ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.2 Analisis dan Pembahasan .1 Indeks Williamson .1 Indeks Williamson
4.2.3 Hipotesis Kuznets
Simon Kuznets berpendapat bahwa pada tahap pertumbuhan ekonomi, distribusi pendapatan cenderung memburuk namun pada tahap selanjutnya distribusi pendapatannya akan membaik. Observasi inilah yang kemudian dikenal
Tipologi Klassen 0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00 8.00 0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000 8000 9000 10000 Pendapatan Perkapita (Rp 000) P e r tu m b u h a n E k o n o m i (% )
sebagai kurva Kuznets ”U-terbalik”, karena perubahan longitudinal (time series) dalam distribusi pendapatan tampak seperti kurva U terbalik.
Untuk mengetahui apakah terjadi ketimpangan distribusi pendapatan di Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan pada tahap awal pembangunan dan selama proses pembangunan berlangsung (selama periode pengamatan), digunakanlah hipotesis ini. Hipotesis ini dapat dibuktikan dengan membuat grafik antara Indeks Williamson dengan pertumbuhan PDRB. Dari grafik ini, diperhatikan apakah yang terjadi pada angka ketimpangan ketika kenaikan pertumbuhan PDRB.
Gambar 4.5 Hipotesis Kuznets di Kabupaten Nias
Gambar di atas menunjukkan bentuk kurva “U-terbalik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hipotesis Kuznets berlaku di Kabupaten Nias. Dari gambar di atas terlihat bahwa pada tahap awal angka Indeks Williamson Kabupaten Nias semakin meningkat dari angka 0,085348104 tahun 2003 hingga mencapai 0,095744998 pada tahun 2005. Hal ini diikuti oleh penurunan pertumbuhan PDRB dari angka 7,07% pada tahun 2003 hingga mencapai angka
Hipotesis Kuznets Kabupaten Nias
0.084 0.086 0.088 0.09 0.092 0.094 0.096 0.098 1 2 3 4 5 6 7 Pertumbuhan PDRB (%) In d e k s W il li a m s o n
Hipotesis Kuznets Nias
-3,33% tahun 2005. Hal ini menggambarkan bahwa pada tahun-tahun ini ketimpangan yang terjadi di Kabupaten Nias semakin meningkat.
Tabel 4.15 Indeks Williamson dan Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan, Tahun 2003-2008
Tahun Kabupaten Nias Kabupaten Nias Selatan
IW PE (%) IW PE (%) 2003 0,085348104 7,07 0,072745102 - 2004 0,086818043 5,13 0,072381735 7,16 2005 0,095744998 -3,33 0,078477976 -2,12 2006 0,093570292 4,65 0,070287725 3,99 2007 0,091870918 6,64 0,070480374 4,83 2008 0,089650711 6,70 0,069710619 5,50 Sumber : Hasil Data diolah Oleh Penulis
Namun pada tahun 2006-2008, angka Indeks Williamson semakin menurun dari 0,093570292 pada tahun 2006 menjadi 0,089650711 tahun 2008. Selain itu pertumbuhan PDRB juga semakin meningkat dari angka 4,65% pada tahun 2006 ke angka 6,70% pada tahun 2008. Hal ini menunjukkan bahwa pada tahun-tahun ini, ketimpangan yang terjadi di Kabupaten Nias semakin menurun.
Demikian pula halnya dengan Kabupaten Nias Selatan, terlihat bahwa pada tahap awal pembangunan, angka Indeks Williamson-nya semakin meningkat dari 0,072381735 pada tahun 2004 menjadi 0,078477976 pada tahun 2005. Pertumbuhan ekonominya juga semakin menurun dari 7,17% tahun 2004 menjadi -2,12% pada tahun 2005. Hal ini menyiratkan bahwa tahun-tahun ini ketimpangan yang terjadi di Kabupaten Nias Selatan semakin meningkat.
Namun tahun 2006, angka Indeks Williamson menurun ke angka 0,070287725 dan pertumbuhan PDRB meningkat ke angka 3,99%. Ini menggambarkan bahwa ketimpangan di Kabupaten Nias Selatan mulai menurun.
Demikian pula seterusnya angka Indeks Williamson dan pertumbuhan PDRB di Kabupaten Nias Selatan mengalami penurunan dan peningkatan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis Kuznets “U-terbalik” berlaku juga di Kabupaten Nias Selatan.
Gambar 4.6 Hipotesis Kuznets di Kabupaten Nias Selatan 4.2.4 Location Quotient (LQ)
Untuk menganalisis sektor yang unggul (basis) di Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan digunakan metode analisis Location Quotient (LQ). LQ merupakan suatu perbandingan tentang besarnya peranan suatu sektor di Kabupaten Nias atau Kabupaten Nias Selatan terhadap besarnya peranan sektor tersebut di tingkat Provinsi Sumatera Utara. Maka dalam perhitungannya dibutuhkan sumbangan PDRB tiap sektor dan PDRB baik di Kabupaten Nias/Kabupaten Nias Selatan maupun Provinsi Sumatera Utara.
Dalam penelitian ini, sektor-sektor yang dimaksud dibagi ke dalam tiga sektor yakni : (a) sektor Agriculture (pertanian) yang disebut juga sektor primer, meliputi pertanian, dan pertambangan dan penggalian; (b) sektor Manufacture
Hipotesis Kuznets Kabupaten Nias Selatan
0.069 0.07 0.071 0.072 0.073 0.074 0.075 0.076 0.077 0.078 0.079 1 2 3 4 5 6 Pertumbuhan PDRB (%) In d e k s W il li a m s o n
Hipotesis Kuznets Nias Selatan
(pengolahan) yang disebut juga sektor sekunder, meliputi industri, listrik, gas dan air minum, dan bagunan; (c) sektor Services (jasa/pelayanan) yang disebut sektor tersier, meliputi perdagangan, hotel, restoran, pengangkutan dan konomunikasi, jasa keuangan, dan jasa-jasa lainnya.
Dari hasil perhitungan nilai koefisien LQ, maka sektor-sektor akan dikategorikan ke dalam sektor basis (unggul) atau sektor non basis (tidak unggul). Suatu sektor dikatakan basis/unggul apabila sektor tersebut memiliki nilai koefisien LQ > 1, yang sekaligus mengindikasikan bahwa sektor tersebut merupakan sektor yang potensial (unggul) untuk dikembangkan dalam upaya peningkatan pertumbuhan dan pembangunan ekonomi baik di Kabupaten Nias/Kabupaten Nias Selatan. Sedangkan suatu sektor dikatakan non-basis (tidak unggul) apabila sektor tersebut memiliki nilai koefisien LQ < 1, yang mengindikasikan bahwa sektor tersebut kurang potensial (unggul) untuk dikembangkan dalam upaya peningkatan pertumbuhan dan pembangunan ekonomi di Kabupaten Nias/Kabupaten Nias Selatan.
Berdasarkan formulasi/rumus LQ, maka ada tiga kemungkinan nilai LQ yang dapat diperoleh, yaitu :
1. Nilai LQ = 1, ini berarti bahwa tingkat spesialisasi sektor I di daerah Kabupaten Nias/Kabupaten Nias Selatan adalah sama dengan sektor yang sama dalam perekonomian Provinsi Sumatera Utara.
2. Nilai LQ < 1, ini berarti bahwa tingkat spesialisasi sektor I di daerah Kabupaten Nias/Kabupaten Nias Selatan lebih kecil dibandingkan dengan sektor yang sama dalam perekonomian Provinsi Sumatera Utara.
3. Nilai LQ > 1, ini berarti bahwa tingkat spesialisasi sektor I di daerah Kabupaten Nias/Kabupaten Nias Selatan lebih kecil dibandingkan dengan sektor yang sama dalam perekonomian Provinsi Sumatera Utara.
Dalam perhitungan nilai koefisien LQ ini, penulis menggunakan data PDRB menurut lapangan usaha ADHK 2000, kemudian mengelompokkan kesembilan lapangan usaha/sektor ini ke dalam tiga sektor lagi yaitu : Sektor Agriculture (A), Manufacture (M), dan Services (S).
Tabel 4.16 Nilai LQ Setiap Sektor di Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan, Tahun 2003-2008
Tahun
Kabupaten Nias Kabupaten Nias Selatan
Sektor Sektor A M S A M S 2003 1,5687 0,3113 1,1373 1,7435 0,3271 1,0080 2004 1,5916 0,3242 1,1204 1,7936 0,3286 0,9872 2005 1,6365 0,2858 1,1310 1,7634 0,3547 1,0002 2006 1,6770 0,2934 1,1133 1,7613 0,3718 1,0063 2007 1,6653 0,3303 1,0915 1,7643 0,3967 0,9881 2008 1,6664 0,3556 1,0633 1,7736 0,4220 0,9580 Rata-rata 1,6343 0,3168 1,1095 1,7666 0,3668 0,9913 Sumber : Hasil Data diolah Oleh Penulis
Dari tabel hasil perhitungan nilai LQ Kabupaten Nias di atas terlihat bahwa rata-rata nilai LQ sektor agriculuture (pertanian) adalah sebesar 1,6343, sektor manufacture (pengolahan) sebesar 0,3168, dan sektor services (jasa) sebesar 1,1095. Dengan demikian sektor yang merupakan sektor basis/unggul di Kabupaten Nias adalah sektor agriculture (sektor primer), kemudian disusul oleh sektor Services (sektor tersier). Sedangkam sektor manufacture (sektor sekunder) merupakan sektor non basis/tidak unggul.
Dari nilai rata-rata koefisien LQ sektor agriculture ini yang lebih dari 1 (LQ > 1), maka mengindikasikan bahwa sektor agriculture ini merupakan sektor yang potensial (unggul) untuk dikembangkan dalam upaya peningkatan pertumbuhan dan pembangunan ekonomi baik di Kabupaten Nias. Hal ini didukung juga oleh kondisi angkatan kerja di Kabupaten ini yang mana sebagian besar terserap oleh sektor ini.
Bila diperhatikan tren dari LQ sektor pertanian Kabupaten Nias ini, maka terlihat bahwa cenderung semakin meningkat setiap tahunnya. Nilai LQ yang tertinggi terjadi pada tahun 2006 yaitu sebesar 1,6770, dan nilai LQ yang terendah adalah pada tahun 2003 sebesar 1,5687. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sektor pertanian (agriculture) merupakan sektor terpenting/utama yang memimpin dalam perekonomian Kabupaten Nias.
Sektor kedua yang unggul di Kabupaten Nias adalah sektor jasa (services). Namun, bila diperhatikan tren dari LQ sektor ini, maka terlihat cenderung menurun. Nilai LQ yang tertinggi terjadi pada tahun 2003 yaitu sebesar 1,1373, dan yang terendah terjadi pada tahun 2008 sebesar 1,0633. Dari sektor jasa (tersier) ini yang lebih dominan sektor perdagangan, hotel dan restoran dengan sumbangan pada tahun 2008 sebesar Rp 453,37 miliar, kemudian disusul oleh sektor bangunan, dengan sebesar sumbangan sebesar Rp 161,61 miliar.
Sedangkan sektor manufacture merupakan sektor non-basis (tidak unggul) karena nilai rata-rata LQ-nya lebih kecil dari satu (LQ < 1). Hal ini juga ditandai oleh rendahnya kontribusi sektor ini terhadap PDRB Kabupaten Nias, yang disebabkan oleh rendahnya usaha manufacture di daerah tersebut. Pada tahun 2003-2005, nilai LQ sektor ini mengalami penurunan dari 0,3113 tahun menjadi
0,2858 pada tahun 2005. Namun dari tahun 2006-2008, nilai LQ semakin meningkat dari 0,2934 tahun 2006 menjadi 0,3556 pada tahun 2008.
Nilai LQ tertinggi sektor manufacture terjadi pada tahun 2008 yaitu sebesar 0,3556, sedangkan nilai LQ terendah yaitu 0,2858 pada tahun 2005. Rendahnya nilai LQ sektor ini menyebabkan sektor ini tidak dapat dikategorikan ke dalam sektor utama/terpenting di dalam perekonomian Kabupaten Nias, tetapi sektor ini menjadi sektor pendukung dalam pertumbuhan ekonomi Kabupaten Nias.
Untuk Kabupaten Nias Selatan, yang menjadi sektor basis/unggul adalah sektor agriculture (sektor primer), sedangkan sektor non-basis/tidak unggul adalah sektor manufacture (sektor sekunder) dan sektor services (sektor tersier). Rata-rata nilai koefisien LQ sektor pertanian di Kabupaten Nias Selatan selama tahun pengamatan adalah sebesar 1,7666, yang mana niali ini lebih tinggi dari 1 (LQ > 1). Hal ini mengindikasikan bahwa sektor agriculture ini merupakan sektor yang potensial (unggul) untuk dikembangkan dalam upaya peningkatan pertumbuhan dan pembangunan ekonomi baik di Kabupaten Nias Selatan. Sektor pertanian (primer) merupakan sektor terpenting/utama yang memimpin dalam perekonomian Kabupaten Nias Selatan, yang mana sebagian besar penduduk yang bekerja terserap di sektor pertanian ini.
Dari tabel di atas terlihat bahwa nilai LQ sektor pertanian yang tertinggi terjadi pada tahun 2004 yaitu sebesar 1,7936 dan nilai terendah adalah 1,7435 pada tahun 2003. Nilai LQ sektor ini setiap tahun cenderung konstan bahkan meningkat, hanya pada tahun 2004-2006 mengalami penurunan yaitu dari angka 1,7936 tahun 2004 ke angka 1,7613 pada tahun 2006.
Sektor manufacture memiliki rata-rata nilai LQ sebesar 0,3668. Angka ini lebih kecil dari 1 (LQ < 1), sehingga sektor ini tidak menjadi sektor yang unggul (non-basis). Hal ini memberi arti bahwa sektor ini tidak menjadi sektor yang utama di dalam perekonomian Kabupaten Nias Selatan, tetapi sektor ini menjadi pendukung dalam pertumbuhan ekonomi.
Meskipun sektor manufacture (sekunder) tidak menjadi sektor basis (unggul) dalam perekonomian Kabupaten Nias Selatan, namun bila diperhatikan tren perkembangannya dari tahun ke tahun selama tahun pengamatan, terlihat bahwa nilai LQ sektor ini semakin meningkat. Nilai LQ terendah adalah 0,3271 pada tahun 2003, dan nilai LQ tertinggi adalah 0,4220 pada tahun 2008. Ini memungkinkan bahwa jika sektor ini terus dimaksimalkan, maka sektor ini pada suatu saat pada tahun tertentu akan menjadi sektor basis (unggul).
Sektor services (tersier) pada tahun-tahun tertentu memiliki nilai koefisien LQ yang lebih tinggi dari 1 (LQ > 1) seperti pada tahun 2003, 2005, dan 2006. Namun jika diambil rata-rata nilai LQ sektor ini dalam kurun tahun pengamatan, terlihat bahwa nilai koefisien LQ lebih kecil dari 1 (LQ < 1). Sehingga dalam kurun waktu pengamatan ini, sektor services bukan merupakan sektor yang unggul (non-basis). Untuk itu diperlukan upaya untuk memaksimalkan sektor ini sehingga menjadi sektor yang unggul.
Dari tabel di atas terlihat bahwa nilai LQ sektor ini mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun (naik-turun), namun secara keseluruhan cenderung menurun. Pada tahun 2003-2004 mengalami penurunan dari angka 1,0080 ke angka 0,9872. Kemudian dari tahun 2005-2006 mengalami peningkatan dari angka 1,0002 ke angka 1,0063. Namun pada tahun berikutnya, yaitu tahun 2007-2008 mengalami
penurunan dari angka 0,9881 ke angka 0,9580. Nilai LQ tertinggi terjadi pada tahun 2003 yaitu 1,0080, dan nilai LQ terendah adalah 0,9580 pada tahun 2008.
BAB V