Hipotesis Penelitian

Dalam dokumen Hubungan Antara Happiness dengan Kualitas Hidup pada Pasien Kanker (Halaman 85-98)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

E. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan sebelumnya, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada hubungan antara

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dewasa ini, masalah kesehatan merupakan topik yang cukup sering diperbincangkan. Kesehatan juga merupakan hal penting yang harus dijaga agar dapat menjalani aktivitas sehari-hari. Bila seseorang menderita sakit, banyak hal yang terganggu untuk dilakukan dalam hidupnya. Misalnya, kehilangan kesempatan bersosialisasi dengan orang-orang disekitarnya dan keluarga, bahkan dapat kehilangan kesempatan untuk bekerja. Masalah kesehatan yang sering dijumpai saat ini adalah penyakit kronis atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan (terminally illness), salah satunya adalah kanker.

Kanker adalah suatu proses pelipatgandaan sel yang tidak terkendali dan menghasilkan tumor yang menyerang jaringan-jaringan yang ada didekatnya dan bermetastatis (Kiple, 2003). Dengan demikian, kanker tidak mengacu pada penyakit tunggal, tetapi puluhan bentuk penyakit yang berbagi karakteristik tersebut (ACS, 2009). Karakteristik penting dari sel kanker adalah bahwa mereka tidak menempel satu sama lain sekuat sel normal. Sebagai akibatnya, mereka mungkin terpisah dan menyebar ke bagian lain dari tubuh melalui darah dan sistem getah bening (Sarafino, 2011).

Data WHO tahun 2013 menyatakan bahwa terdapat insiden kanker sebanyak 14,1 juta kasus pada tahun 2012. Sedangkan jumlah kematian 8,2 juta pada tahun 2012. Di Indonesia, prevalensi penyakit kanker juga cukup tinggi. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, prevalensi kanker di Indonesia adalah sekitar 330.000 orang. Kanker menjadi penyebab kematian nomor dua di dunia sebesar 13% setelah penyakit kardiovaskular (Depkes RI, 2014).

Kanker dapat menimpa semua orang, pada semua bagian tubuh, dan pada semua golongan umur. Menurut Sarafino (2011), prognosis pada kanker tergantung pada seberapa cepat kanker tersebut terdeteksi dan lokasinya. Kanker disebabkan oleh interaksi dari faktor genetik, lingkungan, perilaku, dan psikososial (Foulkes, 2008). Mulai dari saat terdiagnosa mengidap kanker, menjalani treatment baik alternatif maupun medis, sampai pasrah dan tidak melakukan apapun terhadap penyakit tersebut, pasien kanker tetap merasakan efek dari penyakitnya baik fisik maupun psikologis (Sarafino, 2011).

Secara fisik, pasien kanker mengalami nyeri. Seumur hidupnya pasien akan merasakan nyeri bahkan nyerinya akan bertambah seiring meningkatnya stadium (Yulianta, 2010). Hal ini didukung oleh hasil penelitian Melzack & Wall (dalam Sarafino, 2011) yang menyatakan bahwa ketika penyakit berkembang, dapat menghasilkan rasa sakit dengan intensitas tinggi karena tumor tersebut menekan jaringan normal dan saraf, serta

Efek fisik yang dirasakan tersebut tentunya akan mempengaruhi kondisi psikologis pasien. Pasien kanker yang mengalami disable secara fisik atau mengalami nyeri yang berkepanjangan sering sekali ditemukan lebih depresi (Burish et al., 1987; Spiegel, Sands, & Koopman, 1994). Menurut Kubler-Ross (1969) ada lima tahapan bagi individu mengatasi atau berhadapan dengan kedukaan, terutama saat didiagnosa memiliki penyakit kronis yaitu, denial, anger, bargaining, depression, dan acceptance. Hal tersebut didukung pula dengan pernyataan Hawari (2004) yang menyatakan bahwa ada tiga fase reaksi emosional penderita ketika diberitahu bahwa penyakit yang dideritanya adalah kanker yang sudah lanjut. Fase pertama, penderita akan merasakan shock mental kemudian diliputi oleh rasa takut dan depresi. Muncul reaksi penolakan, setelah fase ini berlalu, akhirnya penderita akan sadar dan menerima kenyataan bahwa jalan hidupnya telah berubah.

Kanker juga menciptakan sebuah stresor yang unik bagi penderitanya dan keluarga (Sarafino, 2011). Kata "kanker" itu sendiri menakutkan banyak orang dan mereka sering menyatakan bahwa kematian sebagai akibat dari kanker. Oleh karena itu, kerap kali pasien kanker dikenal sebagai seorang yang menderita penyakit mematikan (Sarafino, 2011). Kesedihan dan kekhawatiran akan masa depan merupakan respon yang kerap timbul, karena adanya suatu arti tertentu yang melekat pada penyakit kanker, yakni ketakutan akan ketidakmampuan atau kematian (Holland dan Evcimen, 2009; Lebel et al., 2007).

Menurut Lazslo (dalam Sarafino, 2011), penyakit kanker dapat menyebabkan kematian secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung, kanker menyebar dari waktu ke waktu ke organ vital, seperti otak, hati, atau paru-paru; kemudian bersaing untuk mengambil sebagian besar nutrisi yang dibutuhkan jaringan organ untuk bertahan hidup, sehingga menyebabkan organ akan gagal. Kanker membunuh secara tidak langsung dalam dua cara: penyakit itu sendiri melemahkan korban, dan yang kedua penyakit dan pengobatan dapat mengganggu nafsu makan dan kemampuan pasien. Bagi keluarga, memiliki anak atau saudara yang menderita kanker bukan hal yang mudah untuk dijalani. Keluarga harus memberikan waktu, tenaga, serta finansial untuk perawatan pasien kanker tersebut.

Angka harapan kesembuhan penyakit kanker sangat kecil, pengobatan mungkin terus dilakukan tetapi bukan untuk mengobati penyakitnya melainkan hanya untuk mengurangi atau menghilangkan simptom (Brunner & Suddarth, 2002). Keputusan menjalani pengobatan yang dibuat pasien kanker bersifat kompleks. Mereka harus menyeimbangkan antara manfaat kesehatan yang diperoleh dengan efek samping yang distressing dan dapat menyebabkan masalah penyesuaian jika hasil tidak seperti yang diharapkan (Stanton et al, 1998).

Sarafino (2011) menyatakan bahwa terdapat dua efek pengobatan kanker yang sangat sulit. Pertama, kebanyakan orang yang menjalani radiasi berulang atau kemoterapi mengalami kelelahan yang berat dan

Kedua, kemoterapi dan radiasi sering menghasilkan periode mual dan muntah selama dan setelah setiap perawatan. Mual dan muntah dapat memiliki efek yang serius. Misalnya, mereka bisa menghentikan pengobatan dan hal tersebut bisa memperpendek hidup mereka. Sarafino (2011) juga menyatakan bahwa pengobatan kanker tidak hanya bisa tidak menyenangkan, namun dapat juga menjadi kompleks dan menuntut. Kebanyakan pasien kanker juga harus minum obat di rumah dan banyak dari mereka yang harus sering kembali ke klinik untuk uji laboratorium, menjaga asupan makanan mereka, atau mematuhi perubahan pola makan dan perubahan lainnya dalam kebiasaan hidup. Kepatuhan terhadap anjuran medis tergantung pada dan mempengaruhi faktor psikologis dalam kehidupan pasien.

Reaksi psikologis dominan yang ditunjukkan pasien kanker adalah emosi-emosi negatif seperti rasa tidak berdaya, kecemasan tentang apa yang akan terjadi, sedih, marah, putus asa, dan sebagainya (Oetami et al, 2014). Jika hal tersebut dibiarkan, pasien kanker akan mengalami stres yang berkepanjangan. Menurut Sarafino (2011), stres dan penyakit sangat erat hubungannya. Jika stres memainkan peran timbal balik dalam pengembangan kanker, hal tersebut dapat terjadi dengan mempengaruhi kemampuan sistem imun untuk memerangi penyakit ini (Antoni et al., 2006). Emosi-emosi negatif tersebut dapat berdampak pada kesehatan pasien.

Sebuah studi John Hopkins yang diterbitkan pada tahun 2012 (dalam Deppe, 2013) menunjukkan bahwa orang dengan gangguan berpikir depresi 2,6 kali lebih mungkin untuk mengembangkan sel kanker, dua kali lebih

mungkin untuk menderita cedera yang membutuhkan rawat inap, dan 4,5 kali lebih mungkin untuk meninggal akibat cedera mereka. Selain itu, emosi negatif juga dapat mempengaruhi motivasi individu untuk menjalani

treatment (Sarafino, 2011). Pasien kanker dapat menolak untuk menjalani

pengobatan yang akhirnya berakibat pada kesehatannya.

Masalah emosional yang dialami oleh pasien kanker mungkin tampak tinggi, tetapi perlu diingat bahwa rawat inap itu sendiri juga meningkatkan kesulitan emosional pasien (Sarafino, 2011). Selain masalah emosional, pasien kanker juga mengalami masalah psikososial. Menurut Sarafino (2011), pasien kanker banyak mengalami masalah psikososial yang berasal dari perubahan dalam hubungan mereka dengan anggota keluarga dan teman-teman. Pasien mungkin menarik diri dari kontak sosial karena mereka merasa canggung secara sosial atau malu dengan kondisi mereka (Bloom, Kang, & Romano, 1991). Selain itu, kondisi fisik pasien dan pengobatan dapat mengganggu mereka bertemu teman-teman dan keluarga (Lepore & Helgeson, 1998; Manne, 1999). Orang juga mungkin mulai menghindari pasien, misalnya, karena mereka mungkin khawatir bahwa mereka akan mengatakan hal yang salah di depan pasien (Sarafino, 2011; Wortman & Dunkel-Schetter, 1979; Lepore et al 2008).

Meskipun demikian, tidak semua penderita kanker merasa hopeless dan depresi. Ada juga penderita kanker yang dapat bangkit dan menerima keadaan dirinya dan dapat menjalankan kehidupannya dengan baik. Bahkan

keyakinan bahwa penyakitnya hanya bersifat sementara dan dapat disembuhkan (Shally, 2013). Keseimbangan kondisi psikis pasien juga sangat berperan penting dalam proses pengobatan (Purwati, dalam Karyono et al., 2008).

Strategi penanganan stres yang baik juga dapat menurunkan tingkat stres dan pasien akan mengalami emosi positif seperti perasaan bahagia dan keinginan yang kuat untuk sembuh, serta keberadaan emosi negatif tidak akan muncul dalam skala yang besar (Prokop, dalam Karyono et al., 2008). Terdapat dua penanganan stress yang kerap dijumpai pada pasien kanker, yaitu active problem-focused dan avoidance coping. Orang-orang dengan kanker yang mengatasi masalah dengan menggunakan strategi active

problem-focused menunjukkan penyesuaian yang lebih baik setelah akhir

pengobatan daripada mereka yang menggunakan avoidance coping. Sebaliknya, mereka yang menyalahkan diri sendiri karena penyakit mereka mengalami lebih banyak distress (Bellizzi & Blank, 2006; Roesch et al., 2005; Friedman et al., 2007). Selain itu, pasien kanker yang lebih terlibat saat membuat keputusan untuk menjalani pengobatan dan memiliki kontrol diri yang baik ditemukan memiliki tingkat stress yang tidak terlalu tinggi (Andersen et al., 2009; Barez et al., 2009). Meskipun demikian, pasien kanker yang mengalami emosi positif tidak dapat dipastikan akan memiliki kualitas hidup yang positif pula. Hal ini dapat dipengaruhi oleh kondisi kesehatan pasien yang tidak stabil dibandingkan orang sehat pada umumnya (Brown, 1996).

Efek yang dirasakan pasien kanker dari penyakitnya tersebut, baik secara fisik maupun psikologis, tentunya akan berdampak pada keberfungsian pasien kanker dalam menjalani kehidupan. Keberfungsian pasien kanker tersebut pada akhirnya akan berpengaruh pada kualitas hidupnya. Kualitas hidup menurut World Health Organization Quality of Life (WHOQOL) Group (dalam Rapley, 2003), didefinisikan sebagai persepsi individu mengenai posisi individu dalam hidup dalam konteks budaya dan sistem nilai dimana individu hidup dan hubungannya dengan tujuan, harapan, standar yang ditetapkan seseorang. Terdapat empat aspek yang menentukan apakah hidup seseorang berkualitas atau tidak, antara lain aspek psikologis, sosial, fisik dan lingkungan. Aspek yang dominan dalam pembentukan kualitas hidup penderita kanker adalah aspek psikologis, meliputi spiritualitas, dukungan sosial, perasaan positif (Prastiwi, 2012).

Sikap bertahan dan tidak putus asa yang yang ditunjukkan beberapa pasien kanker menggambarkan kualitas hidup positif yang dimilikinya. Pasien yang lebih terlibat dalam keputusan tentang pengobatan dan tindak lanjut perawatan, dan mereka yang memiliki level tinggi pada penerimaan kontrol, melaporkan lebih sedikit mengalami distress (Andersen et al., 2009). Pasien yang mengalami depresi pada saat diagnosis sering memiliki kualitas hidup yang rendah di antara cancer survivor lainnya (Howren et al., 2010).

emosional, memiliki kesehatan fisik dan mental yang baik, memiliki kemampuan fisik untuk melakukan hal-hal yang ingin dilakukan, memiliki hubungan yang baik dengan teman dan keluarga, dan sebagainya (Bowling, 2005). Pemahaman kualitas hidup yang positif akan menentukan sikap subyek selanjutnya. Hal ini dipengaruhi oleh penerimaan diri yang baik, citra tubuh positif, harga diri, hubungan sosial, lingkungan dan spiritualitas subyek.

Menurut Brown (1996), terdapat dua faktor yang dapat mempengaruhi kualitas hidup seseorang, yaitu faktor lingkungan dan pribadi. Faktor lingkungan terdiri dari lingkungan makro dan lingkungan sekitar, sedangkan faktor pribadi terdiri dari faktor biologis dan psikologis. Faktor psikologis meliputi kebiasaan, kognisi, emosi, persepsi, dan pengalaman. Selain itu, faktor psikologis lainnya yang tidak kalah penting mempengaruhi kualitas hidup adalah happiness.

Kebahagiaan (happiness) menurut Seligman (2005) merupakan konsep yang mengacu pada emosi positif yang dirasakan individu serta aktivitas positif yang tidak mempunyai komponen perasaan sama sekali. Selanjutnya, Diener et al (2008) menjelaskan happiness merupakan evaluasi kognitif dan afektif seseorang terhadap hidupnya.

Menurut Myers (2002), emosi-emosi positif seperti optimis, memiliki kontrol diri, dan menghargai dirinya sendiri merupakan karakteristik orang bahagia. Penelitian yang menghubungkan antara kebahagiaan dengan kesehatan cukup berkembang baik di luar negeri maupun dalam negeri. Hasil

penelitian Veenhoven (2007) menyatakan bahwa kebahagiaan dapat membantu kelancaran pengobatan orang sakit karena dapat meningkatkan sistem imun, serta dapat juga melindungi orang-orang yang sehat dari penyakit. Secara langsung, kebahagiaan memang tidak menyembuhkan penyakit serius, melainkan hal tersebut muncul untuk melindungi kita supaya tidak rentan jatuh sakit dan memperparah penyakit (Veenhoven, 2007). Pernyataan Veenhoven tersebut didukung oleh hasil penelitian Karyono, et al (2008) yang menyebutkan bahwa apabila emosi yang sering muncul adalah emosi positif seperti kebahagiaan, pasien kanker akan lebih mampu bertahan hidup serta dapat menjalin hubungan yang positif dengan orang lain. Selanjutnya, pasien juga akan lebih mampu menjalani proses pengobatan.

Hasil penelitian Wrosch (dalam Deppe, 2013) juga menyatakan bahwa emosi yang destruktif seperti kepedihan dan kemarahan dapat menimbulkan kerusakan pada sistem tubuh kita, secara negatif mempengaruhi metabolisme, kekebalan dan respon organ, serta dapat mengantarkan penyakit. Selanjutnya Eliaz (dalam Deppe, 2013) menambahkan bahwa pemikiran yang pesimis dan stres memainkan peran aktif dalam perkembangan berbagai kanker.

Penelitian mengenai kualitas hidup bukanlah hal yang baru dalam perkembangan ilmu pengetahuan saat ini. Cukup banyak penelitian yang menggambarkan kualitas hidup pada perkembangan lansia maupun pada individu yang mengalami sakit fisik atau psikologis. Saat ini, penelitian yang menghubungkan antara happiness dengan kualitas hidup juga mulai

secara umum. Penelitian Suh (2014) mengenai hubungan antara kualitas hidup dan happiness pada perkembangan kehidupan di Korea Selatan dan didapatkan hasil bahwa happiness sangat erat kaitannya dengan perkembangan ekonomi yang pada akhirnya perkembangan ekonomi tersebut dapat meningkatkan kualitas hidup.

Berangkat dari pemaparan di atas peneliti tertarik untuk mengetahui bagaimana hubungan antara happiness dengan kualitas hidup pasien kanker. B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan sebelumnya, maka rumusan masalah penelitian ini adalah apakah terdapat hubungan antara

happiness dengan kualitas hidup pada pasien kanker?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara happiness dengan kualitas hidup pada pasien kanker.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat:

a. Memberi informasi untuk pengembangan ilmu Psikologi, khususnya di bidang Psikologi Klinis, terutama happiness dan kualitas hidup pada pasien kanker.

b. Memberikan masukan yang bermanfaat untuk penelitian-penelitian yang berhubungan dengan happiness dan kualitas hidup pada pasien kanker.

Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat: a. Pada pasien kanker

Hasil penelitian ini diharapkan memberikan informasi bagi pasien kanker bahwa kebahagiaan (happiness) sangat erat hubungannya dengan kesehatan fisik dan psikologis pasien, dimana kesehatan fisik dan psikologis merupakan aspek penting yang dapat meningkatkan kualitas hidupnya.

b. Pada penelitian selanjutnya

Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan data empirik dari happiness dan kualitas hidup pada pasien kanker sehingga penelitian ini diharapkan untuk dapat dijadikan acuan untuk penelitian selanjutnya.

E. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan proposal penelitian ini adalah: Bab I : Pendahuluan

Bab ini menguraikan tentang latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.

Bab II : Landasan Teori

Bab ini menguraikan tentang tinjauan teoritis yang menjadi acuan dalam pembahasan permasalahan. Memuat landasan teori tentang

Dalam dokumen Hubungan Antara Happiness dengan Kualitas Hidup pada Pasien Kanker (Halaman 85-98)