BAB I PENDAHULUAN
C. HUBUNGAN ANTARA KETERAMPILAN COPING
Setiap pemain sepak bola, layaknya juga sebagai manusia biasa, jika dalam kehidupan sehari-harinya selalu dihadapkan oleh berbagai macam tuntutan, baik itu tuntutan yang berhubungan langsung dengan dunia sepak bola maupun tuntutan dalam kehidupan pribadi dan sosialnya, maka pemain
itu akan merasa tertekan dan mengalami stres. Jika tekanan atau stres yang dialaminya itu tidak sesegera mungkin diatasi maka hal tersebut, secara tidak langsung, dapat mempengaruhi kinerja atau performanya dalam melakukan suatu tugas, yang dalam hal ini adalah bermain sepak bola.
Untuk itu, jika seorang pemain sepak bola mengalami stres atau merasa tertekan dalam kehidupan sehari-harinya maka pemain yang bersangkutan harus sesegera mungkin melakukan tindakan atau respon untuk mengatasi atau menguranginya supaya performa atau kinerjanya (dalam bermain sepak bola) tidak terganggu. Tindak mengatasi yang dimaksudkan dalam hal ini adalah menggunakan dan mengembangkan keterampilan coping
yang dimiliki oleh pemain tersebut. Keterampilan coping merupakan suatu tingkah laku yang biasa digunakkan oleh seorang individu untuk mengatasi suatu situasi yang dapat merugikan hidupnya (www.enpsychlopedia.com). Dengan mengembangkan keterampilan coping yang telah dimiliki oleh seorang individu, ketika sedang menghadapi suatu permasalahan atau ketika sedang merasa stres, akan sangat berguna didalam kehidupannya.
Jika seorang individu atau seorang pemain sepak bola tidak dapat menggunakan dan mengembangkan keterampilan coping yang telah dimilikinya maka dirinya akan mengalami kesulitan dalam hidupnya, khususnya terhadap performanya didalam suatu pertandingan sepak bola yang akan dijalaninya. Sebagai contoh, untuk aspek kemampuan untuk menikmati saat tenang atau saat santai, jika seorang pemain sepak bola dapat menikmati dan memanfaatkan saat santai atau liburan yang ada maka pemain tersebut
diasumsikan memiliki pikiran yang tenang dan memiliki kondisi badannya (fisik) yang segar sehingga diasumsikan atau diperkirankan pemain yang bersangkutan dapat bermain dengan baik selama satu (90 menit) pertandingan yang akan dijalani nantinya. Contoh berikutnya, untuk aspek kemampuan untuk beradaptasi, jika seorang pemain sepak bola yang berpindah tim tidak dapat melakukan adaptasi terhadap suasana atau kondisi dari tim barunya itu maka diasumsikan pemain tersebut akan mengalami kesulitan untuk bekerja sama dengan rekan-rekan barunya itu.
Contoh lainnya, untuk aspek reaksi terhadap stres dan atau kemampuan untuk melakukan pendekatan secara tepat terhadap situasi, jika seorang pemain sepak bola sedang mengalami permasalahan dalam hidupnya (baik yang berhubungan langsung dengan sepak bola maupun tidak) tidak dapat sesegera mungkin untuk mengatasi atau meredakannya (walau hanya untuk sementara waktu) maka diasumsikan pemain tersebut tidak dapat menampilkan performa terbaiknya dalam suatu pertandingan yang akan dijalaninya nanti. Atau dengan kata lain, performa pemain tersebut dalam suatu pertandingan yang akan dijalaninya nanti dapat terpengaruh oleh karena dirinya masih “larut” dalam permasalahan yang sedang dihadapinya. Sebagai bukti, seorang pemain sepak bola top dari negara Brazil, Adriano, selama hampir satu tahun, tahun 2006, sering mendapatkan permasalahan dalam hidupnya; seperti kehilangan (meninggal) ayahnya, masalah dengan kekasihnya, ditinggal kekasihnya, dsb.; namun tidak dapat menemukan cara untuk mengatasi atau meredakannya sesegera mungkin sehingga performanya
dalam setiap pertandingan yang dijalaninya selama jangka waktu tersebut tersebut dapat dikatakan menurun (Soccer, 11 November 2006).
Performa atau kinerja seorang pemain sepak bola dalam setiap atau suatu pertandingan ditentukan berdasarkan baik atau buruknya permainan mereka dalam pertandingan itu. Penilaian terhadap baik atau buruknya permainan dari seorang pemain dapat dilihat dari tingkat keberhasilannya dalam melakukan suatu gerakan atau teknik dasar yang dapat bermanfaat bagi timnya, atau dengan kata lain pemain tersebut memberikan kontribusi yang cukup besar bagi permainan timnya. Semakin tinggi tingkat keberhasilan seorang pemain melakukan gerakan yang bermanfaat bagi timnya maka semakin baik atau tinggi pula performa yang dapat dicapai oleh pemain tersebut.
Dewazien (dalam Wijaya, 2004) mengungkapkan bahwa performa seorang pemain sepak bola dalam sebuah pertandingan ditentukan oleh empat faktor, yaitu faktor kognitif (IQ, kemampuan teknik atau skill, dan pemahaman strategi), faktor fisik (stamina, postur tubuh), faktor psikologis (mental atau kepercayaan diri, motivasi, dan emosi), dan faktor sosial (relasi sosial yang dimiliki oleh pemain yang bersangkutan).
Keempat faktor diatas saling berkaitan dan menentukan performa seorang pemain sepak bola dalam sebuah pertandingan yang dijalaninya. Kemampuan teknik dan IQ (faktor kognitif) didukung dengan faktor fisik seperti daya tahan tubuh, postur tubuh, kelenturan tubuh, dan kecepatan dalam berlari serta dengan pemilihan strategi yang tepat untuk menghadapi lawan
secara nyata dapat menentukan performa seorang pemain sepakbola dalam sebuah pertandingan. Faktor psikis juga memiliki pengaruh yang tidak kalah besarnya dengan faktor-faktor yang lain, karena dimungkinkan terdapat beberapa kondisi dalam sebuah pertandingan yang akan mempengaruhi kondisi psikis seorang pemain, yang nantinya juga akan berpengaruh terhadap performa bertanding pemain yang bersangkutan.
Harsono (2003) juga berpendapat bahwa terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi performa seorang pemain sepakbola dalam sebuah pertandingan, yaitu faktor yang berhubungan langsung dengan organisasi pertandingan, faktor yang berhubungan dengan keadaan dari si pemain yang bersangkutan, faktor yang berhubungan dengan latihan dan pelatih, dan faktor mengenai kecemasan dan arousal yang dialami oleh pemain yang bersangkutan.
Faktor-faktor tersebut juga saling berhubungan atau saling mendukung antara satu dengan yang lainnya dan dapat mempengaruhi kesiapan seorang pemain sepak bola dalam menghadapi suatu pertandingan yang nantinya, dapat diasumsikan, juga akan mempengaruhi performa yang akan ditampilkan oleh pemain yang bersangkutan dalam pertandingan tersebut.
Dari penjelasan-penjelasan diatas, maka dapat dikatakan pula bahwa keterampilan coping dapat dimasukkan kedalam faktor psikologis dan hal tersebut dapat mempengaruhi performa atau kinerja seorang pemain sepak bola dalam sebuah pertandingan. Cohn (2005) berpendapat bahwa terdapat sepuluh cara bagi seorang atlet untuk dapat menampilkan performa terbaiknya
dalam sebuah pertandingan dan mengembangkan keterampilan coping
merupakan salah satu diantaranya. Untuk itu jika seorang pemain sepak bola dapat menggunakan dan menggembangkan keterampilan coping dengan baik maka dapat diasumsikan pemain tersebut mampu untuk menampilkan performa terbaiknya dalam suatu pertandingan. Kesimpulan yang dapat diambil dari beberapa penjelasan diatas adalah keterampilan coping dari seorang pemain sepak bola memiliki hubungan yang positif terhadap performanya dalam suatu pertandingan. Semakin baik atau tinggi tingkat keterampilan coping dari seorang pemain sepak bola maka semakin baik atau tinggi pula performa yang dapat ditampilkannya dalam suatu pertandingan.
Hubungan antara keterampilan coping dan performa seorang pemain sepak bola dalam suatu pertandingan dapat dilihat dalam bagan atau skema berikut ini:
Gambar 1
Skema Hubungan Keterampilan Coping dan Performa Seorang Pemain Sepakbola dalam Suatu Pertandingan