BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.4. Tingkat Suku Bunga
2.4.3. Hubungan Tingkat Suku Bunga dan PPP
Terdapat satu hubungan diantara kurs bunga nominal dan kurs depresiasi diantisipasi (anticipated rate of depreciation), dimana diberikan oleh persamaan ekonomi terbuka Irving Fisher:
i = i* + x ... (4)
dimana i dan i* adalah tingkat suku bunga di dalam negeri dan di luar negeri dan x adalah kurs depresiasi mata uang sendiri (home country) yang telah diantisipasi. Tambah dan kurang tingkat inflasi diantisipasi (anticipated inflation rate) pada kedua-dua bagian kiri dan kanan persamaan ini, dimana ia menghasilkan satu persamaan dalam bentuk tingkat suku bungar atau kadar bunga penyesuaian infasi (inflation-adjusted interest rate):
r* = r + R/R ... (4a)
Paritas tingkat suku bunga (real interest parity), menurut (1a) berlaku dan merupakan suatu hal lazim jika diferensial tingkat suku bunga adalah sama dengan nilai kurs yang diprediksi apresiasi /R. Dari kondisi paritas bunga ini, nampak jelas bahwa dibawah PPP absolut, kurs nilai pertukaran adalah konstan. Dalam ketidak ada hambatan aliran modal (restriction on capital flows), tingkat suku bunga haruslah secara tegas disamakan antar negara.
Persamaan paritas tingkat suku bunga mempunyai dua implikasi menarik. Pertama, hubungan diantara tingkat nialai mata uang kebijakan moneter. Misalnya bahwa dalam satu konteks makroekonomi jangka menegah, disebabkan satu gangguan, nilai tukar aktual hanya menyesuaikan secara bertahap kepada tren tingkat
R berdasarkan pada proses: /R = (1/a)(R -R). Disini 1/a adalah kecepatan penyesuaian (speed of adjustment), dimana diantaranya bergantung pada tingkat atau seberapa jauh kekakuan (rigidity atau stickeness) harga dan upah. Dengan mencantumkan proses ini dengan (4a), maka akan menghasilkan suatu persamaan keseimbangan pertukaran kurs (the equilibrium real exchange rate):
R=R +a(r–r*) ... (5)
Hasil keputusan ini bahwa ketika tingkat suku bunga di dalam negeri lebih besar dari yang di luar negeri, maka nilai mata uang akan terapresiasi dibandingkan dengan nilai trennya. Satu kebijakan moneter ketat (a tightening of monetary polisi), dengan menaikkan tingkat suku bunga, selanjutnya berpengaruh kepada satu apresiasi (transitori). Persamaan (2) dari model dinamik Mundell-Fleming menerangkan pergerakan-pergerakan nilai mata uang pada jangka panjang secara bertahap akan kembali kepada keadaan normal ( keadaan awal ).
Implikasi kedua persamaan (4a) digambarkan oleh perbedaan (distinction)
traded goods (barang industri)-nontraded goods (barang jasa) mempunyai implikasi bagi kurs tukaran benar. Jika hukum satu harga dilaksanakan bagi barang-barang traded dan indeks harga di kedua negara adalah sama. Maka, sebagaimana pada
pertanyaan sebelumnya, kurs pertukaran adalah sama dengan harga relatif nontraded goods (dalam satu mata uang umum) di kedua negara. Penyimpangan-penyimpangan struktural seperti diferensial pertumbuhan produktivitas atau perubahan-perubahan pada permintaan agregat akan mempunyai satu dampak sistematik pada harga relatif barang-barang nontraded dan oleh sebab itu diferensial tingkat suku bunga (real interest rate differentials). Khusunya, negara dengan tingkat pertumbuhan produktivitas lebih tinggi mempunyai satu harga relatif barang dalam negeri yang semakin meningkat, dan mempunyai satu tingkat suku bunga lebih rendah.Contoh lain, satu negara dimana permintaan agregatnya tinggi (transitori) mempunyai satu harga dalam negeri yang tinggi tetapi kemudiannya jatuh. Dalam keadaan tersebut, tingkat suku bunga adalah tinggi jika dibandingkan di luar negeri. Oleh sebab itu, penyimpangan-penyimpangan dari PPP yang berlaku, jangka pendek atau kecendrungan, menunjukkan satu keseimbangan diferensial tingkat suku bunga internasional.
Deviasi-deviasi PPP mempengaruhi diferensial bunga (interest differential) dalam satu cara lain. Pada persamaan (4) kita mengandaikan risk-neutrality. Tetapi sekali spekulator bersikap risk-averse diterima, kemungkinan bahwa pergerakan mata uang dapat menyimpang dari PPP tegas (absolut), berpengaruh terhadap resiko portfolio dihubungkan dengan komposisi mata uang portfolio itu. Deviasi-deviasi PPP seterusnya adalah satu motif dasar bagi diversifikasi portfolio internasional. Satu premium risiko akan muncul, dan diantara determinan premium ini adalah variabilitas nilai tukar mata uang. Jadi, premium risiko akan menjadi satu fungsi
tambahan ketidakpastian kurs mata uang (perhatikan survei Branson dan Henderson, 1984).
2.5. Hipotesis Penelitian
Sehubungan dengan tujuan ini yang dinyatakan sebelumnya, penulis akan mengangkat dan berusaha sebaik mungkin untuk menggambarkan empat hipotesis berhubungan dengan depresiasi Rupiah. Empat hipotesis ini bersandarkan pada tinjauan literatur. Berdasarkan data yang tersedia, keputusan hipotesis-hipotesis tersebut akan dianalisis dalam bentuk regresi pada bab 4
1. Tingkat Inflasi berpengaruh positif dalam penerapan Purchasing Power Parity, Ceteris paribus
2. Tingkat Suku Bunga berpengaruh positif dalam penerapan Purchasing Power Parity, Ceteris paribus
3. Penawaran uang berpengaruh positif dalam penerapan Purchasing Power Parity, Ceteris paribus
2.6. Kerangka Konseptual
Nilai Tukar Mata Uang
Tingkat Suku
Bunga
Inflasi
Penawaran Uang (MS)PPP (Purchasing Power Parity / Paritas Kekuatan Membeli
Gambar 2.2. Kerangka Pemikiran Analisa Pengujian Pemberlakuan Purchasing Power Parity pada Mata Uang Rupiah terhadap dollar Amerika.
Dari gambar bagan kerangka konseptual diatas dapat dilihat bahwa Tingkat suku bunga dan Money supply, dan inflasi merupakan faktor yang dominan dalam mempengaruhi nilai tukar, dan perubahan nilai tukar akan berpengaruh terhadap PPP.
2.7. Penelitian Sebelumnya
Adapun penelitian yang telah dilakukan sebelumnya dapat dijadikan bahan rujukan yang relevan dengan penelitian ini dan dapat dijadikan referensi antara lain:
1. Morris Goldstein (June 1980) meneliti dampak Fleksibilitas nilai pertukaran kurs mata uang pada pelaksanaan kebijakan di negara-negara industri. Tujuannya adalah untuk meneliti pengalaman 1973-1979 dengan sistem keuangan mengambang (managed floating) dan tinjauan pustaka tersebut berhubungan dengan kurs pertukaran fleksibel supaya dapat menentukan jika dan bagaimana tingkat fleksibel telah membuat kebijakan makroekonomi menjadi lebih sulit dilaksanakan.
2. Hariyanti (2001) dalam Hafer and Jasen (1991), Miller (1991), Hofman and Rsche (1992), dan Mc Nown and Wallace (1992) dengan menggunakan uji kointegrasi dari Engle-Granger dan Metode Johansen menyimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah uang beredar baik M1 maupun M2
dalam jangka panjang saling memiliki hubungan, akan tetapi secara umum M1
tidak berkointegrasi dengan tingkat suku bunga, sedangkan M2 berkointegrasi.
Didukung dengan argumen yang dilakukan oleh Miller M2 merupakan salah
satu faktor yang menentukan kebijaksanaan moneter, sehingga hubungan antara tingkat suku bunga terhadap jumlah uang beredar menunjukkan kestabilan permintaan uang dalam jangka panjang.
3. Hiroki Tsurumi, Chyong L.Chen, JEI, 13(2) pengujian: Suatu kasus nilai tukar mata uang Dollar Taiwan.Dari Juli 1978 hingga April 1989, Taiwan mengadopsi satu sistem nilai mata uang yang membolehkan fluktuasi dengan satu band yang terbatas (narrow band) kursnya. Dengan menggunakan data bulanan kurs dollar Taiwan/dollar AS, menunjukkan bahwa inference
(kesimpulan) pada hipotesis PPP adalah sensitif dipertimbangkan dari apakah menggunakan double truncation dan autoregresif ataupun menggerakkan
average error terms ke dalam model regression. PPP mempunyai satu akar unit (unit root). Dengan menggunakan augmented Dickey-Fuller test (ADFT) termasuk augemnted point optimal test (APOT). APOT test disarankan oleh Nakatsuma, Uemura, dan Tsurumi (1997), dan cenderung menghasilkan kekuatan lebih baik dari ADFT. Pada tingkat kesignifikanan 5%, menurut ADFT, semua variabel kecuali satu yaitu ln(CPI-AS), gagal menolak hipotesis nul satu unit root, tetapi menurut APOT, hanya ln(WPI-TWN) menolak hipotesis nul.
Adapun pengujian yang dilakukan olehnya adalah test Konvensional Teori PPP terhadap nilai kurs dollar Taiwan/dollar AS. Teori PPP telah diuji secara meluas pada tahun-tahun kebelakang ini. PPP relatif diekspresikan sebagai
Pt
Et = ——………..………(6)
Pt*
Dimana Et = kurs tukar nominal mata uang domestik, Pt = indeks harga
domestik, dan Pt*= indeks harga luar negeri. Melalui survey literatur, kita dapat
mempertimbangkan salah satu dari tiga model berikut dalam meng-test PPP. Model 1 rt = + rt-1 + ut …...………(7)
Dimana rt = Et Pt*/Pt. Penegasan bahwa PPP adalah satu realisasi jangka-
tidak, dimana jika =1, maka rt adalah satu random walk tanpa tendensi apapun untuk
berfluktuasi
/(1– ).
Dengan mempertimbangkan logaritma persamaan (1) dan menambah error term, maka dibentuk model berikut:
Model 2 lnEt = + (lnPt – Pt*)+ ut ……...…………..…………(8)
dimana kita mungkin mengatakan bahwa PPP dipegang (diterima) jika = 1. Uji hipotesis PPP adalah satu test koefisien regresi. Model 3 berikt adalah modifikasi model 2 ditulis sebagai berikut:
Model 3 lnEt = + 1lnPt – 2 ln Pt*)+ ut…………...…………..…(9)
Model ini digunakan untuk menguji hambatan bersama (simultaneous restriction) pada koefisiennya: ( 1, 2) = (1, –1). Pada model 2 dan 3, juga menguji
apakah satu hubungan ko-integrasi (cointegrating relationship) diterima diantara
Tabel 2.1. Uji PPP : Survei Literatur
Penulis Data Tahun Negara
Indeks harga Model Metode Test Kesimpulan Corbae dan Ouliaris
(1988) Bulanan 07.73-09.86 AS CPI 2 ADF, PP
PPP tidak diterima, tidak wujud kointegrasi Enders (1988) Bulanan 04.60-05.71 01.73-11.86 AS WPI 1 ARMA,DF PPP tidak diterima selama rejim tukaran fleksibel Abuaf dan Jorion (1960) Bulanan 01.73-12.87 AS CPI 1 ARCH, GLS, DF PPP diterima Corbae dan Ouliaris (1990) Tahunan 1890-1984 AUS WPI CPI 1 ADF
str.break PPP tidak diterima
Kim (1990) Triwulan 1900-87 1914-87 AS PPI 2 PP,ADF, Johansen SW PPP dan kointegrasi diterima secara umum
Patel (1990) Triwulan 1974-86 AS PPI 3 ADF, SW
PPP diterima pada 4 dari 5 pasang negara.
Taylor (1990) Bulanan 03.73-12.85 AS WPI CPI 2 Wald, ARCH Ex-ante PPP diterima pada rangka kerja VAR Perron dan Vogelsang (1992) Tahunan 1892-1988 1869-1987 AS/UK AS/Fin CPI GNP 1 Str.break PPP diterima jika perubahan struktural dipertimbangkan Tronzano (1992) Triwulan 01.55-02.90 AS DM CPI 1 3 ADF,LR, CRDW, VAR PPP tidak diterima bagi DM/AS dan Yen/AS tetapi diterima bagi Yen/DM Cheung dan Lai (1993) Bulanan 01.74-12.89 AS WPI CPI 3 ADF, PZ, Johansen PPP diterima Flynn dan Boucher Bulanan 01.63-05.70 01.57-12.72 01.74-12.87 AS CPI 1 PP,DF, CRDW PPP tidak diterima Pippenger
Catatan:
DF=Dickey-Fuller test; ADF=Augmented DF test, LR=Lagrange multiplier test; CRDW=co-integrating test by Durbin-Watson test; VAR=Variance ratio test; PP=Phillips and Perron test; PZ=Phillips Z test; WPI=wholesale index; CPI=consumer price index; PPI=producer price index; GNP=GNP price index; Johansen=Johansen’s cointegration test; SW=Stock-Watson test; Wald=Wald test; P=Perron’s test.
Tidak terdapat satu kata yang berhubungan dengan indeks, yang manakah satu indeks yang seharusnya digunakan dalam analisis PPP, indeks harga (price index), indeks harga (wholesale index), atau indeks konsumen (consumer index), dan juga pemilihan mata uang (atau mata uang negara mana yang dapat dijadikan dasar) berbeda-beda dari satu penelitian dengan penelitian lain. Tabel 3 menunujukkan satu ringkasan literatur PPP sejak 1988. Semua penelitian itu menganggap bahwa data
time-series nilai tukar mata uang adalah free of truncation.
Mereka menguji teori PPP terhadap mata uang dollar BT dengan menggunakan ketiga-tiga model. Pertama, mereka telah menguji apakah data runtun waktu nya yang relevan kepada hipotesis PPP mempunyai satu akar unit (unit root). Mereka menggunakan augmented Dickey-Fuller test (ADFT) termasuk augemnted point optimal test (APOT). APOT test disarankan oleh Nakatsuma, Uemura, dan Tsurumi (1997), dan ia cenderung menghasilkan kekuatan lebih baik dari ADFT. Pada tingkat signifikan 5%, menurut ADFT, semua variabel kecuali ln(CPI-AS),
gagal menolak hipotesis nul akar unit root, tetapi menurut APOT, hanya ln(WPI-
TWN) menolak hipotesis nul.
Uji PPP berdasarkan pada model 1 jelas menolak hipotesis PPP karena mempunyai akar unit apakah digunakan CPI atau WPI. Karena variabel-variabel pada Model 2 dan 3 mempunyai unit root (atau lebih tepatnya mereka adalah proses seimbang yang berbeda (difference stationary processes), maka mereka membedakan variabel-variabel tersebut dan dan menjalankan regresi pada masing-masing pada Model 2 dan 3,
Model 2 : lnEt = + ln(Pt – Pt*)+ t…….………(10)