KABUPATEN ACEH SINGKIL
9) Kecamatan Singkil Utara 10) Kecamatan Singkohor, dan
1.5. Tinjauan Pustaka
1.5.1 Hubungan Umat Beragama
Beberapa tahun terakhir, isu agama begitu cepat menyebar keberbagai lapisan sehingga terciptakerentanan yang cukup menengakan dalam kehidupan beragama masyarakat. Sedikit saja tersentuh ego keagamaan atau etnis suatu kelompok, maka reaksi yang ditimbulkan sangat besar terkadang berlebihan. Dalam suasana seperti ini agama seringkali di jadikan titik singgung paling sensitif dan eksklsif dalam pergaulan pluralitas masyarakat.
Persoalan kemanusian harus di lihat sebagai persoalan seluruh agama. Kekerasan dan tragedi kemanusian yang terjadi atas nama agama telah mencoreng wajah agama yang sebenarnya ramah dan penug kedaimaan. Orang yang beragama semestinya orang yang mampu member bagi sesamanya. Karenanya tragedi kemanusian, seperti dianalisis T.H. Sumartana seharusnya menjadi sesuatu peringatan bahwa kesadaran agama tidak dapat lagi dijabarkan atau diekspresikan secara persial saja. Dengan kata lain, agama harus menyadari bahwa tugasnya menyelamatkan umat manusia tidak dapat lagi di lakukan secara sendri-sendri. ( T.H Sumartana,1985 hlm 166 ).
Sebagai agama dengan ajarannya yang bersifat universal, islam sangat menekankan nilai-nilai kemanusian. Kemanusian adalah satu. Manusia bukan saja berasal dari satu orang pertama, akan tetapi juga berasal dari suatu kehendak yang menciptakan, yakni kehendak tuhan.
Sejalan dengan itu islam juga menegaskan universalisasi prinsip-prinsip moral. Moral islam ini memperkuat hubungan antar-anggota masyarakat, mempersatukan persatuan yang merupakan dasar kebajikan universal dan mempersatukan kaidah-kaidah yang memaksa yang sangat perlu bagi kehidupan kolektif. ( Marcel A.Boisard, 1980 Hlm 180).
Agama lain seperti kristen juga memiliki ajaran yang kurang lebih sama tentang kemanusian,sebagaimana yang disinyalir oleh Patricia Muhali Nabti, bahwa pada dasarnya antara islam dan Kristen memiliki sebuah titik temu, di mana dalam sistem kepercayaan dan pengalaman kedua agama ini menurut terbagunnya sebuah kemandirian kebutuhan kemanusian secara utuh , dan ini sangat tampak dalam doktrin teologis dan kebudayaan kedua agama. (Patricia Muhali Nabti )
Selanjutnya Paul.F. Knitter, menyatakan bahwa Kristen dan seluruh agama yang lain pada dimensi transendetal dan seluruh agama islam yang lain pada dimensi eskatologinya memiliki kesamaan pandangan, yaitu sebagai salah satu upaya untuk mengontrol moralitas kemanusian. (Paul.F. Knitter, 1947 hlm 122).
Kemajemukan agama (pluralism) dan budaya (multikulturalisme ) adalah tantangan yang di hadapi pemikiran dan kehidupan umat manusia dewasa ini. Namun masih ad ketakutan bahwa agama tetap memiliki potensi melahirkan kaum militant yang gampang merasa terganggu dan jadi penganjur ketidak toleran dan kekerasan.
Charles Taylor (1994) dalam Multiculturalism megatakan:
“ Masing – masing kelompok budaya dan agama menuntut ( dan berhak
mendapatkan ) pegakuan dan penghargaaan. Namun bahyanya,mereka yang memiliki identitas tertentu menolak mengakui dan menghargai yang lain. Kurang toleran seperti ini berdampak serius, khsusnya bagi demokrasi dan keadilan. Sebabnya adalah kekakuan identitas komunal yang mempercayai dirinya sebagai otentik dan superior, atau kekakuan identitas universalis yang berusaha untuk mempengaruhi yang lain dengan cara memaksa”. ( muhamad Ali : 2008 , hl 71-72 ).
Konflik terbuka yang terjadi secara missal dengan mengunakan symbol-simbol agama di Maluku, tentu nya juga tidak serta merta terjadi. Meskipun ada provokator yang“membakar”massa tujuan dan kepentingannya, namun tindakan tersebut hanya efektif jika memang terdapat prakondisi yang memungkinkan dan mencukupi bagi terjadinya konflik tersebut. Dalam kaitanya dengan prakondisi konflik di maksud, Ted Robert Guur menganggap setiap kekerasan yang terjadi dalam masyarakat di golokannya sebagai kekerasan politik. Kekerasan politik terjadi karna muncul ketidaksesuaian antara ke inginan/ harapan dengan kemampuan, atau karena terjdinya kesengajaan (relative deprivation ) didalam masyarakat. Kesenjagan dan perampasan berkembangang dan menimbulkan frustasi dan ketidak pauasan kolektif. Frustasi dan ketidak puasan inilah yang merupakan faktor memungkinkan, dan jika sampai pada tingkat yang mencukupi, meledak dalam berbagai bentuk tindak kekerasan kolektif;misalnya: kekacauan, kerusuhan, konspirasi, terror, perang saudara, kudeta dan makar. Jika faktor frustasi dan ketidakpuasan kolektif merupakan kondisi yang memungkinkan konflik, maka faktor politasi selanjutnya merupakan faktor yang menciptakan kondisi yang mencukupi bagi terjadinya konflik. Dengan kondisi demikian maka peran aktor dan provokator menjadi signifikan sebagai pihak yang mematangkan prakondisi konflik.
Melengkapi pandangan Ted Gur tentang kekerasan politik, Charles Tilly menyatakan, “ Revolusi dan kekerasan politik lebih sering muncul secara langsung dari pusat terjadinya proses-proses politik dalam masyarakat, ketimbang mencerminkan ketidak puasan dalam masyarkat”.(Ted Robert Gur, 2004 hlm 4-5).
Mengikuti kerangka pikir Gurr dan Tilly, bahwa frustasi dan ketidak puasan kolektif merupakan proses yang terjadi dalam rentang waktu yang cukup lama, di mana ketidak puasan
dan frustasi kolektif saling terakumulasi, maka penulis menemukan bahwa frustasi ketidak puasan rakyat Maluku baik yang beragama islam maupun Kristen di sebabkan oleh saling interpenetasi antara faktor persaingan politik kekuasan, ekonomi budaya yang berskala nasional (pusat), yang berimplikasi pada aras lokal (daerah).
Dalam kehidupan beragama, keberagamaan orang Maluku memiliki cirri yang khas. Orang Maluku, baik yang beragama islam maupun Kristen, umumnya adalah orang yang taat beragama dan bertaqwa. Hal ini memiliki akar-akar sejarah yang panjang. Inilah cirri positif yang dapat di temukan orang Maluku. Namun, juga terdapat cirri lain dalam kehidupan beragama orang Maluku yang sifatnya negative. Umumnya orang Maluku memandang orang yang tidak seagamanya “orang kafir” dan agama lain diaanggap bukan agama yang di perkanalkan ALLAh yang di sembahnya.
Secara sosiologis- antropologis, meskipun lewat penelitian, Frank Cooley mengatakan bahwa kehidupan beragama orang Maluku adalah seperti “kue lapis”,di mana agama menepati lapisan luar dan adat menjadi lapisan dalamnya. Namun pendapatCooley tersebut perlu diuji kembali, yakni pertama masuknya arus migrasi dari luar, dan kedua melemahnya fungsi dan peran adat. (Frank Cooley, 1996 hlm 81).
Sepanjang sejarah bngsa Indonesia, konflik yang berkembang sebenarnya dapat dipilah ke dalam dua tipe yaitu konflik vertical dan horizontal. Konflik verikal merupakan konflik yang didasarkan ide komunitas tertentu yang di hadapkan kepada penguasa. Konflik horizontal merupakan konflik yang terjadi antarkomunis dalam masyarakat akibat banyak aspek misalnya komunitas lain dianggap mengancam kepentingan, nilai-nilai, cara hidup dan identitas kelompoknya.
Maraknya konflik antarumat beragama tersebut tidak dapat di lepaskan dari kontribusi Orde baru. Sebab memalalui politik SARA-nya penguasa telah menekan semua perbedaan yang berbau kesukuan, keagamaan, ras, dan antar golongan. Semua dimasukan dalam bingkai kesatuan, dan stabilitas politikdan keamanan demi pertumbuhan ekonomi. Melalui kebijakan ini menjadikan konflik,baik laten maupaun manifest, harus ditekan dan celakanya tidak pernah diselesaikan secara tuntas. Akibatnya masih sering muncul kasus konflik anatrumat beragama di berbagai dearah yang menjadi ganjalan kerukunan seperti di Bali, Situbondo, pasuruan, Yogyakarta, solo, Bandung, Tasikmalaya, Ambon dan lainya. Konflik yang memakan banyak korban harta maupun jiwa itu ada yang relatif ditemukan penyelesaiannya, namun ada yang sampe sekarang masih menggantung dan berlangsung. Konflik yang terjadi itu telah merusakan pertemanan, hubungan antarmanusia yang telah di jalin, dan tentu diperlukan waktu yang panjang untuk memulihkan trauma dan sakit hati. Jika proses pemulihan tida dilakukan dengan serius, tidak mustahil masalah kerukunan di Indonesia pada tahun tahun mendatang hanya sebuah nama ( suseno 1999 hlm 56).
Jika pasca perang dunia II yang dianggap potensial sebagai sumber konflik adalah idiologi kebangsaan ( nasionalisme ), maka di penghujung abad ke 20 sumber konflik itu bergeser pada kebangkitan sentiment agama dan enisitas. Dibeberapa pelosok bumi, demikian juga halnya Indonesia, kita menyaksikan bahwa misi dan eksitensi agama yang selama ini diperjuangkan sebagai juru damai, tiba-tiba bisa tampil bersama sentimen etnis sebagai ssenjata perusak dan pembunuh terutama saat-saat terjadinya reformasi akhir abad ke 20. ( Kurtz Laster 1995 hlm 83 )
Kerusuhan di Situbundo pada oktober 1996, pada penghujung desember 1996 muncul kerusakan seperti di Tasikmalaya. Sebelumnya 1990, kasus yang signifikan untuk dikemukakan di sini adalah ketika sensitivitas masa islam terkoyak oleh ulah arswendo Atmudiloto yang mengadakan kuis di Tabloid Monitor yang merangking nami, yang hasilnya melecehkan umat islam tahun 1996. Kemudain awal tahun 1997 konflik serupa pecah di Rengasdenklok. Tahun 1998 pecah insiden ketapang yang kemudian berlanjut pada tragedi ketapang. Pada tahun yang sama, bertetapan pada Hari Raya Idul Fitri insiden ambon pecah. Sebagai kelanjutan konflik ini terjadi pertikai antar agama di Halmamera dan Poso. Dalam demontrasi mahasiswa terjadi pelecehan ( membuang najis ) di mesjid DPR Tk-1 Provinsi Sumatera Utara Tahun1999, dan pada 28 Mei 2000 terjadi pegeboman terhadap rumah-rumah ibadah di Medan. Banyak lagi konflik konflik yang terjadi yang tidak dapat di beberkan semuanya. Sering kali kebayakan umat beragama, termasuk pemerintah dan tokoh-tokoh agama, kurang peka terhadap potensi dan gejala konflik. Baru setelah potensi itu menjadi golambang konflik yang multi di mensioanal, umat dan toko-tokoh agama merasa kebingungan dan kerepotan. ( Harahap, Syahrin 1994 hlm 85).
Konflik yang terjadi pada lokasi focus semuanya antara umat Islam sebagai mayoritas dan kritiani ( baik kathalik maupun protestan ) sebagai minoritas. Walupun perlu dicatat komposisi mayoritas-nimoritas ini tidak selalu memperlihatkan kekuatan dalam memainkan konflik yang ada, sehingan pihak minoritas memperoleh dukungan dari kelompok sosial diluar dirinya yang justru seagama dengan kelompok minoritas. Kasus Kulonrpogo menunjukan di daerah ini terjadi pengeseran issu sumber konflik yaitu dari persoalan penolakan umat protestan terhadap kebijakan pemerintah tentang hak siswa untuk memperoleh pendidikan agama sesuai agamanya, berubah menjadi penolokan terhadap pendirian sekolah negeri. Akhirnya beberapa
kelompok sosial yang anggotanya muslim terperangkap dalam issu tersebut, sehinga konfliknyamenjadi antar kelompok islam dengan kelompok protestan dan kelompok sosial yang anggotanya beragama islam.
Dari lokasi yang ada, Pasuruan, Tasikmalaya, dan Solo sama-sama pernah memiliki sejarah konflik sosial khususnya antar umat beragama. Di ponorogo, dan Propinsi Derah Itimewa Yogyakarta, termasuk daerah yang selama ini dikenal tidak terjadi konflik terbuka meskipun konfliknya sebenarnya tidak jauh berbeda dengan yang ada di daerah lain. ( Ismail,Nawari 2004 hlm 175).
Fakta bahwa adanya sebuah tatanan hidup yang plural bukanlah sebuah fenomena baru yang datang dari dunia lain pada abad modern ini, melainkan sebuah warisan realita sosial yang telah terjadi berabad-abad. Hidup dalam zaman pluralis memungkinkan setiap kita untuk bertemu ataupun berinteraksi langsung dengan “sesama” kita yang beragam, termasuk keberagaman agama. Hal ini juga didukung dengan era-globalisasi yang memungkinkan bahwa setiap komunitas agama tersebut suka atau tidak, terima ataupun tidak, akan mengalami perjumpaan dengan komunitas agama yang lain. Perjumpaan-perjumpaan tersebut dengan sendirinya dapat membuka gerbang untuk terciptanya sebuah relasi atau hubungan yang unik di antara mereka. Keberadaan dalam tatanan dunia yang plural ini juga dialami oleh kedua “anak anak” Abraham/Ibrahim yakni Kristen dan Islam.1 Hal ini tentu saja berarti bahwa pertemuan mereka dengan agama yang lain adalah bukan perkara yang baru terjadi.(Sarapung,1995 75-79 )
1Sarapu g, Pe ga tar: Me egaska , ii drew D. Clarke da Bru e Wi ter pe u ti g , Satu Allah Satu Tuhan, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1995), 75-97; Lht. juga A dreas Hi awa, Sikap Kriste Mula-mula Terhadap Agama
Lai dala Jur al Amanat Agung Vol. 8, no. 2 Desember 2012, (Jakarta: STT Amanat Agung, 2012), 235; Sedangkan untuk agama Islam, sejak kelahirannya telah bertemu dengan agama yang lain
Setiap gerbang yang tercipta dalam hubungan antar agama memang menciptakan suatu hubungan yang unik. Namun perlu diingat bahwa sepanjang sejarah agama memiliki “wajah ganda”. Hal ini dipahami dalam artian bahwa agama-agama dapat menghidupkan suasana hidup bermasyarakat dan bernegara, tetapi sekaligus juga dapat merusak kehidupan itu sendiri. Wajah ganda agama ini di pihak lain sebagai sumber inspiratif dan spirit untuk kekuatan damai dan memperdamaikan, tetapi juga sekaligus sebagai insiprasi dan spirit untuk kekuatan perang dan mengacaubalaukan bahkan mematikan kehidupan.2 Dengan demikian setiap hubungan yang spesial dan unik itu juga memiliki dua macam sifat dan karakter yakni “lembut” dan “keras”.
Berbicara mengenai kerukunan umat beragama memang merupakan suatu persoalan yang bersifat kompleks. Hal ini dikarenakan persoalan-persoalan yang ada tidak hanya melibatkan satu dimensi saja melainkan lebih. Tentu saja timbulnya berbagai dimensi atau faktor yang mempengaruhi hubungan anta-agama disebabkan karena agama tidak saja berurusan dengan dirinya sendiri tetapi juga berkaitan atau berurusan dengan “kawan bermainnya”. Hal ini yang dikatakan oleh Abdurrahman bahwa persoalan agama selain terkait dengan faham atau keyakinan para pemeluknya tentang kebenaran mutlak “doktrin agama” masing-masing sebagai bagian terdalam dari manusia, tetapi juga terkait dengan faktor-faktor sosial yang berkembang dalam kehidupan masyarakat.3 Hal yang senada juga ditegaskan bahwa agama bukan saja suatu lembaga yang berhubungan dengan “Yang Mutlak” saja, tetapi juga adalah lembaga sosial. Dia (agama) adalah bagian dari kebudayaan karena dia dihidupi dalam kehidupan manusia sehari-hari, sama seperti kehidupan lainnya. Berdasarkan contoh-contoh perjumpaan antar umat beragama beserta peluang dan kendala kerukunan dari para ahli di atas, teridentifikasi ada
2Sarapu g, Pe ga tar: Me egaska , ii 3
35Haedar Nasir, Agama dan Krisis Kemanusiaan Modern, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999), 93 mengutip
Moesli A durrah a , Posisi Ber eda Aga a dala Kehidupa Sosial di Pedesaa , dala Mul o o Soe ardi, Penelitian Agama: Masalah dan Pemikiran, (Jakarta: Sinar Harapan, 1982), 142
beberapa dimensi atau faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hubungan antar-agama, khususnya agama Kristen dan Islam, baik itu faktor internal (agama) ataupun faktor eksternal (non-agama). Berikut ini adalah factor faktor tersebut:
1. Faktor Agama
Faktor agama memiliki peran yang kuat dalam menentukan pola hubungan atau relasi antar agama. Peran faktor agama biasanya yang berkaitan dengan hubungan antar agama adalah ajaran agama, pemahaman umat terhadap ajaran, penyebaran agama, pendirian rumah ibadah dan sikap mental dari umat sendiri.
2. Faktor Politik
Faktor politik ini biasanya terjadi perihal kekuasaan mengenai siapakah yang dapat memberikan pengaruh dalam pemerintahan. Walaupun terkadang bukan persoalan agama tapi biasanya situasi-situasi politik secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi relasi kedua agama.Misalnya saja kita berkaca dari kasus di Poso pada tahun 1998, saat itu situasi politik (pemilihan bupati) memberikan pengaruh bagi hubungan kedua agama.4
3. Faktor Keadaan Sosial
Faktor ini berkaitan dengan adanya kesamaan pergumulan keadaan sosial yang dialami secara bersama, misalnya kemiskinan, ketidakadilan ataupun pergumulan-pergumulan sosial lainnya. Dari kesamaan pergumulan inilah yang memungkinkan terciptanya suatu hubungan antar agama.
4. Faktor Kebudayaan
4
Kebudayaan sendiri merupakan salah satu nilai atau dasar hakiki bagi masyarakat yang menganutnya. Di dalam kebudayaan kita dapat menemukan begitu banyak nilai-nilai serta falsafah-falsafah hidup yang sampai saat ini masih dipertahankan dan dipegang oleh masyarakat, terutama masyarakat tradisional. Nilai-nilai itu sendiri mengatur gaya hidup masyarakat tersebut. Aritonang menyebutnya sebagai ikatan kultural sosial yang sama.5 Contohnya seperti yang juga sudah disebutkan yakni adat Pela di Maluku, Mapulus di Minahasa, Rumah Betang di kalangan suku Dayak di Kalimantan Tengah.
5. Faktor Keluarga atau Kekerabatan
Di dalam budaya Indonesia, nilai kekeluargaan memang sangat dijunjung tinggi, apalagi jika memiliki ikatan darah. Sehingga hal ini pun memungkin memiliki pengaruh bagi relasi antar-agama. Berkaitan dengan faktor ini, ada banyak sekali kehidupan keluarga atau kerabat di Indonesia menunjukan adanya pluralisme agama dalam keluarga, yakni dalam satu keluarga biasanya terdapat beberapa anggota keluarga yang memiliki agama yang berbeda.
6. Faktor Pemerintah
Sikap dan peran yang diambil oleh Pemerintah dalam memposisikan dirinya dalam kebhinekaan sangatlah penting. Dalam posisinya sebagai “penguasa”, pemerintah diharapkan dapat bertindak secara adil dan benar. Jika terdapat tindakan yang diskriminatif, maka dapat menciptakan kondisi yang disharmoni. Sehingga tindakan yang diambil pemerintah sangatlah menentukan relasi seperti apa yang akan tercipta. Sikap pemerintah sebagai fasilitator ini harus dipertahankan.
7. Faktor Kepemimpinan
5
Dukungan para pemimpin juga akan sangat mempengaruhi kerukunan umat beragama. Peran tokoh masyarakat atau pemuka agama sangat penting dalam mempengaruhi umatnya ke arah hidup berdampingan secara rukun dengan umat agama lain. 6 Secara sederhana dibutuhkannya tokoh yang berani dan dapat dijadikan teladan bagi pengikut mereka.7 Seperti Karol Józef Wojtyła (Paus Yohanes Paulus II), Josef Ratzinger (Paus Benediktus XVI), Piere Claverie (Uskup Oran 1981-1996) Abdullah bin Abdul Aziz (raja Arab Saudi), Muhammad Sayed Tantawi (Syeikh Agung Al-Azhar Mesir), Mohammad Chantami (Presiden Iran). Di Indonesia sendiri kita memiliki tokoh seperti Abdurrahman Wahid (presiden Indonesia ke-4), John A. Titaley (Rektor UKSW Salatiga), Ebenhaizer I Nuban Timo (Ketua Sinode GMIT 20072011), A.A Yewangoe (Ketua PGI), dan masih banyak tokoh yang lain.
8. Faktor Globalisasi
Gelombang Globalisasi yang terus meningkat dengan segala aksesnya seperti konsumerisme, hedonisme, promiskuitas dan sebagainya - mendorong banyak pengikut agama semakin otensitas, baik dalam agama yang mereka peluk maupun dalam penghadapan dengan agama-agama lain.8 Dengan demikian dapat kita lihat bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi relasi atau hubungan antar agama, khususnya agama Kristen dan Islam, adalah Faktor Agama, Faktor Politik,Faktor Keadaan Sosial, Faktor Kebudayaan, Faktor Keluarga atau Kekerabatan, Faktor Pemerintah, Faktor Kepemimpinan dan Faktor Globalisasi.
B. Status dan Peran
6La pira : Pe dapat U u te ta g Keruku a Beraga a, 997 dala Wei ata Sairi pe u ti g ,
Kerukunan Umat Beragama Pilar Utama Kerukunan Berbangsa: Butir-butir Pemikiran, (Jakarta: BPK Gunung Mulia,
, 55 a g dia gkat dari duku e rak at da keruku a eraga a .
7Ro ert B. Baowollo, Pe gatar Editor: Si Vis Pa e , Para Dialogu : Ziarah Bersama Agama-agama Abrahamik
Me ari Akar Ke ersa aa , dala Menggugat Tanggung Jawab, 49-61
Status adalah sekumpulan hak dan kewajian yang dimiliki seseorang dalam masyarakatnya (menurut Ralph Linton). Orang yang memiliki status sosial yang tinggi akan ditempatkan lebih tinggi dalam struktur masyarakat dibandingkan dengan orang yang status sosialnya rendah.
Peran adalah peran yang dimainkan seseorang dalam lingkungan sosialnya. Peran ini adalah merupakan tuntutan dari masyarakat terhadap individu untuk memberikan sumbangan sosial dari anggotanya dalam rangka menjaga keutuhan sosial dan meningkatkan kebaikan dalam masyarakat tersebut.Peran sosial bisa berupa aktivitas individu dalam masyarakat dengan cara mengambil bagian dalam kegiatan yang ada di masyarakat dalam berbagai sektor, baik sosial,politik, ekonomi, keagamaan dan lain-lain. Pengambilan peran ini tergantung pada tuntutan masyarakat dan atau pada kemampuan individu bersangkutan serta kepekaannya dalam melihat keadaan masyarakatnya.
C. Faktor pendorong dan penghambat
Faktor Pendorong dan Penghambat Kerukunan Antar Umat Beragama di Kota Semarang Memperhatikan jejak rekam para aktifis lintas agama yang duduk di kepengurusan forum lintas agama Kota Semarang, baik di Paguyuban Petamas,FKUB, Forkagama, maupun interfaith nampaknya mereka mayoritas terdiri dari orang-orang atau tokoh yang mempunyai berbagai macam kesibukan di luar forum lintas agamaBeberapa faktor pendorong kerukunan antar umat beragama di Kota Semarang, di antaranya adalah sebagai berikut:
1) Munculnya beberapa wadah atau forum atau paguyuban lintas agama yang dapat memfasilitasi bagi para penganut agama untuk berkomunikasi secara sinergis dan diskusi secara langsung dan berkesinambungan.
2) Pemerintah daerah memfasilitasi berbagai kegiatan yang telah diprogramkan oleh wadah atau forum atau paguyuban lintas agama.
3) Adanya iktikad baik dari para pemimpin atau tokoh agama di Kota Semarang untuk hidup 4) rukun berdampingan saling menghormati dan menghargai.
5) Kematangan berfikir, keterbukaan sikap para penganut agama dan kebiasaan bersilaturahim atau berkunjung oleh tokoh agama tokoh masyarakat dan pejabat pemerintah ketika perayaan hari besar keagamaan secara bergantian.
6) Ikut sertanya media massa dalam mendukung kehidupan keberagamaan melalui pemberitaan yang adil dan berimbang dalam setiap liputan berita kegiatan keagamaan tertentu.
7) Pelibatan generasi muda dalam setiap penyelenggaraan kegiatan lintas agama.
8) Adanya semangat gotong royong dan saling hormat menghormati kebebasan menjalankanibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya.
9) Kerjasama di kalangan intern maupun antarumat beragama.( Imron HS, 2016 )
Beberapa faktor penghambat kerukunan antar umat beragama diKota Semarang, di antaranya adalah sebagai berikut:
1) Kurang optimalnya kualitas dialog antar umat beragama. 2) Warisan politik imperialis peninggalan Kolonial.
3) Fanatisme dangkal oleh kelompok sekte-sekte agama tertentu.
4) Kesenjangan sosial ekonomi, terkurung dalam ras, etnis dan golongan tertentu.
5) Masih adanya kecurigaan dan ketidak percayaan kepada orang lain. Atau dengan kata lain, kerukunan yang ada hanyalah kerukunan semu.
6) Sikap sentimen dan cara-cara agresif penyebaran agama sebagai akibat dari penafsiran tentang misi suci atau dakwah yang konfrontatif.
7) Ketegangan politik yang melibatkan kelompok agama.
8) Pengaburan nilai-nilai ajaran agama antara satu agama dengan agama lain maupun ketidak matangan dan ketertutupan penganut agama.
Kerukunan [dari ruku, bahasa Arab, artinya tiang atau tiang-tiang yang menopang rumah; penopang yang memberi kedamain dan kesejahteraan kepada penghuninya],secara luas bermakna adanya suasana persaudaraan dan kebersamaan antar semua orang walaupun mereka berbeda secara suku, agama ras, dan golongan. Kerukunan juga bisa bermakna suatu proses untuk menjadi rukun karena sebelumnya ada ketidakrukunan; serta kemampuan dan kemauan untuk hidup berdampingan dan bersama dengan damai serta tenteram. Langkah-langkah untuk