BAB IV HASIL PENELITIAN
4.2. Deskripsi Hasil Penelitian
4.2.2. Analisa Bivariat
4.2.2.2. Hubungan Antara Masa Kerja Dengan Keluhan
Hubungan antara masa kerja pekerja cukur rambut dengan keluhan gejala ganngguan kesehatan akibat getaran lengan tangan dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.5 Hubungan Antara Masa Kerja Dengan Keluhan Gejala Ganngguan Kesehatan Akibat Getaran Lengan Tangan Berupa Masa Kerja Keluhan Kesehatan P Value 0 1 2 3 4 Total f % f % f % f % f % f % ≤ 15 Tahun 37 41,6 9 10,1 0 0,0 2 2,2 0 0 48 53,9 0,01 > 15 Tahun 5 5,6 4 4,5 15 16,9 9 10,1 8 9,0 41 46,1 Total 42 47,2 13 14,6 15 16,9 11 12,4 8 9,0 89 100 Keterangan : Keluhan Kesehatan : 0 : Tidak Ada Keluhan 1 : Kesemutan
2 : Penurunan Kemampuan Sensori Panas
3 : Penurunan Kemampuan Membedakan Rasa Nyeri 4 : Penurunan Kemampuan Merasakan Raba
Berdasarakan tabel diatas, dapat dilihat bahwa ada hubungan yang berarti antara masa kerja dengan keluhan gejala ganngguan kesehatan akibat getaran lengan tangan denga nilai p = 0,001 dimana α = 0,05 sehingga nilai p< 0,05. Pada
pengujian diatas menggunakan uji analisis Exact’s Fisher, dimana uji ini digunakan jika ada data yang ada tidak lolos syarat uji Chi Square. Pada Tabel ini terdapat nilai Expected Count < 5, dimana nilai Expected Count terkecil bernilai 3,69 sehingga digunakan uji alternative Exact’s Fisher
BAB V PEMBAHASAN
5.1.Keluhan Kesehatan Pada Pekerja Cukur Rambut Akibat Getaran Lengan Tangan
Keluhan kesehatan yang terjadi pada pekerja cukur rambut dibagi menjadi 4 jenis yaitu : kesemutan, penurunan kemampuan rasa nyeri, penurunan kemampuan membedakan sensori panas, dan kemampuan membedakan rasa raba. Dari total pekerja yang berjumlah 89 orang terdapat sebanyak 42 orang (47,2%) dari total pekerja yang tidak terkena dampak getaran ini 31 orang diantaranya bekerja dibawah 10 jam dan 37 orang bekerja kurang dari 15 tahun. Melihat dari sedikitnya jam kerja dan sebentarnya masa kerja pekerja tersebut maka dapat disimpulkan bahwa pekerja yang tidak mengalami keluhan ini terpapar paparan dalam lama paparan yang singkat dan kurang untuk menimbulkan efek dari getaran lengan tangan. Dari total 89 pekerja, pekerja yang mengalami kesemutan sebanyak 13 orang (14,6%), pekerja yang mengalami penurunan kemampuan membedakan rasa nyeri sebanyak 11 orang (12,4%), penurunan kemampuan sensori panas sebanyak 15 orang (16,9%) dan penurunan kemampuan sensori raba sebanyak 8 orang (9%). Pada rasa kesemutan dan nyeri terjadi ketika pekerja telah masuk pada stage 2 klasifikasi Stockholm Syndrome. Sedangkan suhu adalah ciri ciri dari pekerja yang telah masuk pada satge 3 klasifikasi Stockholm Syndrome, dan penurunan kemampuan rasa raba adalah ciri ciri pekerja telah masuk stage 4 klasifikasi Stockholm Syndorme. Berdasarkan hasil peneltian oleh Rahayu (2011) disebutkan bahwa pekerja yang mengalami nyeri sebesar 94,4%, pekerja yang
mengalami mati rasa sebesar 11,1 % dan pekerja yang mengalami kesemutan sebesar 38,9%.
5.2.Hubungan Antara Lama Kerja Dengan Keluhan Gejala Ganngguan Kesehatan Akibat Getaran Lengan Tangan
Dalam penelitian ini, lama kerja dinyatakan dengan lamanya pekerja cukur bekerja yang dihitung dalam jam/hari. Lama kerja pekerja dalam satu hari dapat meningkatkan terjadinya keluhan gejala ganngguan kesehatan akibat getaran lengan tangan. Berdasarkan tabel hasil peneltian pada tabel 4.5 dapat dilihat dengan jelas bagaimana sebaran keluhan gejala ganngguan kesehatan akibat getaran lengan tangan. Dari hasil analisis statistic uji Fishers’s Exact diperoleh nilai p value = 0,12 (p > 0,05) yang diartikan bahwa lama kerja tidak berhubungan dengan keluhan gejala ganngguan kesehatan akibat getaran lengan tangan.
Menurut Soedirman (2014) mengatakan bahwa kejadian keluhan gejala ganngguan kesehatan akibat getaran lengan tangan terjadi ketika pekerja terpapar getaran secara terus menerus dan merupakan gejala akumululatif dari lamanya paparan tersebut. Gejala keluhan gejala ganngguan kesehatan akibat getaran lengan tangan tidak akan tampak jika pekerja hanya terpapar dalam waktu singkat.
Pada beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya oleh beberapa peneliti seperti Rahayu (2011) menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan berarti antara lama kerja dan keluhan gejala ganngguan kesehatan akibat getaran lengan tangan. Hal yang sama juga dikatakan oleh HIdayat (2012) ketika meneliti paparan getaran lengan tangan pada pkerja dental. Dalam hasilnya tidak hubungan
yang berarti antara lama kerja dengan keluhan gejala ganngguan kesehatan akibat getaran lengan tangan.
5.3.Hubungan Antara Masa Kerja Dengan Keluhan Gejala Ganngguan Kesehatan Akibat Getaran Lengan Tangan
Masa kerja adalah waktu atau lamanya pekerja telah melakukan pekerjaan tersebut dalam hitungan tahun. Berdasarkan tabel 4,6 terdapat hubungan yang signifikan antara masa kerja dengan keluhan gejala ganngguan kesehatan akibat getaran lengan tangan dengan nilai p = 0,01 (p < 0,05).
Walaupun sebagian besar pekerja bekerja kurang dari 15 tahun namun jika melihat secara perorangan pekerja yang melebihi 15 taun terkena pada stadium 4 klasifikasi Stockholm dimana pekerja mengalami sensasi fisik atau rasa/kaku pada jari tangan, rasa nyeri seprti kesengat,persepsi sensori menurun, dan atau diskriminasi keadaan tangan dan gangguan ketangkasan. Sedangkan pada pekerja yang bekerja kurang dari 15 tahun hanya sampai pada stadium dua klasifikasi Stockholm dimana pekerja mengalami sensasi fisik atau rasa/kaku pada jari tangan dengan rasa nyeri seprti kesengat. Perbedaan jumlah pekerja ini berdasarkan tahun juga terjadi karena sifat dari pekerja tersebut yang sering berpindah-pindah. Terkadang ada pekerja yang hanya menjadi pencukur rambut dalam waktu kurang dari 1 tahun, dan kemudian mereka menjadi pekerja lainnya yang terkadang tidak berhubungan dengan mesin getar.
Terkadang ada pekerja yang menjadi pencukur rambut karena tidak ada pekerjaan lain dan untuk mengisi waktu luang. Dengan singkatnya masa kerja
menguntungkan bagi pekerja karena hanya mengakibatkan pekerja terkena dampak stadium ke dua dari klasifikasi Stockholm.
Hal yang senada juga diucapkan Soedirman (2014) didalam bukunya, ketika terjadi akumulasi paparan getaran pada tangan akan menimbulkan berbagai dampak yang tampak maupun tak tampak oleh mata. Rahayu (2011) terdapat hubungan masa kerja dengan keluhan gejala ganngguan kesehatan akibat getaran lengan tangan. Hidayat (2012) juga mengucapkan hal senada bahwa terdapat hubungan masa kerja dengan keluhan gejala ganngguan kesehatan akibat getaran lengan tangan. Getaran yang dihasilkan oleh mesin cukur dapat dikendalikan dengan melakukan perawatan pada mesin cukur rambut. Perawatan dapat dilakukan dengan melakukan perawatan berkala di bengkel. Perawatan ini dapat dilakukan selama 3 bulan 1 kali. Sehingga getaran yang dihasilkan dapat dijaga dan tidak menimbulkan efek lebih lanjut pada pekerja.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada pekerja cukur rambut di Kelurahan Padang Bulan I kecamatan Medan Baru, Medan tahun 2015, dapat disimpulakan sebagai berikut:
1. Pekerja yang tidak mengalami keluhan gejala ganngguan kesehatan akibat getaran lengan tangan sebanyak 42 orang (47,2%)., Pekerja yang mengalami kesemutan adalah sebanyak 13 orang (14.6%)., penurunan kemampuan merasakan perbedaan perasaan nyeri sebanyak 11 orang (12,4%), penurunan kemampuan sensori panas sebanyak 15 orang (16,9%), penurunan kemampuan merasakan perbedaan sensasi raba adalah sebanyak 8 orang (9,0%),
2. Tidak ada hubungan yang bermakna anatara faktor lama kerja dengan keluhan gejala gangguan kesehatan akibat getaran tangan
3. Ada hubungan yang bermakna antara masa kerja dengan keluhan gejala gangguan kesehatan akibat getaran tangan
6.2 Saran
1. Perawatan mesin cukur rambut harus dilakukan secara berkala setiap 3 bulan sekali untuk mempertahankan dan mencegah getaran mesin bertambah
2. Pekerja harap menvariasikan alat yang digunakan ketika memotong rambut menggunakan gunting rambut dan pisau cukur guna mengurangi intensitas getaran yang langsung dirasakan tangan
3. Diharapkan pekerja selama bekerja menggunakan sarung tangan tebal yang dapat mengurangi intensitas getaran dari mesin cukur menuju tangan selama pekerja bekerja. Sehingga dampak akumulatif yang ada selama masa kerja pekerja dapat dikurangi.
4. Melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala untuk mendeteksi dini gangguan kesehatan yang mungkin disebabkan oleh getaran
5. Diharapkan ada penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh paparan getaran lengan terhadap keluhan gejala gangguan kesehatan akibat getaran tangan dan faktor – faktor yang mempengaruhinya
DAFTAR PUSTAKA
Aditama, Candra Yoga. 2010. Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Universitas Indonesia (UI-Press) : Jakarta
Anonim. Bomel/Hand Arm Vibration Syndrome Underlying Causes and Risk Control in The Contruction Industry. Volume 4. Diakses 08.00 WIB http://www.hse-gov.uk.pdf/
Budiarto, Eko. 2011. Biostatistika Untuk Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat. EGC : Jakarta.
Budiono S. 1991.Bunga Rampai Hiperkes dan Keselamatan Kerja. PT. Tri Tunggal Tata Fajar : Semarang
Depnaker, 2006. Himpunan Peraturan Perundang-undangan Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Direktorat Pengawasan Norma dan Keselamatan Kerja : Jakarta
Dhamayanti, D., 2005. Beberapa Faktor Yang Mempengaruhi Munculnya Keluhan Akibat Pemakaian Gerinda di PT Dok Dan Perkapalan Surabaya. Skripsi. Diakses 10/11/2015 pada pukul 09.00 WIB http://download.portalgaruda.org/article.php?article=73892&val=4700 Direktorat Jenderal Pembinaan Kesehatan Masyarakat. Direktorat Bina Peran
Serta Masyarakat. 1990. Upaya Kesehatan Kerja Sektor Informal Di Indonesia. Jakarta: Departemen kesehatan RI.
Gabriel, J. F. 1988. Fisika Kedokteran. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta Gio, Prana Ugiana. 2012. Statistika Beserta Aplikasi dalam SPSS. Medan
Hidayat,M.S. 2012 Paparan Getaran Mesin Gerinda dan keluhan subyektif (Hand Arm Vibration Syndrome) Pada Tenaga Kerja di Abadi Dental Laboratorium Gigi Surabaya. Diakses pukul 09.00 WIB. http://download.portalgaruda.org/article.php?article=73893&val=4700 Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI Balai Keselamatan dan
Kesehatan Kerja Medan. 2013. Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI Balai Keselamatan dan Kesehatan Kerja Medan. Balai Keselamatan dan Kesehatan Kerja : Medan
Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI No.KEP.13/MEN/X/2011. Himpunan Peraturan Perundang-undangan Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Nilai Ambang Batas Faktor Fisik di Tempat Kerja. Direktorat Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan: Jakarta
M, Soeripto. 2008 Higiene Industri. FKUI: Jakarta
Nimpoeno, S.John. 1985. Penyakit Penyakit Akibat Kerja. Grafindo Utama: Jakarta
Notoadmojo, S., 2003. Pendidikan dan perilaku Kesehatan. Rineka Cipta : Jakarta Purnawati E.R. Hubungan Antara Paparan Getaran Lengan Tangan dengan
Keluhan Kesehatan dan Faktor – Faktor yang Mempengaruhi pada Supir Bajaj di Pasar Kebayoran Lama. Diakses 12/11/2015
pada pukul 10.00 WIB
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=73899&val=4700 Rusdi, Y. 2007. Hubungan antara Getaran Mesin pada pekerja bagian Produksi
Perum Perhutani unit I Jawa Tengah. Diakses 12/11/2015 pada pukul
21.00 WIB
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=73990&val=4700 Pakasi, R.E. Nyeri dan Kebas Pergelangan Tangan Akibat Pekerjaan? Hati-hati CTS!.
Diakses pada 14/8/2015 pukul 08.00 WIB. http:// http://medicastore.com/penyakit/3287/Sindrom_Terowongan_carpal.html Praktiknya, Ahmad Watik., 2008. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Kedokteran
& Kesehatan. Edisi I. RajaGrafindo Persada : Jakarta.
Suma’mur, P.K. 2009. Hygiene Perusahaan dan kesehatan Kerja. CV. Sagung Seto : Jakarta
Sastroasmoro, Sudigdo., & Ismael, Sofyan.,2010. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis. Cetakan Kedua (Edisi Ketiga). Sagung Seto : Jakarta. Wijaya, Caroline. 1993. Deteksi Dini Penyakit Akibat Kerja. Penerbit Buku