4.2 Analisis Statistik Deskriptif
4.2.10 Hasil Statistik Deskriptif Keseluruhan
Jika diatas telah disajikan hasil statistik deskriptif laporan tahunan dari masing-masing maskapai penerbangan yang menjadi sampel dalam penelitian ini untuk melihat sebaran deskriptif yang terjadi pada setiap maskapai penerbangan seperti mean, nilai minimum dan maksimum, maka langkah berikutnya adalah melakukan uji statistik deskriptif terhadap keseluruhan sampel (46 laporan tahunan) untuk memperoleh nilai kuartil bawah (Q1), median dan kartil atas (Q3) selain nilai mean, minimum dan maksimum. Nilai kuartil bawah, median dan atas digunakan untuk melakukan skoring terhadap indikator EMPSAL, MtoB, MARKET dan PPEINT yang kemudian diperoleh total skor sehingga dapat ditentukan tipe strategi yang diterapkan perusahaan pada tahun laporan tahunannya.
Tabel 4.10Hasil statistik deskriptif berdasarkan indikator variabel X pada 46 sampel laporan tahunan
47
Missing 0 0 0 0 0 0 0
Mean .0007111 1471.58 .015814 .490476 -39.62 .8337 .1496
Median .0004877 2.98 .011046 .568064 2.29 .7350 .0000
Std. Deviation .0007128 3606.75 .0143645 .2583182 210.18 .47571 .28206 Percentiles
25 .0001078 1.56 .007762 .250240 -25.70 .5325 .0000 50 .0004877 2.98 .011046 .568064 2.29 .7350 .0000 75 .0011911 1425.64 .016465 .698526 16.62 1.0000 .1775
Sumber: data sekunder yang diolah SPSS, 2019
Pada Tabel 4.10 diketahui nilai kuartil bawah (Q1), median dan kuartil atas (Q3) setiap indikator strategi bisnis dan berdasarkan total skoring terdapat 11 perusahaan yang berstrategi defender, 14 perusahaan berstrategi analyzer dan 21 perusahaan berstrategi prospector. Ketiga tipe strategi sesuai dengan tipologi yang dikemukakan oleh Miles dan Snow yang didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Thomas dan Ramaswamy (1996), yaitu indikator yang memiliki skor tinggi dikategorikan berstrategi prospector dan skor rendah berstrategi defender sedangkan analyzer yang berada pada skor pertengahan karena menerapkan antara strategi prospector dan defender.
Dari hasil skoring yang dilakukan diketahui bahwa tiga dari sembilan perusahaan konsisten menerapkan satu tipe strategi yang sama dari tahun ke tahun yaitu PT Garuda Indonesia yang berstrategi prospector dari tahun 2013-2018, Bangkok Airways yang berstrategi analyzerdari tahun 2017-2018 dan PT AirAsia Indonesia yang berstrategi defenderdari tahun 2017-2018sedangkan enam perusahaan lainnya menerapkan tipe yang berbeda-beda bahkan hingga menerapkan tiga tipe strategi dalam tahun laporan yang berbeda. Jika dilihat dari total tahun laporan tahunan yang menjadi sampel penelitian, terdapat 21.74%
laporan tahunan yang diterbitkan dengan tipe strategi yang sama dan sisanya 78.26% laporan tahunan yang diterbitkan dengan tipe yang berbeda-beda. Tipe strategi yang tidak konsisten ini disebabkan karena perusahaan cenderung
48
menyesuaikan dengan keadaan lingkungan dan hasil dari laporan tahunan sebelumnya dalam menerapkan tipe strategi untuk menjalankan operasional perusahaan di tahun berikutnya.
Hasil statistik deskriptif pada variabel eksogen (X) yaitu STRATEGI terhadap variabel endogen (Y) yaitu KINERJA KEUANGAN dengan indikator variabel endogen ROE (Return on Equity), rasio lancar dan DPR (Dividend Payout Ratio) dapat dilihat pada Tabel 4.11 berikut:
Tabel 4.11 Hasil statistik deskriptif variabel eksogen (X) dan variabel endogen (Y)
Statistics
STRATEGI (X) ROE (Y.1) RASIO LANCAR (Y.2) DPR (Y.3)
N Valid 46 46 46 46
Missing 0 0 0 0
Mean 2.22 -39.6172 .8337 .1496
Mode 3 -1384.60a .37a .00
Std. Deviation .814 210.17667 .47571 .28206
Minimum 1 -1384.60 .16 .00
Maximum 3 113.10 2.61 1.19
a. Multiple modes exist. The smallest value is shown
Sumber: data sekunder yang diolah SPSS, 2019
Berdasarkan Tabel 4.11 diketahui bahwa tipe strategi yang paling banyak diterapkan adalah tipe prospector seperti yang telah dijelaskan sebelumnya yaitu sebanyak 21 laporan tahunan. Jika dilihat pada tabel rata-rata (mean) laporan tahunan perusahaan penerbangan memperoleh ROE (Return on Equity) sebesar (-39.62%). Nilai ROE menunjukkan berapa banyak keuntungan yang dapat dihasilkan perusahaan dari setiap satu rupiah yang diinvestasikan sebagai modal perusahaan.ROE juga dapat dijadikan sebagai indikator untuk menilai efektifitas manajemen dalam mengelola dan menggunakan pembiayaan ekuitas untuk mendanai operasi dan menumbuhkan perusahaan.
Nilai ROE digunakan sebagai salah satu indikator kinerja keuangan dalam penelitian ini dikarenakan dari nilai ROE yang diperoleh dapat dilihat kemampuan
49
perusahaan dalam mengelola ekuitas untuk menghasilkan keuntungan. Dalam pengelolaan ekuitas tentu dibutuhkan strategi yang tepat agar ekuitas dapat dimanfaatkan secara optimal sehingga menghasilkan keuntungan bagi para pemegang saham. Jika strategi yang ditetapkan tidak tepat maka ekuitas yang dimiliki perusahaan tidak dapat mendatangkan keuntungan bagi para pemegang saham. Menurut Hani (2015) semakin tinggi nilai ROE maka menunjukkan posisi ekuitas perusahaan semakin kuat. Nilai ROE yang bertanda negatif berarti bahwa rata-rata perusahaan dalam sampel penelitian belum efektif menggunakan modal yang telah diinvestasikan pemegang saham dalam mengelola operasional perusahaan untuk mendapatkan keuntungan, nilai negatif juga menandakan bahwa rata-rata perusahaan memperoleh kerugian.
Rata-rata (mean) laporan tahunan perusahaan penerbangan memperoleh rasio lancar sebesar 0.8 kali yang bermakna bahwa setiap Rp 1 kewajiban lancar dijamin dengan Rp 0.8 aktiva lancar. Nilai rasio ini belum berarti baik dikarenakan jika dilihat dari hasil nilai yang berada dibawah angka 1 berarti lebih besar kewajiban lancar dibandingkan aktiva lancar. Hal ini dapat diindikasikan bahwa perusahaan mengalami kesulitan untuk mengembalikan hutang jangka pendek yang dimiliki. Nilai rasio lancar yang dianggap baik adalah jika memiliki nilai perbandingan 2 : 1, yaitu lebih besar aktiva lancar daripada kewajiban lancarnya. Semakin tinggi nilai rasio lancar maka semakin menjamin kreditur bahwa perusahaan dapat bertanggungjawab atas hutang-hutang yang dimilikinya.
Akan tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa jika aktiva lancar lebih besar berarti bahwa perusahaan tidak menggunakan aktivanya dengan optimal.
50
Rasio lancar digunakan sebagai salah satu indikator kinerja keuangan dalam penelitian ini dikarenakan dari nilai rasio lancar dapat menunjukkan bagaimana kemampuan perusahaan dalam memenuhi hutang jangka pendeknya yang hal ini berkorelasi dengan tujuan penelitian yang ingin melihat keefektifan strategi bisnis yang diterapkan per periode laporan tahunan untuk mengelola aset tanpa melupakan kewajiban untuk membayar hutang jangka pendeknya.
Kewajiban jangka pendek ini tentunya menjadi salah satu hal yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan tipe strategi yang akan ditetapkan karena harus segera dipenuhi disamping perlunya memikirkan aset yang akan dikelola agar kreditur tetap memberikan kepercayaan pada perusahaan.
Rata-rata (mean) laporan tahunan perusahaan memperoleh DPR (Dividend Payout Ratio) sebesar 0.1496 atau 14.96%. Rasio ini digunakan untuk mengukur persentase laba bersih yang dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen untuk periode tertentu (biasanya 1 tahun). Nilai DPR 14.96%
menunjukkan bahwa rata-rata perusahaan memberikan dividen kepada pemegang saham sebesar 14.96% dari keuntungan yang diperolehnya. Semakin tinggi nilai DPRnya maka semakin tinggi pula persentase keuntungan yang akan dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen. Hal ini tentu saja akan menarik minat para investor untuk berinvestasi pada perusahaan tersebut. Begitupula sebaliknya apabila nilai rasio DPR rendah maka menandakan perusahaan hanya dapat memberikan dividen yang kecil dari persentase keuntungan yang diperoleh. Akan tetapi dalam sampel penelitian ini, nilai rasio DPR dapat dikategorikan rendah yaitu hanya 14.96%, karena tidak banyak perusahaan yang berhasil memperoleh
51
keuntungan setiap tahunnya seperti yang dapat dilihat pada hasil mean ROE dari 46 sampel penelitian yang bernilai negatif.
Nilai DPR digunakan sebagai salah satu indikator kinerja keuangan dalam penelitian ini karena dari nilai ini dapat dilihat apakah strategi yang ditetapkan perusahaan berhasil dan efektif dalam memberikan dividen bagi para pemegang saham. Pemberian dividen ini tentu saja akan menambah kepercayaan para pemegang saham dan menarik perhatian bagi calon investor.
4.3 Uji Normalitas Data
Uji normalitas yang dilakukan dalam penelitian ini dengan melihat angka signifikan dari Kolmogorov-Smirnov test pada nilai 2 –tailed significant dengan tingkat signifikansi sebesar 5% atau 0.05. Jika nilai probabilitas p ≥ 0.05 maka asumsi normalitas terpenuhi atau data berdistribusi normal sedangkan jika p <
0.05 maka asumsi normalitas tidak terpenuhi atau data tidak berdistribusi normal.
Hasil uji normalitas dengan kolmogorov - smirnov test dapat dilihat pada Tabel 4.12 berikut:
Tabel 4.12 Hasil uji normalitas kolmogorov – smirnov test pada indikator variabel X terhadap indikator variabel Y
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Roe (Y1) Rasio Lancar (Y2) Dpr (Y3)
N 46 46 46
Normal Parametersa,b Mean .0000 .0000 .0000
Std. Deviation .00214 .44677 .24782 Most Extreme Differences
Absolute .149 .155 .194
Positive .103 .155 .194
Negative -.149 -.054 -.115
Kolmogorov-Smirnov Z .999 1.050 1.319
Asymp. Sig. (2-tailed) .271 .221 .062
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
Sumber: data sekunder yang diolah, 2019
52
Berdasarkan Tabel 4.12 hasil uji normalitas menunjukkan bahwa nilai p atau Asymp. Sig. (2-tailed)pada variabel ROE (Y1) sebesar 0.271, variabel rasio lancar (Y2) sebesar 0.221 dan variabel DPR (Y3) sebesar 0.062. Hal ini berarti bahwa nilai p ketiganya ≥ 0.05 sehingga data berdistribusi normal.