• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.4 Hasil Wawancara

Pada bagian ini, peneliti akan memaparkan hasil wawancara mendalam peneliti dengan beberapa informan terkait dengan pertanyaan secara umum dan bagaimana padangan mereka seputar program acara UFC di RCTI. Pada penelitian ini, peneliti berusaha untuk mengetahui persepsi masyarkat dalam hal ini penonton laki-laki terhadap program acara UFC di RCTI. Dengan wawancara mendalam peneliti mengajukan beberapa pertanyaan yang mengulas mengenai persepsi mereka mengenai terhadap program acara UFC di RCTI.

4.5 Analisis Data Wawancara

4.5.1 Persepsi Dir i Tentang Infor man dan Pandangan Awal Infor man Tentang UFC

Dari bagian hasil penelitian di awal ini peneliti memberikan sebuah pandangan diri sendiri informan bagaimana setiap individu berkenalan dan pengalaman apa saja yang dapat di ceritakan dari pengetahuan mereka tentang UFC.

Dalam penelitian ini informan pertama yang peneliti wawancarai adalah Idrus .Dia adalah mahasiswa jurusan Ekonomi Managemnt di STESIUS Surabaya, disamping sebagai mahasiswa pria yang yang sudah menikah dan mempunyai anak satu ini juga bekerja di salah satu perusahaan pembuatan mainan anak di Surabaya.

Wawancara peneliti dengan Idrus ini dilakukan pada 10 Desember sekitar jam 9 malam ketika informan selesai kuliah. Wawancara dilakukan peneliti di salah satu

pujasera di daerah Urip Sumoharjo Surabaya. Dari wawancara tersebut peneliti dapat menyajikan seperti apa yang diungkapkan sebagai berikut :

“nama saya Idrus umur 27 tahun kegiatan sehari-hari kerja dan kuliah, selebihnya ya interaksi sama keluarga. Saya kan sudah berkeluarga dan mempunyai anak satu. Saya pernah mndalami bela diri karate selama 16 tahun. UFC itu menurut saya itu ajang pertarungan bebas yang mempertemukan atlet beladiri dari berbagai macam jenis bela diri seperti karate, jujitsu, taekwondo, gulat”.

Informan kedua bernama Slamet, informan kedua mengajak bertemu di kedai kopi miliknya untuk melakukan wawancara, pada tanggal 11 Desember, wawancara dilakukan disela-sela kesibukannya menjaga kedai kopinya. Dari wawancara tersebut peneliti dapat menyajikan seperti apa yang diungkapkan sebagai berikut :

“ nama Slamet Umur 26 tahun kegiatan yang saya lakukan setiap hari adalah bekerja dan melakukan kegiatan pada umumnya, kadang nerima job part time EO. UFC itu ajang pertarungan. Keras. Berhubungan dengan bela diri. Juga ada turnamentnya juga“

Informan ketiga bernama Wahyu Jaka Putra Terate ditemui pada tanggal 12 Desember di sebuah tempat makan di kampus UPN, wawancara dilakukan di sela- sela istrirahat jam makan siang, dari wawancara tersebut Jaka bercerita tentang persepsi persepsi dirinya tentang UFC sebagai berikut :

“Nama saya Jaka, umur 23 tahun, saat ini kuliah di Ekonomi UPN dan kerja sebagai pegawai administrasi di UPN. Saya tidak banyak tahu tentang UFC, tapi menurut saya UFC itu hampir sama seperti smackdown yaitu acara gulat”

Informan keempat bernama Shaleh. Wawancara peniliti lakukan dengannya pada tanggal 13 Desember di sebuah kantor tempat dia bekerja, wawancara di lakukan 2 jam dengan memanfaatkan disela-sela waktu dia bekerja, peneliti mendapat hasil awal wawancara persepsi dia tentang UFC sebagai berikut :

“nama nama saya shaleh husin. Umur 25 tahun. Saat ini bekerja di sperusahaan pengadaan alat elektronik kantor. UFC ya.. itu pertarungan bela diri. Tapi gayanya banyak, mulai dari karate, muang thai, taekwondo, gulat. Itu yang saya tau.”

Informan terakhir bernama Dimas Wawancara peneliti dengan dilakukan pada tanggal 14 Desember di malam hari di sebuah kafe di Surabaya pusat., peneliti mendapat hasil awal wawancara sebagai berikut :

“Nama saya Dimas. Umur masih 27 tahun. Kesibukannya saat ini sebagai salesman di dealer mobil. Jika ditanya tahu UFC ya saya tahu, menurt saya itu UFC adalah acara yang menyuguhkan pertarungan yang sangat brutal. Kasar dan penuh dengan unsure kekerasan.”

.

1. Pener imaan Infor man Tentang UFC

Disini peneliti mendapat hasil yang berbeda dari para informan mengenai pandanganya tentang acara UFC. Hal itu diungkapkan pada wawancara sebagai berikut :

Informan bernama Idrus mengungkapkan :

“UFC itu ya ajang pertarungan. Petarungnya berasal dari beberapa Tapi bebas dari bela diri mana saja mulai dari karate, jujitsu, taekwondo, gulat, pokonya segala jenis bela diri. UFC itu pertarungannya benar-benar nyata gak bohongan. Jadi mukul atau

nendangnya itu gak ditarik sama petarungnya tapi benar-benar “diberikan” ke lawannya. Bisa dilihat kan kalau di UFC itu sering petarungnya sampai ngeluarin darah akibat pukulan dari lawannya”. Informan kedua bernama Slamet mengungkapkan :

“UFC itu ajang pertarungan bebas. Keras. Berhubungan dengan bela diri. Juga ada turnamentnya juga dan dilakukan didalam ring. Saya suka dengan petarung-petarungya yang rata-rata besar. Saya paling suka Brock Lesnar,badannya gede banget. Hahaha ”.

Infroman ketiga bernama Jaka mengungkapkan :

“menurut saya UFC itu hampir sama dengan Samckdown, yaitu ajang pertarungan gulat. Menurut saya UFC itu menyuguhkan ajang pertarungan yang seru. Mungkin karena Background saya yang berasal dari keluarga pesilat ya jadi saya suka dengan acar ayang berhubungan dengan bela diri seperti itu”.

Informan keempat bernama Shaleh mengungkapkan :

“UFC ya.. itu pertarungan bela diri. Tapi petarungnya punya gaya banyak, mulai dari karate, muang thai, taekwondo, gulat. Itu yang saya tau.”.

Informan kelima bernama Dimas mengungkapkan :

“UFC itu menurut saya pertarungan yang terlalu keras, brutal. Petarungnya kadang sampai bocor kepalanya, berdarah darah, kadang sampai patah tangannya. Pukulan dan bantingannya menurut saya terlalu”.

2. Pener imaan Infor man Mengenai UFC di RCTI Sebagai Tayangan Yang Menar ik

Di era saat ini setiap tayangan yang dimunculkan di televisi selalu dikemas sedemikan rupa yangberguan unutk menrik khalayak agar menontonnya. Seperti halnya acar olah raga yang saat ini sudah bergerak ke arah industry. Contohnya saja sepak bola yang sudah mengarah ke industry sepakbola yang dimana di setikap Negara di naungi olah sebuah federasi yang mencreate kegiatan tersebut menjadi sesuatu yang menarik yang bisa menyedot penonton. Hal tersebut juga berlaku apada UFC yang saat ini dinanungi oleh perusahaan acara. UFC dikemas denagn format tournament dan dipertandingkan di dalam ring. Petarungnya yang berasal dari berbagai atlit beladiri bertarung untuk merebutkan predikat juara dalam UFC.

UFC dikalim menjadi salahsatu acara olahraga yang paling laris ditonton jutaan penggemar di berbagai Negara. Sementara di Surabaya, anggapan masyarakat penonton UFC di Surabaya mengenai menriknya UFC dapat diwakili dari petikan wawancara yang dilakukan berikut ini.

Informan pertama bernama Idrus memaparkan anggapannya tentang UFC sebagai tayangan olahraga yang menarik, sebagai berikut:

“Apa ya. Yang pasti yang membuat menarik itu karena UFC adalah acara olah raga, saya suka nonton acara olah raga, apapun itu semisal sepak bola, badminton, tinju mungkin basket saya yang gak suka. Trus pertarungannya di UFC itu keras banget. Apalagi pukulan- pukulannya sama kunci-kunciannya. Jarang ada tayangan seperti itu sekarang ini. Dulu masih ada smack down, tapi kan lama gak boleh tayang lagi disini”

Informan kedua Slamet memaparkan anggapannya tentang UFC sebagai tayangan olahraga yang menarik, sebagai berikut:

“Bagus lah. Lumayan buat hiburan. Apalagi UFC kan sebenarnya peminatnya banyak diluar. Setahu saya malah lebih banyak penggemar UFC daripada Smackdown di luar negeri. Mungkin karena gak settingan. Jadi kelihatan kalau itu beneran bukan sesuatu yang dibuat-buat. Apa ya.. maksudnya beneran itu mukulnya memang bener-bener mukul bukan seoalah-olah mukul.”

Informan ketiga bernama Jaka memaparkan anggapanya tentang UFC sebagai tayangan olahraga yang menarik, sebagai berikut:

“yang membuat tertarik itu karena seru. Asik ngelihatnya. Seru karena apa ya.. asik lah.. soalnya mungkin background saya yang suka beladiri yah. Jadi saat ada acara yang mengandung unsure beladiri gitu saya suka”

Informan keempat bernama Shaleh memaparkan anggapannya tentang UFC sebagai tayangan olahraga yang menarik, sebagai berikut:

“iya menurut saya menghibur. Bagi saya yang penikmat acara olahraga UFC termasuk menarik, mungkin karena semacam alternative ditengah acara-acara di tv menurut saya pada alay. Hahahaha itu menurut saya loh ya. Masak acara joget-joget bareng. Hadeh. Yang paling bisa menyita perhatian saya itu karena bisa melihat pertarungan dari berbagai jenis bela diri ada disana. Tapi mungkin kalau perempuan gak cocok sama acara ini, kalau laki-laki kemungkinan besar cocok.”

Informan kelima bernama Dimas mengeluarkan anggapannya tentang UFC sebagai tayangan olahraga yang menarik, sebagai berikut:

“Tidak menarik. Apa yang ada di UFC itu terlalu keras malah lebih cocok dikatakan brutal, gak suka saya. Apalagi samapai ada yang

patah tangan, kepalanya bocor. Haduh. Lebih baik saya menonton film atau tidur daripada melihat acara seperti itu”.

3. Pener imaan Infor man Tentang Tayangan UFC di RCTI Banyak

Menggandung Unsur Kekerasan

Sebagai ajang pertarungan beladiri, UFC tidak lepas dari bantingan, pukulan dan juga tendangan. Bahkan tidak jarang para petarung yang bermain mengalami luka akibat serangan dari lawannya. Dari wawancara yang dilakukan oleh peneliti terhadap informan beberapa mengatakan tidak ada unsure kekerasan adalam acara tersebut, namun sebagian lain mengatakan jika acara tersebut sarat dengan unsure kekerasan hal ini di ungkapkan dalam wawancara sebagai berikut :

Informan pertama bernama Idrus mengungkapan :

“kekerasan? Dilihat dari mananya dulu yah. Soalnya saya melihat UFC itu acara olah raga. Memang olah raganya keras, tapi kalau UFC dikategorikan sebagai acara yang mengandung unsur kekerasan saya kurang setuju deh. Pada dasarnya UFC itu pertarungan berbagai macam bela diri. Sudah tau kan kalau bela diri itu bagaimana? Pasti tidak mungkin lepas dari pukulan dan tendangan. Jadi ya wajar saja”

Informan kedua bernama Slamet mengungkapan :

“Iya lah. Pasti itu. Sampai lawan yang dipukul itu kadang berdarah kan. Tapi kalau saya ngelihat UFC yang ditayangkan RCTI agak berbeda ya sama kalau ngelihat dari video tentang pertandingan UFC yang ada di Internet. Kalau yang di internet itu kelihatan jelas kalau brutal malah kadang fatal sampai ada yang patah tulang. Mungkin yang di internet itu tanpa sensor, atau berbeda yang dimaksud

dengan kekerasan disan daripada di Indonesia. Tapi kalo yang di RCTI kelihatan sih mukulnya beneran kadang sampai berdarah. Tapi saya gak pernah ngelihat yang sampai fatal sampai patah tulang atau gak sadarkan diri kayak yang saya lihat di Intenet.”

Informan ketiga bernama Jaka mengungkapan :

“Bisa jadi gitu, bisa digolongkan sebagai tayangan yang menggandung unsur kekerasan. Soalnya kan kelihatan banget kerasnya”.

Informan keempat bernama Shaleh mengungkapan :

“iya sih. Soalnya berat ya menurut saya pertandingannya. Gimana gak berat kan olah raga brutal itu UFC menurut saya. Badannya yang bertarung juga berat kelihatnnya. Hahaha”.

Informan kelima bernama Dimas mengungkapkan :

“ya iya lah mbak. Masak pukulan yang semacam itu tidak digolongkan sebagai kekerasan? Brutal mbak, tidak hanya keras tapi brutal. Para petarungkan melakukan tindaka yang menyakiti petarung lain”

Seperti apa yang di ungkapkan informan dari wawancara tersebut bahwa acara UFC di RCTI termasuk sebagai tayangan yang sarat dengan unsur kekerasan. Slamet, Jaka, Shaleh, dan Dimas menggangap UFC yang sarat dengan pukulan, tendangan dan bantingan banyak menggandung unsure kekerasan di dalamnya. Namun peneliti juga melihat Slamet masih menorelir acara UFC yang ditayangkan di RCTI dalam kategori wajar, karena dia tidak pernah melihat UFC yang ditayangkan RCTI tersebut sampai menimbulkan luka yang fatal yang dialami oleh petarung seperti patah tulang.

Dimas menjadi Informan yang menilai UFC yang ditayangkan di RCTI sebagai sesuatu yang brutal. Namun Idrus menggangap apa yang ditayangkan di RCTI tersebut tidaklah mengandung unsur kekerasan karena menurutnya UFC adalah ajang pertarungan olah raga bela diri yang tidak lepas dari pukulan , tendangan dan bantingan.

4. Pener imaan Infor man Tentang Acara UFC di RCTI Ter masuk Olahr aga atau Bukan

Banyak pertanyaan di masyarakat yang menanyakan apakah UFC itu termasuk olahraga atau bukan. Hal tersebut tak lepas dari pukulan, tendangan maupun bantingan yang selalu bisa dijumpai di acara ini.

Dari wawancara yang dilakukan oleh peneliti terhadap informan beberapa mengatakan bahwa UFC termasuk olaharag karena didasari petarungnya yang merupakan atlet yang memiliki background beladiri tertentu. Tapi ada juga yang menolak jika UFC dikategorikan sebagai olahraga hal ini di ungkapkan dalam wawancara sebagai berikut :

Informan pertama Idrus mengungkapkan pandanganya sebagai berikut : “kalau ditanya apa UFC itu termasuk sebagai olaharaga, saya akan katakan iya. Bisa dilihat sendiri kan kalau yang bertarung adalah atlet-atlet yang professional. Mereka punya keahlian beladiri khusus seperti karate, jujitsu, taekwondo. Jadi menurut saya UFC adalah olahraga”

Informan kedua Slamet mengungkapkan pandanganya sebagai berikut : “Bisa banget. Kan petarung di UFC itu rata-rata atlet yang punya basic bela diri kayak karate, jujitsu, sumo dll. Kalau ngelihat dari caranya bantingan dan caranya bertarung ditanah UFC itu deket banget sama olahraga gulat.”

Informan ketiga Jaka mengungkapkan pandanganya sebagai berikut :

“iya lah. UFC itu termasuk olah raga beladiri. Setau saya UFC juga kan punya organisasi yang menaungi, meski termasuk olahraga yang keraas dia termasuk olahraga. Semisal silat, kan keras juga. Tapi itu termasuk bela diri. Buktinya silat di akui ada induk olah raganya. Peminatnya juga banyak.”

Informan keempat Shaleh mengungkapkan pandanganya sebagai berikut : “Bisa mbak menurut saya. Soalnya UFC kan berasal dari penggabungan beberapa olahraga bela diri. UFC juga punya peraturan yang harus dipatuhi, meski brutal tetep ada peraturan, ada wasitnya juga jadi gak bebas banget. Contohnya memukul alat vital kan gak dibolehin disana. Juga wasit berhak memberhentikan pertarungan kalau salah satu petarung sudah dirasa tidak kuat untuk melanjjtkan pertandingan.”

Informan kelima Dimas mengungkapkan pandangannya sebagai berikut : “banyak sih olah raga yang keras kayak gitu. Saya sendiri bingung ya apa bisa dimasukkan kategori olah raga. Gak tau juga ya mbak, bingung juga bisa jawab saya itu. Tapi kalau dipikir-pikir gak ya. Soalnya itu gulat ya gak, karate ya gak. Campur-campur.”

Dalam menyikapi pertanyaan tersebut, hampir semua mengatakan jika UFC bisa digolongkan sebagai olahraga beladiri. Dari wawancara tersebut informan banyak berpendapat jika petarung yang mengikuti pertarungan UFC mempunyai kemampuan beladiri hal tersebut yang mendajadi pertimbangan Idrus, Slamer, Jaka dan Shaleh memaknai UFC sebagai sebuah olahraga.

Sedangkan Dimas bingung apakah UFC bisa digolongkan sebagai olahraga atau bukan. Menurutnya UFC banyak terdiri dari berbagai olah raga bela diri nam tidak ada yang mendekati spesifikasi salah satu olah raga tertentu.

4.6 Analisis Resepsi

Melalui proses seleksi dan pemilihan informan diatas, peneliti melakukan proses wawancara dan menggolongkan kelima informan dalam model encoding- decoding Hall kemudian memberikan 3 posisi informan dalam menerima pesan, melaui proses wawancara dengan para informan yang ada, dengan mengajukan pertanyaan yang telah disiapkan oleh peneliti, dari hasil pertanyaan yang diajukan peneliti dapat menyimpulkan dan menggolongkan kedalam 3 model encoding- decoding Stuart Hall yang menggolongkan khalayak menjadi tiga khalayak aktif dalam memaknai teks yang dimunculkan oleh media. Yaitu Dominan-hegemonik, Negoisasi, dan Oposisional.

Penjabaran dari penggolongan informan tersebut dijelaskan sebagai berikut :

• Dominan-hegemonik

Dalam posisi ini, dilihat dari hasil wawancara yang dilakukan dengan informan mengenai persepsi penonton laki-laki terhadap tayangan UFC di RCTI. Informan yang digolongkan kedalam posisi ini jika informan menganggap UFC sebagai tayangan olahraga yang tidak mengandung unsure kekerasan dalam penayangannya dan menganggap UFC sebagai suatu kegiatan olahraga.

• Negoisasi

Dalam posisi ini, dilihat dari hasil wawancara yang dilakukan dengan informan mengenai persepsi penonton laki-laki terhadap tayangan UFC di RCTI. Informan yang digolongkan kedalam posisi ini jika informan menganggap masih belum bisa menganggap UFC sebagai tayangan olahraga yang tidak mengandung unsure kekerasan dalam penayangannya dan menganggap UFC sebagai suatu kegiatan olahraga.

• Oposisional

Dalam posisi ini, dilihat dari hasil wawancara yang dilakukan dengan informan mengenai persepsi penonton laki-laki terhadap tayangan UFC di RCTI. Informan yang digolongkan kedalam posisi ini jika informan menolak teks media yang dimunculkan pada tayangan UFC sebagai tayangan olahraga. Menggap UFC sebagai tayangan yang penuh dengan unsur kekerasan dan tidak menggolongkan UFC senagai suatu kegatan olahraga.

Dalam penelitian ini, peneliti membagi pertanyaan yang dilontarkan kepada informan kedalam tiga sub pertanyaan. Yaitu apakah informan menganggap UFC sebagai tayangan olahraga yang menarik, apakah informan menganggap UFC sebagai tayangan penuh dengan kekerasan atau tidak, dan bagaimana informan dalam memaknai UFC sebagai suatu kegiatan olahraga atau bukan.

Dalam sub pertanyaan pertama, pertanyaan-pertanyaan yang mengarah kepada pengetahuan informan terhadap acara UFC di RCTI sebagai tayangan olahraga yang menarik secara umum, dari kelima informan empat diantaranya yaitu Idrus, Slamet, Jaka dan Shaleh sepakat menggangap UFC sebagai tayangan olahraga yang menarik dikarenakan adanya unsur olahraga bela diri dalam acara tersebut. Yang berarti mengkelompokkan keempat informan tersebut kedalam kelompok Dominan- hegemonik. Informan Idrus dan Jaka yang mempunyai background beladiri tentu mempengaruhi pendapat tersebut seperti perkataan Jaka yang mengatakan

“Mungkin karena background saya yang berasal dari keluaraga silat jadi saya suka,”

Sementara Slamet dan Shaleh menyukai acara tersebut karena mereka menyukai acara – acara olahraga. Mereka mengatakan UFC sebagai acara yang menghibur karena isi acara UFC yang sarat dengan pukulan, tendangan maupun bantingan. Seperti yang dikatakann oleh Slamet :

“Bagus lah. Lumayan buat hiburan. Apalagi UFC kan sebenarnya peminatnya banyak diluar. Setahu saya malah lebih banyak penggemar UFC daripada Smackdown di luar negeri. Mungkin karena gak settingan. Jadi kelihatan kalau itu beneran bukan sesuatu yang

dibuat-buat. Apa ya.. maksudnya beneran itu mukulnya memang bener-bener mukul bukan seoalah-olah mukul.”

Sedangkan Shaleh mengatakan :

“iya menurut saya menghibur. Bagi saya yang penikmat acara olahraga UFC termasuk menarik, mungkin karena semacam alternative ditengah acara-acara di tv menurut saya pada alay. Hahahaha itu menurut saya loh ya. Masak acara joget-joget bareng. Hadeh. Yang paling bisa menyita perhatian saya itu karena bisa melihat pertarungan dari berbagai jenis bela diri ada disana. Tapi mungkin kalau perempuan gak cocok sama acara ini, kalau laki-laki kemungkinan besar cocok.”

Sedangakan Dimas dikelompokkan kedalam kelompok oposisi karena dia memaknai acara UFC di RCTI sebagai acara yang tidak menarik karena acara tersebut terlalu keras dan brutal.

“Tidak menarik. Apa yang ada di UFC itu terlalu keras malah lebih cocok dikatakan brutal, gak suka saya. Apalagi samapai ada yang patah tangan, kepalanya bocor. Lebih baik saya menonton film atau tidur daripada melihat acara seperti itu”.

Pada sub pertanyaan kedua yang bertujuan untuk mengetahui penerimaan yang dilakukan informan terhadap UFC sebagai tayangan yang termasuk sebagai tayangan yang menyuguhkan kekerasan, salah satu informan yaitu Idrus peneliti golongkan sebagai khalayak dominan-hegemonik. Hal tersebut dikarenakan Idrus berargumen jika tayangan tersebut bukanlah tayangan olahraga beladiri yang wajar

jika didalmnya terdapat pukulan tapi tidak bisa dikatakan sebagai tayangan yang mengandung unsur kekerasan. Seperti wawancara ini :

“kekerasan? Dilihat dari mananya dulu yah. Soalnya saya melihat UFC itu acara olah raga. Memang olah raganya keras, tapi kalau UFC dikategorikan sebagai acara yang mengandung unsur kekerasan saya kurang setuju deh. Pada dasarnya UFC itu pertarungan berbagai macam bela diri. Sudah tau kan kalau bela diri itu bagaimana? Pasti tidak mungkin lepas dari pukulan dan tendangan. Jadi ya wajar saja”

Pada informan lainnya yaitu Slamet, peneliti menggolongkannya kedalam kelompok negosiasi. Hal tersebut disebabkan dia setuju jika UFC termasuk acara yang menyuguhkan kekerasan, namun dia juga menekankan jika acara UFC yang ditayangkan oleh RCTI masih dalam keadaan yang wajar. Dia membandingkan tayangan UFC yang ditayangkan oleh RCTI dengan video-video UFC yang beredar di Internet. Seperti dalam pernyataanya berikut ini.

“Iya lah. Pasti itu. Sampai lawan yang dipukul itu kadang berdarah kan. Tapi kalau saya ngelihat UFC yang ditayangkan RCTI agak berbeda ya sama kalau ngelihat dari video tentang pertandingan UFC yang ada di Internet. Kalau yang di internet itu kelihatan jelas kalau brutal malah kadang fatal sampai ada yang patah tulang. Mungkin

Dokumen terkait