BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.2 Hasil Temuan Peneliti
Peranan Komunikasi Bencana Dalam Proses Rehabilitasi dan Rekonstruksi Tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui pesan/informasi apa saja yang dibutuhkan oleh pengungsi yang mengalami bencana.
2. Untuk mengetahui lembaga apa saja yang seharusnya memberikan informasi yang dibutuhkan pengungsi.
3. Untuk mengetahui siapa saja yang berperan dalam menangani korban bencana Gunung Sinabung.
4. Untuk mengetahui bagaimana proses komunikasi bencana dalam menangani bencana Gunung Sinabung.
Oleh karena itu, peneliti melakukan pengamatan langsung dan wawancara mendalam dengan tiga informan yang merupakan subjek dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil wawancara tersebut, maka dapat diuraikan Peranan Komunikasi Bencana Dalam Proses Rehabilitasi dan Rekonstruksi untuk penanganan bencana erupsi Gunung Sinabung.
1. Informan 1 - Humas/Media Centre- Florida Tanggal wawancara : 26 Oktober 2015
Saat pertama kali ditemui, Bu Florida menunjukkan sikap yang sama sekali tidak formal seperti kebanyakan orang humas/media centrepada umumnya. Sikapnya yang .ramah dan welcome, membuat orang betah dan banyak bertanya mengenai data dan informasi erupsi Gunung Sinabung. Di mejanya terdapat tumpukan kertas yang banyak, HT dan handphonenya yang terus bergetar menandakan ada panggilan masuk atau mungkin sekedar pemberitahuan saja. Begitu juga dengan mata dan tangannya yang tidak berhenti berkutat dari layar monitor dan keyboard yang berada dihadapannya.
Sebelumnya, saat diajak untuk memulai wawancara, Bu Florida melihat jam beberapa kali menandakan bahwa waktu yang bisa dia sediakan tidak banyak. Hal ini dikarenakan adanya kabar dari posko pengungsian yang sedang membutuhkan bantuan dari humas/media centre. Bahkan, TNI yang berada di posko utama bersama humas/media centre tersebut sudah bergegas untuk terjun ke posko pengungsian yang membutuhkan bantuan tersebut.
Bu Florida adalah salah satu staf pada bagian humas/media centre. Akses data dan informasi seputar erupsi Gunung Sinabung merupakan tugas utama yang dilakukan. Seperti yang dijelaskan Bu Florida yaitu,
“Banyak sekali, mulai dari menghimpun data pengungsi yang meninggal, melahirkan, sakit dan sebagainya. Selain itu, mengeluarkan data harian mengenai status Gunung Sinabung.”
Selama proses penanganan darurat bencana erupsi Gunung Sinabung berjalan, humas/media centre akan terus memperbaharui setiap data dan informasi yang akan dikeluarkan setiap harinya. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya kekeliruan dalam proses penanganannya. Sesuai penjelasan Bu Florida yaitu,
“PVMBG akan upgrade data ke grup what’s up untuk Laporan Gunung Sinabung. Setiap 6 jam sekali data akan di update seiring dengan perkembangan gunung. Kemudian, PVMBG menghimpun data ke media centre dan disebar melalui radio komunikasi.” Radio komunikasi merupakan salah satu alat yang dimanfaatkan untuk mempercepat proses penyebaran informasi dan evakuasi. Penempatan radio komunikasi yang tidak merata tidak menjadi kendala yang berarti dalam penanganan darurat bencana erupsi Gunung Sinabung ini.
“Nah, itu dia, kondisinya tidak semua posko punya radio komunikasi. Jadi, kekurangan ini disiasati dengan cara memberikan HP ke setiap posko. Selain itu juga diberikan jaringan internet yang berkoordinasi dengan kominfo dan telkomsel.”
Akses data dan informasi melalui humas/media centre ini banyak dimanfaatkan oleh masyarakat dan pengungsi pada khususnya. Kesalahan data dan informasi mengenai erupsi Gunung Sinabung ini akan sangat berpengaruh terhadap tindakan dari tim penanganan begitu juga dengan pengungsi sebagai korban dari bencana ini. Berada di posko pengungsian yang memakan waktu lebih dari 2 tahun ternyata menjadi kekhawatiran tersendiri bagi pengungsi untuk mendapatkan setiap data dan informasi.
Saat ditanya mengenai kendala yang dihadapi ketika menyebar informasi, Florida menjawab,
“Kadang informasi tentang data pengungsi ada perbedaan dengan kondisi di lapangan. Hal ini dikarenakan proses evakuasi yang belum merata. Informasi harus diperbaharui terus-menerus untuk bisa lebih update. Hal ini disebabkan karena status gunung yang tidak stabil.”
Informasi yang disebar merupakan pedoman bagi pengungsi dan masyarakat untuk melakukan aktivitas di luar posko pengungsian, terutama bagi pengungsi yang kembali ke kampung halamannya untuk melihat situasi tempat tinggalnya. Apalagi mereka yang berada dalam radius 5 km dari Gunung Sinabung. Media centre merupakan salah satu jaminan yang bisa dipercaya oleh pengungsi dan masyarakat pada umumnya. Seperti yang dijelaskan Bu Florida, yaitu,
“Tentu saja, media centre sudah membekali posko-posko dengan alat komunikasi seperti radio komunikasi, HT, handphone, jaringan internet untuk mempermudah akses informasi. Jadi, kesalahan informasi cepat tersebar dan dapat diminimalisir dengan segera dengan cara pembaharuan informasi yang terus update. Jadi, untuk update informasi anda bisa mengaksesnya melalui website kab.karo yaitu :
update, tapi karena adanya media centre ini, setiap hari bisa akses data dan informasi.” Status gunung yang tidak stabil tidak terlalu menyulitkan proses evakuasi. Erupsi yang terjadi secara tiba-tiba tidak menjadi kendala yang berarti dengan pemanfaatan media centre ini. Sampai pada saat ini, informasi mengenai status Gunung Sinabung masih dalam keadaan awas (level IV). Sesuai dengan yang dijelaskan Bu Florida, yaitu,
“Status Gunung Sinabung tanggal 26 Oktober 2015 Laporan Gunung Sinabung, 26 oktober 2015 Pkl. 00.00 – 06.00 WIB
Visual :
Cuaca mendung – berawan, angin tenang dan suhu udara 17 – 180C, G. Sinabung tertutup kabut ( asap).
SEISMISITAS :
1 x LF ; Amax : 10 mm ; Lg : 55 dtk.
3 x Hybird ; Amax : 4 – 40 mm : Lg : 12 – 45 dtk.
Tremor menerus, Pkl. 00:00 – 06:00 ; Amax : 0,5 – 1 mm ( dominan 0,5 mm). 1 x Tektonik jauh ; Amax : 58 mm ; S – P : 33 dtk ; Lg : 230 dtk.
17 x Guguran ; Amax : 2 – 70 mm ; S-P : 33 dtk ; Lg : 230 dtk. KESIMPULAN :
Gunung Sinabung awas ( Level IV ) ; Info G. Sinabung ;
26 Oktober 2015 ; Pkl. 08:34 WIB ;
Terjadi awan panas guguran dengan jarak linear 3.500 meter kea rah Tenggara – Timur dan tinggi kolom abu tertutup kabut ( menggunakan kamera thermal).
Angin kea rah Barat – Barat Laut. Info erupsi G. Sinabung ;
26 Oktober 2015 ; Pkl. 07:35 WIB ;
Terjadi awan panas guguran dengan jarak linear tidak teratur ( tertutup kabut asap ). Laporan G. Sinabung, 26 Oktober 2015 ;
Pkl. 06:00 – 12.00 WIB Visual :
Cuaca mendung , angin tenang – perlahan ke Barat ,dan suhu udara 17 – 280 C.
G.Sinabung tertutup kabut.
Terjadi 2x awan panas guguran dengan jarak linear 3.500 meter kearah Tenggara – Timur dan tinggi kolom tertutup kabut ( menggunakan kamera thermal ).
SEISMISITAS :
2x LF ; Amax : 4 – 6 mm ; Lg : 8 – 10 dtk
Tremor menerus, Pkl. 06:00 – 12:00 WIB ; Amax : 0,5 – 2 mm ( dominan 0,5 mm ); 16 z guguran ; Amax : 6 – 120 mm ; Lg : 31 – 409 dtk.
KESIMPULAN :
G. Sinabung Awas ( level IV ).”
Data dan informasi mengenai pengungsi juga banyak mengalami perubahan tergantung situasi dan kondisi yang sedang berjalan. Hal ini dikarenakan sebagian dari pengungsi sudah bosan dan jenuh selama dua tahun berada di posko pengungsian. Kemudian mereka melanjutkan hidup dan kehidupannya di daerah yang jauh dari erupsi gunung. Termasuk bagi pengungsi dari desa Bekerah dan desa Simacem yang sedang dalam tahap relokasi di desa Siosar.
Ketika ditanyakan mengenai data dan informasi pengungsi, Bu Florida menjawab,
“Pengungsi berjumlah dengan 2615 KK atau 9523 Jiwa. Pengungsi ditempatkan di 9 titik posko pengungsian atau penampungan dengan disertakan penanggung jawab untuk setiap poskonya. Untuk lebih jelasnya anda dapat membuka website Kabupaten Karo di
Web merupakan salah satu alat yang bisa dimanfaatkan untuk akses data dan informasi dari internet melalui media centre. Selain itu, pemanfaatan FAX juga bisa dimaksimalkan untuk proses pengiriman surat kepada pihak terkait mengenai penanganan darurat bencana erupsi Gunung Sinabung ini. Hal ini jelas terlihat seperti yang dikatakan Bu Florida, yaitu,
“Sebelumnya, ada dua posko ditutup karena sudah menerima sewa rumah dan sewa lahan kemudian media centre melalui FAX mengirim surat ke banyak pihak untuk akses informasi tersebut. Termasuk camat yang bersangkutan, BNPB, BPBD dan lainnya. Perangkat desa juga merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam penanganan darurat bencana ini. Semua pihak dilibatkan dalam penanganan bencana ini. Proses ini dilakukan untuk mempermudah dan mempercepat proses penanganannya. Hal ini diakui oleh Bu Florida dalam wawancaranya,
“Peranan BANKOM , ARON (perangkat desa), BALUR (sekretaris desa), melalui radio komunikasi sangat banyak berpengaruh terhadap tindakan di lapangan untuk lebih cepat dalam hal akses data dan informasi. Jadi, semua dilibatkan dalam penanganan bencana
ini demi kelancaran untuk meminimalisir setiap kendala yang dihadapi. Komunikasi dan koordinasi sangat dibutuhkan dalam penanganan bencana ini.”
Sambil melihat jam tangannya dan membereskan mejanya, Bu Florida minta maaf karena tidak bisa meneruskan wawancara. Hal ini disebabkan karena ia harus bergegas ke posko pengungsian, sehingga wawancara selanjutnya dilakukan dengan pihak yang lainnya ke tempat yang berbeda pula.
2. Informan 2 - Jurnalis yang mewakili media - Ngadep Tanggal wawancara: 27 Oktober 2015
Keterbatasan bukanlah satu halangan dalam melakukan sesuatu. Hal itu seharusnya menjadi pemicu semangat untuk bisa menghasilkan yang terbaik. Kata-kata itulah yang disampaikan Pak Ngadep ketika peneliti pertama kali menjumpainya. Pak Ngadep termasuk salah satu tipe orang yang mudah diajak bergaul tanpa memandang kalangan. Keadaan ini membuat suasana menjadi hangat dalam wawancara yang dilakukan.
Ketika ditanyakan mengenai peranan media dalam penanganan darurat bencana erupsi Gunung Sinabung, Pak Ngadep langsung menjawab,
“Kemampuan media dalam menyampaikan informasi saat penanganan darurat bencana erupsi Gunung Sinabung secara akurat akan sangat menentukan dampak seperti apa yang akan terjadi dalam suatu wilayah bencana. Untuk penanganan bencana, jurnalis tidak melebih-lebihkan berita. Menjaga keseimbangan sebagai mata terhadap TIM penanganan bencana. Sifatnya terbuka dalam setiap peliputannya.”
Dalam setiap peliputannya, jurnalis pasti pernah mengalami hambatan dan kendala. Melakukan peliputan di tengah situasi bencana sudah jelas sangat menyulitkan. Apalagi jurnalis yang meliput tidak terlalu mengerti dan memahami soal bencana tersebut.
“Sedikit pasti ada, Cuma bisa diminimalisir oleh jurnalis yang berkomunikasi dengan SATGAS, sehingga setiap kendala dan temuan baru bisa langsung di evaluasi. “Sebelumnya jurnalis pernah keliru menafsirkan kasus awan panas yang memakan korban, rencana pemerintah melakukan pemulangan pengungsi, kemudian jurnalis menafsirkan bahwa pengungsi sudah bisa pulang. Hal tersebut langsung di evaluasi
untuk menghindari korban lainnya agar tidak terulang kejadian yang sampai memakan korban tersebut karena nyawa yang menjadi taruhannya.”
Kemudian peneliti menanyakan soal tindakan yang dilakukan untuk menghindari kekeliruan yang sempat memakan korban tersebut, Pak Terombo langsung menjawab,
“Pada saat berada di lapangan baik itu pada fase pra bencana, saat bencana, semua jurnalis harus berpikiran positif untuk menghindari kekeliruan. Sehingga sifatnya menjadi, apa yang terlihat itulah yang harus diberitakan. Informasi dari media baik itu melalui surat kabar, majalah, televisi dan gambar lainnya mengenai bencana ini sangat berpengaruh terhadap penanganan bencana itu sendiri.”
Media merupakan salah satu akses yang bisa dimanfaatkan korban bencana dalam hal akses informasi. Hal ini sangat penting dalam mengurangi setiap dampak yang terjadi bahkan penyelamatan diri akibat dari erupsi Gunung Sinabung tersebut. Seperti yang dijelaskan Pak Terombo,
“Media dapat memainkan peran sebagai gerbang informasi bagi masyarakat tentang akan terjadinya bencana, dampak bencana, dan bahkan penyelamatan diri karena terjadinya bencana. Para jurnalis harus mempunyai kemampuan dan pemahaman tentang bencana untuk memudahkan jurnalis dalam melakukan liputan di sekitar erupsi Gunung Sinabung. Mempunyai pemahaman mengenai istilah dan pengetahuan tentang berbagai macam bencana. Sehingga tidak salah dalam melakukan peliputan di daerah bencana, yang dapat menimbulkan salah informasi kepada masyarakat. Media massa dapat mengembangkan jurnalisme sensitif bencana dengan tidak mengekspose berlebihan peristiwa, korban, maupun dampak bencana yang dapat menimbulkan ketakutan bagi masyarakat. Selain itu, media massa dapat menjalankan fungsi kendali dan edukasi bagi masyarakat di daerah bencana.
Saat ditanyai tentang bad news is good news dalam peliputan bencana erupsi Gunung Sinabung, Pak Terombo menjawab,
“Bukti tentang berita buruk adalah berita baik dalam praktik jurnalisme bencana erupsi Gunung Sinabung adalah, sepinya peliputan pasca bencana di media massa, selain
dilupakannya soal mitigasi bencana. Walaupun berkali-kali terjadinya erupsi, mitigasi bencana belum menjadi tren dalam pemberitaan media. Media baru sibuk mengejar efek dramatis dan kepedihan setelah bencana menerjang. Sehingga, sangat jarang yang mengingatkan tentang mitigasi bencana.”
Mitigasi bencana adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Mitigasi bencana dilakukan untuk mengurangi risiko dan dampak yang diakibatkan oleh bencana terhadap masyarakat yang berada pada kawasan rawan bencana erupsi Gunung Sinabung. Tetapi mitigasi bencana erupsi Gunung Sinabung seakan luput dari perhatian jurnalis dan media. Seperti yang dijelaskan Pak Terombo,
“Berita itu tak seksi lagi, adalah mantra yang sering terdengar dari mulut wartawan atau editor yang menolak berita yang sudah berulang-ulang dimuat. Walaupun masalah yang dihadapi masyarakat korban bencana belum tuntas, seringkali media tak lagi menampilkan berita dengan alasan tersebut. Secara konvensional, biasanya media menyaring berita yang layak dimuat atatu tidak berdasarkan kriteria, berapa banyak korbannya?seberapa baru kejadiannya?dan apakah kira-kira berita itu akan memuat rating tinggi atau mengeruk iklan yang banyak? Dalam konteks Indonesia, berita soal politik dan hukum, masih menjadi panglima dan seringkali mengalahkan isu-isu bencana.
Paradigma jurnalisme sensitif bencana dalam mengawal rehabilitasi dan rekonstruksi diuji oleh kebijakan media yang menilai berita tentang rehabilitasi dan rekonstruksi tidak semenarik berita pada awal-awal bencana. Berita tentang warga yang berjuang memulihkan dan membangun dirinya terkadang dianggap kurang menarik karena dalil yang sering dipakai media adalah bad news is good news. Makin lama rentang waktu kejadian, makin kurang jumlah wartawan peliput sehingga makin kurang pemberitaannya. Padahal, proses rehabilitasi dan rekonstruksi daerah bencana sering menjadi bencana baru yang tak kalah berbahaya dibandingkan bencana awal. Korupsi, kesenjangan, konflik kepemilikan tanah dan munculnya pemodal besar yang menguasai asset penting dan menyingkirkan masyarakat lokal yang berada dalam kondisi rentan sangat mungkin terjadi karena itu, media seharusnya tetap serius dalam mengawal proses rehabilitasi dan rekonstruksi.
“Rehabilitasi dan rekonstruksi akibat dari bencana erupsi Gunung Sinabung luput dari perhatian kami sebagai jurnalis yang mewakili media. Penanganannya yang masih dalam tanggap darurat bencana membuat jurnalis tidak bisa meliput proses rehabilitasi dan rekonstruksi secara mendalam. Fungsi kontrol media dalam tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi seolah-olah dikesampingkan. Padahal, proses relokasi di desa Siosar sedang berjalan. Jurnalis yang ingin meliput disana dibatasi pergerakannya oleh pihak TNI yang mengawal proses relokasi. Hal ini membukikan bahwa media kehilangan kegarangannya dalam mengawal proses relokasi. Fase rahabilitasi dan rekonstruksi khususnya relokasi bagi pengungsi yang sedang berjalan ini merupakan peran penting media pada fungsi kontrol sosial. Proses relokasi ini banyak penyimpangan yang berpotensi terjadi. Media sebagai kontrol sosial berkewajiban terus-menerus memelototi lembaga-lembaga yang menjadi saluran gelontoran uang untuk relokasi bagi pengungsi ini. Media wajib menyalak sekeras-kerasnya bila lembaga tersebut menununjukkan tanda-tanda penyimpangan. Terbatasnya ruang gerak media membuat proses relokasi ini luput bahkan hilang dari perhatian media.”
Saat ditanyai tentang politisasi penanganan bencana erupsi Gunung Sinabung, Pak Ngadep langsung menjawab,
“Saat ini, penanggulangan bencana yang dijalankan pemerintah masih lambat, berbelit-belit dan birokratis. Bahkan ada pihak alih-alih berpikir mencari jalan keluar memperkuat manajemen bencana, malah menjadikan bencana sebagai ajang kampanye politik. Bendera partai dan foto-foto calon pejabat bertebaran, yang seringkali jauh lebih leboh daripada besarnya bantuan yang dikucurkan.”
3. Informan 3 - Perwakilan dari Pemkab Karo - Gelora Tanggal wawancara : 28 Oktober 2015
Satu-satunya perwakilan dari Pemkab Karo yang dapat diwawancarai adalah Pak Gelora Ginting. Hampir semua pegawai Pemkab Karo sulit ditemui akibat aktivitas dan kesibukannya masing-masing. Keadaan tersebut tidak mempengaruhi hasil wawancara yang diperoleh dari Pak Gelora Ginting. Hasil wawancara yang diperoleh masuk dalam kategori sangat memuaskan.
Kebetulan Pak Gelora merupakan mantan Sekretaris BNPB Pusat. Jadi, informasi yang diperoleh dari Pak Gelora sangat membantu dalam penelitian ini.
Saat pertama kali ditemui, Pak Gelora sedang break di kantor dan berbincang-bincang dengan beberapa staff yang sedang berada di ruangan tersebut. Pak Gelora mampu untuk menjawab setiap pertanyaan yang diajukan. Setiap kali diajukan pertanyaan, ia menjawabnya dengan panjang lebar. Ia mengaku sudah terbiasa untuk diwawancarai. Tapi, tidak banyak waktu yang bisa ia luangkan dalam wawancara tersebut.Keadaan yang diungkapkannya tersebut terbukti dengan telepon genggamnya yang berbunyi terus selama wawancara berlangsung. Namun, itu bukan jadi satu penghalang bagi peneliti untuk mendapatkan informasi darinya.
Ketika ditanyakan hal apa yang mendasari terjadinya erupsi Gunung Sinabung, Pak Gelora langsung menjawab,
“Ya, bahwa wilayah Kabupaten Karo memiliki kondisi geografis, hidrologis dan demografis yang memungkinkan terjadinya bencana, baik disebabkan oleh faktor alam, faktor non alam maupun faktor manusia yang menyebabkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis yang dalam keadaan tertentu dapat menghambat pembangunan daerah.”
Erupsi Gunung Sinabung merupakan tantangan baru bagi Pemkab Karo. Gunung yang selama ini diam tiba-tiba bangun dari tidurnya kemudian berangsur-angsur dan berlangsung hingga saat ini merupakan masalah baru bagi Pemkab Karo. Bencana ini belum pernah terjadi sejak ratusan tahun yang lalu. Kerugian akibat bencana ini sangat dirasakan baik itu oleh korban bencana maupun masyarakat Karo lainnya. Pak Gelora juga menjelaskan proses penanganan yang dilakukan selama erupsi Gunung Sinabung terjadi.
“Dalam penanggulangan bencana perlu adanya koordinasi dan penanganan yang cepat, tepat, efektif, efisien, terpadu dan akuntabel agar korban jiwa dan kerugian harta benda dapat diminimalisir. Penanggulangan bencana, khususnya pada saat tanggap darurat bencana harus dilakukan secara cepat, tepat dan dikoordinasikan dalam satu komando.” Saat ditanyakan mengenai maksud dari satu komando tersebut, Pak Gelora langsung menjawabnya dengan penuh semangat.
“Untuk melaksanakan penanganan tanggap darurat bencana ini,maka pemerintah Kabupaten Karo yang diwakili oleh kepala BPBD Kabupaten Karo sesuai dengan kewenangannya dapan menunjuk seorang pejabat sebagai komandan penanganan tanggap darurat bencana sesuai dengan Peraturan Pemerintah No.21 Tahun 2008 pasal 47 ayat 2. Hal ini dimaksudkan sebagai upaya memudahkan akses untuk memerintahkan sektor dalam pemerintahan dan pengerahan SDM, perizinan, pengadaan barang/jasa, pengelolaan dan pertanggungjawaban atas uang dan barang serta penyelamatan. Untuk melaksanakan akses tersebutlah makanya perlu dibentuk Komando Tanggap Darurat Bencana.”
Pemkab Karo berusaha untuk mempercepat proses penanganan bencana erupsi Gunung Sinabung. Dengan tujuan mengurangi dan meminimalisir kerugian akibat dari erupsi gunung ini. Kemudian, Pemkab Karo membentuk tim penanganan darurat bencana erupsi Gunung Sinabung. “Sama dengan penanganan kasus lainnya, semua ada tahapannya. Jadi, tahapan pembentukan Tanggap Darurat Bencana ini harus dilaksanakan secara keseluruhan menjadi satu rangkaian sistem komando yang terpadu.”
Kemudian, Pak Gelora menjawab seputar tahapan yang dilakukan Pemkab Karo dalam pembentukan tim penanganan bencana ini.
“Tahapan pembentukan Tanggap Darurat Bencana ini terdiri dari 4 tahap yaitu:Informasi kejadian awal bencana, Penugasan Tim Redaksi Cepat (TRC), Penetapan status/ tingkat bencana dan Pembentukan Komando Tanggap Darurat Bencana.”
Dalam setiap penanganan bencana haruslah dilakukan perencanaan, pengorganisasian, pendorongan dan pengendalian. Hal ini dimaksudkan untuk mempercepat dan memudahkan proses penanganan yang akan dilakukan. Tim yang dibentuk harus mampu memberikan yang terbaik terhadap korban bencana. Begitu juga saat Pak Gelora menjelaskan satu per satu dari keempat tahapan pembentukan tanggap darurat bencana tersebut.
“Baiklah, yang pertama itu adalah informasi kejadian awal bencana. Informasi ini diperoleh dari beberapa sumber antara lain pelaporan, media massa, instansi/lembaga
terkait, masyarakat, internet atau informasi lain yang dapat dipercaya. BNPB dan atau BPBD melakukan klarifikasi kepada instansi/lembaga/ masyarakat di lokasi bencana.” Informasi kejadian awal bencana merupakan dasar dalam pembentukan tanggap darurat bencana. Seperti yang dijelaskan Pak Gelora,
“Informasi yang diperoleh dapat dilakukan dengan menggunakan rumusan pertanyaan terkait bencana yang terjadi. Misalnya seperti ini:
Apa : Jenis bencana
Bilamana : Hari, tanggal, bulan, tahun, jam, waktu setempat Dimana : Tempat, lokasi, daerah bencana (kecamatan) Penyebab : Penyebab terjadinya bencana
Bagaimana : Upaya yang telah dilakukan
Informasi kejadian awal bencana disusun dengan rumusan pertanyaan 5W+1H. Sesuai dengan penjelasan dari Pak Gelora,
1. What = apa : Dalam hal ini, bencana erupsi gunung Sinabung termasuk dalam kategori bencana alam.
2. When= Kapan : Bencana erupsi gunung Sinabung ini terjadi pada tahun 2010 yang lalu. Letusan terakhir gunung ini sejak September 2013 dan berlangsung hingga kini.
3. Where = Dimana: Bencana ini terjadi di Kabupaten Karo.
4. Who = Siapa/ Berapa: Jumlah orang yang tewas akibat bencana ini sebanyak 15 orang. Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas 6 km dari kawah aktif diungsikan dari tempat yang lebih aman. Pengungsi berasal dari Kecamatan payung, Kecamatan Tiga Nderket, Kecamatan Simpang Empat dan Kecamatan Naman Teran. Sementara itu yang berada dalam radius 3 km, yang bermukim di Kec.Payung (Desa Suka Meriah) dan