KEPUA SAN
% Budaya Organisasi
F. Hasil Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis dilakukan dengan analisis model struktural pada masing-masing jalur pengaruh langsung secara parsial dan pengaruh tidak langsung melalui variabel mediasi. Terkait dengan pengujian ini, maka pengujian hipotesis dapat dipilih menjadi pengujian pengaruh langsung dan pengujian pengaruh tidak langsung atau pengujian variabel mediasi.
Hasil uji koefisien path pada setiap jalur disajikan pada tabel 5.17. Tabel 5.17 Hasil pengujian hipotesis pengaruh langsung antar variabel
No Hubungan Antar Variabel Koefisien Jalur (Standardize) T- Statistik Ket 1 Budaya organisasi dan
kepemimpinan kepala unit rawat inap terhadap karakteristik individu perawat
0.189 0.386 signifikan Tidak
2 Umpan balik dan variasi pekerjaan terhadap karakteristik individu perawat
0.688 5.214 Signifikan
3.1 Karakteristik individu perawat terhadap standar asuhan keperawatan
0.845 8.159 Signifikan
3.2 Standar asuhan keperawatan terhadap standar kinerja
professional perawat 0.818 3.003 Signifikan
3.3 Standar asuhan keperawatan terhadap kepuasan kerja perawat
0.833 8.450 Signifikan
3.4 Standar kinerja profesional perawat terhadap kepuasan pasien
0.736 5.169 Signifikan
4 Kepuasan kerja perawat terhadap
standar kinerja professional perawat
0.152 0.616 signifikan Tidak
Berdasarkan informasi pada tabel 5.17 pengujian hipotesis dapat diuraikan seperti berikut ini:
Budaya organisasi dan kepemimpinan kepala unit rawat inap (X1) terbukti tidak ada pengaruh signifikan terhadap karakteristik individu perawat (X3). Hasil analisis membuktikan dengan koefisien jalur sebesar 0.189 dengan T- statistik = 0.386 lebih kecil dari nilai outer loading 0.50 dan T-statistic (1,96), sehingga
Model Mutu Asuhan Keperawatan dan MAKP
80
diartikan tidak signifikan. Pengujian ini mengindikasikan bahwa apapun tipe budaya organisasi dan tipe atau gaya kepemimpinan kepala unit rawat inap di rumah sakit, tidak berpengaruh secara langsung terhadap meningkatnya atau menurunnya Sikap, komitmen kerja, motivasi dan mental model atau kemandirian kerja perawat. Hipotesis tidak terbukti.
Umpan balik dan variasi pekerjaan perawat (X2) terbukti ada pengaruh signifikan terhadap sikap, komitmen, motivasi dan mental model atau kemandirian kerja perawat (X3). Hasil analisis membuktikan koefisien jalur sebesar 0.688 dengan T- statistic = 5.214 lebih besar dari nilai outer loading 0.50 dan T- statistik (1.96), sehingga diartikan signifikan. Hasil pengujian menunjukkan koefisien jalur berpengaruh positif, sehingga dapat diartikan bahwa dengan semakin baik umpan balik dan semakin banyak variasi pekerjaan perawat rawat inap di rumah sakit, maka secara langsung menjadikan semakin baik sikap kerja, komitmen, motivasi dan mental model atau kemandirian kerja perawat terhadap pekerjaan. Jadi hipotesis terbukti.
Karakteristik individu perawat (X3) terbukti berpengaruh signifikan terhadap standar asuhan keperawatan (X3). Hasil analisis membuktikan koefisien jalur sebesar 0.845 dengan T- statistic = 8.159 lebih besar dari nilai outer loading 0.50 dan T- statistik (1.96), sehingga diartikan signifikan. Hasil pengujian menunjukkan koefisien jalur bertanda positif, sehingga dapat diartikan bahwa dengan semakin baik sikap kerja,komitmen, motivasi kerja dan mental model atau kemandirian kerja perawat di unit rawat inap rumah sakit, maka secara langsung menjadikan semakin baik standar asuhan keperawatan rawat inap di rumah sakit. Jadi hipotesis terbukti.
Standar asuhan keperawatan (Y1) terbukti berpengaruh signifikan terhadap standar kinerja professional perawat (Y2). Hasil analisis membuktikan koefisien jalur sebesar 0.818 dengan T- statistic = 3.003 lebih besar dari nilai outer loading 0.50 dan T- statistic (1.96), sehingga diartikan signifikan. Hasil pengujian menunjukkan koefisien jalur bertanda positif, sehingga dapat diartikan bahwa dengan semakin baik penerapan standar asuhan keperawatan perawat rawat inap di rumah sakit, maka secara langsung menjadikan semakin baik standar kinerja profesional perawat rawat inap di rumah sakit. Jadi hipotesis terbukti.
Standar asuhan keperawatan (Y1) terbukti berpengaruh signifikan terhadap kepuasan perawat (Y3.1). Hasil analisis membuktikan koefisien jalur sebesar 0.793 dengan T- statistic = 8.450 lebih besar dari T- kritis (1.96), sehingga diartikan signifikan. Hasil pengujian menunjukkan koefisien jalur bertanda positif, sehingga dapat diartikan bahwa dengan semakin baik penerapan standar asuhan keperawatan perawat ruang inap, maka secara langsung menjadikan semakin baik kepuasan perawat ruang inap. Jadi hipotesis terbukti.
Model Mutu Asuhan Keperawatan dan MAKP
81
Standar kinerja profesional perawat (Y2) terbukti berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pasien (Y3.2). Hasil analisis membuktikan koefisien jalur sebesar 0.736 dengan T- statistic = 5.169 lebih besar dari nilai outer loading 0.50 dan T- statistic (1.96), sehingga diartikan signifikan. Hasil pengujian menunjukkan koefisien jalur bertanda positif, sehingga dapat diartikan bahwa dengan semakin baik standar kinerja profesional perawat rawat inap, di rumah sakit maka secara langsung menjadikan semakin baik kepuasan pasien ruang inap. Jadi hipotesis terbukti.
Kepuasan kerja perawat (Y3.1.1) terbukti tidak ada pengaruh signifikan terhadap standar kinerja profesional perawat (Y2). Hasil analisis membuktikan koefisien jalur sebesar 0.152 dengan T- statistic = 0.616 lebih kecil dari nilai outer loading 0.50 dan T- statistic (1,96), sehingga diartikan tidak signifikan. Pengujian ini mengindikasikan bahwa dengan semakin baik atau jelek kepuasan kerja perawat di rumah sakit, maka tidak secara langsung menjadikan semakin meningkat atau menurun standar kinerja profesional perawat di unit rawat inap rumah sakit. Jadi hipotesis tidak terbukti.
Untuk jelaskan disajikan secara komprehensif pada gambar 5.2 sebagai berikut.
Gambar 5.2 Hasil Uji Hipotesis
Berdasarkan Gambar 5.2 hasil uji hipotesis dijelaskan sebagai berikut:
1. Budaya organisasi dan kepemimpinan kepala unit rawat inap tidak berpengaruh signifikan terhadap karakteristik perawat (motivasi, sikap, komitmen dan mental model atau kemandirian kerja perawat).
H3.4: Koef: 0,736 (S) H3.2: Koef:0,818 (S) H3.1: Koef: 0,845(S) H1. Koef:0,189 (NS) H2: Koef:.0,688 (S) Koef:0,833 (S) H3.3 S: H4 Koef: 0,152 (S) KARAKTERISTIK INDIVIDU (X3) BUDAYA & KEPEMIM PINAN (X1) UMPAN BALIK & VARIASI PEKERJAAN (X2) KEPUASAN PASIEN (Y3.2) KEPUASAN PERA WAT (Y3.1) STANDAR KINERJA (Y2) STANDAR AS KEP (Y1 )
Model Mutu Asuhan Keperawatan dan MAKP
82
2. Umpan balik dan variasi pekerjaan perawat berpengaruh signifikan terhadap karakteristik perawat (motivasi, sikap, komitmen dan mental model atau kemandirian kerja perawat).
3. Karakteristik perawat (motivasi, sikap, komitmen dan mental model atau kemandirian kerja perawat) berpengaruh siginifikan terhadap mutu asuhan keperawatan (standar asuhan keperawatan, standar kinerja profesional perawat, kepuasan kerja perawat dan kepuasan pasien).
b. Ada pengaruh siginifikan karakteristik individu perawat terhadap standar asuhan keperawatan.
c. Ada pengaruh signifikan standar asuhan keperawatan terhadap standar kinerja professional perawat.
d. Ada pengaruh signifikan standar asuhan keperawatan terhadap kepuasan perawat.
e. Ada pengaruh signifikan standar profesional perawat terhadap kepuasan pasien.
4. Kepuasan kerja perawat tidak ada pengaruh signifikan terhadap pelaksanaan standar kinerja profesional perawat.
Model Mutu Asuhan Keperawatan dan MAKP
83
PEMBAHASAN
A. Pengaruh budaya organisasi dan kepemimpinan terhadap karakteristik