PENEMUAN DAN PEMBAHASAN
E. Pengujian Hipotesis
4. Hasil Uji Hipotesis Keempat (Ha 4 )
Hipotesis 4 menguji pengaruh informasi klien terhadap hubungan antara keterlibatan pimpinan kantor akuntan publik (executive involvement), representasi masalah (problem representation) dan perencanaan audit. Pengujian hipotesis 4 pun dilakukan dengan menggunakan uji nilai selisih mutlak. Untuk kepentingan uji nilai selisih mutlak, perlu disiapkan data nilai selisih mutlak antara variabel keterlibatan pimpinan kantor akuntan publik (executive involvement) dengan variabel informasi klien. Nilai selisih mutlak variabel keterlibatan pimpinan kantor akuntan publik (executive involvement) dengan variabel informasi klien dinyatakan dalam MODERAT_1.
Selanjutnya, nilai selisih mutlak antara variabel representasi masalah (problem representation) dengan variabel informasi klien harus disiapkan pula. Nilai selisih mutlak variabel representasi masalah (problem representation) dengan variabel informasi klien dinyatakan dalam MODERAT_2. Perlu diketahui pula, bahwa setiap variabel independen yang masuk dalam uji nilai selisih mutlak harus di-standardized terlebih dahulu. Tabel 4.41., tabel 4.42., dan tabel 4.43. akan menyajikan data hasil uji statistik dari hipotesis keempat.
a. Koefisien Determinasi
Tabel 4.41.
Hasil Uji Koefisien Determinasi (Hipotesis 4)
Model Summary(b) Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .770(a) .593 .520 9.369
a Predictors: (Constant), MODERAT_2, Zscore(EXEC_INV), MODERAT_1, Zscore(PROB_REP), Zscore(CLI_INFO) b Dependent Variable: AUD_PLAN
Observasi data pada tabel 4.41. di atas menghasilkan nilai koefisien determinasi (Adjusted R Square) untuk hipotesis 3 sebesar 0,520. Artinya, 52% dari variabel perencanaan audit (AUD_PLAN) dapat dijelaskan oleh variasi variabel keterlibatan pimpinan kantor akuntan publik (EXEC_INV―standardized), variabel representasi
masalah (PROB_REP―standardized), variabel informasi klien
(CLI_INFO―standardized), variabel MODERAT_1, dan variabel MODERAT_2. Selebihnya sebesar 48% dijelaskan oleh variabel lain di luar model. Nilai koefisien determinasi yang melebihi 50% ini mengindikasikan bahwa model regresi ini juga cukup baik.
b. Uji Signifikansi Simultan F (Uji Statistik F) Tabel 4.42. Hasil Uji F (Hipotesis 4)
ANOVA(b)
Model
Sum of
Squares df Mean Square F Sig. 1 Regression 3577.914 5 715.583 8.153 .000(a)
Residual 2457.527 28 87.769
Total 6035.441 33
a Predictors: (Constant), MODERAT_2, Zscore(EXEC_INV), MODERAT_1, Zscore(PROB_REP), Zscore(CLI_INFO)
b Dependent Variable: AUD_PLAN
Nilai signifikansi simultan F yang terlihat pada tabel 4.42. memperoleh nilai F hitung sebesar 8,153 dengan tingkat signifikansi 0,000 yang jauh dibawah 0,05. Maka dapat dibuat suatu kesimpulan dinilai dari data pada tabel di atas bahwa variabel keterlibatan pimpinan kantor akuntan publik (EXEC_INV―standardized), variabel
representasi masalah (PROB_REP―standardized), variabel informasi
klien (CLI_INFO―standardized), variabel MODERAT_1, dan variabel MODERAT_2 secara bersama-sama berpengaruh terhadap perencanaan audit (AUD_PLAN).
c. Uji Signifikan Parameter Individual (Uji Statistik t) Tabel 4.43.
Hasil Uji t (Hipotesis 4)
Coefficients(a) Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 92.211 3.812 24.187 .000 Zscore(EXEC_INV) -.404 2.135 -.030 -.189 .851 Zscore(PROB_REP) 5.402 2.160 .399 2.501 .019 Zscore(CLI_INFO) 5.047 2.346 .373 2.152 .040 MODERAT_1 -2.651 3.327 -.115 -.797 .432 MODERAT_2 -2.957 3.191 -.127 -.927 .362
a Dependent Variable: AUD_PLAN
Berdasarkan data pada tabel 4.43. di atas, dapat dibuat persamaan regresi sebagai berikut:
Y = a + β1X1+ β2X2+ β3X3 + β4|X1−X3| + β5|X2−X3| + e
Y = 92,211 − 0,404X1 + 5,402X2 + 5,047X3 − 2,651|X1−X3| −
2,957|X2−X3| + e
Persamaan regresi di atas menyatakan bahwa jika representasi masalah (PROB_REP―standardized) dan informasi klien
(CLI_INFO―standardized) meningkat sebesar 1% akan mengakibatkan meningkatnya pula perencanaan audit (AUD_PLAN) masing-masing sebesar 5,402 dan 5,047. Namun, jika yang mengalami peningkatan adalah keterlibatan pimpinan kantor akuntan publik
(EXEC_INV―standardized), MODERAT_1, dan MODERAT_2 sebesar 1% dapat mengakibatkan menurunnya perencanaan audit (AUD_PLAN) sebesar 0,404; 2,651 dan 2,957.
Hasil uji t untuk hipotesis 4 yang ditampilkan pada tabel 4.43. menghasilkan nilai t hitung sebesar -0,797 untuk MODERAT_1 dengan tingkat signifikansi 0,432 yang jauh di atas 0,05. Begitu pula dengan MODERAT_2 yang memperoleh nilai t hitung sebesar -0,927 dengan tingkat signifikansi 0,362 yang jauh diatas 0,05. Hasil tidak signifikan ini berarti menolak H4 yang menyatakan bahwa informasi
klien berpengaruh positif dan signifikan terhadap hubungan antara keterlibatan pimpinan kantor akuntan publik, representasi masalah, dan perencanaan audit.
Pendekatan MRA (Moderated Regression Analysis) dan pendekatan residual pun dilakukan untuk menguji hipotesis keempat. Namun, kedua pendekatan itupun konsisten hasilnya dengan pendekatan nilai selisih mutlak, yaitu menghasilkan nilai yang tidak signifikan, sehingga variabel informasi klien memang tidak dapat menjadi variabel pemoderasi. Hasil yang tidak signifikan ini juga menunjukkan bahwa informasi klien tidak dapat memperkuat atau memperlemah hubungan antara keterlibatan pimpinan kantor akuntan publik, representasi masalah dan perencanaan audit.
Analisis Suplemen (Pelengkap)
Pada sub bab ini, peneliti ingin menambahkan sebuah hipotesis sebagai pelengkap dari hipotesis yang sudah ada. Peneliti ingin menguji variabel informasi klien sebagai variabel independen bukan sebagai variabel moderating. Hipotesis ini menguji pengaruh informasi klien
terhadap perencanaan audit. Hasil uji hipotesis ini dapat dilihat pada tabel 4.44. dan 4.45. di bawah ini:
Tabel 4.44.
Hasil Uji Koefisien Determinasi
Model Summary(b) Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .614(a) .376 .357 10.845
a Predictors: (Constant), Informasi Klien b Dependent Variable: Perencanaan Audit
Informasi klien pada tabel 4.44. memiliki nilai Adjusted R Square
sebesar 35,7%. Artinya, variabel informasi klien dapat menjelaskan variabel perencanaan audit sebanyak 35,7%. Sisanya, 64,3% dijelaskan oleh variabel lain diluar model. Variabel-variabel tersebut dapat berupa pengalaman auditor, struktur pengetahuan auditor (knowledge structure), penilaian auditor (auditor’s judgement), keahlian auditor (auditor’s skills), tujuan dan ruang lingkup audit (audit objective and scope), kerjasama antara auditor dengan klien, dan lain-lain.
Tabel 4.45. Hasil Uji t Coefficients(a) Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 35.619 11.988 2.971 .006 CLIENT_IN FO .749 .170 .614 4.395 .000
Berdasarkan data pada tabel 4.45. dapat dibuat persamaan regresi: Y = α+ β
1 X1 + e
Y = 35,619 + 0,749 X1 + e
Arti persamaan di atas adalah setiap naiknya informasi klien sebesar 1% akan menyebabkan naiknya perencanaan audit sebesar 0,749. Dalam analisis pelengkap ini peneliti ingin menunjukkan bahwa sebagai variabel independen, ternyata informasi klien berpengaruh sangat signifikan dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 dibawah tingkat kepercayaan 5%. Artinya, variabel informasi klien berpengaruh positif dan signifikan terhadap perencanaan audit jika variabel informasi klien diperlakukan sebagai variabel independen.
F. Pembahasan
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan teori mengenai perencanaan audit yang dilakukan oleh auditor terutama managing partner, partner, dan manajer. Hasil penelitian ini memberikan berbagai dukungan untuk hipotesis. Pertama, keterlibatan pimpinan kantor akuntan publik (executive involvement) tidak signifikan mempengaruhi perencanaan audit dan sebaliknya, representasi masalah (problem representation) secara signifikan mempengaruhi perencanaan audit.
Hasil uji hipotesis ini mengindikasikan bahwa pimpinan kantor akuntan publik (managing partner, partner, dan manajer) tidak perlu terlibat secara aktif dan intensif dalam membuat perencanaan audit. Jika mereka terlibat aktif, hal ini dapat menimbulkan banyaknya pendapat yang dihasilkan
oleh berbagai jenjang auditor yang memiliki berbagai kepentingan dalam membuat perencanaan audit. Banyaknya pendapat akan menimbulkan konflik kepentingan diantara mereka sehingga perencanaan audit menjadi tidak efisien bahkan akan menjadi tidak efektif. Hogart (1991) dalam Christ (1993) bagaimanapun, representasi masalah (problem representation) dan pengetahuan perencanaan audit dari auditor senior adalah cukup baik untuk menghasilkan perencanaan audit yang efisien dan efektif.
Selanjutnya, representasi masalah (problem representation) dari pimpinan auditor ternyata dapat membuat perencanaan audit lebih efisien dan efektif. Sementara disisi lain mereka tidak dapat terlibat aktif dalam membuat perencanaan audit, jadi apa yang sebaiknya dilakukan. Menurut peneliti, berdasarkan data yang ada, yang sebaiknya dilakukan adalah dalam membuat perencanaan audit, auditor senior dibantu seperlunya oleh manajer kemudian perencanaan audit tersebut ditelaah kembali oleh partner atau managing partner.
Dengan begitu, konflik kepentingan tidak terjadi dan representasi masalah (problem representation) dari pimpinan auditor tetap tertuang dalam perencanaan audit tersebut. Jadi, metode pembuatan perencanaan audit yang dilakukan oleh sebagian besar Kantor Akuntan Publik sudah tepat, jika melihat kembali tabel demografi responden mengenai penanggung jawab penyusunan perencanaan audit. Yaitu, perencanaan audit paling banyak dibuat oleh manajer (44,1%). Kemudian pada urutan kedua, perencanaan audit dibuat
oleh auditor senior yang bekerjasama dengan manajer, lalu ditelaah dan disetujui oleh partner (26,5%).
Tabel 4.46.
Penanggung Jawab Penyusunan Perencanaan Audit
Penanggung Jawab Penyusunan Perencanaan (Program) Audit Partner 3 8.8% Manajer 15 44.1% Auditor Senior 3 8.8% Manajer, kemudian ditelaah dan disetujui oleh
Partner 1 2.9%
Auditor Senior, kemudian ditelaah dan disetujui oleh
Manajer 3 8.8%
Auditor Senior bekerjasama dengan Manajer, kemudian ditelaah dan disetujui oleh
Partner 9 26.5%
Sumber: Data diolah
Kedua, informasi klien tidak dapat menjadi pemoderasi hubungan antara keterlibatan pimpinan kantor akuntan publik (executive involvement) dengan perencanaan audit. Hasil uji hipotesis ini menyimpulkan bahwa pimpinan auditor adalah orang yang memiliki pengalaman sangat luas dalam bidangnya sehingga struktur pengetahuannya pun berkembang dan representasi masalah (problem representation) yang dimiliki secara signifikan mempengaruhi efisiensi dan efektivitas dari seluruh proses informasi berikutnya.
Oleh karena itulah, informasi yang cukup, andal, relevan, dan tepat waktu terutama yang berhubungan dengan laporan keuangan klien lebih dibutuhkan oleh mereka daripada keumuman informasi klien. Informasi yang cukup dan tidak berlebihan (information overload) akan membuat perencanaan audit menjadi lebih efisien dan efektif. Romney dan Steinbart
(2003:14) menuturkan bahwa kelebihan informasi itu mahal, karena kualitas pengambilan keputusan menurun sementara biaya untuk menyediakan informasi meningkat. Jadi, kelebihan informasi mengurangi nilai informasi itu sendiri. Pernyataan pendapat peneliti ini juga berlaku untuk hipotesis ketiga dan hipotesis keempat.
Ketiga, berdasarkan analisis pelengkap, jika bukan sebagai variabel moderating melainkan sebagai variabel independen ternyata informasi klien berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap perencanaan audit. Hasil ini mengindikasikan bahwa jika pimpinan kantor akuntan publik beserta representasi masalah (problem representation) yang mereka miliki tidak terlibat dalam perencanaan audit, maka informasi mengenai keumuman klien, laporan keuangannya, pengendalian internalnya, dan sebagainya tetap diperlukan dalam pembuatan perencanaan audit. Artinya, jika yang membuat perencanaan audit itu adalah auditor senior dengan pengalamannya yang belum cukup memadai dan representasi masalah (problem representation) yang belum berkembang maka berbagai informasi klien tetap diperlukan agar perencanaan audit yang dihasilkan dapat efektif. Walaupun tidak dapat efisien dikarenakan informasi yang diperlukan oleh mereka berlebihan (information overload).
Perlu diketahui pula bahwa pendapat peneliti ini adalah berdasarkan data yang berhasil dikumpulkan dan diproses oleh peneliti. Sementara data yang berhasil dikumpulkan sedikit, tidak dapat digeneralisasi dan dalam menentukan bagaimana data diproses pun memiliki banyak pilihan. Peneliti
menyadari kekurangan tersebut dan dalam memilih pengujian pun dapat tidak tepat. Peneliti hanya ingin mengatakan bahwa sekarang, berdasarkan data yang ada, dapat berpendapat demikian sementara di lain waktu peneliti dapat berpendapat berbeda. Oleh karena itu, bagaimanapun, penelitian lebih jauh diperlukan untuk menetapkan pendapat tersebut. Misalnya, bagaimana informasi dalam representasi masalah (problem representation) diproses dan digunakan harus diteliti lebih lanjut sebelum pendapat peneliti diputuskan kebenarannya.