HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Analisis Data
3. Hasil Uji Hipotesis
Uji hipotesis pada penelitian ini menggunakan korelasi product moment untuk menguji antara satu variabel tergantung yaitu kecemasan sosial dan variabel bebas yaitu konsep diri, sedangkan untuk mengetahui seberapa besar kontribusi variabel konsep diri terhadap kecemasan sosial dilihat dari hasil kuadrat nilai korelasi (R2) atau koefisien determinasi (Rsquare). Hasil uji hipotesis secara lengkap dapat dilihat pada lampiran. Berikut ini akan dijelaskan hasil uji hipotesis dengan
teknik korelasi product moment dan dianalisis menggunakan program SPSS 15.0 for Windows.
Tabel 11.
Korelasi Variabel Bebas dengan Variabel Tergantung
Konsep Diri Kecemasan Sosial
Korelasi Pearson Konsep Diri 1.000 -.547 Kecemasan Sosial -.547 1.000 Signifikansi (1-Tailed) Konsep Diri .000 0.000 Kecemasan Sosial 0.000 .000
Dari tabel korelasi dapat dilihat koefisien korelasi antara konsep diri dengan kecemasan sosial adalah -.547 dan p-value 0,000 < 0,05. Hal ini menunjukkan adanya korelasi negatif yang signifikan antara konsep diri dengan kecemasan sosial. Semakin tinggi konsep diri maka semakin rendah kecemasan sosial dan sebaliknya, semakin rendah konsep diri maka semakin tinggi kecemasan sosial pada remaja. Artinya, hipotesis yang diajukan oleh peneliti diterima kebenarannya.
Berdasarkan hasil analisis menggunakan teknik korelasi product moment diperoleh nilai R = 0,547 dan dari uji ANOVA atau F-tes, menunjukkan p-value 0,000 < 0,05, artinya signifikan. Sedangkan F hitung sebesar 18,39 > dari F tabel artinya signifikan. Oleh karena probabilitas lebih kecil dari 0,05 maka model regresi ini dapat dipakai untuk memprediksi kecemasan sosial pada remaja. Artinya, konsep diri berpengaruh terhadap kecemasan sosial. Hal ini berarti
hipotesis yang diajukan diterima kebenarannya, yaitu ada hubungan signifikan secara statistik antara konsep diri dengan kecemasan sosial pada remaja.
Hasil kuadrat nilai korelasi dan koefisien determinasi diperoleh nilai yang menunjukkan nilai (R2) atau Rsquare sebesar 0,300. Artinya, konsep diri memberi kontribusi sebesar 30% terhadap kecemasan sosial, hal ini berarti masih terdapat 70% faktor lain yang mempengaruhi kecemasan sosial pada remaja.
D.Pembahasan
Korelasi antara konsep diri terhadap kecemasan sosial diperoleh dari koefisien korelasi sebesar -0,547, dengan p < 0,05. Ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang negatif yang artinya kenaikan skor variabel bebas (konsep diri) secara bersama-sama akan diikuti dengan penurunan skor variabel terikat (kecemasan sosial) dan sebaliknya, penurunan skor variabel bebas (konsep diri) secara bersama-sama akan diikuti dengan kenaikan skor variabel terikat (kecemasan sosial). Nilai F hitung sebesar 18,398 dengan tingkat signifikansi 0,000 memberikan arti bahwa variabel konsep diri berpengaruh terhadap kecemasan sosial pada remaja kelas XI SMA Kristen 2 Surakarta. Dengan perkataan lain, jika skor konsep diri tinggi, maka kecemasan sosial akan cenderung menjadi rendah. Sebaliknya jika konsep diri rendah maka kecemasan sosial akan semakin tinggi.
R square disebut juga koefisien determinan. Nilai R square adalah 0,300 (nilai R square adalah pengkuadratan dari koefisien korelasi (R)). Artinya 30% kecemasan sosial pada remaja kelas XI SMA Kristen 2 Surakarta dapat dijelaskan
oleh variabel konsep diri. Sisanya (100% - 30% = 70%) dijelaskan oleh faktor selain konsep diri yang dapat mempengaruhi kecemasan sosial. Faktor lain di luar variabel konsep diri yang dimungkinkan mempunyai pengaruh terhadap kecemasan sosial yaitu diantaranya status sosial, tingkat pendidikan, usia, pola asuh, dan lain sebagainya
Adanya korelasi yang negatif dan signifikan antara konsep diri dengan kecemasan sosial pada remaja kelas XI SMA Kristen 2 Surakarta menunjukkan bahwa konsep diri mempunyai peranan penting dalam menentukan perilaku. Hasil penelitian ini mendukung pendapat Rakhmat, individu yang memiliki konsep diri yang negatif timbul dari kurangnya kepercayaan kepada kemampuan sendiri. Orang yang tidak menyenangi dirinya merasa bahwa dirinya tidak akan mampu mengatasi persoalan. Orang yang kurang percaya diri akan cenderung sedapat mungkin menghindari situasi komunikasi. Ia takut orang lain akan mengejeknya atau menyalahkannya. Orang yang takut dalam interaksi sosial, akan menarik diri dari pergaulan, berusaha sekecil mungkin berkomunikasi, dan akan berbicara apabila terdesak saja (Rakhmat, 2005).
Selanjutnya Pudjijogyanti (1993) menambahkan bahwa konsep diri mempunyai peranan penting dalam menentukan perilaku individu. Bagaimana individu memandang dirinya akan tampak dari keseluruhan perilaku. Dengan kata lain, perilaku individu akan sesuai dengan cara individu memandang dirinya sendiri. Apabila individu memandang dirinya sebagai orang yang tidak mempunyai cukup kemampuan untuk melakukan suatu tugas tertentu, maka seluruh perilakunya akan menunjukkan ketidakmampuannya tersebut. Remaja
yang memiliki konsep diri tinggi akan bersikap positif yang akan menjadikan remaja mandiri, aktif, percaya diri, kreatif, mempunyai aspirasi yang cukup baik, dan realistis terhadap kemampuan yang dimilikinya (Hurlock, 1999).
Menurut D.E. Hamachek (dalam Rakhmat, 2005), individu yang mampu menerima dirinya sebagai orang yang penting dan bernilai bagi orang lain, paling tidak bagi orang-orang yang ia pilih sebagai sahabatnya adalah individu yang memenuhi salah satu karakteristik konsep diri positif. Jadi, penerimaan diri sangat erat hubungannya dengan konsep diri. Individu yang memiliki konsep diri yang baik maka ia akan sanggup menerima dirinya dengan baik pula. Mempunyai rasa penghargaan diri yang tinggi akan menghasilkan konsekuensi yang bermanfaat, sedangkan penghargaan diri yang rendah akan sebaliknya. Penilaian diri sendiri yang negatif tentu akan diasosiasikan dengan, salah satunya adalah kemampuan bersosial yang sangat kurang. Oleh sebab itu, semakin remaja memiliki konsep diri positif yang tinggi maka remaja akan memiliki kecemasan sosial yang rendah. Hasil penelitian ini dikenakan pada remaja kelas XI SMA Kristen 2 Surakarta, maka hasil penelitian ini tidak dapat digeneralisasikan pada remaja di tempat lain atau remaja pada umumnya. Untuk penerapan populasi yang lebih luas dengan karakteristik yang berbeda perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan atau menambah variabel-variabel lain yang belum disertakan dalam penelitian ini, ataupun dengan menambah dan memperluas ruang lingkup penelitian.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A.Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dihasilkan dalam bab sebelumnya dapat diambil kesimpulan bahwa:
1. Nilai hubungan antara konsep diri dengan kecemasan sosial pada remaja kelas XI SMA Kristen 2 Surakarta yang dihitung dengan koefisien korelasi rxIy
adalah -0,547 dan p < 0,05. Ini berarti terdapat hubungan yang negatif antara konsep diri dengan kecemasan sosial pada remaja kelas XI SMA Kristen 2 Surakarta. Dengan demikian semakin tinggi nilai konsep diri pada remaja kelas XI SMA Kristen 2 Surakarta akan menurunkan kecemasan sosial pada remaja kelas XI SMA Kristen 2 Surakarta.
2. Hasil analisis data antara konsep diri dengan kecemasan sosial pada remaja diperoleh Freg = 18,398 dengan p < 0,05. Nilai pengaruh variabel bebas (konsep diri) terhadap variabel tergantung (kecemasan sosial) adalah 30%. Hal tersebut menunjukkan bahwa faktor konsep diri mempunyai peran yang signifikan terhadap kecemasan sosial pada remaja kelas XI SMA Kristen 2 Surakarta.