• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL PENELITIAN

5.6 Hasil Pengukuran Fluks Membran Khitosan

melewati satuan luas membran dalam waktu tertentu) dilakukan dengan mengalirkan air ke dalam membran (luas membran = 6,79x10-3 m2) yang telah dipasang pada alat vakum rentang waktu 30 menit dan tekanan vacumnya sekitar 350 mbar. Hasil yang diperoleh untuk setiap membran disajikan dalam Tabel 5.9 berikut ini :

56

Tabel 5.9. Fluks Membran Khitosan

Konsentrasi membran khitosan (%) Volume permeat (mL) 1

5.7. Penurunan Kadar Fosfat dalam Larutan Standar

Simulasi penurunan kadar fosfat pada larutan KH2PO4 10 ppm (standar fosfat 10 ppm), data kosentrasi perlakuannya seperti Tabel 5.10. Hasil terbaik penurunan konsentrasi larutan standar fosfat 10 ppm dengan membran khitosan (baik konsentrasi dan waktu kontak optimum) dipakai untuk aplikasi penurunan fosfat pada air limbah laundry.

Tabel 5.10. Konsentrasi Permeat Larutan Standar Fosfat 10 ppm Konsentrasi

57

Tabel 5.11. Karakteristik Air Limbah Laundry

No Parameter Sebelum perlakuan Sesudah perlakuan

1 Warna Keruh Jernih

2 pH 9 8

3 Absorbansi 1.105 0.071

5.8. Proses Pengolahan Air Limbah Laundry dengan Membran Khitosan Hasil permeat larutan standar fosfat 10 ppm yang dipakai simulasi untuk menurunkan kadar fosfat menunjukkan pada konsentrasi membran khitosan 3%

dan waktu kontak 60 menit penurunan konsentrasinya paling rendah. Konsentrasi membran 3% dan waktu kontak 60 menit akan diaplikasikan untuk menurunkan kadar fosfat dalam air limbah laundry. Data penurunan konsentrasi fosfat dalam air limbah laundry secara filtrasi menggunakan membran khitosan konsentrasi 3%

dan waktu kontak 60 menit terdapat pada Tabel 5.12.

Tabel 5.12. Konsentrasi Permeat Air Limbah Laundry Permeat

tingkat ke

Konsentrasi ulangan

Rata-rata

I II III

I 14.455592 13.906439 14.089490 14.156054 II 10.944341 10.644803 10.711367 10.761290 III 6.035246 5.386247 5.802272 5.735708 IV 0.576998 0.344024 0.443870 0.460511

58 BAB VI PEMBAHASAN 6.1. Isolasi Khitin dari Kulit Udang

6.1.1. Proses Deproteinasi

Proses deproteinasi bertujuan untuk menghilangkan protein dalam kulit udang menggunakan larutan NaOH 3,5 % pada suhu 70oC dengan pengadukan 50 rpm selama 4 jam. Apabila digunakan larutan NaOH dengan konsentrasi dan suhu lebih tinggi akan menyebabkan terjadi proses deasetilasi. Pengadukan dan pemanasan ini berfungsi untuk mempercepat pengikatan ujung rantai protein dengan NaOH sehingga proses degradasi dan pengendapan akan berlangsung sempurna (Austin, 1981). Protein dari kulit udang akan terekstraksi dalam bentuk Na-proteinat, ion Na+ dari NaOH akan mengikat ujung rantai protein yang bermuatan negatif. Pada proses deproteinasi, dari 100 gram tepung kulit udang (sampel) yang digunakan setelah proses diperoleh khitin kasar sebanyak 57,95 gram. Pengurangan massa sebanyak 42,05% merupakan jumlah protein dalam kulit udang yang sudah dihilangkan dalam proses deproteinasi. Kandungan protein dalam kulit udang berkisar antara 25 – 40% (Marganof, 2003).

6.1.2. Proses Demineralisasi

Proses demineralisasi bertujuan untuk menghilangkan senyawa anorganik atau mineral yang terdapat pada kulit udang. Kandungan mineral utamanya adalah CaCO3 dan Ca3(PO4)2 dalam jumlah kecil, mineral ini lebih mudah dipisahkan dibandingkan dengan protein karena hanya terikat secara fisik. Pada proses demineralisasi dari 57,95 khitin kasar bebas protein yang digunakan setelah proses demineralisasi (menggunakan HCl) diperoleh khitin sebanyak 20,37 gram,

59

sehingga diperoleh persentase khitin dalam sampel sebanyak 20,37%. Hasil khitin yang diperoleh pada penelitian ini sesuai dengan peneliti sebelumnya yang menyatakan kandungan khitin dalam kulit udang berkisar antara 15 – 20%

(Marganof, 2003). Pengurangan massa sebanyak 64,85% dari khitin bebas protein, menunjukkan larutnya mineral yang terkandung dalam kulit udang sebanyak 64,85%. Kulit udang keras karena mengandung CaCO3 dan Ca3(PO4)2, penambahan HCl menyebabkan terdagradasi membebaskan gas CO2 yang ditandai dengan keluarnya gelembung gas. Reaksinya sebagai berikut:

CaCO3(s) + 2HCl(aq)  CaCl2(aq) + H2O(l) + CO2(g)

Ca3(PO4)2(s) + 6HCl(aq)  3CaCl2(aq) + 2H3PO4(aq)

Khitin yang dihasilkan dicuci dengan aquades sampai pH netral, selanjutnya dilakukan depigmentasi dengan aseton dan alkohol untuk menghilangkan zat warna. Proses pencucian kembali dilakukan untuk mencegah degradasi produk selama pengeringan, sehingga diperoleh serbuk khitin halus yang berwarna putih krem. Khitin yang diperoleh dikarakterisasi secara FTIR untuk identifikasi gugus-gugus aktifnya. Spektra FTIR pembentukan senyawa khitin pada penelitian ini pada daerah serapan bilangan gelombang sekitar 3473,80 cm-1 menunjukkan serapan gugus hidroksil (secara literatur serapan gugus hidroksil pada bilangan gelombang 3448 cm-1). Terjadi perbedaan serapan gugus hidroksil pada hasil penelitian ini disebabkan masih adanya gugus asetil yang terikat kuat pada struktur senyawa khitin. Sedangkan gugus amina (ikatan N-H ulur) muncul di daerah 3265,49 cm-1 (literatur menunjukan di daerah 3250-3300 cm-1), (ikatan C-H) pada daerah 2883,58 cm-1 (literatur 2891 cm-1), gugus amida (ikatan C=O ulur) muncul di daerah 1647,21 cm-1(literatur1640-1680 cm-1),

60

serapan ikatan N-H bengkokan muncul pada bilangan gelombang 1560,41 cm-1 (literatur 1530-1560 cm-1), dan gugus amina (ikatan N-H kibasan) muncul di daerah 707,88 cm-1 (literatur 650-750 cm-1). Munculnya serapan amina (ikatan N-H bengkokan) pada daerah 1560,41 cm-1, dimana pada daerah ini sudah melewati kisaran literatur menunjukan pada proses deproteinasi dengan basa kuat khitin kasar sedikit mengalami deasetilasi.

6.2. Proses Deasetilasi Khitin menjadi Khitosan

Proses deasetilasi merupakan proses penghilangan gugus asetil (-COCH3) dari khitin menggunakan larutan alkali agar berubah menjadi gugus amina (-NH2).

Khitin mempunyai struktur kristalin yang panjang dengan ikatan hidrogen yang kuat antara atom nitrogen dan gugus karboksilat pada rantai bersebelahan (Muzzarelli, 1986). Untuk memutuskan ikatan antara gugus asetilnya dengan gugus nitrogen sehingga berubah menjadi gugus amina (-NH2) perlu digunakan natrium hidroksida (NaOH) dengan konsentrasi 50% dan waktu deasetilasi selama 4 jam. Penggunaan larutan alkali dengan konsentrasi yang tinggi dapat mempengaruhi besarnya derajat deasetilasi yang dihasilkan, karena derajat deasetilasi sebanding dengan daya adsorpsi khitosan. Pemutusan gugus asetil pada khitin mengakibatkan khitosan bermuatan positif sehingga dapat larut dalam asam organik (Bastaman, 1989) seperti asam asetat ataupun asam formiat.

Khitosan yang dihasilkan sebanyak 14,23 gram dari proses deasetilasi 20,35 gram serbuk khitin, ada pengurangan massa akibat mengalami proses deasetilasi sehingga diperoleh persentase perubahan khitin menjadi khitosan sebesar 69,93% (dapat dilihat pada Lampiran 10) dengan penampilan serbuk yang berwarna putih krem. Hasil yang diperoleh ini sesuai dengan penelitian

61

sebelumnya yaitu kadar khitosan dari khitin kulit udang lebih besar dari 50%

(Marganov, 2003).

Spektra FTIR khitosan (Lampiran 11) menunjukkan adanya serapan pada daerah bilangan gelombang (cm-1) 3475,73 (O-H stretching), 1658,78 (C=O amida). Spektra pada bilangan gelombang 1658,78 cm-1 (puncak amida) masih muncul disebabkan khitosan yang dihasilkan belum terasetilasi seluruhnya.

Kualitas khitosan juga dapat diketahui dari besarnya persen derajat deasetilasi.

Perhitungan derajat deasetilasi khitosan dengan metode garis Moore dan Robert digunakan untuk mengetahui persen derajat deasetilasi (DD) khitosan kulit udang.

Secara umum kebanyakan publikasi menyebutkan istilah khitosan apabila derajat deasetilasi lebih besar dari 70%. Pada penelitian ini diperoleh persen derajat deasetilasi sebesar 66,27% (perhitungan DD khitosan terdapat pada Lampiran 9), hal ini menunjukan belum seluruhnya khitin terasetilasi menjadi khitosan. Masih rendahnya hasil DD khitosan ini disebabkan oleh faktor pengadukan, suhu dari yang ditampilkan pada alat kurang maksimal ataupun jenis habitat serta pemeliharaan udang galah yang dipergunakan.

6.3. Pembuatan Membran Khitosan

Proses pembuatan membran dengan melarutkan khitosan dalam asam asetat 1% kemudian diaduk dengan alat pengaduk magnetik selama 24 jam bertujuan agar diperoleh larutan yang homogen. Khitosan dengan konsentrasi 1%

paling mudah melarut dalam asam asetat karena kondisi larutan yang encer (lebih banyak pelarutnya) menghasilkan membran yang paling tipis dan transparan.

Khitosan dengan kosentrasi 2%, 3% larut dengan baik dalam asam asetat menjadi larutan yang sempurna sehingga menghasilkan membran yang halus. Sedangkan

62

khitosan dengan konsentrasi 4% dan 5% dalam asam asetat menghasilkan larutan yang agak kental karena mengalami kejenuhan. Pencetakan membran dengan konsentrasi khitosan 1%, 2%, 3%, 4%, dan 5% pada cetakan (petri dish), melepaskan membran setelah proses penguapan pelarutnya melalui teknik infersi fasa yaitu dengan merendam membran menggunakan NaOH 4% selama 2 menit dilanjutkan dengan menggunakan aquabides selama 5 menit. Penggunaan larutan NaOH berfungsi sebagai larutan nonpelarut yang dapat berdifusi ke bagian bawah membran yang berhimpit dengan kaca sehingga membran akan terdorong ke atas dan terkelupas. Pencucian dengan aquabides bertujuan untuk menghilangkan sisa-sisa NaOH sehingga pH-nya menjadi netral.

6.4. Analisis Uji Tarik

Kekuatan tarik merupakan reaksi ikatan antara atom-atom atau antara ikatan-ikatan dalam polimer terhadap gaya luar atau tegangan. Melalui pengujian kekuatan tarik diperoleh kurva ζ = tegangan (stress) terhadap = regangan (strain). Informasi yang diperoleh dari kurva ini untuk polimer adalah kekuatan tarik dan perpanjangan dari bahan. Untuk menghitung tegangan dapat digunakan rumus ζ = dimana ζ : tegangan (Kgf/mm2), F : tegangan (Kgf), A ; luas penampang lintang (mm2). Sedangkan penambahan panjang (regangan) dapat dihitung dengan rumus ε = x100% dimana ε : regangan (%), ΔL : pertambahan panjang (mm), Lo : panjang mula-mula (mm). Perhitungan nilai tegangan dan regangan terdapat pada Lampiran 3. Gambar grafik hubungan antara tegangan dan regangan masing-masing membran terdapat pada Gambar 6.1.

sedangkan data nilai uji tarik semua membran terlihat pada tabel 6.1.

63

Tabel 6.1. Hasil Uji Tarik Membran Khitosan Membran

Gambar 6.1. Grafik hubungan antara tegangan dan Regangan membran khitosan

Keterangan warna pada grafik :

Warna biru : kekuatan tarik membran khitosan 1%

Warna merah : kekuatan tarik membran khitosan 2%

Warna hijau : kekuatan tarik membran khitosan 3%

Warna ungu : kekuatan tarik membran khitosan 4%

Warna hitam : kekuatan tarik membran khitosan 5%

Gambar grafik 6.1. menunjukkan membran khitosan dari kulit udang bersifat keras dan getas. Membran khitosan dengan konsentrasi 3% memiliki

0

64

kekuatan tarik dan perpanjangan (regangan) yang paling tinggi dibandingkan dengan membran khitosan konsentrasi 1%, 2%, 4% ataupun konsentrasi 5%

datanya dapat dilihat pada tabel 6.1. Hal ini terjadi karena khitosan dapat larut dengan baik dalam membran khitosan 3% sehingga menghasilkan membran dengan struktur pori yang merata pada seluruh permukaannya, bersifat elastis mempunyai kekuatan tarik dan kekuatan regangan semakin kuat.

6.5. Pembuatan Kurva Kalibrasi Standar Fosfat

Larutan KH2PO4 digunakan sebagai standar fosfat dengan menggunakan pereaksi fosfat (Ammonium Molybdat- Asam Sulfat) menghasilkan asam fosfo milibdat pada suasana asam (penambahan asam askorbat) akan mengalami reduksi menjadi molybdenum yang warna biru. Warna biru yang terjadi diukur dengan spektofotometer, dimana warna yang dihasilkan ini sebanding dengan konsentrasi fosfat dalam larutan (Effendi, 2003). Hasil pengukuran dengan alat spektofotometer berupa nilai absorbansi, sehingga dibuat kurva kalibrasi standar fosfat menggunakan larutan KH2PO4 bertujuan untuk menentukan konsentrasi fosfat dari data absorbansi yang terukur menggunakan alat spektrofotometer UV-Vis (λ = 660 nm). Melalui perhitungan regresi linear menggunakan persamaan y = mx + b diperoleh kurva kalibrasi standar fosfat terdapat pada Lampiran 6.

6.6. Perhitungan Fluks Membran Khitosan dengan Menggunakan Air

Fluks dapat diartikan sebagai jumlah volume permeat yang melewati

satuan luas membran dalam waktu tertentu dengan adanya gaya dorong dalam hal ini berupa tekanan (Mulder, 1996). Fluks (J) membran khitosan dapat dihitung dengan menggunakan rumus : ; dimana V = volume permeat, A (luas permukaan membran) = 6,79.10-3 m2 dan t (waktu) = 0,5 jam dengan tekanan

65

yang bekerja pada pompa vakum sebesar 350 mbar. Hasil perhitungan fluks membran khitosan 1%, 2%, 3%, 4% dan 5% terdapat pada Tabel 6.1.

Tabel 6.2. Hasil perhitungan fluks membran khitosan Membran khitosan konsentrasi membran khitosan maka fluks semakin menurun, hal ini terjadi dari membran khitosan konsentrasi 1% sampai pada konsentrasi membran khitosan 3%, sedangkan pada konsentrasi membran khitosan 4% dan 5% nilai fluks mengalami kenaikkan kembali. Kondisi ini disebabkan pada membran khitosan 1% kelarutan khitosan sangat encer sehingga menghasilkan struktur membran dengan pori-pori yang tidak merata, sedangkan kondisi membran 2% dan 3%

menghasilkan struktur membran dengan pori-pori yang lebih merata karena pada konsentrasi membran 2% kelarutan khitosan semakin baik dan melarut dengan sempurna pada membran khitosan 3%. Pada konsentrasi membran khitosan 4%

dan 5% terjadi peningkatan fluks, kondisi ini disebabkan kelarutan khitosan pada membran 4% mengalami penurunan dan pada konsentrasi membran 5% kelarutan khitosan mengalami kejenuhan dengan timbulnya gumpalan pada larutan yang menyebabkan saat membentuk membran menghasilkan pori-pori yang tidak merata pada seluruh permukaan membran.

66

6.7. Penurunan Kadar Fosfat dalam Larutan Standar

Pada penelitian ini penurunan kadar fosfat dilakukan pada larutan standar fosfat dengan konsentrasi 10 ppm menggunakan membran khitosan 1%, 2%, 3%, 4% dan 5% dengan waktu kontak 30, 60, 90 dan 120 menit. Hasil optimal pada perlakuan larutan standar fosfat 10 ppm baik konsentrasi membran khitosan maupun waktu kontak akan dipilih dan diaplikasikan untuk menurunkan kadar fosfat dalam air limbah laundry. Berdasarkan hasil uji statistik deskriptif ANOVA satu jalur, diketahui bahwa nilai signifikansi pada setiap unit uji berada dibawah taraf signifikansi α = 5% (p<0,05). Hal ini dapat diinterpretasikan bahwa hipotesis yang diajukan diterima, sehingga membran khitosan dari kulit udang dapat digunakan untuk menurunkan kadar fosfat dalam air limbah laundry. Data analisis ANOVA dapat dilihat pada Lampiran 8.

Perhitungan penurunan konsentrasi fosfat 10 ppm setelah perlakuan dari nilai absorbansi pengukuran menggunakan alat spektrofotometer dapat dilihat pada Lampiran 7. Konsentrasi yang paling optimal untuk menurunkan kadar fosfat dalam larutan standar fosfat 10 ppm terdapat pada membran khitosan dengan konsentrasi 3% dan waktu kontak maksmum pada 60 menit, sehingga kondisi ini dipakai untuk menurunkan kadar fosfat dalam air limbah laundry. Faktor lain yang mendukung dari sifat fisik membran yang dilakukan dengan uji tarik menunjukan kekuatan tarik dan regangan maksimum terdapat pada membran khitosan 3%. Hasil perlakuan standar fosfat 10 ppm dengan membran khitosan 3% dan waktu kontak 60 menit seperti pada Tabel 6.3. berikut ini:

67

Tabel 6.3. Konsentrasi Standar Fosfat 10 ppm sebelum dan setelah Perlakuan

II 0.040 Tak terdeteksi Tak terdeteksi

6.8. Proses Pengolahan Air Limbah Laundry dengan Membran Khitosan Membran khitosan 3% dan waktu kontak 60 menit merupakan kondisi optimal, sehingga diaplikasikan untuk menurunkan fosfat total dalam air limbah laundry. Hasil konsentrasi fosfat dalam air limbah laundry sebelum dan setelah perlakuan terdapat pada Tabel 6.3.di bawah ini :

Tabel 6.4. Konsentrasi Fosfat dalam Air Limbah Laundry sebelum dan setelah Perlakuan

Konsentrasi fosfat dalam air limbah laundry sebelum perlakuan 17.67 ppm, menurun secara perlahan-lahan sampai konsentrasi 0.46 ppm (turun sampai 97.40%) setelah 4 kali filtrasi secara bertingkat menggunakan membran khitosan 3% dan waktu kontak 60 menit. Penurunan fosfat dalam jumlah yang sedikit oleh membran khitosan pada setiap tingkat penyaringan disebabkan air limbah laundry selain memiliki kandungan fosfat juga tercampur material lain seperti lemak yang terikat oleh gugus hidrofob dari detergen selama proses pencucian ataupun surfaktan penyusun detergen itu sendiri, sehingga saat dilakukan filtrasi tidak

68

hanya tersaring fosfat tetapi material lainnya ikut tersaring menyebabkan terjadi fouling (proses terbentuknya lapisan oleh material yang tidak diinginkan pada

permukaan membran). Pengendapan material lain pada permukaan membran menyebabkan penurunan kinerja membran terutama sifat kationik dan kereaktifan membran khitosan (Argin-Soysal et al. 2007) tidak berfungsi secara optimal mengikat fosfat yang terdapat pada air limbah laundry. Fosfat hanya sedikit yang tertahan pada proses filtrasi I dengan membran khitosan sehingga proses filtrasi dilanjutkan sampai kadar fosfat dalam air limbah laundry dapat turun menjadi 0.46 ppm yaitu setelah dilakukan filtrasi empat kali. Nilai pH sebelum perlakuan dengan membran khitosan yaitu 9 dan setelah perlakuan nilai pH menjadi 8, ini menunjukan selain mengikat fosfat membran khitosan juga dapat menurunkan pH, pada pH tinggi gugus amina pada khitosan mengalami deprotonasi sehingga menyebabkan terjadi penurunan pH.

Menurut penelitian yang dilakukan Auliah, 2009 menggunakan lempung aktif sebagai adsorben ion fosfat dalam air menyebutkan dari larutan standar fosfat 20 ppm yang diadsopsi dengan lempung aktif diperoleh jumlah fosfat dapat teradsosorpsi 70.99% selama waktu kontak 8 jam. Penelitian Budi Sudi Setyo, 2006 penurunan kadar fosfat 25.64 ppm dalam sampel dengan penambahan kapur (lime), tawas, dan filtrasi zeolit pada limbah cair rumah sakit dapat menurunkan kadar fosfat sampai 97.92%. Melihat hasil dari kedua penelitian tersebut penurunan kadar fosfat total yang dilakukan baik dengan menggunakan lempung aktif dan penambahan kapur (lime), tawas yang dipadukan dengan filtrasi zeolit secara teknis memerlukan lahan yang luas untuk proses adsorpsi maupun koagulasinya. Sedangkan dilihat dari hasil penurunan fosfat yang diperoleh baik

69

dengan filtrasi menggunakan membran khitosan, proses adsopsi dengan lempung aktif atau koagulasi yang dipadukan dengan filtrasi zeolit, sama-sama dapat menurunkan kadar fosfat total pada tingkat persentase di atas 70%. Pengolahan limbah yang mengandung senyawa fosfat dapat dilakukan dengan beberapa alternatif yaitu proses adsorpsi, koagulasi dan filtrasi baik memakai membran ataupun zeolit. Pemilihan metode pengolahan limbah dilakukan dengan memperhatikan faktor biaya, mudah memperolehnya dan dampak terhadap lingkungan dari residu yang dihasilkan, maka lebih efektif menggunakan teknologi membran dalam pengolahan limbah yang mengandung fosfat.

Teknologi membran tidak memerlukan lahan yang luas dan ramah terhadap lingkungan karena membran khitosan dapat terurai secara alami oleh mikro organisme (bersifat biodegradasi). Membran khitosan setelah dipakai dapat dimanfaatkan kembali sebagai penyubur tanah (pupuk) dengan bahan aktif mengandung nitrogen termasuk di dalamnya terikat fosfat yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman.

70 BAB VII

SIMPULAN DAN SARAN 7.1. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dan pembahasan maka simpulan dari penelitian ini adalah :

1. Tingkat kemurnian khitosan yang diperoleh dari kulit udang galah pada penelitian ini berdasarkan perhitungan derajat deasetilasinya sebesar 66,27%

2. Konsentrasi khitosan 3% merupakan konsentrasi optimum untuk membuat membran khitosan. Membran mampu menurunkan kadar fosfat total dalam air limbah laundry hingga 97.40% dalam waktu kontak 60 menit.

3. Fluks terbaik membran yaitu membran khitosan 3% dengan fluks 5.45 L/m2 jam secara optimal dapat menurunkan kadar fosfat total.

7.2. Saran

1. Khitosan digunakan sebagai membran pada penelitian ini mempunyai penampilan fisik seperti plastik PE, sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut menggunakan larutan khitosan untuk melapisi buah-buahan segar sehingga pelapisan dengan lilin yang sebelumnya digunakan dapat diganti dengan senyawa khitosan.

2. Khitosan yang digunakan pada penelitian ini berasal dari kulit udang dengan menggunakan pelarut kimia dalam isolasinya, sehingga diharapkan peneliti yang lain lagi untuk mendapatkan khitosan dari kulit udang dengan diisolasi menggunakan alternatif lain selain pelarut kimia misalnya memakai enzim.

71

3. Menggunakan peralatan yang lebih baik, seperti sumber tekanan dari atas, pemasangan membran bukan dengan corong Buchner melainkan menggunakan kolom yang lebih permanen.

4. Pada penelitian ini pengolahan air limbah laundry hanya difokuskan pada penurunan kadar fosfat totalnya saja, diharapkan pada peneliti lain agar meneliti penurunan material lain yang terdapat pada air limbah laundry menggunakan membran khitosan.

72

DAFTAR PUSTAKA

Agustina Siti, Triwidianto, 2011, Penggunaan Teknologi Membran pada Pengolahan Kelapa Sawit. Workshop Teknologi Industri Kimia dan kemasan.

Ahmad, Januar B. dan Khitam, A. 1998, Transformation of Chitin to Chitosan and utilization of Chitosan as Cu, Pb and Hg Binder. Buku Acara Seminar Sehari MIPA-ITB.

Argin-Soysal, S. Kofinas P, Martin, L. 2007, Effect of Complexation Condition on Xanthan-Chitosan Polyelectrolyte Complex Gel. Food Hydrocolloids. 23:

202-209.

Arnol E. Greenberg, Lenore S. Cleseri, Andrew D. Easton, 1992, Standart Methods for Examination of Water and Wastewater. 18th Edition. USA.

Auliah, A, 2009, Lempung Aktif sebagai Adsorben Ion Fosfat dalam Air. Jurnal Chemica Vol. 10(2), 14 – 23 pdf.

Austin, P.R., 1988, Chitin Solven and Solubility Parametre. The Departement of Mechanical Manufacturing Aeronitical and Chemical Engineering. The Faculty of Engineering The Queens University of Belfast.

Bastaman, S. 1989, Studies on degradation and extraction of Chitin and Chitosan from prawn shells, and the queens. University of Bfelas, England.

Budi Sudi Setyo, 2006, Penurunan Fosfat dengan Penambahan Kapur (Lime), Tawas dan Filtrasi Zeolit pada Limbah Cair. Tesis Program Studi Ilmu Lingkungan Undip Semarang.

Daigger, G.T., 2008, New Approaches and Technology for Wastewater Management., National Academy of Engineering Publication Vol. 38 No.

3, www.nae.com.

Daniel, 2009, Pembuatan dan Karakteristik Membran Khitosan yang berasal dari Kulit Udang Sungai Mahakam. Jurnal Mulawarman Scientifie, volume 8 No. 1 ISSN1412-498x.

Deniva A, Notodarmojo, 2004, Rejeksi Zat Organik dan Kekeruhan Menggunakan Teknologi Membran Ultrafiltrasi Dengan Sistem Aliran Dead End. Prosiding ITB Sain dan Teknologi Vol 36 A No 1, p.63-82.

ITB. Bandung.

Effendi, H. 2003, Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Kanisius Yogyakarta.

73

Fessenden, R.J. and Fessenden, J.S., 1994, Organic Chemisrty, 3rd ed., a.b.

Pudjatmaka, A.H., Erlangga, Jakarta.

Hammer Mark, J. and Viesman, W., 2005, Water and Wastewater Technology, Third Edition, Prentice Hall International Edition.

Hasan, Z, & Sulaiman, 1996, Keupayaan Membran Ferrum (III), Malays, Journal Anal. Science.

Jahn, 1979, Traditional Water Purification in Tropical Developing Countries : exiting Methods and Potential Aplication. GTZ. Eschborn.

Jatmika, A, 1996, Prosfek Penggunaan Teknologi Membran untuk Produksi Minyak Sawit Merah. Warta PPKS Vol4(3), 129 – 136 pdf.

Jonsson, A-S and G. Tragardh G. 1990, Fundamental Principles of Ultrafiltration. Chem. Eng. Process. 27, 67 – 81.

Jonsson, G. 1984, Boundary Layer Phenomena during Ultrafiltration of Dextran and Whey Protein Solutions. Desalination, 51, 61 – 77.

Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 112, Tahun 2003, Tentang Baku Mutu Air Limbah Domestik.

Khopkar, S.M. 2003, Konsep Dasar Kimia Analitik. Diterjemahkan oleh A.Saptorahardjo. Jakarta: UI Press.

Knorr, B. 1991, Recovery and Utilization of Chitin and Chitosan and Food Processing Waste Management. Food Technology. Januari,1991:

114 - 120.

Kurita, Keisuke, 2006, Chitin and Chitosan : Functional Biopolymer from Marinr Crustaceans, Marine Biotech. Japan.

Kusumawati, N. 2009, Pemanfaatan Limbah Kulit Udang sebagai Bahan Baku Pembuatan Membran Ultrafiltrasi. Inotek, FMIFA Universitas Negeri Surabaya volume 13, No.2

Liu, J., 2003, Preparation and Characterization of Chitosan / Cu(II) Affinity Membrane for Urea Adsorption. Journal of Applied Polymer Science, Vol. 90, 1108-1112.

Mahida, 1995, Pencemaran Air dan Pemanfaatan Limbah Industri, Jakarta CV.

Rajawali

Mak, A. & Sun, S., 2008, Intelligent Chitosan-based Hydrogels as Multifunctional Material. Cambridge. RSC. 447-461.

74

Mallack, H.M. & Anderson, G.K, 1997, Cross-flow Micro-Filtration with Dynamic Membrane. Journal Water Research, vol. 31, Elseveir Science.

Marganof, 2003, Potensi Limbah Udang Sebagai Penyerap Logam Berat (Timbal, Kadmium, Tembaga) di Perairan “Pengantar Falsafah Sains, Program Pascasarjana IPB.

Mayashanty D, Suprihanto, 2004, Pengolahan Limbah Cair Emulsi Minyak dengan Proses Membran Ultrafiltrasi Dua Tahap Aliran Cross Flow.

Prosiding ITB Sains dan Teknologi. Vol 36 A p.45-62. ITB. Bandung.

Meriatna, 2008, Penggunaan Membran Khitosan Untuk Menurunkan Kadar Logam Krom (Cr) dan Nikel (Ni) dalam Limbah Cair Industri Pelapisan Logam. Tesis Teknil Kimia Universitas Sumatera Utara.

Meyer, D. 2006, Surfactan Science and Technology, 3rd edition. New Jersey: Jhon Wiley and Son.

Milisic, V. 1996, Antifouling Techniques in Crossflow Microfiltration, Journal of Membrane Science, Elsevier, Amsterdam.

Minke, R, and Blackwell, J., 1978, The Structur of α-Chitin. Journal Molec, Biol.

Minke, R, and Blackwell, J., 1978, The Structur of α-Chitin. Journal Molec, Biol.