BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
4.5.2. Koefisien Determinasi
4.5.3.2. Hasil Uji Parsial (Uji t)
Uji t digunakan untuk menguji hipotesis pengaruh secara parsial variabel-variabel independen (X) terhadap variabel dependen (Y). Jika nilai signifikansi Uji t kurang dari tingkat signifikansi 0,05, maka Ho ditolak dan H1 diterima dan dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh sinifikan
variabel independen secara parsial terhadap variabel dependen.
Tabel 4.5.3.2. adalah tabel hasil Uji t antara variabel Return On Asset
(X1), Return on Equity (X2), dan Earning Per Share (X3) terhadap Harga Saham (Y).
Tabel 4.5.3.2. Hasil Uji Parsial Correlations Model t Sig. Partial (Constant) 4.193 0.000 ROA (X1) -3.215 0.004 -0.584 ROE (X2) 2.350 0.029 0.465 EPS (X3) 6.524 0.000 0.825 Sumber: Lampiran 8
Berdasarkan tabel 4.5.3.2. dapat dijelaskan hasil Uji t atau uji signifikansi parameter individual sebagai berikut:
1. Uji t antara variabel Return On Asset (X1) terhadap Harga Saham (Y)
0,004. Karena nilai signifikansi Uji t lebih kecil dari tingkat signifikan 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima dan dapat disimpulkan bahwa
terdapat pengaruh signifikan antara Return On Asset terhadap harga saham. Nilai r2 parsial Return On Asset (X1) sebesar -0,5842= 0,341056
yang berarti menunjukkan bahwa kontribusi parsial variabel Return on Asset hanya mampu menjelaskan 34,1% terhadap harga saham, sedangkan sisanya 65,9% dijelaskan oleh variabel lain.
2. Uji t antara variabel Return on Equity (X2) terhadap Harga Saham (Y)
menghasilkan t hitung sebesar 2,350 dengan nilai signifikansi sebesar 0,029. Karena nilai signifikansi Uji t lebih kecil dari tingkat signifikan 0,05 maka Ho ditolak dan H1 diterima dan dapat disimpulkan bahwa
terdapat pengaruh signifikan antara Return on Equity terhadap harga saham. Nilai r2 parsial Return On Equity (X2) sebesar 0,4652= 0,216225
yang berarti menunjukkan bahwa kontribusi parsial variabel Return on Equity hanya mampu menjelaskan 21,6% terhadap harga saham, sedangkan sisanya 78,4% dijelaskan oleh variabel lain.
3. Uji t antara variabel Earning Per Share (X3) terhadap Harga Saham (Y)
menghasilkan t hitung sebesar 6,524 dengan nilai signifikansi sebesar 0,000. Karena nilai signifikansi Uji t kurang dari tingkat signifikan 0,05 maka Ho ditolak dan H1 diterima dan dapat disimpulkan bahwa terdapat
pengaruh signifikan antara Earning Per Share terhadap harga saham. Nilai r2 parsial Earning Per Share (X3) sebesar 0,8252= 0,680625 yang
berarti menunjukkan bahwa kontribusi parsial variabel Earning Per Share
hanya mampu menjelaskan 68% terhadap harga saham, sedangkan sisanya 32% dijelaskan oleh variabel lain.
Hasil pengujian hipotesis dengan Uji t telah menunjukkan bahwa dari ketiga variabel independen yang dipakai dalam penelitian mempunyai pengaruh signifikan terhadap harga saham pada perusahaan food and beverage yang terdaftardi Bursa Efek Indonesia.
4.6. Pembahasan Hasil Penelitian
Berdasarkan analisis regresi linier berganda yang telah dilakukan diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa secara simultan (uji F) model regresi cocok untuk mengetahui pengaruh Return On Asset, Return on Equity, dan Earning Per Share terhadap harga saham pada perusahaan food and beverage yang go public di Bursa Efek Indonesia. Sedangkan secara parsial (uji t) dapat diketahui bahwa Return On Asset, Return on Equity dan Earning Per Share mampu memprediksi perubahan harga saham.
Kesimpulan ini didasarkan pada hasil pengujian secara simultan antara
Return On Assets (X1), Return on Equity (X2), dan Earning Per Share (X3) terhadap harga saham (Y) dengan menggunakan Uji F yang menghasilkan nilai signifikansi 0,000 lebih rendah dari tingkat signifikan 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel Return On Asset, Return on Equity, dan
analisis ini juga menunjukkan bahwa model regresi ini cocok dan mampu menjelaskan perubahan harga saham, dimana pengaruhnya sebesar 69,8% sedang sisanya hanya 30,2% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak terdapat dalam model ini.
Hasil uji t menunjukkan bahwa Return On Assets (X1) mempunyai pengaruh signifikan terhadap harga saham (Y) perusahaan food and beverage
yang go public di BEI. Hal ini ditunjukkan berdasarkan nilai signifikansi sebesar 0,004 < 0,050 sehingga Return On Assets dapat dipakai untuk memprediksi harga saham. Berpengaruhnya variabel Return On Assets (ROA)
terhadap harga saham disebabkan karena kinerja perusahaan dalam mendayagunakan aktiva perusahaan dalam menghasilkan keuntungan lebih maksimal. Berdasarkan Teori Path Goal yang dikembangkan House (1970),
menyatakan bahwa merupakan tugas pemimpin untuk membantu anggotanya dalam mencapai tujuan mereka dan untuk memberi arah dan dukungan atau keduanya yang dibutuhkan untuk menjamin tujuan mereka sesuai tujuan kelompok atau organisasi secara keseluruhan (Kurniawan: 2010). Dan dapat disimpulkan penilaian kinerja ini dapat memberikan umpan balik bagi manajemen bawah dan manajemen menengah tentang bagaimana manajemen puncak menilai kinerja mereka dalam mendayagunakan aktiva perusahaan untuk menghasilkan keuntungan bagi investor.
Namun nilai r parisal ROA sebesar -0,584 menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif atau berlawanan arah terhadap harga saham. Hal ini
ditunjukkan oleh tingkat harga saham yang menurun pada saat ROA naik. Kejadian ini kemungkinan secara tidak langsung dipengaruhi oleh kondisi perekonomian yang tidak menentu akibat dampak krisis keuangan global yang mempengaruhi perubahan nilai tukar mata uang dan naiknya suku bunga bank serta rumor-rumor hasil rekayasa para spekulan yang mengeruk keuntungan dari situasi tersebut (Nirawati: 2003). Hasil penelitian ini dapat mendukung hasil penelitian yang dilakukan Sumule (2006) yang menunjukkan bahwa secara parsial Return On Assets (ROA) mempunyai pengaruh signifikan terhadap harga saham.
Hasil uji t menunjukkan bahwa Return On Equity (X2) secara parsial mempunyai pengaruh signifikan terhadap harga saham (Y) perusahaan food and beverage yang go public di BEI. Hasil ini ditunjukkan oleh nilai signifikansi ROE sebesar 0,029 < 0,050 sehingga Return On Equity dapat dipakai untuk memprediksi harga saham. Menurut Bringham dan Houston (2006: 123), semakin tinggi ROE, maka semakin efisien dan efektif manajemen perusahaan dalam menggunakan modalnya. Berarti akan memberikan jaminan untuk memperoleh laba yang diharapkan sehingga minat para investor terhadap saham perusahaan semakin tinggi dan akan mendorong kenaikan pada harga saham. Demikian pula sebaliknya jika ROE perusahaan rendah akan menunjukkan penggunaan modal perusahaan kurang efisien dan efektif. Sehingga akan mengurangi minat investor untuk membeli saham perusahaan, dan akan mendorong harga saham menjadih lebih rendah. Hasil
penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Sumule (2006) yang menunjukkan bahwa Return On Equity berpengaruh signifikan terhadap harga saham.
Berdasarkan hasil uji t menunjukkan bahwa Earning Per Share (X3) secara parsial berpengaruh signifikan terhadap harga saham (Y) persahaan
food and beverage yang terdaftar di BEI. Sesuai dengan nilai sigifikansi EPS sebesar 0,000 < 0,050 sehingga Earning Per Share dapat dipakai untuk memprediksi harga saham. Hal ini disebabkan EPS yang tinggi akan menarik perhatian investor karena EPS mencerminkan hasil atas investasi yang dilakukan oleh investor. Sesuai dengan pendapat Tuanakotta (1986: 213), salah satu sebab EPS sangat populer adalah karena adanya anggapan bahwa EPS mengandung informasi yang penting untuk melakukan prediksi mengenai
devidend per share dikemudian hari dan tingkat harga saham di masa yang akan datang. EPS juga dianngap relevan dalam menilai efektivitas manajemen dan pembagian deviden. Menurut Stice dan Skousen (2005: 647), terdapat hubungan yang signifikan antara perubahan earning dan perubahan saham. Apabila EPS tinggi, investor menganggap perusahaan mempunyai prospek yang baik di masa yang akan datang, karena investor percaya bahwa nilai suatu saham akan bergantung pada kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba setiap lembar saham. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan Sasongko (2006) dan Sumule (2006) yang
masing-masing menyatakan bahwa Earning Per Share berpengaruh signifikan terhadap harga saham.