• Tidak ada hasil yang ditemukan

HIDUP ITU SAMA

Dalam dokumen =MASTURBASI RELIGIUS= (Halaman 75-91)

(Pupuh VI, 5-6)

Dalam bait sebelumnya, Gatholoco menjelaskan bahwa Hidup itu sulit dikenali, dekat, tapi jauh, dekat juga susah dilihat. Ada, namun juga kosong. Dalam bait ke-5 juga masih menegaskan soal itu. “Sangat halus hingga tak bisa dijumput, sangat nyata tapi tak bisa dinyatakan, Sangat lebar namun juga sempit, sangat sempit tapi lebarnya melebihi semua yang lebar, ibarat bambu dibelah, apa isinya? (Bambu isinya ruang kosong, namun jika dibelah, lantas apa isinya? Kemanakah yang kosong tadi?:Bahkan apakah anda mengenal yang ada dihadapan? Demikianlah, ajaran Guru Gatholoco untuk berusaha keras mengenal Hidup diri pribadi. Mengapa? Sebab pada hakekatnya Hidup semua orang itu sama, berasal dari Yang Satu, keadaannya juga sama. Digambarkan, Yen lanang tan nduwe jalu (jika lelaki taka ada penis), Yen wadon tan duwe bêlik (jika perempuan tak ada vagina), Iya kene iya kana (di sana di sini), Iya ngarêp iya buri (ya di belakang ya di depan), Iya keri iya kanan (ya kiri ya kanan), Iya ngandhap iya nginggil (ya di atas ya dibawah).

Wujud perempuan atau laki-laki hanyalah pakaian, hakekat hidup yang ada di dalamnya tidak berjenis kelamin, semua sama. Manusia dasarnya sama, itulah mengapa, ajaran untuk mengenal kesamaan diri ini menjadi sangat penting. Para guru begitu merendahkan Gatholoco, tatkala melihat wujudnya yang jelek, melihat pakaiannya yang kurang bagus, dan sebagainya. Padahal itu hanya wadag, wadah bagi jiwa yang sama.

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 75

di mana saja. Apa saja yang diperbuat oleh manusia, Hidupnya sendiri selalu mengawasi, mau di atas langit, di dasar samudra di mana saja. Sebab Hidup adalah saksi yang meliputi. Ia meliputi diri yang ditempati, ia mengelilingi diri yang diawasi. Jika demikian, pengawasan diri sebenarnya sudah lebih dari cukup bagi setiap diri manusia yang sadar. Ia bisa menjadi cermin dari sudut manapun, dari depan, belakang, atas bawah, kanan dan kiri. Bisa melihat keadaan diri secara menyeluruh. Tak akan ada secuilpun bagian diri yang tidak dikenali. Sehingga kelak, tak ada kesempatan untuk mengelak, sebab Hidup sudah meliputi semuanya, menemaninya secara utuh dalam setiap perjalanan manusia.

Lantas masihkah butuh mlaikat untuk menakuti? Butuh neraka untuk jadi ancaman? Agar ingat kebaikan? Belum cukupkah Hidup itu sendiri menjadi sahabat sejati?

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 76 #31

INTROSPEKSI

(Pupuh VI, 7)

Soal Hidup, begitu banyak perlambang yang bisa diajukan, semuanya mengandung makna yang dalam. Guru Gatholoco mendorong para santri untuk terus menggali dan mengkaji dan mengenal Hidup masing-masing diri. Hidup, atau sebut saja Jiwa, itu bisa dikatakan sebagai jagad besar sekaligus kecil. Bisa disebut diam, namun begitu cepat bergerak. Begitulah Hidup yang bisa digambarkan dalam bentuk dualitas yang bertentangan.

Baitane ngêmot laut (perahu yang memuat samudra), Kuda ngrap pandhêgan nênggih (kuda berlari namun dalam posisi diam), Tapaking kuntul ngalayang (jejak burung yang terbang), Pambarêp adhine ragil (anak pertama menjadi adik si ragil), si Wêlut ngêleng ing parang (belut tinggal di batu), Kodhok ngêmuli lengneki (katak menyelimuti rumahnya).

Hidup, Jiwa manusia itu tidak nampak, berada dalam diri manusia. Namun ia mampu menanggung beban persoalan yang sedemikian banyak. Jiwa seorang presiden akan memuat persoalan yang jauh lebih besar ketimbang jiwa rakyat biasa. Jiwa manusia itu bisa nampak diam, tetapi ia begitu sibuk. Orang-orang yang berjiwa tenang bukan berarti jiwanya diam, mati, tetapi ia justru yang sibuk menenangkan diri, sibuk berperang dalam mengatasi lintasan hati, kegelisahan, berjihad meraih kembali Hidup yang sejati.

Hidup, jiwa itu ibarat jejak burung terbang. Mana ada jejak kaki burung terbang? Yang paling mungkin ada dalah

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 77

sekali, namun bayangannya tetap ada, meski itu sangat sulit dicari. Setiap diri harus belajar mengenal bayangannya sendiri. Lintasan-lintasan dalam hati adalah bentuk bayangan jiwa yang bergerak.

Seperti diuraikan sebelumnya, bahwa Hidup itu sama dalam diri manusia. Ia bisa lebih dewasa dari wadagnya, ia bisa lebih kanak-kanak dari wujudnya. Jiwa orang-orang yang mau bersuci, akan menjadi jiwa yang tua, namun mereka yang tidak mau memperhatikannya, maka jiwanya, meski dia ada dalam diri orang dewasa, ia tetaplah kanak-kanak (adiknya si ragil). Jiwa, Hidup itu selain seperti bahtera yang meliputi samudra, ia juga seperti katak yang menyelimuti rumahnya. Bagaimana mungkin katak mampu menelan lubang tinggalnya? Katak tentu lebih kecil dari lubang hidupnya. Itulah gambaran jiwa yang sudah bersih, mampu terbang luas, mampu berlari kencang, dan juga mampu memahami dirinya sendiri. Mengetahui dirinya dari sudut luarnya. Ia tidak bodoh, seperti katak dalam tempurung, tetapi juga mampu melihat tempurungnya.

Hidup ibarat belut yang tinggal di batu. Apa bisa? Ya, Jiwa manusia mampu menembus batas-batas yang tersulit sekalipun. Hati yang keras melebihi karang, akan mampu ditundukkan oleh Jiwa yang murni. Menajamkan kemampuan jiwa-jiwa penembus batas itulah yang harusnya dilakukan oleh para santri.

Itulah perlambang-perlambang yang diajarkan Gatholoco untuk mengenal diri sendiri, mengenal hidup, jiwa yang ada

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 78

dalam setiap diri. Jika mampu demikian, ia tidak akan menjadi orang bodoh, yang sukanya menilai orang lain, tetapi justru mempunyai kemampuan baik menilai diri sendiri, mengetahui jejak-jejak jiwanya sendiri, buruk dan baik.

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 79 ENERGI SUPER DAHSYAT

(Pupuh VI, bait 8)

Memasuki bait 8 ini saya mencoba untuk membacanya dari kalimat paling akhir dari bait ini yang berbunyi: “Aneng ngêndi susuh angin?”. (Terjemah: dimanakah sarang/rumah angin?). Ah, ini tentu pertanyaan mengada-ada, mana ada angin memiliki rumah tinggal? Kayak burung saja, punya rumah (susuh). Tapi ini adalah pasemon (teka-teki) guru Gatholoco tentang Hidup, Jiwa. Kesemua pasemon yang diajukan adalah membahas mengenai ini. Namun, setiap pasemon ada sisi yang harus ditekankan. Itu menurut saya. Maka pada bait ini, kemudian saya mencoba memberi judul “energi super dahsyat”.

Dalam lakon Bima Suci, muncul juga istilah Kayu Gung Susuhe Angin. Bima diperintah oleh guru Drona mencari susuhe angin. Ringkasnya, susuhe angin itu ya ruh, ya jiwa, sumber hidup. Angin, nafas adalah tali hidup,jika nafas putus maka jiwa dan wadag berpisah. Mati. Maka, susuhe angin itu ya Hidup itu sendiri. Dalam bait ini, guru Gatholoco mengingatkan bahwa, Hidup itu sumber energi luar biasa dahsyat, mengapa karena ia mampu mewujudkan dan mendorong perbuatn yang luar biasa. Itulah seperti yang digambarkan dalam bait 8:

Wong bisu asru clathu (orang bisu berbicara), Jago kluruk jro ndogneki (ayam berkokok dalam telur), Wong picak amilang lintang (orang buta menghitung bintang), Wong cebol anggayuh langit (orang cebol menggapai langit), Wong lumpuh ngidêri jagad (orang lumpuh berkeliling dunia). Rangkaian perbuatan dalam bait ini luar biasa bukan? Jika mampu

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 80

menemukan susuhe angin, tentu perbuatan-perbuatan luar biasa semacam yang disebut dalam bait 8 ini tentu tidak mustahil. Ada orang bisu bisa berbicara. Jaman sekarang saja bisa dengan menggunakan bahasa isarat. Pernahkah anda dulu bagaimana munculnya bahasa isarat? Tentu diawali dengan jiwa yang murni, yang tulis, Hidup yang menghidupi orang-orang bisu, membantu orang-orang bisu untuk berbicara.

Ayam berkokok dalam telur. Teknologi rongten saja bisa mendeteksi jenis kelamin manusia meski masih berusia beberapa minggu, apa ini tidak seperti itu? Orang buta bisa menghitung bintang? Atau membaca? Sudah lazim bukan saat ini? Orang lumpuh keliling dunia? Juga sudah terjadi saat ini. Lagi-lagi Hidup yang mampu menghidupi, jiwa yang mampu menjiwai lah yang menjadi energi luar biasa bagi kehidupan. Masihkah akan menyianyakan hidup diri hanya untuk kesombongan? Mencari kepuasan batin, merasa ini dan merasa itu, kemudian menghina sana dan menghardik sini? Hidup hanya untuk masturbasi religi. Mengapa tidak digunakan untuk kehidupan itu sendiri? Maka dalam kisah Bima Suci, iapun mampu menemukannya dan ia menjadi satria yang sangat sakti mandraguna.

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 81 SEMUA ADA DALAM DIRI

(Pupuh VI, 9)

Menyangkut bait 9 ini, sebelum saya uraikan, teringat kejadian beberapa tahun silam. Guruku, sebut saja begitu, memerintahkan aku mencari air untuk memadamkan api amarah istriku. Begini ceritanya. Hubungan saya dan istri, biasa sering cekcok, dan saya melihat kadar emosi istri saya lebih besar. Kemudian saya konsultasi pada guru. Jawabannya adalah: untuk memadamkannya, carilah air yang ada dalam istri saya itu. Waktu itu, akal saya langsung merespon, bagaimana bisa aku mencari air, dimana di situ aku melihat banyak api? Jika, tidak yang ada dalam diri istri, ya cari air yang ada dalam diri saya sendiri. Ini juga sama, bukankah saya juga lagi mengalami emosi?

Nah, bait 9 kalimatnya berbunyi:

Aneng ngêndi wohing banyu (dimana inti air?), Myang atine kangkung kuwi (di mana pusat batang kangkung), Golek gêni nggawa diyan (mencari api membawa lampu/api), wong ngangsu pikulan warih (orang mencari air, memikul air), Kampuh putih tumpal pêthak (kemben putih ditutup kain putih), Kampuh irêng tumpal langking (kemben hitam ditutup kain hitam).

Mencari air ya di air, mencari api dengan api, mencari air membawa air, dan perlambang-perlambang lainnya. Ke semuanya adalah seperti mencari hati kangkung, ya kosong, karena ruang hampa dan isi itu kosong. Mencari putih dalam warna putih, mencari hitam dalam warna hitam.

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 82

Mencari kedamaian hati, tidak di luar hati, mencari kesenangan hati, tidak di luar hati. Mencari petunjuk, carilah dalam diri. Bait ini mengajarkan, untuk selalu mengkaji dan mencari solusi ke dalam diri, bukan di luar diri manusia. Jika saya marah kepada istri saya, solusinya adalah melihat diri saya, di mana marah saya, bagaimana kemudian saya memadamkannya? Semua jawabannya ada dalam diri sendiri.

Apakah anda termasuk orang yang suka menyalahkan orang lain? Atau selalu menyalahkan anak-anak ketika mereka berbuat salah? Atau para suami lebih mudah menimpakan kesalahan pada istri? Guru Gatholoco mengajarkan, sebelum menyalahkan pihak lain, siapa tahu ada salah dalam diri. Sebelum mempunyai air yang menyejukkan hati orang lain, apakah hati yang ada dalam diri sudah penuh dengan air kesejukan?

Seperti dalam bait tersebut, berhati-hatilah. Bisa jadi anda atau saya sudah melihat warna hitam, tetapi bukan hitamnya kemben, tetapi penutup kemben yang hitam. Siapa tahu saya merasa mendapatkan api, padahal itu adalah "dian" lampu yang saya bawa sendiri, atau merasa sudah membawa air, padahal bukan air yang dicari. Belajarlah mencari hati (galih) batang kangkung, yang kosong, padahal ia ada sebagai isinya batang kangkung.

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 83 KESEMPURNAAN ILMU

(Pupuh VI, bait 9,10)

Kritik keras guru Gatholoco terhadap para santri dan kyai adalah kurang luasnya ilmu. Tidak mampu melihat pada sudut besarnya, maupun pada detailnya. Manusia, yang dilihatnya jelek, ansich hanya dilihat pada wujud jeleknya. Tidak dilihat pada konstruksi besar dari manusia itu sendiri, yang ternyata juga bisa terjadi pada seluruh manusia di jagad ini. Ada Hidup, ada Ruh yang suci dalam diri manusia, yang memiliki rahasia besar. Pun demikian, pelaku masturbasi religi seringkali suka “gebyah uyah”, tanpa meneliti rinci keadaan dirinya sendiri. Ketika memandang diri orang lain, nampak kecil, sehingga begitu teliti membelejeti keburukannya. Namun di saat melihat dirinya, seolah besar yang tak terjangkau untuk diteliti. Dalam bahasa pasemonnya, sindiran guru Gatholoco menyebut bahwa kesempurnaan ilmu seseorang itu ketika:

Tumbar isi tompo iku (biji ketumbar yang kecil, tetapi berisi wadah, seperti wadah beras yang lebih besar), Randhu alas angrambati, mring uwit sêmbukan ika (pohon randu besar merambat pohon sembukan yang kecil), Sagara kang tanpa têpi (lautan tak bertepi), Pelaku masturbasi religi tidak mampu seperti biji ketumbar yang mampu mewadahi tempat yang lebih besar. Ini berarti tidak mampu mengenal jagad yang luas, pandangan dan wawasannya sempit sekali. Ia juga tidak mau memperhatikan yang kecil, detail pada diri sendiri, seperti merambatnya pohon randu yang besar pada sembukan yang kecil. Harusnya, orang yang sempurna ilmunya ibarat lautan tak bertepi. Luas sekali.

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 84

Cobalah berlatih memperhatikan yang ada pada diri sendiri. Rambut irêng dadi pêthak, ingkang pêthak saking ngêndi (rambut yang asalnya berwarna hitam, kemudian berubah putih (beruban), warna hitam itu pergi kemana? Ketika lampu/sentir mati, ke mana perginya nyala api? Cobalah cari sampai ketemu, agar ilmu itu tidak sia-sia. Siapa saja yang mengetahui ini, ilmunya akan sempurna.

Belajar pada hal-hal yang melekat pada diri, kejadian sehari-hari yang biasa akan melatih diri, menambah wawasan. Bisa jadi, anda atau saya tidak pernah bisa menemukan ke mana perginya warna hitam rambut setelah berubah uban, atau nyala api ketika lampu padam. Tetapi melatih mencari-cari hal-hal demikian akan mempertajam batin. Ini berarti mencari hal-hal yang nampaknya sia-sia, tetapi sebenarnya tidak sia-sia sama sekali. Manusia akan mengetahui bahwa yang ada bisa berubah, yang nampak bisa hilang. Yang terlihat bisa jadi esok atau nanti tidak terlihat. Perubahan adalah hukum pasti.

Lantas, masihkah suka memvonis orang dengan kondisi di satu saat? Tidak percayakah bahwa esok atau lusa, seseorang itu berubah lebih baik atau lebih buruk? Lihatlah itu seperti lautan yang tak bertepi, entah bagaimana kelak kemudian hari perubahan itu terjadi. Tetapi satu hal, carilah perubahan dan kajilah perubahan itu. Dengannya akan menyempurnakan ilmu kalian.

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 85 SHALAT DA’IM

(Pupuh VI, bait 12,13,14,15)

Kesempurnaan ilmu itu ketika mau melihat lebih luas, detail dan mendalam. Itulah anjuran guru Gatholoco pada tulisan sebelumnya. Perlambang mencari nyala api ketika lampu padam, mencari warna hitam ketika berubah uban dan lainnya adalah sebuah permisalan. Namun pada prakteknya adalah mencari rasa sejati. Hidup, Jiwa, Hati itu laksana samudra. Ia bisa menerima sampah yang berserak, kadang sesekali burung bangau dan gagak datang, kemudian bangau hinggap di sampah, pergi diganti burung gagak. Itulah maksud bait 12 berikut: “Ingkang sarah munggeng laut, gagak kuntul saba sami, duk mencok si kuntul ika, si gagak ana ing ngêndi, gagak iku nulya têka, si kuntul mibêr mring ngêndi”. Hati manusia bisa penuh dengan sampah rasa tiap hari, bahkan tiap detik. Ia bisa berubah-ubah seperti bergantiannya datangnya gagak atau bangau. Bahkan sering tidak tahu ke mana perginya rasa itu. Kadang tiba-tiba muncul rasa senang, nyaman, namun segera terganti rasa gelisah atau susah yang tidak tahu sebab atau ujung pangkalnya.

Selanjutnya, guru Gatholoco menasehati, “oleh karenanya harus bisa memahami, wahai kalian semua anak-anakku, seluruh perlambang ilmu sejati ini renungkanlah, jika bisa memahami akan menemukan kesejatian, sejatinya rasa, rasa sejati didalam samudera (hidup). Segala rahasia akan cepat tersingkapkan, benar-benar perhatikan ucapanku ini, dengan sepenuh pendengaran, serta sepenuh penglihatan kamu, tiada lagi kebenaran kedua yang menjadi sifatnya (sifat kebenaran sejati itu tunggal, tak mendua)”. Rasa sejati tidak ada was-was,

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 86

ragu atau bimbang. Jika demikian, maka tasbihmu adalah Zatullah. Pembersihan hati selalu dengan Allah, tak ada rasa selain dari itu.

Bagaimana nasehat ini bisa dipraktekkan? Guru Gatholoco memberi nasehat singkat:”kang krasa yen datan mangan, den krasa yen minum nênggih, sêmbahyanga den karasa, den krasa Dzatullah kuwi”. Ketika lapar, benar-benar rasakan. Apa yang ada dalam benak ketika lapar? Langsung ingat makanan atau ingat Allah? Jika saat lagi haus, yang diingat air atau Allah? Demikian pula, di saat kenyang, apa yang terlintas di benak? Saat bergembira, apa yang hadir di benak? Apakah Allah (Rahsa kepada Allah?) atau lainnya. Latihan semacam ini sangat dianjurkan oleh guru Gatholoco. Andai semua aktivitas, semua gejolak rasa (seperti sampah yang berserakan) dalam hati, benak, hidup selalu menghadirkan Allah (rahsa kepada Allah), tentu itulah yang disebut eling terus menerus kepada Allah. Aktivitas kesadaran, aktivitas rahsa yang selalu diqiblatkan kepada Allah, kepada kemurnian rahsa dalam seluruh aktivitas, baik aktivitas lahiriah atau batin, atau akal, atau perasaan, itulah yang disebut oleh guru Gatholoco sebagai shalat da‟im, “langgeng tan pegat”.

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 87 MARTABAT TIGA

(Pupuh VI, bait 16,17,18,19 dan 20)

Dalam tulisan sebelumnya (#35) diuraikan mengenai makna shalat da‟im, yang pada intinya adalah kesadaran fokus melihat segala sesuatu pada ujungnya (qiblatnya) adalah Allah. Bagian ini mencoba menjelaskan mengenai kehendak hati, dimana nantinya akan dipakai untuk mendukung pelaksanaan shalat da‟im. Dalam Gatholoco disebut martabat, tingkatan. Maksudnya tingkatan dari niat itu sendiri, yakni martabat Kasdu, Takrul dan Takyin. Seperti ditulis dalam bait 16, “Martabate Kasdu kuwi, lawan Takrul Takyin ika, mangrêtine Kasdu kuwi”. Menurut saya, istilah ini tetap bersumber dari khazanah ilmu Islam, Fiqih khususnya. Yakni tentang niat, dimana terbagi dalam tiga bagian, yaitu qosdu (al fi‟li), ta‟arud (lil fardiyah) dan ta‟yin. Mari selanjutnya kita ikuti bait ke-17, “Pikarêpe niyat iku, ciptane ingkang dumadi, dene Takrul têgêsira, pamêkasing niyat nênggih, dumadine panggraita, mangrêteni ingkang Takyin”. (Terjemah : Maksud dari niyat, munculnya kehendak/mengada-kan, sedangkan Takrul artinya adanya wujud khusu dari ungkapan rasa (niyat), dan Takyin adalah mengerti.

Saya akan mengajukan satu contoh kasus untuk membantu menguraikan ini. Sederhan, setiap hari bisa dilakukan. Saya akan mencicipi kopi yang saya seduh, tapi rasa manisnya yang saya fokuskan. Maka, proses mencicipi saya disebut memiliki makna, memiliki korelasi dengan shalat da‟im, maka saratnya adalah adanya niat yang dikasdu, niat yang saya sengaja. Tidak boleh, kemudian hati saya mencipta kehendak “mencicipi pahitnya kopi”. Jika ini terjadi, maka martabat pertama saya

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 88

sudah berbeda kiblatnya. Martabat/tahap berikutnya adalah mewujudkan itu dalam bentuk tindakan “mencicipi”, ini adalah bentuk pernyataan yang sudah jelas, maka martabat beriktunya adalah saya bisa merasakan, ...”oh ya kopi ini sudah manis” atau “kopi ini kurang manis”. Saya yakin betul dengan pembuktian ini, karena tidak sekedar dalam hati, tetapi sudah ada proses melakukan, mewujudkan niat dalam tindakan khusus. Kesalahan yang terjadi pada martabat kedua, jika kemudian yang saya lakukan adalah hanya membau asap kopi. Memang ini wujud cara membuktikan, tetapi sudah tidak pas. Seperti halnya menta‟arudkan niat shalat, maka menyatakan shalat subuh, atau dhuhur itu menjadi penting, tidak bisa digebyah uyah pokoknya shalat.

Dalam praktek kehidupan yang lebih luas, bisa digambarkan sebagai berikut. Seseorang bekerja, diniatkan untuk menggembirakan anak dan istri. Namun dalam praktek ta‟arud (takrulnya), hasil kerjanya tidak diberikan kepada anak dan istri, manfaat kerjanya, anak dan istri tidak mendapat bagian, bahkan malah menambah beban atau menyusahkan. Itu artinya masih berkisar pada martabat kasdu, hanya angen-angen (cipta dumadi), belum menjadi “pamekasing niyat”, belum wujud bekas, tanpa jejak. Selanjutnya ketika sudah ada berbagai usaha, dari hasil kerja kerasnya kemudian diarahkan membahagiakan keluarga, misalnya memberi sandang, papan, makan dan sebagainya masih belum membahagian keluarga, maka dia sudah mencapai martabat takrul (ta‟arud). Melalui berbagai upaya itu dia semakin mengerti, bahwa jika cara A kurang, dengan cara B baru bisa tercapai, maka dia sudah membuktikan (takyin) dan benar-benar mengerti bahwa kerjanya adalah untuk kebahagiaan keluarganya.

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 89

pandangan kepada Allah, maka akan menemukan banyak cobaan, masalah dan rintangan. Itu adalah proses takrul, proses pembuktian, proses mentauhidkan, memfokuskan kiblat. Maka dalam bait-bait berikutnya, tiga martabat itu digambarkan sebagai: “ingkang Kasdu kuwi Iman, ingkang Takrul iku Tohid, Kang Takyin Makrifat iku”. Apa maksudnya? Maksudnya adalah kehendak/kasdu dari niyat itu harus kuat, yakin itulah iman, tanpa keraguan. Kemudian dalam takrul sebagai tauhid, berarti harus mampu tenang dalam menghadapi berbagai goyangan, memilah dengan tenang lintasan-lintasan batin, kesadaran adanya bahwa adanya perubahan itu adalah tunggal adanya, dari DIA. Jika mampu dengan kuat dan yakin, dengan pembuktian-pembuktian bahwa semuanya itu adalah Hyang Esa saja, maka itulah takyin. Khoirihi wa syarrihi minallahi ta‟ala.

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 90 #37

Dalam dokumen =MASTURBASI RELIGIUS= (Halaman 75-91)

Dokumen terkait