• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

C. Hasil Uji Efek Anti inflamasi

g ) 15 30 45 60 w ak tu (m e nit)

Gambar 13. Diagram batang rata-rata berat udema kaki mencit hasil uji pendahuluan penetapan waktu pemberian ekstrak etanol daun senggani.

C. Hasil Uji Efek Anti inflamasi

Penelitian uji efek anti inflamasi dilakukan untuk mengetahui apakah ekstrak etanol daun senggani mempunyai efek anti inflamasi sekaligus besarnya kemampuan ekstrak etanol daun senggani sebagai anti inflamasi. Efek anti inflamasi yang dimaksud adalah kemampuan ekstrak etanol daun senggani untuk mengurangi pembengkakan kaki hewan uji akibat injeksi karagenin 1% secara subplantar. Efek anti inflamasi dilihat dari berat udema akibat pemberian ekstrak etanol daun senggani

dan penginduksian karagenin. Pengurangan udema memperlihatkan adanya efek anti inflamasi akibat pemberian ekstrak etanol daun senggani.

Uji efek anti inflamasi ekstrak etanol daun senggani ini menggunakan metode induksi udema pada kaki belakang mencit. Efek anti inflamasi yang dtimbulkan dapat dihitung dengan persen respon anti inflamasi menurut Langford et al. (1972). Data persen respon anti inflamasi ekstrak etanol daun senggani dibandingkan dengan kontrol, baik kontrol positif (natrium diklofenak) maupun kontrol negatif (karagenin dan CMC-Na). Metode ini dipilih karena caranya sederhana, baik dari perlakuan, pengamatan, pengukuran, tidak membutuhkan alat yang banyak dan rumit, lebih hemat waktu dibanding uji lainnya, maupun pengolahan datanya.

Pada perlakuan uji anti inflamasi hewan uji dibagi dalam tujuh kelompok, kelompok I merupakan kelompok karagenin 1% sebagai zat peradang. Kelompok II merupakan kontrol negatif CMC-Na 1%. Kelompok III merupakan kelompok natrium diklofenak dosis 9,75 mg/kgBB sebagai kontrol positif. Kelompok IV, V, VI, dan VII merupakan kelompok perlakuan menggunakan ekstrak etanol daun senggani dengan dosis masing-masing 850 mg/kg BB, 1000 mg/kg BB, 1330 mg/kg BB, dan 1670 mg/kg BB.

Kelompok karagenin 1% nantinya digunakan untuk menghitung persen anti inflamasi dari setiap kelompok perlakuan. Karagenin biasa digunakan sebagai penginduksi inflamasi karena sifatnya yang tidak merusak jaringan saat digunakan untuk memprediksi potensial terapetik obat-obat anti inflamasi steroid ataupun non steroid. Pada kelompok ini mencit diperlakukan sama seperti saat uji pendahuluan, dimana 0,05 ml suspensi karagenin 1% diinjeksikan pada kaki kiri belakang,

sedangkan kaki kanan hanya diinjeksi tanpa suspensi karagenin. Saat menginjeksi secara subplantar harus hati-hati, jarum jangan terlalu masuk ke dalam, diusahakan tepat di bawah lapisan kulit telapak kaki. Hal tersebut perlu diperhatikan agar tidak menimbulkan pendarahan ataupun luka yang terlalu banyak sehingga bisa mempengaruhi udema yang terjadi. Setelah 3 jam kedua kaki dipotong pada sendi torsocrural dan ditimbang. Berat udema merupakan hasil pengurangan berat kaki kiri dengan kaki kanan.

Pada kelompok II atau kontrol negatif CMC-Na 1%, setiap mencit diberi perlakuan per oral CMC-Na 1% dengan volume pemberian maksimal untuk mencit 30 g adalah 1 ml. CMC-Na 1% dipilih sebagai kontrol negatif karena digunakan sebagai pelarut natrium diklofenak dan ekstrak etanol daun senggani. Dengan adanya kelompok ini kita bisa mengetahui apakah CMC-Na 1% memberikan pengaruh terhadap udema yang diinduksi karagenin 1% atau tidak. Pemberian CMC-Na 1% dilakukan 30 menit sebelum injeksi karagenin mengikuti uji pendahuluan waktu pemberian ekstrak etanol daun senggani.

Kelompok kontrol positif dipilih natrium diklofenak karena obat ini termasuk NSAID yang terkuat efek anti radangnya dengan efek samping yang kurang keras dibanding dengan obat anti inflamasi non steroid lainnya (Tjay dan Rahardja, 2002). Dikatakan kurang keras karena aktifitas natrium diklofenak lebih selektif pada COX-2 sehingga efek samping gangguan pencernaan tidak banyak ditemukan. Dengan pembanding natrium diklofenak ini diharapkan bisa menemukan obat baru yang mendekati, sama, atau bahkan lebih baik efek anti inflamasinya dan lebih kecil efek sampingnya. Dosis natrium diklofenak yang dipakai adalah 9,75 mg/kg BB dengan

waktu pemberian adalah 30 menit sebelum injeksi karagenin, yang pada uji pendahuluan memberikan rata-rata berat udema paling kecil.

Kelompok IV, V, VI, dan VII adalah kelompok perlakuan dosis ekstrak etanol daun senggani. Mencit pada tiap kelompok diberi ekstrak etanol daun senggani sesuai dosis masing-masing yaitu 850 mg/kg BB, 1000 mg/kg BB, 1330 mg/kg BB, dan 1670 mg/kg BB (kelipatan dosis menggunakan faktor perkalian 1,25), 30 menit kemudian diinjeksi karagenin dan setelah 3 jam dikorbankan, dipotong kedua kakinya dan ditimbang.

Pada perlakuan diperoleh bahwa berat rata-rata udema pada kelompok karagenin 1% sebesar 0,0923 g, kelompok kontrol CMC-Na 1% sebesar 0,0918 g, kelompok kontrol positif natrium diklofenak sebesar 0,0398 g, kelompok dosis senggani 850 mg/kg BB sebesar 0,0824 g, dosis 1000 mg/kg BB sebesar 0,0816 g, dosis 1330 mg/kg BB sebesar 0,0621 g, dan dosis 1670 mg/kg BB sebesar 0,0692 g.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan kontrol karagenin 1% memberikan berat udema paling besar diantara kelompok perlakuan lainnya. Kelompok kontrol CMC-Na 1% juga menghasilkan rata-rata berat udema yang besar. Ini berarti karagenin 1% dan CMC-Na 1% tidak memiliki efek anti inflamasi. Berat udema paling kecil dihasilkan oleh perlakuan kontrol natrium diklofenak. Hal ini dikarenakan natrium diklofenak merupakan obat AINS yang telah terbukti mempunyai efek anti inflamasi yang tinggi. Selain itu natrium diklofenak termasuk salah satu obat anti inflamasi non steroid dan memiliki profil sebagai COX-2 prefernential inhibitor (Kasjmir, 2002) dimana natrium diklofenak mampu menekan

COX-2 yang menfasilitasi terjadinya respon inflamasi (Furst dan Munster, 2002). Oleh karena itu natrium diklofenak digunakan sebagai kontrol positif.

Hasil uji perlakuan berupa data rata-rata berat udema kaki mencit akibat pemberian ekstrak etanol daun senggani dalam empat peringkat dosis beserta kontrolnya, dapat dilihat pada lampiran 14 diperjelas dengan diagram batang yang ditampilkan pada gambar 14.

0 0,02 0,04 0,06 0,08 0,1 ra ta -r a ta u d e m a (g ) I II III IV V VI VII kelompok perlakuan

Gambar 14. Diagram batang rata-rata berat udema kaki mencit akibat perlakuan ekstrak etanol daun senggani dalam 4 peringkat dosis beserta kontrolnya.

Keterangan :

I : kelompok kontrol (-) injeksi karagenin 1 % II : kelompok kontrol (-) pemberian CMC-Na 1%

III : kelompok kontrol (+) pemberian natrium diklofenak 9,75 mg/kg BB IV : kelompok perlakuan EEDS dengan dosis 850 mg/kg BB

V : kelompok perlakuan EEDS dengan dosis 1000 mg/kg BB VI : kelompok perlakuan EEDS dengan dosis 1330 mg/kg BB VII : kelompok perlakuan EEDS dengan dosis 1670 mg/kg BB EEDS : Ekstrak Etanol Daun Senggani

Hasil penelitian tersebut selanjutnya dicari persen efek anti inflamasinya menurut metode Langford. Hasil perhitungan persentase efek anti inflamasi menunjukkan kontrol negatif CMC-Na 1% sebesar 0,54%, pada kontrol positif natrium diklofenak punya efek anti inflamasi sebesar 56,90%, pada dosis 850 mg/kgBB sebesar 10,75%, pada dosis 1000 mg/kgBB sebesar 11,57%, pada dosis 1330 mg/kgBB sebesar 32,67%, dan dosis 1670 mg/kgBB punya efek anti inflamasi sebesar 25,07%.

Data persen (%) efek anti inflamasi distatistik uji Kolmogorov-Smirnov, ternyata mempunyai nilai signifikansi sebesar 0,416 yang berarti nilai signifikansinya > 0,05 sehingga dapat dikatakan distribusinya normal atau homogen. Kemudian dilanjutkan dengan analisis anova satu arah dengan taraf kepercayaan 95%, terlihat pada tabel IX berikut ini.

Tabel IX. Rangkuman hasil anova satu arah dengan taraf kepercayaan 95 % persentase efek anti inflamasi ekstrak etanol daun senggani dalam empat peringkat dosis beserta kontrolnya

Keterangan df F Probabilitas (p)

Persentase efek anti inflamasi antar kelompok

perlakuan

6 168,989 0,000

Hasil analisis statistik anava satu arah menunjukkan bahwa data antar kelompok perlakuan hasil yang signifikan (p<0,05). Selanjutnya dilakukan uji Shceffe untuk mengetahui perbandingan antar kelompok yang memiliki perbedaan yang bermakna dan tidak bermakna. Hasil uji Shceffe dapat dilihat pada tabel XI berikut ini.

Tabel X. Data berat udema kaki mencit, persentase efek anti inflamasi, dan uji Shceffe pada perlakuan ekstrak etanol daun senggani dalam empat peringkat dosis beserta kontrolnya

Hasil Uji Scheffe terhadap Klp Mean BU ± SE (g) n Respon A-I % Klp I Klp II Klp III Klp IV Klp V Klp VI Klp VII I 0,0923 ± 0,0024 5 0 - tb bb bb bb bb bb II 0,0918 ± 0,0007 5 0,54 tb - bb bb bb bb bb III 0,0398 ± 0,0015 5 56,90 bb bb - bb bb bb bb IV 0,0824 ± 0,0016 5 10,75 bb bb bb - tb bb bb V 0,0816 ± 0,0017 5 11,57 bb bb bb tb - bb bb VI 0,0621 ± 0,0019 5 32,67 bb bb bb bb bb - tb VII 0,0692 ± 0,0016 5 25,07 bb bb bb bb bb tb - Keterangan : BU : Berat udema SE : Standar Eror bb : berbeda bermakna tb : berbeda tidak bermakna A-I : Anti inflamasi

n : jumlah mencit

I : kelompok kontrol (-) injeksi karagenin 1 % II : kelompok kontrol (-) pemberian CMC-Na 1%

III : kelompok kontrol (+) pemberian natrium diklofenak 9,75 mg/kg BB IV : kelompok perlakuan EEDS dengan dosis 850 mg/kg BB

V : kelompok perlakuan EEDS dengan dosis 1000 mg/kg BB VI : kelompok perlakuan EEDS dengan dosis 1330 mg/kg BB VII : kelompok perlakuan EEDS dengan dosis 1670 mg/kg BB EEDS : Ekstrak Etanol Daun Senggani

Data persen efek anti inflamasi kelompok kontrol negatif CMC-Na 1%, kelompok kontrol positif natrium diklofenak, dan empat peringkat dosis ekstrak etanol daun senggani beserta contoh perhitungannya dapat dilihat pada lampiran 15. Besarnya respon atau persen efek anti inflamasi antar kelompok bisa ditunjukkan pada gambar 15.

0 10 20 30 40 50 60 p e rse n e fek an ti i n fl a m as i ( % ) I II III IV V VI VII

k e lom pok pe rlak uan

Gambar 15. Diagram batang persentase efek anti inflamasi perlakuan ekstrak etanol daun senggani beserta kontrolnya

Keterangan :

I : kelompok kontrol (-) injeksi karagenin 1 % II : kelompok kontrol (-) pemberian CMC-Na 1%

III : kelompok kontrol (+) pemberian natrium diklofenak 9,75 mg/kg BB IV : kelompok perlakuan EEDS dengan dosis 850 mg/kg BB

V : kelompok perlakuan EEDS dengan dosis 1000 mg/kg BB VI : kelompok perlakuan EEDS dengan dosis 1330 mg/kg BB VII : kelompok perlakuan EEDS dengan dosis 1670 mg/kg BB EEDS : Ekstrak Etanol Daun Senggani

Berdasarkan perhitungan persen efek anti inflamasi kelompok kontrol negatif CMC-Na 1% memberikan hasil perbedaan tidak bermakna dengan kontrol negatif karagenin 1% sedangkan dengan kelompok perlakuan lainnya memberikan hasil berbeda bermakna. Persentase efek anti inflamasi CMC-Na 1% yaitu sebesar 0,54%. Karena nilainya kecil, hampir mendekati 0%, maka CMC-Na 1% sebagai kontrol negatif dianggap tidak memberikan efek anti inflamasi pada saat digunakan sebagai pelarut ekstrak etanol daun senggani.

Kelompok IV dosis 850 mg/kgBB, kelompok V dosis 1000 mg/kgBB, kelompok VI dosis 1330 mg/kgBB, dan kelompok VII dosis 1670 mg/kgBB menujukkan perbedaan bermakna baik dengan kelompok kontrol negatif karagenin 1%, CMC-Na 1%, maupun kelompok kontrol positif natrium diklofenak. Hal ini berarti keempat peringkat dosis tersebut memiliki efek anti inflamasi hanya saja relatif lebih kecil bila dibandingkan dengan kontrol positif natrium diklofenak, karena kurang mampu dalam menghambat atau mereduksi terjadinya udema setelah pemberian karagenin 1% subplantar. Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa pada pemberian ekstrak etanol dosis 850; 1000; dan 1330 mg/kgBB menunjukkan penurunan udema dan peningkatan persentase efek anti inflamasi. Namun, setelah pemberian dosis 1670 mg/kgBB berat udema meningkat kembali sehingga efek anti inflamasinya menurun.

Dilihat dari persen efek anti inflamasinya kelompok VI dan kelompok VII memiliki persen efek anti inflamasi yang lebih besar (mendekati persen efek anti inflamasi natrium diklofenak) bila dibandingkan dengan kelompok IV dan kelompok V. Perlakuan ekstrak etanol daun senggani dosis 1330 mg/kgBB memberikan efek anti inflamasi 32,67% dan dosis 1670 mg/kgBB memberikan efek anti inflamasi 25,07% sedangkan dosis 850 mg/kgBB dan dosis 1000 mg/kgBB memberikan efek anti inflamasi masing-masing sebesar 10,75% dan 11,57%.

Untuk kelompok pemberian dosis ekstrak etanol daun senggani yaitu antar kelompok IV dan kelompok V menunjukkan perbedaan tidak bermakna, yang berarti persen efek anti inflamasi antara kedua kelompok ini tidak berbeda walaupun pemberiannya dalam dosis yang berbeda, yaitu dosis 850 mg/kgBB dan 1000

mg/kgBB. Sedangkan antar kelompok VI dan kelompok VII menunjukkan perbedaan tidak bermakna, yang berarti persen efek anti inflamasi antara kedua kelompok ini tidak berbeda walaupun pemberiannya dalam dosis yang berbeda, yaitu dosis 1330 mg/kgBB dan 1670 mg/kgBB. Akan tetapi kelompok IV dan V bila dibandingkan dengan kelompok VI dan VII menunjukkan perbedaan yang bermakna yang berarti persen efek anti inflamasinya memiliki perbedaan yang berarti.

Persen efek anti inflamasi perlakuan yang lebih kecil daripada persen efek anti inflamasi natrium diklofenak dan persen efek anti inflamasi dari dosis rendah ke dosis tinggi yang naik lalu turun lagi ini terjadi, diduga karena kandungan kimia dalam tumbuhan senggani, yaitu flavonoid, steroid, dan tanin yang dapat larut dalam pelarut etanol dapat memberikan efek anti inflamasi. Akibatnya, kerja dari senyawa-senyawa kimia tersebut diduga saling berkompetisi dimana pada akhirnya menjadi tidak efektif lagi dalam menghambat inflamasi. Selain itu, diduga radikal bebas yang berada di dalam tubuh jumlahnya berlebihan.

Perlu diingat, bahwa reaksi penangkapan radikal bebas oleh flavonoid tetap menghasilkan radikal bebas walaupun aktivitasnya rendah. Keberadaan radikal bebas yang berlebihan serta reaktivitas flavonoid yang berlebihan inilah yang mungkin menyebabkan ekstrak etanol daun senggani menjadi bersifat prooksidan sehingga aktivitasnya sebagai anti inflamasi menjadi berkurang.

Akan tetapi, radikal bebas tidak selamanya bersifat buruk bagi makhluk hidup. Prinsip penting yang perlu dipahami adalah bahwa radikal bebas juga berperan sebagai sistem pertahanan tubuh terhadap serangan mikroorganisme atau senyawa asing karena kereaktiannya dan efek rusaknya. Radikal bebas tetap diperlukan bagi

makhluk hidup. Dalam kondisi normal, radikal bebas dan antioksidan sama-samaberada dalam tubuh dengan jumlah antioksidan lebih banyak daripada radikal bebas (Hariyanto, 2003).

Radikal bebas yang berlebihan akan menyebabkan kerusakan jaringan sehingga menimbulkan nyeri. Dalam proses peradangan, radikal bebas terbentuk ketika asam arakhidonat dikonversikan menjadi peroksida baik melalui jalur siklooksigenase maupun lipoksigenase. Ketika terjadi kerusakan jaringan organ produksi peroksida meningkat seiring dengan peningkatan jumlah radikal bebas, padahal tubuh memproduksi antioksidan endogen yang terbatas untuk menstabilkan radikal bebas. Apabila jumlah radikal bebas makin banyak, antioksidan endogen tak mampu lagi melumpuhkannya secara efektif sehingga harus ada tambahan antioksidan dari luar (eksogen) yang berasal dari bahan makanan (Sibuea, 2004).

Pada penelitian ini diharapkan antioksidan eksogen dapat diperoleh dari ekstrak etanol daun senggani, karena ekstrak etanol daun senggani mengandung senyawa kimia rutin, kuersetrin, dan kuersitrin yang merupakan beberapa zat aktif golongan flavonoid. Pada kenyataannya, golongan flavonoid bekerja sebagai anti-oksidan kuat, melindungi dari serangan oksidatif dan radikal bebas (Anonim, 2006a).

Berdasarkan hal tersebut, efek anti inflamasi yang ditimbulkan oleh ekstrak etanol daun senggani diduga disebabkan karena adanya senyawa kimia golongan flavonoid yaitu rutin, kuersetin, dan kuersitrin. Flavonoid ini dapat menghambat enzim siklooksigenase pada pembentukan prostaglandin. Dengan terhambatnya pembentukan prostaglandin, udema yang muncul dapat dikurangi atau dihambat. Selain itu, flavonoid dapat bekerja sebagai inhibitor lipoksigenase. Penghambatan

lipoksigenase dapat menimbulkan pengaruh lebih luas karena reaksi lipoksigenase merupakan langkah pertama pada jalur yang menuju ke hormon eikosanoid seperti prostaglandin dan tromboksan (Robinson, 1991). Dengan terhambatnya pembentukan prostaglandin, udema yang muncul dapat dikurangi atau dihambat.

Berdasarkan hasil perhitungan persen efek anti inflamasi menunjukkan terjadinya kenaikan persen efek anti inflamasi dari dosis 1000 mg/kg BB sampai dosis 1330 mg/kg BB dan terjadi penurunan saat digunakan dosis 1670 mg/kg BB. Hal ini menunjukkan bahwa pada penelitian ini dosis 1330 mg/kg BB merupakan dosis paling efektif sebagai anti inflamasi dibandingkan dosis yang lain dan efek anti inflamasi ekstrak etanol daun senggani ini tidak tergantung pada kenaikan dosis. Dari hasil yang diperoleh tidak menutup kemungkinan adanya dosis yang lebih efektif yang berada diantara dosis 1000 mg/kg BB dan 1330 mg/kg BB dengan penyempitan rentang dosis tersebut diharapkan dapat diperoleh dosis ekstrak etanol daun senggani yang lebih efektif. Perlu adanya penelitian lebih lanjut untuk meneliti fenomena efek tidak tergantung dosis pada dosis ekstrak etanol senggani antara dosis 1000 mg/kgBB sampai 1330 mg/kgBB.

Sedangkan untuk hasil perhitungan potensi relatif efek anti inflamasi pemberian menunjukkan ekstrak etanol daun senggani dosis 850 mg/kgBB, 1000 mg/kgBB, 1330 mg/kgBB, dan 1670 mg/kgBB menghasilkan potensi relatif efek anti inflamasi secara berturut-turut sebesar 18,89%, 20,33%, 57,42%, dan 44,06%. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun senggani mempunyai potensi relatif efek anti inflamasi, khususnya pada dosis 1330 mg/kgBB. Hasil perhitungan potensi

relatif efek anti inflamasi pemberian ekstrak etanol daun senggani dalam empat peringkat dosis dapat dilihat pada lampiran 16.

Dokumen terkait