HASIL DAN PEMBAHASAN
4.8. Pengujian Hipotesis
4.8.3. Hasil Uji Parsial (Uji-t)
Uji parsial adalah pengujian hipotesis penelitian dengan menggunakan analisis regresi linier berganda. Analisis regresi linier berganda digunakan untuk menguji pengaruh masing-masing variabel independent terhadap variabel dependent. Hasil uji parsial (Uji-t) disajikan pada Tabel 4.17.
69
Tabel 4.17. Hasil uji parsial (Uji-t)
Coefficientsa
Model Unstandardized
Coefficients Standardized
Coefficients T Sig. Collinearity Statistics
Sumber : Di oleh dari data primer, 2015
Nilai t dalam percobaan diatas menunjukkan bahwa X1 memiliki nilai 2,512, X2 memiliki nilai 1,260, dan X3 memiliki nilai 1,489 serta taraf signifikansi antara 0,014, 0,211, dan 0,140 menunjukkan bahwa terdapat terdapat pengaruh signifikan antara variabel independent dengan partisipasi pemuda. Hasil uji statistik diperoleh:
1. Variabel X1 menunjukan t-hitung = 2,512 dan t-tabel 1,660 dengan tingkat probabilitas 0,000. Dengan demikian dapat disimpulkan P = 0,014< α = 0,05 maka hipotesis Ho di tolak dan terima hipotesis Ha yang menyatakan variabel X1 berpengaruh positif signifikan terhadap partisipasi pemuda dalam pertanian.
2. Variabel X2 menunjukan t-hitung = 1,260 dan t-tabel 1,660 dengan tingkat probabilitas 0,000. Dengan demikian dapat disimpulkan P = 0,211> α = 0,05 maka hipotesis Ho di terima dan Ha ditolak yang menyatakan bahwa variabel X2 tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap terhadap partisipasi pemuda dalam pertanian.
3. Variabel X3 menunjukan t-hitung = 1,489 dan t-tabel 1,660 dengan tingkat probabilitas 0,140. Dengan demikian dapat disimpulkan P = 0,140 > α = 0,05
maka hipotesis Ho di terima dan hipotesis Ha ditolak yang menyatakan variabel X3 tidak berpengaruh signifikan terhadap pembangunan pertanian lahan pangan berkelanjutan dalam aspek sumber daya manusia.
4.9. Pembahasan
Perubahan sosial terjadi akibat tekanan kebutuhan masyarakat dalam mencapai tujuan dan harapan merupakan refleksi dari keinginan meraih kepuasan dan mengurangi kekecewaan. Kelangkaan refleksi sumberdaya pertanian dan kelangkaannya menjadi faktor pendorong untuk bertindak dalam rangka memperluas medan sosial. Namun keterbatasan keterampilan, kualifikais pendidikan, motivasi dan akses terhadap sektor pertanian menjadi kondisi yang membatasi individu dalam meraih tujuan-tujuan.
Pemuda sebagai kelompok masyarakat yang berada pada usia produktif merupakan bagian masyarakat yang paling dinamis dalam mengejar tujuan sebagai alternatif pemecahan persoalan ekonomi keluarga. Kesadaran dan pengenalan tujuan yang ingin diraih membangun representasi dan orientasi erja yang termotivasi. Pengambilan keputusan mengenai pekerjaan oleh seorang pemuda sangat dipengaruhi oleh keluarga dan lingkungan masyarakat. Strategi bertahan hidup dalam lingkungan yang berbeda nilai dan norma akan menyebabkan representasi dan orientasi kerja serta tindakan yang berbeda pula.
Pemuda merepresentasikan pekerjaan di sektor pertanian sebagai pekerjaan yang kurang bergengsi secara status sosial. Meskipun demikian, sektor ini diakui sebagai sumber pendapatan pendukung yang sangat potensial dan memberi kenyamanan karena relatif memiliki keterjaminan pendapatan. Pemuda
71
merepresentasikan sektor pertanian sebagai sektor yang menguntungkan apabila kedudukannya sebagai usaha dan bukan semata sebagai pekerjaan.
Nilai yang berkembang di kalangan pemuda memberi dua peran bagi pekerjaan di sektor pertanian. Pekerjaan ini lebih bernilai secara sosial apabila berperan sebagai pekerjaan sampingan daripada pekerjaan utama, artinya, bagi peuda bekerja di sektor pertanian lebih memberi rasa bangga jika ada pekerjaan lain sebagai masker, sekalipun pekerjaan yang diakui sebagai pekerjaan utama itu belum tentu memberi pendapatan terbesar. Pemuda lebih merasa terhormat sebagai petani walaupun mengerjakan pekerjaan pertanian yang kasar, kotor, dan melelahkan jika dibantu oleh tenaga buruh. Ini membuat pemuda merasa orang lain menilainya sebagai orang yang mampu mempekerjakan orang lain. Hal itu memberi perasaan lebih terhormat sekalipun bekerja di sektor pertanian.
Kecenderungan di atas memberikan indikasi bahwa usaha pertanian secara ekonomis masih menguntungkan. Saat dimana sumberdaya dan situasi sosial memberi dukungan optimal, pekerjaan pertanian mampu memberi pendapatan lebih tinggi dan stabil, meskipun lebih diorientasikan sebagai pekerjaan sampingan atau pekerjaan pendukung. Pergeseran pekerjaan kearah non pertanian, merupakan penolakan yang lebih dilandasi pada pertimbangan sosial.
Partisipasi pemuda dalam pembangunan pertanian di Kecamatan Siabu, Kabupaten Mandailing Natal masih kurang atau berada di zona tengah dimana masih terdapat pemuda yang kurang berpartisipasi dalam pembangunan pertanian.
Hal ini dikarenakan oleh banyak faktor diantaranya adalah pemuda masih beranggapan bahwa pekerjaan di sektor pertanian tidak menjamin masa depan dan tidak memiliki motivasi untuk bertani, menjadikan sektor pertanian sebagai
pilihan terakhir dalam bekerja serta rendahnya minat pemuda untuk turut serta dalam kegiatan-kegiatan terkait pertanian.
Meskipun demikian, masih ada pemuda yang beranggapan bahwa pemuda merupakan penerus di sektor pertanian serta harus bertanggung jawab terhadap sektor pertanian tersebut sebagai generasi penerus. Sebagian besar pemuda beranggapan bahwa pemuda bertanggung jawab menghimpun potensi dimasyarakat untuk meningkatkan pertanian. Paradigma pemuda saat ini terbentuk oleh lingkungan. Sebagai contoh di lingkungan masyarakat pedesaan masih banyak petani yang menggarap lahan pertanian secara tradisional dan mereka hidup dengan ekonomi yang pas-pasan.
Salah satu faktor penting penyebab kurangnya minat pemuda di sektor pertanian adalah peran pemerintah yang masih belum maksimal. Selama ini sektor pertanian memang merupakan sektor yang paling sedikit mendapat perhatian pemerintah. Pembahasan tentang pertanian umumnya dilakukan tanpa dikaitkan dengan sektor lainnya. Akibatnya pembangunan ekonomi dipandng sebagai bagian terpisah dari pembangunan bidang lainnya seperti industri, perdagangan, jasa, serta sektor ekonomi lainnya. Ada yang terlupakan oeh pemerintah dan masyarakat adalah kemajuan industri bukanlah semata disebabkan oleh kerja keras para pelaku industri melainkan banyak kontribusi dan sumbangsih yang berarti dari dunia pertanian kepada dunia industri. Tanpa industri, pertanian masih bisa bertahan, tetapi hal tersebut tidak berlaku sebaliknya. Hal ini terbukti, ditengah hiruk pikuk kemajuan industri, dunia pertanian kembali menjadi sorotan utama dan diyakini memiliki peranan penting dalam kemajuan perekonomian suatu negara.
73
Sempitnya peluang kerja pada bidang non-pertanian seharusnya membuka mata para pemuda untuk lebih survive pada dunia pertanian yang sebenarnya sangat prospektif karena didukung dengan hamparan garis agraris Indonesia yang begitu luas dan kekayaan alam seperti keanekaragaman jenis tumbuhan yang bisa menjadi objek penelitian bahan pangan baru, kemudian dari sumber daya lautnya juga indonesia sangat kaya dengan berbagai jenis ikan, rumput laut dan lain-lain.
4.10. Partisipasi Pemuda dalam Pembangunan Pertanian di Kecamatan