• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

3. Hasil Wawancara

Pada bagian ini penulis menyajikan jawaban atau tanggapan responden tentang : (1) nilai-nilai Kekatolikan dan Pendidikan Kristiani menurut Dokumen Gereja, (2) Visi-Misi yang menjadi landasan pelaksanaan pendidikan di SMP Maria Immaculata dan (3) praktek pelakanaan pendidikan karakter yang diterapkan oleh masing-masing guru di kelas sesuai dengan mata pelajaran maupun kegiatan yang diampu.

Untuk mendapat tanggapan atas hal-hal tersebut, penulis menyiapkan beberapa pertanyaan kunci yang mudah dijawab oleh responden. Penulis menemukan adanya variasi jawaban yang beragam dari masing-masing responden dalam memahami nilai-nilai Kekatolikan dalam Pendidikan Karakter Kristiani, serta penerapannya baik dalam lingkup sekolah maupun kelas. Untuk menguji kebenaran tanggapan responden, dilakukan proses triangulasi sumber dengan cara mewawancarai pihak lain yang dinilai dapat mengonfirmasi pernyatan responden secara valid.

Praktek pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah sangat bergantung pada nilai-nilai apa aja yang menjadi landasan proses pendidikan, serta bagaimana nilai-nilai itu terlaksana dalam lingkup pendidikan Kristiani. Menurut penulis, mengetahui dan praksis pelaksanaan adalah kedua hal yang berbeda secara substansial, namun tidak bisa dipisahkan. Terkadang orang hanya mengenal konsep nilai yang dihidupi tanpa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Begitu juga sebaliknya, praksis kegiatan yang dilaksanakan belum tentu sesuai dengan nilai-nilai yang dihidupi. Dalam penelitian ini, penulis ingin mencari tahu seberapa besar pengetahuan responden tentang nilai-nilai Kekatolikan dalam dokumen Gereja, serta bagaimana nilai tersebut diterapkan dalam visi-misi sekolah, program, dan praktek masing-masing guru di kelas dalam rangka pendidikan karakter kristiani.

a. Menyangkut Dokumen Gereja

Untuk mendapatkan tanggapan yang komprehensif tentang pengetahuan mengenai Dokumen Gereja, penulis membaginya menjadi dua bagian yang berhubungan dengan: (1) Nilai-nilai Kekatolikan dengan pertanyaan kunci; (a) dokumen yang memuat konsep pendidikan Kristiani;(b) nilai-nilai Kekatolikan yang relevan bagi pendidikan karakter dalam dokumen Gereja; dan (c) nilai-nilai Kekatolikan yang melandasi proses pendidikam di SMP Maria Immaculata; (2) Pendidikan Kristiani meliputi: (a)pelaksanaan pendidikan kristiani di sekolah, dan (b) komponen Pendidikan Kristiani di sekolah.

(1) Nilai-nilai Kekatolikan

Penulis bertanya kepada semua responden tentang apa yang mereka ketahui tentang Dokumen Gereja.

(a) Dokumen yang Memuat Konsep Pendidikan Kristiani Responden 1 dengan singkat mengatakan :

Wah, itu saya kurang tau mbak, guru agama yang paham [Wawancara R1, 12 November 2018].

Responden 2 dengan yakin namun terlihat seperti berpikir keras mengatakan:

Ya yang saya tahu Kitab Suci yang kita mengajarkan untuk selalu peduli pada sesama dan mengajarkan cinta kasih [Wawancara R2, 12 November 2018].

Responden 3 dengan singkat mengatakan :

Kalau soal itu saya tidak memiliki kapasitas mbak, yang ngerti guru agama [Wawancara R3, 13 November 2018].

Responden 4 kurang yakin menjawab dengan mengatakan:

Saya kurang tahu mengenai hal tersebut [Wawancara R4, 14 November 2018].

Responden 5 dengan singkat mengatakan :

Saya kurang tahu ya mbak [Wawancara R5, 14 November 2018].

Responden 6 dengan yakin menjawab dengan mengatakan:

Yang jelas dalam Dokumen Konsili Vatikan II ada GE, selebihnya ada pada Surat Gembala [Wawancara R6, 14 November 2018].

Semua data yang dijabarkan di atas adalah valid. Semua data wawancara divalidasi ulang dengan meminta responden melihat kembali hasil transkripnya, sehingga kutipan di atas benar dan kredibel.

Penulis melakukan wawancara dengan orang lain sebagai Informan 1 yang mengenal responden. Informan 1 mengatakan bahwa meskipun seluruh responden merupakan guru beragama Katolik, tidak semua dari mereka mengetahui perihal dokumen Gereja. Pada jawaban R1, R2, R3, dan R5 dapat dilihat bahwa responden belum mengetahui adanya dokumen gereja yang memiliki fokus pada pendidikan kristiani. Namun, pada R4 sudah ada gambaran mengenai dokumen Gereja meskipun belum sepenuhnya benar, dan R6 sudah mengetahui adanya dokumen Gereja yang memuat Pendidikan Kristiani meskipun tidak dapat menyebutkan secara terperinci. [Wawancara I1, 14 November 2018]

(b) Nilai-nilai dalam Dokumen Gereja yang Relevan Bagi Pendidikan Karakter

Penulis memberikan gambaran isi dokumen Gereja kepada semua responden sebagai gambaran bagi responden untuk melihat nilai-nilai Kekatolikan yang relevan bagi pendidikan karakter. Secara keseluruhan responden memberi jawaban yang berbeda-beda. Berikut tanggapan masing-masing responden.

Responden 1 dengan yakin mengatakan:

Kalau menurut saya pribadi, yang pertama sikap saling menghormati mbak. Soalnya anak jaman sekarang tuh jangankan menghormati orang lain, lha wong sama gurunya aja susah mbak. Selain itu menurut saya sopan santun ya mbak, karena budaya individualisme yang ada sekarang ini bikin anak tidak bisa membedakan mana perilaku yang sopan mana yang kurang baik, terutama di depan orang yang lebih tua. Kemudian yang terakhir cinta kasih. Anak sekarang tuh mood-moodan mbak, mau nolong ya kalau yang ditolong itu temen deketnya, atau sahabatnya sendiri. Kalau

suruh bantu temen yang gak deket susahnya minta ampun mbak, padahal ya menolong itu bentuk mengasihi sesama. Contoh sederhananya,meminjamkan alat tulis pada teman yang membutuhkan kalau bukan temannya ya tidak mau memberi [Wawancara R1, 12 November 2018].

Responden 2 dengan yakin namun terlihat seperti berpikir keras mengatakan:

Sekolah ini kan memiliki spiritualitas yang diambil dari Fransiskus Assisi dan Magdalena Daemen, ya yang jelas kita mengajarkan nilai mencintai alam ciptaan dan sesama. Hal ini dapat diwujudkan misalnya dengan memberi salam. Di sekolah ini mbak, kalau pagi itu ada guru sama beberapa siswa istilahnya piket di depan untuk menyambut guru dan teman-teman yang datang dengan memberikan salam. Terus ada juga Jumat kasih, anak diajak menyisihkan uang jajannya untuk berbagai kepada teman yang membutuhkan, entah sakit, atau malah ndak mampu bayar SPP, dan lain sebagainya. Dan yang terakhir anak diajak percaya pada Penyelenggaraan Ilahi mbak, jadi tiap pagi anak diajak refleksi setelah doa untuk melihat apa yang akan saya lakukan hari ini, terus juga memberi motivasi bagi anak yang mau menghadap lomba dan ujian [Wawancara R2, 12 November 2018].

Responden 3 memberi jawaban yang berbeda dengan mengatakan :

Kalau urusan hubungan dengan yang di atas mungkin itu nanti urusan guru agama ya mbak. Tapi bagi saya, nilai yang relevan itu ya yang berguna bagi kehidupan sehari-hari. Misalnya dengan mengajak anak untuk mau menaati norma dan peraturan yang ada. Dari hal yang sederhana saja, menggunakan seragam sesuai dengan ketentuan, sampai yang ada di luar sekolah seperti mau membuang sampah pada tempatnya. Yang lain itu misalnya ya cinta kasih mbak. Nah, cinta kasih ini diwujudkan melalui sikap positif sebagai warga Negara, misalnya melalui bakti sosial, peduli alam sekitar, dan lain-lain. Yang terakhir, yang jarang dijumpai di sekolah lain yakni kekeluargaan di mana anak merasa dicintai, dihargai, diperhatikan [Wawancara R3, 13 November 2018].

Responden 4 sangat yakin dan singkat menjawab dengan mengatakan:

Jelas mbak, toleransi itu yang utama, apalagi kondisi bangsa saat ini sungguh sedang krisis. Di samping itu, kondisi siswa di sini kan juga beragam mbak, meskipun sekolah Katolik. Lalu di sekolah ini ada kemarsudirinian, salah satu nilai yang hendak diangkat adalah persaudaraan, di mana semua adalah sama. Persaudaraan ini juga ada

kaitannya dengan kerja sama. Kalau kita menyadari siapa sesama kita, maka kita mau bekerjasama dengan siapapun. Soalnya banyak kejadian anak itu gak mau kerja sama kalau bukan sama temen deketnya. Dan yang terakhir kedisiplinan mbak sebagai ciri khas yang sudah melekat pada sekolah Katolik [Wawancara R4, 14 November 2018].

Responden 5 dengan tenang dan yakin menjabarkan dengan mengatakan:

Ada dua yakni sikap sosial dan sikap spiritual. Sikap spiritual dulu ya mbak. Namanya anak sekolah kan kadang masih belum dong bagaimana saya haru bersikap. Sederhana saja melalui doa pagi. Anak ki masih sering ketawa-ketawa, tengok kanan kiri, guyon sama temennya, padahal posisi sedang berdoa. Nah, di sini kita mengajak anak untuk tahu apa yang sedang kita lakukan, dan bagaimana saya herus bersikap. Kemudian anak dibiasakan untuk membuat refleksi. Yang kedua adalah sikap sosial. Untuk hidup sehari-hari, anak itu harus diajarkan rasa tanggungjawab, baik dalam tugas, kegiatan, atau apapun, karena usia anak SMP itu masih labih dan suka sakarepe dewe. Kemudian nilai persaudaraan yang dibangun melalui kerja sama dan komunikasi. Ini penting sekali karena anak jaman sekarang itu seringnya nge-judge dulu tanpa tahu kebenarannya [Wawancara R5, 14 November 2018].

Responden 6 dengan yakin menjawab dengan mengatakan:

Saya pribadi selalu menginginkan anak-anak saya dapat merayakan kebebasan iman mereka masing-masing. Seringkali anak terlalu ditekan, diancam, dan menghadapi banyak aturan. Padahal anak muda butuh kebebasan supaya mereka mampu menjadi diri mereka seutuhnya, terutama kaitannya dengan iman akan Allah. disaat anak diberikan kebebaan itu, maka mereka akan berproses dan berkembang sehingga perlahan-lahan dia tahu apa yang baik dilakukan dan apa yang buruk bagi dirinya [Wawancara R6, 14 November 2018].

Kebenaran data yang diperoleh telah diuji validitasnya dengan mempersilahkan reponden untuk memeriksa kembali jawaban yang diberikan selama proses wawancara, sehingga jawaban yang diberikan sungguh benar dan terpercaya.

Berdasarkan wawancara kepada orang yang mengenal reponden, Informan 1 mengatakan berdasarkan pengalamnnya mengajar bersama responden, semua

responden memiliki preferensi yang berbeda dalam memberikan jawaban.

Biasanya hal ini dipengaruhi juga oleh mata pelajaran dan kegiatan yang ada di bawah naungan guru yang bersangkutan. Misalnya R1 dan R2 memiliki jawaban yang hampir mirip dan saling melengkapi. Sedangkan R3 dan R6 memiliki jawaban yang sama sekali berbeda namun masih sesuai dengan konteks. Begitu pula dengan R4 dan R5, memiliki jawaban yang hampir sama.[Wawancara I1, 14 November 2018]

(c) Nilai-nilai Kekatolikan yang melandasi proses pendidikan di SMP Maria Immaculata

Penulis bertanya kepada responden tentang nilai-nilai Kekatolikan apa saja yang melandasi pendidikan di sekolah ini. Secara keseluruhan responden memberi jawaban yang sama. Berikut tanggapan masing-masing responden.

Responden 1 dengan singkat mengatakan :

Ada dua aspek mbak, yang pertama mencintai lingkungan yang diwujudkan melalui kemarsudirinian dan merawat tanaman. Yang kedua persaudaraan, baik dengan teman sekelas maupun dengan seluruh warga sekolah [Wawancara R1, 12 November 2018].

Responden 2 memberikan jawaban yang serupa dengan mengatakan :

Ya dari Fransiskus Asisi dan Magdalena Daemen itu mbak, diajak mencintai lingkungan dan sesama yang terwujud dalam kemarsudirinian.

Konkretnya ya dengan merawat tanaman, cinta sesama, memberi salam, dan lain-lain [Wawancara R2, 12 November 2018].

Responden 3 dengan singkat mengatakan :

Ya kemarsudirinian mbak, cinta alam ciptaan dan sesama [Wawancara R3, 13 November 2018].

Responden 4 dengan singkat mengatakan :

Yang jelas karena sekolah ada di bawah Yayasan Marsudirini, maka kita mengambil nilai kemarsudiriniaan yakni kesederhanaan, cinta lingkungan, dan sesama [Wawancara R4, 14 November 2018].

Responden 5 dengan yakin dan jelas menjawab dengan mengatakan :

Ada dua hal yang ingin dikembangkan di sini yaitu menjadi pribadi yang sederhana dengan memperlakukan semua siswa dengan cara yang sama supaya tidak ada kecemburuan sosial dan siswa dapat bersikp rendah hati.

Kemudian mencintai alam ciptaan dan sesama yang terangkum juga di dalam kemarsudirinian [Wawancara R5, 14 November 2018].

Responden 6 memberikan jawaban yang jelas dengan mengatakan :

Spiritualitas sekolah ini adalah semangat yang dibawa oleh Fransiskus Asisi dan Magdalena Daemen. Pertama-tama yang saya tangkap adalah semangat pertobatan. Di sini kita diajak untuk menyadari bagaimana kita di masa lampau, lalu ada yang namanya evaluasi diri sehingga kita bisa menuju pada suatu suasana pertobatan menjadi diri yang baru. Kemudian kesederhanaan. Kesederhanaan tercermin bukan hanya melalui penampilan tapi juga sikap serta tutur kata yang santun sehingga menghargai orang lain. Kemudain syukur atas apa yang dimiliki, diperoleh, dan diberikan oleh Allah. Dan yang terakhir persaudaraan, di mana kita semua adalah satu, saudara, dan kita semua sama [Wawancara R6, 14 November 2018].

Kebenaran data yang diperoleh telah diuji validitasnya dengan mempersilahkan reponden untuk memeriksa kembali jawaban yang diberikan selama proses wawancara, sehingga jawaban yang diberikan sungguh benar dan terpercaya.

Berdasarkan wawancara kepada orang yang mengenal reponden, Informan 1 mengatakan berdasarkan pengalamnnya mengajar bersama responden, semua responden memiliki jawaban yang sama karena memang seluruh warga sekolah yang ada menjiwai kemarsudirinian yang merupakan spiritualitas yang diangkat oleh yayasan dengan Franiskus Asisi dan Magdalenda Damond sebagai

pelindungnya. Maka jawaban R1. R2, R3. R4, R5, dan R6 selalu mengarah pada semangat cinta pada alam ciptaan dan sesama.[Wawancara I1, 14 November 2018].

(2) Pendidikan Kristiani

Penulis mengajukan pertanyaan pada responden untuk mengetahui bagaimana Pendidikan Kristiani berlangsung di sekolah.

(a) Praksis Pendidikan Kristiani di sekolah

Penulis bertanya kepada semua responden tentang apa yang mereka ketahui tentang praksis Pendidikan Kristiani di sekolah. Secara keseluruhan responden memberikan jawaban yang relative sama. Berikut tanggapan masing-maing responden.

Responden 1 dengan singkat mengatakan :

Pendidikan Kristiani diwujudkan ya melalui visi-misi sekolah, hal-hal yang mencerminkan iman Katolik seperti ibadat dan misa bulanan, dan simbol-simbol Katolik seperti salib, gambar, dan nilai-nilai sebagai pengingat [Wawancara R1, 12 November 2018].

Responden 2 memberikan jawaban yang berbeda dengan mengatakan :

Pendidikan Kristiani ya mbak? Contoh konkretnya sih dengan adanya tiga S itu mbak, kemudian kebiasaan doa pagi dari sentral dilanjutkan dengan refleksi, kemudian ya melalui keteladanan guru mbak, guru nyontoni anak muride piye kudu bersikap, nyandang, ngomong [Wawancara R2, 12 November 2018].

Responden 3 dengan singkat mengatakan :

Ya yang jelas keliatan banget ya refleksi itu mbak. Kan ndak semua sekolah ada kebiasan tersebut [Wawancara R3, 13 November 2018].

Responden 4 dengan singkat mengatakan :

Yang jelas berkaitan dengan kerohanian ya. Misalnya dengan misa bulanan, ibadat, BKSN, refleksi yang sekiranya bisa mengembangkan sikap spiritual anak [Wawancara R4, 14 November 2018].

Responden 5 dengan yakin dan jelas menjawab dengan mengatakan :

Yang jelas pendidikan kristiani itu menyangkut dua hal, kerohanian serta sikap. Kerohanian itu diwujudkan dengan doa, refleksi, misa bulanan, ibadat, dan itu tidak hanya berlaku di sekolah, tapi juga di luar sekolah.

Mial ada murid yang celelekan waktu misa, sepulang Gereja kita temui lalu tegur supaya tidak mengulangi hal yang sama. Yang kedua ya sikap melalui perwalian, pembiasaan, aksos, dan bawa tanaman [Wawancara R5, 14 November 2018].

Responden 6 memberikan jawaban yang jelas dengan mengatakan :

Yang jelas melalui peribadatan yang rutin diadakan oleh sekolah misalnya melalui kegiatan BKSN, ibadat, aksos, misa bulanan. Tapi di samping itu, pelayanana ke luar sekolah juga penting misalnya dengan mengikuti misa ketika ada keluarga murid atau guru yang meninggal, kunjungan orang sakit, serta dialog yang terbuka antara saya sebagai guru dengan orangtua maupun guru dari sekolah lanjutan di mana alumni sekolah ini melanjutkan jenjang pendidikannya [Wawancara R6, 14 November 2018].

Kebenaran data yang diperoleh telah diuji validitasnya dengan mempersilahkan reponden untuk memeriksa kembali jawaban yang diberikan selama proses wawancara, sehingga jawaban yang diberikan sungguh benar dan terpercaya.

Berdasarkan wawancara kepada orang yang mengenal reponden, Informan 1 mengatakan berdasarkan pengalamnnya mengajar bersama responden, semua responden memiliki jawaban yang sama karena memang bagi sebagian besar guru, pendidikan kristiani sungguh nampak dan terpancar melalui kegiatan-kegiatan kerohanian. Maka jawaban R1. R2, R3. R4, R5, dan R6 selalu mengarah pada

kegiatan kerohanian yang ada I sekolah, mekipun pada R5 dan R6 ada tambahan seperti kehidupan di masyarakat atau di luar sekolah. [Wawancara I1, 14 November 2018]

(b) Komponen Pendidikan Kristiani

Pada bagian ini penulis ingin mengetahui komponen yang mencakup pendidikan kristiani. Secara keseluruhan responden memiliki jawaban yang relative sama dan singkat. Berikut tanggapan masing-masing responden.

Responden 1 dengan singkat mengatakan :

Kalo menurut saya sih ya seputar kerohanian itu mbak, seperti jawaban sebelumnya [Wawancara R1, 12 November 2018].

Responden 2 memberikan jawaban yang serupa dengan mengatakan :

Ya kalo menurut saya kerohanian itu sama bagaimana menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari [Wawancara R2, 12 November 2018].

Responden 3 dengan singkat mengatakan :

Yang terpenting ya bagaimana anak bisa mengkomunikasikan iman dengan yang di atas kemudian mereka menerapkan perintah-Nya dalam hidup masyarakat [Wawancara R3, 13 November 2018].

Responden 4 dengan singkat mengatakan :

Kalau menurut saya di samping anak memiliki sikap spiritual yang baik, anak juga sungguh memiliki jiwa kemarsudirinian dalam diri [Wawancara R4, 14 November 2018].

Responden 5 dengan singkat mengatakan :

Dua hal tadi mbak yang saya rasa dominan, hidup rohani dan sikap terhadap sesama [Wawancara R5, 14 November 2018].

Responden 6 dengan singkat mengatakan :

Seperti yang telah saya sampaikan, yang jelas hidup rohani anak, yakni iman mereka dengan yang di atas, juga bagaimana mereka menerapkannya dalam hidup bersama sebagai suatu wujud persaudaraan sesuai dengan apa yang menjadi spiritualitas sekolah ini [Wawancara R6, 14 November 2018].

Kebenaran data yang diperoleh telah diuji validitasnya dengan mempersilahkan reponden untuk memeriksa kembali jawaban yang diberikan selama proses wawancara, sehingga jawaban yang diberikan sungguh benar dan terpercaya.

Berdasarkan wawancara kepada orang yang mengenal reponden, Informan 1 mengatakan berdasarkan pengalamnnya mengajar bersama responden, semua responden memiliki jawaban yang sama karena memang pendidikan kristiani memiliki komponen utama iman anak dan hubungan dengan sesama. Maka jawaban R1. R2, R3. R4, R5, dan R6 selalu mengarah pada hal tersebut[Wawancara I1, 14 November 2018]

b. Visi-misi Sekolah

Pada bagian ini penulis ingin mengetahui bagaimana nilai-nilai Kekatolikan yang ada mengambil peran dalam proses pendidikan di sekolah khususnya dalam pendidikan Karakter Kristiani. Untuk itu, penulis merumuskan pertanyaan kunci:(1) peran nilai Kekatolikan dalam pendidikan karakter;(2) program pengembangan pendidikan karakter; (3) peran nilai dalam pendidikan karakter kristiani;(4) implementasi nilai Kekatolikan dalam pendidikan karakter.

(1) Peran nilai Kekatolikan dalam pendidikan karakter

Penulis bertanya kepada semua responden tentang peran nilai-nilai Kekatolikan tersebut bagi pendidikan karakter Kristiani. Secara keselurahn responden memberikan jawaban yang berbeda-beda. Berikut tanggapan masing-masing responden.

Responden 1 dengan singkat mengatakan :

Peran nilai dalam pendidikan karakter kristiani sih jelas untuk membantu anak memiliki sikap iman dan sosial yang baik [Wawancara R1, 12 November 2018].

Responden 2 dengan yakin namun terlihat seperti berpikir keras mengatakan:

Sebenarnya sederhana mbak, tapi sulit dalam pelaksanaanya, maksudnya begini, nilai-nilai yang sudah dimiliki anak itu dikembangkan supaya dapat membentuk sikap yang baru melalui proses yang panjang [Wawancara R2, 12 November 2018].

Responden 3 dengan singkat mengatakan :

Sangat memiliki peran ya mbak, terutama dalam membentuk sikap hidup sehari—hari yang sesuai dengan iman kepercayaan masing-masing [Wawancara R3, 13 November 2018].

Responden 4 kurang yakin menjawab dengan mengatakan:

Sebenarnya nilai-nilai Kekatolikan jelas memiliki peran khususnya dalam membentuk sikap iman anak. Tapi pada kenyataannya tidak hanya sampai pada sikap iman, tetapi juga hidup sosial anak yang bersangkutan [Wawancara R4, 14 November 2018].

Responden 5 dengan singkat mengatakan :

Tentu saja memiliki peran dalam membangun kedewasaan iman anak yang masih mengalami masa transisi, juga sikap hidup mereka sehari-hari [Wawancara R5, 14 November 2018].

Responden 6 dengan singkat mengatakan:

Kalau ditanya memiliki peran tentu saja karena nilai merupakan dasar dari pembentukkan sikap. Tapi untuk efektifnya saya masih belum yakin anak sungguh dapat menerima nilai tersebut sebagai acuan untuk mengambil sikap [Wawancara R6, 14 November 2018].

Semua data yang dijabarkan di atas adalah valid. Semua data wawancara divalidasi ulang dengan meminta responden melihat kembali hasil transkripnya, sehingga kutipan di atas benar dan kredibel.

Penulis melakukan wawancara dengan orang lain sebagai Informan 1 yang mengenal responden. Informan 1 mengatakan bahwa meskipun seluruh responden mengaalami perjumpaan yang sama dengan anak, tentu memiliki pandangan yang berbeda mengenai peran nilai terhadap pendidikan karakter kristiani. Misalnya pada R2 dan R6 yang merasa perannya jelas namun masih terlihat samar dalam praksis pelaksanaannya. Sedangkan yang lain merasa sudah cukup berperan khususnya dalam lingkup kerohanian dan sosial [Wawancara I1, 14 November 2018].

(2) Program pengembangan pendidikan karakter

Penulis bertanya kepada semua responden program sekolah yang berkaitan dengan pendidikan karakter kristiani. Secara keseluruhan responden memberikan jawaban yang sama. Berikut tanggapan masing-masing responden.

Responden 1 dengan cukup jelas mengatakan :

Kalau program untuk mengembangkan karakter anak itu ada semacam program pendampingan sesuai dengan kebutuhan yang mendesak bagi siswa, misalnya seksualitas, penggunaan gadget dan media sosial, serta narkotika. Di samping itu terdapat juga tatib yang menata kedisiplinan siswa melalui sistem poin, serta peduli kepada lingkungan dan sesama

melalui kegiatan aksos dan buang sampah pada tempatnya [Wawancara R1, 12 November 2018].

Responden 2 menyebutkan hal yang sama seperti responden 1 dengan mengatakan:

Untuk program baru saja ada program pendampingan bagi anak sesuai dengan tingkatan kelas mereka yang materinya seksualitas, penggunaan media sosial, dan narkotika kemudian ditutup dengan lokakarya.

Kemudian ada juga retret, lokakarya, kemah, pramuka, dan pembiasaan dari BK seminggu sekali [Wawancara R2, 12 November 2018].

Responden 3 dengan singkat mengatakan :

Kalau untuk program yang umum sih lokakarya, retret, aksos, kemudian pengembangan kepribadian seperti penggunaan medsos [Wawancara R3, 13 November 2018].

Responden 4 mengatakan:

Kalau program pertama ada pembiasaan dari BK, retret, seksualitas, dan juga ada tatib. Tatib ini merupakan petunjuk bagi siswa mengenai peraturan sekolah yangnantinya akan diberlakukan sistem poin bagi yang melanggar. [Wawancara R4, 14 November 2018].

Responden 5 dengan singkat mengatakan :

Kalau saya sebagai wali kelas itu ada perwalian guna memberi semangat bagi siswa yang akan mengikuti lomba maupun akan menghadapi ulangan.

Kemudian ada retret, lokakarya, pengembangan kepribadian melalui seksualitas, pendampingan penggunaan narkotika, dan pembiasaan dari BK [Wawancara R5, 14 November 2018].

Responden 6 dengan yakin menjawab dengan mengatakan:

Untuk program yang mampu membantu perkembangan karakter kristiani anak itu ada banyak. Ada kemarsudirinian, retret, lokakarya, refleksi, aksi sosial, program pendampingan seperti yang dilaksanakan akhir bulan lalu