• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PAPARAN DATA DAN HASIL TEMUAN PENELITIAN

B. Temuan Penelitian

1. Hasil Wawancara dengan Pengurus dan Pengasuh

Dengan adanya sebuah pendidikan, anak diharapkan mampu untuk memahami ajaran agama dan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Secara umum, anak-anak di Panti Asuhan Putri Aisyiyah Tuntang telah menerima pendidikan yang layak, baik pendidikan formal maupun informal. Sehingga mereka dapat memahami ajaran agama dan dapat mengamalkannya. Sebagaimana yang telah diutarakan oleh Ibu AM:

Pengetahuan anak-anak tentang keagamaan itu sudah baik. Karena dari hari senin sampai sabtu itu ada kegiatan. Misalnya pengajaran tajwid, akidah, fiqih, dan terkadang ada pengajian yang bekerja sama dengan panti asuhan putra. Kalau untuk

prakteknya anak-anak diwajibkan untuk shalat berjama‟ah,

membaca Al-Qur‟an setiap hari, mengikuti semua kegiatan yang telah dijadwalkan. Untuk melakukan ibadah-ibadah yang sunnah itu ya dianjurkan untuk melaksanakannya. Seperti shalat malam, ada temannya yang membangunkan, yang melakukan puasa senin- kamis alhamdulillah juga banyak. Kalau saya disini selaku pengurus ya hanya bisa memberikan nasehat kepada anak-anak,

menanamkan kejujuran dalam diri mereka (W/AM/18-09-14,17.00 WIB/Rek.04)

Hal yang sama juga diutarakan oleh Ibu EW mengenai pendidikan keagamaan anak asuh:

Mengenai pengetahuan anak-anak tentang keagamaan itu bisa dibilang relatif, sesuai dengan SDM anak masing-masing. Disamping itu juga dari kesiapan anak-anak. Ada yang sregep, ingin cepat bisa, dan ada juga yang malas. Tetapi dapat dikatakan baik, karena setiap hari mereka mendapatkan pelajaran tentang

agama, misalnya cara membaca Al-Qur‟an dengan baik dan

benar, fiqih, akidah dan akhlak. Dengan adanya pendidikan yang telah diberikan, alhamdulillah anak-anak dapat melakukan ibadah dengan baik. Kami mewajibkan anak-anak untuk shalat

berjama‟ah, menganjurkan shalat malam, melaksanakan puasa

senin-kamis, dan membaca Al-Qur‟an setiap hari. Perilaku sehari- hari mereka juga baik, sejauh ini saya lihat tidak ada masalah- masalah yang berat/kenakalan-kenakalan anak yang fatal. Karena waktu saya disini terbatas, jadi hanya bisa memberikan nasehat kepada anak-anak, untuk selalu menjaga diri dengan baik dan selalu rukun dengan teman-temannya (W/EW/19-09-14,16.00 WIB/Rek.05)

Hal senada juga diutarakan oleh Ibu TR mengenai pendidikan keagamaan anak, yaitu sebagai berikut:

Sejauh yang saya lihat pemahaman anak-anak tentang keagamaan sudah baik. Karena di sini kan juga banyak kegiatan, ada fiqih, akidah akhlak, ngaji setiap hari, dan kegiatan-kegiatan yang lain. Untuk shalat mereka sudah melaksanakan shalat

berjama‟ah ketika di panti, karena diwajibkan untuk mengikuti shalat berjama‟ah dan telat 1 rakaat dianggap tidak mengikuti

shalat jama‟ah dan mendapatkan sanksi. Kalau untuk ibadah-

ibadah sunnah lebih kepada individu, ada anak yang suka shalat tahajud, ada yang lebih suka shalat dhuha, dan banyak juga yang melaksanakan puasa sunnah senin kamis. Mereka sangat bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas-tugasnya, di samping itu juga perilaku anak-anak sudah baik (W/TR/02-10-14, 10.00 WIB/Rek.12)

b. Pembinaan pendidikan keagamaan

Tujuan pendidikan keagamaan yaitu menjadikan individu bertakwa dan beribadah kepada Allah dengan baik, sehingga memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Untuk mewujudkan hal tersebut, maka diperlukan adanya pembinaan keagamaan yang

berkenaan dengan akidah, syari‟ah, dan akhlak.

Mengenai pembinaan keagamaan di Panti Asuhan Putri Aisyiyah Tuntang, ibu EW telah menjelaskan sebagai berikut:

Untuk membina keagamaan anak-anak asuh, disini diwajibkan untuk melaksanakan shalat berjama‟ah, membaca Al-

Qur‟an setiap hari setelah shalat maghrib dan dilanjutkan dengan

ceramah, kemudian juga disini setiap hari anak-anak mengaji, dihari-hari tertentu ada pengajaran tajwid, fiqih, akidah dan akhlak. Ada juga kegiatan-kegiatan keagamaan yang lain seperti

rebana dan qiro‟ah. Pelaksanaan shalat malam itu sudah ada

koordinator dari anak-anak. Tetapi itu dianjurkan, kembali lagi ke diri masing-masing individu. Selain itu, di sini juga disediakan sebuah perpustakaan untuk menambah pengetahuan anak-anak terutama tentang keagamaan. Setiap anak yang akan keluar harus mengenakan pakaian yang sopan dan berjilbab. Kemudian agar anak-anak tidak terpengaruh dengan dunia luar maka disini anak tidak diperbolehkan membawa hp, kecuali bagi anak-anak yang sudah kuliah (W/EW/19-09-14,16.00 WIB/Rek.05)

Hal serupa juga diutarakan oleh Ibu AM, yaitu sebagai berikut:

Dari hari senin sampai sabtu itu ada kegiatan. Misalnya pengajaran tajwid, akidah, fiqih,dan terkadang ada pengajian yang bekerja sama dengan panti asuhan putra. Setiap hari ada

mengaji Iqro‟ dan Al-Qur‟an. Anak-anak diwajibkan untuk shalat

berjama‟ah. Untuk ibadah-ibadah yang sunah itu ya dianjurkan.

Di bentuk koordinator-koordinator kegiatan yang membantu mengurusi setiap kegiatan keagamaan. Selain itu, untuk menunjang pengetahuan anak-anak tentang keagamaan di sini didirikan sebuah perpustakaan yang setiap saat dapat mereka

kunjungi. Kemudian setiap pulang sekolah anak-anak diwajibkan untuk langsung pulang, kecuali ada kegiatan sekolah dan itupun harus izin kepada pengasuhnya. Ya supaya anak-anak tidak terpengaruh dengan pergaulan yang tidak baik. Selain itu juga anak-anak tidak diperbolehkan membawa hp, kecuali bagi anak- anak yang sudah kuliah (W/AM/18-09-14,17.00 WIB/Rek.04)

Hal senada juga diutarakan oleh Ibu TR, sebagai pengasuh yaitu sebagai berikut:

Kalau di sini yang menyangkut keagamaan ada kegiatan hari selasa itu fiqih. Karena di sini di bawah naungan Muhammadiyah, jadi yang dipakai adalah tahrij muhammadiyah. Itu tentang bagaimana tata cara shalat, ya pokoknya semua yang melingkupi fiqih. Kalau untuk ngajinya setiap hari, yaitu hari senin

sampai jum‟at. Ngaji Al-Qur‟an per anak dan itu memang

termasuk juga hafalan juz 30. Untuk selebihnya hiburan untuk

anak, yaitu drumband, rebana, qiro‟ah. Kemudian ada juga

Aqidah Ahlak untuk hari kamis. Perpustakaan juga menyediakan buku-buku yang dapat menunjang pengetahuan anak, terutama buku-buku pelajaran dan keagamaan. Untuk shalat, mereka diwajibkan untuk shalat berjama‟ah. Itu masuk dalam tataran kedisiplinan, kalau terlambat 1 rakaat saja dianggap tidak shalat

jama‟ah dan mendapatkan sanksi. Di panti yang diperbolehkan

membawa hp hanya anak-anak yang sudah kuliah. Itupun saya juga tidak membebaskan mereka begitu saja. Ada kalanya ketika pulang kuliah hp langsung saya minta, jadi saya bisa memantau perilaku mereka di luar panti. Itu tidak saya lakukan setiap hari, tapi itu mendadak, jadi anak tidak tau kapan hp nya akan saya minta (W/TR/02-10-14, 10.00 WIB/Rek.12)

c. Pendidikan sosial anak asuh

Ibu EW menuturkan tentang pendidikan sosial anak-anak asuh di Panti Asuhan Putri Aisyiyah Tuntang sebagai berikut:

Kehidupan sosial anak-anak disini termasuk baik. Sejauh ini yang saya lihat mereka baik-baik saja. Kalaupun ada masalah dengan temannya itu ya wajar. Paling sehari sudah baik lagi, tidak sampai berlarut-larut. Ada juga anak yang bercerita kepada pengurus jika ada masalah, tapi itu jarang karena interaksi anak- anak dengan pengurus itu seperti ada jarak, pengurus kan di sini waktunya terbatas. Jadi ada rasa takut dengan kita. Tapi kita tetap membuka diri untuk mendengarkan keluh kesah mereka. Mungkin

mereka juga sungkan kalau mau cerita-cerita, kadang sampai kantor pengurus sudah disibukan dengan pekerjaan-pekerjaan lain. Kemudian untuk kerukunan mereka juga sudah tergolong rukun. Ya dapat dilihat ketika mereka mengerjakan suatu hal, dikerjakan bareng-bareng, ngumpul-ngumpul ngobrol bareng, ya sudah seperti keluarga sendiri. Untuk anak-anak yang sudah besar, mereka juga sudah bisa momong adik-adiknya yang kecil. Untuk interaksi mereka dengan masyarakat di luar panti yang alhamdulillah baik-baik saja. Kita juga ngajak anak-anak untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan di lingkungan sini. Jadi di kemudian hari mereka akan terbiasa berbaur dengan masyarakat (W/EW/19-09-14,16.00 WIB/Rek.05)

Ibu TR juga mengutarakan hal yang sama tentang pendidikan sosial anak-anak asuh di Panti Asuhan Putri Aisyiyah Tuntang sebagai berikut:

Sejauh ini yang saya lihat mereka baik-baik saja, tidak ada masalah yang serius. Kalaupun ada itu hanya masalah-masalah kecil, ya sehari dua hari paling sudah baikan. Saya tidak perlu terjun langsung, mereka sudah bisa menyelesaikan sendiri, ya wajar lah anak-anak. Ada juga anak yang cerita tentang masalah- masalah, misalnya tentang sekolah, biasanya anak-anak yang kecil, SD, SMP, kalau untuk anak SMA jarang-jarang, karena sejauh ini saya lihat mereka tidak banyak masalah dan untuk anak kuliah sudah saya tanamkan dalam diri mereka harus punya problem solving sehingga bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, karena kalau tidak begitu mereka tidak ngerti apa-apa. Saya rasa mereka bisa kok ngumpul bareng, ketawa ketiwi, makan bareng, menganggap yang lebih besar sebagai kakaknya sendiri dan yang kecil sebagai adiknya sendiri, jadi kekeluargaannya di sini juga terbangun dengan baik. Saya sadar mereka tidak punya orang tua, ya saya sebagai orang tua mereka harus menumbuhkan kekeluargaan di antara mereka. Mereka ya sudah bisa menganggap saya sebagai orang tuanya sendiri, begitu juga dengan saya. Kemudian untuk interaksi dengan masyarakat sekitar panti ya sudah baik, meskipun di panti banyak kegiatan tapi kalau ada kegiatan di lingkungan sini ya kita mengikuti. Misalnya buka bersama, pengajian, kalau ada warga sini yang sakit biasanya saya juga ngajak anak-anak untuk menjenguk (W/TR/02-10-14, 10.00 WIB/Rek.12)

Hal senada juga diutarakan oleh Ibu AM mengenai pendidikan sosial anak-anak asuh di Panti Asuhan Putri Aisyiyah Tuntang, yaitu sebagai berikut:

Selama ini saya lihat baik-baik saja. Ya ada diantara mereka yang bermasalah dengan temannya, paling ya hanya sebentar, tidak sampai sehari paling sudah baik lagi. Wajarlah namanya juga anak-anak. Kalau untuk interaksinya dengan pengurus alhamdulillah baik-baik saja, ada beberapa diantara mereka yang datang kesini, cerita tentang masalah yang dialami, tapi ya kebanyakan tentang keuangan. Kita di sini kan juga waktunya terbatas, jadi ada semacam jarak antara pengurus dan anak asuh. Di sini itu sudah seperti keluarga sendiri, mereka menganggap yang lebih besar itu sebagai kakaknya dan yang kecil itu sebagai adiknya sendiri. Jadi ya mereka tetap rukun, saling membantu, mengerjakan sesuatu itu ya bareng-bareng. Karena di sini kegiatannya padet, anak-anak tidak bisa main-main di luar panti. Ya kalau ada kegiatan di lingkungan masyarakat biasanya anak-anak juga mengikuti, misalnya seperti buka bersama, ada pengajian, atau ada acara di lingkungan sini ya anak-anak diajak untuk ikut berpartisipasi (W/AM/18-09-14,17.00 WIB/Rek.04)

d. Pembinaan pendidikan sosial anak

Mengenai pembinaan pendidikan sosial anak Ibu TR telah mengutarakan sebagai berikut:

Kegiatan-kegiatan di panti kan bermacam-macam, dengan mengikuti kegiatan-kegiatan tersebet secara tidak langsung akan terjalin interaksi yang baik antara anak dengan teman-temannya. Misalnya kegiatan belajar ketika malam hari, anak yang besar mengajarkan kepada yang kecil, maka akan terjalin interaksi yang baik dan anak akan menjadi lebih nyaman. Kemudian setiap pekerjaan juga dikerjakan dengan bersama-sama, seperti memasak, piket kebersihan, jadi masing-masing sudah ada jadwalnya. Dalam setiap kamar biasanya di tempati 3-4 anak, yang terdiri dari anak SMP dan SMA, anak SD dan kuliah. Untuk anak yang sudah besar difokuskan untuk mendampingi anak-anak yang kecil, melatih nyuci baju, nyuci piring, menjaga kebersihan kamar, ya pokoknya dari bangun tidur sampai tidur lagi. Berkaitan dengan permasalahan-permasalahan yang dialami anak-anak, saya di sini sebagai pengasuh, orang tua dari mereka ya setiap saat membuka diri untuk mendengarkan keluh kesah anak-anak.

Namun banyak juga diantara mereka yang menyelesaikan masalahnya sendiri atau meminta bantuan kepada temannya. Selain itu juga di sini ada kegiatan yang namanya bahasa jawa, dengan adanya bahasa jawa itu diharapkan anak dapat menghormati yang lebih tua, ya biar mereka tahu unggah ungguh atau sopan santun. Kemudian untuk mengawasi keseharian anak- anak di luar panti, biasanya saya menghubungi orang-orang yang bersangkutan dengan kegiatan mereka di luar panti, seperti gurunya disekolahan, masyarakat di lingkungan panti dan kadang saya juga mencari informasi dari teman-temannya. Selain itu saya juga mengajak anak-anak untuk berbaur dengan masyarakat di lingkungan panti. Ikut berpartisipasi dalam kegiatan yang diadakan masyarakat, terus kalau misalnya ada warga yang sakit biasanya kita juga ngajak anak-anak untuk menjenguk (W/TR/02- 10-14, 10.00 WIB/Rek.12)

Sebagaimana diungkapkan juga oleh Ibu AM dalam wawancara di Panti Asuhan Putri Aisyiyah Tuntang sebagai berikut:

Dalam setiap kegiatan yang anak-anak ikuti itu pasti terdapat pendidikan sosial. Mereka berinteraksi baik dengan sesama teman, gotong royong, saling membantu, belajar bersama, cepat tanggap dan bertanggung jawab dalam menjalankan tugasnya. Untuk anak-anak yang sudah besar biasanya diberikan tanggung jawab untuk mendampingi adik-adiknya yang masih kecil. Setiap saat kita selalu menasehati mereka agar selalu rukun dengan temannya baik di dalam maupun di luar panti. salah satu kegiatan yang kita ajarkan di sini adalah bahasa jawa, kita sebagai orang jawa harus mengerti sopan santun, dapat berinteraksi baik dengan siapa saja, dapat menghargai sesama, dan dapat menghormati yang lebih tua. Kemudian kita juga mengajak anak-anak untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat sekitar panti dengan cara mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh masyarakat. Dengan demikian diharapkan anak tidak akan canggung ketika berbaur dengan masyarakat (W/AM/18-09-14,17.00 WIB/Rek.04)

Hal senada juga diutarakan oleh Ibu EW dalam wawancara di Panti Asuhan Putri Aisyiyah Tuntang sebagai berikut:

Pendidikan sosial anak diberikan setiap hari. Dari mereka bangun tidur sampai tidur lagi itu kan pasti mereka melakukan

interaksi sosial. Nah, diantaranya yaitu dengan adanya kerja bakti setiap hari minggu, mereka piket kebersihan pagi dan sore, saat belajar bersama, makan bersama, dan melakukan sesuatu yang memang bisa dikerjakan bersama-sama. Dari pihak panti memberikan ajaran yang berkenaan dengan sosial anak, misalnya dengan menempatkan kamar mereka dengan berbagai usia, sehingga anak-anak yang besar bisa momong adik-adiknya. Mengajarkan kepada anak-anak untuk menghormati yang lebih tua, selalu rukun dan berperilaku baik di dalam maupun di luar panti. Kegiatan bahasa jawa misalnya, dengan diberikannya pelajaran bahasa jawa kita berharap anak-anak dapat berinteraksi dengan baik sesuai dengan tempat tinggal mereka, yaitu di jawa. Mereka juga diajak untuk berbaur langsung dengan masyarakat sekitar panti saat ada kegiatan-kegiatan tertentu. Ketika anak berada di luar panti, ada pengawasan yang memang digunakan untuk mengontrol perilaku sosial anak. Salah satunya yaitu berhubungan dengan guru/wali kelas anak di sekolahan masing- masing (W/EW/19-09-14,16.00 WIB/Rek.05)

2. Hasil wawancara dengan anak asuh

Dokumen terkait