BAB IV HASIL PENELITIAN DANPEMBAHASAN
4.2 Hasil Analisis
4.2.2 Hasil Wawancara di Pasar Sei Sikambing
Wawancara dilakukan pada tanggal 24 Desember 2013 di Pasar Sei Sikambing. Wawancara tersebut ditujukan kepada pedagang sayur dan para pembeli sayur untuk mengetahui dan menganalisis tentang marketing mix strategi
(lokasi, harga, dan produk) terhadap persaingan pedagang sayur di Pasar Tradisional Sei Sikambing.
Wawancara dilakukan kepada pedagang sayur dan pembeli agar terbukti apakah pedagang menerapkan strategi bersaing yang dilakukan oleh pedagang sayur, dan kepada pembeli agar dapat memperkuat analisis tentang marketing mix (bauran pemasaran) terhadap persaingan pedagang Sayur di pasar Sei Sikambing.
Hasil wawancara yang telah dilakukan kepada dua puluh tujuh pedagang sayur di Pasar Sei Sikambing.
Pedagang sayur pertama, bapak Joko saputra (28 tahun)
“... saya berjualan di Pajak Sei Sikambing sudah 4 tahun, sebelumnya saya mengikuti orang dulu baru mulai berjualan dan buka sendiri. Saya dalam menghadapi persaingan dengan pedagang lain susah-susah gampang, karena sayur ini bukan barang yang gampang dijual walaupun ini termasuk bahan pokok. Terkadang saya melihat orang juga kalau orang lagi senang makan sayur maka laku jualan saya, tetapi kalau orang lagi malas makan sayur maka susah untuk laku sayur yang saya jual. Strategi saya disini dengan memainkan harga kalau harga dipajak dalam Rp. 3.000 maka saya jual Rp. 2.700 begitu juga yang lain biasanya seperti itu, supaya orang tahu saya jual murah biasa saya berteriak saja. Saya biasanya dapat keuntungan menjual sayur Rp. 200.000 sampai dengan Rp 300.000 semua tergantung dengan cara saya menjual dan cepat atau tidak saya mulai berjualan.”
Pedagang sayur kedua, Bapak agus (43 tahun)
“... saya sudah berdagang disini selama belasan tahun. Saya menghadapi persaingan disini dengan cara memainkan harga semurah mungkin yang penting ada untung. Omset saya per hari Rp. 350.000 tergantung hari juga dan cara saya jualan. Tempat saya berjualan masih belum nyaman dan saya rasa tidak layak karena saya berjualan di trotoar jalan kalau ada petugas biasanya sering kejar- kejaran.”
Pedagang sayur ketiga, Bapak Sihombing (45 tahun)
“... saya berjualan sudah 10 tahun. Saya dalam mengahadapi persaingan dengan pedagang lain caranya dengan membuat dagangan saya tertata rapi, agar terlihat segar dan enak dilihat. Saya juga sudah memiliki pelanggan tetap jadi tidak terlalu takut dagangan saya tidak habis.”
Pedagang sayur keempat, Ibu Listiana (56 tahun)
“... saya sudah dari muda bejualan sayur. Saya kalau bersaing dengan yang lain tidak terlalu saya pikirkan, sebab sudah banyak yang sering belanja dan kenal sama saya, bisa dikatakan saya memiliki langganan tetap.”
Pedagang sayur kelima, ibu Nur (60 tahun)
“... dalam menghadapi persaingan saya menempatkan lapak saya di tempat yang strategis, karena lokasi tempat kami yang selalu berubah-ubah dan harus cepat-cepatan datang berjualan agar tidak diambil orang lapak saya.”
Pedagang sayur keenam, Ibu ester (54 tahun)
“... saya berjualan dari awal pajak dibangun, cara berjualan saya lebih menggunakan pengalaman saya saja dan daya tarik jualan saya dengan mengurangi harga penting saya dapat untung walaupn sedikit saya kasih, karena sayuran inikan tidak tahan lama jadi kalau dari pagi saya jual siang harus sudah habis kalau tidak sayur jadi layu jadi harga yang mau org ambil saja kalau begitu, tidak laku saya bawa pulang makan di rumah. Saya jualan didalam pasar tetapi subuh saya buka lapak didepan atau bagian luar pasar karena kalau didalam jual subuh kurang rame orang membeli.”
Pedagang sayur ketujuh, Bapak Supri (34 tahun)
“... saya berjualan baru 3 tahunan, karena saya jualan skala banyak jadi biasa pedagang ngambilnya dengan saya. Kalau ada sisa baru saya jual sesuai pasaran, jadi kalau didalam Rp. 3.000 saya jual Rp. 2.700, jadi tidak ada saingan”
Pedagang sayur kedelapan, Ibu nelly (38 tahun)
“... strategi saya dengan berteriak saja. Saya bejualan punya dua tempat pagi saya diluar siang saya masuk kedalam.”
Pedagang sayur kesembilan, Agus (18 tahun)
“... saya bejualan 3 tahun, saya tidak bergantung dengan sayur juga saya berjualan cabe, bawang, dan bumbu dapur yang lain juga, strategi saya jualan dengan berteriak dan juga murah-murahan harga dengan pedagang lain. Dan
saya paling menjaga kebersihan dan kesegaran sayuran saya jadi pelanggan datang sendiri.”
Pedagang sayur kesepuluh, Bapak Suni (47 tahun)
“... saya berjualan hampir satu tahun. saya menjual sayur yang masih segar saja itu strategi saya. Sayur yang sudah layu tidak saya jual pokoknya saya jaga kualitas saja jadi orang tahu.”
Pedagang sayur kesebelas, Bapak syadan (53 tahun)
“... saya berjualan 8 tahun. strategi saya dengan melihat harga di pasaran saja, apabila orang menjual Rp. 2.500 saya turunkan dagangan saya jadi Rp.2.100 yang penting laku. Tempat dagang saya kurang layak karena saya harus bayar sama petugas agar tidak diusir.”
Pedagang sayur keduabelas, Mamak Aswat (40 tahun)
“... saya berjualan dari saya muda. Cara saya berjualan jaga kebersihan tempat saya, karena kalau kotor orang sedikit ketempat saya sebab saya berjualan di sebelah tukang ayam. Orang beli ayam sayur saya juga dibeli, kalau harga sudah pasti saya melakukan strategi itu karena hampir semua pedagang seperti itu.”
Pedagang sayur ketigabelas, Bapak amat (53 tahun)
“... strategi saya lihat harga dalam berapa dulu, karena saya dagang diluar pajak jadi pastinya jual lebih murah dengan harga yang didalam pajak.”
Pedagang sayur keempatbelas, Putra (20 tahun)
“... saya berjualan ikut orang tua sekitar 2 tahun. Cara saya melakukan dagangan saya dengan menjual sayur-sayuran segar yang sudah layu saya bawa pulang saya makan sendiri, agar pembeli tahu saya jual sayur yang segar serta ditata dengan rapi dan disortir sayur yang jelek tidak saya masukin dimeja dagangan saya. Lokasi saya sangat amat dan strategis karena saya menyawa.”
Pedagang sayur kelimabelas, Bunda Vipa (32 tahun)
“... saya bejualan dari 4 tahun yang lalu membantu suami. saya menjual sayuran dengan melihat harga dipasaran, siang sedikit agar dagangan saya habis dengan menurunkan harga Rp.3.500 menjadi Rp. 3.000. Saya titipkan dengan pedagang yang ada diluar pasar juga bisa karena pembeli lebih suka membeli dibagian luar pasar dikarenakan dekat dan tidak perlu masuk kedalam pasar.”
Pedagang sayur keenambelas, Ibu Murni (40 tahun)
“... saya bejualan kurang lebih 10 tahun. Saya berjualan selalu dipagi hari dari jam 3 pagi sampai jam 10 pagi, sebab kalau lewat jam itu maka sayur-sayur saya pasti sudah layu jadi saya lebih menjaga kualitas produk saya.”
Pedagang sayur ketujuh belas, Bapak Sitompul (60 tahun)
“... saya bejualan sudah 20 tahun lebih. Saya bejualan dengan memaikan harga kalau pasar dalam Rp.4000 saya turunkan Rp. 300 sampai Rp.5000. saya liat cuaca juga kalau berjualan, apabila cuaca jelek meski sayuran saya segar
pembeli belum tentu datang jadi harga saya tekan seminim mungkin walaupun hanya pulang modal.”
Pedagang sayur kedelapanbelas, Iwan (24 tahun)
“... saya belum ada setahun berjualan. Berjualan sayur disini karena saya memiliki ladang jadi langsung saya jual sendiri dipasar ini. Sayuran yang saya jual dipastikan segar semua karena langsung saya petik sendiri di ladang. Strategi saya dalam berjualan dipasar dengan membanting harga dengan yang lain tetapi sesuai pasaran yang ada,dan memperbanyak pelanggan tetap. omset yang saya miliki Rp.300.000 sampai Rp. 500.000 tergantung hari.”
Pedagang sayur kesembilanbelas, Boris (18 tahun)
“... saya berjualan 1 tahun, menggantikan ayah saya yang sedang sakit. Cara saya berjualan dengan berteriak agar pembeli mendengar, karena tempat jualan saya terlalu berhimpitan dan paling sudut dengan pedagang yang lain.
Pedagang sayur keduapuluh, Ibu Jeni (33tahun)
“... strategi saya berjualan dengan menjaga kebersihan meja jualan saya dan menata rapi sayur-sayuran agar terlihat enak dipandang.”
Pedagang sayur kedua puluh satu, Ibu Rini (40 tahun)
“... strategi bersaing dengan menurunkan harga semurah mungkin, walaupn saya tidak mendapat untung yang penting balik modal. Kesamasan dari sayur juga saya buat agar terlihat segar dan menarik.”
Pedagang sayur kedua puluh dua, Opung (72 tahun)
“... cara bersaing dengan yang lain biasanya dengan berkeliling menggunakan grobak sorong yang saya, kemudian saya datangin pembeli satu persatu.”
Pedagang sayur kedua puluh tiga, Ibu Minah (42 tahun)
“... kelebihan saya dalam berjualan saya memilah-milih sayur yang segar dengan sayur yang kurang segar kemudian saya tetapkan harga yang berbeda dan pembeli yang membedakan sendiri mana yang mereka mau beli, sebagian sayur juga ada yang saya beri harga paket.”
Pedagang sayur kedua puluh empat, Bapak Rosidi (51 tahun)
“... saya berjualan dan bersaing dengan yang lain dengan cara berteriak memberikan harga yang murah kepada pembeli, karena sayur ini menjualnya tidak mudah dan memiliki resiko yang tinggi.”
Pedagang sayur kedua puluh lima, Bapak Anton (51 tahun)
“... strategi saya dalam bersaing adalah berkeliling pasar dan saya yang mendatangi pembeli, karena cara yang seperti ini lebih efektif menurut saya agar sayur yang saya jual laku.”
Pedagang sayur kedua puluh enam, Ibu siti (40 tahun)
“... saya berjualan dengan menata letak sayuran yang saya jual dengan rapih, sehingga pembeli mudah dalam membeli sayuran saya. Tempat berjualan saya juga saya bersihkan agar tidak banyak dihinggapi lalat dan sayuran yang saya
jual hasil kebun sendiri jadi pelanggan senang membeli sayur dengan saya dan kembali untuk pembelian uang.”
Pedagang sayur kedua puluh tujuh, Ibu Lia (40 tahun)
“... saya berjualan baru 2 tahun,strategi saya berjualan dengan cara berteriak sayur segar murah, dan sayuran yang dapat dimasak menjadi satu jenis masakan saya satukan seperti untuk membuat sop, sayur-sayuran yang bisa dimasak menjadi sop saya paketkan dengan menggunakan plastik gula.”
Wawancara kepada pembeli sayur agar dapat memperkuat bukti analisis tentang marketing mix (bauran pemasaran) terhadap persaingan pedagang sayur di pasar Sei Sikambing.
Pembeli pertama di pasar Sei Sikambing, Ibu Nining (43 tahun)
“... saya berbelanja ke pasar Sei sikambing untuk membeli kebutuhan pokok seperti; cabe; wartel; kentang; ikan; ayam; daging; kelapa parut;dan sekarang saya lagi membeli sayur. Setiap belanja tentu sayur tidak tertinggal dari daftar belanjaan saya, karena dirumah saya selalu memasak sayur-sayuran selain lauk pauk yang lain. Saya senang berbelanja ke pasar sei sikambing karena harganya terjangkau. Kreteria saya dalam berbelanja melihat jenis sayurnya saja kalau terlihat segar ya saya beli, maka dari itu saya selalu berbelanja di pagi hari.
Pembeli sayur kedua di pasar Sei Sikambing, Soraya (20 tahun)
“... saya berbelanja disini karena harga yng terjangkau dan bisa tawar menawar, saya selalu membeli sayur di pasar sei sikambing tetapi tidak setiap
hari karena tergantung saya ingin masak apa dirumah. Saya tidak selalu berbelanja di pasar sei sikambing karena rumah saya yang dekat dengan pasar helvetia, tetapi kurang memadai kalau saya berbelanja di pasar hervetia maka dari itu alasan saya berbelanja di pasar sei sikambing. Kreteria tempat saya berbelanja yang pastinya melihat produk sayur yang segar, dan melihat penjual yang menawarkan harga yang pasti-pasti saja karena kalau kita jarang belanja di pasar harga selalu di naik-naikkan tidak jelas oleh pedagang.”
Pembeli sayur ketiga di pasar Sei Sikambing, Ibu Tiur (42 tahun)
“... saya selalu berbelanja di bagian luar pasar karena saya selalu berbelanja disaat pulang dari kerjaan saya sebagai PNS. Masalah harga saya tidak terlalu ambil pusing karena sayur selalu memiliki harga yang normal tidak terlalu mahal.”
Pembeli sayur keempat di pasar Sei Sikambing, Ayu ( 25 tahun )
“... saya selalu berbelanja di pasar sei sikambing dan saya selalu membeli sayur karena saya membuka warung nasi padang. Kreteria saya dalam berbelanja dengan melihat dari segi harga yang murah karena untuk saya jual lagi, tempat tidak terlalu masalah bagi saya yang terpenting menjual sayuran murah saja, sayur yang selalu saya pilih adalah sayur yang segar yang makanya saya selalu berbelanja di pagi hari.”
“... saya berbelanja dipasar sei sikambing karena saya memiliki kede sampah dan menjual sayur juga. Kreteria saya kalau berbelanja melihat harga yang murah agar dapat saya jual kembali, tempat saya membeli salalu dibagian luar pasar karena banyak yang jual sayur di bagian luar, sayur yang dijual selalu segar juga.”