PERIKANAN TANGKAP
6. Interpretasi hasil analisis
6.4.3 Model co-management perikanan tangkap 1 Penentuan model co-management
6.4.3.2 Hasil uji sensitivitas model co-management kooperatif
Hasil analisis sebelumnya menunjukkan model co-management kooperatif kooperatif sebagai model co-management prioritas (paling tepat) bagi pengelolaan perikanan tangkap potensial di Palabuhanratu. Untuk lebih jauh mengetahui keunggulan model co-management ini dalam pengelolaan perikanan tangkap di Palabuhanratu, maka perlu dilakukan analisis sensitivitas. Hasil analisis sensitivitas ini juga memberi petunjuk tentang hal-hal yang harus diperhatikan terutama terkait kriteria pengelolaan yang ada, sehingga model co-management tersebut tetap bertahan sebagai model co-management yang paling tepat dalam pengelolaan perikanan tangkap di lokasi. Tabel 26 menyajikan hasil analisis sensitivitas model co-management kooperatif.
Tabel 26 Hasil analisis sensitivitas model co-management kooperatif No. Aspek Pengelolaan Rasio Kepentingan (RK) Awal Sensitivitas Range RK Stabil Range RK Sensitif
1 Biologi 0,346 0 – 1 Tidak Ada
2 Teknologi 0,163 0 – 1 Tidak Ada
3 Ekonomi 0,286 0 – <0,971 0,971 – 1
4 Sosial dan Budaya 0,205 0 - 1 Tidak Ada
Sumber : Hasil analisis sensitifitas AHP (2011)
Intervensi kepentingan tersebut ditunjukkan oleh tuntutan pemenuhan terhadap berbagai kriteria pengelolaan perikanan tangkap yang ada (Tabel 26). Hal ini cukup wajar karena kriteria-kritera tersebut merupakan penentu atau ukuran keberhasilan dari suatu kegiatan pengelolaan termasuk dengan menerapkan model co-management. Pada Tabel 26, model co-management kooperatif stabil terhadap intervensi atau dinamika perubahan yang terjadi terkait kriteria biologi, teknologi, serta sosial dan budaya. Hal ini ditunjukkan oleh rasio kepentingan (RK) stabil model co-management kooperatif ini yang berada pada
129 range 0 – 1, yang berarti juga tidak ada RK sensitif untuk model co-management ini meskipun tuntutan pemenuhan terkait kriteria biologi, teknologi, serta sosial dan budaya terjadi secara ekstrim. Hal ini karena model co-management kooperatif dianggap sebagai model atau teknik pengelolaan perikanan tangkap yang tepat, baik pada kondisi biologi, teknologi, serta sosial dan budaya yang sangat buruk maupun sangat baik.
Namun untuk intervensi terkait pemenuhan kriteria ekonomi, model co- management kooperatif mempunyai range RK stabil antara 0 - <0,971. Hal ini berarti bahwa pemenuhan kriteria ekonomi yang terjadi saat ini 28,6 % (RK awal = 0,286) dari total pemenuhan aspek pengelolaan yang ada, dari dikurangi pemenuhannya hingga menjadi 0 % dan dapat ditingkatkan pemenuhan hingga menjadi <97,1 %. Namun bila perhatian pengelolaan terlalu difokuskan kepada hal-hal yang bernuasa ekonomi (hasil tangkapan melimpah, keuntungan berlebih, dan lainnya) hingga 97,1 % atau lebih dari total kepentingan kriteria pengelolaan yang ada, maka model co-management kooperatif tidak lagi menjadi model pengelolaan perikanan tangkap terbaik di lokasi. Hal ini perlu menjadi perhatian dalam aplikasi model co-management kooperatif, sehingga manfaat dan kehandalannya tetap terus dirasakan nelayan dan masyarakat pesisir dalam pengelolaan perikanan tangkap di Palabuhanratu.
6.5 Pembahasan
Dalam pemilihan model co-management pengelolaan perikanan tangkap ini, aspek pengelolaan menjadi pertimbangan penting karena kegiatan pengelolaan termasuk dengan menerapkan model co-management akan terkait dengan semua aspek pengelolaan yang ada yang satu sama lainnya akan saling mempengaruhi. Aspek biologi menjadi penentu terkait subur tidaknya perairan sehingga kegiatan perikanan tangkap dapat dilakukan. Menurut Bjorndal dan Zug (1995), perhatian terhadap aspek biologi menjadi faktor penting bagi kelangsungan suatu kegiatan pemanfaatan ikan dan biota laut lainnya. Perlindungan terhadap kawasan yang menjadi habitat ikan dan ruaya ikan, pelestarian terhadap ekosistem, pengaturan jumlah dan jenis ikan yang ditangkap, penyesuaian alat tangkap dengan musim ikan dan lainnya menjadi hal penting bagi kelangsungan pemanfaatan sumberdaya sumberdaya ikan di suatu lokasi. Terkait dengan ini, maka aspek biologi ini
130
menjadi salah kriteria penting dalam pemilihan model co-management yang tepat guna mendukung pengelolaan perikanan tangkap di Palabuhanratu.
Aspek teknologi juga menjadi kriteria pengelolaan yang penting untuk dijadikan perhatian dalam pemilihan model co-management pengelolaan perikanan tangkap. Suatu model co-management yang dalam implementasinya dapat menggerakkan inovasi dalam teknologi penangkapan ikan, mendorong penggunaan teknologi alat tangkap dan bahan pendukung yang ramah lingkungan, tentu akan sangat membantu bagi pengelolaan perikanan tangkap yang berkelanjutan. Pemilihan model co-management yang dapat mengakomodir hal ini dengan baik, tentu menjadi indikasi positif bagi pemanfaatan sumberdaya ikan secara optimal namun tetap berkelanjutan hingga anak cucu. Menurut Monintja (2002), pemilihan teknologi penangkapan ikan yang tepat dapat meminimalisir by cacth, mengurangi destruksi terhadap lingkungan, menjaga keseimbangan ekosistem perairan, dan lebih menjamin pemanfaatan sumberdaya di masa yang akan datang. Sedangkan menurut Bengen (2004), aspek teknologi harus selalu menjadi pertimbangan penting dalam suatu kegiatan pemanfaatan sumberdaya sehingga terjadi keselarasan antara komponen alam dengan manfaat yang diterima pelaku pemanfaatan.
Model co-management yang baik juga harus dapat memberi menggerakkan perekononiman nelayan dan masyarakat pesisir, namun tetap menghormati tata nilai sosial dan budaya yang baik yang diikuti oleh masyarakat selama ini. Menurut Sultana dan Abeyasekera (2008), kesejahteraan hanya dapat ditingkatkan bila kondisi ekononomi masyarakat lebih baik dan interaksi sosial budaya yang terjadi lebih bijaksana dan adanya rasa saling menghargai antar anggota masyarakat. Model co-management yang kooperatif haruslah yang dapat mengakomodir dengan baik atau memberi jalan bagi pemenuhan kondisi ekonomi yang lebih baik bagi masyarakat sekitar. Tata nilai sosial dan budaya yang dijunjung tinggi dan mengedepankan kearifan dengan alam harus dibiarkan tumbuh dan berkembang di lokasi.
Namun demikian, dalam penerapan suatu model co-management, semua aspek pengelolaan tersebut mungkin tidak bisa dipenuhi secara maksimal karena berbagai keterbatasan yang ada. Terkait dengan ini, maka aspek pengelolaan
131 tersebut harus dikembangkan secara proporsional berdasarkan kebutuhan dan urgensi yang ada yang di lokasi. Hasil analisis pada Gambar 12 menunjukkan bahwa aspek biologi merupakan aspek pengelolaan yang paling penting untuk diakomodir dalam pengelolaan perikanan tangkap di Palabuhanratu. Hal ini bisa jadi karena aspek biologi menjadi aspek penentu ada tidaknya kegiatan perikanan di suatu kawasan. Menurut Bengen (2004) dan Hartoto et al. (2009), pengelolaan perikanan yang baik dan menjamin keberlanjutannya haruslah memperhatikan harmonisasi kegiatan pengelolaan dengan aspek biologi, teknologi, ekonomi, sosial dan budaya. Secara detail, aspek biologi yang dimaksud dapat mencakup jenis hasil tangkapan, tingkat pemanfaatan, dan musim ikan, sedangkan yang terkait dengan aspek teknologi diantaranya ukuran kapal, teknologi alat tangkap, jenis alat pendukung penangkapan, jenis BBM dan lainnya. Aspek ekonomi dapat mencakup pendapatan, perimbangan penerimaan dengan pengeluaran, tingkat pengembalian investasi, sedangkan aspek sosial dan budaya dapat mencakup kesejahteraan, tata nilai yang berkembang, dan kenyamanan hidup.
Di samping itu, perairan selatan Jawa yang menjadi fishing ground
perikanan tangkap Palabuhanratu termasuk perairan yang padat
penanagkapannya, sehingga kelestarian komponen biologi sudah menjadi perhatian penting pihak terkait dalam beberapa tahun terakhir ini. Menurut PPN Palabuhanratu (2010) dan Budiono (2005), beberapa tahun terakhir ini aktivitas penangkapan ikan di perairan selatan Jawa meningkat dratis. Dimana banyak nelayan dari utara Jawa, seperti Cirebon, Tegal, dan Pekalongan memilih menangkap ikan di kawasan dan kemudian mendaratkannya pada pelabuhan perikanan terdekat.
Pemerintah Kabupaten Sukabumi (2006) menyatakan bahwa pantai selatan Jawa termasuk di sekitar Palabuhanratu sudah mengalami degradasi dari aspek biologi perairan, dimana ikan-ikan potensial seperti tuna dan cakalang jarang dapat ditangkap yang berukuran ekonomis. Baby tuna telah menjadi bagian penting dari hasil tangkapan nelayan selama ini, sehingga hanya laku di pasar- pasar lokal. Kondisi ini juga menjadi penyebab penting mengapa secara ekonomi kehidupan nelayan di lokasi belum membaik, meskipun hasil tangkapan ikan yang didapat relatif stabil. Hasil identifikasi lapang menunjukkan bahwa nelayan akan
132
membawa pulang ikan dengan ukuran berapapun yang mereka tangkap, karena bila dilepas kembali maka dapat mengurangi penghasilan mereka dan ekonomi keluarga tidak dapat dibantu. Brown et al. (2005) dan Budiono (2005) menyatakan bahwa bila kebutuhan dan ekonomi keluarga belum tercukupi, maka nelayan cenderung akan melakukan apa saja untuk mendapatkan hasil tangkapan, dan bila hal ini tidak dilakukan, maka kebutuhan hidup sehari-hari keluarga akan terlantar dan hutang mereka akan semakin banyak di tengkulak. Terkait dengan ini, maka model co-management yang kooperatif nantinya juga haruslah evaluasi keberhasilannya dari aspek ekonomi dan kesejahteraan bagi masyarakat sekitarnya. Hasil analisis AHP menunjukkan aspek ekonomi termasuk prioritas kedua (RK = 0,286 pada IR = 0,07) setelah aspek biologi dalam pengelolaan perikanan tangkap di Palabuhanratu.
Dalam kaitan dengan faktor pembatas pengelolaan, ketersediaan sumberdaya menjadi faktor pembatas paling penting yang harus diperhatikan untuk mendukung aspek biologi dalam penerapan model co-management perikanan tangkap (Tabel 13). Hal ini bisa jadi karena sumberdaya ikan menjadi penciri utama eksistensi komponen biologi perairan, dimana kehidupan laut terutama yang berpengaruh langsung bagi kehidupan manusia dan keseimbangan ekosistem laut ditentukan oleh keberadaan berbagai jenis sumberdaya ikan potensial. Menurut Brown (2005), kehidupan biologi di laut ditentukan oleh interaksi sumberdaya ikan dengan ikan lainnya (mangsa dan pemangsa) dan dengan komponen lingkungan sekitarnya (70 – 85 %). Sisanya merupakan interaksi antar komponen biota laut yang tidak berpindah tempat.
Terkait dengan ini, maka kegiatan pemanfaatan yang dilakukan oleh manusia, termasuk dengan mengambangkan suatu teknologi penangkapan ikan, sangat ditentukan oleh keberadaan pembatas berupa sumberdaya ikan ini (Tabel 15). Pengembangan teknologi ini selalu dilakukan dengan mempertimbangkan jenis sumberdaya ikan yang ditangkap, kemudian baru mempertimbangkan faktor lingkungan yang mempengaruhinya. Meskipun aspek teknologi bukan kriteria utama (prioritas keempat) dalam pengelolaan perikanan tangkap dengan menerapkan model co-management, tetapi pengembangan teknologi yang bersesuaian harus diperhatikan karena setiap sumberdaya ikan sasaran
133 mempunyai tingkah laku dan pola migrasi tersendiri. Hendriwan et al. (2008) dalam penelitiannya menyatakan optimasi perikanan tangkap sangat ditentukan oleh pemilihan strategi yang tepat dalam penangkapan ikan, sedangkan aspek kesesuaian teknologi dan unit penangkapan dengan sumberdaya ikan sasaran menjadi kunci utama untuk keberhasilannya.
Dalam pemenuhan aspek ekonomi sebagai salah satu kriteria yang diperhitungkan dalam pengelolaan perikanan tangkap di Palabuhanratu termasuk dengan menerapkan model co-management, faktor pembatas berupa sumber dan jumlah modal merupakan yang paling krusial. Hal ini memberi indikasi bahwa bahwa perbaikan ekonomi keluarga dan masyarakat nelayan harus diawali dengan perbaikan manajemen pengelolaan usaha terutama terkait dengan siklus pemodalan. Bila dilihat lebih jauh, pemodalan inilah yang menjadi penyebab nelayan tidak bisa menjangkau fishing ground yang lebih potensial, dan pemodalan juga yang menjerat nelayan terlilit hutang-piutang berbunga tinggi. Dalam hal ini, maka model co-management kooperatif hendaknya yang dapat mengatasi masalah pemodalan ini. Menurut Hanna (1995), pengelolaan kegiatan ekonomi perikanan harus melibatkan nelayan dan masyarakat pesisir, sehingga mereka lebih terampil dalam pengelolaan usaha ekonominya, dapat memahami permasalahan masing-masing, dan mengambil pemecahan berdasarkan kemampuan bersama. Dengan kebersamaan ini, maka lembaga keuangan formal lebih tertarik bermitra dalam pemodalan karena selain jumlahnya banyak juga karena masyarakatnya saling mendukung, dan bermitra atas kesadaran sendiri.
Dalam kaitan dengan aspek sosial dan budaya, faktor pembatas berupa ketersediaan sumberdaya dan tata ruang kewilayahan menjadi faktor pembatas penting yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan perikanan tangkap dengan menerapkan model co-management. Hal ini bisa jadi karena ketersediaan sumberdaya terutama ikan potensial sangat mempengaruhi hasil yang didapat nelayan setiap kali berangkat melaut, dan kondisi ini menentukan tingkat kesejahteraan dan kondisi kehidupan sosial nelayan. Sedangkan tata ruang dapat menghindari konflik yang terjadi diantara anggota msayarakat termasuk dari kalangan nelayan, sehingga kehidupan sosial di kawasan lebih tenteram. Model co-management yang baik harus dapat mengakomodir kepentingan sosial yang
134
ada di masyarakat sekitar. Hartoto et al. (2009) menyatakan bahwa pelibatan lokal dan kondisi kehidupan sosial yang baik merupakan komponen kunci keberhasilan pengelolaan perikanan berbasis co-management. Bila mereka merasa nyaman, maka berbagai bentuk pengelolaan yang diintroduksi di kawasan dapat diterima dengan baik.
Kooperatifnya model co-management kooperatif sebagai model co- management prioritas pertama (Gambar 22) untuk pengelolaan perikanan tangkap di Palabuhanratu lebih didasari oleh konsep-konsep yang ditawarkan oleh model co-management memberi ruang dan akomodasi yang lebih bagi masyarakat sekitar. Secara umum, model co-management kooperatif dianggap lebih memperhatikan aspek pengelolaan yang dipersyaratkan dan faktor pembatas pengelolaan yang secara nyata ada di lokasi. Menurut Nikijuluw (2002), model co-management kooperatif merupakan model pengelolaan sumberdaya atau suatu kawasan yang mengedepankan kerjasama, komunikasi dua arah, dan pelibatan masyarakat lokal pada berbagai aktivitas pengelolaan sehingga mampu memecahkan setiap masalah yang dihadapi dan hasilnya membawa manfaat bagi semua pihak. Konsep pengelolaan ini membantu menggerakkan potensi lokal yang ada, sehingga mencapai kemandiriannya.
Bila dibandingkan dengan model co-management konsultatif (prioritas kedua), maka model co-management kooperatif lebih baik dalam memenuhi aspek biologi, teknologi, serta sosial dan budaya. Model co-management
konsultatif hanya sedikit lebih baik dalam memenuhi aspek ekonomi (Lampiran 31). Model co-management kooperatif lebih dapat memenuhi aspek
biologi, diduga karena model co-management menerapkan konsep kebersamaan termasuk dalam aplikasi perlindungan komponen biologi perairan. Keikutsertaan langsung Pemerintah dan stakeholders terkait baik dalam bentuk pengiuktsertaan personil maupun pendanaan dalam kegiatan lapang konservasi seperti penanaman bakau, pelepasan bibit ikan, dan pengurangan pencemaran industri di laut lebih dapat mengerakkan kesadaran nelayan dan masyarakat untuk ikut memelihara komponen biologi perairan dan menghindari penggunaan alat tangkap tidak ramah lingkungan. Menurut Hartoto et al. (2009) harmonisasi pelibatan nelayan, Pemerintah, pengusaha, dan masyarakat lokal dalam pengelolaan perikanan
135
tangkap dan komponen pendukungnya merupakan penerapan konsep co-managemnet yang baik yang melanggengkan pengelolaan sumberdaya
perikanan hingga masa mendatang.
Model co-management kooperatif juga lebih dapat mengakomodir aspek teknologi dan aspek sosial dan budaya, karena adopsi teknologi dan mekanisme pemanfaatan yang baru dengan melibatkan nelayan dari awal dan dilakukan secara bersama-sama lebih dapat menjamin penerapannya secara luas di masyarakat. Hal ini sangat penting terutama untuk mendukung penerepan teknologi penangkapan ikan yang ramah lingkungan. Secara sosial, pelibatan nelayan dan masayarakt lokal juga lebih dapat menciptakan harmonisasi program dengan masyarakat sekitar, dan bila ada pertentangan dengan tata nilai budaya lebih dapat dengan mudah dipecahkan. Sedangkan model co-management konsultatif menurut Nikijuluw (2002) lebih terkesan satu arah sehingga tata nilai sosial dan budaya yang ada di masyarakat kurang dapat diakomodir.
Model co-management konsultatif dalam menjadi back-up, bila model co-management kooperatif menemuai masalah yang serius dalam penerapannya
terutama terkait dengan pemenuhan aspek ekonomi. Menurut Liana et al. (2001), pengarahan yang jelas dan konsultatif yang intensif terkadang lebih sukses dalam pengelolaan sumberdaya perikanan dan pesisir untuk tujuan komersial. Hal ini karena setiap rencana dan aksi dapat dilakukan ditentukan secara cepat dan jelas. Sedangkan menurut Mamuaya et al. (2007), usaha perikanan yang dikelola dengan manajemen yang kuat dan mempunyai pola komunikasi yang jelas bagi pekerjanya lebih dapat berkembangkan dan menguntungkan secara ekonomi.
Bila dibandingkan dengan model co-management informatif, model advokati, dan instruktuf, maka model co-management kooperatif lebih unggul dalam memenuhi semua aspek pengelolaan yang ada. Hal ini bisa jadi karena perhatian yang lebih baik terhadap perlindungan biologi perairan, penerapan teknologi yang ramah lingkungan, peningkatan ekonomi, serta kehidupan sosial yang lebih baik bagi masyarakat akan lebih dapat dilakukan bila ada kebersamaan, keterbukaan, dan kelibatan bersama dalam menyukseskannya. Rossiter (2007) dan Hamdan et al. (2006) menyatakan bahwa keberlanjutan pengelolaan perikanan
136
lainnya dalam mengakomodir kaidah-kaidah pengelolaan yang baik mulai dari pengelolaan stock, penerapan teknologi penangkapan ramah lingkungan, pemberdayaan ekonomi nelayan, dan masyarakat sekitar, perlindungan terhadap tata nilai lokal, dan perhatian terhadap kehidupan nelayan kecil yang terdapat di kawasan perikanan.
Untuk mendukung implementasi model co-management kooperatif sebagai model co-management kooperatif, maka tingkat kestabilan model co-management ini dalam mengakomodir aspek pengelolaan yang ada perlu diketahui. Informasi ini menjadi acuan penting bagi operasional pengelolaan, sehingga model co- management kooperatif tetap terandalkan dalam mendukung pengelolaan perikanan tangkap di Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi Jawa Barat. Nilai RK stabil pada Tabel 26, memberi indikasi bahwa model co-management kooperatif akan stabil terhadap perubahan apapun yang terjadi terkait dengan aspek biologi, teknologi, serta sosial dan budaya yang terjadi kawasan. Perubahan terkait aspek biologi bisa berupa sumberdaya ikan menjadi langka, pencemaran biota perairan atau perubahan menjadi positif seperti, kegiatan konservasi terumbu karang, pelepasan bibit ikan (restocking) diintensifkan dan lainnya. Bila hal ini terjadi, maka tetap model co-management kooperatif yang paling baik sebagai tindakan pengelolaan. Hanna (1995), bila suatu konsep pengelolaan sumberdaya dapat menyelesaikan krisis pengelolaan terberat yang ada, maka kehandalan konsep tersebut tidak diragukan lagi.
Nilai RK stabil model co-management kooperatif yang berkisar 0 - 1 terhadap perubahan aspek teknologi serta sosial dan budaya, juga memberi indikasi bahwa perubahan apapun yang terjadi dalam pengembangan teknologi penangkapan dan kehidupan sosial dan budaya masyarakat nelayan di Palabuhanratu baik itu perubahan positif maupun perubahan negatif tidak akan menggantikan model co-management kooperatif sebagai cara penyelesaian atau penanganannya. Budiono (2005) dan Pemerintah Kabupaten Sukabumi (2006) menyatakan bahwa budaya dan kebiasaan yang kurang baik/negatif yang masih diikuti oleh nelayan Palabuhanratu, ada kebiasaan mengutang kepada tengkulak tidak hanya untuk keperluan melaut, tetapi juga untuk keperluan pesta pernikahan, biaya anak sekolah dan lainnya. Hal ini sangat memberatkan nelayan terutama
137 bila hasil tangkapan kurang baik dan hal ini cukup sering terjadi di lokasi. Beberapa kali pernah terjadi konflik antara nelayan dan tengkulak (bakul) yang menjurus kepada konflik massal. Bila mengacu kepada hasil analisis Tabel 26, maka model co-management kooperatif dapat diandalkan untuk memecahkan masalah ini dan permasalahan lainnya yang terjadi dalam interaksi teknis perikanan tangkap di lokasi. Arahan implementasi terkait model co-management kooperatif ini sebagai model co-management kooperatif akan disajikan lebih detail pada Bab 7. Namun secara umum, model co-management kooperatif ini dapat menjadi pilihan untuk pengelolaan perikanan tangkap yang lebih baik di lokasi, baik pada saat terjadinya konflik sosial, penggunaan teknologi penangkapan destruktif, maupun pada saat terjadinya kelangkaan pada sumberdaya ikan potensial yang biasa ditangkap nelayan.
Dalam aplikasinya, model co-management kooperatif ini stabil terhadap intervensi atau dinamika perubahan yang ekstrim pada keriteria/aspek biologi (SDI dan lainnya), teknologi (alat tangkap, kapal, dan alat pendukung penangkapan), serta sosial dan budaya (range RK stabil 0 – 1, atau RK sensitif tidak ada).
Namun demikian, model co-management kooperatif sensitif terhadap perhatian berlebihan pada aspek ekonomi yang ditunjukkan oleh adanya range RK sensitif 0,971 – 1. Fokus yang berlebihan pada aspek ekonomi tersebut dapat berupa peningkatan jumlah kapal dan intensitas penangkapan hanya untuk mengejar hasil tangkapan banyak dan keuntungan berlebih, sehingga melupakan kelestarian sumberdaya dan merusak lingkungan sekitar. Hal ini perlu menjadi perhatian dalam aplikasi model co-management kooperatif, sehingga manfaat dan kehandalannya tetap terus dirasakan nelayan dan masyarakat pesisir dalam pengelolaan perikanan tangkap di Palabuhanratu, Provinsi Jawa Barat.
6.6 Kesimpulan
Model co-management kooperatif merupakan model yang paling tepat bagi pengelolaan perikanan tangkap di Palabuhanratu dengan rasio kepentingan (RK) sekitar 0,259 pada inconsistency terpercaya 0,07.
138
6.7 Saran
Disarankan mengintegrasikan co-management kooperatif dengan konsep minapolitan di Palabuhanratu. Co-management kooperatif perikanan tangkap merupakan pengelolaan yang memberi peran seimbang pada Pemerintah dan komunitas nelayan. Program minapolitan menekankan bahwa pengelolaan kawasan Palabuhanratu dikoordinasikan dan diintegrasikan oleh pemegang otoritas pelabuhan, sehingga semua stakeholders berkonstribusi guna mencapai optimalisasi pengelolaan perikanan tangkap namun peran seimbang tidak terlihat maka co-management yang disarankan menyeimbangkan peran tersebut.
139
7 POLA IMPLEMENTASI CO-MANAGEMENT TERPILIH
7.1 Pendahuluan
Kegiatan perikanan tangkap di Palabuhanratu tidak lepas dari permasalahan sumberdaya manusia, permodalan, teknologi maupun kinerja usaha perikanan tangkap. Pola implementasi model co-management dikatakan baik bila sinkron dengan dinamika usaha perikanan tangkap dan relevan dengan kebutuhan pemecahan masalah. Pola implementasi co-management minimal menyangkut dukungan pengembangan sumberdaya manusia, dukungan pengembangan teknologi, ketersediaan modal sehingga kinerja usaha perikanan tangkap menjadi lebih baik.
Permasalahan perikanan tangkap di Indonesia diantaranya data perikanan, kemisikinan nelayan, armada perikanan lemah, illegal fishing dan penegakan hukum (Baskoro, 2008). Disamping itu tenaga penyuluh perikanan di Indonesia sangat terbatas sehingga tidak terjadi transformasi knowledge dan teknologi kepada nelayan. Jika pun ada SDM penyuluh perikanan kinerja dan kapabilitasnya rendah. Bukan hanya itu biaya penyuluh dikontrak Pemerintah dan dipekerjakan per tahun by project, sehingga tanggung jawab dan kontinyuitas pengabdian mereka terbatas. Disamping penyuluhan, SDM pengawasan juga diperlu ditingkatkan untuk mengurangi pencurian ikan khususnya di ZEE (Budiono,