• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hitung RMS

Dalam dokumen PEMODELAN SISTEM Pendekatan Sistem (Halaman 36-66)

4) Hasilnya dibagi dengan perkalian antara banyaknya data pada pelatihan dan banyaknya keluaran, kemudian diakarkan.

Rumus :

(59) dimana :

Tjp : nilai keluaran jaringan saraf

Xjp : nilai target / yang diinginkan untuk setiap keluaran np : jumlah seluruh pola

no : jumlah keluaran

Pada penelitian ini proses simulasi JST digunakan software Matlab versi 7.1 yang didalamnya telah memuat program untuk simulasi jaringan propagasi balik. Penulisan programnya disajikan pada lampiran.

Analisis Sinyal Krisis.

Sub-model ini merupakan penerapan dari Threshold analysis yang dikembangkan untuk menentukan rentang harga tapioka dan pasokan bahan baku yang masih bisa diterima oleh pemangku kepentingan berdasarkan keluaran dari proses peramalan harga tapioka dan pasokan bahan baku. Untuk harga tapioka secara garis besar batas ambang diambil pada ambang bawah yang dari kemampuan bisnis utama untuk menghasilkan keuntungan sehingga industri tapioka bisa berkembang. Keadaan dimana hasil peramalan berada dibawah nilai ambang bawah dikategorikan dalam kondisi kritis. Untuk penentuan batas ambang bawah, yaitu tingkat kemampuan industri untuk tetap dapat beroperasi diukur dari Harga Pokok

Batas ambang pasokan tapioka kasar dihitung berdasarkan pertimbangan kapasitas BEP. Keadaan dimana hasil prediksi pasokan bahan baku dibawah ambang tersebut, dikategorikan dalam keadaan krisis. Setelah batas ambang ini diformulasikan, kemudian nilai hasil peramalan diukur keberadaannya pada batas ambang tersebut. Hasil pengukuran ini akan teridentifikasi 2 sinyal keadaan yaitu ” normal” dan ” krisis”. Sinyal normal menunjukkan bahwa kebijakan yang berlaku masih efektif untuk kelangsungan industri tapioka. Sedangkan sinyal ” krisis” dikategorikan dalam 3 level krisis yaitu keadaan ”SIAGA”, keadaan ”WASPADA”, dan keadaan ”BAHAYA”. Indikator keadaan siaga apabila pasokan bahan baku tidak mencukupi kapasitas yang direncanakan, indikator keadaan waspada adalah apabila harga jual tapioka tidak berada diatas harga pokok produk, dan indikator keadaan Bahaya adalah apabila terjadi keadaan ”SIAGA” sekaligus ”WASPADA”.

Mulai

Input data:

- Hasil prediksi harga tapioka - Hasil prediksi pasokan Tapioka Kasar - Struktur biaya produksi tapioka - Kapasitas produksi - Tingkat bunga investasi

Penghitungan HPP Penghitungan ambang bawah pasokan tapioka kasar

- Kapasitas ekonomis (BEP)

Chek Harga pada rentang nilai ambang

Harga <= HPP dan Pasokan TOK<=Kapasitas BEP

Chek pasokan tapioka kasar pada rentang nilai ambang Sinyal Bahaya Sinyal Normal Selesai ya ya tdk

Tindakan Pemulihan Krisis

Harga > HPP dan Pasokan TOK<=Kapasitas BEP Sinyal Siaga Harga <= HPP dan Pasokan TOK>Kapasitas BEP Sinyal Siaga tdk ya tdk

Gambar 22 Diagram alir penentuan krisis

Akuisisi Pengetahuan.

Sistem Manajemen Basis Pengetahuan merupakan sarana yang akan diterapkan pada sub-model kebijakan agroindustri tapioka. Perancangan model ini diperoleh dari akuisisi pengetahuan para pakar yang terkait dengan industri tapioka. Proses akuisisi pengetahuan dilakukan dengan wawancara, kuisioner dan FGD.

Model Manajemen Pengendalian Krisis.

Pada model ini akan dihasilkan alternatif kebijakan pengendalian krisis. Metoda yang digunakan tidak lagi murni menggunakan teori manajemen strategis konvensional melainkan dimodifikasi dengan manajemen chaos. Metoda ini dirancang untuk menghasilkan alternatif strategi jangka pendek yang efektif untuk menanggulangi darurat krisis. Model ini menghasilkan gambaran posisi agroindustri tapioka yang memunculkan alternatif-alternatif kebijakan yang akan dipilih oleh pakar menggunakan sistem pakar. Untuk jelasnya disajikan pada gambar 23.

Mulai

Identifikasi faktor kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman

insdustri Pembobotan dan mengukuran rating thd faktor-faktor IE Pencocokan posisi industri pada matriks IE Analisis Chaos Analisis Krisis Perumusan strategi penanggulangan krisis Rule Base Pemilihan Alternatif kebijakan pengendalian krisis Alternatif kebijakan pengendalian krisis Selesai Deteksi krisis Keadaan Normal

Gambar 23 Diagram alir perumusan strategi kebijakan pengendalian krisis

Analisis Eksternal Industri

Analisis eksternal terbagi menjadi dua, yaitu analisis makro dan analisis mikro.

Analisis Eksternal makro a. Kebijakan Pemerintah

Pembangunan ekonomi yang berbasis masyarakat seharusnya menjadi prioritas utama pembangunan ekonomi nasional, karena tujuan pembangunan ekonomi rakyat sesuai dengan amanat konstitusi yaitu meningkatkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Departemen Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (Departemen KUMKM) dalam Rencana Strategis 2005-2009 berusaha mengembangkan UMKM dengan meningkatkan SDM yang dimiliki UMKM, meningkatkan aksesabilitas KUKM terhadap sumber-sumber pembiayaan, memperluas sumber pembiayaan bagi KUKM, baik bank maupun nonbank. Selain itu, Dinas Perindustrian Kabupaten Bogor mempunyai program yang bertujuan untuk mengembangkan industri kecil secara umum di Kabupaten Bogor. Programnya termasuk pelatihan yang meliputi pelatihan manajemen administrasi, peningkatan mutu, diversifikasi produk dan bantuan permodalan. Bantuan permodalan ini disebut Bantuan Dana Bergulir dan dikucurkan pemerintah sebesar Rp 25.000.000 dan sudah berlangsung tujuh tahun. Tapi sejauh ini usaha-usaha pemerintah tersebut belum dapat dirasakan oleh para pengusaha tapioka secara maksimal baik bantuan permodalan, upaya pencerahan teknologi, pembentukan kelembagaan, bantuan pemasaran dan lain-lain. Selain itu beberapa Bank pemerintah telah mengeluarkan kebijakan untuk penyaluran Kredit Usaha Kecil Mikro (KUKM) yang bisa mencapai Rp.500.000.000,- akan tetapi ketidak mampuan manajemen sehingga tidak dapat meraih kredit tersebut.

Perkembangan teknologi hilir (industri sorbitol) yang sepenuhnya dikuasai oleh industri besar memerlukan bahan baku tepung tapioka yang banyak. Perusahaan-perusahaan ini memiliki pabrik tapioka sendiri dengan skala besar dan menggunakan mesin-mesin modern. Akan tetapi kapasitas produksi sorbitol terus meningkat sesuai dengan peningkatan permintaannya, sehingga pabrik-pabrik tapioka dalam kelompoknya tidak mencukupi untuk memasok bahan baku. Dengan alasan tersebut maka pemerintah memberi ijin untuk melakukan impor tapioka. Akan tetapi pemerintah lemah dalam hal pengawasan pada pelaksanaannya, sehingga tapioka impor turut membanjiri pasar tapioka lokal. Hal ini berakibat pada fluktuasi harga tapioka .

Pendapatan per kapita masyarakat yang meningkat yang dapat diketahui dari naiknya Upah Minimum Wilayah juga merupakan pengaruh positif bagi pengusaha tapioka. Peningkatan pengeluaran rata-rata per kapita sebulan untuk makanan merupakan indikasi bagi peningkatan permintaan bahan makanan seperti tepung tapioka. Rendahnya inflasi juga mendukung daya beli masyarakat. Inflasi yang menggambarkan kenaikan harga-harga secara umum, masih pada level satu digit. Inflasi pada tahun 2006 bulan Januari sebesar 1,36%, Februari0,58% dan Maret sebesar 0,03% (BPS, 2006).

c. Sosial Budaya dan demografi

Meningkatnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat akan pentingnya diversifikasi pangan karena kandungan pada ubikayu menimbulkan efek positif bagi tapioka. Tapioka sebagai hasil olahan dari ubikayu yang mengandung banyak karbohidrat dapat menggantikan kebutuhan akan beras. Selain itu, pada saat ini semakin banyak gerakan kampanye atau promosi hasil olahan makanan non beras yang mengandung karbohidrat tinggi, yang diarahkan kepada seluruh lapisan masyarakat, mulai lapisan bawah, sampai lapisan atas . Peran dari ahli tata boga dan peneliti juga cukup besar dalam menciptakan variasi yang menarik dari makanan hasil olahan ubikayu atau tapioka.

Semakin meningkatnya jumlah penduduk Indonesia tentu akan meningkatkan kebutuhan pangan. Meningkatnya jumlah penduduk harus diiringi oleh diversifikasi pangan untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras. Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2000 sebanyak 206,264,595 jiwa dengan laju pertumbuhan 1,35 persen pertahun BPS (2006).

d. Teknologi dan Lingkungan

Faktor lingkungan harus juga dipertimbangkan dalam pengembangan industri tapioka. Tanaman ubi kayu memiliki karakteristik banyak menyerap unsur hara, sehingga apabila dibiarkan dalam waktu yang lama akan merusak struktur kimia tanah dan selain itu dapat menyebabkan erosi, hal tersebut berkaitan dengan terbatasnya daun-daun yang menutupi selama pertumbuhan awal yang menyebabkan air hujan langsung mencapai tanah dan juga menyangkut tanah yang

bergerak saat dipanen (Falcon, 1986). Selain itu, lahan yang digunakan petani untuk bersawah dan berladang banyak yang dirubah menjadi areal pemukiman penduduk. Oleh karena itu pasokan ubikayu terancam akan berkurang, sehingga pengusaha tapioka akan mencari pemasok dari daerah lain dengan konsekuensi menambah biaya produksi yang disebabkan oleh biaya transportasi.

Industri tapioka kasar banyak berlokasi di daerah dekat sungai, hal ini dilakukan untuk memudahkan mendapatkan air untuk pencucian ubikayu. Pada proses produksi tapioka kasar juga menghasilkan limbah cair yang mengandung HCN. Seharusnya limbah ini diolah terlebih dahulu hingga tidak membahayakan baru dibuang, akan tetapi dengan keterbatasan kemampuan teknologi pengolah limbah maka akan mencemari lingkungan. Seiring dengan kesadaran masyarakat global pada lingkungan dan tanda-tanda krisis energi maka berkembanglah teknologi untuk memproduksi energi yang bersifat renewable. Ubikayu merupakan salah satu bahan baku yang bisa diolah menjadi biofuel. Dengan hadirnya industri biofuel ini akan membutuhkan pasokan ubikayu yang banyak, sehingga ubikayu akan menjadi komoditi yang diperebutkan oleh sektor pangan dan energi.

Analisis Eksternal Mikro

Disamping kondisi makro, analisis eksternal juga dilakukan dilevel mikro atau level industri. Pendekatan yang digunakan akan lebih fokus pada analisis krisis yang meliputi 5 aspek, yaitu: 1) seberapa mudah pemain baru masuk ke dalam industri tersebut, 2) bagaimana tingkat persaingan antar industri yang sudah ada, 3) bagaimana kekuatan tawar pemasok kepada industri, 4) apakah industri memiliki jaminan pasokan bahan baku tinggi serta 5) tingkat kemudahan munculnya produk substitusi bagi produk/jasa yang dihasilkan suatu industri.

a. Pemain baru

Yang dimaksud pemain baru dalam industri tapioka dalam penelitian ini adalah industri atau lembaga sebagai pemasok di pasar tapioka. Kemudahan mendapatkan ijin bagi importir tapioka dan tidak adanya pengawasan pemerintah terhadap penggunaan tapioka impor mengakibatkan banyaknya stock tapioka di

pasar dengan harga rendah. Industri besar tapioka juga memegang peranan cukup penting dalam nenekan harga tapioka di pasar.

b. Persaingan Industri

Persaingan industri merupakan hal yang wajar dan tidak dapat dihindari, begitu juga dengan industri tapioka. Industri kecil tapioka baik tapioka halus maupun tapioka kasar masih menggunakan teknologi sederhana, sehingga kualitas yang dihasilkan dan efisiensi produksi kalah dengan industri besar. Rata-rata kapasitas produksi tapioka di kabupeten Bogor adalah 15 ton/hari, sedangakn kapasitas pabrik tapioka di Lampung 125-200 ton/hari. Industri besar menghasilkan tapioka halus dengan mengolah ubikayu secara langsung, sehingga sangat efisien. Industri berskala besar inilah yang merupakan ancaman tersendiri bagi industri tapioka di Kabupaten Bogor. Selain itu datangnya tapioka impor juga menjadi ancaman bagi kelangsungan industri kacil tapioka di kabupaten Bogor. Industri kecil tapioka ini telah ada selama berpuluh-puluh tahun lamanya. Industri yang bertahan ialah industri yang menghasilkan tapioka kasar bermutu tinggi dan didukung dengan modal yang cukup.

c. Produk Substitusi

Tapioka memiliki fungsi dan kandungan yang berbeda dengan jenis tepung yang lain seperti tepung maizena, tepung beras, tepung terigu, tepung sagu dan tepung gaplek. Pada kasus tertentu seperti pada pembuatan bakso, tepung sagu dapat menjadi barang substitusi bagi tapioka.

d. Kekuatan Tawar-Menawar

Pembeli ubi kayu dalam hal ini pabrik tapioka kasar atau tengkulak, mereka ini memiliki daya tawar yang cukup tinggi. Apabila ada ketidak cocokan harga petani ubikayu tidak mungkin menahan ubi kayu karena ubikayu yang telah dipanen mudah rusak, sementara kalau membiarkannya tidak dipanen, kualitasnya akan menurun dan tanah menjadi tidak subur karena ubikayu menyerap hara.

Pembeli tapioka kasar dalam hal ini adalah pabrik tapioka halus. Dalam penentuan harga tapioka kasar ataupun onggok, pembeli memegang kendali. Harga

tapioka kasar bergantung pada banyaknya permintaan dan pasokan tapioka kasar serta kualitas tapioka kasar.

Tapioka halus sebagian besar dijual ke industri makanan seperti industri kerupuk yang tersebar hingga ke wilayah Jabodetabek. Harga tapioka halus ditetapkan berdasarkan harga pasar.

e Kekuatan Pasokan

Penyediaan bahan baku tapioka kasar yaitu ubikayu dilakukan oleh tengkulak dan petani ubikayu. Tengkulak tersebut membeli ubikayu dari para petani kemudian dijual kepada pengusaha tapioka, tetapi ada juga pengusaha tapioka yang membeli langsung dari petani ubikayu. Penetapan harga beli dan kuantitas ubikayu ini tergantung mutu tapioka kasar. Dalam mencari bahan baku, sering pemilik ubikayu mendatangi pengusaha tapioka dan jarang sebaliknya. Dalam hal ini,penjual ubi kayu akan mencari pembeli dengan harga tertinggi, sedangkan pembeli ubi kayu akan mencari penjual dengan harga terendah. Beberapa pengusaha tapioka memiliki langganan tertentu karena dirasa sudah cocok, tetapi sebagian besar pengusaha tapioka memiliki banyak alternatif penyedia bahan baku. Pembayaran sebagian besar dilakukan setelah tapioka laku di pasar.

Dengan berkembangnya industri hilir berbasis ubi kayu, maka banyak membutuhkan pasokan ubi kayu. Oleh karena itu akan terjadi tarik menarik pasokan ubi kayu. Beralihnya fungsi lahan menjadi area pemukiman maupun pembangunan infrastrukur yang lain (jalan tol) maka produksi ubi kayu semakin berkurang.

Penyediaan bahan baku tapioka halus dibeli langsung dari industri tapioka kasar. Harga tapioka kasar didasarkan pada kualitas tapioka kasar dan banyaknya pasokan. Harga awal dibuka oleh pembeli, apabila ada kesepakatan harga maka transakti terjadi, tetapi jika tidak ada kesepakatan makan penjual akan berpindah ke pabrik lain atau menunda penjualan hingga beberapa hari.

Analisis Internal

Analisis internal dilakukan dengan melakukan penilaian terhadap level kapabilitas (level of capability) dari fungsi-fungsi dalam suatu industri di sepanjang rantai nilai. Aktivitas utama (primary activities) dan pendukung membentuk nilai (profit margin) pada setiap industri tapioka. Aktivitas primer terdiri dari : 1)

Inbound logistics yaitu penerimaan dan penggudangan bahan baku dan distribusinya pada pabrikasi sesuai dengan kebutuhan, 2) Operations : proses transformasi input menjadi produk akhir atau jasa,3) Outbound Logistic : penggudangan dan disribusi produk-produk jadi, 4) Marketing & sales : identifikasi kebutuhan pelanggan dan mengenerate penjualan. Dalam operasionalnya kelima aktivitas primer di atas didukung oleh : 1) Firm infrastructure : struktur organisasi, sistem pengendalian, budaya perusahaan, dll, 2) Human Resource Management : pengelolaan sumber daya manusia yang meliputi penerimaan, pelatihan, pengembangan dan kompensasi, 3) Technology development : teknologi yang mendukung semua aktivitas penciptaan nilai, dan 4) Procurement : pembelian input seperti material, pemasok dan peralatan.

Profit margin dari sebuah perusahaan sangat tergantung pada efektivitas dalam membentuk aktivitas-aktivitas ini secara efisien, sehingga jumlah konsumen yang ingin membeli produk yang dihasilkan akan melebihi dari biaya yang dikeluarkan dalam setiap aktivitas tersebut. Dalam aktivitas di atas setiap perusahaan mempunyai peluang untuk mengenerate sebuah nilai yang superior. Keunggulan daya saing dapat dicapai melalui konfigurasi rantai nilai yang memberikan biaya rendah atau diferensiasi yang lebih baik.

a. Struktur Organisasi Industri Tapioka

Pada umumnya, struktur organisasi pada Industri kecil tapioka ini sangat sederhana, yaitu terdiri dari pemilik modal yang merangkap menjadi pengelola atau karyawan yang langsung menangani aktivitas produksi, keuangan hingga pemasaran produk. Struktur organisasi ini memberikan kemudahan tersendiri dalam mengontrol jalannya kegiatan operasional perusahaan. Efektivitas dan efisiensi aliran tanggungjawab dapat lebih memungkinkan untuk dikontrol dan hal tersebut dapat meminimalkan terjadinya kesalahan.

b. Perilaku pengusaha dalam Industri Tapioka

Pengusaha tapioka pada umumnya memiliki etos kerja yang tinggi, memiliki disiplin dalam bekerja dan bersifat kekeluargaan. Tingginya permintaan akan tapioka dan masa simpan tapioka yang relatif pendek, sehingga tidak dapat

menimbulkan semangat saling membantu, gotong-royong dan menimbulkan iklim yang baik dalam bekerja. Faktor kekeluargaan dalam masyarakat tersebut menyebabkan tidak adanya kesulitan bagi pengusaha tapioka dalam merekrut pekerja.

c. Sumber Daya Manusia

Agroindustri tapioka mulai dari hulu hingga hilir merupakan industri padat karya. Petani ubi kayu dan pengusaha tapioka kasar memiliki mutu SDM yang rendah. Tingkat pendidikan yang masih rendah tersebut mengakibatkan rendahnya tingkat pengetahuan tentang pengelolaan, pemasaran, pendistribusian, menetapkan daya tawar, penerapan inovasi dan sanitasi. Sedangkan pengusaha tapioka halus sudah lebih baik kualitas pengetahuannya. Hafsah (2003) menyatakan bahwa pembangunan sistem usaha agribisnis akan lebih cepat terwujud, apabila sebagian besar masyarakat terutama masyarakat pedesaan berpendidikan, menguasai ketrampilan agribisnis (hulu, tengah, hilir). Jika sumber daya yang dimiliki rendah, maka hal tersebut akan berdampak negatif terhadap tingkat akseptabilitas dalam mengadopsi teknologi yang disebarkan kepada masyarakat tani.

d. Keuangan

Permodalan yang dimiliki oleh para pengusaha tapioka kasar seluruhnya berasal dari dana swadaya. Masyarakat masih cenderung takut untuk mengusahakan tambahan modal dari lembaga keuangan seperti bank. Selain itu, masih sedikit usaha-usaha yang dilakukan oleh pemerintah untuk merangsang kemajuan Industri kecil khususnya Industri kecil tapioka kasar di Bogor dari sisi permodalan. Sejauh ini ada beberapa program pemerintah yang ditujukan untuk membantu industri kecil secara umum, yaitu Program Pembinaan Kecamatan (PPK) dan Pembinaan Usaha Kredit Kecil (PUKK) yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kecamatan, Program Dana Bergulir dan Kerjasama Antara Dinas Perindustrian Kabupaten Bogor dan Bank Jabar Unit Syariah dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah Tingkat II. PPK dilakukan oleh pemerintah desa dan pemerintah kecamatan, sasarannya ialah usaha mikro seperti warung kecil-kecilan, usaha skala rumah tangga dan obyeknya biasanya kaum ibu rumah tangga dengan sistem kelompok. Besarnya pinjaman

PPK berkisar antara Rp 500.000-Rp 1.000.000 dengan bunga yang relatif tinggi (20% per tahun).

PUKK dilaksanakan oleh Perhutani melalui Kelompok Tani Hutan (KTH) dengan sasaran masyarakat sekitar hutan, sehingga tidak semua industri kecil mendapatkan bantuan tersebut. Besarnya kredit PUKK antara Rp 1.000.000- Rp 3.000.000. Program Dana Bergulir ditujukan untuk industri kecil pada umumnya di Kabupaten Bogor, besarnya bantuan sekitar 25 juta rupiah per usaha dan sudah berjalan 7 tahun, sedangkan permodalan yang diselengarakan oleh Dinas Perindustrian dan Bank Jabar Unit Syariah besarnya mencapai Rp 75.000.000 per usaha. Belum maksimalnya koperasi yang ada menyebabkan kurang berkembangnya industri kecil tapioka dari sisi modal.

Tidak maksimalnya fungsi koperasi dikarenakan belum pahamnya pengurus maupun masyarakat akan arti koperasi. Apabila koperasi telah berjalan maksimal, dalam artian banyak pengusaha tapioka yang menjadi anggota dan pemahaman akan manfaat sudah kuat ditataran masyarakat diharapkan sisi permodalan dapat diatasi. Selain itu, sistem pencatatan keuangan yang dilaksanakan oleh industri tapioka kasar masih sangat sederhana. Pencatatan yang dilakukan hanya mencakup data-data historis penjualan. Atau dengan kata lain, perusahaan tidak dapat menganalisis secara pasti tentang biaya produksi yang diperlukan untuk satu kali giling, karena perusahaan tidak membuat laporan keuangan.

Pada industri tapioka halus sebagian pengusaha tidak hanya memiliki pabrik tapioka halus saja melainkan memiliki usaha pada bidang lain yang tidak ada kaitannya dengan tapioka. Usaha dari bidang lain inilah yang menopang keuangan pabrik tapioka apabila mengalami krisis. Sistem administrasi keuangan pada industri tapioka sudah lebih rapi dan komputerisasi, sehingga semua data-data terkait dengan pembelian, produksi dan penjualan tersimpan dengan rapi dan lengkap.

e. Logistik

Pada industri tapioka kasar tidak ada persediaan bahan baku. Ubikayu diperoleh secara langsung dengan mendatangi petani atau tengkulak, kemudian

ubikayu diangkut ke pabrik oleh pengusaha pabrik tapioka kasar. Ubi kayu segera diproses untuk menghindari kerusakan ataupun penurunan kualitas.

Tapioka kasar dipasarkan ke pabrik tapioka halus dengan cara pengusaha tapioka kasar membawa dan menawarkannya langsung ke pabrik tapioka halus. Tapioka kasar kemudian disimpan oleh pabrik tapioka halus hingga mencapai jumlah yang mencukupi kapasitas produksi kemudian baru diproses lebih lanjut.

Produk tapioka halus setelah dikemas dalam karung kemudian disimpan di gudang barang jadi sebelum didistribusikan ke konsumen. Konsumen tapioka halus sebagian besar adalah pabrik krupuk yang berada di wilayah Jabodetabek. Pengiriman produk dilakukan oleh pabrik tapioka halus.

f. Produk dan Harga

Industri kecil tapioka kasar menghasilkan tapioka kasar dengan tingkatan mutu nomor 1-3, selain itu menghasilkan onggok atau ampas. Mutu berbanding lurus dengan harga, yaitu apabila mutunya baik maka harga akan semakin tinggi dan berlaku sebaliknya. Harga tapioka halus berfluktuasi sesuai dengan harga pasar yang cenderung ditekan oleh banyaknya tapioka yang beredar dipasar yang dipasok dari industri besar maupun tapioka impor. Faktor harga bahan baku (tapioka kasar) dan biaya produksi juga berpengaruh terhadap penentuan harga tapioka. Apabila pembelian bahan baku pada harga tinggi sedangkan harga jual tapioka halus rendah maka pengusaha akan menyimpan tapioka yang baru diproduksi dan menjual tapioka dari persediaan.

Kualitas tapioka kasar belum memenuhi standar kualitas terutama kadar airnya, hal ini mengakibatkan daya simpan tapioka kasar yang relatif singkat. Pada kondisi seperti tersebut pengusaha tapioka kasar tidak mempunyai pilihan lain selain menjual pada tingkat harga berapapun. Harga tapioka sangat berfluktuatif, yaitu tergantung pada kualitas tapioka kasar yang dipasok oleh pengusaha tapioka dan jumlah pangusaha yang memasok tapioka. Apabila banyak penawaran dari pengusaha tapioka, maka harga tapioka kasar yang dipasok cenderung rendah, dan sebaliknya. Harga tapioka kasar tertinggi di tingkat pengusaha tapioka sampai saat ini berkisar Rp 400.000- Rp 420.000 /kuintal. Penetapan harga yang dilakukan oleh

pabrik pengolahan tapioka kepada produsen pangan mempertimbangkan kondisi dan situasi pemasaran yang terjadi.

g. Kegiatan Produksi

Kegiata budidaya ubikayu dilakukan secara tradisional turun temurun. Kegiatan bertani ubikayu bukanlah kegiatan utama, kebanyakan mereka memiliki pekerjaan lain, ataupun bertani sayuran atau palawija yang lain. Hal tersebut menyebabkan rendahnya produktivitas ubikayu. Kegiatan produksi tapioka kasar

Dalam dokumen PEMODELAN SISTEM Pendekatan Sistem (Halaman 36-66)

Dokumen terkait