V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.7. Hasil Temuan dalam Kajian
Dari hasil kajian di temukan bahwa kelembagaan TKPK Kabupaten Bengkalis belum berkembang secara optimal, terutama menurut tugas dan fungsinya sebagai lembaga lintas pelaku dan lintas sektor, kelembagaan ini belum berjalan sebagaimana layaknya, tidak wujudnya keberadaan kelembagaan ini disebabkan perannya terdistorsi oleh adanya peran salah satu dinas. Selama ini kelembagaan TKPK Kabupaten Bengkalis memang cendrung mencirikan suatu kelembagaan birokratik.
Dari kajian yang dilakukan hal tersebut terjadi akibat adanya keputusan para pemangku kepentingan yang menetapkan bahwa dari susunan organisasi yang bertindak sebagai ketua pelaksanaan TKPK Kabupaten Bengkalis adalah Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Bengkalis, kondisi ini memberi kesan bahwa seolah-olah Kelembagaan TKPK Kabupaten Bengkalis adalah bagian dari organisasi Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Bengkalis, sehingga timbul persepsi bahwa semua kegiatan maupun program kemiskinan yang dilakukan oleh Dinas pemberdayaan Masyarakat Desa, terlintas sebagai kegiatan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa seluruhnya, padahal sesungguhnya apabila kita urut kembali ke belakang dari susunan organisasi
TKPK Kabupaten Bengkalis, memang ketua pelaksana kelembagaan TKPK Kabupaten Bengkalis dilimpahkan kepada Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, sebagaimana yang telah di jelaskan di atas, tapi sebenarnya hal tersebut adalah tugas dan fungsi dari kelembagaan TKPK kabupaten Bengkalis, bukan tugas dan fungsi dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Bengkalis.
Lalu bila di lihat dari keberadaan kelembagaan TKPK Kabupaten Bengkalis se akan-akan belum disadarai oleh dinas/instansi , padahal pembentukan kelembagaan ini adalah atas dasar komitmen dan keseriusan seluruh stakeholders yang ada, hal inilah merupakan suatu kekeliruan yang harus di angkat kembali kepermukaan tentang keberadaan kelembagaan TKPK Kabupaten Bengkalis, sehingga mencerminkan suatu kelembagaan yang berdiri sendiri dengan memfasilitasi semua unsur lintas pelaku dalam berusaha mengurangi angka kemiskinan bersama-sama di negeri ini.
Kemudian bila dikaji kembali dari Surat Keputusan Bupati Bengkalis Nomor 426/KPTS/VIII/2007, tentang terbentuknya kelembagaan TKPK Kabupaten Bengkalis bahwa kehadiran peran dan fungsi kelembagaan TKPK Kabupaten Bengkalis dalam upaya penanggulangan kemiskinan sangat di butuhkan dan harus diaktifkan sebagai suatu wadah dan forum konsultasi publik organisasi dengan melibatkan berbagai unsur pemerintah dan masyarakat meliputi Dunia Usaha, Tokoh agama, Perguruan Tinggi dan Lembaga Swadaya Masyarakat dan Instansi Pemerintah terkait, untuk menjadikan kelembagaan TKPK Kabupaten Bengkalis sebagai gerbang dalam penanggulangan kemiskinan
di Kabupaten Bengkalis yang memfasilitasi semua unsur lintas pelaku yang mempunyai perhatian bersama-sama terhadap kemiskinan.
Guna mewujudkan keberadaannya, kelembagaan TKPK Kabupaten Bengkalis harus dapat menampung semua aspirasi masyarakat miskin, baik yang berasal dari aras kabupaten, aras kecamatan dan aras desa. Oleh karena itu Kelembagaan TKPK Kabupaten Bengkalis harus menjadi pusat informasi berbagai program kebijakan pelaksanaan penanggulangan kemiskinan di Kabupaten Bengkalis dan tetap akses menjalin kerjasama dengan forum lintas pelaku lainnya termasuk pemerintah, dunia usaha maupun BUMD dan masyarakat melalui kebijakan politik Pemerintah Daerah dalam hal ini Bupati.
Jika dilihat peranan pemerintah memang sangat dominan dalam penanganan masalah kemiskinan, hal ini di temui dalam hasil kajian bahwa peranan pemerintah lebih dominan daripada peranan kelompok masyarakat, sebagaimana di jelaskan secara teoritis bahwa pernyataan ini tepat,Pemerintah Daerah Kabupaten Bengkalis sebagai daerah otonom mengemban tugas, peluang dan tanggungjawab yang lebih kompleks di dalam hal kesejahteraan masyarakat dan Pemerintah Daerah merupakan kunci bagi penentuan kebijakan yang paling tepat dan efektif karena menghadapi jarak spasial yang lebih dekat dengan penduduk miskin itu sendiri, dan perlu suatu ketetapan dan aturan serta ketegasan melalui Peraturan Daerah yang mengikat dalam menjalin kerjasama dengan perusahaan atau pihak swasta, sehingga dalam pelaksanaannya tetap sesuai dengan jalur hukum yang telah disetujui bersama- sama.
Supaya tugas dan fungsi kelembagaan TKPK Kabupaten Bengkalis berjalan secara sistematis, efisien dan efektif serta berkelanjutan perlu dibentuk
sub-sub kelembagaan di wilayah-wilayah tertentu sehingga program kebijakan pemerintah terfasilitasi, tepat sasaran dan bermanfaat bagi masyarakat miskin terutama masyarakat yang jauh di pelosok desa dan tepi-tepi pantai yang sulit di jangkau karena kondisi serta karakteristik wilayah Kabupaten Bengkalis yang penduduknya tersebar di daratan dan pulau-pulau, keberadaan sub-sub kelembagaan ini sangat cocok serta sangat mendukung program pengentasan kemiskinan di wilayah terpencil sehingga dapat meningkatkan kapasitas kelembagaan di Pemerintahan kecamatan dan Pemerintah Desa/Kelurahan dan seluruh kekuatan lintas pelaku di kecamatan dan desa dapat di manfaatkan secara optimal dengan melakukan aksi pemberdayaan yang di kembangkan dengan prinsip-prinsip pembangunan partisipatif masyarakat, sub-sub kelembagaan ini dapat menciptakan peluang kerja, dan di atas itu semua, yang paling utama lagi adalah akan memudahkan terbentuknya pengelompokan-pengelompokan penanganan kemiskinan di daerah.
Keberadaan sub kelembagaan ini sangat penting terutama dapat menyalurkan bantuan agar lebih tepat sasaran, memberi informasi kepada masyarakat tentang perkembangan yang ada seperti adanya program pemerintah dalam menghadapai masa-masa krisis pangan dan energi seperti keadaan sekarang ini, guna dapat menyalurkan bantuan langsung tunai kepada masyarakat miskin sehingga program pemerintah akan lebih efisien dan dapat dimanfaat serta dirasakan langsung oleh masyarakat miskin.
Sub-sub kelembagaan ini dapat dibagi atas sub kelembagaan wilayah I terdiri dari Kecamatan Bantan, Kecamatan Bukit Batu, Kecamatan Siak Kecil dan Kecamatan Bengkalis, sedangkan sub kelembagan wilayah II meliputi wilayah
Kecamatan Mandau, Kecamatan Rupat, Kecamatan Rupat Utara, dan Kecamatan Pinggir, kemudian sub kelembagaan wilayah III terdiri dari wilayah Kecamatan Merbau, Kecamatan Tebing Tinggi, Kecamatan Tebing Tinggi Barat serta Kecamatan Ransang.
Kemudian sebagaimana dalam keputusan Bupati mengenai kelembagan TKPK Kabupaten Bengkalis, selama ini terbentuknya kelembagaan ini lebih mengandalkan peran aktif unsur dinas/instansi yang ada dalam lingkup Pemerintah Kabupaten Bengkalis dan belum pernah melibatkan peran serta dunia usaha dan masyarakat sebagai pemangku kepentingan yang ikut berperan bagi berkembangnya kelembagaan TKPK Kabupaten Bengkalis, padahal dengan di ikut sertakan peran aktif Dunia Usaha dan Badan Usaha Milik Daerah, Pemerintah kabupaten Bengkalis dapat menggandeng forum ini dengan kekuatan yang di miliki berupa kebijakan politik kepemimpinan daerah untuk dapat berpartisipasi dalam upaya pengurangan kemiskinan, serta mempunyai kesempatan yang besar dalam mengembangkan kelembagaan TKPK Kabupaten Bengkalis, mengingat pihak perusahaan yang ada di Kabupaten Bengkalis ada yang peduli dengan masyarakat dan lingkungannya dan peluang ini harus di manfaatkan oleh Pemerintah Kabupaten Bengkalis karena disana terdapat penyertaan pendanaan dari pihak swasta yang di distribusikan untuk penanggulangan kemiskinan di sekitar perusahaan bahkan perusahaan juga mempunyai rencana kegiatan untuk menyentuh masyarakat yang jauh di pedesaan, hal ini sejalan dengan kegiatan sub-sub kelembagaan apabila dilaksanakan sesuai dengan peraturan daerah dan ketentuan yang di buat dalam jalinan kerjasama antara Pemerintah Kabupaten Bengkalis dengan pihak swasta serta Badan-badan Usaha Milik Daerah lainnya.
Dengan demikian pengembangan kelembagaan TKPK Kabupaten Bengkalis dapat berjalan secara optimal.
Bertitik tolak dari hasil kajian ini, untuk meningkatkan kharisma kelembagaan TKPK Kabupaten Bengkalis agar dalam penyelenggaraannya lebih leluasa baik untuk hubungan keluar pemerintahan maupun untuk mengadakan hubungan ke dalam pemerintahan, serta di pandang keberadaannya dan kehadirannya, sebaiknya susunan organisasi ini di bentuk dalam suatu susunan organisasi baru, dengan ketentuan dan persyaratan sebagai ketua pelaksana sebagai berikut :
1. bukan berasal dari lingkungan birokrat, melainkan berasal dari luar satuan tugas perangkat daerah, sebaiknya pejabat yang telah berakhir masa tugas/ jabatannya namun masih memiliki potensi serta berpengalaman tentang pemberdayaan masyarakat,
2. mempunyai loyalitas yang tinggi terhadap program pemerintah terutama tentang penanggulangan kemiskinan di daerah,
3. mempunyai wawasan dan pengalaman di lapangan tentang kemiskinan serta tentang potensi dan karakteristik wilayah dan permasalahannya,
4. mempunyai perhatian yang besar dan tanggungjawab yang tinggi terhadap upaya penanggulangan dan pengurangan kemiskinan.