• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hibah Wasiat sebagai Objek Bea Perolehan Hak atas Tanah

Dalam dokumen HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN (Halaman 123-0)

BAB II PENENTUAN LAHIRNYA HAK ATAS TANAH DAN

C. Hibah Wasiat sebagai Objek Bea Perolehan Hak atas Tanah

Hibah Wasiat merupakan salah satu objek Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan. Sebelum tahun 2008, Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan merupakan pajak Pusat yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 tentang Bea perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. Pada saat itu Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan terhadap Hibah wasiat diatur khusus dalam satu Undang-Undang dan memiliki Peraturan Pelaksana yaitu Peraturan Pemerintah Nomor Nomor 111 Tahun 2000.

Terdapat beberapa perubahan berkaitan dengan pengenaan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Banguan terhadap Hibah wasiat sebelum dangan pasca pemberlakuan Undang –Undang Nomor 28 Tahun 2009 , antara lain :

a. Lembaga Pemungut Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.

Saat menjadi Pajak Pusat, Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan terhadap Hibah Wasiat dipungut melalui Direktorat Jenderal Pajak. Hal tersebut berbeda bila saat ini lembaga pemungut adalah daerah melalui Dinas Pendapatan Daerah masing-masing Kabupaten/Kota.

b. Tarif Bea Perolehan Hak Tanah dan Bangunan.

Tarif bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan untuk Hibah Wasiat adalah 5 % (lima persen) dan saat ini tarif menjadi paling tinggi 5 % (lima BPHTB = Nilai Perolehan Obyek Pajak Kena Pajak x Tarif Pajak

= NPOPKP x 5 %

= (NPOP – NPOPTKP) x 5 %

persen). Perbedaan tarif tersebut membuat tarif pajak untuk Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan menjadi lebih fleksibel karena dapat berubah sesuai dengan priode tertentu sesuai dengan kebijakan yang diambil oleh Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota bersangkutan. Akan tetapi hal tersebut juga dapat menimbulkan kesenjangan antara satu daerah dengan daerah yang lain karena dapat saja satu daerah menerapkan tarif maksimal, tarif minimal atau tarif progresif dengan interval 0 % sampai dengan 5 % (batasan Undang-Undang memberikan batasan maksimal 5 %).

c. Pengurangan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan.

Pengenaan Bea Perolehan Hak Atas Tanah yang seharusnya terutang untuk hibah wasiat sebelumnya ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 111 Tahun 2000 adalah 50 % dari Bea Perolehan Hak Atas Tanah yang seharusnya terhutang. Dapat terjadi perbedaan penerapan besarnya persentase di masing-masing daerah Kabupaten/Kota bahkan dapat saja pengurangan tersebut tidak ada diberlakukan di daerah tertentu , mengingat dalam Pasal 180 ayat 6 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tetang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah bahwa Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 yang diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2000 tetang Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan pada tanggal 1 Januari 2011 tidak berlaku lagi, sehingga segala Peraturan pelaksana Undang-Undang tersebut juga tidak berlaku. Konsekuensi dari tidak diberlakukannya lagi pengurangan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang seharusnya terhutang maka besarnya Bea Perolehan Hak Atas Tanah yang seharusnya terhutang menjadi besar. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tidak mengatur besaran

pengurangan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan terhadap hibah wasiat melainkan mengamanatkan kepada daerah untuk mengatur mengenai pengurangan terhadap Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan melalui Pasal 95 ayat (4) huruf a bahwa Peraturan Daerah tentang Pajak dapat juga mengatur ketentuan mengenai pemberian pengurangan, keringanan, dan pembebasan dalam hal-hal tertentu atas pokok pajak dan/atau sanksinya.

d. Saat terutang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.

Pada mulanya saat terhutang Bea Perolahan Hak Atas Tanah dan Bangunan terhadap hibah wasiat adalah saat pendaftaran peralihan hak di Kantor Badan Pertanahan setempat. Kemudian saat terutang tersebut berubah menjadi pada saat tanggal dibuat dan ditanda tanganinya akta.

Berdasarkan uraian diatas dapat disederhanakan perbedaan tersebut dengan table dibawah ini.

Tabel 1. Perbandingan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2000 tentang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan terhadap Hibah Wasiat.

Dirjen Pajak Dinas Pendapatan Daerah

Tarif 5 % fix 1.Paling tinggi 5 %

= 50 % x BPHTB yang seharusnya terhutang

=50 % x ((NPOP – NPOPTKP) x 5 %)

=(NPOP – NPOPTKP) x 5 %

Saat terhutang Saat pendaftaran peralihan hak atas tanah Pada saat tanggal dibuat dan ditandatangani akta

Selain hal tersebut diatas terdapat juga ketentuan yang mengatur mengenai pengenaan NPOPTKP (Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak) yang digunakan dalam penetapan besarnya Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan terhadap hibah wasiat. Dalam hal perolehan hak karena waris atau hibah wasiat yang diterima orang pribadi yang masih dalam hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat ke atas atau satu derajat kebawah dengan pemberi hibah wasiat, termasuk suami/istri, Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak ditetapkan paling rendah Rp 300.000.000,- (tiga ratus juta).147Adapun yang termasuk keluarga sedarah dari pemberi hibah wasiat dalam garis keturunan lurus satu derajat keatas adalah orang tua atau garis keturunan lurus satu derajat kebawah adalah anak.

Untuk mendapatkan pemahaman yang jelas tentang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan terhadap Hibah wasiat, maka berikut ini diberikan contoh perhitungan dibawah ini :

Contoh Perhitungan 1

Seorang anak memperoleh hibah wasiat dari ayah kandungnya sebidang tanah dan bangunan diatasnya dengan nilai pasar sebesar Rp 500.000.000,- terhadap tanah dan bangunan tersebut telah di terbitkan surat pemberitahuan pajak terutang pajak bumi dan pajak bangunan pada tahun yang bersangkutan mendaftar ke kantor pertanahan setempat dengan nilai jual objek pajak sebesar Rp 450.000.000,- apabila di kabupaten/kotaletak tanah atau bangunan tersebut kepala kantor wilayah direktorat

147Pasal 87 ayat 5 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

jenderal pajak setempat menetapkan nilai perolehan objek pajak tidak kena pajak dalam hal hibah wasiat yang diterima orang pribadi yang masih dalam berhubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat keatas atau satu derajat kebawah dengan pemberi hibah wasiat,termasuk sebasar Rp 300.000.000,-, maka sebagai berikut

Nilai Perolehan Objek Pajak = Rp

500.000.000,-Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak = Rp 300.000.000,-Nilai Perolehan Objek Pajak Kena Pajak = Rp

200.000.000,-BPHTB yang seharus nya terutang = 5% x 200.000.000,- = RP 10.000.000,-Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2000

BPHTB terhutang = 50 % x BHPTB yang seharusnya terhutang

= 50 % x Rp

10.000.000,-=Rp. 5.000.000,-Contoh Perhitungan 2

Seorang saudara kandung memperoleh hibah wasiat dari adik kandungnya sebidang tanah dan bangunan diatasnya dengan nilai pasar sebesar Rp 600.000.000,- terhadap tanah dan bangunan tersebut telah diterbitkan surat pemberitahuan pajak terutang pajak bumi dan pajak bangunan pada tahun yang bersangkutan mendaftar ke kantor pertanahan setempat dengan nilai jual objek pajak sebesar Rp 500.000.000,- maka sebagai berikut :

Nilai Perolehan Objek Pajak = Rp

600.000.000,-Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak = Rp

60.000.000,-Nilai Perolehan Objek Pajak Kena Pajak = Rp BPHTB yang seharus nya terutang = 5% x Rp

540.000.000,-= Rp 27.000.000,-Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2000

BPHTB terhutang = 50 % x BHPTB yang seharusnya terhutang

= 50 % x Rp

27.000.000,-=Rp.

13.500.000,-NPOPTKP untuk contoh diatas adalah Rp 60.000.000,- dikarenakan hubungan antara saudara kandung adalah hubungan sedarah dalam garis kesamping.

Contoh Perhitungan 3 :

Suatu yayasan panti asuhan anak yatim piatu memperoleh hibah wasiat dari seeorang sebidang tanah dan bangunan diatasnya dengan nilai sebesar Rp 1.000.000.000,-terhadap tanah dan bangunan tersebut telah diterbitkan surat pemberitahuan pajak terutang pajak bumi dan bangunan. Pada tanah yang bersangkutan mendaftar pada kantor pertanahan setempat dengan nilai jual objek pajak sebesar Rp 900.000.000,-Apabila di Kabupaten/kota letak tanah dan bangunan tersebut, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak setempat menetapkan nilai perolehan objek pajak tidak kena pajak dalam hal selain waris dan hibah wasiat yang di terima orang peribadi yang masih dalam hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat ke atas atau satu derajat kebawah dengan pemberi hibah wasiat,termasuk

suami/istri sebesar Rp 60.000.000,- maka besar nya Bea Perolehan hak atas tanah dan bangunan terutang adalah sebagai berikut ;

Nilai Perolehan Objek Pajak = Rp

1.000.000.000,-Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak = Rp 60.000.000,-Nilai Perolehan Objek Pajak Kena Pajak =Rp 940.000.000,-BPHTB yang seharusnya terutang = 5% x Rp

940.000.000.-= Rp 47.000.000,-Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2000

BPHTB terhutang = 50 % x BHPTB yang seharusnya terhutang

= 50 % x Rp 47.000.000,- = Rp 23.500.000,-Contoh Perhitungan 4

Seorang suami memperoleh hibah wasiat dari istrinya sebidang tanah dan Bangunan sebidang tanah dan bangunan diatasnya dengan nilai pasar sebesar Rp 400.000.000,- terhadap tanah dan bangunan tersebut telah diterbitkan surat pemberitahuan pajak terutang pajak bumi dan pajak bangunan pada tahun yang bersangkutan mendaftar ke kantor pertanahan setempat dengan nilai jual objek pajak sebesar Rp 500.000.000.,- maka sebagai berikut

Nilai Perolehan Objek pajak = Rp

500.000.000,-Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak = Rp 300.000.000,-Nilai Perolehan Objek Pajak Kena Pajak = Rp BPHTB yang seharus nya terutang = 5% x Rp

200.000.000,-= Rp

10.000.000,-Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2000

BPHTB terhutang = 50 % x BHPTB yang seharusnya terhutang

= 50 % x Rp

10.000.000,-=Rp.

5.000.000,-Dari keempat contoh perhitungan diatas jelas bahwa hubungan antara pemberi hibah wasiat (legater) dengan penerima hibah wasiat (legataris) berpengaruh terhadap penentuan jumlah Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOPTKP). Adanya hubungan garis keturunan satu derajat ke atas atau satu derajat kebawah atau adanya hubungan perkawinan diantara legater dengan legataris maka akan semakin besar jumlah NPOPTKP yang digunakan dalam perhitungan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (contoh perhitungan 1 dan perhitungan 4).

Serta adanya pengurangan terhadap Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan yang seharusnya terhutang, lebih menguntungkan dan meringankan bagi legataris dibandingkan dengan kondisi saat ini yang tidak mengatur mengenai pengurangan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan terhadap penerima hibah wasiat.

Mengingat hibah wasiat merupakan hal yang khusus karena umumnya penerima hibah wasiat adalah perorangan yang kurang mampu dan badan hukum yang kegiatannya bukan mencari keuntungan sehingga pengenaan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan terhadap hibah wasiat sebaiknya mendapatkan pengurangan .

BAB IV

ASAS KEPASTIAN HUKUM DALAM PEGENAAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN TERHADAP HIBAH WASIAT PASCA

PEMBERLAKUAN UNDANG-UNDANG NOMOR 28 TAHUN 2009

A. Tinjauan Umum Azas Kepastian Hukum 1. Asas kepastian Hukum

Asas kepastian hukum adalah asas dalam negara hukum yang mengutamakan landasan peraturan perundang-undangan, kepatuhan, dan keadilan dalam setiap penyelengaraan negara. Asas kepastian hukum harus diterapkan dalam setiap peraturan. Tanpa adanya asas tersebut dapat dipastikan suatu peraturan akan menimbulkan masalah dikemudian hari.

Ketika sebuah Undang-Undang selesai dibuat, tidak berarti segala yang diatur dalam Undang-Undang tersebut selesai. Persoalan tidak hanya akan timbul terkait dengan implementasinya dilapangan. Persoalan akan timbul dari sisi yang lain juga, yaitu ketika ditelaah ternyata ada kaidah-kaidah hukum yang disimpangi oleh Undang-Undang yang bersangkutan.

Menurut Van der Vlies asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu asas formal dan asas materiil. Asas formal meliputi asas tujuan yang jelas, asas organ/lembaga yang tepat, asas perlunya pengaturan, asas dapat dilaksanakan, dan asas konsensus. Asas-asas Materiil meliputi asas terminologi dan sistematika yang jelas, asas dapat dikenali, asas perlakuan yang

sama dalam hukum, asas kepastian hukm, dan asas pelaksanaan hukum sesuai degan keadaan individual.148

Asas merupakan tiang utama bagi pembentukkan peraturan perundang-undangan, asas merupakan suatu hal yang dianggap oleh masyarakat hukum sebagai basic truth, sebab melalui asas hukum pertimbangan etis dan sosial masyarakat masuk kedalam hukum dan menjadi sumber menghidupi nilai-nilai etis, moral dan sosial masyarakatnya.149Asas sebagai dasar menurut Paul Scholten yang mengatakan, bahwa sebuah asas hukum (rechtsbeginsel) bukanlah sebuah aturan hukum (rechtsregel). Untuk dapat dikatakan sebagai aturan hukum sebuah hukum adalah terlalu umum sehingga ia atau bukan apa-apa atau berbicara terlalu banyak.

Penerapan asas hukum secara langsung melalui jalan subsumsi atau pengelompokkan sebagai aturan tidaklah mungkin, karena itu terlebih dahulu dibentuk isi yang lebih konkret. Dengan kata lain, asas hukum bukanlah hukum, namun hukum tidak dapat dimengerti tanpa asas-asas tersebut. Scholten mengemukan lebih lanjut adalah tugas ilmu pengetahuan hukum untuk menelusui dan mencari asas hukum itu dalam hukum positif.150

Menurut Sudikno Mertokusumo bahwa asas hukum (rechtsbeginsel) bukan merupakan suatu hukum konkret melainkan pikiran dasar yang umum dan abstrak atau merupakan latar belakang setiap sistem hukum yang terjelma dalam peraturan

148Yuliandri, Asas-asas pembentukan Paeraturan Perundang-undangan yang baik, Gagasan Pembentukan Undang-Undang berkelanjutan, (Jakarta:PT.Raja Grapindo Persada,2009), hal.113.

149 Tim Lab. Fakultas Hukum, Praktek ilmu perundang-undangan (Malang:UMM Press, 2006) , hal.13

150Soimin, Pembentukkan peraturan perundang-undangan negara di Indonesia, (Yogyakarta :UII Pres, 2010), hal.30.

perundang-undangan yang merupakan hukum positif.151 Asas hukum dapat ditemukan dalam hukum positif, sebab asas hukum itu hanya berlaku dalam hukum posisitf.152

Asas kepastian hukum menurut Fuller ada delapan asas yang harus dipenuhi oleh hukum yang apabila tidak terpenuhi gagallah hukum disebut sebagai hukum, delapan asas tersebut adalah sebagai berikut :153

a. Suatu sistem hukum yang terdiri dari peraturan-peraturan, tidak berdasarkan putusan-putusan sesaat untuk hal-hal tertentu;

b. Peraturan tersebut diumumkan kepada publik c. Tidak surut karena akan merusak integritas sistem.

d. Dibuat dalam rumusan yang dimengerti oleh umum e. Tidak boleh ada peraturan yang saling bertentangan

f. Tidak boleh menuntun suatu tindakan yang melebihi apa yang bisa dilakukan.

g. Tidak boleh sering berubah-ubah.

h. Harus ada kesesuaian antara peraturan dan pelaksanaan sehari-hari.

Kepastian hukum yang sesungguhnya memang harus lebih berdimensi yuridis oleh karena itu kepastian hukum sebagai kemungkinan bahwa dalam situasi tertentu mensyaratkan sebagai berikut :154

a) Tersedia aturan-aturan hukum yang jelas dan jernih, konsisten dan mudah diperoleh (accessible) yang diterbitkan oleh kekuasaan negara.

b) Bahwa instansi-instansi negara (pemerintah) menerapkan aturan-aturan hukum tersebut secara konsisten dan juga tunduk dan taat kepadanya;

c) Bahwa mayoritas warga pada prinsipnya menyetujui muatan isi dan karena itu menyesuaikan perilaku mereka terhadap aturan-aturan tersebut

151Amiroeddin Sjarif, Perundang-undangan dasar, jenis, dan teknik membuatnya, (Jakarta.:Rineka Cipta, 1997), hal..31.

152Sudikno Mertokusumo, Penemuan Hukum,cet 1 (Yogyakarta: Liberty, 2009)

153Rini Sulistiyaningsih, Penerapan asas kepastian hukum dalam pemungutan bea perolehan hak atas tanah dan bangunan di kabupaten Boyolali,(Tesis Magister Kenotariatan, Universitas Gadjah Mada, 2013) hal 11

154Ibid.

d) Bahwa hakim-hakim (peradilan) yang mandiri dan tidak berpihak menerapkan atura-aturan hukum tersebut secara konsiten sewaktu mereka menyelesaikan sengketa hukum dan

e) Bahwa keputusan pengadilan secara konkrit harus dilaksanakan.

Syarat tersebut diatas menunjukkan kepastian hukum hanya dapat dicapai jika substansi hukumnya betul-betul sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian aturan hukum yang mampu mencerminkan kepastian hukum adalah hukum yang lahir dan mencerminkan budaya masyarakat, sehingga memiliki rasa keadilan dan tentu saja bermanfaat seperti hanya peraturan daerah.155

Kepastian hukum secara normatif adalah suatu peraturan dibuat dan diundangkan secara pasti karena mengatur secara jelas dan logis. Jelas dalam arti tidak menimbulkan keragu-raguan (multi tafsir) dan logis dalam arti menjadi suatu sistem norma dengan norma lain sehingga tidak berbenturan atau menimbulkan konflik norma. Kepastian hukum dapat dicapai apabila setiap peraturan perundang-undangan dapat menjamin perlindungan hak warga negara dan wajib pajak.

Perlindungan tersebut dapat diwujudkan dengan peraturan perundang-undangan yang mengatur ketentuan perpajakan .156

2. Asas Kepastian hukum dalam perpajakan

Kepastian hukum dalam hukum perdata lain dari kepastian hukum dalam hukum publik. Hukum perdata memberi peluang kepada para pihak untuk mengatur sendiri hubungan antara mereka sehingga mereka sendiri wajib mengusahakan kepastian hukum diantara mereka. Lain halnya dengan hukum publik cq. Hukum

155Ibid.

156Erly Suandy, Hukum Pajak, (Jakarta:Salemba Empat, 2005), hal.27

pajak yang merupakan wajib dipatuhi oleh umum atau semua orang, sehingga ketentuan Undang-Undang harus jelas dan tegas dan tidak memberikan peluang kepada siapapun untuk memberikan penafsiran lain dari kehendak pembuat Undang-Undang (pemerintah).157

Menurut Rochmat Soemitro, untuk memberikan kepastian hukum dalam pajak perlu diperhatikan beberapa faktor yaitu :158

a. Materi obyek

Mengenai materi/obyek harus diuraikan secara jelas dan tegas, yang tidak menimbulkan keragu-raguan dan tidak memberikan kesempatan kepada pihak manapun untuk memberikan interpretasi lain. Penggunaan bahasa dan cara menguraikan mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kejelasan dan kepastian, juga pengunaan istilah juga sudah baku mempertinggi kejelasan dan kepastian hukum.

b. Subjek yang tersangkut, tempat dan waktu.

Subjek yang tersangkut diuraikan secara tegas dengan menyebutkan kualifikasinya, sifat, tempat, ciri-ciri dan waktu. Subyek dan obyek harus didefenisikan sedemikian rupa sehingga tidak mungkin di interpretasikan lain, sebab kalau masih ditafsirkan lain maka akan terjadi bahwa subjek atau objek yang tercakup dalam defenisi mungkin dimasukkan didalamnya. Hal ini akan berakibat bahwa hal-hal yang semula tidak akan dikenakan pajak, menjadi hal yang dikenakan pajak.

c. Pendefenisian.

Pendefinisian sesuatu dapat dilakukan secara jelas bila didalamnya tercakup unsur-unsur dan ciri-ciri dari hal yang akan didefenisikan. Ada pendefenisian secara luas dan ada pendefeisian secara sempit. Keduanya masing-masing mempunyai konsekuensi sendiri-sendiri. Pendefenisian secara sempit, lebih memberikan kepastian hukum karena pendefenisian secara sempit menggunakan cara yang limitatif, hanya yang disebut saja yang termasuk dalam ruang lingkup peraturan perundang-undangan. Yang tidak disebutkan secara positif, tidak tercakup oleh Undang-Undang.

d. Penyempitan/perluasan.

Penyempitan dan perluasan materi yang menjadi sasaran pajak harus dilakukan dalam Undang-Undangnya sendiri. Hal itu untuk kepentingan kepastian hukum.

157 Rochmat Soemitro, Asas-asas Hukum Perpajakan, (Jakarta: Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemet Kehakiman, 1991), hal. 16

158Rochmat Soemitro, Pajak ditinjau dari segi hukum, (Bandung:PT.Eresco,1991), hal.6-13.

Penyempitan atau perluasan materi sama sekali tidak dibenarkan jika dilakukan dengan peraturan yang lebih rendah dari Undang-Undang atau dilakukan dalam memori penjelasan.

e. Ruang lingkup.

Daya mengikat dari suatu ketentuan Undang-Undang tidak saja ditentukan oleh materinya, tetapi juga oleh tempat dan waktu. Pada umumnya Undang-Undang negara berlaku untuk seluruh wilayah negara, tetapi ada kalanya suatu ketentuan Undang-Undang hanya berlaku untuk sebagian dari wilayah negara.

f. Penggunaan bahasa hukum dan penggunaan istilah yang baku.

Kepastian hukum sangat ditentukan oleh penggunaan bahasa hukum dan penggunaan istilah yang dibakukan. Bahasa hukum adalah bahasa Indonesia yang mempunyai sifat yang khas, karena bahasa hukum merupakan bahasa Indonesia maka harus tunduk juga kepada norma bahasa Indonesia. Bahasa hukum harus singkat, tegas, jelas tanpa mengandung keragu-raguan dan tanpa mengandung arti ganda.

Asas kepastian hukum dalam perpajakan terdapat dalam asas-asas yang melandasi pemungutan pajak. Adam Smith (1723-1790) dalam buku An Inquiri into the Nature and causes of the wealth of Nations menyatakan pemungutan pajak didasarkan pada empat asas atau yang dikenal the four maxim yaitu :159

a. Equality (asas keseimbangan dengan kemampuan).

Prinsip keadilan menekankan pada pemungutan pajak harus bersifat adil dan merata. Beban pajak harus disesuaikan dengan kemampuan dan penghasilan wajib pajak. Pengenaan pajak kepada orang pribadi yang harus sebanding dengan kemampuan membayar pajak (ability to pay) dan sesuai dengan manfaat yang diterima. Jumlah nominal pajak yang dikenakan dan harus dibayar oleh golongan masyarakat yang berpenghassilan rendah harus lebih kecil dari golongan masyarakat yang berpenghasilan lebih tinggi. Negara tidak boleh bertindak

159 Imam Soebechi, Judicial Review, Perda Pajak dan Retribusi Daerah, (Jakarta:Sinar Grafika,2011), hal.114-116

diskriminatif terhadap wajib pajak. Dalam prinsip keadilan ini, pajak diharapkan dapat menjadi alat distribusi pendapatan secara lebih fair dan mengurangi kesenjangan pendapatan.

b. Certainty.

Pungutan pajak terhadap masyarakat wajib pajak harus berdasarkan peraturan perundang-undangan. Prinsip kepastian bertujuan untuk menghindari kesewenang-wenangan dalam penetapan pajak. Prinsip kepastian dimaksudkan agar pada pelaksanaan pemungutan pajak tidak terjadi distorsi berupa kesalahan yang disengaja (penyelewengan) atau yang tidak disengaja akibat kekurangan pahaman. Pajak yang harus dibayar oleh seseorang harus terang (certain) dan tidak mengenal kompromi (not arbirary). Kepastian hukum yang penting diperhatikan adalah mengenai subjek pajak, besarnya pajak, dan ketentuan mengenai waktu pembayaran.

c. Convenience (asas pemungutan pajak yang tepat waktu atau asas kesenangan).

Pembayaran pajak yang dikenakan kepada wajib pajak harus disesuaikan dengan saat-saat yang tidak menyulitkan misalnya saat wajib pajak memperoleh penghasilan. Sistem pemungutan demikian dikenal dengan pay as you can.

Teknik pemungutan pajak demikian juga dikenal dengan convenience of payment. Prinsip kenyamanan mengarisbawahi pentingnya menciptakan kondisi yang menyenangkan bagi wajib pajak agar dengan sukarela bersedia memenuhi kewajiban-kewajibannya. Dengan kata lain sebisa mungkin dihindarkan adanya unsur-unsur menekan atau kekerasan. Kenyamanan wajib pajak dapat diberikan

dengan bentuk layanan prima. Prosedur pembayaran pajak atau menjadi wajib pajak harus dibuat semudah mungkin.

d. Effeciency.

Dalam sistem perpajakan, aspek penting yang perlu diperhatikan adalah biaya pemungutan diharapkan seminim mungkin. Prinsip ekonomi menegaskan pentingnya perbandingan antara biaya dengan hasil yang esfisien. Upaya-upaya penarikan pajak harus disertai dengan kegiatan yang meminimalkan biaya pemungutan atau biaya-biaya lain yang dapat mengurangi penerimaan bersih negara. Biaya pemungutan juga tidak layak dibebankan kepada wajib pajak.

Dalam sistem perpajakan, aspek penting yang perlu diperhatikan adalah biaya pemungutan diharapkan seminim mungkin. Prinsip ekonomi menegaskan pentingnya perbandingan antara biaya dengan hasil yang esfisien. Upaya-upaya penarikan pajak harus disertai dengan kegiatan yang meminimalkan biaya pemungutan atau biaya-biaya lain yang dapat mengurangi penerimaan bersih negara. Biaya pemungutan juga tidak layak dibebankan kepada wajib pajak.

Dalam dokumen HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN (Halaman 123-0)