• Tidak ada hasil yang ditemukan

HIDROKINON a. Rumus struktur

Dalam dokumen Kimia Kosmetik Buku Baru (Halaman 74-92)

C. UJI PEMAHAMAN

21. HIDROKINON a. Rumus struktur

b. Rumus molekul : C6H6O2 c. Berat molekul : 110,11

d. Sifat fisika : berbentuk jarum halus, putih, mudah menjadi gelap jika terpapar cahaya dan udara. Kelarutan : mudah larut dalam air, dalam etanol, dan dalam eter. Hidrokinon mempunyai sifat depigmentasi kulit. Hidrokinon sebelumnya digunakan dalam krim dengan kadar tidak lebih dari 2 persen (Mustofa, 1982).

e. Efek Samping

Efek samping hidrokinon dapat menimbulkan dermatitis kontak dalam bentuk bercak warna putih pada wajah atau sebaliknya. Menimbulkan reaksi hiperpigmentasi. Gejala awal dapat berupa iritasi kulit ringan, panas, merah, gatal, atau hitam pada wajah akibat kerusakan sel melanosit (Wassitaatmadja, 1997).

f. Metode Pengujian

Pengujian Hidrokinon dapat dilakukan dengan metode kromatografi Lapis Tipis dan Metode Spektrofotometri Ultraviolet (Hidrokinon dapat diidentifikasi dengan mengukur serapan pada panjang gelombang 295 nm )

Beberapa bahan tersebut merupakan bahan yang berbahaya dan dilarang penggunaannya. Menurut BPOM RI bahan-bahan yang berbahaya pada kosmetik antara lain merkuri, hidrokuinon, AHA, Asam retinoat. Berdasarkan hasil analisis beberapa produk kosmetik di pasaran diketahui kadar merkuri pada krem yang beredar di kota Surabaya yang diperoleh dari klinik ternama dan cukup laris meskipun harga krem tergolong tinggi ternyata mengandung Merkuri sangat tinggi yaitu : Untuk masing-masing jenis krem berikut DM, DP, PM, PP, SM dan SP berturut-turut adalah ; 0,02, 0,23, 0,06, 0,05, 0,01 %(b/b) dan 0 (Taufikurohmah, 2012). Meskipun dalam kadar yang tidak terlalu tinggi merkuri tetap merupakan bahan berbahaya jika digunakan dalam kosmetik.

B. UJI PEMAHAMAN

1. Berdasarkan struktur molekulnya tentukan kepolaran dari bahan-bahan kosmetik tersebut ! 2. Jelaskan seberapa penting kita memahami karakteristik kimia bahan pembuatan kosmetik ! 3. Jelaskan dengan fenomena mengapa masih

ada kosmetik yang beredar menggunakan bahan terlarang !

4. Berdasarkan karakteristik bahan-bahan tersebut jelaskan mana yang termasuk polimer dan non polimer !

Berfikir positif dan optimis terlihat seperti kalimat puisi yang sepele, tapi sadarilah ini sangat penting dalam peran anda mengambil keputusan yang akan menenuntukan kesuksesan atau kehancuran.

BAB VI E M U L S I

Proses pembuatan kosmetik sangat banyak melibatkan sistem emulsi. Pencampuran antara bahan-bahan yang bersifat polar dan nonpolar membentuk sistem emulsi membutuhkan emulgator yang menyebabkan kedua  jenis bahan dapat bercampur. Dengan demikian sangat penting memahami

konsep emulsi dalam mempelajari kosmetik.  A. Pengert ian Emu ls i

Emulsi adalah sistem dua fase, yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan yang lain, dalam bentuk tetesan kecil. Jika minyak yang merupakan fase terdispersi dan larutan air merupakan fase pembawa, sistem ini disebut emulsi minyak dalam air. Sebaliknya, jika air atau larutan air yang merupakan fase terdispersi dan minyak atau bahan seperti minyak sebagai fase pembawa, sistem ini disebut emulsi air dalam minyak. Emulsi dapat distabilkan dengan penambahan bahan pengemulsi yang mencegah koalesensi, yaitu penyatuan tetesan kecil menjadi tetesan besar dan akhirnya menjadi suatu fase tunggal yang memisah. Emulsi merupakan preparat farmasi yang terdiri 2 atau lebih zat cair yang sebetulnya tidak dapat bercampur ( immicible) biasanya air dengan minyak lemak. Salah satu dari zat cair tersebut tersebar berbentuk butiran-butiran kecil kedalam zat cair yang lain distabilkan dengan zat pengemulsi (emulgator/emulsifiying/surfactan).

Komponen utama emulsi berupa fase disper (zat cair yang terbagi-bagi menjadi butiran kecil kedalam zat cair lain (fase internal). Fase kontinyu (zat cair yang berfungsi sebagai bahan dasar (pendukung) dari emulsi tersebut (fase eksternal) dan Emulgator (zat yang digunakan dalam kestabilan emulsi). Tujuan pemakaian emulsi antara lain secara umum untuk mempersiapkan obat yang larut dalam air maupun minyak dalam satu campuran, yaitu emulsi dalam pemakaian dalam (peroral) umumnya tipe O/W serta emulsi untuk pemakaian luar dapat berbentuk O/W maupun W/O. Umumnya untuk membuat suatu emulsi yang stabil, perlu fase ketiga atau bagian dari emulsi, yakni: zat pengemulsi (emulsifying egent). Tergantung pada konstituennya, viskositas emulsi dapat sangat bervariasi dan emulsi farmasi bisa disiapkan sebagai cairan atau semisolid (setengah padat).

Dalam formula pembuatan emulsi terdapat dua zat yang tidak bercampur yang mempunyai fase minyak dalam air atau air dalam minyak, biasanya yang stabilitasnya dipertahankan dengan emulgator atau zat pengelmusi. Zat pengemulsi (emulgator) adalah komponen yang ditambahkan untuk mereduksi bergabungnya tetesan dispersi dalam fase kontinue sampai batas yang tidak nyata. Bahan pengemulsi (surfaktan) menstabilkan dengan cara menempati antar permukaan antar tetesan dalam fase eksternal, dan dengan membuat batas fisik disekeliling partikel yang akan berkoalesensi, juga mengurangi tegangan antarmuka antar fase, sehingga meningkatkan proses emulsifikasi selama pencampuran. Penggunaan emulgator biasanya diperlukan 5% – 20% dari berat fase minyak. Zat pengemulsi adalah PGA, tragakan, gelatin, sapo dan lain-lain. Emulsi dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu emulsi vera (emulsi alam) dan emulsi spuria (emulsi buatan). Emulsi vera dibuat dari biji atau buah, dimana terdapat disamping minyak lemak juga emulgator yang biasanya merupakan zat seperti putih.

Konsistensi emulsi sangat beragam, mulai dari cairan yang mudah dituang hingga krim setengah padat. Umumnya krim minyak dalam air dibuat pada suhu tinggi, berbentuk cair pada suhu ini, kemudian didinginkan pada suhu kamar, dan menjadi padat akibat terjadinya solidifikasi fase internal. Dalam hal ini, tidak diperlukan perbandingan volume fase internal terhadap volume fase eksternal yang tinggi untuk menghasilkan sifat setengah padat, misalnya krim stearat atau krim pembersih adalah setengah padat dengan fase internal hanya hanya 15%. Sifat setengah padat emulsi air dalam minyak, biasanya diakibatkan oleh fase eksternal setengah padat.

Polimer hidrofilik alam, semisintetik dan sintetik dapat digunakan bersama surfaktan pada emulsi minyak dalam air karena akan terakumulasi pada antar permukaan dan juga meningkatkan kekentalan fase air, sehingga mengurangi kecepatan pembentukan agregat tetesan. Agregasi biasanya diikuti dengan pemisahan emulsi yang relatif cepat menjadi fase yang kaya akan butiran dan yang miskin akan tetesan. Secara normal kerapatan minyak lebih rendah daripada kerapatan air, sehingga jika tetesan minyak dan agregat tetesan meningkat, terbentuk krim. Makin besar agregasi, makin besar ukuran tetesan dan makin besar pula kecepatan pembentukan krim.

Semua emulsi memerlukan bahan anti mikroba karena fase air mempermudah pertumbuhan mikroorganisme. Adanya pengawetan sangat penting untuk emulsi minyak dalam air karena kontaminasi fase eksternal mudah terjadi. Karena jamur dan ragi lebih sering ditemukan daripada bakteri, lebih diperlukan yang bersifat fungistatik atau bakteriostatik. Bakteri ternyata dapat menguraikan bahan pengemulsi ionik dan nonionik, gliserin dan sejumlah bahan pengemulsi alam seperti tragakan dan gom.

B. Teori emulsifikasi

Teori terjadinya emulsi terdapat 4 metode yang dapat dilihat dari sudut pandang yang berbeda

1. Teori tegangan permukaan (Teori Surface Tension)

Daya tarik menarik molekul (Kohesi (sejenis) dan Adesi (berlainan jenis)). Daya kohesi tiap zat selalu sama, sehingga pada permukaan suatu zat cair (bidang batas antara air dan udara) akan terjadi perbedaan tegangan karena tidak adanya keseimbangan gaya kohesi (tegangan permukaan/surface tension). Semakin tinggi perbedaan tegangan yang terjadi pada bidang batas mengakibatkan antara kedua zat cair itu semakin susah untuk bercampur. Tegangan pada air bertambah dengan penambahan garam-garam anorganik atau senyawa elektrolit, tetapi berkurang dengan penambahan senyawa organik tertentu seperti sabun.

2. Teori Oriented Wedengane

Teori ini menjellaskan fenomena terbentuknya emulsi berdasarkan adanya kelarutan selektif dari berbagai molekul emulgator. Emulgator terbagi 2, yaitu hidrofilik adalah bagian emulgator yg suka pada air dan Lipofilik adalah bagian emulgator yg suka pada minyak. Emulgator dapat dikatakan pengikat antara air dan minyak yang membentuk suatu keseimbangan ( Hydrophilic / Lipophilic Balance  = HLB) antara kelompok hidrofil & lipofil. Makin besar HLB makin hidrofil (emulgator mudah larut dalam air & sebaliknya).

3. Teori Interpelasi film

Emulgator akan diserap pada batas antara air dan minyak, sehingga terbentuk lapisan film yang akan membungkus partikel fase dispersi menyebabkan partikel sejenis yang akan tegabung akan terhalang. Untuk memberikan stabilitas maksimum, emulgator (a) Dapat membentuk lapisan film

yang kuat tapi lunak (b) Jumlahnya cukup untuk menutupi semua partikel fase disperse, (c) Dapat membentuk lapisan flm dengan cepat dan dapat menutup semua permukaan partikel dengan segera.

4. Teori Electric Double Layer  (lapisan listrik rangkap).

Terjadinya emulsi karena adanya susunan listrik yang menyelubungi partikel sehingga terjadi tolak-menolak antara partikel sejenis. Terjadinya muatan listrik disebabkan oleh salah satu dari ketiga cara berikut:

a. Terjadinya ionisasi dari molekul pada permukaan partikel b. Terjadinya absorpsi ion oleh partikel dari cairan sekitarnya c. Terjadinya gesekan partikel dengan cairan sekitarnya. C. Tipe-tipe emulsi

1. Tipe Emulsi

Pada umumnya dikenal dua tipe emulsi yaitu : a. Tipe A/M (Air/Minyak) atau W/O (Water/Oil)

Emulsi ini mengandung air yang merupakan fase internalnya dan minyak merupakan fase luarnya. Emulsi tipe A/M umumnya mengandung kadar air yang kurang dari 10 – 25% dan mengandung sebagian besar fase minyak. Emulsi jenis ini dapat diencerkan atau bercampur dengan minyak, akan tetapi sangat sulit bercampur/dicuci dengan air.

Pada fase ini bersifat non polar maka molekul–molekul emulsifier tersebut akan teradsorbsi lebih kuat oleh minyak dibandingkan oleh air.  Akibatnya tegangan permukaan minyak menjadi lebih rendah sehingga

mudah menyebar menjadi fase kontinu.

b. Tipe M/A (Minyak/Air) atau O/W (Oil/Water )

Merupakan suatu jenis emulsi yang fase terdispersinya berupa minyak yang terdistribusi dalam bentuk butiran-butiran kecil didalam fase kontinyu yang berupa air. Emulsi tipe ini umumnya mengandung kadar air yang lebih dari 31-41% sehingga emulsi M/A dapat diencerkan atau bercampur dengan air dan sangat mudah dicuci.

Pada fase ini bersifat polar maka molekul–molekul emulsifier tersebut akan teradsorbsi lebih kuat oleh air dibandingkan minyak.

 Akibatnya tegangan permukaan air menjadi lebih rendah sehingga mudah menyebar menjadi fase kontinyu.

2. Cara membedakan tipe emulsi

a. Dengan Pengenceran, Tipe O/W dapat diencerkan dengan air, Tipe W/O dapat diencerkan dengan minyak.

b. Cara Pengecatan, Tipe O/W dapat diwarnai dengan amaranth/metilen blue, Tipe W/O dapat diwarnai dengan sudan III.

c. Cara creaming test, creaming merupakan peristiwa memisahkan emulsi karena fase internal dari emulsi tersebut melakukan pemisahan sehingga tdk tersebar dalam emulsimis : air susu setelah dipanaskan akan terlihat lapisan yang tebal pada permukaan. Pemisahan dengan cara creaming bersifat refersibel.

d. Konduktifitas, dimana elektroda dicelup didalam cairan emulsi, bila ion menyala tipe emulsi O/W demikian sebaliknya.

D. Macam-macam emulgato r

 Ada beberapa faktor yang menentukan bentuk sediaan emulsi yaitu pemilihan emulgator, sifat fisika kimia dari komponen fase minyak, volume tiap fase, dan ukuran droplet. Tipe-tipe emulgator yang dapat digunakan yaitu

1. Emulgator anionik.

Emulgator anionik yang diduga pertama kali digunakan adalah sabun. Sabun mempunyai sisi hidrofilik yang bermuatan dan sisi hidrofobik yang merupakan lemak. Kelemahan dari sabun adalah masalah pH dan mudah dipengaruhi oleh garam logam berat. Emulgator anionik yang lebih canggih yaitu minyak kelapa yang dimodifikasi. Minyak kelapa yang dimodifikasi tersebut membentuk basis dari emulgator anionik sulfat dan eter sulfat. Selain itu substitusi eter pada rantai lemak akan mengurangi sifat hidrofobik rantai lemak sehingga menghasilkan sistem emulsi yang kurang menempel pada kulit.

2. Emulgator nonionik

Emulgator nonionik bisa digunakan sebagi pelembab. Emulgator ini tidak mempunyai muatan. Rantai karbon tak jenuh mudah disubstitusi oleh etilen oksida. Proses etoksilasi yang berbeda dapat menghasilkan sifat

amfifatik yang berbeda. Apabila rantai panjang rantai karbon dan cabang rantai berbeda maka akan dihasilkan molekul yang berbeda yang dapat digunakan dalam pembuatan produk perawatan kulit.

3. Emulgator kationik

Emulgator kationik digunakan dalam formulasi produk perawatan kulit. Sebagian besar emulgator kationik dikenal memiliki aktivitas antimikroba. Emulgator tipe ini tidak stabil pada pH tinggi dan konsentrasi ion negatif yang tinggi. Permukaan kulit memiliki muatan negatif sehingga emulgator kationik akan terikat pada kulit.

4. Emulgator polimerik

Emulgator polimerik biasa digunakan sebagai pelembab. Contoh emulgator tipe ini adalah silikon atau asam poliarilik. Polimer ini akan terdistribusi sepanjang permukaan air dan minyak. Sisi polifilik akan berikatan dengan fase minyak dan sisi hidrofilik akan berikatan dengan fase air.

E. Pemil ihan emulgato r

Sistem Hydrophilic / Lipophilic Balance  (HLB) dikenalkan secara sederhana sekitar 50 tahun yang lalu. Nilai HLB menunjukkan keseimbangan antara ukuran dan kekuatan gugus hidrofilik (polar) dengan gugus lipofilik (non polar) dari emulgator.

Semakin polar suatu molekul maka emulgator akan semakin mudah masuk ke fase air dari emulsi tersebut. Sebaliknya semakin non polar bagian yang lain, maka emulgator akan semakin menjadi bagian dari fase minyak. Polaritas relatif tidak hanya akan mempengaruhi posisi akhir emulgator di permukaan tetapi juga mempengaruhi stabilitas dan fluiditas emulsi tersebut.

Sistem HLB menggunakan skala 1-20. Kombinasi emulgator dengan nilai HLB yang berbeda (misal HLB 5 dan HLB 15) dengan propor si yang sama akan menghasilkan sistem HLB rata-rata (HLB 10). Sistem HLB ini dapat digunakan untuk menentukan emulgator yang tepat.

Faktor-faktor yang mempengaruhi HLB meliputi faktor kimia, stereokimia, kemurnian tiap emulgator, dan kemampuan untuk bercampur terhadap minyak dan air. Faktor-faktor ini bermanfaat dalam perhitungan HLB. Selain itu bermanfaat untuk menentukan apakah emulsi itu termasuk sistem w/o atau o/w.

Emulgator nonionik paling banyak dipilih karena sistem HLB-nya lebih seimbang daripada emulgator anionik dan kationik. Emulgator anionik lebih tepat digunakan untuk produk-produk leave-on. Campuran emulgator nonionik dan anionik berguna sebagai awal pembuatan emulsi dengan memadukan keuntungan dari kedua tipe emulgator. Emulgator nonionik memiliki keuntungan yaitu lebih stabil pada perubahan pH, sedikit terpengaruh oleh konsentrasi garam, dan lebih mudah dikombinasikan sebagai campuran emulgator.

Campuran emulgator dapat dibuat dengan menggunakan panjang rantai karbon yang sama dan derajat etoksilasi yang berbeda. Meskipun campuran emulgator memiliki HLB yang ekivalen dengan emulgator tunggal pada panjang rantai yang serupa, namun akan menghasilkan emulsi dengan kualitas yang lebih baik.

F. Sifat-sifat fisik emulsi 1. Penampakan

Penampakan emulsi ini pada dasarnya dipengaruhi oleh ukuran pertikel emulsi dan perbedaan indeks bias antara fase terdispersi dan medium terdispersi. Pada prinsipnya emulsi yang tampak jernih hanya mungkin terbentuk bila indeks bias kedua fasenya sama atau ukuran partikel terdispersinya lebih kecil dari panjang gelombang cahaya sehingga terjadi refraksi.

2. Viskositas

Faktor – faktor yang mempengaruhi viskositas suatu emulsi adalah viskositas medium dispersi, persentase volume medium dispersi, ukuran partikel fase terdispersi dan jenis serta konsentrasi emulsifier/stabilizer yang digunakan. Semakin tinggi viskositas dan persentase medium disperse, maka makin tinggi viskositas emulsi. Demikian juga semakin kecil ukuran partiker suatu emulsi, maka semakin tinggi viskositasnya dan makin tinggi konsentrasi emulsifier/stabilizer yang digunakan.

3. Dispersibilitas dan Daya Emulsi

Dispersibilitas atau daya larut suatu emulsi ditentukan oleh medium dispersinya. Bila medium dispersinya air, maka emulsinya dapat diencerkan dengan air, sebaliknya bila medium dispersinya lemak, maka emulsinya dapat dilarutkan dengan minyak.

4. Ukuran Partikel Emulsi

Ukuran partikel emulsi tergantung pada peralatan mekanis dan total energy yang diperlukan pada waktu pembuatannya, perbedaan vikositas antara fase terdispersi dan medium dispersi, tipe dan konsentrasi emulsifier yang digunakan serta lama penyimpanan.

G. Cara Pembu atan Emuls i 1. Metode gom basah

Cara ini dilakukan bila zat pengemulsi yang akan dipakai berupa cairan atau harus dilarutkan terlebih dahulu dalam air seperti kuning telur dan metilselulosa. Metode ini dibuat dengan terlebih dahulu dibuat mucilago yang kental dengan sedikit air lalu ditambah minyak sedikit demi sedikit dengan pengadukan yang kuat, kemudian ditambahkan sisa air dan minyak secara bergantian sambil diaduk sampai volume yang diinginkan.

2. Metode gom kering

Teknik ini merupakan suatu metode kontinental pada pemakaian zat pengemulsi berupa gom kering. Cara ini diawali dengan membuat korpus emulsi dengan mencampur 4 bagian minyak, 2 bagian air dan 1 bagian gom, lalu digerus sampai terbentuk suatu korpus emulsi, kemudian ditambahkan sisa bahan yang lain sedikit demi sedikit sambil diaduk sampai terbentuknya suatu emulsi yang baik.

3. Metode botol atau metode botol forbes

Digunakan untuk minyak menguap dan zat-zat yang bersifat minyak dan mempunyai viskositas rendah (kurang kental). Serbuk gom dimasukkan kedalam botol kering, ditambahkan 2 bagian air, botol ditutup, kemudian campuran tersebut dikocok dengan kuat. Tambahkan sedikit demi sedikit sambil dikocok.

H. Stabilit as emulsi

1. Stabilitas sistem emulsi

Stabilitas adalah keadaan yang menggambarkan bagaimana produk dapat diterima dalam penyimpanan dan penggunaan setelah proses pembuatan, pengemasan, dan penyimpanan sementara di etalase toko.

Tabel 6.1. Beberapa faktor masalah yang dapat mempengaruhi stabilitas emulsi dan cara mengatasinya

Masalah Penyebab Cara Mengatasi

Koalesensi dari droplet fase terdispersi

Kemungkinan droplet tidak stabil pada

antarmuka minyak-air Gerak Brown

Meningkatkan tegangan antarmuka dengan memilih campuran

emulgator yang lebih stabil

Mengubah volume relatif tiap fase Mengentalkan fase kontinyu

Flokulasi dari droplet fase terdistribusi

Droplet berikatan secara van der waals sehingga

menghasilkan droplet yang lebih besar.

Mengubah muatan permukaan droplet.

Mengubah volume relatif tiap fase Mengentalkan fase kontinyu

Pengendapan atau floating dari droplet fase terdispersi Perbedaan kecepatan pengendapan yang besar antara fase terdispersi dan fase kontinyu

Mengubah kecepatan pengendapan tiap fase

Mengubah viskositas fase kontinyu Memperkecil ukuran partikel fase terdispersi

Pembalikan fase

Volume relatif yang tinggi

Ketidakstabilan

antarmuka minyak-air

Mengubah volume relatif tiap fase Mengubah campuran emulgator Mengubah proses dengan

meningkatkan tekanan geser dan mengurangi ukuran partikel

Ostwald ripening

Terbentuknya droplet fase terdispersi yang besar, yang terbentuk dari gabungan droplet ukuran kecil

Ketidakstabilan

permukaan minyak-air

Mengubah sifat kelarutan dari komponen fase terdispersi untuk mencegah migrasi atau

perpindahan fase kontinyu

Masalah-masalah tersebut tidak berdiri sendiri-sendiri namun saling mempengaruhi. Sebagai contoh peningkatan viskositas dari fase kontinyu akan mengurangi efek gerak Brown dari fase terdispersi. Penggunaan bahan tambahan seperti lilin (untuk fase kontinyu yang berupa minyak) atau polimer (untuk fase kontinyu yang berupa air) akan meningkatkan kecepatan pengendapan dari fase kontinyu, mengubah tegangan antarmuka air-minyak, dan mempengaruhi sifat alir. Masalah-masalah di atas dapat diatasi dengan penggunaan co-emulsi. Contohnya adalah setil alkohol CH3(CH2)15OH di dalam sistem o/w. Bagian hidrofiliknya (alkohol) akan menempatkan diri pada bagian hidrofil dari emulgator utama. Bagian hidrofobiknya tidak akan compatible  dengan fase air tetapi akan lebih mudah bergabung dengan

bagian hidrofobik lainnya. Akibatnya beberapa bagian hidrofilik dari emulgator kedua ini akan diproyeksikan kembali ke arah fase air dan bagian hidrofobiknya akan berkumpul membentuk bilayer (dua lapis). Sebagai perluasan dari prinsip ini, sebuah jaringan dengan struktur lamela dapat membentuk matriks di seluruh fase kontinyu sehingga menghasilkan emulsi liquid kristalin.

Keuntungan struktur tersebut adalah dapat menambah stabilitas sistem dan menambah keuntungan dalam perawatan kulit karena efek long-term moisturization, serta memperbaiki estetika. Peningkatan stabilitas disebabkan oleh penggunaan polimer. Beberapa macam polimer yang digunakan pada sistem o/w adalah selulosa dan alginat. Polimer lain yang umum digunakan untuk menstabilkan emulsi adalah sistem co-polimer, polyacrylic acid (karbopol). Pada kasus yang ekstrim, dapat juga berperan sebagai emulgator tunggal dan karbopol termodifikasi dapat membuat emulsi yang “bebas emulgator”. Pada prinsipnya, penambahan material akan menambah potensial interaksi yang dapat mengakibatkan ketidakstabilan emulsi. Oleh karena itu formulator harus mengerti sifat fisika kimia bahan mentah yang digunakan sehingga menghasilkan produk yang baik, yang sesuai dengan kebutuhan konsumen. Metode untuk Mengukur Stabilitas Emulsi dapat dilihat pada tabel 6.2.

Tabel 6.2. Metode untuk Mengukur Stabilitas Emulsi

Metode Prinsip Keterangan

Mikroskopis Melihat perbedaan fase Metode ini berguna untuk uji kualitatif

Yang dapat diamati : dark field, kekontrasan fase, cahaya terpolarisasi, dan Nomarski optics Emulsi biasanya rusak selama proses

Laser particle sizer

Droplet akan berinteraksi dengan sinar laser yang proporsional dengan ukurannya

Dibutuhkan sampel yang cair

Tensiometer Mengukur tekanan yang dibutuhkan untuk menarik cincin atau piringan melalui interval antara 2 lapisan

Memberikan informasi dasar tegangan antarmuka tetapi hanya dapat dilakukan jika luas permukaan interfase-nya besar Rheometer Mengukur perubahan

sifat viskoelastis emulsi di bawah tekanan

Kondisi tekanan dan parameter interest spesifik terhadap tipe emulsi

Metode Prinsip Keterangan Turbidometer Memeriksa sifat bulk light

scattering

Stabilitas yang besar dapat diuji secara cepat dengan tes percepatan

2. Stabilit as organoleptis dan fisikoki mia

Karakteristik fisikokimia pada tabel di atas dapat membantu menentukan stabilitas. Viskositas dan penampilan mikroskopis biasanya digunakan untuk menentukan stabilitas. Perubahan viskositas yang cepat menunjukkan perubahan struktur emulsi. Peningkatan dan penurunan viskositas dapat mempengaruhi stabilitas dan pengeluaran dari pengemas. Metode mikroskopis dapat membantu memahami alasan perubahan stabilitas. Dengan metode ini, struktur emulsi dan homogenitas droplet (dalam hal ukuran dan struktur) dapat digambarkan.

Kriteria lain penilaian stabilitas difokuskan pada aspek sensory seperti bau, warna, dan viskositas. Selain itu sifat-sifat objektif seperti pH dan viskositas mudah dicatat, sedangkan test stabilitas dengan sifat-sifat sensory membutuhkan referensi sampel standar, yang biasanya disimpan di suhu kamar. Di antara faktor-faktor tersebut, pH produk adalah faktor yang paling sering dites dan perubahan pH dapat digunakan sebagai indikator

Dalam dokumen Kimia Kosmetik Buku Baru (Halaman 74-92)

Dokumen terkait