HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
D. Hasil Wawancara
Berdasarkan hasil wawancara pihak Kelurahan Dukuh yang di wakili oleh Bapak Muhammad Arif Seksi Kebersihan dan Lingkungan Hidup, Bapak Sunaryo selaku Sekertaris RW 02 Kelurahan Dukuh dan Bapak Sarmada selaku Ketua RT 01 RW 02 Kelurahan Dukuh mengenai keberadaan Hutan Kota Dukuh.
Hutan Kota Dukuh merupakan salah satu ruang terbuka hijau yang berbentuk hutan kota yang terdapat di Jakarta, tepatnya di wilayah administrasi Jakarta Timur. Hutan Kota Dukuh berada di wilayah kelurahan Dukuh, Kecamatan Kramat Jati. Menurut Bapak Sarmada
selaku Ketua RT 01 RW 02 “Hutan Kota Dukuh dahulunya merupakan
lahan yang di akui oleh berbagai pihak, tetapi tidak ada yang membuktikan kepemilikan lahan tersebut secara sah dimata hukum, dikarenakan status lahan tersebut adalah wakaf. Sebelum dibangunnya Hutan Kota Dukuh lahan tersebut hampir dijadikan lahan tempat pembungan sampah sementara oleh Lurah Dukuh Jakarta Timur, tetapi saya bersama warga RT 01 RW 02 menolak hal tersebut dikarenakan
dampak buruk bagi keadaan lingkungan tempat tinggal kita di kemudian hari. Akhirnya lahan bekas tempat pemakaman umum ini di bangun hutan kota oleh Dinas Kelautan dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta”. Sedangkan menurut Bapak Sunaryo selaku Sekertaris RW 02 Kelurahan Dukuh “Sebelum jadi hutan kota seperti sekarang, dulu lahannya bekas tempat pemakaman umum warga sekitar, dan bersifat tanah wakaf, Hutan Kota Dukuh baru berdiri sekitar 2 tahun lalu, dan pembangunannya sempat terhambat kasus korupsi yang disangkakan oleh pihak terkait”.
Jadi dapat disimpulkan bahwa lahan Hutan Kota Dukuh merupakan bekas tempat pemakaman umum dengan status wakaf, pembangunan Hutan Kota Dukuh sempat terganggu mengenai kasus korupsi yang disangkakan oleh pihak terkait.
Keberadaan Hutan Kota Dukuh sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat di sekitar, tetapi kebaradaan Hutan Kota Dukuh tidak dimaksimalkan keberadaannya oleh warga sekitar. Menurut Bapak Sarmada “Banyak warga RW 02 yang jarang pergi ke Hutan Kota Dukuh karena warga mengetahui lahan Hutan Kota tersebut bekas lahan pemakaman umum, jadinya Hutan Kota Dukuh keadaanya dibiarkan saja oleh warga.”
Walaupun keberadaan Hutan Kota Dukuh tidak dimaksimalkan keberadaanya oleh masyarakat sekitar, tapi Keberadaan Hutan Kota Dukuh memiliki banyak manfaat. Menurut Bapak Sunaryo “Keberadaan Hutan Kota Dukuh memperindah wilayah RW 02, apalagi Hutan Kota Dukuh dirawat oleh Suku Dinas Kelautan, Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Adm Jakarta Timur Jakarta dengan baik”. Sedangkan menurut Bapak Sarmada“Hutan Kota Dukuh ini berdampak baik bagi lingkungan kita, contohnya udara menjadi segar, menjadi tempat resapan air.” Jadi dapat disimpulkan dari kedua pendapat ini bahwa Hutan Kota Dukuh lebih berfungsi secara ekologis.
Terkait dengan keikut sertaan warga dalam perawatan dan kelestarian Hutan Kota Dukuh, menurut Bapak Sarmada “yang merawat
Hutan Kota Dukuh ini adalah Suku Dinas Kelautan, Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Adm Jakarta Timur, warga jarang ikut terlibat
dalam merawat Hutan Kota Dukuh”. Sedangkan menurut Bapak
Muhammad Arif “Pernah ada acara yang berkaitan dengan hutan Kota Dukuh, Mahasiswa Universitas Thamrin bersama Walikota Jakarta Timur menanam pohon untuk menambah vegetasi dan memperindah Hutan Kota Dukuh”. Menurut Bapak Sunaryo“Pengelolaannya baik sekali, banyak fasilitas yang menunjang untuk keperluan olahraga ataupun rekreasi”.
Jadi dapat disimpulkan dari pendapat tersebut bahwa pengelolaan yang dilakukan oleh Suku Dinas Kelautan, Pertanian dan Ketahanan Pangan Adm Jakarta Timur sudah baik, tetapi masih ada miss comunication antara warga sekitar Hutan Kota Dukuh dengan Suku Dinas Kelautan, Pertanian dan Ketahanan Pangan Adm Jakarta Timur mengenai kurangnya promosi tentang acara yang menyangkut Hutan Kota Dukuh Jakarta Timur.
Selain permasalahan masyarakat kurang memanfaatkan keberadaan Hutan Kota Dukuh, menurut Bapak Sunaryo “Permasalahan yang mendasar ya kurang adanya komunikasi antara pengurus RW 02 dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tentang Hutan Kota Dukuh, padahal Hutan Kota Dukuh berada di wilayah RW 02 tapi ga ada komunikasi bagaimana kewajiban yang harus dilakukan Pengurus RW 02 tentang keberadaan Hutan Kota Dukuh”.
Hal ini diperparah dengan tidak adanya sosialisasi atau penyuluhan mengenai kegunaan dan fungsi Hutan Kota Dukuh, menurut Bapak Arif “Selama ini tidak ada mengenai penyuluhan ataupun sosialisasi mengenai Hutan Kota Dukuh, mungkin yang berhak mengadakan itu hanya Suku Dinas Kelautan, Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Adm Jakarta Timur. Wilayah kita hanya di tunjuk sebagai tempat adanya hutan kota, mengenai penyuluhan ataupun sosialisasi bahkan perawatan Kelurahan Dukuh tidak campur tangan mengenai hal itu”. Hal ini di perkuat dengan pendapat dari Bapak Sarmada “Tidak ada penyuluhan mengenai fungsi hutan kota Dukuh dari Pemerintah DKI Jakarta, seharusnya sih ada biar
warga tertarik untuk berkunjung ke Hutan Kota Dukuh dan memanfaatkannya untuk rekreasi ataupun olahraga, supaya stigma warga tentang Hutan Kota Dukuh yang dulunya bekas pemakaman umum lama kelamaan jadi hilang”.
Jadi dapat disimpulkan Hutan Kota Dukuh berfungsi ekologis baik menurut para responden, tetapi masyarakat sekitar kurang memanfaatkan secara maksimal fungsi rekreasi dari Hutan Kota Dukuh dikarenakan kurangnya sosialisasi tentang keberadaan Hutan Kota Dukuh dan diperparah dengan lahan Hutan Kota Dukuh bekas tempat pemakaman umum, sehingga warga sekitar enggan untuk mendatangi hutan kota tersebut.
E. Pembahasan
Wilayah Kelurahan Dukuh merupakan salah satu dari tujuh kelurahan yang terletak sebelah timur Kecamatan Kramat Jati, Kota Administrasi Jakarta Timur dan secara geografis terdapat di wilayah timur Provinsi DKI Jakarta. Berdasarkan data penduduk pada bulan Juli Tahun 2015 Kelurahan Dukuh memiliki jumlah penduduk sebanyak 26.081 jiwa, yang diantaranya terdapat 3 jiwa warga negara asing. Berdasarkan rincian jenis kelamin terdiri dari 13.625 jiwa laki-laki, 13.149 jiwa perempuan. Berdasarkan hasil perhitungan kepadatan penduduk di wilayah Kelurahan Dukuh terdapat 1.316 Jiwa/km2 yang di kategorikan sebagai wilayah sangat padat menurut UU No 56 Tahun 1960.
Hutan Kota Dukuh berada di wilayah administrasi Jakarta Timur, terdapat di Kelurahan Dukuh, Kecamatan Kramat Jati. Keberadaan Hutan Kota Dukuh memperindah lingkungan wilayah administrasi Jakarta Timur khususnya di Kelurahan Dukuh, hal ini diperkuat dengan hasil angket yang menyatakan 62,9% responden setuju dan 37,1% sangat setuju mengenai hal tersebut. Hutan kota Dukuh merupakan satu dari 7 hutan kota yang berada di wilayah Jakarta Timur berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta dan hutan kota Dukuh memiliki luas 5.738 m2. Berdasarkan hasil
angket yang menyatakan 54,2% responden setuju dan 45,8% sangat setuju mengenai keberadaan Hutan Kota Dukuh dapat mencegah banjir, sedangkan 54,2% masyarakat setuju Hutan Kota Dukuh mampu mencegah erosi.
Hutan Kota Dukuh merupakan lahan yang di akui oleh berbagai pihak, tetapi tidak ada yang membuktikan kepemilikan lahan tersebut secara sah dimata hukum, dikarenakan status lahan tersebut adalah wakaf. Sebelum dibangunnya Hutan Kota Dukuh lahan tersebut hampir dijadikan lahan tempat pembungan sampah sementara, tetapi warga RT 01 RW 02 menolak hal tersebut. Akhirnya lahan bekas tempat pemakaman umum ini di bangun hutan kota oleh Suku Dinas Kelautan, Pertanian dan Ketahanan Pangan Administrasi Jakarta Timur. Berdasarkan angket responden 54,2% setuju dan 45,8% sangat setuju untuk mendukung Pemerintah DKI Jakarta untuk menambah keberadaan ruang terbuka hijau berupa hutan kota, hal ini diperkuat dengan hasil 57,1% setuju dan 42,9% sangat setuju dengan cara memperbaiki mutu lingkungan hidup di perkotaan salah satunya dengan mengelola ruang terbuka hijau.
Bentuk Hutan Kota Dukuh ini jika merujuk pada Teori Zoer’aini Djamal Irwan, berbentuk bergerombol atau menenumpuk, dikarenakan komunitas vegetasinya terkonsentrasi pada suatu areal dengan jumlah vegetasinya yang rapat dan tidak beraturan. Kerapatan vegetasi yang terdapat di Hutan Kota Dukuh secara rata-rata dikategorikan vegetasi yang rapat. Terdapat vegetasi seperti Trambesi, Mahoni, Sengon, Saga, Ketapang, Petai Cina, Bambu yang terdapat di Hutan Kota Dukuh Jakarta Timur. Banyaknya vegetasi yang terdapat di Hutan Kota Dukuh berdampak pada kondisi air tanah yang terdapat di sekitar Hutan Kota Dukuh. Berdasarkan hasil angket 68,6% responden setuju dan 31,4% sangat setuju keberadaan Hutan Kota Dukuh mampu menjadi daerah resapan air. Hutan Kota Dukuh keberadaannya juga mampu menyaring air sehingga air disekitar menjadi lebih jernih, dengan 60% responden setuju dan 40% sangat setuju, bahkan Hutan Kota Dukuh mampu menyimpan air
tanah sehingga air tanah sekitar menjadi terpelihara dengan baik, hal ini di perkuat dengan hasil angket yang menyatakan 62,9% responden setuju dan 37,1% sangat setuju, tetapi terdapat 20% responden masih ragu-ragu terhadap keberadaan Hutan Kota Dukuh untuk mengurangi intrusi air laut.
Tipe Hutan Kota Dukuh ini termasuk kedalam jenis tipe pemukiman jika merujuk kepada Teori Endes Dahlan, karena terdapat tanaman dengan komposisi tanaman pepohonan yang tinggi dikombinasikan dengan semak dan rerumputan yang menyebabkan Hutan Kota Dukuh mampu membuat suasana lingkungan menjadi lebih sejuk, hal ini diperkuat dengan hasil angket yang menyatakan 48,6% responden setuju dan 51,4% sangat setuju. Keberadaan Hutan Kota juga mampu menjaga kesuburan tanah disekitar, diperoleh dari hasil angket dengan 62,9% responden setuju dan 37,1% sangat setuju. Berdasarkan hasil angket 54,2% responden setuju dan 45,8% sangat setuju mengenai keberadaan Hutan Kota Dukuh mampu menetralisir bahan-bahan pencemar sehingga lingkungan sekitar tetap segar, bersih dan sehat.
Secara garis besar terdapat tiga fungsi hutan kota, yaitu fungsi lansekap, fungsi pelestarian lingkungan dan fungsi rekreasi. Sedangkan keberadaan Hutan Kota Dukuh fungsinya sangat tergantung pada komposisi dan keanekaragaman dari komunitas vegetasi. Berdasarkan hasil angket 62,9% responden setuju dan 37,1% sangat setuju keberadaan Hutan Kota mampu menjadi tempat pelestarian plasma nutfah dan mengenai mengurangi hujan asam 54,4% responden setuju mengenai hal tersebut.
Persepsi berdasarkan teori yang telah di jelaskan sebelumnya, persepsi lebih bersifat psikologi dari pada merupakan proses penginderaan saja maka ada beberapa faktor yang mempengaruhi, salah satunya pengalaman terdahulu, maksud dari pengalaman terdahulu tersebut lebih menjurus kepada tingkat pendidikan. Persepsi masyarakat terhadap fungsi hutan Kota Dukuh juga di pengaruhi oleh tingkat pendidikan dan penyuluhan oleh Pemerintah DKI Jakarta tentang fungsi Hutan.
Berdasarkan hasil angket, persepsi masyarakat terhadap fungsi Hutan Kota Dukuh di lingkungan padat 54,2% menganggap baik dan 45,8% menganggap amat baik oleh responden, tetapi masyarakat sekitar enggan mengunjungi Hutan Kota Dukuh untuk kepentingan rekreasi ataupun berolahraga, hal ini di perkuat dengan hasil angket yang menyatakan 60% responden jarang pergi ke Hutan Kota Dukuh untuk tujuan rekreasi dan 54,2% reponden tidak pernah mengunjungi Hutan Kota Dukuh untuk keperluan olahraga, hal ini menyebabkan fasilitas yang terdapat di Hutan Kota Dukuh tidak dipergunakan oleh masyarakat sekitar. Penyebab enggannya masyarakat untuk berkunjung ke Hutan Kota Dukuh bisa dikarenakan masyarakat tidak mendapatkan informasi mengenai fungsi Hutan Kota Dukuh, hal ini di perkuat dengan hasil angket yang menyatakan 54,2% tidak pernah dan 45,8% jarang mendapatkan informasi mengenai fungsi Hutan Kota Dukuh. Penyebab lain masyarakat enggan mengunjungi Hutan Kota Dukuh dikarenakan lahan Hutan Kota Dukuh merupakan bekas tempat pemakaman umum yang menyebabkan warga sekitar merasa enggan untuk mengunjungi Hutan Kota Dukuh tersebut.
Peran pemerintah DKI Jakarta dalam hal ini sangat penting untuk mengadakan penyuluhan atau mempromosikan kepada warga Jakarta tentang keberadaan suatu hutan kota termasuk Hutan Kota Dukuh, tetapi pemerintah tidak pernah mengadakan penyuluhan mengenai fungsi hutan kota hal ini diperkuat dengan hasil angket yang menyatakan 71,3% responden tidak pernah mendapatkan penyuluhan tersebut, padahal melalui hasil angket 71,4% responden setuju jika ada pengadaan mengenai penyuluhan kegunaan atau fungsi hutan kota oleh Pemerintah DKI Jakarta. Pemerintah DKI Jakarta melalui Suku Dinas Kelautan, Pertanian dan Ketahanan Pangan Administrasi Jakarta Timur seharusnya mengajak warga Jakarta kembali kepada alam dan mencintainya. Berdasarkan hasil angket 57,1% sangat tidak setuju dan 42,9% tidak setuju jika Hutan Kota Dukuh dialih fungsikan sebagai maal atau di bangun gedung untuk kegiatan ekonomi lainnya, bahkan 85,8% responden sangat tidak setuju
dan 14,2% tidak setuju jika masyarakat melakukan vandalisme atau pengerusakkan terhadap Hutan Kota Dukuh, mungkin dalam hal ini masyarakat sekitar sudah mulai menganggap penting keberadaan hutan kota.
Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta seharusnya juga tidak hanya berfokus pada besaran lahan (kuantitas) hutan kota, tetapi mengabaikan dari aspek fungsi (kualitas) hutan kota. Berdsarkan hasil angket 51,4% responden setuju dan 48,6% sangat setuju jika Pemerintah Daerah melibatkan masyarakat dalam menentukan keberadaan hutan kota dan 31,4% responden sangat tidak setuju dan 68,6% tidak setuju jika Hutan Kota diperluas dengan cara menggusur pemukiman warga.
Berdasarkan perhitungan secara keseluruhan melalui perhitungan nilai rata-rata skor penelitian, Jadi dapat di simpulkan rata-rata dari sub variabel tersebut adalah 68,91% yang termasuk ke dalam kategori baik. Persepsi masyarakat terhadap fungsi hutan kota di lingkungan padat penduduk dapat di simpulkan adalah baik.
86