BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengujian Bom Kalorimeter
Pengujian bom kalorimeter dilakukan untuk mendapatkan nilai kalor daripada bahan bakar. Nilai kalor bahan bakar didapat dengan melihat perbedaan suhu air sebelum dan sesudah proses pengeboman bahan bakar berlangsung yang dituliskan dalam persamaan:
HHV = (t2 - t1 - tkp) x CV
Dimana: HHV = High Heating Value (nilai kalor atas) t2 = suhu air setelah penyalaan (oC) t1 = suhu air sebelum penyalaan (oC)
tkp = kenaikan temperatur akibat kawat penyala (0,05 oC) CV = panas jenis bom kalorimeter (73529,6 kJ/kg oC) Pada pengujian bahan bakar Pertamax, diperoleh:
T1 = 26,57 °C T2 = 27,2 °C
Maka, HHV (Pertamax) = (26,57 °C – 27,2°C – 0.05 °C) x 73529.6 kJ/kg °C
= 42647,16 kJ/kg
Hasil yang didapat masih merupakan nilai kalori bruto bahan bakar, maka untuk nilai netto kalori bahan bakar digunakan nilai LHV (Low Heating Value) yang didapat dari persamaan:
LHV = HHV – 3240 kJ/kg
Pada pengujian bahan bakar Pertamax, diperoleh:
Maka, LHV (Pertamax) = 44853,05kJ/kg – 3240 kJ/kg
= 41613,05 kJ/kg
Pada tabel berikut ditampilkan hasil data tabel pengujian bom kalorimeter, beserta nilai HHV dan LHV dari bahan bakar:
Tabel 4.1 Pengujian Nilai Kalor Bahan Bakar Pertamax
Tabel 4.2 Pengujian Nilai Kalor Bahan Bakar E10
E10
Tabel 4.3 Pengujian Nilai Kalor Bahan Bakar E15
E15
Tabel 4.4 Pengujian Nilai Kalor Bahan Bakar E20
E20 Low Heating Value (LHV) dari masing-masing jenis bahan bakar dapat dilihat pada grafik di bawah ini :
Gambar 4.1 Grafik Hasil Pengujian Bom Kalorimeter
Data hasil nilai tertinggi HHV dan LHV adalah E20 o HHV = 46911,8 kJ/kg
o LHV = 43671,8 kJ/kg
Data hasil nilai terendah HHV dan LHV adalah E10 o HHV = 43088,3 kJ/kg
o LHV = 39848,3 kJ/kg
Nilai kalor bahan bakar menunjukkan energi yang dilepaskan pada proses pembakaran bahan bakar per satuan massanya. Dari gambar 4.1 di atas, dapat disimpulkan bahwa hasil data nilai HHV terendah adalah 43088,3 kJ/kg pada bahan bakar E10 dan nilai HHV tertinggi adalah 46911,8 kJ/kg pada bahan bakar E20. Hasil data nilai LHV terendah adalah 39848,3 kJ/kg pada bahan bakar E10 dan nilai LHV tertinggi adalah 43671,8 kJ/kg pada bahan bakar E20. E10 dalam campuran Pertamax-bioetanol, mengalami penurunan nilai kalor bahan bakar dibandingkan Pertamax. Jadi nilai kalor bahan bakar E10 lebih rendah dari pada nilai kalor bahan bakar Pertamax dan E15 dan E20. E15 dan E20 terjadi kenaikan nilai kalor bahan bakar dibandingkan dengan Pertamax dan E10. Energi yang dihasilkan oleh bahan bakar E20 pada suatu proses pembakaran akan lebih tinggi dibandingkan dengan bahan bakar Pertamax murni, E10 dan E15 campuran
36000
4.3 Hasil Pengujian Perfomansi Dynotest
Hasil penelitian diambil dari eksperimen dengan menggunakan Toyota Vios 1500cc dilakukan pengujian terhadap performansi bahan bakar dan hasil uji diamati pada instrumen pembaca dynojet 224x. Pengujian dilakukan dengan parameter penelitan adalah torsi, daya dan rasio udara bahan bakar (air fuel ratio) dengan perlakuan menggunakan bahan bakar Pertamax dan campuran Pertamax dengan bioetanol tebu yaitu Pertamax murni (E0), E10 (campuran Pertamax 90%
dan bioetanol 10%), E15 (campuran Pertamax 85% dan bioetanol 15%), E20 (campuran Pertamax 80% dan bioetanol 20%). Pengambilan data dilakukan dalam beberapa variasi putaran mesin dari 2500 rpm sampai 5500 rpm dengan range 500, maka akan diketahui seberapa besar perbedaan torsi, daya dan rasio udara bahan bakar (air fuel ratio) yang dihasilkan dari tiap-tiap bahan bakar yang digunakan. Hasil pengujian performansi mesin dengan menggunakan dynotest yang diolah menggunakan software WINPEP 8 dengan indikator perbandingan jenis bahan bakar yang digunakan dengan variasi putaran mesin.
4.3.1 Torsi
Torsi yang didapat dari hasil pengujian dengan menggunakan dynotest dengan indikator perbandingan jenis bahan bakar yang digunakan dengan variasi putaran mesin. Besarnya torsi dari masing-masing pengujian dihitung dengan menggunakan persamaan berikut:
Keterangan: P = Daya (W) = Torsi (Nm)
n = Putaran Mesin (rpm)
Berikut ini adalah hasil data torsi vs putaran mesin dari pengujian performansi mesin dynotest :
Gambar 4.2 Grafik Torsi Dynotest
Data hasil nilai torsi tertinggi setiap bahan bakar o Pertamax = 109,52 Nm putaran 3544,05 rpm o E10 = 108,44 Nm putaran 3690,01 rpm o E15 = 107,23 Nm putaran 3592,13 rpm o E20 = 108,34 Nm putaran 3648,61 rpm
Pertamax mendapatkan nilai torsi tertinggi selama pengujian dynotest daripada E10, E15 dan E20.
Pada tabel berikut ditampilkan hasil pengujian dynotest, dengan perfomansi nilai torsi vs putaran mesin dari masing - masing bahan bakar:
Tabel 4.5 Torsi Vs Putaran Mesin Dynotest
RPM Torsi (Nm)
Pertamax E10 E15 E20
2500 103,98 102,80 100,34 101,39
3000 105,39 105,78 101,46 106,26
3500 108,29 106,89 105,13 105,67
4000 108,14 107,58 105,52 106,70
4500 107,84 107,26 103,80 105,44
5000 98,77 100,53 99,90 99,79
5500 89,11 89,71 90,96 91,18
Pada pengujian E10 diperoleh :
102,87 Nm
Pada tabel berikut ditampilkan hasil yang diperoleh nilai torsi vs putaran mesin dengan teori persamaan diatas dari masing - masing bahan bakar :
Tabel 4.6 Torsi Vs Putaran Mesin Data Teori
RPM Torsi (Nm)
Perbandingan nilai torsi vs putaran mesin diperoleh dengan teori
persamaan diatas menggunakan dengan variasi putaran mesin dan bahan bakar yang bisa dilihat dari grafik dibawah ini :
Gambar 4.3 Torsi Vs Putaran mesin
Data hasil nilai torsi terendah adalah 89,06 Nm terjadi pada putaran 5500 rpm bahan bakar E10
2500 3000 3500 4000 4500 5000 5500
Torsi (Nm)
Putaran mesin (rpm)
Pertamax E10 E15 E20
Data hasil nilai torsi tertinggi adalah 108,33 Nm pada putaran 3500 rpm bahan bakar Pertamax
Hasil pengujian menunjukkan torsi yang dihasilkan bahan bakar Pertamax memiliki nilai torsi lebih tinggi mendominasi pada putaran 2500 sampai 4500 rpm dan menurun pada putaran 5000 dan 5500 rpm. E10 memiliki nilai torsi yang beda tipis dengan Pertamax, sedangkan E15 dan E20 memiliki nilai torsi tidak
konsisten pada putaran 2500 sampai 4500 rpm. Tetapi terjadi perubahan di putaran 5000 dan 5500 rpm E10, E15 dan E20 memiliki nilai torsi lebih tinggi daripada Pertamax. Penurunan terjadi karena bahan bakar yang di campur dengan bioetanol membutuhkan putaran mesin yang tinggi seperti pada putaran 4500 dan 5000 rpm terjadi pembakaran sempurna, sehinggga nilai torsi meningkat. Torsi rata-rata pada setiap putaran yang diperoleh dengan menggunakan bahan bakar Pertamax sebesar 103,07 Nm untuk hasil pengujian dynotest dan 103,11 Nm untuk hasil data teori, bahan bakar E10 sebesar 102,93 Nm untuk hasil pengujian dynotest dan 102,98 Nm untuk hasil data teori, bahan bakar E15 sebesar 101,01 Nm untuk hasil pengujian dynotest dan 101,06 Nm untuk hasil data teori, dan kemudian bahan bakar E20 sebesar 102,34 Nm untuk hasil pengujian dynotest dan 102,4 Nm untuk hasil data teori. Untuk perbandingan nilai hasil pengujian
dynotest dan hasil teori menghasilkan selisih nilai yang tipis sehingga tidak terlalu mempengaruhi bentuk kurva grafik. Bahan bakar Pertamax masih yang paling baik digunakan daripada bahan bakar campuran. Hal ini dikarenakan rasio kompresi mesin yang rendah sehingga pembakaran menggunakan bahan bakar campuran tidak optimal.
4.3.2 Daya
Daya yang didapat dari hasil pengujian dengan menggunakan dynotest dengan indikator perbandingan jenis bahan bakar yang digunakan dengan variasi putaran mesin. Besarnya daya dari masing-masing pengujian dihitung dengan menggunakan persamaan berikut:
Keterangan: P = daya (W) = torsi (Nm)
n = putaran mesin (rpm)
Berikut ini adalah hasil data daya vs putaran mesin dari pengujian performansi mesin dynotest :
Gambar 4.4 Grafik Daya Dynotest
Data hasil nilai tertinggi daya Dynotest
Pertamax = 52,64 kW putaran 4873,70 rpm
E10 = 53,20 kW putaran 4851,62 rpm
E15 = 52,71 kW putaran 4876,67 rpm
E20 = 52,95 kW putaran 5638,31 rpm
E10 mendapatkani nilai torsi tertinggi selama pengujian dynotest daripada Pertamax, E15 dan E20.
Pada tabel berikut ditampilkan hasil pengujian dynotest, dengan perfomansi nilai daya vs putaran mesin dari masing - masing bahan bakar:
Tabel 4.7 Daya Vs Putaran Mesin Dynotest
RPM Daya (kW)
Pertamax E10 E15 E20
2500 27,23 26,92 26,27 26,56
3000 33,09 33,22 31,87 33,38
3500 39,70 39,18 38,54 38,73
4000 45,29 45,06 44,20 44,68
4500 50,82 50,55 48,92 49,69
5000 51,70 52,62 52,30 52,24
5500 51,32 51,66 52,39 52,52
Pada pengujian Pertamax diperoleh :
27208,1 W
27,2 kW
Pada tabel berikut ditampilkan hasil yang diperoleh nilai daya vs putaran mesin dengan teori persamaan diatas dari masing - masing bahan bakar :
Tabel 4.8 Daya Vs Putaran Mesin Data Teori
RPM Daya (kW)
Pertamax E10 E15 E20
2500 27,20 26,89 26,25 26,53
3000 33,09 33,21 31,85 33,36
3500 39,67 39,15 38,51 38,71
4000 45,27 45,04 44,17 44,67
4500 50,79 50,51 48,88 49,66
5000 51,68 52,61 52,28 52,22
5500 51,29 51,64 52,36 52,48
Perbandingan nilai daya vs putaran mesin diperoleh dengan teori
persamaan diatas menggunakan dengan variasi putaran mesin dan bahan bakar yang bisa dilihat dari grafik dibawah ini :
Gambar 4.5 Daya Vs Putaran Mesin
Hasil data nilai daya terendah adalah 26,27 kW pada putaran 2500 rpm bahan bakar E15
Hasil data nilai daya tertinggi adalah 52,62 kW pada putaran 5000 rpm bahan bakar E10
Hasil pengujian menunjukkan daya yang dihasilkan bahan bakar Pertamax memiliki nilai daya mendominasi pada putaran 2500 sampai 4500 rpm dan
menurun pada putaran 5000 dan 5500 rpm. E10 memiliki nilai daya yang beda tipis dengan Pertamax, sedangkan E15 dan E20 memiliki nilai daya tidak konsisten pada putaran 2500 sampai 4500 rpm. Tetapi terjadi perubahan di putaran 5000 dan 5500 rpm E10, E15 dan E20 memiliki nilai daya lebih tinggi daripada Pertamax. Dari grafik dapat dilihat bahwa garis dari setiap bahan bakar saling berhimpitan. Daya rata-rata pada setiap putaran yang diperoleh dari hasil pengujian dengan menggunakan bahan bakar Pertamax sebesar 42,73 kW untuk hasil pengujian dynotest dan 42,71 kW untuk hasil data teori, bahan bakar E10 sebesar 42,74 untuk hasil pengujian dynotest dan 42,72 untuk hasil data teori, bahan bakar E15 sebesar 42,07 kW untuk hasil pengujian dynotest dan 42,04 kW untuk hasil data teori, dan kemudian bahan bakar E20 sebesar 42,54 kW untuk hasil pengujian dynotest dan 42,52 kW untuk hasil data teori. Untuk perbandingan nilai hasil pengujian dynotest dan hasil teori menghasilkan selisih nilai yang tipis
25
2500 3000 3500 4000 4500 5000 5500
Daya (kW)
Putaran mesin (rpm)
Pertamax E10 E15 E20
sehingga tidak terlalu mempengaruhi bentuk kurva grafik. Daya yang Pertamax masih lebih baik daripada E10, E15 dan E20Hal ini menunjukkan bahwa penambahan bioetanol tidak terlalu mempengaruhi daya yang dihasilkan oleh mesin.
4.3.3 Rasio Udara Bahan Bakar (AFR)
Rasio udara bahan bakar (AFR) adalah perbandingan laju aliran massa udara dengan laju aliran bahan bakar. Berikut ini adalah hasil data air fuel ratio vs putaran mesin dari pengujian performansi mesin dynotest :
Gambar 4.6 Grafik Air Fuel Rasio Dynotest
Data hasil nilai rasio tertinggi udara bahan bakar (AFR) Dynotest
Pertamax = 14,91 putaran 2046,18 rpm
E10 = 14,75 putaran 1854,33 rpm
E15 = 14,87 putaran 2008,18 rpm
E20 = 14,94 putaran 2033,79 rpm
E20 mendapatkan nilai AFR tertinggi selama pengujian dynotest daripada Pertamax, E10 dan E15.
Pada tabel berikut ditampilkan hasil pengujian dynotest, dengan perfomansi nilai rasio udara bahan bakar (AFR) vs putaran mesin dari masing - masing bahan bakar :
Tabel 4.9 Air Fuel Ratio Vs Putaran Mesin
Perbandingan nilai rasio udara bahan bakar vs putaran mesin pada setiap pengujian dengan variasi putaran mesin dan bahan bakar yang bisa dilihat dari grafik dibawah ini :
Gambar 4.7 Air Fuel Rasio (AFR) Vs Putaran mesin
Hasil data nilai rasio udara bahan bakar (AFR) terendah adalah 11,38 putaran 5500 rpm bahan bakar Pertamax
Hasil data nilai rasio udara bahan bakar (AFR) tertinggi adalah 14,96 putaran 5500 rpm bahan bakar E15
Hasil pengujian menunjukkan rasio udara bahan bakar yang dihasilkan bahan bakar E10 memiliki nilai rasio udara bahan bakar lebih rendah di putaran
11
2500 3000 3500 4000 4500 5000 5500
Air Fuel Rasio (AFR)
Putaran mesin (rpm)
Pertamax E10 E15 E20
mesin 2500 sampai 3500 rpm dan meningkat pada putaran 4000 sampai 5500 rpm daripada Pertamax, E15 dan E20. Air Fuel Ratio (AFR) rata-rata pada setiap putaran yang diperoleh dari hasil pengujian dengan bahan bakar Pertamax sebesar 13,18; bahan bakar E10 sebesar 13,23; bahan bakar E15 sebesar 12,92; dan bahan bakar E20 sebesar 13,17. Jika rasio udara bahan bakar nilainya kecil, maka ini berarti bahwa bahan bakar yang dipakai terlalu banyak, atau kekurangan udara.
4.4 Hasil Pengujian Emisi Gas Buang
Hasil penelitian diambil dari eksperimen dengan menggunakan Toyota Vios 1500cc dilakukan pengujian terhadap emisi gas buang dan hasil uji diamati pada alat uji SUKYOUNG SY-GA 401 Gas Analyzer. Pengujian dilakukan dengan parameter penelitan adalah kadar kandungan CO, CO2, UHC dan NOx dengan perlakuan menggunakan Pertamax dan campuran Pertamax dengan bioetanol tebu yaitu Pertamax murni (E0), E10 (campuran Pertamax 90% dan bioetanol 10%), E15 (campuran Pertamax 85% dan bioetanol 15%), E20 (campuran Pertamax 80%
dan bioetanol 20%). Pengambilan data dilakukan dalam beberapa indikator
perbandingan jenis bahan bakar yang digunakan dengan variasi putaran mesin dari 2000 rpm sampai 5000 rpm dengan range 500, maka akan diketahui seberapa besar perbedaan kadar CO, CO2, UHC dan NOx yang dihasilkan dari tiap-tiap bahan bakar yang digunakan.
4.4.1 Kadar Carbon Monoksida (CO) dalam Gas Buang
Data hasil pengukuran kadar CO dari gas buang pembakaran dengan putaran mesin 2000 rpm sampai 5000 rpm dengan range 500 dengan variasi bahan bakar Pertamax murni, E10, E15, dan E20. Senyawa CO muncul akibat kurang
optimalnya proses pembakaran sehingga bahan bakar tidak terbakar karena kekurangan oksigen. Perbandingan kadar CO yang terdapat dalam emisi gas buang masing masing pengujian dapat dilihiat pada tabel 4.10 dibawah ini:
Tabel 4.10 Kadar CO (%) Dalam Gas Buang
RPM CO (%)
4500 0,01 0,01 0,01 0
5000 0,01 0,01 0,01 0,01
Hasil data nilai kadar kandungan CO memiliki nilai 0 sampai 0,01% pada setiap bahan bakar
Hasil pengujian menunjukkan nilai kadar kandungan CO sangat rendah pada setiap bahan bakar yang diuji dikarenakan adanya pengontrolan emisi gas buang dari catalytic converter dan oxygen censor dalam menyaring emisi gas buang yang ramah lingkungan.
4.4.2 Kadar Unburned Hidro Carbon (UHC) dalam Gas Buang
Data hasil pengukuran kadar UHC dari gas buang pembakaran dengan putaran mesin 2000 rpm sampai 5000 rpm dengan range 500 dengan variasi bahan bakar Pertamax murni, E10, E15, dan E20. Senyawa HC timbul tidak hanya karena campuran bahan bakar udara yang kaya (konsumsi bahan bakar lebih besar dibanding udara) tetapi bisa juga karena campuran miskin pada suhu pembakaran rendah dan lambat atau waktu pemanasan mesin. Perbandingan kadar UHC yang terdapat dalam emisi gas buang masing masing pengujian dapat dilihiat pada tabel 4.11 dibawah ini:
Tabel 4.11 Kadar UHC (Ppm) Dalam Gas Buang
RPM UHC (ppm)
Hasil data nilai UHC terendah adalah 0 ppm pada semua bahan bakar pada putaran yang berbeda-beda
Hasil data nilai UHC tertinggi adalah 7 ppm pada putaran 4500 rpm bahan bakar E10
Hasil pengujian menunjukkan nilai kadar kandungan UHC sangat rendah pada setiap bahan bakar yang diuji dikarenakan adanya catalytic converter dan oxygen censor dalam menyaring emisi gas buang yang ramah lingkungan.
4.4.3 Kadar Carbon dioksida (CO2) dalam Gas Buang
Data hasil pengukuran kadar CO2 dari gas buang pembakaran dengan putaran mesin 2000 rpm sampai 5000 rpm dengan range 500 dengan variasi bahan bakar Pertamax murni, E10, E15, dan E20. Carbon dan Oksigen bergabung membentuk senyawa carbon monoksida (CO) sebagai hasil pembakaran yang tidak sempurna dan carbon dioksida (CO2) sebagai pembakaran yang sempurna. Semakin tinggi kadar CO, maka semakin rendah CO2 yang diperoleh dari hasil pembakaran. Bila campuran bahan bakar udara sempurna (stoikiometris) maka akan dihasilkan senyawa CO2. Perbandingan kadar CO2 yang terdapat dalam emisi gas buang masing masing pengujian dapat dilihiat pada tabel 4.11 dibawah ini:
Tabel 4.12 Kadar Karbon Dioksida (CO2) Dalam Gas Buang
RPM CO2 (%)
Hasil data nilai CO2 terendah adalah 9,9 putaran 2000 dan 4500 rpm bahan bakar E15 dan putaran 3000 rpm bahan bakar E20
Hasil data nilai CO2 tertinggi adalah 10,4 putaran 400 dan 4500 rpm bahan bakar Pertamax dan putaran 5000 rpm bahan bakar E20
Hasil pengujian menunjukkan emisi gas buang kadar CO2 rata-rata pada setiap putaran yang diperoleh dari hasil pengujian dengan bahan bakar Pertamax sebesar 10,32%, bahan bakar E10 sebesar 10,22%, bahan bakar E15 sebesar 10,01%, dan bahan bakar E20 sebesar 10,12%. Sehingga bahan bakar Pertamax
memiliki pembakaran yang lebih baik, karena semakin tinggi tingkat kadar kandungan CO2, maka semakin baik tingkat pembakarannya.
4.4.4 Kadar Sisa Oksigen (O2) dalam Gas Buang
Data hasil pengukuran kadar CO2 dari gas buang pembakaran dengan putaran mesin 2000 rpm sampai 5000 rpm dengan range 500 dengan variasi bahan bakar Pertamax murni, E10, E15, dan E20. Kandungan O2 dengan putaran mesin berbanding terbalik dengan kandungan emisi lainnya, dimana O2 merupakan unsur yang diperlukan untuk mendapatkan proses pembakaran yang sempurna, maka kadar oksigen yang masuk ke dalam ruang bakar harus mencukupi. Dalam ruang bakar, campuran udara dan bensin akan sempurna bila bentuk dari ruang bakar melengkung dengan sempurna. Kondisi ini memungkinkan molekul bensin dan molekul udara dapat dengan mudah bertemu untuk bereaksi dengan sempurna pada proses pembakaran. Perbandingan kadar sisa O2 yang terdapat dalam gas buang masing masing sampel pengujian dapat dilihat pada tabel 4.13 dibawah ini :
Tabel 4.13 Kadar Sisa Oksigen (O2) Dalam Gas Buang
RPM O2 (%)
Hasil data nilai O2 tertinggi adalah 21,28 pada putaran 400 dan 5000 rpm bahan bakar E10
Hasil pengujian menunjukkan emisi gas buang kadar O2 rata-rata pada setiap putaran yang diperoleh dari hasil pengujian dengan bahan bakar Pertamax sebesar 16,87%, bahan bakar E10 sebesar 18,67%, bahan bakar E15 sebesar 17,85%, dan bahan bakar E20 sebesar 16,98%. Semakin tinggi kadar O2 hal ini menunjukkan banyaknya udara dalam campuran bahan bakar.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 KESIMPULAN
1. Dari hasil pengujian didapat bahwa secara umum perubahan performansi mesin Toyota vios 1500cc dengan menggunakan bahan bakar Pertamax,
campuran Pertamax-bioetanolE10, E15 dan E20 adalah:
Torsi bahan bakar Pertamax mengalami penurunan 0,13% – 1,99%dibandingkan dengan bahan bakar campuran E10, E15 dan E20.
Daya bahan bakar Pertamax mengalami penurunan 0,44% – 1,54%
dibandingkan dengan bahan bakar E15 dan E20. Sedangkan bahan bakar E10 terjadi peningkatan 0,02%.
Air Fuel Ratio (AFR) bahan bakar Pertamax mengalami penurunan 0,07% – 1,97% dibandingkan dengan bahan bakar E15 dan E20.
Sedangkan bahan bakar E10 terjadi peningkatan 0,37%.
Penambahan bioetanol tebu 96% cenderung menurunkan nilai torsi dan daya yang dihasilkan pada performasi mesin. Hal ini dikarenakan rasio kompresi mesin yang rendah sehingga pembakaran
menggunakan bahan bakar campuran Pertamax-bioetanol tidak optimal.
2. Dari hasil pengujian emisi gas buang dengan bahan bakar bervariasi campuran emisi gas buang kadar CO dan emisi gas buang kadar kandungan UHC berhasil dikontrol karena adanya katalisator Catalytic Coverter dan Oxygen Censor. Kadar CO2 rata-rata tertinggi pada bahan bakar Pertamax yaitu 10,32%. Semakin tinggi kadar CO2 semakin sempurna pembakarannya dan semakin bagus akselerasinya dibandingkan dengan bahan bakar E15 dan E20. Sedangkan kadar O2 rata-rata tertinggi pada bahan bakar bahan bakar E10 yaitu 18,67%. Semakin tinggi kadar O2 hal ini menunjukkan banyaknya udara dalam campuran bahan bakar.
5.2 Saran
1. Mengembangkan pengujian ini dengan variasi campuran bahan bakar yang berbeda dan variasi putaran yang lebih banyak untuk meningkatkan ketelitian pengujian.
2. Melakukan modifikasi pada mesin seperti meningkatkan rasio kompresi untuk mendapatkan hasil pengujian yang lebih baik.
3. Sebaiknya dilakukan pengembangan pengujian menggunakan bioetanol 99% untuk mendapatkan pembakaran yang lebih sempurna.
DAFTAR PUSTAKA
1. Pulkrabek, Willard W.1997. Engineering Fundamentals of the Internal Combustion Engine. New Jersey: Prentice Hall.
2. Cengel, Yunus A. and M.A. Boles. 2006. Thermodynamics An Engineering Approach. New York : McGraw-Hill, Inc
3. Handayani, S. (2005). Pemanfaatan Bioetanol Sebagai Bahan Bakar Pengganti Bensin. Semarang: Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
4. Prihandana, Rama, Kartika Noerwijan, dkk. 2007. Bioetanol Ubi kayu; bahan Bakar Masa Depan. Agromedia Pustaka. Jakarta.
5. https://id.wikipedia.org/wiki/Bahan_bakar 6. http://id.wikipedia.org/wiki/Gasoline 7. https://id.wikipedia.org/wiki/Bensin
8. https://www.pertamina.com/industrialfuel/media/24240/pertamax.pdf
9. Turner, Dale, Hongming Xu, Roger F. Cracknell, Vinod Natarajan dan Xiangdong Chen. 2011. Combustion Performance Of Bio-ethanol At Various Blend Ratios In Gasoline Direct Injection Engine. Fuel 90 : 1999- 2006.
10. Supraptono. 2004. Bahan Bakar dan Pelumas. Semarang. Jurusan Teknik Mesin.Fakultas Teknik. Universitas Negeri Semarang.
11. Kristanto, Philip. 2015. Motor Bakar Torak (Teori dan Aplikasinya).
Yogyakarta : Penerbit ANDI. Yogyakarta 55281. 246 halaman.
12. Panduan Praktikum Bom Kalorimeter. Laboratorium Motor Bakar Teknik Mesin USU. Medan.
13. Winarno, Joko. 2011. Studi Ekperimental Pengaruh Penembahan Bioetanol Pada Bahan Bakar Pertamax Terhadap Unjuk Kerja Motor Bensin. Jurnal
teknik.
14. Ali, Buchari., Eman Slamet Widodo. 2011. Analisis Unjuk Kerja Mesin Sepeda Motor Type”X” 115 CC Sistem Karburator Dengan Menggunakan Bahan Bakar Premium Dan Campuran Premium Ethanol (10,15,20)%.
Program Studi Teknik Mesin FTI-ISTN. UPN Veteran. Jakarta.
15. Maleev, V.L.1945. Internal Combustion Engine. Second Edition. McGraw-Hill Book Company, INC.
16. Jeuland, N., X. Montagne, X. Gautrot. 2004. Potentiality of Etanol As Fuel For Dedicated Engine. Oil and Gas Science and Technology Journal.
17. Bayu, Devanta dan Fajar Patriayudha. 2009. Pemakaian Gasohol Sebagai Bahan Bakar Pada Kendaraan Bermotor. Universitas Diponegoro. Semarang.