• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Wawancara

1. Hasil Wawancara dengan OMK Paroki St. Petrus dan

Wawancara ini dilakukan berdasarkan pertanyaan yang diajukan penulis sebagai peneliti kepada 11 responden yakni OMK Paroki St. Petrus dan Paulus Klepu. Wawancara pertama dilakukan kepada 4 OMK pada bulan November 2019 via wa karena kesulitan mengatur waktu untuk bertemu secara langsung. Keempat responden ini adalah R1 (usia 25 tahun, karyawan disalah satu Rumah sakit swasta di Jogjakarta), R2 (Usia 23 tahun, seorang karyawan swasta), R3 (Usia 22 tahun, mahasiswa tingkat akhir disalah satu Universitas swasta), R4 (Usia 23 tahun, membuka bengkel dan bekerja bersama teman-temannya).

Wawancara kedua dilakukan kepada 7 OMK pada bulan Desember 2019, mereka adalah R5 (Usia 19 tahun, mahasiswi disalah satu universitas di Jogjakarta), R6 (Usia 19 tahun, mahasiswi disalah satu universitas swasta di Jogjakarta), R7 (Usia 22 tahun, baru lulus kuliah dan sedang mencari pekerjaan), R8 (Usia 23 tahun, mahasiswi disalah satu universitas swasta di Jogjakarta), R9 (Usia 23 tahun, mahasiswi tingkat akhir disalah satu universitas swasta di Jogjakarta), R10 (Usia 27 tahun, seorang karyawan swasta), R11 (Usia 24 tahun, mahasiswa pasca sarjana

disalah satu universitas swasta di Jogjakarta). Untuk wawancara lanjutan kepada 11 responden dilakukan pada bulan Mei via wa.

Berikut ini penulis memaparkan hasil wawancara dengan 11 OMK sebagai responden. Wawancara dilakukan berdasarkan pertanyaan yang telah diajukan penulis mengenai proses katekese yang terjadi dan model pendampingan yang diharapkan oleh OMK di Paroki St. Petrus dan Paulus.

a. Katekese orang muda di Paroki St. Petrus dan Paulus Klepu

Melalui wawancara yang dilakukan pada bulan November-Desember 2019 kepada 11 OMK sebagai responden, 4 diantaranya diwawancarai via wa dan 7 lainnya diwawancarai secara langsung. Setelah 11 responden diwawancarai seluruhnya, 4 responden mengungkapkan bahwa tidak ada katekese orang muda di paroki dan 7 responden mengatakan bahwa ada kegiatan-kegiatan katekese yang selama ini diadakan paroki bagi OMK seperti EKM, Sarasehan, Makrab, Taize, Tablo, dan Rekoleksi.

Mengenai kegiatan katekese orang muda di paroki, R1 mengungkapkan, “Menurut saya sangat kurang, karena pendamping tidak memberikan katekese kepada orang muda”. Senada dengan yang dikatakan oleh R2 bahwa di paroki belum ada katekese khusus orang muda. Jawaban yang hampir sama juga diungkapkan oleh R4 “Mengenai katekese khusus orang muda setahu saya di paroki belum ada.

Berbeda dari ketiga responden di atas, ketika berbicara mengenai katekese orang muda di paroki, R5 mengungkapkan “Sudah cukup baik. Hanya perlu dibuat

lebih menarik konsepnya, dan harapannya katekese yang diadakan bisa dilakukan antara orang muda dengan orang muda sehingga dapat merangkul yang lain”. Bagi R7 katekese yang berlangsung sudah cukup baik, “Tapi perlu diperbaiki juga, misalnya ketika ada EKM tidak jatuh hanya pada foya-foyanya tapi ada sesuatu yang lain yang berguna untuk kehidupan iman sebagai orang muda”. Menurut R11 kegiatan katekese di paroki sudah cukup baik, “…ada beberapa kegiatan yang memang dikhususkan untuk orang muda, misalnya EKM, Tablo dan juga pernah ada rekoleksi khusus untuk orang muda”.

Kegiatan katekese yang dilakukan di paroki terkadang juga kurang menarik bagi OMK. Seperti yang disampaikan oleh R9, “Kalau ada Sarasehan kadang hanya mendengarkan jadi pada males untuk datang”. Katekese yang diberikan juga perlu menyentuh area di luar altar, seperti yang dikatakan oleh R11 “Pengennya pendamping bisa memahami orang muda masa kini yang berbeda dengan orang muda zaman dulu. Pengennya model katekese yang diberikan tidak hanya membawa orang muda berkecimpung di sekitar altar saja tetapi juga bisa peduli dengan situasi di masyarakat sosial, budaya atau bahkan politik. Misalnya katekese tentang kebangsaan”.

Penyampaian informasi mengenai kegiatan katekese juga perlu diperhatikan agar dapat diketahui dan dipahami OMK dengan baik. Seperti yang dikatakan oleh R9, “Jika ada kegiatan perlu disosialisasikan dengan lebih baik agar tidak salah persepsi. Selain itu ketika ada kegiatan misalnya Sarasehan, perlu dikemas dengan

lebih menarik agar OMK tidak ‘hanya datang dan hadir sebagai pendengar’ sehingga kegiatan terasa membosankan dan membuat OMK malas untuk datang”.

b. Manfaat dan makna katekese bagi orang muda

R1 mengungkapkan pendapatnya mengenai pentingnya katekese, “Menurut saya sangat penting karena selain bisa memenuhi banyak tanya di dalam jati diri orang-orang muda, juga bisa mengumpulkan orang muda yang kurang aktif…”. R3 juga mengakui pentingnya katekese bagi orang muda, “… dengan adanya pendampingan iman untuk orang muda, mereka diajak untuk memperkuat imannya sehingga apabila diterpa badai, iman itu akan kuat. Contohnya: cinta beda agama mengakibatkan iman orang muda goyah. Melalui pembinaan iman harapannya iman menjadi kuat”.

Menurut R4, “Penting diadakan katekese khusus orang muda karena iman kerap dipersepsikan sendiri-sendiri. Mungkin kalau ada katekese khusus orang muda, membuat orang muda bisa memiliki wawasan yang lebih luas untuk perkembangan imannya”. Pentingnya katekese juga diungkapkan oleh R5, “… orang muda zaman sekarang kalau nggak diajak untuk ikut kegiatan seperti ini bisa hilang dari peredaran. Selain itu buat nyari teman juga, mengembangkan talenta, cari pengalaman, bertemu dengan orang banyak juga jadi belajar bergaul”.

Menurut R6, katekese itu penting karena bisa mengarahkan mau kemana arah hidup selanjutnya baik tentang iman ataupun juga dalam hidup bermasyarakat. Sementara bagi R7 katekese orang muda menjadi penting karena orang muda

membutuhkan kegiatan yang dapat menumbuhkan iman terlebih dalam situasi zaman ini sehingga orang muda dapat eksis tidak hanya dalam kegiatan–kegiatan gereja tapi juga kegiatan di luar gereja. R8 menyadari bahwa proses katekese dapat membantu proses pencarian dan penemuan jati diri yang masih dilakukan oleh OMK, sehingga membutuhkan masukan dan pembinaan melalui katekese.

Pendapat ini didukung pula oleh R9, “Melalui katekese iman orang muda dapat semakin bertumbuh dan berkembang karena saat ini masih banyak orang muda yang belum menemukan jati dirinya sebagai orang Katolik”. R10 menyadari, orang muda masih dalam tahap pencarian jati diri, imannya masih labil terlebih jika sudah bertemu dengan lawan jenis yang berbeda agama, maka perlu pendampingan melalui katekese orang muda.

Katekese menjadi sesuatu yang penting bagi OMK karena mereka dapat memaknai kegiatan katekese itu dalam kehidupan beriman mereka. Bermacam-macam cara OMK menghayati kegiatan-kegiatan katekese yang telah dilakukan diparoki sebagai bentuk pembinaan iman. Bagi R5 melalui kegiatan-kegiatan EKM, Tablo dan Taize, OMK bisa berkumpul dalam nama Tuhan dengan tujuan yang sama yaitu memuliakan nama Tuhan. Melalui kebersamaan dalam EKM, orang muda dapat belajar untuk saling memahami perbedaan lewat dinamika bersama. Doa Taize menjadi sebuah kesempatan memberikan diri dan waktu sepenuhnya untuk berdoa. Melalui tablo penghayatan akan pengorbanan Tuhan Yesus untuk menyelamatkan manusia semakin kuat sehingga menjadi lebih mengerti dan mensyukuri hidup yang diberikan Tuhan. Pendapat ini didukung oleh R6 yang

memaknai Tablo sebagai sarana untuk semakin menghayati pengorbanan Yesus demi keselamatan manusia. Bagi R7 melalui katekese ia dapat memperdalam imannya.

Pentingnya katekese bagi orang muda juga dikatakan oleh responden dengan mengungkapkan keingintahuan mereka tentang katekese. Seperti yang dikatakan oleh R9, “…ingin mengetahui lebih dalam hal-hal yang dapat menumbuhkan iman orang muda agar tidak mudah terbuai dengan hal-hal duniawi saja”. Harapan yang dikatakan R7 juga menunjukkan pentingnya katekese bagi mereka. R7 berharap agar nilai-nilai yang diperoleh dari kegiatan katekese misalnya rekoleksi dapat terus berlangsung dalam kehidupan sehari-hari dan tidak hanya dalam kegiatan saja.

c. Makna perjumpaan/srawung bagi OMK

Pelaksanaan katekese tentu saja mengandaikan terjadinya suatu perjumpaan diantara OMK. Melalui wawancara lanjutan yang dilakukan pada bulan Mei via wa diperoleh informasi mengenai makna berkumpul/srawung bagi OMK. Bagi R1 melalui perjumpaan/srawung komunikasi antar individu dapat terjalin, saling bercerita, bertukar pikiran, berbagi keluh kesah serta saling membantu untuk mewujudkan keharmonisan. Srawung membentuk suatu relasi seperti sebuah keluarga yang saling melindungi dan melengkapi serta membangun kepedulian terhadap sesama. Jika relasi yang baik sudah terjalin maka program dalam kegiatan menggereja akan menjadi mudah untuk dilaksanakan.

Pendapat yang dikatakan R1 didukung oleh R8 yang menyatakan bahwa perjumpaan antar OMK menjadi kesempatan untuk belajar menjalin relasi dengan

teman, belajar berkomunikasi dan menambah pengalaman. Srawung menjadi tempat melatih diri untuk berinteraksi dengan orang lain. R10 juga memiliki pendapat yang hampir sama. Baginya srawung dapat mempererat kedekatan secara emosional, saling support satu sama lain. Semakin sering berkomunikasi akan semakin saling mengenal, dan pada akhirnya akan menjadi lebih enak untuk kerja

bareng, pun dalam melakukan pelayanan di gereja.

Sementara itu bagi R2 srawung menjadi tempat untuk menambah pengalaman dengan mengenal banyak pribadi yang masing-masing memiliki keunikan. Berproses dalam diskusi untuk menyelesaikan suatu konflik, tukar pendapat dan belajar bagaimana saling menghargai. Srawung menjadi tempat untuk belajar menyesuaikan diri dengan lebih mudah terhadap orang lain. Perjumpaan dengan teman-teman memotivasi untuk lebih rajin.

Pendapat ini didukung oleh R9 yang menyatakan bahwa srawung dapat menambah pengalaman baru mengenai hidup bersama dalam perbedaan, pun bisa saling meneguhkan dengan sharing pengalaman iman kalau dengan yang seiman. R11 juga memiliki pendapat yang hampir sama. Baginya srawung dengan sesama baik di dalam OMK ataupun di luar OMK akan menghasilkan persaudaraan yang baik, sehingga isu-isu yang bertentangan dengan toleransi dapat ditekan. Sementara bagi R3 srawung bisa menjadi wadah yang mendewasakan, sebagai sarana untuk mendapat pengalaman baru dalam hal-hal positif dan mendapat banyak teman sehingga jika butuh bantuan akan ada banyak teman-teman yang membantu. Seperti pendapat R4 dan R5 yang menyatakan bahwa manusia adalah mahluk sosial yang membutuhkan relasi dan bantuan dari orang lain.

Bagi R5 srawung dapat meningkatkan mood karena bertemu dengan teman-teman. “Yang tadinya sendirian, malas-malasan jadi happy karena bertemu dengan teman-teman”. Lewat pertemuan dengan orang lain, OMK belajar untuk berdinamika bersama, belajar mengatur emosi diri, belajar hal-hal baru serta belajar memahami perbedaan. Pendapat ini didukung oleh R7 yang menyatakan bahwa selain untuk belajar memahami, mengasihi Tuhan dan sesama, srawung juga bisa menjadi tempat untuk mengekpresikan perasaan yang ada di dalam diri.

Menurut R10 srawung memiliki banyak manfaat seperti ‘Menyamakan frekuensi’ antar pribadi atau jalan untuk menyamakan visi dan misi. ”Biasanya sih akan muncul cerita-cerita, sharing-sharing dari yang bercanda sampai ke yang serius tentang keprihatinan-keprihatinan di sekitar atau mungkin permasalahan yang dialami sendiri. Dari situ biasanya akan muncul ide-ide baru, misalnya bikin kegiatan apa untuk menjawab keprihatinan yang dirasakan. Dari kumpul-kumpul ini kadang secara gak disadari bisa menjadi jalan untuk menyamakan visi dan misi

gitu”. Bagi R10 melalui srawung OMK dapat saling menguatkan dan menopang

satu sama lain lewat saling berbagi bercerita. d. Sosok pendamping yang diharapkan

Kegiatan-kegiatan katekese bagi orang muda perlu dimotori oleh seorang pendamping. Melalui wawancara diperoleh informasi bahwa OMK merasa pendamping yang sudah ada belum banyak berperan. R10 menyatakan bahwa pendampingan hanya dilakukan ketika ada kegiatan. Ketika tidak ada event-event khusus maka tidak ada pendampingan. Sementara R1 mengatakan bahwa katekese untuk orang muda masih sangat kurang karena pendamping tidak memberikan

katekese kepada orang muda. R8 juga memberikan penegasan bahwa dalam proses katekese, pendamping belum sungguh-sungguh hadir sebagai teman bagi orang muda. Bagi R10, OMK sebenarnya butuh pendamping khusus, tidak dibebani tugas rangkap. Pendamping OMK yang ditunjuk oleh paroki adalah ketua bidang paguyuban sehingga pendampingannya tidak terlalu maksimal. Artinya, pendamping belum cukup berperan dalam memberikan pendampingan dan katekese kepada orang muda.

Selain sebagai motor penggerak yang sungguh-sungguh dapat menggerakkan, seorang pendamping juga perlu mendapat tempat di hati OMK. Dari hasil wawancara yang dilakukan, diperoleh informasi mengenai sosok pendamping yang diharapkan dan membuat OMK merasa nyaman. Jawaban dari responden bermacam-macam. R1 mengatakan bahwa yang membuat merasa nyaman dengan seorang pendamping adalah pribadi yang memiliki selera humor tinggi dan mudah bergaul. R1 berharap agar seorang pendamping dapat membaur seperti anak muda dan memiliki bahan pendampingan yang cukup.

R2 dan R3 memberikan penjelasan yang hampir sama. Bagi mereka rasa nyaman terhadap pendamping muncul ketika pendamping terbuka untuk memahami, memberi dukungan, memberikan apresiasi kepada OMK, memiliki sikap membimbing seperti teman dan mengadakan kegiatan yang sesuai dengan minat anak muda masa kini. Harapannya seorang pendamping adalah figur yang memiliki kemauan untuk mendampingi orang muda, mengerti dan memahami anak muda, mendukung serta mengapresiasi ide dan karya anak muda, membimbing agar lebih berkembang serta tidak membuat batasan karena perbedaan usia sehingga

ketika curhat dengan pendamping tidak ada rasa sungkan.

Pendapat ini didukung oleh R11 yang menyatakan agar pendamping yang usianya lebih tua tidak menempatkan diri sebagai seorang senior dan merasa lebih hebat karena memiliki lebih banyak pengalaman, tetapi mau berbaur dengan OMK sehingga OMK tidak sungkan untuk berkomunikasi. Seorang pendamping diharapkan mampu membawa diri ke dalam dunia orang-orang muda yang didampingi. Misalnya pendamping yang berusia lebih tua harus paham cara-cara berpikir orang muda. R11 berharap ketika OMK sedang mengalami masalah-masalah, pendamping dapat memberikan bantuan untuk menyelesaikan.

R4 memberikan jawaban yang sedikit berbeda. Baginya rasa nyaman terhadap pendamping muncul jika pendamping memiliki wawasan luas dan ahli dibidangnya. Harapannya bagi pendamping orang muda adalah pendamping tidak harus sangat pintar dalam hal pengetahuan, tetapi dapat merangkul, mengayomi OMK dan dapat diajak belajar bersama.

R5 menyatakan bahwa rasa nyaman terhadap pendamping muncul ketika pendamping memberikan perhatian tetapi tidak mengekang, karena menurutnya orang muda tidak suka dikekang. R5 mengharapkan sosok pendamping yang mau dan mampu mendampingi, menemani, hadir sebagai penengah dan berani memberikan kepercayaan kepada orang muda untuk mencari jalan keluar ketika ada masalah yang sedang dihadapi, dengan demikian OMK dan pendamping berjalan bersama.

Bagi R6 rasa nyaman terhadap pendamping muncul ketika pendamping dapat merangkul dan mengajak semua OMK ikut terlibat dalam kegiatan-kegiatan

kebersamaan. Sosok pendamping yang diharapkan adalah pendamping yang tidak membeda-bedakankan antara OMK yang masih SMA (Sekolah Menengah Atas) dengan OMK yang kuliah dan yang sudah bekerja. R6 juga berharap agar pendamping OMK mau ‘duduk’ bersama dengan OMK.

Mendukung pendapat R5 dan R6, R7 menegaskan kembali bahwa rasa nyaman terhadap pendamping muncul ketika pendamping hadir sebagai pemberi semangat, mengayomi, bisa jadi penengah dan tegas. Selain itu yang lebih penting adalah pendamping mau bergabung bersama OMK. Sosok pendamping yang diharapkan adalah pendamping yang tidak hanya menggurui, tapi mau duduk bersama OMK dan bisa menjadi teman berbagi kisah. Pendapat ini juga didukung oleh R8 yang menyatakan bahwa rasa nyaman terhadap pendamping akan muncul ketika pendamping mau berbaur dengan OMK. Pendamping bukan menjadi sosok yang ditakuti tapi mau menjadi teman. R8 mengharapkan pendamping OMK yang mampu menempatkan diri sebagai teman dan bisa menjadi tempat bercerita dan tidak membawa kesan menggurui.

Sementara itu R9 menegaskan bahwa yang membuat rasa nyaman terhadap seorang pendamping adalah kedekatan yang dibangun terhadap OMK. Pendamping tahu permasalahan-permasalahan yang dialami OMK sehingga nyambung ketika diajak bercertia dan menempatkan diri sebagai teman sehingga OMK tidak merasa sungkan. R9 berharap pendamping OMK tidak hanya suka memberi ceramah atau petuah-petuah suci, tetapi juga mau mendengarkan apa yang sedang menjadi pergumulan orang muda.

pendamping muncul ketika pendamping mampu hadir menjadi teman dan juga pembimbing. Menurut R10 pendamping kerapkali hadir sebagai pendamping yang hanya memberikan wejangan, padahal OMK juga membutuhkan pendamping yang hadir sebagai teman, dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang muda sehingga tidak sungkan untuk berbagi cerita. R10 berharap agar pendamping bisa membaur dengan orang muda dan bisa menempatkan diri sesuai dengan cara pandang OMK.