TOKSIKOLOGI PESTISIDA DAN INDUSTRI
3. Herbisida
BAB 6|| Toksikologi Pestisida dan Industri 77
• hilang nafsu makan;
• mual dan muntah;
• sering buang air kecil;
• detak jantung melambat;
• sesak napas;
• mengi (bengek);
• kejang;
• lumpuh;
• koma;
• kematian.
Suma’mur (2000) mengemukakan bahwa gejala keracunan yang terjadi karena arsen akan mengakibatkan peningkatan rangsangan pada kulit dan selaput lender. Sehingga kulit bisa terasa gatal, memar dan bahkan bisa bertambah besar serta mata berair dan ingus yang berlebihan. Langkah pencegahan atau pertolongan pertama adalah dengan membasuh bagian yang kena itu dengan air yang mengalir.
Demikianlah salah satu urgensinya penggunaan APD (Alat Pelindung Diri) bagi pengguna pestisida di lapangan. Petani biasanya cenderung hanya menggunakan topi segitiga untuk melindungi dari panas cahaya matahari, tanpa menggunakan sarung tangan dan sepatu standar serta pakaian yang menutupi seluruh tubuh.
BAB 6|| Toksikologi Pestisida dan Industri Toksikologi Lingkungan
78
1) Herbisida sebelum tumbuhan itu memasuki fase generatif.
Sering disebut pada literatur lain sebagai herbisida pra-tumbuh.
Contohnya adalah merek “Ally Plus” dengan bahan aktif meti metsulfuron dan klorimuron serta 2,4 D natrium.
2) Herbisida setelah tumbuhan itu memasuki fase generatif. Sering disebut pada literatur lain sebagai herbisida pasca-tumbuh.
Contohnya adalah bahan aktifnya glifosat dan parakuat dengan merek dagang bermacam-macam dari pabrik yang berbeda-beda, salah satunya adalah “Ally 20 WD”.
Perbedaan antara keduanya adalah keampuhan toksin yang disemprotkan pada gulma. Pada golongan tertentu, lebih efektif membasmi gulma yang baru akan memasuki fase generatif. Sedangkan golongan kedua justru sebaliknya. Apabila dalam aplikasinya tidak tepat, maka hasil pun tidak efektif, sementara racun telah terkontaminasi pada lingkungan dan membentuk residu serta terakumulasi pada tanah.
Di samping jenis target atau sasaran di atas, dari hasil survei di lapangan dan studi melalui system online, didapat hasil bahwa cara kerja herbisida ini pun ada 2. Pertama, yang membunuh tanaman melalui jaringan atas tanah, berupa batang dan daun. Herbisida ini bersifat kontak. Artinya bagian yang bersentuhan dengannya akan mati melalui mekanisme fisiologis. Contoh merek dagangnya adalah gramoxone dengan bahan aktif parakuat yang diproduksi dan dipatenkan oleh Bayer.
Kedua, ada pula yang bersifat sistemik yang bermetabolisme di dalam tubuh tanaman sehingga kematian gulma dimulai dari tidak berfungsinya akar. Merek dagang contoh jenis herbisida ini adalah roundup, basmilang, basmilah dan lain sebagainya.
Pada jenis yang pertama, gulma segera akan tumbuh kembali setelah 3 bulan paling lama, karena umbi akarnya masih ada di dalam tanah dengan mengikut fase dorman (fase di mana gulma bertahan pada situasi yang belum memungkinkan baginya untuk tumbuh). Sedangkan golongan kedua tidak dalam waktu di bawah 6 bulan untuk gulma bisa tumbuh lagi, karena perlu waktu untuk suksesi baginya.
Gulma menyebar selain melalui angin, juga bisa biji atau bagian vegetatifnya ikut terbawa oleh alat-alat pertanian yang digunakan pada
BAB 6|| Toksikologi Pestisida dan Industri 79 suatu lahan. Pertumbuhan gulma yang tergolong jenis grase (rumput- rumputan) sangat cepat dan mudah menyebar.
Suatu areal per tanaman jagung (zea mays) lebih praktis dan berwawasan lingkungan apabila meminimalisasi penggunaan herbisida.
Penggunaan herbisida kontak dilakukan pada saat akan menanam saja, karena jagung akan tinggi pertumbuhannya pada umur 2 bulan, sehingga rumput tidak perlu lagi ditiadakan. Penerapan kultur teknis seperti pemberian mulsa sangat dianjurkan daripada pembasmian gulma dengan herbisida. Perhatikan Gambar 11.
Gambar 11. Lahan Penanaman Jagung pada Umur 2 Bulan
Sumber: Danhas, Y. 2020.
Pada Gambar 11 terlihat lahan penanaman jagung yang berumur 2 bulan. Tingginya sudah setinggi orang dewasa, sehingga masalah gulma tidak lagi menghalangi atau mengganggu dalam pertumbuhan dan pekembangannya. Terlihat lahan jagung itu menggunakan mulsa plastik dan menerapkan sistem tumpang sari. Di mana pada lahan jagung itu, ditanami juga cabai (capsicum annuum).
Walaupun ada gulma di areal penanaman, tetapi hal itu tidak mengganggu secara fisiologis pada tanaman jagung. Malah lebih menghematkan petani dalam hal biaya produksi karena tidak memerlukan biaya tambahan untuk menggunakan herbisida. Akan tetapi, sering petani kita merasa rumput itu akan selalu mengganggu tanaman budi daya. Padahal dengan pembentukan bedeng dan penutupan dengan mulsa, gulma itu tidak perlu dihilangkan.
I
BAB 6|| Toksikologi Pestisida dan Industri Toksikologi Lingkungan
80
Malah dalam konsep PHPT justru gulma itu kadang dianggap berguna sebagai tumbuhan alternatif bagi golongan hama tertentu.
Namun, tidak semua gulma bisa dianggap sebagai tumbuhan alternatif bagi hama dan penyakit. Dalam hal ini petani perlu mempelajari lebih lanjut atau bisa juga dengan pengalaman yang sudah dimiliki dalam bercocok tanam.
Terdapat beberapa produsen dan agen penjualan herbisida dan pestisida yang bisa diakses melalui internet. Seperti Sari Kresna Kimia yang memproduksi herbisida untuk membasmi gulma berdaun lebar.
Maksudnya tidak hanya jenis rumputan. Selain itu ada pula Nufarm Indonesia.
Informasi tentang spesifikasi produk di era 4.0 sekarang tidak begitu sulit karena masing-masing produsen dan agen sampai pada distributor telah mengiklankan produknya di internet. Tiap-tiap situs menampilkan foto dari masing-masing jenis herbisida yang diperdagangkannya. Contohnya dapat dilihat pada Gambar 12.
Gambar 12. Informasi Produk Herbisida Melalui Internet dari Produsen
Sumber: https://nufarm.com/id/produk-dan-informasi/herbisida/
Pada Gambar 12 terlihat bahwa suatu produk diiklankan lengkap dengan spesifikasi dan bahan aktifnya. Sehingga konsumen dapat
BAB 6|| Toksikologi Pestisida dan Industri 81 mempelajari penggunaannya. Mulai dari sasaran, sampai pada dosis penggunaan.
b. Jenis Bahan Kimia Herbisida yang Membahayakan
Sembel (2015) mencatat terdapat 5 buah senyawa kimia herbisida yang memiliki toksisitas berbahaya pada lingkungan dan organisme, yaitu:
(1) Aluminium Glifosat
Jenis bahan kimia sintetis ini menonaktifkan sintesa dari enzim glutamine sehingga apabila diabsorpsi oleh tanaman akan efektif untuk membunuh tanaman tersebut.
(2) Glifosat
Glifosat ini adalah contoh bahan kimia yang sistemik. Contoh yang pernah populer dulu di kalangan petani adalah merek “Rambo 480 AS”. Sistem kerjanya sama dengan Aluminium Glifosat yaitu menghambat sistem kerja enzim yang digunakan tanaman untuk menghasilkan atau mensintesa asam amino.
(3) Paraquat Diklorida
Golongan ini bersifat kontak dan jenis sasaran pada gulma purna tumbuh. Apabila jenis ini digunakan pada fase pertumbuhan awal gulma maka hasilnya kurang efektif, tetapi menimbulkan dampak pada lingkungan berupa akumulasi senyawa paraquat diklorida yang akan bereaksi dengan air tanah.
(4) Metil Sulfuron
Bahan aktif ini bersifat selektif. Artinya mampu membunuh golongan gulma saja sementara tanaman budi daya tidak mati. Hal ini diperlukan pada tanaman padi sawah. Sehingga gulma berdaun lebar bisa mati.
(5) Asam 2,4 Diklorofenoksiasetat
Jenis gulma ini juga sama dengan metal sulfuron yang bersifat selektif untuk gulma berdaun lebar.
Kesemua jenis bahan aktif tersebut, apabila digunakan sesuai prosedur dan menggunakan persyaratan kesehatan dan keselamatan kerja yang benar maka dampaknya terhadap lingkungan bisa diminimalisasi.
BAB 6|| Toksikologi Pestisida dan Industri Toksikologi Lingkungan
82