• Tidak ada hasil yang ditemukan

HEMATOONKOLOGI 59. Anemia

Dalam dokumen Black Books UKMPPD (Halaman 60-68)

a. Definisi

Anemia adalah keadaan dimana terjadi penurunan dari massa sel darah merah. Indikatornya menggunakan kadar haemoglobin

 Balita (0,5 – 4,9 tahun) : < 11 g/dl  Anak (5 – 11,9 tahun) : < 11,5 g/dl  Wanita sedang menstruasi : < 12 g/dl  Wanita hamil : < 11 g/dl  Laki-laki : < 13 g/dl b. Klinis

 Gejala umum anemia adalah mudah lelah, pucat, berdebar-debar, tinitus, sesak, pusing, konjungtiva pucat.

 Indikasi transfusi bila Hb < 7 g/dl c. Klasifikasi Anemia Mikrositik Hipokromik Besi Serum ↓ ADB Penyakit Kronik N Thalassemia Sideroblastik Normositik normokromik Retikulosit ↑ Anemia Hemolitik Perdarahan Akut N / ↓ Aplastik Leukemia,etc Makrositik Defisiensi Asalm folat Defisiensi B12

 Istilah:

o Anemia makrositik: MCV, MCHC ↓ o Anemia normositik: MCV, MCHC normal o Anemia Makrositik: MCV ↑

o Mean Corpuscular Volume (MCV) :ukuran volume rata-rata eritrosit

o Mean Corpuscular Hemoglobin (MCH): jumlah rata-rata hemoglobin dalam eritrosis

o Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration (MCHC): ukuran rata-rata konsentrasi hemoglobin dalam eritrosit

o Ferritin adalah cadangan besi intraseluler

o Total Iron Binding Capacity (TIBC) adalah kapasitas darah untuk mengikatkan besi dengan transferin

 Anemia Hipokromik Mikrositik

o Anemia Defisiensi Besi

 Kurang asupan besi, penyakit cacing tambang

Anemia Mi-Hi Besi Serum Menurun TIBC ↑, Feritin Besi sumsum tulang negatif ADB TIBC ↓, Feritin N/↑ Besi sumsum tulang positif Anemia akibat penyakit kronik Normal Feritin Normal Elektroforesis Hb Hb A2↑, HbF ↑ Thalassemia Beta Ring Sideroblastik dalam sumsum tulang Anemia Sideroblastik

 MCV ↓, MCHC ↓, TIBC ↑, Feritin ↓

 Apusan darah: anemia Mikrositik Hipokromik, Central Pallor (bagian tengah yg pucat / cekung pada eritrosit) melebar, sel pensil (+).

 Terapi: ferrous sulfat 3x200 mg. Ferrous sulfat 325 mg = 65 mg besi elemental. Ferrous gluconat 325 mg = 38 mg besi elemental

 Edukasi untuk makan makanan yang banyak kandungan besi (daging, ati, dll)

 Menurunkan absorbsi besi: antasida, fitat (sereal), tanin (teh), fosfat  Meningkatkan absorbsi besi: sitrat, fruktosa, asam askorbat (vit. C)  Eefek samping SF: gastric upset  berikan dosis awal kecil

 Target Hb meningkat 1 g/dl tiap 2-3 minggu o Anemia Akibat Penyakit Kronik

 Terjadi gangguan utilitas besi

 Dapat normositik-normokromik atau mikrositik-hipokromik  TIBC ↓, Ferritin N / ↑

o Thalassemia

 Akibat gangguan pada hemoglobin (hemoglobinopathy)  Terdiri dari Thalassemia alpha dan beta (lebih parah)  Penyakit yang diturunkan

 Tampilan Klinis

Riwayat keluarga (+), ikterik, deformitas tulang, splenomegali, onset biasanya pada anak-anak

 Penunjang

 Apusan darah: mikrositik-hipokromik, sel target, anisositosis, poikilositosis

 Bilirubin indirek meningkat

Elektroforesis Hb (Gold Standart): HbA2↑ , HbF  Penatalaksanaan: transfusi berkala + iron chelating o Anemia Sideroblastik

 Genetk (X linked)

 Ketidakmampuan mengubag besi tidak bisa menjadi hemoglobin  Pada Aspirasi sumsum tulang (BMP) ditemukan ring sideroblast

 Anemia Normokromik Normositik  Anemia aplastik :

o Akibat defek intrinsik dari sel hemopoietik, trauma eksternal pada sel hemopoietik, defek stroma

o Tidak ada organomegali o Pansitopenia

o BMP: gambaran hipoplastik  Anemia hemolitik

o Klinis: anemia, ikterik, splenomegali, retikulosit ↑, bilirubin direk ↑

o Hereditary Sperocyte

 Permeabilitas Na menigkat  peningkatan glikolisis  penurunan lemak intrinsik  membran menjadi rapuh, bentuk sel menjadi sferis  penghancuran prematur di lien

 Apusan darah : sel berbentuk sferis (central pallor menghilang)  Osmoti fragility test

 Tatalaksana dengan splenektomi o Defisiensi G6PD

 G6PD: enzim yang berfungsi melindungi eritrosit dari kerusakan oksidatif  Pencetus: infeksi (paling sering), obat (antimalaria, sulfonamid, aspirin)  Apusan darah tampak Bite cell (sel seperti tergigit), Heinz body (tampak

badan iklusi di dalam eritrosit) o Anemia Sickle Cell

 Pada apusan darah ditemukan eritrosit berbentuk bulan sabit (sickle cell)

Hemolisis Penyebab Intrinsik Membran Hereditary sperocyte Osmotic fragility test Enzim G6PD defisiensi G6PD assay Hemoglobin Thalassemia Hb Elektroforesis Sickle Cell Ekstrinsik Autoimun Warm Cold Infeksi Malaria, etc Microangiopa thy Prostetic valve, ITP, DIC, etc

o Autoimune Hemolytic Anemia (AIHA)

Warm Cold

Eritrosit berikatan pada suhu 37° C 0 – 4° C Klinis  Akut dan berat

 Penyakit kolagen, idiopatik

 Post infeksi  Idiopatik

Antibodi yang terlibat IgG IgM dengan komplen C3 Mekanisme Ekstravaskular hemolisis Intravaskular hemolisis Apusan Darah Sferosit (central pallor

menghilang)

Cold aglutinin (eritrosit menggumpal)

Tatalaksana  Kortikosteroid  Splenektomi

 Menghindari dingin

Coomb’s Test merupakan tanda anemia hemolitik o Microangiopathic Anemia

 Disebabkan penyakit mikrovaskular (ITP, DIC), katup jantung buatan, trauma, implanted devices

 Anemia Makrositik

o Karena defisiensi asam folat (post-OP GIT, gangguan lambung yang menyebabkan defisiensi faktor intrinsik untuk membantu penyerapan B12), asam folat, penyakit hepar

o Glositis (pada defisiensi B12)

o Apusan darah: eritrosit makrositik, hipersegmented netrofil 60. Immune Thrombocytopenic Purpura

 Akibat adanya antibodi anti-platetel

 Akut < 3 bulan (biasanya pada anak, berhubungan dengan infeksi virus), kronik > 3 bulan (pada dewasa)

Tampilan Klinis:

o Petekiae, purpura, ekimosis

o Biasanya didahului infeksi 1-2 minggu sebelumnya o Tidak ada organomegali

o Steroid (metilpredinsolon, prednison) jika AT < 30.000 atau AT <50.000 dengan risiko perdarahan

o IvIg jika mengancam jiwa, atau anak dengan AT <20.000 disertai perdarahan 61. Disseminated Intravascular Coagulation

 Adanya aktivasi sistem koagulasi sistemik, dimana terjadi penumpukkan fibrin dan menimbulkan trombus-trombus di mikrovaskular yang menyebabkan iskemia dan gangguan organ. Akibat aktivasi sistem koagulasi secara masif, terjadi kekurangan faktor koagulasi dan platelet yang dapat menyebabkan perdarahan.

 DIC dipicu oleh berbagai keadaan, yaitu: sepsis, infeksi, keganasan, emboli air ketuban, eklampsia, trauma, snake bite, transfusi, dll

Klinis:

o Perdarahan (tersering)

o Gangguan kulit (purpura, sianosis, ganggren)

o Gangguan ginjal (asidosis, azotemia, hematuria, oligouria) o Gangguan hepar

o Gangguan pernafasan (ARDS, pleural friction rub) o Gangguang SSP (gangguan kesadaran, TIA) o Syok

Penunjang:

Bleeding time ↑, PT ↑, APTT ↑, trombositopenia, fibrinogen ↓, D-dimer ↑ 62. Evaluasi Laboratorium Gangguan Perdarahan

Hitung trombosit (AT)

Pemeriksaan kuantitatif trombosit

Bleeding Time (BT)

Pemeriksaan kualitatif trombosit

Clotting Time (CT)

Pemeriksaan untuk mengevaluasi faktor koagulasi (tidak spesifik) Protrombin Time (PT) atau International Normalized Ratio (INR)

Pemeriksaan untuk mengevaluasi faktor ekstrinsik (faktor VII) Active Partial Thromboplastin Time (APTT)

Pemeriksaan untuk mengevaluasi faktor intrinsik (VIII, IX, X, XI, XII) Trombin Time (TT)

Fibrinogen

Pemeriksaan untuk mengevaluasi fibrinolitik

Fibrin Degradation Product / D-dimer

Pemeriksaan untuk mengevaluasi fibrinolitik 63. Polisitemia

Peningkatan jumlah eritrosit dan kadar hemoglobin Primer

o Contoh: polisitemia vera

o Diakibatkan keganasan yang menyebabkan peningkatan jumlah eritrosit o Eritropoietin normal atau menurun

o Peningkatan AE, AT, dan AL

o Splenomegali

Sekunder

o Diakibatkan peningkatan stiumulasi oleh eritropoietin yang disebabkan oleh hipoksia atau keganasan pada ginjal

64. Leukemia

Akut Kronik

Hb Anemia Anemia

AL Leukositosis Leukositosis

AT Trombositopenia N / trombositosis

Trombositopenia pada CML blast crisis Diff.

Count

Sel blast (nucleoli +) Granulosit immatur

AML ALL CML CLL -90% pada anak dan dewasa -myeloblast ≥20% -aur rod (+) -lebih sering pada anak-anak -limfoblast ≥20% Pada dewasa dengan Philadelphia cromoson >50 tahun, Limfositosis >50.000 65. Limfoma

Tumor padat di jaringan limfoid Klinis:

o tumor padat, kenyal, terfiksir, tidak nyeri

o B symptom (lebih dominan pada Hodgkin): BB turun, lemas, demam, keringat malam

Hodgkin limfoma

Histopatologi: Reed Stenberg cell (owl’s eyes)

Non-Hodgkin limfoma (Burkitt limfoma) Histopatologi: Starry Sky

Diagnosis banding o Limfadenitis akut

Berhubungan dengan infeksi akut di daerah sekitarnya o Limfadenitis kronik

Histopatologi didapatkan limfosit matur, uniform, tidak ada sel blast o Limfadenitis TB

Riwayat TB, histopatologi gambaran perkejuan, tuberkel, sel datia langhans 66. HIV/AIDS

 Penularan melalui darah dan hubungan seksual

 Klinis: curiga pada diare kronik, kandidiasis oral, infeksi oportunis lainnya, BB turun Penegakkan dengan pemeriksaan HIV (ELISA, western blot), penilaian selanjutnya

untuk menentukan terapi dengan menggunakan CD4

Tahapan Infeksi HIV

o Infeksi HIV akut  2-6 minggu setelah infeksi  sindrom retroviral akut / flu like symptom. Window period hingga 3 bulan  sudah dapat menularkan HIV, pemeriksaan antibodi negatif

o Infeksi HIV asimptomatik (masa laten): tidak ada gejala, tetapi pemeriksaan antibodi positif, dapat positif sampai 10 tahun

o Limfadenopati persisten menyeluruh  nodus limfe berdiameter >1 cm pada dua atau lebih daerah ekstrainguinal selama lebih dari 3 bulan

o Infeksi simptomatik (AIDS)  CD4 <200 Stadium Klinis HIV

o Stadium I

Tidak ada gejala, limfadenopati generallisata persisten o Stadium II

BB turun <10%, infeksi saluran nafas berulang, herpes zooster, ulkus oral berulang, ruam kulit, dermatitis seboroik, infeksi jamur pada kuku

o Stadium III

BB turun >10 %, diare kronis >1 bulan, demam menetap, kandidiasis oral menetap, oral hairy leukoplakia, TB paru, infeksi bakteri berat, stomatitis, ginggivitis, anemia, netropenia, trombositopenia

o Stadium IV

Sindrom wasting HIV (BB turun >10% + diare kronik >1 bulan + demam >1 bulan), PCP, TB ekstraparu

Tatalaksana

o Kriteria mulai ARV: CD4 <350, stadium klinis 3-4, HVI dengan TB, HIV dengan Hepatitis B, Ibu hamil HIV

o Anjuran pengobatan lini pertama:

AZT (Zidovudin) + 3TC (Lamifudin) +NVP (Nevirapin)  AZT + 3TC + EFV (Efavirenz) : pada TB dan Hepatitis B kronik  Toxoplasmosis pada HIV

Gambaran CT Scan: lesi nodular, ring enhancement, edema cerebri, 75% pada ganglia basalis.

Dalam dokumen Black Books UKMPPD (Halaman 60-68)

Dokumen terkait