• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hirarki Aktifitas dan Pemodelan IDEF0

Dalam dokumen Halaman Judul Dalam Bahasa Indonesia (Halaman 66-76)

4.2 Pengolahan Data

4.2.2 Hirarki Aktifitas dan Pemodelan IDEF0

Hirarki aktifitas ini dibuat untuk memberikan nomer untuk setiap proses sehingga dapat memudahkan dalam melakukan pemodelan. Pemodelan dilakukan secara terurut dari proses A0 lalu prose A1, lalu proses A11 A12 A13 dan A14, lalu proses A111 A112 A113 dan a114, lalu prose A121 A122 A123 A124 dan A125, lalu proses A131 A132 A133 dan A134, dan yang terahir ada proses A141 A142 A143 A144 dan A145.

Hirarki aktifias dapat dilihat pada gambar 4.3

Gambar 4. 3 Hierarki Aktifitas

Tabel 4.7 Urutan Proses Hierarki Aktifitas Gambar 4.3 A0. Penentuan SOP berdasarkan Visi misi dan kebijakan

manajemen unit bisnis yang terkait maka perlu dilakukan pemodelan.

Proses bisnis yang ada dimodelkan menggunakan IDEF0.

Pemodelan ini dilakukan berdasarkan proses bisnis penentuan

sop apa saja yang dibutuhkan manajemen K3 dengan melihat aktifitas yang ada.

Pada Gambar 4.4 dijelaskan prosesA0 yang merupakan awal dari semua proses yang ada, proses ini juga merupakan kerangka proses untuk proses lainnya yang lebih detail. Pada proses ini yang menjadi Input adalah Tahap Persiap, Pembentukan Tim, Tahap Perencanaan, dan Tahap Penyusunan. Sedang Control dari proses ini yang menjadi pengendali atas input dalam proses ini yaitu Kebijakan manjemen yang dibuat oleh perusahaan dan yang menjadi Mekanisme atau seseorang yang berperan atas proses yang dikerjakan adalah Tim Penyusun Sop dalam tim penyusun sop ini terdiri dari anggota yang kompeten dibidangnya masing-masing lalu yang terakhir yang menjadi Output dalam proses ini adalah keputusan akan tindakan yang dilakukan, pembagian tugas dan control, program kerja secara terperinci dan draf pedoman SOP

Gambar 4. 4 Proses AO

Pada Gambar 4.5 dijelaskan proses A11, A12, A13 dan A14 yang merupakan bagian dari penentuan SOP berdasarkan visi,misi dan kebijakan K3. Pada proses A11 yang menjadi Input adalah evaluasi dan menentukan kebutuhan dalam input ini sebuah Mekanisme yaitu tim pembuatan sop harus menentukan kebutuhan apa saja yang dibutuhkan oleh

manajemen atau perusahaan dalam menjalankan proses bisnis yang akan berjalan dalam sebuah perusahaan dan dalam hal ini control yang digunakan adalah kebijakan manajemen lalu yang menjadi output adalah manajemen organisasi dan fungsinya.

Pada proses A12 yang menjadi Input adalah menentukan tim yang akan bertugas di setiap bidang yang telah ditentukan atau di setiap bidang ahlinya dan yang menjadi Control dari proses ini adalah kebijakan manajemen dan struktur organisasi lalu yang menjadi Output adalah deskripsi tugas dan tanggung jawab. Pada proses A13 yang menjadi Input adalah menyusun strategi agar seluruh pekerjaan yang akan dilaksanakan dapat terlaksana dengan baik dan terstruktuk yang menjadi Control dalam proses ini adalah kebijakan manajemen dan ketua dari semua defisi bagain yang akan dijadikan SOP dan program kerja lah yang menjadi Output. Pada proses A14 yang menjadi Input adalah pengumpulan data dan informasi dari seluruh karyawan yang bersangkutan atau yang bekerja agar SOP dapat disusun sesuai dengan struktur pekerjaannya yang menjadi Control pada proses ini adalah kebijakan manajemen dan draf pedoman SOP yang menjadi Output. Yang berperan pada keseluruhan proses yang dikerjakan yaitu tim pembentukan SOP.

Gambar 4. 5 Proses A11, A12, A13 dan A14

Melihat proses yang telah dijelasakan dari hierarki aktifitas dan penggambaran IDEF0 dapat diketahuai cara penentuan SOP yang dibutuhkan manajemen dan dari proses tersebutlah dapat dilakukan evaluasi terhadap proses pengelolaan HSE.

Pada proses ini akan dilihat apakah seluruh proses yang dimiliki oleh manajemen HSE telah sesusai dengan visi misi yang dimiliki oleh devisi HSE itu sendir

4.2.3 Evaluasi Kondisi Exsisting SistemManajemen K3

Perlu dilakukannya evaluasi terhadap manajemen K3 karena Manajemen yang berada di plant kurang memenuhi syarat atau peraturan yang telah dituliskan oleh standar. Evalusi yang dilakukan ini melihat pedoman yang dituliskan oleh OHSAS 18001:1999.

Sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja adalah bagian dari sistem manajemen secara keseluruhan meliputi struktur organisasi, perencanaan, tanggung jawab pelaksanaan prosedur, proses dan sumber daya yang dibutuhkan bagi pengembangan penerapan, pencapaian, pengkajian, dan

pemeliharaan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dalam rangka pengendalian risiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna tercapainya kerja yang aman, efisien, dan produktif.

Sistem manajemen kesehatan dan keselamatan (SMK3) tidak terlepas dari pembahasan manajemen secara keseluruhan.

Manajemen merupakan suatu proses pencapaian tujuan secara efisien dan efektif, melalui pengarahan, penggerakan, dan pengendalian kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh orang-orang yang tergabung dalam suatu bentuk kerja. Sedangkan sistem manajemen merupakan rangkaian proses kegiatan manajemen yang teratur dan terintegrasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Pedoman manajemen kesehatan dan keselamatan kerja menurut peraturan OHSAS 18001, meliputi langkah-langkah sebagai berikut:

1. Tahap persiapan (komitmen dan kebijakan).

2. Tahap perencanaan. (Plant) 3. Penerapan dan Operasi (Do)

4. Tahap pengukuran dan evaluasi. (Check) 5. Tahap peninjauan ulang dan peningkatan. (Act)

Pelaksanaan K3 harus merupakan bagian dari semua kegiatan operasional. Maka dari itupekerjaan atau tugas apapun tidak dapat diselesaikan secara efisien kecuali jika si pegawaitelah mengikuti setiap tindakan pencegahan dan peraturan K3 untuk melindungi dirinya danteman kerjanya.

Sesuai dengan konsep sebab akibat kecelakaan serta prinsip pencegahankecelakaan, maka pengelompokan unsur K3 diarahkan pada pengendalian sebab danpengurangan akibat terjadinya kecelakaan. Tujuan diterapkannya sistem manajemen K3 di PT CNG Plant Cepu, menurut Peraturan OHASAS 18001 di atas adalah terciptanya cara kerja,lingkungan kerja yang sehat, aman, nyaman, dan dalam rangka meningkatkan derajatkesehatan karyawan.

Untuk mencapai budaya safety, maka manajemen menetapkan visi PT. CNG Palnt Cepu untuk mencapai Safety Excellence, yaitu :

ZERO INCIDENT, IMPLEMENT SAFETY IN ALL ASPECT OF CNG PLANT CEPU BUSINESS & SAFETY

AS PART OF CNG PLANT CEPU CULTURE Misi yang dibawa oleh manajemen HSE adalah :

1. Meningkatkan koordinasi yang sinergi antar pengandil (stakeholders) bidang K3.

2. Meningkatkan kemandirian dunia usaha dalam menerapkan K3

3. Meningkatkan kompetensi dan daya saing tenaga kerja dibidang K3.

Komitmen diwujudkan dalam bentuk kebijakan (policy) tertulis, jelas dan mudah dimengerti serta diketahui oleh seluruh karyawan. Manajemen PT. CNG Plant Cepu mengidentifikasi dan menyediakan semua sumber daya esensial seperti pendanaan, tenaga K3 dan sarana untuk terlaksananya program K3. Kebijakan K3 di PT. CNG Plant Cepu diwujudkan dalam bentuk wadah HSE dalam struktur organisasi PT. CNG Plant Cepu.

Untuk melaksanakan komitmen dan kebijakan HSE, perlu disusun anatara lai :

1. Advokasi sosialisai program HSE 2. Menetapkan tujuan jelas

3. Organisasi dan penugasan yang jelas

4. Menetapkan SDM profesional dibidang HSE pada setiap unit kerja dilingkungan plan

5. Sumberdaya yang harus didukung oleh manajemen puncak

6. Kajian risiko secara kualitatif dan kuantitatif

7. Membuat program kerja HSE yang mengutamakan upaya peningkatan dan pencegahan

8. Monitoring dan evaluasi secara internal dan eksternal secara berkala.

4.2.3.1 Tahap Persiapan

Pada tahapa persiapan ini manajemen akan melakukan evaluasi manjemen dan kebutuh SOP yang

dibutuhkan manajemen. Dengan menentukan : mengetahui kebutuhan manajemen, mengevaluasi dan menilai kebutuhan, menetapkan kebutuhan dan menetapkan alternatif. Sebuah perusahaan dapat menerapkan 12 elemen SMK3 sesuai dengan kebutuhan perusahan. Pada perusahaan CNG Plant perusahaan hanya membutuhkan keamanan bekerja berdasarkan SMK3 yang mengharusakan melakukan pengecekan dan monitor terhadap semua peralatan dan pekerjaan yang akan dilakukan, pengendalian dokumen menurut OHSAS 18001 organisasi harus membuat dan memelihara prosedur untuk mengendalikan seluruh dokumen dan data yang diperlukan oleh standar, audit SMK3 sebuah manajemen harus memiliki dan memelihara program dan prosedur untuk pelaksanaan audit manajemen K3 secara berkala, pelaporan dan perbaiakan dalam hal ini hal yang akan dilakukan adalah pelaporan jika ada kecelakaan kerja atau dapat dilakukan dengan cari mengidentifikasi bahaya yang akan terjadi dan tindakan tanggap darurat, pengumpulan dan penggunaan data yang akan digunakan untuk mengevaluasi apakah manajemen K3 yang berlangsung sudah memenuhi standar, dan pengembangan kemampuan dan keterampilan karena personil harus kompeten dalam melakukan tugas-tugas yang dapat berdampak terhadap K3 di tempat kerja. Dengan melihat kondisi eksisting perusahan maka perusuhaan membutuhkan elemen-elemen tersebut dalam manajemen K3 agar dapat menghasilkan manajemen K3 yang baik.

Strategi yang digunakan untuk menjalankan kebutuhan tersebut dengan baik adalah dengan membuat prosedur dari masing-masing proses yang mengharuskan membuat dan memelihara prosedur.

4.2.3.2 Tahap penentuan Organisasi dan TIM

Tahapan ini akan dilakukan dnegan melihit struktur organisasi yang dimiliki oleh perusahaan dan menetapkan tugas dan fungsi dari tiap-tiap organisasi.

1. Tugas dan Fungsi Operation Manajer:

a. Tugas Pokok :

Menetapkan kebijakan dilingkungan PT CNG Plant Cepu b. Fungsi :

Memberikan dukungan agar pelaksanaan K3 Berjalan Berkelanjuta

2. Tugas dan fungsi Shep Officer/ HSE :

Shep Officer atau unit pelaksanaan kerja HSE memimpin dan mengkorrdinasikan kegitan organisasi atau unit pelaksana HSE.

a. Tugas Pokok :

•Mensosialisasikan kebijakan dan keselamatan kerja di lingkungan plant

•Mengadakan rapat K3 berkala untuk membicarakan perkembangan pelaksanaan K3 dan kejadian-kejadiannya yang terbaru termasuk umpan balik dan sasaran penanggulangan.

b. Fungsi :

•Memimpin dan mengkoordinasi kegiatan organisasi atau unit pelaksana HSE.

•Membantu merekomendasikan perubahan kebijakan dan membuat program dan garis penentuan untuk memastikan pelaksanaan kebijakan HSE terlaksana berkelanjutan.

c. Tanggung Jawab :

•Bertanggung jawab atas pelaksanaan K3 di Lingkungan Plant.

•Bertanggung jawab atas kesehatan dan keselamatan kerja semua karyawan.

3. Tugas dan Fungsi Shep Asisstant/ HSE:

Shep Assitant atau unit pelaksana HSE memimpin dan mengkoordinasi tugas-tugas sisstant dan melaksanakan keputusan organisasi atau unit pelaksanaan HSE.

a. Tugas Pokok :

•Merencakanan dan melaksanakan pemeriksaan K3 dan penggunaan APD yang tepat.

•Mengidentifikasi potensi bahaya

•Membuat laporan K3

•Memantau secara berkala penggunaan /ketersediaan APD b. Fungsi :

Memimpin dan mengkoordinasi tugas-tugas asisten dan melaksanakan keputusan organisasi atau unit pelaksaan HSE 4. Tugas dan Fungsi Organisasi/Unit Pelaksana Terkait :

Anggota organisasi atau unit pelaksana HSE mengikut rapat organisasi atau unit pelaksana HSE dan melakukan pembahsan atas persoalan yang diajukan dalam rapat, serta melaksanakan tugas pokok dan fungsinya, organisasi atau unit pelasana HSE mengumpulkan data informasi mengenai pelaksanaan K3 di Plant.

a. Tugas Pokok :

•Memberi rekomendasi dan pertimbangan kepada shep officer mengenai masalah-masalah yang berkaitan dengan K3

•Merumuskan kebijakan, peraturan, pedoman,, petunjuk pelaksaan dan prosedur K3.

•Membuat program HSE.

b. Fungsi :

•Mengumpulkan dan mengelola seluruh data dan informasi serta permasalahan yang berhubungan dengan K3.

•Membantu shep officer mengadakan dan meningkatkan upaya promosi K3, pelatihan dan penelitian K3 di Plant.

•Pengawasan terhadap pelaksaan program K3.

•Memberikan saran dan pertimbangan berkaitan dengan tindakan korektif.

•Koordinasi dengan unit-unit lain yang menjadi anggota HSE

•Memberi nasehat tentang manajemen K3 di tempat kerja, kontrol bahaya, mengeluarkan peraturan dan inisiatif pencegahan.

•Investigasi dan melaporkan kecelakaan, dan merekomendasikan sesuai kegiatan.

•Berpartisipasi dalam perencanaan pembelian alat baru, pembangunan gedung dan prosesnya

Pada tahap perencanaan dan tahap penyususan data seluruakan susun pada saat membuat proses bisnis SOP plant .

Dalam dokumen Halaman Judul Dalam Bahasa Indonesia (Halaman 66-76)

Dokumen terkait