• Tidak ada hasil yang ditemukan

HIDUP LAYAKNYA ORANG ASING ATAU PENGEMBARA

Dalam dokumen MATERI KAJIAN KMIP HADITS ARBAIN (Halaman 129-132)

Ν Ï δ ωô γ y èÎ/#sŒÎ)

HIDUP LAYAKNYA ORANG ASING ATAU PENGEMBARA

Dari Ibnu Umar berkata: suatu hari Rosululloh memegang pundakku sambil bersabda:

“Jadilah engkau di dunia seolah-olah orang perantauan atau pengembara (musafir).”

Selanjutnya Ibnu Umar berkata:

“Jika engkau di waktu sore janganlah menunggu hingga pagi; jika engkau di waktu pagi janganlah menunggu sore; pergunakanlah waktu sehatmu sebelum sakitmu dan pergunakanlah waktu hidupmu sebelum datang mati.”

(Diriwayatkan oleh Imam Bukhari)

Di sini Rosululloh menasehati Ibnu Umar sesudah beliau memegang kedua pundaknya. Metode seperti ini, jelas akan membuat orang yang akan diajak bicara akan memberikan perhatian penuh. Ini menunjukkan bahwasanya Rosululloh mengharapkan Ibnu Umar untuk memperhatikan dengan sepenuh perhatian. Oleh karena itu, ini termasuk metode nabawi. Jadi hal-hal apa saja, tatkala kita mengajak bicara orang, yang dengan itu orang bisa tertarik untuk memperhatikan, itu diusahakan untuk kemudian orang itu tertarik untuk memperhatikan atau punya kesiapan untuk memperhatikan.

Dan tatkala seseorang melakukan demikian, teringat akan perilaku Rosululloh , maka dia mendapatkan pahala dengan perilaku yang dia lakukan. Maka hadirkanlah setiap perilaku yang kita lakukan, teringat akan sunah . Jadi cara gampangnya, seandainya kita temukan ada sunah tentang garuk-garuk kepala, misalnya, kemudian kita teringat dan kita niati ittiba’ misalnya, itu mendapatkan pahala. Permasalahannya, kadang kita lalai dalam praktek amalan sehingga amalan kita mengalir begitu saja tanpa ada keterkaitan atau hadirnya hati. Dan Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin sering mengingatkan tentang hal ini. Upayakan hadirkan dalam setiap aktivitas kita tentang sunnah Nabi . Di samping kemudian kita ikhlas niatkan karena Alloh, juga niatkan ittiba’ dalam setiap aktivitas kita. Saya berbuat demikian karena Rosululloh mencontohkan.. Demikian, dan itu tidak terputus dalam keadaan apapun juga setiap aktivitas kita. Minimal kita, tatkala melakukan, saya melakukan demikian karena ini dibolehkan, karena Rosululloh membolehkan maka saya lakukan. Saya berkata demikian karena Rosululloh masih membolehkan saya berkata demikian. Saya bergurau karena Rosululloh masih membolehkan saya bergurau. Terus begitu, sehingga bergurau, tidur, bermain, dan istirahatnya, semuanya bernilai ibadah karena dia menghadirkan niat dalam setiap aktivitasnya. Dan betapa kita sering melalaikan kondisi seperti ini.

Nasehat Nabi kepadanya–kepada Ibnu Umar– kun fiddunyaa ka annaka ghariibun, jadilah kamu di dunia seperti orang asing. Namanya orang

Dia tinggal untuk satu keperluan. Atau, kalau tidak bisa merasa menjadi orang asing, kalau mampu lebih dari itu –seperti orang yang lewat–, maka dia tidak berhenti. Maka ini lebih sempurna dibandingkan kondisi pertama. Kondisi seperti orang yang lewat, abiri sabil, lebih sempurna dibandingkan kondisi ghariib karena ghariib masih sempat tinggal. Walaupun statusnya orang asing tapi tetap tinggal. Adapun abiri sabil, orang yang lewat, tidak sempat tinggal, dia lewat saja.

Hadits ini hakikatnya adalah perintah untuk zuhud terhadap dunia. Rosululloh memerintahkan untuk zuhud terhadap dunia, dengan redaksi yang lain, yang lebih mudah dipahami. Dan kita sudah mendapat pelajaran tentang zuhud, yaitu meninggalkan sesuatu yang tidak memberikan manfaat bagi akhiratnya.

Aktivitas dia di dunia, tidak pernah dia melakukan sesuatu kecuali itu karena membawa manfaat bagi akhiratnya. Itulah hakikat zuhud. Dia tidak menikmati sesuatu yang ada di dunia ini kalau kembalinya hanya untuk kenikmatan duniawi atau manfaatnya hanya kembali kepada duniawi. Itu zuhud yang hakiki. Maka zuhud yang hakiki bukan orang yang miskin. Bisa saja orang yang hari-harinya makannya daging, itu tidak berarti dia tidak zuhud. Bukankah Rosululloh juga makan daging? Bukan orang zuhud itu lauknya kecap sama kerupuk. Zuhud adalah meninggalkan dunia yang tidak memberikan manfaat pada akhirat. Kalau kemudian makan daging sehingga fisiknya kuat, bisa mengisi pengajian 10 hari penuh misalnya, itu bermanfaat untuk akhirat. Bisa ikut daurah selama 10 hari karena minumnya susu kemudian makannya daging, di majelis tidak ngantuk. Demi akhiratnya dia makan daging dan susu. Maka itu tetap masih dalam jajaran zuhud. Tapi orang tidak makan, kecuali kecap sama kerupuk lauknya, hartanya disimpan, teringat terus simpanannya yang ada di gudang, yang dia makan cuma kecap sama kerupuk, maka ini bukan zuhud karena dia menyimpan barang banyak

Zuhud adalah meninggalkan sesuatu di dunia ini demi akhiratnya. Maka ingatlah, selama seseorang tidak rukun kepada dunia, selama tidak condong kepada dunia, dunia tetap di luar hatinya, tidak pernah dimasukkan ke dalam hatinya, maka itulah yang dinamakan zuhud. Itulah semestinya kita hidup di dunia ini. Seperti kondisi orang asing atau kondisi orang yang numpang lewat. Maka ada perkataan Syaikh Islam Ibnu Taimiyah, hendaklah manusia itu menjadikan harta itu seperti keledai yang ia tumpangi atau seperti WC yang dia tunaikan padanya hajatnya. Jadi tidaklah kemudian masuk ke dalam hatinya, hanya sebagai kendaraan hidup saja. Jadi dia lakukan demi untuk kemudian ke akhirat. Karena hidup ini adalah perjalanan ke akhirat. Dia tidak akan sampai kepada akhirat kecuali dengan melakukan apa yang ada di dunia ini. Maka ambil perbekalan sebanyak-banyaknya untuk kemudian pulang ke kampung halamannya. Jadi orang yang kalau sekedar numpang lewat, maka dia beli sesuatu untuk kemudian nanti dinikmati tatkala dia sudah pulang sampai di rumahnya. Demikian juga orang asing, dia tidak pernah melakukan sesuatu untuk dinikmati di situ selamanya, karena dia hakikatnya nanti mau kembali pulang kampung. Maka semuanya ya disimpan di negerinya untuk kemudian dibangun di sana dan demikian seterusnya karena dia ingat bahwasanya dia tidak lama di situ, bahwasanya dia akan kembali ke kampung halamannya.

Maka konsekuensi dari pelaksanaan kun fiddunyaa ka annaka ghariibun au’aabirusabiil, sebagaimana yang dikatakan Ibnu Umar tersebut, idzaa amsaita falaa tantadhirish shabaah, jika kamu disore hari maka jangan menunggu pagi hari. Di sini ada dua makna. Jadi kalau kemudian ada kesempatan amalan, maka jangan menunda amal tersebut untuk dikerjakan besok. Jadi di pagi hari kamu punya kesempatan amal yang bisa dilakukan ketika itu, jangan tunggu nanti sorelah. Demikian juga di sore hari, besok pagilah. Namun kerjakan ketika itu juga. Jangan menunda amalan, pagi ditunda sore, amalan sore ditunda pagi. Setiap kesempatan amal dia ambil; ini bukan perkara yang mudah. Atau kemudian dimakna untuk senantiasa beramal dan jangan pernah menyangka bahwasanya dirinya bisa hidup sore harinya/pagi harinya. Tatkala pagi jangan pernah berpikir bahwasanya sore hari nanti masih bisa hidup. Demikian juga tatkala sore hari, jangan berpikir bahwasanya pagi hari dia masih hidup.

Maka nasehat Ibnu Umar tersebut itu sangat bermanfaat namun ini dibutuhkan jihad. Maka coba pikirkan dan koreksi pada kita masing-masing betapa banyak kita telah menyia-nyiakan waktu maka beliau nasihatkan ambillah masa sehatmu sebelum masa sakitmu. Mumpung masih sehat, sehingga bisa ikut pengajian. Nanti kalau sudah sakit, maka banyak aktivitas yang tidak bisa dilaksanakan. Walaupun kemudian masih bisa melakukan, tapi rasanya tidak nyaman karena kondisinya sakit. Berbeda kalau kondisinya sehat. Maka mumpung masih sehat, beraktivitaslah yang banyak dan bermanfaat. Dan bagi orang yang tatkala sehat dia terbiasa beraktivitas dengan aktivitas yang bermanfaat, maka ketika dia sakit, dia mendapatkan pahala seperti pahala tatkala sehat. Orang yang mendapatkan uzur karena sakit sehingga dia tidak bisa melaksanakan apa yang dia kerjakan tatkala dia sehat, yang seandainya dia sehat mesti dia kerjakan (buktinya tatkala dia sehat dia kerjakan), tapi karena dia sakit, maka dia tetap mendapatkan pahala seperti ketika sehat. Jadi walaupun dia tidak berbuat, dia mendapat pahala. Itu kalau membiasakan diri beraktivitas tatkala sehat. Ini keutamaan yang sangat besar bagi hamba ini dari Alloh. Alloh mengganjar hamba ini apa yang menjadi tekadnya walaupun dia tidak melaksanakannya. Dia tidak melaksanakan bukan karena malas, tapi karena uzur menghalanginya. Maka sebagaimana orang yang safar dan ia tetap diberi pahala mukim. Dari sholat-sholat yang dia tinggalkan, rawatib-rawatib yang dia tinggalkan karena safar, karena uzur safarnya, dan kalau dia mukim dia senantiasa menjaga rawatib maka rawatibnya dia dapatkan walaupun dia tidak kerjakan. Dan demikianlah, inilah fadilah, keutamaan, yang didapat orang yang memanfaatkan waktu sehatnya sebelum waktu sakitnya.

Dan demikianlah, ambilah, manfaatkan waktu hidupmu untuk menghadapi kematianmu karena setelah kematian, amal semuanya terputus. Maka mumpung amal belum terputus. Kalau sudah mati, maka semua terputus kecuali tiga amalan, yaitu amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang shaleh yang mendoakannya. Ada seorang ulama yang membawa kepada hadits ini. Semuanya didapatkan oleh ulama, ketiga-tiganya tersebut didapatkan oleh ulama. Amal jariyah, ilmunya. Ilmu yang bermanfaat, jelas dengan dia mengajarkannya. Kemudian anak yang shaleh, yaitu muridnya yang mendoakannya walaupun tafsiran seperti ini tidak disetujui oleh ulama yang lainnya. Tapi ada yang membawa tafsiran bahwasanya ketiga tersebut didapatkan oleh satu orang yaitu ulama atau seorang alim yang mengajarkan ilmu din kepada umat ini. Allohua’lam.

Dalam dokumen MATERI KAJIAN KMIP HADITS ARBAIN (Halaman 129-132)