Nursyirwan dan Hidayati
HIDUIK DI RANTAU SUBARANG Cipt: Chilung Ramali
Takana hati dipasie putiah, lamunan tinggi kalangik Sasayuik mato mamandang, lautan laweh mambantang Jauah dikaki langik ndeh, dibaliak awan, dimanyo jo disayang
Tangiang juo yo ditalingo, carito nan den dangakan Hiduik dinagari urang, nan bagalimang cahayo Mangko denai marantau ndeh, tinggakan kampuang Takana, sawah jo ladang, baka di rantau urang Tingga kulik pambaluik tulang, badan kuruih rasaki malang Dapek pagi habih nyo patang
Sakik sakik sakiklah surang, Imbau imbau tido nan datang Badan sansei tingga sabatang
Malang di runduang malang, hiduik rantau subarang.
c. Pada analisis lainnya terhadap lirik lagu, dapat pula ditinjau dalam lagu lawak Minang. Banyak terjadi komunikasi yang melecehkan martabat orang tua di mana anak-anak secara gamblang berbicara seenaknya tanpa memikirkan lawan bicara mereka. Apakah mereka berbicara sesama umurnya; di atas umurnya; dengan orang-tuanya; gurunya; temannya, dan sebagainya. Harusnya sebagai pencipta lagu Minang juga memikirkan faktor-faktor apa saja yang cocok pada lagu yang boleh dikonsumsikan oleh anak-anak, dan pencipta juga memikirkan ciptaannya itu diberikan kepada siapa.
d. Situasi di dalam lagu Minang tentu semuanya tidak sama, ada yang gembira dan ada juga yang sedih. Di sinilah kejelian seorang pencipta atau produser meletakkan anak-anak itu sesuai dengan fase umurnya, sehingga suasana anak-anak-anak-anak itu tercermin dan sesuai dengan kondisinya.
e. Peredaran lagu anak-anak ini harusnya melalui sensor dari badan yang meluluskan sebelum kaset-kaset/CD, VCD, dan pihak Pariwisata ini beredar sehingga yang menyanyikan maupun yang mengkonsumsi tidak terpengaruh atau merusak secara psikologi anak.
f. Hendaknya istilah Minang “alam takambang jadi guru” dipakai dalam menciptakan lagu anak-anak sehingga anak-anak menambah wawasan dan kecintaan mereka terhadap tempat mereka berasal atau lingkungan mereka sendiri (Wawancara dengan Mukhsis, di Padang, tanggal 9 Februari 2015).
5. Pandangan Masyarakat Akademis
Berdasarkan keterangan yang disampaikan oleh para sumber lainnya dengan adanya lagu yang telah didengarnya, Soraya menyatakan bahwa masyarakat Minang saat ini telah terjangkit virus-virus industri rekaman. Virus yang dimaksud adalah adanya hal-hal negatif yang tanpa disadari dapat berpengaruh buruk pada anak sebagai penyanyi yang ditimbulkan oleh industri rekaman yang hanya mementingkan keuntungan semata tanpa memikirkan efek negatifnya. Hal itu dapat dilihat dari lagu pop Minang anak-anak yang syairnya kurang mendidik. Dilihat dari kata-kata yang tertuang pada syair lagu tersebut seharusnya para pencipta lagu mem-filter atau menyaring kalimat dalam lagu tersebut sehingga tidak bertentangan dengan perkembangan jiwa anak.
Berbagi Musik
Persembahan untuk Sang Maha Guru
114
Walaupun pada hakekatnya apa yang diucapkan oleh penyanyi tersebut hanya sebatas ucapan atau lirik yang mungkin bagi anak itu sendiri tidak memahami apa maksud dan artinya. Di satu sisi si anak atau penyanyi hanya sekedar menghafal lirik dari syair lagu yang dinyanyikan tanpa menganalisis secara etika dan sopan santun dalam berbahasa, yang pada akhirnya tidak menunjukkan adanya batasan dengan siapa lawan bicara, apalagi di Minangkabau aturan dalam bertutur kata yaitu “kato nan ampek”, satu “kato manurun”, dua “katomandata”, tiga “kato malereng”, dan empat “kato mandaki”. Di sini terlihat jelas bahwa seharusnya ada batasan seorang anak dalam berkomunikasi secara terintegrasi langsung dengan orang yang sebaya, orang yang lebih besar dan orang tua yang sangat bertentangan dengan norma-norma adat, sopan santun sebagai anak di Minangkabau yang sangat menghormati orang yang lebih tua, seperti dalam lirik lagu berikut.
Lirik lagu tersebut bagi si anak sebagai penyanyi tidak perlu memahami pengertian dan memahami arti dan makna yang terkandung di dalam lirik tersebut, sehingga si penyanyi hanya dijadikan obyek oleh si produser untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Di sini terlihat jelas bagaimana seorang anak berkomunikasi dan berintegrasi langsung dengan orang yang sebaya, orang yang lebih besar dan orang tua yang sangat bertentang dengan norma-norma adat, sopan santun sebagai anak di Minangkabau yang sangat menghormati orang yang lebih tua (Wawancara dengan Sorraya, di Padangpanjang, tanggal 10 Februari 2015).
Fenomena yang terjadi memungkinkan adanya eksploitasi anak di mana seorang anak yang membawakan lagu atau artis tersebut hanya dengan iming-imingan materi atau ketenaran sebagai seorang penyanyi anak-anak. Pada akhirnya secara tidak lansung hal ini akan menggiring pemikiran anak untuk mengesampingkan etika, moral, dan sopan santun karena meniru dan mencontoh lirik dan tingkah laku personil anak-anak sebagai hal yang wajar.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tentang analisis lirik dan melodi lagu pop Minang yang dinyanyikan anak-anak ditemukan ‘sedikit’ pergeseran antara perjalanan melodi dan lirik. Melodi tetap dibuat sederhana, menarik, dan enak didengar, serta mudah dicerna oleh anak. Pergeseran dimaksud bahwa tidak ada lagu-lagu yang betul-betul khusus untuk anak-anak, sehingga dengan banyaknya bermunculan bakat-bakat penyanyi di kalangan anak-anak-anak, maka para pencipta dan produser memberikan lagu-lagu yang biasa dinyanyikan oleh orang dewasa yang kemudian diberikan kepada anak-anak.
Dalam industri musik rekaman, anak-anak sudah mendapat tempat tersendiri di hati masyarakat penikmatnya, sehingga lagu-lagu yang beredar, baik yang berirama lambat, cepat, gembira ataupun sedih ‘bertebaran’ di tengah masyarakat. Persaingan antar penyanyi di kalangan anak-anak pun semakin menampakkan suatu harapan baru dalam dunia vokal, dan orang tua ikut mencari celah mempergunakan kesempatan itu demi popularitas anak serta hasil yang lebih baik secara moril maupun materil, sehingga anak anak yang berada di luar Sumatera Barat juga ikut ambil bagian dalam persaingan. Suatu kepedulian terhadap keberadaan lagu pop Minang yang dibawakan anak-anak yang sedikit mengalami kejanggalan terhadap lirik-lirik yang digunakan terwujud melalui penelitian lagu pop Minang yang dibawakan anak-anak yang beredar ditengah masyarakat Minangkabau Sumatera Barat, dan wilayah di sekitarnya. Daftar Pustaka
Ediwar. 1997. “Perubahan Seni Tradisi Dalam Perspektif Adat Basandi Syarak di Minang Kabau.” dalam Jurnal Palanta Seni Budaya. Nomor 2, Tahun II, September 1997.
Nursyirwan dan Hidayati
Varian Perspektivitas Lirik Lagu Pop Anak Minang
115
Padangpanjang: ASKI Padang Panjang.
Hamka. 1982. Ayahku: Riwayat Hidup DR.H Abdul Karim Amrullah dan Perjuangan Kaum Agama di Sumatera. Jakarta:Ummida.
Kayam, Umar. 1993. “Apakah Kesenian Perlu Dibina”. SENI: Jurnal Pengetahuan dan Penciptaan Seni, Tahun III Volume ke-3, Juli 1993. Yogyakarta: BP ISI Yogyakarta. Kleden, Ignas. 1987. “Kebudayaan Pop: Kritik dan Pengakuan”, dalam Prisma, no 5, tahun
XVI. Jakarta: PT. Pustaka LP3ES.
Lamb, Andrew. 1980. Charles Hamm (II-III) “Populer Music”, The New Grove Dictionary of Music and Musician, volume 15. London: Macmillan Publisher Limited.
Linton, Raplh. 1945. The Culture Background of Personality. London, New York: D. Appleton-Century Company.
Mack, Dieter. 1995. Apresiasi Musik : Musik Populer. Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusantara. Mansoer, M.D. 1970. Sejarah Minangkabau. Jakarta: Bharata.
Nursyirwan. 2011. “Varian Teknik Penalaan Talempong Logam Di Minangkabau”, Disertasi, Sekolah Pascasarjana Universita Gadjah Mada. Yogyakarta: UGM,
Piper, Suzan dan Sawung Jabo. 1987. “Musik Indonesia dari 1950-an Hingga 1980-an” dalam Prisma, no 5, tahun XVI, Mei 1987. Jakarta: PT Pustaka LpeES.
Poerwadarminta, WJS. 1984. Ensiklopedi Indonesia. Jakarta: Ichtiar Baru-van Hoeve. Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Jakarta. 1975. Jakarta: Depdikbud
Proyek Penerbitan Buku Bacaan dan Sastra Indonesia dan Daerah.
Rasyid, Fathur. 2010. Cerdaskan Anakmu dengan Musik. Yogyakarta: DIVA Press.
Silado, Remy. 1977. “Musik Pop Indonesia: Satu Kekebalan, Sang Mengapa”, dalam Prisma, No 6, tahun VI, Juni 1977. Jakarta: PT. Pustaka LP3ES.
Taher, Agus. 1999. “Lagu Pop Minang dalam Persfektif Musik Tradisi dan Global, dalam Makalah: Seminar Sehar., Padang: Taman Budaya.
Berbagi Musik
Persembahan untuk Sang Maha Guru