BAB III METODOLOGI PENELITIAN
D. Hasil Pengujian Instrumen
Sebelum melakukan analisis deskriptif dan pengujian hipotesis terlebih dahulu dilakukan pengujian instrument. Pengujian instrument digunakan untuk mendapatkan data yang valid dan handal atau reliable secara empiris.
1. Hasil Instrumen Penelitian a. Uji Validitas
Uji validitas menunjukan sejauh mana suatu alat pengukur berhubungan dengan suatu item-item dalam kuesioner yang akan digunakan. Dalam analisis akan digunakan analisis korelasi yaitu dengan menghitung korelasi antara nilai keseluruhan yang diperoleh dari setiap butir pertanyaan dengan nilai keseluruhan atau skor totalnya. Apabila skor totalnya lebih dari 0,25 maka dapat dikatakan bahwa alat pengukur tersebut mempunyai validitas, jika koefisien korelasi item pertanyaan melebihi 0,25 (r hitung > 0,25 maka dianggap sudah valid. Berikut hasil pengujian dari masing-masing variabel independen dan variabel dependen.
Tabel 4.13
Hasil Uji Validitas Variabel Sumber Daya Alam (X1) No. Item
Pernyataan
Nilai r Hitung Nilai r Kritis Keterangan
1 0,670 0,25 Valid
Berdasarkan tabel di atas hasil uji validitas untuk variabel sumber daya alam menunjukan bahwa pada pernyataan no 7 tidak valid. Dari hasil uji validitas diperoleh nilai korelasi masing-masing lebih besar dari nilai korelasi atau 0,25. Dengan demikian pada variabel sumber daya alam
Nilai r Hitung Nilai r Kritis Keterangan
1 0,820 0,25 Valid
Berdasarkan tabel di atas, hasil uji validitas untuk variabel modal menunjukan bahwa seluruh item pernyataan valid. Hasil uji validitas diperoleh semua nilai korelasi masing-masing lebih besar dari nilai korelasi atau 0,25. Dengan demikian semua item pernyataan untuk variabel modal dapat digunakan untuk pengujian lebih lanjut.
Berikut hasil uji validitas dari variabel tenaga kerja dapat dilihat pada tabel 4.15 sebagai berikut :
Tabel 4.15
Hasil Uji Validitas Tenaga Kerja (X3) No. Item
Pernyataan
Nilai r Hitung Nilai r Kritis Keterangan
1 -0,169 0,25 T.Valid
2 0,775 0,25 Valid
3 0,426 0,25 Valid
4 0,267 0,25 Valid
5 0,287 0,25 Valid
6 0,287 0,25 Valid
7 0,373 0,25 Valid
8 0,775 0,25 Valid
Sumber : Data primer diolah
Berdasarkan tabel di atas, hasil uji validitas untuk variabel tenaga kerja menunjukan bahwa pada pernyataan nomor 1 dinyatakan tidak valid.
Dan hasil uji validitas diperoleh nilai korelasi masing-masing lebih besar dari nilai korelasi atau 0,25. Dengan demikian pada variabel tenaga kerja terdapat satu variabel yang dinyatakan tidak valid karena nilai r kritisnya di bawah 0,25.
Berikut hasil uji validitas dari variabel dependen produksi dapat dilihat pada tabel 4.16 sebagai berikut :
Tabel 4.16
Hasil Uji Validitas Variabel Produksi (Y) No. Item
Pernyataan
Hasil r Hitung Hasil r Kritis Keterangan
1 0,394 0,25 Valid
2 0,567 0,25 Valid
3 0,357 0,25 Valid
4 0,523 0,25 Valid
5 0,297 0,25 Valid
6 0,011 0,25 T.Valid
7 0,139 0,25 T.Valid
Sumber : Data primer diolah
Berdasarkan tabel di atas, hasil uji validitas untuk variabel dependen produksi menunjukan bahwa ada 2 item pernyataan dinyatakan tidak valid yaitu pada pernyataan nomor 6 dan 7. Dan hasil uji validitas diperoleh semua nilai korelasi masing-masing lebih besar dari nilai korelasi atau 0,25. Dengan demikian pada variabel produksi terdapat dua pernyataan tidak valid karena nilai r kritisnya di bawah 0,25.
b. Uji Reliabilitas
Instrumen yang reliable adalah instrument yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur objek yang sama akan menghasilkan data yang sama. Uji reliabilitas menggunakan uji statistik Alpa Cronbach, dengan menggunakan program SPSS versi 16. Instrumen dapat dikatakan reliabel jika nilai koefisien alpa melebihi 0,5081
81 Agus Tri Basuki dan Nano Prawoto, Analisis Regresi Dalam Penelitian Ekonomi Dan Bisnis, (Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada,2016) hal 79.
Tabel 4.17 Hasil Uji Reliabilitas
Nama Variabel Cronbach Alpha Keterangan
Sumber Daya Alam (X1) 0,719 Reliabel
Modal (X2) 0,715 Reliabel
Tenaga Kerja (X3) 0,598 Reliabel
Produksi (Y) 0,500 Reliabel
Sumber : Data primer diolah
Berdasarkan tabel di atas setelah dilakukan uji reliabilitas pada semua variabel penelitian, hasil uji tersebut menunjukkan bahwa semua variabel dikatakan reliable karena nilai koefisien alpha melebihi 0,5.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kuesioner yang digunakan untuk mengumpulkan data penelitian sangat handal. Sehingga instrument dapat digunakan untuk penelitian berikutnya.
2. Uji Asumsi Klasik a. Uji Multikolinieritas
Uji multikolinieritas dilakukan untuk melihat ada tidaknya hubungan yang sangat kuat antar variabel bebas. Varaibel bebas harus terbebas dari korelasi yang kuat antar variabel bebas. Hubungan antar variabel bebas terhadap variabel terkait akan terganggu jika ada korelasi yang kuat diantara variabel bebasnya. Untuk menguji multikolineritas antar variabel bebas, peneliti menggunakan uji VIF (variance inflation factor) dengan bantuan SPSS versi 16. Kriterianya adalah jika VIF <10 maka tidak ada multi kolineritas antar variabel
independen dalam model regresi, bila VIF > 10 maka terjadi gejala multikolineritas dapat dilihat pada tabel berikut :82
Tabel 4.18
Berdasarkan hasil pengujian multikolinearitas yang dilakukan diketahui bahwa nilai VIF (variance inflation factor) antar variabel kecil dari 10, sehingga dikatakan tidak ada multikolinearitas antar sesama variabel bebas.
b. Uji Normalitas
Untuk melihat tingkat kenormalan suatu data perlu dilakukan uji normalitas dari data tersebut. Pengujian normalitas data dilakukan dengan menggunakan One Sample Kolmogorov Smirnov Test. Dasar pengambilan keputusan dapat dilakukan berdasarkan probabilitas dengan tingkat signifikansi 5 % (0,05). Jika probabilitas Asymp.Sig (2-tailed) > α, maka dapat dikatakan data tersebut berdistribusi normal.
82 Agus Tri Basuki dan Nano Prawoto, Analisis Regresi Dalam Penelitian Ekonomi Dan Bisnis…, hal 109.
Adapun hasil pengolahan data untuk uji normalitas dapat dilihat pada
Most Ektreme Differences Absolute .123 .171 .246 .256
Positive .119 .106 .246 .189
Negative -.123 -.171 -.227 -.256
Kolmogorov-Smirnov Z .368 .513 .738 .768
Asymp. Sig. (2-tailed) .999 .955 .647 .597
Berdasarkan tabel 4.19 pengujian normalitas terhadap keempat variabel, ternyata nilai Asymp.Sig keempat variabel tersebut lebih besar dari α = 5%. Untuk variabel (X1) nilai Asym.Sig sebesar 0,999 > 0,05, variabel (X2) nilai Asym. Sig sebesar 0,955 >0,05, variabel (X3) nilai Asym.Sig sebesar 0,647 > 0,05 dan variabel (Y) nilai Asym.Sig sebesar 0,597 > 0,05. Maka dapat simpulkan semua variabel terdistribusi secara normal sehingga dapat dilakukan pengujian selanjutnya.
c. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya penyimpangan asumsi klasik autokorelasi yaitu korelasi yang terjadi antara prasyarat yang harus terpenuhi adalah tidak adanya autokorelasi dalam model regresi. Metode pengujian autokorelasi yang
digunakan adalah dengan uji Durbin-Watson (uji DW) dengan ketentuan sebagai berikut :
Tabel 4.20 Klasifikasi Nilai d83
Nilai d Keterangan
< 1,10 Ada autokorelasi
1,10 – 1,54 Tidak ada kesimpulan
1,55 – 2,46 Tidak ada autokorelasi
2,46 – 2,90 Tidak ada kesimpulan
> 2,91 Ada autokorelasi
Tabel 4.21 Uji Autokorelasi Model Summaryb
Model R R Square
Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
Durbin-Watson
1 .886a .786 .657 .99073 2.622
Berdasarkan tabel uji autokorelasi diketahui bahwa nilai Durbin Watson yaitu 2,622. Berdasarkan klasifikasi nilai d pada tabel 4.19, dapat disimpulkan bahwa nilai Durbin Watson terletak antara 2,46- 2,90 yang berarti tidak ada kesimpulan.
83 Misbahuddin dan Iqbal Hasan, Analisis Data Penelitian dengan Statistik, (Jakarta: PT.
Bumi Aksara, 2013) hal 108.
3. Hasil Analisis Regresi Linear Berganda
Analisis regresi linear berganda berguna untuk mengukur dan mengetahui seberapa jauh pengaruh X terhadap Y, yaitu seberapa besar pengaruh faktor-faktor berupa faktor sumber daya alam, modal, tenaga kerja terhadap pengembangan produksi batu bata. Hasil uji regresi linear berganda dapat dilihat pada tabel 4.22 di bawah ini :
Tabel 4.22
Kemudian nilai koefisien regresi masing-masing variabel di atas dapat disubtitusikan ke dalam persamaan regresi linear berganda sebagai berikut :
Dari hasil persamaan di atas dapat dijelaskan di bawah ini :
a. Bilangan konstanta (a) bertanda negative yaitu sebesar -2,314 satuan artinya jika (X1) Sumber daya alam, (X2) modal, (X3) Tenaga kerja dianggap = 0 maka produksi sebesar -2,314 satuan, artinya tanpa adanya faktor-faktor yang mempengaruhi produksi (Q) maka nilai (Q) menurun sebesar 2,314 satuan.
b. Koefisien sumber daya alam (b1) bertanda negative yaitu sebesar -0,239 satuan, artinya jika sumber daya alam (X2) ditingkatkan sebesar satu satuan sedangkan variabel lainya dianggap konstan maka produksi (Y) akan menurun sebesar 0,239 satuan.
c. Koefisien modal (b2) bertanda positif sebesar 0,354, artinya jika modal (X2) ditingkatkan sebesar satu satuan sedangkan variabel lainya dianggap konstan maka produksi (Y) akan meningkat sebesar 0,354 satuan.
d. Koefisien tenaga kerja (b3) bertanda positif sebesar 1,319, artinya jika tenaga kerja (X3) ditingkatkan sebesar satu satuan sedangkan variabel lainya dianggap konstan maka produksi (Y) akan meningkat sebesar 1,319 satuan.
4. Koefisien Korelasi
Koefisien korelasi digunakan untuk mengukur keeratan hubungan antara variabel sumber daya alam (X1), variabel modal (X2) dan variabel tenaga kerja (X3) pada produksi batu bata (Y). Adapun hasil analisis korelasi dapat dilihat pada tabel :
Tabel 4.23 korelasinya sebesar 0,886. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi hubungan sedang (positif) antara sumber daya alam (X1), modal(X2), tenaga kerja (X3) terhadap produksi (Y).
5. Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien determinasi digunakan untuk melihat besarnya pengaruh variabel X terhadap Y. Pengujian R2 berguna untuk mengetahui seberapa besar variabel bebas mampu memberikan penjelasan mengenai variabel terikat maka perlu dicari koefisien determinasi (R2). Hasil uji determinasi dapat dilihat pada tabel 4.24 :
Tabel 4.24 bahwa koefisien determinasi (R2) adalah 0,786 atau 78,6 %. Nilai tersebut menunjukkan bahwa 78,6 % produksi batu bata dipengaruhi oleh sumber
daya alam, modal, tenaga kerja. Sedangkan sisanya 21,4 % disebabkan oleh variabel lain.
6. Uji Hipotesis
a. Uji t ( Uji Parsial)
Uji t bertujuan untuk mengetahui signifikan pengaruh masing-masing variabel independen secara individual (parsial) terhadap variabel independent. Dimana untuk melihat pengaruh sumber daya alam (X1), modal (X2), tenaga kerja (X3) terhadap produksi (Y).
Dengan kaidah pengambilan keputusan dimana tingkat signifikasi (α=0,05).
Tabel 4.25 Uji t ( Uji Parsial ) Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
B
Std.
Error Beta
1 (Constant) -2.314 8.539 -.271 .797
Sumber Daya Alam (X1) -.239 .126 -.586 -1.899 .116
Modal (X2) .354 .170 .756 2.078 .092
Tenaga Kerja (X3) 1.319 .322 1.219 4.095 .009
Berdasarkan tabel di atas, maka dapat ditarik kesimpulan yaitu : 1. Variabel sumber daya alam (X1)
a. Formulasi hipotesinya
H0 : β1 = 0, variabel sumber daya alam (X1) tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap produksi (Y) dalam pengembangan industri batu bata.
Ha : β1 ≠ 0, variabel sumber daya alam (X1) mempunyai pengaruh yang signifikan secara parsial terhadap produksi (Y) dalam pengembangan industri batu bata.
b. Menentukan taraf nyata dan t tabel
1) Taraf nyata : Pada variabel sumber daya alam dengan tingkat signifikan 95% (α=0,05).
2) t tabel = t (α /2 ; n – 1 ) = t (0,05/2 ; 9 – 1 ) = t ( 0, 025 ; 8 ) t tabel = 2,30600 t hitung = -1,899 c. Kesimpulan :
Dasar pengambilan keputusan
1) t hitung < t tabel, maka H0 diterima, Ha ditolak.
2) t hitung > t tabel, maka H0 ditolak, Ha diterima.
t hitung sebesar -1,899 < 2,30600 maka H0 diterima t hitung sebesar -1,899 > 2,30600 maka Ha ditolak.
Maka dapat ditarik kesimpulan, karena t hitung sebesar -1,899 < 2,30600 maka H0 diterima dan Ha ditolak.
Jadi variabel sumber daya alam (X1) tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap produksi (Y) dalam pengembangan industri batu bata.
2. Variabel Modal (X2) a. Formulasi Hipotesis
H0 : β1 = 0, variabel modal (X2) tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap produksi (Y) dalam pengembangan industri batu bata.
Ha : β1 ≠ 0, variabel modal (X2) mempunyai pengaruh yang signifikan secara parsial terhadap produksi (Y) dalam pengembangan industri batu bata.
b. Menentukan taraf nyata dan t tabel
1) Taraf nyata : pada variabel modal dengan tingkat signifikan 95%
(α=0,05).
2) t tabel = t (α /2 ; n – 1 ) = t (0,05/2 ; 9 – 1 ) = t ( 0, 025 ; 8 ) t tabel = 2,30600
t hitung = 2,078
c. kesimpulan :
1) t hitung < t tabel, maka H0 diterima, Ha ditolak.
2) t hitung > t tabel, maka H0 ditolak, Ha diterima.
t hitung sebesar 2,078 < 2,30600 maka H0 diterima.
t hitung sebesar 2,078 > 2,30600 maka Ha ditolak.
Maka dapat ditarik kesimpulan, karena t hitung sebesar 2,078 < 2,30600 maka H0 diterima dan Ha ditolak. Jadi variabel modal (X2) tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap produksi (Y) dalam pengembangan industri batu bata.
3. Variabel Tenaga Kerja (X3) a. Formulasi Hipotesis
H0 : β1 = 0, variabel tenaga kerja (X3) tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap produksi (Y) dalam pengembangan industri batu bata.
Ha : β1 ≠ 0, variabel tenaga kerja (X3) mempunyai pengaruh yang signifikan secara parsial terhadap produksi (Y) dalam pengembangan industri batu bata.
b. Menentukan taraf nyata dan t tabel
1) Taraf nyata : pada variabel tenaga kerja dengan tingkat signifikan 95% (α=0,05).
2) t tabel = t (α /2 ; n – 1 ) = t (0,05/2 ; 9 – 1 ) = t ( 0, 025 ; 8 ) t tabel = 2,30600
t hitung = 4, 095 c. Kesimpulan :
1) t hitung < t tabel, maka H0 diterima, Ha ditolak.
2) t hitung > t tabel, maka H0 ditolak, Ha diterima.
t hitung sebesar 4,095 < 2,30600 maka H0 ditolak t hitung sebesar 4,095 > 2,30600 maka Ha diterima.
Maka dapat ditarik kesimpulan, karena t hitung sebesar 4,095 > 2,30600 maka H0 ditolak dan Ha diterima. Jadi variabel tenaga kerja (X3) mempunyai pengaruh yang signifikan secara parsial terhadap produksi (Y) dalam pengembangan industri batu bata.
b. Uji F
Uji F (uji serentak) digunakan untuk melihat apakah variabel independen secara bersama-sama (serentak) berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap variabel dependent.84 Uji F dilakukan dengan membandingkan Fhitung dan Ftabel, dimana :
84 Algifari, Statistik Indukdutif untuk Ekonomi Dan Bisnis…, hal 232.
1) Formulasi Hipotesis H0 : β1 = β2 = β3 = 0
Sumber daya alam (X1), Modal (X2) dan Tenaga kerja (X3) secara bersama-sama tidak berpengaruh signifikan terhadap pengembangan industri batu bata.
Ha : β1 ≠ β2 ≠ β3 ≠ 0
Sumber daya alam (X1), Modal (X2) dan Tenaga kerja (X3) secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap pengembangan industri batu bata.
2) Nilai F tabel
df1 = V1 = V1 = k – 1 V1 = 4 – 1
V1 = 3 df2 = V2 = V2 = n – k V2 = 9 – 4
V2 = 5
Nilai F tabel = ( 3,5) = 5,41 Nilai F hitung = 6, 106
Tabel 4.26 Uji F ANOVAb
Model
Sum of
Squares Df
Mean
Square F Sig.
1 Regression 17.981 3 5.994 6.106 .040a
Residual 4.908 5 .982
Total 22.889 8
Hasil uji F pada penelitian ini didaptakan nilai F hitung sebesar 6,106 dan F tabel 5,41.
Dimana : F hitung > Ftabel 6,106 > 5,41
Berdasarkan nilai F hitung dan Ftabel maka H0 ditolak dan Ha diterima. Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa variabel sumber daya alam (X1), modal (X2), tenaga kerja (X3) mempunyai pengaruh yang signifikan secara bersama-sama terhadap variabel produksi dalam pengembangan industri batu bata.
E. Analisis Pembahasan