• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan Antara Integrasi Tes HIV Ke Dalam Pelayanan Puskesmas/Rumah Sakit Dengan Efektifitas Program Link To Care HIV Sakit Dengan Efektifitas Program Link To Care HIV

Dalam dokumen LAPORAN PENELITIAN STUDI KASUS (Halaman 75-88)

Bab III. Hasil Penelitian

B. Deskripsi Fungsi sistem kesehatan dalam Layanan Tes HIV dan Link to care HIV di Manokwari dan tingkat integrasinya ke dalam pelayanan

5. Hubungan Antara Integrasi Tes HIV Ke Dalam Pelayanan Puskesmas/Rumah Sakit Dengan Efektifitas Program Link To Care HIV Sakit Dengan Efektifitas Program Link To Care HIV

Secara umum penilaian tingkat integrasi berdasarkan penilaian sub sistem kesehatan untuk program link to care HIV terintegrasi sebagian ke dalam sistem kesehatan. Sedangkan penilaian efektifitas pelaksanaan program link to care HIV dengan beberapa kriteria baik secara kuantitas maupun kualitas. Efektifitas program link to care HIV dinilai berdasarkan seberapa besar kesenjangan antara jumlah yang telah mengambil tes HIV dan hasilnya positif dengan jumlah yang masuk ke dalam perawatan HIV.

75 Berdasarkan data rekapan Dinkes Manokwari hingga bulan Agustus 2015, tercatat sebanyak 17.367 orang yang telah melakukan tes HIV baik dengan metode sukarela maupun inisiatif petugas. Dari sejumlah angka tersebut hanya 3.330 orang diberikan layanan pasca konseling dengan hasil HIV + sebanyak 491 (2.82%) orang. Pasien dengan hasil HIV + yang dirujuk untuk mendapatkan layanan PDP sebanyak 370 orang (2.13%).

Gambar 5. Jumlah Pasien Yang Mengikuti Test HIV

Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Manokwari

Berdasarkan data cakupan layanan masih terdapat kesenjangan yang cukup besar antara proporsi cakupan orang yang melakukan tes HIV dengan proposi cakupan orang yang masuk dalam perawatan HIV yaitu sebesar 2.13 %. Bahkan angka ini masih jauh dari target yang ditetapkan dalam Strategi Rencana Aksi Nasional (SRAN) HIV dan AIDS tahun 2010-2014 yaitu 60% Odha yang membutuhkan sudah menggunakan ARV secara berkesinambungan. Berdasarkan cakupan program yang dibandingkan dengan target, maka dapat dikatakan program link to care HIV di Kabupaten Manokwari tidak efektif dalam penanggulangan HIV dan AIDS di Kabupaten Manokwari.

Data sekunder lainnya dari RSUD Manokwari sampai dengan bulan Agustus tahun 2015, diketahui jumlah kumulatif orang yang telah masuk perawatan HIV sebanyak 1.230 (73.6%),

17367 409 370 0 2000 4000 6000 8000 10000 12000 14000 16000 18000 20000

Jumlah pasien yang Test HV

Jumlah pasien dengan hasil HIV +

Jumlah pasien yang Test HV

76 dari jumlah ini, diketahui sebanyak 1.003 (81.5%) orang yang telah memenuhi syarat untuk masuk dalam pengobatan ARV, sedangkan sebanyak 439 (35.6%) orang yang sudah memenuhi syarat, tetapi belum memulai ARV. Untuk memulai pengobatan ARV memang diperlukan pemeriksaan dasar dan penunjang untuk memastikan kondisi kesehatan Odha. Jenis pemeriksaan seperti pemeriksaan Viral Load, CD4 serta pemeriksaan fungsi hati dan organ vital lainnya. Ini penting dilakukan untuk menghindari dampak pengobatan ARV.

Gambar 6. Jumlah ODHA Yang Mengikuti Test dan Perawatan HIV

Penilaian dampak pengobatan ARV dinilai dengan beberapa indikator. Berdasarkan data layanan RSUD Manokwari tahun 2015 diketahui jumlah kumulatif Odha yang telah menjalani pengobatan ARV sebanyak 581 orang dari jumlah tersebut, diketahui Odha yang meninggal dalam pengobatan sebanyak 136 orang (23.4%), jumlah Odha yang menghentikan ARV sebanyak 1 orang (0.17%), jumlah yang gagal follow up selama lebih dari 3 bulan sebanyak 165 orang (28.39%), jumlah yang rujuk keluar dengan ARV sebanyak 17 orang (2.92%), jumlah Odha yang masih menjalani pengobatan ARV sebanyak 262 orang (45%). Gambaran data ini menunjukkan bahwa proposi ODHA yang meninggal dibanding dengan yang masih dalam pengobatan ARV, tidak terlalu jauh perbedaannya sehingga perlu ditingkatkan kepatuhan minum obat dari Odha. Hasil penilaian tingkat kepatuhan ODHA dalam pengobatan ARV

77 menunjukkan tingkat kepatuhan > 95% atau kurang 3 kali dosis tidak minum dalam periode 30 hari.

Penilaian efektifitas secara kualitatif program link to care HIV berdasarkan dimensi akses dan ketersediaan layanan. Hasil wawancara salah satu informan menyatakan tidak mengalami kendala berarti saat mengakses layanan tes HIV dan PDP di Puskesmas maupun di Rumah Sakit. Berikut kutipan wawancaranya:

“pada saat datang kesini ada dapat kemudahan-kemudahan dari petugas layanan, dibantu sama petugasnya, untuk mendapatkan pelayanan atau obat disini mudah, enak, mereka baik-baik, gampang,luar biasa he he he..” (Wawancara dengan Odha) Sedangakan terkait cara pembayaran layanan, diketahui masih banyak kelompok populasi kunci maupun Odha yang belum menjadi peserta JKN/BPJS, sehingga harus mengeluarkan uang sendiri untuk mengakses layanan. Hambatan sebagian besar adalah kelengkapan administrasi kependudukan seperti Kartu Keluarga (KK) dan KTP. Sedangkan, untuk hambatan procedural sebagian besar informan menyatakan tidak menemui hambatan terkait procedural dalam pelayanan. Terkait konfidensialnya, ODHA menyatakan sangat percaya kepada petugas kesehatan di layanan maupun petugas LSM. Salah satu informan yang adalah kelompok populasi kunci menjelaskan bahwa semua WPS yang diperiksa atau menjalani tes IMS, HIV dan AIDS tidak ada seorang pun yang tau status teman lainnya sesame WPS karena sanagt dijaga kerahasiaannya oleh petugas. Berikut kutipan wawancaranya:

“iya semua kalau setelah cek sini kita buka hasilnya masing masing itu kan hanya dokter yang tau antara si opsinya sendiri misalnya korekan ya di panggil 1 per 1 sapa taw kita biasanya kan habis di korek kan harus diperiksa di lab perlu minum obat kah tidak itu kan dokter yang punya ini toh dokter punya pekerjaan saya tidak tau itu semua masih rahasia” (Wawancara dengan WPSL anggota OPSI)

Sedangkan untuk keterjangkauan layanan ada informan yang menyatakan bahwa biaya transport untuk sekali perjalanan menuju fasilitas pelayanan kesehatan kurang lebih 50rb rupiah, untuk melakukan tes HIV, pemeriksaan dasar dan penunjang. Tidak tersedia biaya operasional kepada Odha untuk mengakses layanan, insentif berupa uang transport hanya diberikan kepada petugas Puskesmas yang melakukan pendampingan dan pengambilan obat ARV di RSUD.

78 Terkait kapasitas dan kemampuan petugas, informan menyatakan dokter yang melakukan pelayanan sudah cukup baik dan professional. Berikut kutipan wawancaranya :

“iya yang jelas ya yang namanya tim dokter pasti orang orang yang sudah ini lah yang sudah professional dalam melayani kesehatannya orang karena kesehatannya orang itu susah sulit jadi gak sembarang sembarang sembarang orang gak sembarang petugas begitu” (Wawancara dengan WPS anggota OPSI)

Berdasarkan hasil wawancara diketahui, informan tidak pernah mengalami penolakan dari petugas karena statusnya baik sebagai ODHA maupun kelompok populasi kunci. Dalam pelayanan pun tidak ada diskriminasi dari petugas layanan. Justru rasa takut ditolak datang dari ODHA itu sendiri.

Untuk memberikan penjelasan kontribusi integrasi terhadap efektivitas, digunakan hasil deskripsi dan analisa penilaian tingkat integrasi, akses ketersediaan layanan, kualitas layanan dan cakupan layanan pada program link to care HIV. Kerangka konseptual yang dikembangkan penelitian ini mengasumsikan bahwa integrasi pada intervensi spesifik pada sistem kesehatan umum berkontribusi pada efektifitas layanan. Mekanisme integrasi dapat terjadi melalui pengaturan atau adopsi pada tata kelola, pembiayaan, perencanaan, pemberian layanan, monitoring evaluasi serta demand generation (Atun.2010). Integrasi dapat meningkatkan cakupan dan aksesibilitas layanan (Car et al. 2012; An et al ,2015), mengurangi fragmentasi, penghematan melalui penggabungan pendanaan dan keahlian, serta meningkatkan sumber daya (Atun et al.2009), mengamankan keberlanjutan dan efektivitas intervensi dan penguatan sistem kesehatan (Kawonga et al, 2012; 2013; Maher 2010; Grepin dan Reich, 2008;Cash-Gibson dan Rosenmoller 2014;. Shigayeva et al, 2010).

Penilaian tingkat integrasi program link to care HIV menunjukkan fungsi sistem program link to care HIV terintegrasi sebagian dengan sistem kesehatan secara umum. Kesimpulan penilaian ini berdasarkan atas penilaian integrasi masing-masing dimensi. Dari keseluruhan dimensi dalam sub system kesehatan ada 1 dimensi yang tidak terintegrasi dengan program link to care yaitu dimensi akuntabilitas, sedangkan yang terintegrasi secara penuh ada 2 dimensi yaitu dimensi regulasi dan pembiayaan. Sedangkan sisanya terintegrasi sebagian diantaranya dimensi formulasi kebijakan, dimensi pengeloaan sumber pembiayaan, dimensi penganggaran, proporsi, distribusi dan pengeluaran, dimensi mekanisme pembayaran layanan, dimensi kebijakan dan

79 sistem manajemen SDM, dimensi kompetensi SDM, dimensi sinkronisasi sistem informasi dan diseminasi dan pemanfaatan informasi, dimensi regulasi penyediaan, penyimpanan, diagnostic dan terapi, dimensi sumber daya, dimensi ketersediaan layanan, dimensi koordinai dan rujukan dan dimensi jaminan kualitas layanan.

Hasil penilaian tingkat integrasi sub sistem tersebut berbanding lurus dengan penilaian efektifitas program link to care HIV di Kabupaten Manokari yang menunjukkan efektifitas yang rendah. Kondisi ini tidak serta merta menjadi dasar penilaian efektifitas program link to care HIV di Kabupaten Manokwari. Oleh karena itu, pada bagian ini akan menjelaskan bagaimana hubungan integrasi pada program link to care yang berkontribusi terhadap efektivitas. Pengertian efektivitas dalam penelitian ini mengacu pada kemampuan sebuah intervensi untuk mencapai tujuan, penghematan biaya untuk pemanfaatan yang lebih besar serta kesesuaian dengan posisi kontekstual. Sebagaimana yang ditunjukkan dalam berbagai literature. (Wilson et al.,2015; Grassly et al.,2001; Van Deusen et al., 2015).

Program link to care sebagai bagian dari layanan PDP baik yang ada di Puskesmas maupun rumah sakit. Efektifitas program sangat ditunjang oleh kuantitas dan kualitas SDM di layanan. Dalam pelaksanaanya peran lebih besar dilaksanakan oleh SDM kesehatan dibanding non kesehatan. LSM Mikotepmos lebih menitikberatkan kepada upaya pencegahan dan promosi kesehatan kepada masyarakat, tetapi mereka juga melakukan penjaringan kepada masyarakat untuk melakukan tes HIV di fasyankes. Peran LSM sangat startegis karena memiliki fleksibilitas waktu dalam menjangkau dan menjaring masyarakat termasuk kelompok populasi kunci, dimana fleksibilitas ini tidak dimiliki oleh SDM kesehatan yang ada di Puskesmas maupun di Rumah Sakit sehingga kesenjangan ini dapat menjembatani melalui peran yang dilakukan oleh petugas penjangkau dari LSM. Selain itu dapat membantu mengurangi beban kerja yang cukup besar dari SDM Kesehatan. Namun sayangnya belum ada mekanisme yang mengatur kerjasama antara SDM kesehatan dan non kesehatan dalam program link to care HIV. Selain itu juga peran yang dilakukan oleh SDM didukung sepenuhnya oleh lembaga donor. Oleh karena itu, kerjasama yang terjadi lebih bersifat sementara, tergantung dari program dan lembaga donor dari LSM tersebut.

80 Gambaran ini memperkuat terjadinya integrasi sebagain pada sub sistem SDM berdampak terhadap efektifitas layanan oleh SDM sehingga cakupan layanan rendah. Hal ini ditunjukkan dengan perbedaan kesenjangan yang sangat besar antara mereka yang hasil tesnya positif dengan mereka yang masuk dalam perawatan HIV. Walaupun berdasarkan penilaian kualitas layanan, SDM kesehatan yang memberikan pelayanan dinilai professional dan memiliki kemampuan serta konfidensial dalam layanan, namun keterbatasan jumlah SDM dan beban kerja yang tinggi dapat mempengaruhi efektifitas cakupan layanan di Puskesmas maupun di Rumah sakit.

Selain SDM, efektifitas pelaksanaan program link to care HIV juga perlu ditunjang dengan ketersediaan farmasi dan alkes seperti reagen, obat IO dan obat ARV. Menurut PiC AIDS Dinkes Kabupaten Manokwari untuk kebutuhan reagen sampai dengan saat ini masih tercukupi dengan baik, sedangkan obat-obatan terkait dengan IO terutama kotri yang selalu menjadi kendala. Hal ini karena kotri itu selalu dibutuhkan oleh setiap pasien, sedangkan kotri yang disiapkan di Puskesmas untuk kebutuhan rutin puskesmas sedangkan untuk program sendiri tidak ada. Sedangkan untuk pengobatan ARV hanya tersedia di RSUD Manokwari yang tidak masuk dalam perencanaan dan pengaanggaran kebutuhan daerah. Kondisi ini menunjukkan untuk sub sistem penyediaan farmasi dan alat kesehatan yang terkait dengan HIV terintegrasi sebagian, berdampak terhadap efektifitas program link to care HIV di Puskesmas atau Rumah Sakit yang rendah.

81

Bab IV. Diskusi

Program link to care HIV merupakan bagian dari layanan Perawatan Dukungan Pengobatan (PDP). Dimulai dari layanan tes HIV baik secara sukarela maupun inisiatif petugas di fasyankes dan memastikan semua yang menjalani tes HIV memperoleh hasil tes dan masuk dalam perawatan HIV termasuk pengobatan ARV secara berkesinambungan. Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan orang yang terinfeksi HIV dan untuk pengendalian perkembangan virus HIV dengan dukungan layanan yang komprehensif dan berkesinambungan untuk menekan laju perkembangan infeksi menjadi AIDS.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa program link to care HIV terintegrasi sebagian dengan sistem kesehatan secara umum. Berdasarkan gambaran capaian kinerja program, menunjukkan hasil yang telah dicapai masih sangat rendah atau tidak memenuhi target. Efektifitas program perawatan, dukungan dan pengobatan masih belum memadai, beberapa penyebab adalah karena masih belum memadainya jumlah layanan tes HIV. Wilayah pelayanan Dinkes Kabupaten Manokwari yang luas dengan jumlah penduduk yang cukup tinggi, perlu diimbangi dengan peningkatan jumlah fasyankes yang menyediakan layanan tes HIV dan link to care HIV, baik kuantitas maupun kualitasnya. Diketahui dari 22 Puskesmas yang ada di Kabupaten Manokwari baru 7 Puskesmas atau 31.8% yang menyediakan layanan tes HIV dan link to care, ditambah dengan 2 Rumah Sakit. Namun demikian upaya untuk menjaring masyarakat melakukan tes HIV juga didukung dengan mobile VCT maupun diintegrasikan dengan kegiatan posyandu yang ada disetiap wilayah pelayanan.

Terintegrasinya sebagian sub sistem partisipasi masyarakat dalam program link to care HIV dikarenakan masih rendahnya akses populasi kunci dan ODHA terhadap layanan kesehatan yang tersedia juga tidak terlepas dari masih adanya stigma dan diskriminasi yang ada di masyarakat. Kelompok dukungan sebaya (KDS) belum banyak terbentuk, hanya ada satu KDS yang baru terbentuk di Puskesmas Masni. Ini menjadi salah satu indikator rendahnya keterlibatan ODHA, di samping masih belum tersedianya mekanisme pelibatan ODHA maupun kelompok populasi kunci dalam perencanaan dan monitoring upaya penanggulangan HIV dan

82 AIDS. Odha yang menjalani pengobatan ARV membutuhkan dukungan yang besar baik dukungan psikis dan non psikis dari keluarga maupun dari petugas kesehatan. Kondisi ini dapat menjelaskan rendahnya efektifitas cakupan program karena terintegrasinya sebagian sub sistem partispasi masyarakat.

Sub sistem penyediaan farmasi dan alat kesehatan terkait dengan layanan tes HIV dan link to care HIV terintegrasi sebagian dengan sistem kesehatan secara umum. Masih lemahnya sistem logistik terkait dengan pengobatan IO dan suplai dari ARV juga memberikan dampak efektifitas program pengobatan yang masih rendah. Perencanaan dan anggaran pengobatan untuk IO di Puskesmas masih terpisah antara kebutuhan program HIV dan kebutuhan untuk pasien secara umum. Hal ini dapat menjadi penghambat keberhasilan pengobatan IO dan beresiko makin meningkatkan risiko laju infeksi virus.

Terkait dengan sub sistem pembiayaan untuk program link to care HIV yang menunjukkan integrasi sebagian dengan sistem kesehatan secara umum, dapat berkontribusi terhadap capaian program. Sebagain besar pembiayaan terkait dengan layanan PDP, khususnya untuk pengadaan ARV menggunakan sumber pendanaan program yang dibiayai oleh APBN.Sementara pembiayaan untuk pengobatan IO mengunakan dana perimbangan daerah; kabupaten, propinsi dan pusat. Ada regulasi yang mengatur pembagian proporsi anggaran terkait dengan logistic PDP. Walaupun alokasi anggaran dirasakan oleh sejumlah informan dilayanan masih terbatas, namun sudah menunjukkan komitmen pemerintah daerah untuk mendukung pelayanan PDP, dengan tidak banyak melibatkan MPI dalam pembiayaan program link to care HIV. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan sebelumnya yang menyebutkan bahwa integrasi pengelolaan pembiayaan baik sumber domestic dengan sumber dari luar (MPI) dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk penguatan system kesehatan dan mendorong layanan kesehatan (Rasschaert et al,2011).

Terintegrasinya sebagian SDM kesehatan untuk layanan tes HIV dan link to care HIV dengan sistem kesehatan secara umum, tidak memberikan kontribusi secara efektif terhadap capaian program. Tanggungjawab PDP lebih banyak kepada petugas di Puskesmas dan Rumah Sakit. LSM hanya berperan dalam penjangkauan kelompok populasi kunci dan pendampingan Odha.

83 Namun, tidak ada regulasi yang mengatur, sehingga kerjasama yang dilakukan sebatas insidensial dan tidak berkesinambungan. Pembiayaan SDM kesehatan sepenuhnya menjadi tangungjawab pemerintah, sedangkan SDM non kesehatan yang sebagian besar LSM, sumber dana dan sumber dayanya berasal dari MPI. Hal ini tidak sejalan dengan kajian yang menyebutkan bahwa integrasi pembiayaan khususnya pada pembiayaan SDM penting untuk meningkatkan efisiensi teknis, dimana penggabungan pembiayaan dari sistem keuangan dapat mengurangi pengeluaran seperti insentif yang muncul karena adanya program yang berbeda (Sweeney,et.al.,2012). Namun disadari bahwa tenaga kesehatan LSM tidak menjadi bagian dari layanan kesehatan pemerintah. Mereka hanya dianggap sebagai mitra yang sama-sama bekerja untuk progam link to care HIV, sehingga tidak ada regulasi khusus tentang pengaturan kerjasama SDM non kesehatan. Hal ini yang harus menjadi focus perhatian pemerintah daerah kedepan, setidaknya ada upaya untuk mensinergikan dan mengkoordinaskan dengan sumber-sumber pembiayaan lainnya.

Sub sistem informasi strategis untuk layanan PDP dalam pencatatan dan pelaporannya terpisah dengan sistem informasi yang ada di Puskesmas maupun di Rumah Sakit. Di Puskesmas menggunakan SIMPUS, sedangkan data terkait layanan HIV dan AIDS di Puskesmas dan Rumah Sakit menggunakan SIHA. Tetapi data penjangkauan dan pendampingan populasi kunci dan Odha yang dilakukan oleh LSM tidak dapat diakomodir dalam SIHA, sehingga LSM menggunakan sistem informasi yang dimiliki lembaga donor. Ini dapat memberikan dampak negative terhadap efektifitas program. Temuan ini tidak sejalan dengan kajian yang menyebutkan adanya sistem informasi yang berjalan paralel menunjukkan hasil yang kurang efisien (Kawonga, 2012). Namun demikian integrasi sistem informasi strategis akan menjadi sangat bermakna apabila semua informasi terkait layanan PDP menjadi bagian dari sistem kesehatan daerah. Sinkronisasi dan pemanfaatan data menjadi bagian penting untuk perencanaan serta monitoring evaluasi program. Implikasi sistem informasi yang terpusat menjadikan pemerintah daerah tidak memiliki basic data untuk perencanaan yang kuat serta monitoring evaluasi pelaksanaan program.

84

Bab V. Kesimpulan dan Rekomendasi

A. Kesimpulan

Penelitian ini bertujuan untuk melihat secara sistematik kontribusi integrasi tes HIV ke dalam sistem kesehatan terhadap efektivitas link to care HIV di tingkat layanan puskesmas atau rumah sakit. Melalui serangkaian penelitian yang telah dilakukan oleh Tim Peneliti Universitas, kesimpulan yang bisa ditarik mengacu pada permasalahan dan pertanyaan – pertanyaan yang dikembangkan adalah sebagai berikut :

1. Terintegrasinya sebagian sub sistem manajemen dan regulasi pelayanan tes HIV dalam pelayanan Puskesmas atau Rumah sakit, berkontribusi efektif terhadap link to care HIV. Regulasi dan tata kelola layanan tes HIV dan link to care HIV sudah tersedia, namun akuntabiltas yang masih rendah karena rendahnya pelibatan masyarakat dan populasi kunci.

2. Terintegrasinya sebagian sub sistem pembiayaan pelayanan tes HIV dalam pelayanan Puskesmas atau Rumah Sakit, berkontribusi efektif terhadap capaian program link care HIV. Sebagain besar pembiayaan terkait dengan layanan PDP menjadi tanggungjawab pemerintah, baik pemerintah kabupaten, propinsi dan pusat. Ada regulasi yang mengatur pembagian proporsi anggaran terkait dengan logistic PDP.

3. Terintegrasinya sebagaian sub sistem pengelolaan SDM pelayanan tes HIV dalam pelayanan Puskesmas atau Rumah Sakit, tidak berkontrbusi efektif terhadap link to care HIV. Tanggungjawab PDP lebih banyak kepada petugas di Puskesmas dan Rumah Sakit. LSM terbatas dalam penjangkauan kelompok populasi kunci dan pendampingan Odha. Namun, tidak ada regulasi yang mengatur, sehingga kerjasama yang dilakukan sebatas insidensial dan tidak berkesinambungan. Pembiayaan SDM kesehatan sepenuhnya menjadi tangungjawab pemerintah, sedangkan SDM non kesehatan yang sebagian besar LSM, sumber dana dan sumber dayanya berasal dari MPI.

4. Terintegrasinya sebagian sub sistem penyediaan dan alkes pelayanan tes HIV dalam pelayanan Puskesmas atau Rumah Sakit, tidak berkontribusi efektif terhadap link to care

85 HIV. Masih lemahnya sistem logistik terkait dengan pengobatan IO dan suplai dari ARV juga memberikan dampak efektifitas program pengobatan yang masih rendah.

5. Terintegrasinya sebagian sub sistem informasi strategis pelayanan tes HIV dalam pelayanan Puskesmas atau Rumah Sakit, tidak berkontribusi efektif terhadap link to care HIV. Informasi terkait layanan HIV dan AIDS belum sepenuhnya masuk menjadi bagian dari sistem informasi kesehatan secara umum baik di Puskesmas maupun di Rumah Sakit. Data penjangkauan dan penjaringan kelompok populasi berisiko oleh LSM tidak menjadi bagian dalam sistem infromasi kesehatan oleh karenanya diperlukan sinkronisasi sistem informasi.

6. Terintegrasinya sebagian sub sistem partisipasi masyarakat dalam pelayanan tes HIV ke dalam pelayanan Puskesmas dan Rumah Sakit, berkontribusi efektif terhadap link to care HIV. Masih rendahnya partisipasi masyarakat dan kelompok populasi kunci dalam perencanaan dan monitoring program berdampak terhadap layanan yang diberikan belum sepenuhnya menjawab kebutuhan masyarakat maupun kelompok populasi kunci. B. Rekomendasi

Integrasi sebagai sebuah tujuan yang ideal untuk menjamin efektifitas dan keberlanjutan program HIV dan AIDS termasuk link to care HIV bisa diwujudkan jika secara bersamaan juga ada upaya untuk memperkuat system kesehatan itu sendiri :

1. Untuk Penyedia Layanan (Dinas Kesehatan dan Rumah Sakit) :

a. Memperkuat layanan di setiap fasilitas pelayanan kesehatan baik itu Puskesmas dan Rumah Sakit dengan membangun kerjasama dan koordinasi yang baik dengan stakeholder terkait termasuk LSM, sehingga lebih dapat mengoptimalkan pelayanan baik itu penjaringan sampai pada pengobatan dan perawatan Odha sehingga dapat memastikan setiap yang melakukan tes HIV dan hasil tesnya positif masuk dalam perawatan HIV yang komprehensif dan berkesinambungan.

b. Meningkatkan jumlah Puskemas dengan layanan tes VCT sehingga dapat lebih luas menjangkau masyarakat di wilayah yang sulit untuk diakses. Peningkatan jumlah fasyankes juga perlu ditunjang dengan peningkatan SDM kesehatan yang bertugas.

86 c. Sinkronisasi sistem informasi terkait dengan layanan tes HIV dan link to care HIV yang dihasilkan disetiap layanan baik di Puskesmas dan Rumah sakit, termasuk LSM yang menjangkau dan menjaring kelompok populasi kunci, sehingga daerah

Dalam dokumen LAPORAN PENELITIAN STUDI KASUS (Halaman 75-88)