• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA, PENDEKATAN

D. Hipotesis

Diduga ada hubungan antara karakteristik internal dan eksternal petani dengan persepsi petani terhadap metode System of Rice Intensification (SRI).

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Metode Penelitian

Metode dasar yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analitis. Deskriptif analisis adalah penelitian berdasarkan pada pemecahan masalah yang aktual, tujuan penelitian deskriptif untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta, sifat serta hubungan antara fenomena yang diselidiki (Nazir, 1993).

Metode pelaksanaan penelitian dilakukan dengan survei. Metode survei adalah cara pengumpulan data dengan sejumlah unit atau individu dalam jangka waktu yang bersamaan (Surachmad, 1994).

B. Metode Pengambilan Sampel 1. Sampel Kecamatan

Pemilihan lokasi penelitian dilakukan dengan secara sengaja (metode purposive), yaitu suatu teknik pemilihan lokasi yang berdasarkan pertimbangan tertentu sesuai dengan tujuan penelitian (Surachmad, 1994).

Kecamatan Ngombol dipilih sebagai lokasi penelitian dengan pertimbangan bahwa kecamatan ini merupakan daerah yang telah menerapkan program SRI padi organik sejak tahun 2004. Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Purworejo (2010) diketahui bahwa luas lahan untuk padi organik di Kecamatan Ngombol paling luas

30

yaitu, 22 Ha yang terdiri dari 4 desa (Ringgit, Wasiat, Mendiro dan Kaliwungu).

Tabel 1

Data Pengembangan Padi Organik Di Kabupaten Purworejo No Nama

Kecamatan

Nama Desa Luas Lahan (Ha)

Total (Ha)

1. Ngombol Ringgit 10 22

Wasiat 5

Mendiro 5

Kaliwungu 2

2. Purwodadi Ketangi 1 2

Jenarkidul 1

3. Purworejo Mranti 1 7

Semawung 6

4. Loano Sedayu 6 6

5. Pituruh Girigondo 2 4

Sikambang 2

Sumber : Data Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Purworejo (2010)

2. Sampel Desa

Penentuan sampel desa dilakukan secara purposive. Sampel desa yang dipilih adalah Desa Ringgit Kecamatan Ngombol dengan pertimbangan bahwa di Desa Ringgit terdapat empat kelompok tani yang mendapatkan bimbingan intensif dari Dinas Pertanian Kabupaten Purworejo sejak tahun 2004 dalam menerapkan SRI.

Berdasarkan Tabel 2 diketahui bahwa Desa Ringgit memiliki total luas lahan padi organik dengan metode SRI 40,0 Ha tetapi produksinya paling tinggi. Hal ini disebabkan petani telah lama menerapkan SRI sehingga produksi lebih tinggi dibandingkan desa yang lain. Desa–desa yang lain relatif baru dalam pengembangan padi organik dengan metode SRI.

Tabel 2

Data Desa Di Kecamatan Ngombol yang telah Mengembangkan Padi Organik Dengan Metode SRI

2. Wasiat 13 175,5 40,0 6,2

3. Kaliwungu Lor 1 76,0 40,0 6,5

4. Ngombol 4 81,665 20,0 6,5

5. Tunjungan 3 88,0 6,0 6,1

6. Tanjungrejo 5 69,0 4,0 6,3

7. Kuwukan 3 46,0 5,0 6,3

8. Jeruken 3 48,985 10,0 6,4

9. Klandaran 1 19,0 5,0 6,1

10. Susuk 2 58,0 5,0 6,3

11. Kedondong 2 31,673 2,0 6,3

12. Kalitanjung 4 60,103 8,0 6,1

13. Wonosari 6 176,310 5,0 6,4

14. Rasukan 3 61,0 5,0 6,1

Sumber : Unit Pelaksanaan Teknis Balai Penyuluhan Wilayah Kecamatan Ngombol (2011)

3. Sampel Petani

Petani yang dijadikan sampel adalah anggota kelompok tani yang melaksanakan SRI dan yang kembali ke metode konvensional. Desa Ringgit terdapat empat kelompok tani yaitu Kelompok Tani Lestari, Kelompok Tani Lestari 1, Kelompok Tani Maju Lancar dan Kelompok Tani Margodadi. Keempat kelompok tani ini pernah mendapatkan bimbingan intensif dari Dinas Pertanian dalam menerapkan metode SRI. Masing-masing kelompok tani beranggotakan 20 orang sehingga populasi sebanyak 80 orang.

Populasi petani yang melakukan budidaya padi dengan metode SRI sebanyak 19, dan anggota yang kembali ke metode konvensional sebanyak 61.

Tabel 3

Data Anggota Kelompok Tani yang Menggunakan Metode SRI dan yang Kembali ke Konvensional

No Nama Kelompok Tani Populasi SRI Konvensional

1. Lestari 20 6 14

2. Lestari I 20 4 16

3. Maju Lancar 20 5 15

4. Margodadi 20 4 16

Jumlah 80 19 61

Sumber : Data dari Masing-masing Kelompok Tani (2011)

Pengambilan sampel petani menggunakan rumus (Rakhmat, 1995) : N

n = ---Nd2+ 1 Keterangan : n = jumlah sampel N= jumlah petani d = presisi

Jumlah sampel petani yang menerapkan SRI : N = 19 orang

d = 12 %

N 19 19

n = --- = --- = --- = 14,918 Nd2+ 1 19 (0,12)2+ 1 1,2736

Jadi sampel petani yang menerapkan SRI adalah 15 orang.

Jumlah sampel petani yang pernah menerapkan SRI dan kembali ke metode konvensional:

Jadi sampel petani yang pernah menerapkan SRI tetapi kembali ke konvensional adalah 15 orang. Jadi total sampel penelitian adalah 30 orang.

Pengambilan sampel petani pada tiap kelompok tani menggunakan proporsional stratified random sampling. Pengambilan sampel petani yang diambil dari kelompok tani mengunakan simple random sampling. Jumlah sampel petani pada masing-masing kelompok tani disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4

Jumlah Sampel Petani yang Menggunakan Metode SRI dan yang Kembali ke Konvensional

No Kelompok Tani Populasi SRI Sampel SRI

Konvensional Sampel Konvensional

1. Lestari 20 6 6/19x15=5 14 14/61x15=3

2. Lestari I 20 4 4/19x15=3 16 16/61x15=4

3. Maju Lancar 20 5 5/19x15=4 15 15/61x15=4

4. Margodadi 20 4 4/19x15=3 16 16/61x15=4

Jumlah 80 19 15 61 15

Sumber : Analisis Data Primer (2011)

C. Metode Pengumpulan Data

1. Wawancara, yaitu metode pengumpulan data dengan melakukan wawancara dengan petani responden berdasarkan kuisioner tertutup, yaitu daftar pertanyaan beserta pilihan jawabannya.

2. Observasi, yaitu pengumpulan data dengan cara melakukan pengamatan langsung terhadap objek yang diteliti untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang keadaan sebenarnya.

D. Jenis Data 1. Data Primer

Data ini diperoleh langsung dari objek penelitian (petani responden) dengan cara wawancara berdasarkan daftar pertanyaan (kuisioner) yang telah disiapkan. Data meliputi : identitas responden, persepsi petani terhadap pola SRI maupun yang konvensional.

2. Data Sekunder

Data ini diperoleh melalui pencatatan dari instansi atau kantor dan lembaga yang berkaitan dengan objek penelitian, meliputi : data monografi kecamatan dan desa yang mencakup keadaan umum Desa Ringgit Kecamatan Ngombol : lokasi, topografi, keadaan penduduk dan keadaan petani.

E. Pembatasan Masalah dan Asumsi Penelitian.

1. Batasan Masalah

a) Petani responden yang dijadikan sampel dalam penelitian ini adalah petani yang mengusahakan padi sawah yang menerapkan metode SRI dan yang pernah menerapkan metode SRI.

b) Data produksi yang digunakan adalah data MT I (Oktober 2011-Maret 2012)

2. Asumsi Penelitian

a) Faktor-faktor alam, seperti : kondisi iklim, sifat dan kesuburan tanah diasumsikan sama.

b) Kemampuan petani dalam melaksanakan teknik budidaya diasumsikan sama.

F. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel

1. System Rice Intensification (SRI) merupakan sistem produksi pertanian yang holistik dan terpadu, dengan mengoptimalkan kesehatan dan produktivitas agroekosistem secara alami sehingga mampu menghasilkan pangan dan serat yang cukup berkualitas berkelanjutan.

2. Persepsi petani adalah pandangan atau penilaian petani terhadap metode SRI.

3. Karakteristik internal dan eksternal petani adalah beberapa ciri petani yang meliputi umur, pendidikan formal, pendapatan dan pengalaman bertani, luas lahan, interaksi dengan petani lain dan intensitas mengikuti pelatihan.

a. Umur adalah usia jumlah tahun sejak responden dilahirkan sampai saat menjadi responden dalam penelitian.

b. Pendidikan Formal adalah lamanya responden duduk di bangku sekolah formal yang terakhir ditempuh responden.

c. Tingkat Pendapatan adalah jumlah pendapatan yang diterima petani dari usaha tani padi sawah yang diperoleh responden pada MT Oktober 2011-Maret 2012.

d. Luas Lahan adalah hamparan areal tanah yang digarap responden yang dinyatakan dalam hektar (Ha).

e. Pengalaman bertani adalah lamanya (tahun) responden bekerja di bidang pertanian sampai saat diwawancara.

f. Interaksi dengan petani lain adalah hubungan yang menimbulkan proses komunikasi, interaksi yang dimaksud adalah aksi dan reaksi yang membahas masalah pertanian.

g. Intensitas mengikuti pelatihan adalah jumlah pelatihan budidaya padi metode SRI yang pernah diikuti oleh petani.

4. Persepsi petani terhadap metode SRI adalah penilaian dan pernyataan responden tentang penerapan metode SRI yang meliputi : keuntungan relatif (relative advantage), tingkat kesesuaian (compatibility), tingkat kerumitan (complexity), tingkat kemudahan untuk dicoba (triability), dan mudah diamati atau dirasakan (observability).

a. Keuntungan Relatif (relative advantage), adalah tingkatan di mana suatu ide baru dapat dianggap suatu yang lebih baik daripada ide-ide yang ada sebelumnya dan secara ekonomis menguntungkan.

b. Tingkat Kesesuaian (compatibility), menunjukkan kesesuaian inovasi budidaya padi dengan metode SRI dengan nilai-nilai, kepercayaan masyarakat, kebiasaan yanag telah ada, pengalaman sebelumnya dan kebutuhan petani.

c. Tingkat Kerumitan (complexity), menggambarkan tingkat kesukaran dari inovasi budidaya padi dengan metode SRI. Indikator tingkat kerumitan adalah tingkat kesukaran memahami dan melaksanakan inovasi tersebut.

d. Tingkat Kemudahan Dilihat Hasilnya (observability), menggambarkan derajat kemungkinan hasil inovasi dari budidaya padi dengan metode SRI dapat diamati.

G. Metode Analisis 1. Analisis Deskriptif

Analisis deskriptif dilakukan untuk mengetahui karateristik petani yang meliputi umur, pengalaman bertani, pendidikan, tingkat pendapatan, status lahan, luas lahan, media informasi dan interaksi dengan petani lain.

2. Analisis rataan skor untuk melihat persepsi petani terhadap inovasi untuk budidaya padi dengan metode SRI.

Alat ukur penelitian ini adalah kuisioner, dengan tiap komponen pertanyaan atau pernyataan diberi skala dengan skor 1 sampai 3 yaitu setuju bobot 3; netral bobot 2; tidak setuju bobot 1.

3. Analisis korelasi

Data primer yang terkumpul diolah dengan memakai test statistik Rank Spearman dengan menggunakan program komputer SPSS for windows.

Rumus korelasi peringkat Rank Spearman (Siegel, 1992) yang digunakan adalah sebagai berikut :

ݎ= 1 −6 ∑࢏ୀ૚

݊(݊− 1) Keterangan :

d = Selisih dua jenjang untuk indikator yang sama n = Banyak jenjang

rs = Koefisien korelasi rank Spearman

4. Pengujian Hipotesis

Hipotesis : Diduga ada hubungan antara karakteristik internal dan eksternal petani dengan persepsi petani terhadap metode budidaya padi System of Rice Intensification (SRI).

Ho : Tidak ada hubungan antara karakteristik internal dan eksternal petani dengan persepsi petani terhadap metode budidaya padi System of Rice Intensification (SRI).

Ha : Ada hubungan antara karakteristik internal dan eksternal petani dengan persepsi petani terhadap metode budidaya padi System of Rice Intensification (SRI).

Pengambilan Keputusan :

Keeratan hubungan antara karakteristik internal dan eksternal petani dengan persepsi petani terhadap metode budidaya padi System of Rice Intensification (SRI) dibagi dalam empat area (Colton dalam Hastono dalam Alisa, 2007) :

1) Tidak ada hubungan/hubungan sangat lemah (rs = 0,00 – 0,25) 2) Hubungan cukup erat (rs = 0,26 – 0,50)

3) Hubungan erat (rs = 0,51 – 0,75)

4) Hubungan sangat erat (rs = 0,76 – 1,00)

Berdasarkan nilai keeratan hubungan tesebut maka :

Ho diterima dan Ha ditolak jika signifikansi rs hitung > 0,05 Ha diterima dan Ho ditolak jika signifikansi rs hitung < 0,05 Tingkat signifikasi yang digunakan adalah α 0,05 dan α 0,01

H. Jadwal Penelitian

NO. KEGIATAN MINGGU

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

1 Survei

2 Penyusunan Proposal Sampai Pengesahan 3 Pelaksanaan

Penelitian 4 Analisis Data 5 Penyusunan Laporan 6 Ujian Skripsi dan

Pengesahan

BAB IV

KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

A. Letak Geografis

Desa Ringgit merupakan salah satu desa diantara 57 desa yang secara administratif terletak di Kecamatan Ngombol, Kabupaten Purworejo. Jarak dari pusat pemerintahan kecamatan kurang lebih 4 km, jarak dari pusat pemerintahan kabupaten kurang lebih 20 km. Desa Ringgit secara administrasi terbagi menjadi 4 RT dan 1 RW. Wilayah Desa Ringgit mempunyai batas-batas sebagai berikut : Batas utara : Desa Susuk

Batas selatan : Desa Kaliwungu Kidul Batas barat : Desa Kaliwungulor Batas timur : Desa Tunjungan

Desa Ringgit secara topografi adalah daerah dataran rendah, terletak pada ketinggian 7,5 m diatas permukaan air laut, curah hujan rata-rata 24,5 mm per hari, dan suhu rata-rata hari berkisar antara 30o C. Desa Ringgit memiliki luas wilayah sebesar 107,8 ha, terdiri dari lahan sawah, pekarangan, jalan, pemukiman, bangunan umum, pekuburan dan sarana prasarana umum lain.

Tabel 5

Tata Guna Lahan dan Luas Desa Ringgit

No Tata Guna Lahan Luas (ha) Persentase (%)

1. Sawah dan ladang 81,0 75,1

2. Jalan 2,0 1,8

3. Pekarangan 17,0 15,7

4. Pemukiman/perumahan 5,5 5,1

5. Bangunan umum 0,476 0,4

6. Pekuburan 0,625 0,5

7. Penggunaan lain-lain 1,199 1,1

Jumlah 107,8 100

Sumber : Buku Profil Desa Ringgit Tahun 2012

41

Luas lahan sawah di Desa Ringgit adalah 81,0 ha dan selalu ditanami padi.

Penanaman padi sebanyak 2 kali dalam satu tahun. Hanya sebagian petani Desa Ringgit yang mau melakukan pergiliran di dalam melakukan budidaya tanaman di lahan sawah, dikarenakan mereka mampu menyedot air dalam tanah dengan menggunakan pompa air untuk mencukupi kebutuhan tanaman.

B. Penduduk

1. Penduduk Menurut Umur

Penduduk Desa Ringgit keseluruhan 739 orang terdiri dari 367 orang laki-laki dan 372 orang perempuan, jumlah kepala keluarga 195. Penduduk Desa Ringgit sebagian besar bekerja sebagai petani, baik petani penggarap maupun buruh tani, serta sektor lain. Jumlah dan komposisi penduduk dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6

Jumlah dan Komposisi Penduduk Desa Ringgit

Sumber : Buku Profil Desa Ringgit Tahun 2012 2. Penduduk Menurut Jenis Kelamin

Keadaan penduduk menurut jenis kelamin akan berkaitan dengan penentuan sex rasio yaitu perbandingan jumlah penduduk laki-laki dan perempuan. Keadaan penduduk dapat dilihat pada Tabel 7. Berdasarkan Tabel

No Kelompok Umur (tahun) Jumlah (orang) Persentase (%)

1. 0-3 32 4,30

2. 4-6 36 4,80

3. 7-12 67 9,00

4. 13-15 27 3,60

5. 16-18 35 4,70

6. 19 tahun keatas 542 73,30

Jumlah 739 100

7 diketahui bahwa Desa Ringgit memiliki jumlah penduduk berjenis kelamin perempuan lebih besar dibandingkan penduduk berjenis kelamin laki-laki.

Tabel 7

Keadaan Penduduk Menurut Jenis Kelamin Tahun Jumlah Penduduk (jiwa)

Sex Rasio

Laki-laki Perempuan Jumlah

2012 367 372 739 0,986

Sumber : Buku Profil Desa Ringgit Tahun 2012

3. Penduduk Menurut Mata Pencaharian

Lapangan pekerjaan dapat menjadi indikator tingkat kesejahteraan suatu daerah. Lapangan pekerjaan juga dapat digunakan untuk mencari rata-rata pendapatan penduduk di daerah tersebut. Penduduk Desa Ringgit bekerja pada sektor pertanian maupun pada sektor lain. Berdasarkan Tabel 8 diketahui bahwa sebagian besar warga Desa Ringgit mempunyai mata pencaharian sebagai petani dan buruh tani. Komposisi penduduk Desa Ringgit berdasarkan mata pencaharian dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8

Mata Pencaharian Penduduk Desa Ringgit

Sumber : Buku Profil Desa Ringgit Tahun 2012

No Mata Pencaharian Jumlah (orang) Persentase (%) 1. Karyawan :

PNS 16 4,34

ABRI 3 0,81

Swasta 7 1,90

2. Wiraswasta 22 5,96

3. Tani 162 43,90

4. Pertukangan 7 1,90

5. Buruh Tani 138 37,40

6. Pensiunan 14 3,79

Jumlah 369 100

4. Penduduk Menurut Pendidikan

Komposisi penduduk menurut pendidikan dapat digunakan untuk mengetahui tingkat kemajuan pendidikan di suatu daerah. Penggolongan penduduk menurut pendidikan dapat diketahui dengan banyaknya penduduk yang mengikuti berbagai tingkat pendidikan, komposisi penduduk menurut tingkat pendidikan dapat dilihat pada Tabel 9.

Berdasarkan Tabel 9 diketahui bahwa penduduk Desa Ringgit mempunyai tingkat pendidikan cukup baik. Hal ini dilihat bahwa sebagian besar penduduk menempuh pendidikan SLTP keatas.

Tabel 9

Data Tingkat Pendidikan Penduduk Desa Ringgit

No Jenis Pendidikan Jumlah (orang) Persentase (%)

1. Taman kanak-kanak 18 2,69

2. Tamat SD 292 43,71

3. Tamat SLTP 151 22,61

4. Tamat SLTA 183 27,40

5. Tamat D1-D3 7 1,05

6. Tamat Sarjana S1 17 2,54

Jumlah 668 100

Sumber : Buku Profil Desa Ringgit Tahun (2012)

C. Kelembagaan Desa

Kelembagaan yang terdapat di Desa Ringgit adalah LKMD Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa), KPD (Kader Pembangunan Desa), PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga), Karang Taruna dan Kelompok Tani.

Jumlah pengurus dari masing-masing lembaga tersebut disajikan pada Tabel 10.

LKMD menurut Keppres Nomor 49 tahun 2001 adalah wadah yang dibentuk atas

prakarsa masyarakat sebagai mitra pemerintahan desa dan pemerintahan kelurahan dalam menampung dan mewujudkan aspirasi dan kebutuhan masyarkat dibidang pembangunan. LKMD bertugas untuk (1) rencana pembangunan yang partisipatif, (2) menggerakan swadaya gotong royong masyarakat dan (3) melaksanakan dan mengendalikan pembangunan. Pengurus LKMD Desa Ringgit sebanyak 7 orang.

KPD (Kader Pembangunan Desa) di Desa Ringgit beranggotakan 2 orang.

KPD berperan sebagai pendorong motivasi dan penggerak masyarakat dalam pembangunan di desa.

Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) adalah suatu gerakan pembangunan yang tumbuh dari bawah, dikelola oleh, dari dan untuk masyarakat untuk menuju terwujudnya keluarga yang sejahtera. Anggota PKK adalah ibu-ibu rumah tangga. Tujuan PKK adalah memberdayakan keluarga, meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian keluarga. Struktur organisasi PKK di Desa Ringgit adalah Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris, Bendahara, dan Kelompok Kerja (POKJA). Tim Penggerak dan Kader PKK di Desa Ringgit sebanyak 13 orang.

Karang Taruna merupakan salah satu organisasi kepemudaan di tingkat desa, bertujuan untuk memberikan pembinaan kepada para remaja untuk menjadi individu mandiri dan memiliki ketrampilan. Pengurus Karang Taruna di Desa Ringgit sebanyak 18 orang.

Kelompok Tani adalah kumpulan petani yang dibentuk atas dasar kesamaan kepentingan dan kebersamaan menghadapi kondisi lingkungan (sosial, ekonomi, sumber daya, keakraban dan keserasian) yang dipimpin oleh seorang ketua.

Kelompok tani di Desa Ringgit membentuk komunitas petani dalam rangka mempermudah pengadaan bibit, pemasaran gabah dan pelaksanaan pelatihan dibidang pertanian. Pengadaan pupuk organik dan pestisida organik saat masih dilakukan petani secara individu sehingga banyak petani yang mengalami kesulitan dalam pengadaan pupuk dan pestisida organik. Kelompok Tani yang ada di Desa Ringgit ada 4 kelompok tani yaitu Lestari, Lestari I, Maju Lancar dan Margo Dadi dengan anggota masing-masing 20 orang.

Tabel 10

Kelembagaan yang Ada di Desa Ringgit

No Uraian Pengurus (Orang)

1. LKMD 7

4. Karang Taruna 18

5. Kelompok Tani:

Kelompok Tani Lestari Kelompok Tani Lestari I Kelompok Tani Maju Lancar Kelompok Tani Margo Dadi

20 20 20 20 Sumber : Buku Profil Desa Ringgit Tahun (2012)

D. Kondisi Pertanian

Keadaan pertanian di Desa Ringgit Kecamatan Ngombol Kabupaten Purworejo merupakan daerah persawahan dengan kondisi tanah datar. Lahan sawah di Desa Ringgit merupakan sawah berpengairan setengah teknis. Artinya sistem irigasi dengan kontruksi pintu pengatur dan alat pengukur pada bangunan pengambilan saja, sehingga air hanya teratur dan terukur pada bangunan pengambilan saja.

Petani Desa Ringgit tidak semua melakukan pergiliran tanaman. Hal ini dikarenakan pada waktu musim kemarau air sangat sulit untuk memenuhi kebutuhan tanaman, sehingga petani takut untuk menanam tanaman palawija.

Jenis tanaman yang dibudidayakan di Desa Ringgit dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11

Jenis Tanaman yang Dibudidayakan di Desa Ringgit

No Jenis Tanaman Luas Lahan (Ha) Produksi (ton)

1. Padi 1.166,4

a.Menggunakan Metode SRI 40,0 268

b.Konvensional 41,0 898,4

2. Jagung 71,8 44

3. Tomat 0,5 2,20

4. Kacang Panjang 0,5 2,50

5. Cabai 1,0 9,00

Sumber : Buku Profil Desa Ringgit Tahun I (2012)

Hewan ternak yang diusahakan di Desa Ringgit sebagian besar adalah unggas. Ternak unggas yang dipelihara antara lain ayam kampung dan itik.

Tabel 12

Jenis Ternak dan Populasinya

No Jenis Ternak Jumlah (ekor)

1 Ayam Kampung 297

2 Itik 84

3 Kambing 112

4 Sapi 120

Sumber : Buku Profil Desa Ringgit Tahun (2012)

E. Budidaya Padi dengan Metode System of Rice Intensification (SRI)

Konsep SRI adalah memanfaatkan dan mengelola kekuatan sumberdaya alam secara terpadu (tanaman, tanah, air, biota, dan nutrisi) untuk meningkatkan produktivitas tanaman padi secara berkelanjutan melalui dua cara, yaitu:

1. Menstimulir pertumbuhan dan perkembangan akar (bibit muda dan jarak tanam).

2. Meningkatkan dan mempertahankan populasi dan keanekaragaman biota tanah atau memanfaatkan kekuatan biologis tanah (soil biological power) melalui manajemen tanaman, tanah, air, dan pemupukan berbasis organik.

Cara bertanam padi organik metode SRI pada dasarnya tidak berbeda dengan padi konvensional. Usahatani padi organik metode SRI diberikan masukan bahan organik pupuk dan pestisida. Usahatani padi konvensional masukannya berupa bahan kimia sintetik. Cara bertanam padi organik SRI sedikit berbeda dengan padi organik biasa, yaitu pada teknik persemaian, pengolahan tanah, penanaman, dan pengaturan air seperti uraian berikut:

a) Varietas dan Benih

Petani padi di Desa Ringgit kebanyakan menggunakan varietas padi jenis IR 64 dan jenis Ciherang. Benih dikecambahkan dengan cara benih direndam dalam air bersih sekitar dua hari sehingga benih menyerap air, benih yang hampa akan mengapung dipermukaan air, setelah direndam benih diangkat dan diperam sekitar dua hari agar berkecambah dengan cara dihamparkan diatas lantai kemudian ditutup dengan karung goni basah. Benih yang sudah berkecambah disebar merata dan tidak tumpang tindih. Jumlah ideal bibit yang disebarkan sekitar 50–60 gr per m2.

Persemaian metode SRI memakai semacam nampan atau pepiti yang diisi media tanam yaitu campuran tanah dan pupuk organik dengan perbandingan 1 : 1, kemudian benih ditaburkan secara merata tidak terlalu

padat dan tidak terlalu jarang, dan tanah dijaga agar selalu lembab.

Banyaknya benih bermutu 0,7–1 kg per seratus bata atau 4,9–7 kg per hektar.

b) Pengolahan Lahan

Pengolahan tanah dilakukan dengan cara pemecahan bongkahan-bongkahan tanah sawah sedemikian rupa hingga menjadi lumpur lunak dan sangat halus yang disebut koloid. Pengolahan tanah pertama kali dilakukan dengan cara membajak menggunakan cangkul atau traktor, kemudian membenamkan pupuk organik yakni pupuk kompos kurang lebih sebanyak 8-10 ton per hektar, setelah itu lahan diairi dengan komposisi air macak-macak supaya pupuk tidak hanyut. Pengolahan tanah kedua yaitu dilakukan pencangkulan halus (digaru) atau ditraktor, kemudian tanah diratakan dan komposisi air tetap macak-macak atau tidak diairi lalu endapkan semalam supaya mudah untuk digarit.

c) Penanaman

Penanaman bibit dilakukan pada saat bibit padi berumur 5–10 hari setelah semai. Jumlah bibit satu buah per rumpun dengan dalam penanaman 0,5–1 cm (tanam dangkal) dengan jarak tanam sekitar 25 cm x 25 cm.

Tujuannya adalah untuk meningkatkan jumlah anakan produktif karena dengan jarak tanam lebar maka persaingan oksigen, energi matahari, dan nutrisi semakin berkurang.

d) Perawatan Tanaman

Penyulaman dilakukan maksimal dua minggu setelah tanam. Sekitar 20 hari setelah tanam dilakukan pengolahan tanah ringan dengan

menggunakan sorok, airnya dikeluarkan agar terjadi pertukaran udara, kemudian dilakukan penyiangan agar tanaman padi dapat tumbuh sempurna sehingga produktivitasnya tinggi, yaitu dengan cara pencabutan gulma yang dilakukan sebanyak tiga kali. Penyiangan pertama dilakukan saat tanaman berumur empat minggu, kedua pada umur 35 hari setelah penyiangan pertama, dan ketiga pada umur 55 hari setelah penyiangan pertama.

e) Sistem Irigasi

Pengaturan air dengan metode SRI dilakukan ketika umur padi 1–8 hari setelah tanam (HST) dengan air sawah macak-macak, pada umur padi 9–

10 hari setelah tanam kemudian sawah digenangi air setinggi 2–3 cm agar memudahkan penyiangan I, setelah disiangi maka dilakukan pengeringan sawah sampai umur 18 hari. Tanaman pada saat berumur 19–20 hari setelah tanam, maka sawah digenangi untuk memudahkan penyiangan II, kemudian dikeringkan lagi. Tanaman padi jika perlu penyiangan III, maka sawah digenangi selama dua hari dan seterusnya dikeringkan sampai tanaman berbunga. Tanaman saat berbunga, diairi atau digenangi sampai padi masak susu. Padi jika sudah masak susu maka pengairan dihentikan atau dikeringkan sampai menjelang panen.

f) Pemupukan

Pupuk yang digunakan sepenuhnya berupa pupuk organik, mulai pemupukan awal atau dasar hingga pemupukan susulan. Pupuk dapat berbentuk padat yang diaplikasikan lewat akar, juga dapat berbentuk cair yang diaplikasikan lewat daun. Pupuk dasar berupa pupuk kandang atau

kompos matang sebanyak 8–10 ton per hektar yang diberikan bersamaan dengan pembajakan.

Pemupukan susulan pertama dilakukan saat tanaman berumur 15 hari, yaitu berupa pupuk organik cair buatan sendiri yang disemprotkan pada daun tanaman padi. Pemupukan susulan kedua dilakukan saat umur tanaman 25–60 hari dengan frekuensi seminggu sekali berupa pupuk organik cair buatan sendiri yang kandungan unsur nitrogennya tinggi dengan dosis sebanyak satu liter pupuk yang dilarutkan kedalam 17 liter air, kemudian disemprotkan pada

Pemupukan susulan pertama dilakukan saat tanaman berumur 15 hari, yaitu berupa pupuk organik cair buatan sendiri yang disemprotkan pada daun tanaman padi. Pemupukan susulan kedua dilakukan saat umur tanaman 25–60 hari dengan frekuensi seminggu sekali berupa pupuk organik cair buatan sendiri yang kandungan unsur nitrogennya tinggi dengan dosis sebanyak satu liter pupuk yang dilarutkan kedalam 17 liter air, kemudian disemprotkan pada

Dokumen terkait