• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hukum Progesif

Dalam dokumen RINGKASAN DISERTASI BAB I PENDAHULUAN (Halaman 44-51)

KAJIAN TEORITIS

B. Teori Keadilan

3. Hukum Progesif

Salah satu gagasan pemikiran yang penting dalam lingkup pemikiran hukum di Indonesia adalah gagasan pemikiran hukum progresif. Pemikir penting yang berada di belakang gagasan tersebut, adalah Profesor Satjipto Rahardjo, guru besar Emiritus Sosiologi Hukum di Universitas Diponegoro, Semarang.

Istilah hukum progresif diperkenalkan pertama kali oleh penggagasnya, Satjipto Rahardjo, pada tahun 2002 lewat artikel yang ditulis di Harian Kompas berjudul “Indonesia Butuhkan Penegakan Hukum Progresif.”65

Gagasan hukum progresif muncul disebabkan oleh kegalauan menghadapi kinerja hukum yang mengecewakan. Terutama sejak bergulirnya era reformasi, yang ditandai oleh ambruknya kekuasaan Orde Baru yang otoriter selama puluhan tahun itu, harapan rakyat terhadap hukum sebagai sang juru penolong makin melambung tinggi. Supremasi hukum dianggap sebagai panacea, obat mujarab bagi semua persoalan bangsa. Di lain pihak berbagai polling, dan survey malah

65 Ibid.

lix menunjukkan, bahwa cukup banyak prestasi yang tidak memuaskan. Ini menyebabkan kesenjangan yang melebar antara harapan dan kenyataan, sehingga rakyat akhirnya menuai kekecewaan.66

Menurut Pak Satjipto Rahardjo, situasi tersebut bisa disimpulkan bahwa terdapat kesalahan dalam cara bangsa ini berhukum sehingga dengan cara yang sekian lama dijalankan masyarakat menilai hukum belum atau tidak bekerja dengan baik.

Cara berhukum merupakan perpaduan dari berbagai faktor sebagai unsur, antara lain, misi hukum, paradigm yang digunakan, pengetahuan hukum, perundang-undangan, penggunaan teori-teori tertentu, samapai kepada hal-hal yang bersifat keperilakuan dan psikologi, seperti tekad dan kepedulian (commitment), keberanian (dare), determinasi, empati serta rasa-perasaan (compassion) dan nurani (conscience).67

Gagasan hukum progresif memuat kesediaan untuk membebaskan diri dari paham status quo, baik yang bersumber dari aturan maupun kultur hukum. Status quo yang dimaksud erat kaitannya dengan keengganan sikap untuk keluar dari teks demi pemuliaan dan kemaslahatan manusia. Ide tentang pembebasan diri tersebut berhubungan dekat dengan faktor psikologi atau spirit yang ada dalam diri para pelaku (aktor) hukum, yaitu keberanian (dare). Masuknya faktor keberanian tersebut memperluas peta cara berhuku, yaitu yang tidak hanya mengedepankan aturan (rule), tetapi juga perilaku (behavior). Berhukum menjadi tidak hanya tekstual, melainkan juga melibatkan predisposisi personal. Perilaku hukum yang berani bukan sekedar pembicaraan atau sesuatu yang abstrak, melainkan sesuatu

66 Satjipto Rahardjo, “Arsenal Hukum Progresif,” dalam ejournal.undip.ac.id. akses tanggal, 27 Mei 2018, Hal.2.

67 Satjipto Rahardjo, Arsenal…., Op. Cit., h. 2.

lx yang nyata ada dalam masyarakat.68

Hukum Progresif secara sadar menempatkan kehadirannya dalam hubungan erat dengan manusia dan masyarakat. Dalam posisi yang demikian, maka hukum progresif dapat dikaitkan dengan developmetal model hukum dari Nonet dan Selznick. Nonet dan Selznick mengidentifikasi hukum ke dalam tiga tipe. Pertama, repressive law; yaitu hukum yang embgabdi kepada kekuasaan (pro status quo) dantertib sosial dilaksanakan secara represif. Kedua, outonomous law; yaitu kekuasaan dikontrol oleh hukum dan pengadilan memiliki kekuasaan yang bebas.

Hkum otonom berorientasi pada pengawasan kekuasaan represif. Ketiga, responsive law; yaitu hukum yang konsen pada faktor-faktor sosial untuk menjadi dasar, pelaksanaan dan pencapaian tujuan hukum.69 Hukum progresif sangat dekat dengan hukum responsive.

Berbagai pemikiran Pak Satjipto Rahardjo yang disebarluaskan dalam bentuk tertulis dapat ditemukan identifikasi pemikiran hukum progresif, seperti di bawah ini:70

68 Ibid, h. 3.

69 Philippe Nonet dan Philip Selznick, Hukum Responsive…. Op. Cit.

70 Dikutip dan dikembangkan dari Yudi Kristiana, “ Menanti Progresivitas Kejaksaaan,” dalam Myrna A, Safitri (ed.), Op.Cit., h.237-8.

lxi Identifikasi Hukum Progresif

Identifikasi Pendirian / Paradigma Paradigma 1. Holistik / seutuhnya

2. Konstruktif: Merobohkan, mengganti dan membangun untuk memperbaiki yang lama Asumsi 1. Hukum untuk manusia, bukan sebaliknya.

2. Hukum bukan institusi yang mutlak dan final.

Hukum selalu dalam proses menjadi (law as a process, law in the making).

Tujuan Kesejahteraan dan kebahagiaan manusia

Spirit 1. Pembebasan diri dari dominasi tipe, cara berpikir, asa dan teori hukum.

2. Hukum yang pro perubahan dan anti status quo.

3. Pembebasan terhadap kultur penegakan hukum (administrations oaf justice) yang positivistik.

4. Mendorong terjadinya rule breaking (terobosan hukum).

Tipe hukum Responsif

Progresitas 1. Menolak menjadi tawanan undang-undang, apabila bertentangan dengan keadilan.

2. Peka terhadap perubahan di masyarakat.

3. Menolak status quo manakala menimbulkan dekadensi, korupsi dan merugikan kepentingan rakyat.

D. Teori Hak Menguasai Negara

Secara etimologis kata ”dikuasai oleh Negara” mempunyai padanan kata

”Negara menguasai” atau ”penguasaan Negara”. Pengertian kata “menguasai”

menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia mengandung makna berkuasa atas (sesuatu), memegang kekuasaan atas (sesuatu), sedangkan pengertian kata

”penguasaan” berarti proses, cara, perbuatan menguasai atau mengusahakan.71

71 Departemen Pendidikan Nasional.1999. Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi kedua. Balai Pustaka. Jakarta, hlm 533.

lxii Namun satu hal yang disepakati, ”dikuasai oleh negara” tidak sama dengan dimiliki negara. Kesepakatan ini bertalian dengan atau suatu bentuk reaksi dari sistem atau konsep ”domein” yang dipergunakan pada masa kolonial Hindia Belanda. Konsep atau lebih dikenal dengan ”asas domein” mengandung pengertian kepemilikan (ownership). Negara adalah pemilik atas tanah, karena itu mempunyai segala wewenang melakukan tindakan yang bersifak kepemilikan (eigensdaad)”.72

Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945 menyebutkan, bahwa “Negara Indonesia negara hukum”. Negara hukum dimaksud adalah negara yang menegakan supermasi hukum untuk menegakan kebenaran dan keadilan dan tidak ada kekuasaan yang tidak dipertanggung jawabkan. Dengan demikian yang dimaksud dengan Negara Hukum ialah negara yang berediri di atas hukum yang menjamin keadilan kepada warga negaranya. Keadilan merupakan syarat bagi terciptanya kebahagiaan hidup untuk warga negaranya, dan sebagai dasar dari pada keadilan itu perlu diajarkan rasa susila kepada setiap manusia agar ia menjadi warga negara yang baik. Demikian pula peraturan hukum yang sebenarnya hanya ada jika peraturan hukum itu mencerminkan keadilan bagi pergaulan hidup antar warga negaranya. 73

Secara konstitusional konsep dasar hak menguasai tanah oleh Negara termuat dalam Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945. Dari ketentuan pasal tersebut dan penjelasannya tampak bahwa terdapat hubungan antara Negara dengan bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya adalah

72 Bagir Manan. 2001. Hak Penguasaan Negara Atas Bahan galian Pertambangan Dalam Perspektif Otonomi Daerah. Makalah Seminar Nasional Pengaturan Pengelolaan Pertambangan Dalam Era Otonomi daerah, UNHAS dan Departemen Energi Dan Sumber Daya Miniral Provinsi Sulawesi Selatan dan PT Inco Soroaco Makassar, hlm. 4.

73Moh. Kusnardi dan Harmaily Ibrahim. 1988. Hukum Tata Negara Indonesia, Jakarta: Sinar Bakti, 153.

lxiii hubungan penguasaan. Artinya bumi, airdan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya itu dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Soepomo dalam pidatonya tentang Negara Integralistik di depan BPUPKI (Badan Penyelidik Usah-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) pada tanggal 31 Mei 1945 menyatakan bahwa pada hakikatnya Negara yang menguasai tanah seluruhnya.74 Penjelasan otentik tentang pengertian bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara termuat dalam UndangUndang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria atau biasanya di singkat dengan UUPA yang mulai berlaku pada tanggal 24 September 1960. Pasal 2 UUPA merupakan aturan pelaksanaan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945, menjelaskan pengertian hak menguasai sumber daya alam oleh Negara sebagai berikut:

(1). Atas dasar ketentuan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar dan hal-hal sebagai yang dimaksud dalam pasal 1, bumi, air dan ruang angkasa, termasuk kekayaan alam yang terkandung di dalamnya itu pada tingkatan tertinggi dikuasai oleh Negara, sebagai organisasi kekuasaan seluruh rakyat.

(2). Hak menguasai dari Negara tersebut dalam ayat (1) pasal ini memberi wewenang untuk:

a. mengatur dan menyelenggarakan peruntukan, penggunaan, persediaan, dan pemeliharaan bumi,air, dan ruang angkasa tersebut;

b. menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dengan bumi, air dan ruang angkasa;

c. menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dan

74 Risalah Sidang BUPKI, PPKI, 29 Mei–19 Agutus 1945. 1992. Sekretariat Negara Republik, hlm. 35.

lxiv perbuatan-perbuatan hukum yang mengenai bumi, air dan ruang angkasa.

(3) Wewenang yang bersumber pada hak menguasai dari Negara tersebut pada ayat (2) pasal ini digunakan untuk mencapai sebesar-besar kemakmuran rakyat dalam arti kebangsaan, kesejahteraan dan kemerdekaan dalam masyarakat dan Negara hukum Indonesia yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur.

(4) Hak menguasai dari Negara tersebut di atas pelaksanaannya dapat dikuasakan kepada daerah-daerah swantara dan masyarakatmasyarakat hukum adat, sekadar diperlukan dan tidak bertentangan dengan kepentingan nasional, menurut ketentuan-ketentuan peraturan pemerintah.

BAB III

lxv

Dalam dokumen RINGKASAN DISERTASI BAB I PENDAHULUAN (Halaman 44-51)

Dokumen terkait