA SOWU TELUK BENGKUANG MARAFALA HILIGEO AFIA TUHEMBERUA LAHEWA ALASA 1°25' 1°25' 1°30' 1°30' 1°35' 1°35' 1°40' 1°40' 97°5' 97°5' 97°10' 97°10' 97°15' 97°15' 97°20' 97°20' 97°25' 97°25' 97°30' 97°30' 97°35' 97°35' Legenda : TUTUPAN LIFEFORM PER STASIUN LIT DI LAHEWA (2007) U Darat Hutan Mangrove Fringing Reef Patch Reef Acropora Non acropora Dca Dc Soft coral Sponge Fleshy seaweed Other biota Rubble Sand Silt Rock

Gambar 5. Peta persentase tutupan karang hidup hasil LIT di lokasi transek permanen, di perairan Lahewa Kabupatenm Nias.

Stasiun NIAL 03

Pengamatan dilakukan pada sisi bagian timur. Vegetasi pohon kelapa dan pantai yang berbatu. Pengamatan dilakukan sekitar 75 m kearah laut. Karang tumbuh berupa spot-spot yang tumbuh pada substrat keras dengan keragaman yang rendah. Umumnya Pertumbuhan encrusting (mengerak) karena masih berukuran keci (< 5 cm). Karang yang mendominasi di daerah ini adalah dari Heliopora

c o erul e a yang dijumpai mulai dari rataan hingga lereng terumbu. Pada substrat dijumpai koloni karang yang berukuran <5 cm didominasi oleh

A c a nt ha s te r pl an c i, Diadema sp. dijumpai banyak pada daerah ini, yang biasanya mengindikasikan kurang baiknya pertumbuhan karang. Dari hasil LIT diperoleh persentase tutupan karang hidup yaitu sebesar 15,74%. Dibandingkan dengan kondisi pada tahun 2005 yang dilaporkan tutupan karang hidupnya sekitar 26 %. Hal ini berarti terjadi penurunan persentasi tutupan karang.

Stasiun NIAL 04

Pengamatan dilakukan di Pulau Panjang pada sisi bagian selatan. Transek permanen yang dipasang pada 2 tahun lalu masih ditemukan. Pengamatan dilakukan pada sisi bagian timur. Vegetasi pohon kelapa dan pantai yang berbatu. Pengamatan dilakukansekitar 75 m kearah laut. Karang tumbuh berupa spot-spot yang tumbuh pada substrat keras. Umumnya Pertumbuhan karang di reef flat didominasi oleh Porites sp. Semakin ke dalam kehadiran karang semakin bervariasi dimana karang dengan bentuk pertumbuhan seperti daun (folios) didominasi oleh Turbinaria frondens. Bentuk pertumbuhan encrusting (mengerak) didominasi oleh

M o n t i p o ra sp. Bentuk pertumbuhan bercabang didominasi ole Porites nigrescens dan Porites

c yli n dr ic a. Pertumbuhan karang masih ditemukan hingga kedalaman 8 m, setelah itu pasir dan rubbel mendominasi. Dari hasil LIT diperoleh persentase tutupan karang hidup yaitu sebesar 19,13%. Dibandingkan dengan kondisi pada tahun 2005 yang dilaporkan tutupan karang hidupnya sekitar 30 %. Hal ini berarti terjadi penurunan persentasi tutupan karang.

S t a s iu n NI A L 05

Pengamatan dilakukan pada Pulau Lafau disisi sebelah Barat. Namun karena kondisi ombak yang sangat besar pada saat pengamatan tidak memungkinkan untuk dilakukan transek, sehingga lokasi dipindahkan ke sisi yang agak terlindung yaitu ke arah selatan. Pengamatan dilakukan sekitar 70 m ke arah laut dengan vegetasi pantai pohon kelapa dan tumbuhan pantai. Pantai berbatu karena pengangkatan bongkahan karang. Substrat terdiri dari pasir, pecahan karang mati dan turf algae. Lereng terumbu landai yaitu sekitar 20o. Pada saat pengamatan jarak pandang sekitar 1-2 m, karena adanya gelombang yang mengaduk pasir dan substrat. Karang yang dijumpai umumnya berbentuk bongkahan (massive) yang didominasi oleh Porites

l o ba ta dan Coeloseris mayeri. Karang yang baru tumbuh terlihat dari jenis Pocillopora sp.. namun dalam jumlah yang sedikit. Tingginya sedimentasi dan kekeruhan mungkin penyebab rekruitmen karang sangat sedikit pada lokasi ini. Dari hasil LIT (Line Intercept Transect) diperoleh persentase tutupan karang hidup yaitu sebesar 10,3 %. P e r s e n t a s e i n i m e r u p a k a n y a n g t e r k e c i l d i b a n d i n g k a n d e n g a n l o k a s i l a i n n y a . P a d a pengamatan yang dilakukan pada tahun 2005 dilaporkan bahwa tutupan karang hidup pada daerah ini sekitar 26%. Hal ini berarti terjadinya penurunan dari 2 tahun sebelumnya.

Stasiun NIAL 06

Pengamatan dilakukan persis di pintu masuk teluk Lahewa. Pada saat pengamatan konsisi perairan sangat tenang, tidak berarus dan berombak. Transek permanen yang dipasang pada bulan Agustus 2005 masih dijumpai utuh, tidak

sekitar 50 m kearah laut. Pantai berbatu akibat dari pengangkatan pada gempa tahun 2005 yang lalu. Pada pengamatan tahun 2004 terlihat bahwa dipesisir pantai sangat padat oleh mangrove, namun saat ini sudah tidak ada lagi mangrove tersebut karena pantai yang naik dan menjadi kering. Dasar perairan terdiri dari bongkahan karang mati dan pecahan karang mati. Pertumbuhan karang seperti bongkahan didominasi oleh Porites lobata yang bisa mencapai diameter 2 m. Sedangkan bentuk pertumbuhan sub massive dan encrusting didominasi oleh Montipora sp.. Pada bagian karang yang mati juga dijumpai pertumbuhan Sponge. Rekruitmen karang terlihat jelas dengan ukuran yang berbeda-beda mulai dari <5cm sampai < 20 cm. Karang yang baru tumbuh ini didominasi oleh jenis Acropora sp.,

M o n t i p o ra sp. dan Porites sp. Dari hasil LIT diperoleh persentase tutupan karang hidup yaitu sebesar 21,97 %. Pada pengamatan yang dilakukan pada tahun 2005 dilaporkan bahwa tutupan karang hidup pada daerah ini sekitar 26%. Hal ini berarti terjadinya penurunan dengan 2 tahun sebelumnya.

Dari 6 stasiun LIT, diperoleh rerata persentase tutupan karang hidup sebesar 17,20%. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi karang di lokasi ini dikategorikan rusak (tutupan < 25%). Kerusakan ini merupakan suatu akibat dari gempa bumi yang terjadi pada Maret 2005. Dari hasil LIT diperoleh 8 suku dan 32 jenis. Pertumbuhan karang pada umumnya berupa ”patches” yaitu gerombol-gerombol kecil.

Pertumbuhan karang anakan (rekruitmen) mulai ada namun jumlahnya sedikit. Umumnya karang anakan dari jenis Acropora sp, Montipora sp dan

P o c i l l op o ra sp. Hal ini menunjukkan proses r e g e n e r a s i d a p a t b e r l a n g u n g s e c a r a a l a m i . Rendahnya rekruitmen dan keberhasilan hidup sangat dipengaruhi oleh faktor fisik seperti

gelombang yang kuat dan laju sedimentasi yang terjadi di lokasi ini.

Persentase tutupan karang, biota bentik lainnya dan kondisi abiotik hasil monitoring di masing-masing lokasi disajikan dalam Gambar 4. Persentase tutupan karang hidup di masing-masing lokasi ditunjukkan dalam Gambar 5. Perbandingan hasil transek karang, kategori bentik lainnya dan kategori abiotik tahun 2004, 2005 dan tahun 2007 disajikan dalam Tabel 1.

Pada penelitian yang dilakukan di wilayah Kabupaten Nias, pada tahun 2007 ini (t2), berhasil dilakukan pengambilan data pada semua stasiun penelitian yang dilakukan pada penelitian tahun 2004 (t0) dan tahun 2005 (t1), yaitu sebanyak 6 stasiun.

Plot interval untuk masing-masing biota dan substrat berdasarkan waktu pemantauan dengan menggunakan interval kepercayaan 95 % disajikan dalam Gambar 6.

Gambar 6. Plot interval untuk masing-masing biota dan substrat berdasarkan waktu pemantauan dengan menggunakan interval kepercayaan 95 %.

U n t u k m e l i h a t a p a k a h a d a p e r b e d a a n persentase tutupan untuk masing-masing kategori biota dan substrat antara waktu pengamatan (tahun 2004, 2005 dan 2007), digunakan uji one-way ANOVA, dimana data sebelumnya ditransformasi ke dalam bentuk arcsin akar pangkat dua dari data (y’=arcsin√y). Untuk data Batuan (Rock), tidak dilakukan uji karena selama pengamatan tahun 2004, 2005 dan 2007 tidak dijumpai. Dari pengujian tersebut diperoleh nilai p, atau nilai kritis untuk menolak Ho. Jadi dengan tingkat kepercayaan 95%, maka Ho akan ditolak bila nilai p <0,05, yang berarti ada perbedaan persentase tutupan untuk kategori tersebut antara selang 3 waktu pengamatan yang berbeda (2004,2005 dan 2007). P e rs e n ta s e tu tu p a n Waktu Batu an Lum pur Pasi r Peca han kara ng Bio ta la in Fles hy s eaw eed Spon ge Kar ang luna k Kar ang mat i dgn alga Kar ang mat i Non Acr opor a Acr opor a Karan g hi dup t0 t1 t0 t1 t0 t1 t0 t1 t0 t1 t0 t1 t0 t1 t0 t1 t0 t1 t0 t1 t0 t1 t0 t1 t0 t1 t0 t1 t0 t1 t0 t1 t0 t1 t0 t1 t0 t1 t0 70 60 50 40 30 20 10 0 -10

Plot interval untuk biota dan substrat terhadap waktu pemantauan dengan interval kepercayaan 95% untuk nilai rataan (t0=2004; t1=2005; t2=2007)

Tabel 2. Nilai p berdasarkan hasil uji t-berpasangan. Tanda *)

berarti Ho ditolak.

Dari Tabel 2, terlihat bahwa perbedaan persen-tase tutupan dari tahun 2004 ke 2007 terjadi hanya untuk kategori Karang hidup (LC). Non-Acropora (NA) dan pecahan karang (R), sedangkan untuk kategori lainnya tidak berbeda secara nyata.

D a r i u j i p e r b a n d i n g a n T u k e y d e n g a n penggunakan p=5% terlihat bahwa jumlah individu pertransek untuk : Kategori Nilai p Karang hidup 0.001 *) Acropora 0.423 Non-Acropora 0.001 *) Karang mati 0.391

Karang mati dgn alga 0.058 Karang lunak 0.165 Sponge 0.259 Fleshy seaweed 0.283 Biota lain 0.795 Pecahan karang 0.030 *) Pasir 0.816 Lumpur 0.187

• LC, menurun dari t0 ke t1, sedangkan antara t1 dan t2 tidak ada perbedaan yang signifikan. • NA, menurun dari t0 ke t1, sedangkan antara t1

dan t2 tidak ada perbedaan yang signifikan. • R, meningkat dari t0 ke t1, sedangkan antara t1

dan t2 tidak ada perbedaan yang signifikan. Terlihat bahwa adanya penurunan persentase tutupan karang hidup sejak adanya peristiwa gempa bumi di Nias pada 2005, dan kondisinya belum kembali seperti pada 2004. Persentase tutupan karang hidup pada tahun 2004 sebesar 48,31%, sedangkan pada tahun 2005 sebesar 21,39%, dan tahun 2007 sebesar 17,20%. Penurunan persentase tutupan karang hidup lebih dominan disebabkan oleh menurunnya persentase tutupan karang dari jenis non-Acropora. Karang hidup yang rusak di daerah ini menyebabkan meningkatnya persentase tutupan pecahan karang (R) dari tahun 2004 ke 2005. Persentase tutupan R pada tahun 2004 sebesar 1,73%, sedangkan pada tahun 2005 dan 2006 masing-masing sebesar 15,54%.

B. M

EGABENTOS

Seperti yang diuraikan dalam metode penarikan sampel dan analisa data, metode ”Reef check” yang dilakukan pada lokasi transek permanen dalam penelitian ini mencatat hanya beberapa dari jenis megabentos yang bernilai ekonomis penting ataupun yang bisa dijadikan indikator dalam menilai kondisi kesehatan terumbu karang.

Dari hasil Reef check yang dilakukan pada lokasi yang sama dengan trasek permanen, menunjukkan jumlah yang sedikit Acanthaster planci ditemukan hanya pada satu lokasi. Karang jamur (CMR=Coral Mushrom)

dan Diadema setosum yang lebih banyak dijumpai dibanding mega bentos lainnya yaitu masing-masing kelimpahannya adalah 286 individu/ha dan 1155 individu/ha. Demikian juga dengan kima (Giant clam) yang memiliki nilai ekonomis penting masih dijumpai, dimana untuk yang berukuran besar (panjang >20 cm) kelimpahannya sebesar 71 individu/ha, dan yang berukuran kecil (panjang < 20 cm) sebesar 95 individu/ ha. Tripang (holothurian) dimana yang berukuran besar (diameter >20) tidak dijumpai pada setiap lokasi, sedangkan yang berukuran kecil hanya 24 individu/ha. Hasil ”reef check” selengkapnya di masing-masing stasiun transek permanen bisa dilihat pada Tabel 3, Gambar 7.

Tabel 3. Hasil reef check megabenthos di perairan Nias

KELOMPOK NIAL01 NIAL02 NIAL03 NIAL04 NIAL05 NIAL06

Acanthaster planci 0 0 71 0 0 0 CMR 214 429 143 429 357 143 Diadema setosum 0 0 6571 0 357 0 Drupella sp. 0 0 0 0 0 0

Large Giant Clam 0 0 0 357 71 0

Small Giant Clam 357 143 0 0 0 71

Large Holothurian 0 0 0 0 0 0

Small Holothurian 0 0 0 71 0 71

Lobster 0 0 0 0 0 0

Pencil sea urchin 0 0 0 0 0 0

Rerata jumlah individu per transek untuk setiap kategori megabentos yang dijumpai pada masing-masing waktu pengamatan disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4. Rerata jumlah individu per transek untuk setiap kategori megabentos yang dijumpai pada masing-masing waktu pengamatan.

Untuk melihat apakah jumlah individu setiap kategori megabentos tidak berbeda nyata untuk setiap waktu pengamatan (tahun 2004, 2005 dan 2007), maka d i l a k u k a n u j i m e n g g u n a k a n o n e - w a y A N O V A . Berdasarkan data yang ada, uji tidak dilakukan untuk

Jumlah individu/transek 2 0 04 2 0 05 2 0 07 Acanthaster planci 7,83 0,83 0,17 CMR 44,50 5,00 4,00 Diadema setosum 22,50 0,00 16,17 Drupella sp. 0,00 0,00 0,00

Large Giant clam 4,17 0,00 0,00 Small Giant clam 0,67 0,00 2,33 Large Holothurian 3,67 0,00 0,00 Small Holothurian 0,00 0,00 0,33

Lobster 0,00 0,00 0,00

Pencil sea urchin 0,00 0,00 0,00

Trochus niloticus 0,00 0,00 0,17

D r u p e l l a sp., Lobster dan Pencil sea urchin dikarenakan pada masing-masing waktu pengamatan (2004, 2005 dan 2007) tidak dijumpai samasekali (Tabel 4). Sebelum uji dilakukan, untuk memenuhi asumsi-asumsi yang diperlukan dalam penggunaan one -way ANOVA ini, data ditransformasikan terlebih dahulu menggunakan transformasi akar pangkat dua (square root), sehingga datanya menjadi y’=√√(y+0,5). Nilai p untuk setiap data jumlah individu/transek pada kategori megabentos yang diuji disajikan pada Tabel 5. Bila nilai p tersebut lebih kecil dari 5% (=0,05), maka Ho ditolak, yang berarti ada perbedaan jumlah individu/ transek untuk kategori megabentos tersebut antara selang 3 waktu pengamatan yang berbeda (2004, 2005 dan 2007).

Dari Tabel 5 tersebut terlihat bahwa perbedaan yang nyata antara jumlah individu per transeknya untuk setiap megabentos yang diamati pada tahun 2004 dan 2007 terjadi untuk CMR, Large Giant clam, Small Giant clam dan pencil sea urchin. Adanya peningkatan jumlah individu per transeknya dari tahun 2004 ke 2007 terjadi untuk Large Giant clam dan Pencil sea urchin, sedangkan penurunan jumlah individu per transeknya terjadi untuk CMR dan Small Giant clam (Tabel 4).

Dari uji perbandingan Tukey dengan penggunakan p=5% terlihat bahwa jumlah individu pertransek untuk :

• CMR, menurun dari t0 ke t1, sedangkan antara t1 dan t2 tidak ada perbedaan yang signifikan.

• Small Giant clam, menurun dari t0 ke t1, kemudian kembali lagi meningkat pada saat t2, dimana jumlah individu pertranseknya antara t0 dan t2 tidak berbeda nyata.

• Large holothurian, terjadi penurunan dari to ke t1. Antara t1 dan t2 tidak ada perbedaannya.

Tabel 5. Hasil uji t-berpasangan terhadap data jumlah individu/ transek megabentos (data ditransformasikan ke dalam bentuk akar pangkat dua).

Kategori Nilai p Acanthaster planci 0.053

CMR 0,000 *)

Diadema setosum 0.384

Drupella sp. Tidak diuji

Large Giant clam 0.141 Small Giant clam 0.017 *) Large Holothurian 0.013 *) Small Holothurian 0.116

Lobster Tidak diuji

Pencil sea urchin Tidak diuji

Gambar 7. Hasil ”reef check” untuk megabentos yang memiliki nilai ekonomis penting dan sebagai indikator kesehatan karang pada di masing-masing stasiun transek permanen.

Dokumen terkait