• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3. Hasil pengukuran parameter fisika

Parameter fisika yang diukur untuk menentukan kelangsungan hidup terhadap pertumbuhan kerang mutiara antara lain suhu, kedalaman dan kecerahan. Grafik pengukuran terhadap parameter fisika dapat dilihat pada gambar 3.

0 5 10 15 20 25 30 N ila i P en g u k u ra n 1 2 3 4 5 Stasiun

Suhu Air (oC) Suhu Udara (oC) Kecerahan (m) Kedalaman (m)

Gambar 3. Grafik pengukuran suhu air (oC), suhu udara (oC), kecerahan (m) dan kedalaman (m) tiap stasiun pengamatan terhadap parameter fisika di Teluk Sekotong pada bulan Oktober 2005.

4.3.1. Suhu perairan

Kisaran suhu perairan pada lima stasiun pengamatan memiliki kisaran antara 26 sampai 28,5 oC dengan suhu terendah dapat kita jumpai pada stasiun 2 sebesar 26 oC dan tertinggi pada stasiun 5 sebesar 28,5 oC. Suhu yang teramati masih berada dalam kisaran suhu yang normal untuk pertumbuhan terbaik kerang mutiara dialam yaitu kisaran 26-30 oC untuk daerah tropis karena memiliki perairan yang hangat sepanjang tahun (Setyobudiandi, 1989).

4.3.2. Suhu udara

Suhu udara diperoleh dari data sekunder PT. BGHM di lokasi stasiun yang sama. Masing-masing berkisar antara 26,5–29 oC, suhu udara tertinggi terdapat pada stasiun 5 dan suhu udara terendah ada pada stasiun 3.

Dikaitkan dengan perbedaan suhu air dengan suhu udara yang tidak terlalu berbeda jauh. Hal ini menjelaskan bahwa suhu air itu ditentukan oleh suhu udara dan kedalaman perairan.

Penelitian suhu udara menunjukan bahwa suhu mengalami kenaikan dari stasiun 1 sampai stasiun 2 lalu mengalami penurunan di stasiun 3 dan pada akhirnya mengalami kenaikan kembali di stasiun 4 sampai stasiun 5.

4.3.3. Kecerahan

Perairan Sekotong selama pengukuran memiliki kisaran kecerahan sebesar 6- 7,5 meter dengan nilai kecerahan tertinggi ditemui pada stasiun 1 yaitu sebesar 7,5 meter. Nilai kisaran kecerahan Perairan Sekotong ini berada diatas nilai kisaran kecerahan yang layak untuk keperluan budidaya kerang mutiara, yaitu sebesar 4,5-6,5 meter (Sutaman, 1993). Stasiun 2 memiliki kecerahan terendah yaitu sebesar 6 meter, hal ini disebabkan penelitian dilakukan di Teluk Perairan

Sekotong, Lombok Barat, NTB dan juga di sekitar Perairan Sekotong itu terdapat

run-off 2 sungai dari daratan diantaranya Sungai Pandanan. Hal ini menjadi salah satu faktor mengapa di sekitar stasiun 2 lebih keruh dibandingkan dengan stasiun lainnya, karena banyaknya sedimen dan material yang masuk dari daratan. Kecerahan mempengaruhi tingkat masuknya intensitas cahaya dalam suatu perairan, dimana intensitas cahaya merupakan salah satu faktor pembatas kelimpahan fitoplankton. Semakin rendah kecerahan perairan tersebut, maka semakin dangkal sinar yang menembus perairan dan sebaliknya, jika kecerahan rendah maka penetrasi cahaya rendah, rendahnya penetrasi tersebut akan menghalangi proses fotosintesis yang berdampak produktifitas primer perairan rendah.

Harus kita ingat, suatu perairan dengan kecerahan tinggi belum tentu memiliki produktifitas primer yang tinggi jika kandungan nutrien di perairan tersebut rendah. Dalam menentukan produktifitas dapat kita golongkan menjadi tinggi harus melihat dari beberapa aspek lainnya.

4.3.4. Tipe substrat (dasar perairan)

Tipe substrat yang bertempat di PT. Buana Gemilang Hamparan Mutiara Dusun Pandanan,Desa Sekotong Barat, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat. Berada di Teluk Tawun sehingga tempat ini terlindung sekali dari arus kuat laut lepas.

Teluk Tawun memiliki tipe substrat yang di dominasi oleh dasar berpasir dan sedikit berlumpur di bagian muara sungai dimana terdapat run-off dari daratan. Dasar perairan berlumpur ditemukan pada stasiun 4, sehingga stasiun 4 kurang layak untuk lokasi budidaya kerang mutiara. Dasar perairan berlumpur dapat menyebabkan perubahan dasar perairan (sedimen) akibat banjir hingga dasar perairan tertutup lumpur yang sering menimbulkan kematian kerang muda. Dasar perairan berpasir ditemukan pada stasiun 1, 2, 3 dan 5. Hal ini menunjukan daerah yang masih cukup layak untuk budidaya kerang mutiara ditinjau dari dasar perairan adalah stasiun 1 ke stasiun 2, stasiun 2 ke stasiun 3, dari stasiun 5 ke arah dermaga dengan tipe substrat berpasir.

4.3.5. Kedalaman

Kedalaman yang paling ideal menurut sistem penilaian kelayakan lokasi budidaya kerang mutiara berada pada kisaran 15-25 meter (Winanto et al, 1992 in

yang cukup besar terhadap kualitas mutiara. Semakin dalam letak kerang yang dipelihara, maka kualitas mutiara yang dihasilkan akan semakin baik. Kedalaman perairan yang cocok untuk budidaya kerang mutiara adalah antara 15-20 meter. Pada kedalaman ini, pertumbuhan kerang mutiara akan lebih baik (Sutaman, 1993).

Kedalaman dari kelima stasiun pengamatan yang layak untuk budidaya kerang mutiara adalah stasiun 1 dan 5, kedalaman yang masih cukup layak untuk budidaya di lokasi tersebut dengan tingkat kedalaman lebih dari 25 meter adalah stasiun 2, 3 dan 4. Secara keseluruhan kedalaman di kelima stasiun ini masih dapat dikatakan layak untuk lokasi budidaya kerang mutiara.

4.3.6. Kondisi angin

Kabupaten Lombok Barat termasuk wilayah dengan kecepatan angin rata-rata 23 knot. Kecepatan maksimum terjadi pada bulan Oktober dan November yaitu sekitar 23 knot sedangkan kecepatan minimum terjadi pada bulan Juni dan Juli sebesar 12 knot. Kelembaban udara berkisar antara 75 % sampai 85 %. Kelembaban udara maksimum terjadi pada bulan Desember sebesar 85 % sedangkan kelembaban minimum terjadi pada bulan September sebesar 75 %. Penyinaran matahari maksimum terjadi pada bulan Agustus sebesar 91% dan penyinaran matahari minimum terjadi pada bulan Desember sebesar 24 %.

4.3.7. Pasang surut

Pasang surut yang ada di daerah Perairan Sekotong menurut data sekunder adalah jenis pasang surut campuran condong ke harian ganda (mixed tide, prevailingsemidiumal).

Karakteristik pasang surut terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dalam sehari tetapi berbeda dalam tinggi dan waktunya. Jenis pasang surut ini terdapat di sebagian besar Perairan Indonesia Bagian Timur (Nontji, 1993).

Karena daerah ini terlindung dengan adanya daerah teluk, sehingga tidak ada pengaruh langsung dari pasang surut, kalaupun ada pengaruhnya sangatlah kecil sekali.

4.3.8. Hujan

Kabupaten Lombok Barat menurut data sekunder termasuk wilayah beriklim tropis dengan temperatur rata-rata berkisar antara 25,70-27,80 oC. Suhu

maksimum terjadi pada bulan Juli dengan suhu 32,8 oC dan minimum pada bulan Mei sebesar 22,10 oC. Tekanan udara rata-rata 1011,68 (bar) yang ditandai dengan dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan.

Tabel 9. Data temperatur maksimum dan minimum (oC), tekanan udara (bar), kecepatan angin maksimum (knot) dan curah hujan (mm/thn) di Kabupaten Lombok Barat tiap bulannya pada tahun 2005.

Temperatur (oC) Bulan Max Min Tekanan Udara (Bar) Kecepatan Angin (Max) (Knot) Curah Hujan (mm/thn) Januari 31,90 24,90 1010,50 20 26,30 Pebruari 32,50 24,40 1011,30 20 181,00 M a r e t 32,10 24,30 1011,10 20 137,00 April 32,00 23,70 1011,80 12 183,00 M e i 32,60 22,10 1011,90 15 - J u n i 32,40 22,60 1011,40 12 21,20 J u l i 32,80 22,20 1013,00 12 80,60 Agustus 32,40 22,50 1013,50 20 10,60 September 32,30 22,90 1013,40 18 35,70 Oktober 31,90 24,30 1012,40 15 261,10 November 31,80 24,10 1011,40 23 272,00 Desember 31,30 24,30 1008,50 20 301,70

Sumber Data : BPS Lombok Barat

Tipe iklim adalah tipe E dengan curah hujan basah berkisar antara 5-6 bulan. Keadaan curah hujan pada tahun 2005 yaitu 101 mm/bulan dengan hujan harian rata-rata 7 HH/bulan.

Dokumen terkait