• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAN KOMPETENSI PRODUKSI KALIMAT BAHASA INGGRIS (The Relationship between Syntactic Structure Comprehension Competence and English

2. PERUMUSAN MASALAH

3.1 Hubungan antara Comprehension dan Production

Secara umum, orang dewasa dapat memahami apapun yang mereka bicarakan dan dapat mengungkapkan kembali apa yang mereka dengar. Namun hubungan yang simetris antara kemampuan mengungkapkan dan memahami (production dan

comprehension) ini mungkin tidak inheren dalam gramatika bahasa. Dalam banyak

teori pembelajaran bahasa kedua/asing, sebelum pembelajar mencoba melakukan tugas baru dalam proses belajarnya, dia perlu memahami apa yang akan dilakukannya. Dengan demikian diasumsikan bahwa pemahaman (comprehension) harus dan selalu mengawali kemampuan menggunakan/menghasilkan (production). Tapi di sisi lain, diasumsikan pula bahwa selalu ada kesenjangan antara comprehension dan

production. Pemahaman seseorang terhadap sesuatu tidak menjamin orang tersebut

mampu mengungkapkan/ mengekspresikan/ menghasilkan apa yang telah dia pahami. Ini disebut sebagai hubungan asimetris antara comprehension dan production (Koster,

hubungan asimetri “separate but related” ini diperoleh dalam Teori Optimalisasi (Optimality Theory) (Prince & Smolensky, 2004).

Comprehension berlangsung berlawanan arah, dimulai dengan masukan (input)

bentuk tertentu untuk menghasilkan makna luaran (output) yang optimal yang dilekatkan pada bentuk tersebut. Dalam pandangan Smolensky, comprehension dan

production merupakan hasil yang terpisah dari proses komputasi yang bekerja

berdasarkan input yang berbeda. Dalam hal production, input tersebut merupakan bentuk dasar. Sebaliknya, dalam comprehension input merupakan bentuk permukaan yang matang yang masuk berkompetisi dengan bentuk-bentuk permukaan matang yang lain (tapi tidak dengan bentuk dasar karena tidak tersedia dalam input). Jadi, komputasi dalam dua modus mengeluarkan hasil yang berbeda.

Sementara itu,Ringbom (http://www.jyu.fi/hum/laitokset/solki/afinla/julkaisut/arkisto/

48/ringbom) berpendapat bahwa comprehension dan production berkaitan erat dalam artian bahwa keduanya terkait dengan kajian performa pembelajaran bahasa, terutama dalam pembelajaran bahasa kedua/bahasa asing. Proses belajar bahasa terkait dengan proses berkomunikasi yang melibatkan aspek pemahaman dan kemampuan penggunaan bahasa. Dengan demikian dapat diasumsikan pula bahwa ada interaksi antara comprehension dan production dalam pembelajaran. Dalam comprehension awalnya dimulai dari input bentuk-bentuk (struktur) linguistik, bagaimana struktur tersebut kemudian memiliki makna, dengan memetakan struktur ke dalam pengetahuan yang relevan yang telah dimiliki si pembelajar. Sedangkan dalam

production, pemetaan dimulai dari keinginan pre-verbal (sebelum ekspresi verbal

dikeluarkan) dan membungkus ekspresi itu dengan bentuk linguistik. Perbedaan arah antara pemetaan fungsi bentuk (form-function) dan memfungsikan bentuk (function-form) merupakan kesimpulan yang logis bahwa umumnya comprehension mengawali

production. Namun Brown (2000:34) mengingatkan untuk berhati-hati dalam

menyimpulkan bahwa semua aspek pemahaman bahasa mengawali atau mempermudah kemampuan menghasilkan bahasa.

Beberapa penelitian dalam dalam tiga puluh tahun terakhir cenderung, dalam beberapa kasus, menunjukkan bahwa kemampuan menghasilkan bahasa dapat mendahului pemahaman bahasa seperti dalam penelitian Ruder dan Finch, 1987, Grimshaw dan Rosen, 1990, Smolensky, 1996, De Villiers dkk., 2006 (Tasseva-Kurkchieva, 2008). Sebagai contoh, penelitian yang dilakukan oleh Hendriks dan Spenader (2005) (http://roa.rutgers.edu/files/803-0106/803-HENDRIKS-0-0.PDF) terhadap kemampuan anak-anak menggunakan kata ganti (pronomina) dan pronomina refleksif, menunjukkan bahwa anak-anak lebih dahulu mampu memroduksi pronomina dan pronomina refleksif sebelum mereka benar-benar memahaminya. Gathercole (1988) juga menyebutkan dalam penelitiannya bahwa anak-anak mampu menghasilkan aspek-aspek tertentu dari bahasa yang mereka belum pahami. Rice (1980) mendapati bahwa anak-anak yang tidak mengetahui sebelumnya tentang istilah warna dapat merespon secara verbal terhadap pertanyaan “What color is this?” Tetapi mereka tidak mampu merespon secara benar dalam menyebut warna benda (Brown, 2000:34). Namun Keenan dan MacWhinney (1987) dalam “Understanding the Relationship between Comprehension and Production” mengomentari bahwa penelitian Rice terlalu menyederhanakan tugas production. Production direduksi menjadi sekedar peniruan dan comprehension ditingkatkan ke perluasan penebakan secara metakognitif.

Persoalan yang mendasar untuk mendukung hipotesis apapun terkait analisis hubungan comprehension dan production terletak pada perumusan masalah, pendefinisian ulang istilah atau pembuatan instrumen pengambilan data yang tepat. Jadi, dalam pemerolehan bahasa apakah yang terjadi itu adalah relasi

comprehension-production atau comprehension-production-comprehension, semua terletak pada perumusan

masalahnya. Jika diamati, penelitian yang menunjukkan relasi

production-comprehension lebih banyak dilakukan pada kajian pemerolehan bahasa pertama pada

anak-anak (lihat Koster, Hoeks dan Hendriks,

www.let.rug.nl/~hoeks/topicshift09.pdf).

Penelitian lain yang telah dilakukan adalah tentang comprehension dan production dalam pemerolehan morfologi (Gasser, 1995), sistem ingatan verba yang digunakan dalam pemahaman kalimat (David Caplan, 1998), kompetensi pemerolehan leksikal struktur fonologi pada anak-anak (Pater, 1999), nomina dan verba dalam agramatisme pada penderita afasia (Kim dan Thomson, 2000), Pemahaman dan kemampuan menggunakan pronomina dan pronomina refleksif pada anak-anak pada pemerolehan bahasa pertama (Hendriks dan Spenader, 2005), pemerolehan awal bahasa kedua pada bentuk morfo-fonologi nomina bahasa Bulgaria yang berhubungan dengan gender dan

number agreement (Tasseva-Kurktchieva, 2008), pengaruh tingkat pengetahuan

tatabahasa terhadap pemahaman membaca dalam bahasa asing pada mahasiswa (Linde Lopez, 2008), dan pengaruh proses leksikal terhadap proses pemahaman kalimat dalam kajian psikolinguistik pada fungsi kerja otak: functional magnetic imaging

(fMRI) (D. Newman, dkk., 2009).

Penelitian tentang comprehension dan production di Indonesia umumnya terkait dengan pemahaman membaca bahasa asing, Inggris dan Perancis (http://repository.upi. edu/operator/upload/s_c0751_034009_chapter1.pdf,

uap.unnes.ac.id/.../metode_ penga

jaran_kosakata_pad_2301404035.d.,http://id.shvoong.com/humanities/linguistics/, http: //www.pps.unud.ac.id/thesis/pdf_thesis/unud-192-babii.pdf, http://lib.unnes.ac.id /12219 /,http://repository.upi.edu/operator/upload/s_prs_0705956_chapter1.pdf, penelitian.unair. ac.id/artikel_dosen_). Dalam tradisi pembelajaran bahasa asing, konsep comprehension biasanya dikaitkan dengan keterampilan menyimak dan membaca (listening, reading comprehension), sedangkan production dihubungkan dengan keterampilan berbicara dan menulis (speaking, writing). Namun sebenarnya banyak aspek bahasa yang dapat dikaji dalam kerangka comprehension – production ini. Sebagai contoh, pada kajian leksis yang ditelaah adalah pemahaman dan penggunaan kosakata pasif-aktif. Dalam fonologi adalah pada pengidentifikasian bunyi bahasa asing dan kemampuan menghasilkan bunyi tersebut, meskipun tidak seperti bahasa penutur asli. Sementara dalam tatabahasa, konsep cross-linguistic distance menjadi sangat penting untuk mengukur seberapa lebar kesenjangan yang terjadi antara comprehension dan production. Hakan Ringbom dalam “On the Relation between Second Language Comprehension and Production” mengatakan bahwa dalam situasi normal seorang pembelajar dapat memahami lebih banyak daripada yang dapat dia gunakan dalam bahasa asing, dan lebarnya kesenjangan antara pemahaman dan kemampuan menggunakan bahasa dipengaruhi oleh jarak antar sistem linguistik (cross-linguistic distance) serta kuantitas dan kualitas input data bahasa. Dalam comprehension pada pembelajaran bahasa kedua/asing, pengaruh bahasa pertama sangat dominan menjadi kerangka acuan (cross-linguistic influence) sehingga terkadang pembelajar melakukan kesalahan dalam production. Sebagai

contoh, pembelajar bahasa Inggris dalam tahap awal seringkali tidak menggunakan artikel untuk nomina karena dia tidak menemukan kerangka acuannya dalam bahasa Indonesia untuk fungsi gramatika ini.

Penelitian terkait pemahaman struktur gramatika bahasa Inggris dan penerapannya untuk menghasilkan kalimat baru sejauh ini belum ditemukan. Seperti yang telah disebutkan di atas, penelitian terkait comprehension dalam pembelajaran bahasa asing banyak dilakukan untuk keterampilan membaca. Sementara aspek gramatika banyak diteliti dalam kerangka pembelajaran bahasa pertama pada anak-anak dan di kajian psikolinguistik untuk kasus afasia. Oleh sebab itu penting untuk dipelajari bagaimana pembelajar memahami kegunaan bentuk struktur gramatika bahasa Inggris sebagai bahasa asing dan mengukur kemampuannya menggunakan pemahaman tersebut untuk menghasilkan kalimat baru.

Pola yang sama dengan rencana penelitian ini didapatkan pada penelitian yang dilakukan oleh Shapiro, Gordon, Hack, & Killackey, 1993; Saphiro & Levine, 1990; Thompson, Lange, Schneider, & Shapiro, 1997; Berndt dkk., 1997 (Kim & Thompson, 2000). Namun subjek penelitian tersebut ditujukan pada penutur asli penderita agrammatic apahasic untuk bidang ilmu psikolinguistik. Yang diteliti pada kajian itu adalah mencari hubungan antara perolehan kembali verba bahasa (verb retrieval) dan perangkat verb-argument structure pada penderita agrammatic aphasic dengan menggunakan uji kosakata verba dalam proses comprehension dan production. Sementara penelitian berikut ini dilakukan dalam konteks belajar bahasa asing (bahasa Inggris) untuk para pembelajar dewasa yang diasumsikan telah menerima pembelajaran bahasa Inggris dalam waktu yang cukup lama dan telah mendapatkan pemahaman yang cukup signifikan tentang struktur sintaksis (Syntactic Structures) bahasa tersebut. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan terhadap penderita aphasic, penelitian yang akan dilakukan ini bertujuan mencari hubungan antara comprehension dan production pada level kalimat dan menganalisis kesenjangan yang terjadi antara keduanya