• Tidak ada hasil yang ditemukan

Humanisme Religius

Dalam dokumen Pandangan Dunia dalam Novel Puya ke Puya (Halaman 68-93)

Pandangan humanisme berkembang menurut aliran-aliran yang beragam sesuai dengan kehendak orang yang memiliki kepentingan terhadap humanisme tersebut. Para pendukung Renaissance melahirkan paham humanisme Renaissance, pendukung aufklarung melahirkan paham humanisme aufklarung ‘pencerahan’. Kelompok sekulerisme mempropagandakan paham humanisme sekuler atau kemanusiaan tanpa agama dan Tuhan. Berlawanan dengan itu, kelompok masyarakat yang memandang bahwa keberadaan manusia tak dapat dipisahkan dengan Tuhan mengusung paham humanisme religius atau humanisme dengan aspek transendental (Ronidin, 2012:44—45).

Suseno (2007:208 via Ronidin, 2012:45) menyebutkan bahwa humanisme sekuler adalah humanisme yang buruk karena mengingkari keterkaitan manusia dengan agama maupun Tuhan, sedangkan humanisme religius disebut sebagai humanisme yang baik karena menyadari bahwa hakikat manusia tidak dapat dipisahkan dari Tuhan.

Humanisme, baik sebagai gerakan maupun sebagai aliran pemikiran, menyimpan cita-cita dan usaha mendasar untuk menempatkan dan memperlakukan manusia secara lebih manusiawi. Ada proses humanisasi yang hendak diupayakan. Dalam proses inilah keberadaan agama menjadi pentang untuk direfleksikan, sebab

umumnya diyakini bahwa agama pun menyimpan cita-cita serupa (Suhendar, 2008:180).

Kalangan humanisme religius meyakini bahwa manusia memiliki sifat dasar yang telah dianugerahkan Tuhan untuk mengembangkan segala potensinya. Dalam diri manusia terdapat dua naluri, naluri alamiah dan naluri ketuhanan. Keduanya saling mengisi dan tidak bertentangan, meskipun mengandung kontradiksi dan kadang kala manusia bertindak menentang dan melawan hal-hal yang telah digariskan dalam aturan agama (Amin, 2013:66).

Humanisme religius berlandaskan pada keyakinan dan nilai-nilai etik spiritual yang kokoh, bahwa setiap manusia harus diperlakukan sebagai manusia, dapat menyatukan manusia yang berbeda, baik perbedaan keyakinan dan pola kehidupan sosial, sebuah masyarakat yang melindungi martabat seluruh anggotanya karena manusia yang ada di dalamnya menjadi sasaran utama (Amin, 2013:77—78).

Humanisme religius mengajarkan kepada manusia untuk berlaku adil antarsesama dan hidup damai di tengah kancah perbedaan. Kejahatan dan penghancuran nilai-nilai kemanusiaan, merupakan bentuk penodaan kesucian Tuhan, dirinya, agama dan para pemeluknya (Amin, 2013:78).

Humanisme religius adalah suatu pandangan yang didasarkan pada prinsip religiuisitas. Religiusitas merupakan perasaan keagamaan yang menyempurnakan kedudukan manusia sebagai makhluk Tuhan. Dengan demikian, dalam pandangan humanisme religius dapat dikukuhkan bahwa kemanusiaan yang dimaksud adalah

57

kemanusiaan yang telah disublimasikan, disempurnakan oleh kepercayaan agama masing-masing (Ronidin, 2012:45).

Religiusitas masyarakat beriman haruslah mencerminkan keluhuran Tuhan dan merupakan cahaya terang dari pada-Nya. Bagi kaum humanisme religius, dimensi kemanusiaan dan dimensi religiusitas terintegrasi dalam sikap keberimanannya. Kedua dimensi tersebut tidak terpisahkan, seperti ikatan rantai yang saling mengikat satu dengan yang lainnya, saling kuat menguatkan. Dimensi religiusitas dibutuhkan manusia—sebagai makhluk yang tidak sempurna di hadapan Tuhan—untuk melengkapi unsur-unsur manusiawinya. Manusia tidak mungkin menemukan dirinya, tanpa terlebih dahulu menemukan Tuhannya, pencipta yang menjadi sumber keberadaannya. Kepercayaan kepada Tuhan merupakan penyempurnaan nilai-nilai kemanusiaan (Ronidin, 2012:45—46).

Dalam pandangan humanisme religius, setiap manusia adalah makhluk Tuhan yang harus dibela martabatnya, dihargai hak asasinya, dan dihormati eksistensinya (Jong, 2001:208). Martabat manusia hanya dapat dimengerti dan diakui dalam dimensinya yang paling mendalam apabila manusia itu beriman kepada Tuhan yang telah menciptakannya (Ronidin, 2012:46).

Dengan demikian, humanisme religius sebagai suatu pandangan dunia merupakan sebuah ideologi yang mengedepankan aspek-aspek kemanusiaan dan ketuhanan. Humanisme religius menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, mencintai alam, menghargai hak dan asasi manusia, serta berlaku baik sesuai dengan etika dan norma-norma yang berlaku dalam agama maupun masyarakat.

3.3 Humanisme Religius sebagai Pandangan Dunia Novel Puya ke Puya Humanisme religius di dalam novel Puya ke Puya ditemukan dengan cara melihat keberpihakan pengarang melalui relasi-relasi yang terjalin antara tokoh hero dengan tokoh lain dan objek-objek di sekelilingnya untuk menemukan nilai- nilai yang totalitas. Humanisme religius yang ditemukan dalam novel Puya ke Puya adalah sebagai berikut.

Pertama, keberpihakan pengarang terhadap modernisme yang memudahkan

kehidupan manusia. Modernisme dianggap sebagai solusi yang mumpuni untuk menghadapi kungkungan nilai-nilai tradisional yang memberatkan, khususnya bagi masyarakat ekonomi kelas menengah ke bawah. Modernisme yang praktis dan murah patut menjadi pilihan masyarakat dibanding tradisionalisme yang mahal dan kompleks. Hal ini dapat dilihat pada relasi yang terjadi antara Allu dengan Rante Ralla.

Secara umum, relasi yang terbangun antara Rante Ralla dengan Allu adalah relasi pertentangan. Rante merupakan tokoh yang memegang teguh adat istiadat Toraja, ditambah lagi ia merupakan seorang penuluan adat. Semasa hidupnya, Rante rela melakukan apa saja untuk menolong kaum yang dipimpinnya. Misalnya ketika kaumnya ingin melaksanakan rambu solo, tetapi dananya tidak cukup, maka secara suka rela Rante menjual tanahnya untuk dijadikan biaya rambu solo kaumnya. Hingga menjelang akhir hayatnya, tanah warisan Rante yang tersisa hanyalah tongkonan yang kala itu dihuninya bersama keluarganya.

59

Di sisi lain, Allu merupakan anak muda yang berpikiran lebih modern dan praktis. Ia menolak pelaksanaan adat istiadat yang memberatkan dan sudah tidak relevan dengan zamannya. Allu menginginkan agar masyarakat Toraja lebih terbuka terhadap perkembangan zaman. Baginya, pelaksanaan ritual-ritual adat dengan cara yang mewah itu hanya memberatkan masyarakat Toraja, terlebih lagi bagi orang-orang yang berada di kelas ekonomi menengah ke bawah.

Pertentangan pendapat antara Allu dan Rante Ralla perihal pelaksanaan

rambu solo dapat dilihat dalam kutipan berikut.

Allu, kau mengerti aluk kan, Nak? Aku bertanya sambil mengusap

pundaknya. Kugunakan kata ‘aluk’ bukan ‘adat’ meski artinya sama, karena aku ingin mengingatkan bahwa segalanya akan kembali kepada kepercayaan yang mentradisi.

“Mengerti,” timpalnya. “Tapi saya juga tidak sepakat jika adat atau aluk, atau apalah namanya itu membebani. Bukankah adat tidak boleh kaku. Batu saja bisa dipahat, masa iya adat harus terus menjadi bongkahan batu,

Ambe?”

Aku paham isi kepala Allu. Namun dia tidak sepenuhnya mengerti apa yang tengah dipikirkannya.

“Baik, Nak.” Aku dengan tenang menjawabnya. “Aluk tidak boleh kaku, itu kalau kau melihatnya dari kacamatamu. Tapi kau harus mengerti, kau baru sempurna menilai kerbau kalau melihatnya dari banyak sisi. Kau lihatlah berat badan, bentuk tanduk, motif, dan banyak lagi. Jangan kau lihat

dari satu mata saja.”

Allu diam.

“O iya, Nak,” aku melanjutkan, “soal biaya, itu yang kau takutkan?

Itu memang ada benarnya bila dilihat dari satu sisi.” Lagi dan lagi

kutegaskan agar ia menilai tidak seperti menebang pohon dengan bilah

bambu. Sekalipun tajam, tajamnya bukan pada peruntukan. “Cobalah kau

lihat nilai yang selama ini kujaga. Kebersamaan, gotong royong, dan yang paling penting tanggung jawab. Ingat, tanggung jawab! (Oddang, 2015:5).

Kedua, keberpihakan pengarang terhadap modernisme sejalan dengan keberpihakan pengarang terhadap hal-hal yang sederhana. Pengarang menolak nilai-nilai hedonis yang dibalut oleh nilai-nilai tradisionalisme. Hal ini dapat dilihat secara implisit lewat pertentangan antara nilai-nilai tradisional dan modern yang dihadirkan pengarang dalam novel Puya ke Puya.

Nilai-nilai tradisional yang terdapat dalam novel Puya ke Puya adalah nilai- nilai tradisional yang mewah, hedonis. Pelaksanaan tradisi digambarkan sebagai suatu ritual sakral yang menghabiskan banyak dana. Ada serentetan kegiatan yang harus dilaksanakan dalam upacara tersebut, dan kesemuanya membutuhkan dana yang tidak sedikit. Misalnya saja, untuk pembuatan tau-tau6 keluarga harus menanggung makan orang-orang yang membantu mengangkut batunya dari atas gunung, belum lagi upah pemahatannya. Keluarga juga harus menyediakan

lantang7 untuk handai tolan dan kerabat yang datang dari daerah lain. Selain itu,

sebagai pengeluaran terbesar, keluarga harus menyiapkan sedikitnya 24 ekor kerbau8 dan ratusan babi yang menghabiskan biaya ratusan juta rupiah.

Di sisi lain, modernisme yang ditawarkan dalam Puya ke Puya adalah sisi- sisi modernisme yang murah dan praktis. Secara sederhana, modernisme

6 Miniatur tubuh jenazah yang akan disimpan sebagai wujud pengultusan dirinya dan nantinya akan diarak bersama dengan mayat sebelum dilaksanakan Aluk Palao atau Aluk Rante

7 Pondok-pondok sementara yang dibangun khusus mengelilingi arena upacara dan menjadi tempat tinggal sementara bagi para pelayat selama upacara berlangsung

8 Para penganut ajaran aluk todolo percaya bahwa kerbau adalah turangga yang mengantarkan arwah menuju ke puya (alam baka) dan kerbau juga dapat memenuhi kebutuhan hidup arwah selama di puya

61

direpresentasikan lewat ajaran Kristen dalam penyelenggaraan kematian. Tidak dibutuhkan dana yang besar ketika mayat diselenggarakan sesuai ajaran Kristen seperti dalam kutipan berikut.

Saya sudah bulat tekad bersama Indo; Ambe pernah membeli sekapling tanah di Makassar, dan kami akan menguburkannya di sana— tanpa ada aturan adat yang mengikat, kendati tetap kami akan mengikuti aturan Kristen. Dan saya pikir itulah yang paling tepat untuk kami lakukan saat ini. Kami yang saya maksud adalah saya dan Indo serta kerabat. Saya ingin bertahan, biarlah dengan dalih biaya yang tidak cukup, biarlah saya tepiskan dulu gengsi, toh ini buat kebaikan kami juga. Saya tidak ingin merayakan dengan mewah lalu selepas upacara saya hidup di emperan toko. Calon sarjana sastra seperti saya tidak mampu berbuat banyak. (Oddang, 2015:18).

Ketiga, pengarang berpihak pada tokoh yang kanaah—merasa cukup atas

apa-apa yang dimilikinya. Kebencian terhadap sifat serakah merupakan oposisi yang dibuat pengarang untuk menunjukkan keberpihakannya terhadap sifat kanaah. Hal ini dapat dilihat dalam relasi antara tokoh hero dengan Marthen Ralla.

Kemarahan Marthen Ralla kepada tokoh hero terjadi ketika tokoh hero menyampaikan keinginannya di rapat tongkonan untuk menguburkan Rante Ralla di Makassar. Saat itu, nyaris terjadi pertumpahan darah karena Marthen mengayunkan parangnya kepada Allu, tetapi ada kerabat yang sigap menahan lengan Marthen.

Menurut tokoh hero, sejak kericuhan pembagian harta warisan keluarganya, Marthen adalah seseorang yang gila harta. Selain itu, Marthen juga beberapa kali ikut membujuk Allu agar mau menjual tanah tongkonan-nya kepada orang tambang. Allu heran melihat kelakuan pamannya itu. Ia bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, tipu daya seperti apa, atau bayaran yang seberapa banyak yang

diberikan oleh orang tambang sehingga Marthen juga ikut-ikutan mendesaknya untuk menjual tanah tongkonan kepada orang tambang.

Saya tahu ia tertohok, Paman Marthen tiba-tiba saja mematikan teleponnya. Saya tahu apa yang tengah diinginkannya. Ia ingin mengorbankan tongkonan kami, tanah kami, sejarah kami, dan warisan kami untuk dijadikan milik perusahaan tambang. Betapa saya tidak sampai berpikir tentang isi kepala Paman. Barangkali ia tidak membayangkan ketika alat berat kelak merobohkan tongkonan, meratakan tanah kami lalu membuat jalan untuk akses kendaraan-kendaraan penambang. Ah, dada saya sesak, saya membayangkan bagaimana Ambe berjuang. Uangnya

banyak, uangnya banyak. Kata-kata Paman berkelebat. Sialan sekali dia,

saya ingin merontokkan giginya yang sudah tidak sempurna dan rumpang di tengah itu. Seenaknya ingin menjual tongkonan kami. Sialan dia, saya ingin memukulnya demi Ambe (Oddang, 2015:37).

Setelah didesak berkali-kali, akhirnya Allu berani untuk membentak Marthen Ralla. Ia dengan lugas menyuruh Marthen Ralla untuk menyimpan uang pemberian orang tambang seperti terlihat dalam kutipan berikut.

“Ini urusan saya, tongkonan kami, sekarang saya yang

memimpinnya. Tak usahlah kau campuri itu, Paman. Sekali lagi, simpanlah

uang bos kau itu, Paman. Cukup!”

Saya mematikan telepon dan tentu tanpa salam basa-basi atau sikap sok manis. Paman Marthen telah berlebihan mencampuri urusan keluarga kami. Dasar budak kapitalisme, susu perah. Perlu baca Karl Marx si Marthen itu. (Oddang, 2015:49—50).

Relasi yang terjalin antara tokoh hero dengan Marthen Ralla menunjukkan bahwa keserakahan manusia akan harta membuatnya luput terhadap tanggung jawab sosial yang diembannya. Jika sudah teperdaya oleh harta benda, manusia rela melakukan apa pun untuk mencapai keinginannya.

Keempat, pengarang berpihak pada tokoh yang menjalani kehidupan seks

63

tokoh yang memiliki perilaku seks menyimpang. Perilaku seks menyimpang memiliki dampak buruk terhadap kehidupan tokoh. Tokoh melakukan perbuatan- perbuatan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai keagamaan dan kemanusiaan seperti pemerkosaan dan pembunuhan. Hal ini dapat dilihat pada relasi antara tokoh hero dengan Mr. Berth.

Mr. Berth merupakan merupakan bawahan Pak Soso di perusahaan tambang. Ia adalah seorang laki-laki homoseksual. Ia melakukan hubungan badan dengan pekerja-pekerja laki-lakinya di perusahaan tambang. Ia juga pernah melakukan sodomi kepada bayi hingga meninggal. Relasi antara tokoh hero dengan Mr. Berth dimulai saat ia ingin membeli tongkonan-nya. Karena Allu menolak, Mr. Berth akhirnya melakukan tipu daya lewat Malena—mantan kekasih Allu.

Setelah terjebak oleh keharusan melaksanakan rambu solo sebelum menikahi Malena, Allu akhirnya bersedia membantu Mr. Berth untuk mencuri mayat-mayat bayi di makam passiliran. Uang hasil pencurian mayat bayi itu digunakan Allu untuk mencukupi biaya pernikahannya dengan Malena. Mayat bayi yang dicuri Allu, dijadikan oleh Mr. Berth sebagai tumbal untuk perusahaan tambangnya. Perusahaan tambang sering mendapat kesialan seperti longsor dan mesin meledak yang menyebabkan korban jiwa. Hal ini membuat perusahaan rugi besar karena selain harus membenahi infrastruktur bangunan, juga harus membiayai pemakaman korban. Untuk itu, Pak Soso, sesuai kepercayaannya, menyuruh Mr. Berth mengubur bayi di area tambang sebagai tumbal untuk menyucikan tanah tambang agar perusahaan mereka tidak ditimpa kesialan lagi.

Kelima, pengarang berpihak pada humanisme. Keberpihakan pengarang ditunjukkan melalui perlawanan praktik kapitalisme yang dilakukan oleh tokoh hero di kampungnya. Kapitalisme melakukan eksploitasi terhadap sumber daya alam dan sumber daya manusia di Toraja. Kampung Kete’, sebagai lokasi area tambang nikel, dikeruk hasil buminya oleh perusahaan tambang. Selain itu, perusahaan tambang juga melakukan perluasan wilayah dengan melakukan tipu muslihat kepada tokoh hero dan masyarakat Toraja. Kepada masyarakat Toraja, perusahaan tambang pada awalnya menjanjikan akan memberikan pekerjaan yang layak jika masyarakat Toraja mengizinkan perusahaan tambang beroperasi di

Kampung Kete’. Akan tetapi, pada kenyataannya, setelah perusahaan tambang

berhasil beroperasi di Kampung Kete’, masyarakat Toraja hanya diberikan pekerjaan strata paling bawah, atau ada yang tidak diberikan pekerjaan sama sekali. Hal inilah yang diperjuangkan oleh Allu, setelah mengetahui ia juga dijebak oleh orang tambang melalui Malena, Allu mengomandoi masyarakat Toraja untuk membakar area tambang. Allu mengajak masyarakat Toraja untuk melakukan perlawanan membela hak-hak mereka yang terlindas oleh kepentingan orang-orang tambang.

Keenam, nilai-nilai religius seperti amanah, jujur, tulus, dan mencintai alam,

juga digambarkan pengarang lewat perilaku tokoh hero. Selain itu, rasionalitas juga dikedepankan dalam novel ini. Pembantaian kerbau dan babi yang menghabiskan dana jutaan rupiah dalam upacara rambu solo, dianggap tokoh hero sebagai tindakan irasional yang memberatkan banyak orang. Hal inilah yang diperjuangkan tokoh hero dalam novel ini.

65

Keberpihakan pengarang terhadap elemen-elemen di atas, menunjukkan ideologinya yang memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan dengan tetap menyadari bahwa dirinya adalah makhluk tuhan sehingga juga berperilaku sesuai dengan aturan-aturan di dalam agama yang dipercayainya. Dengan begitu, ideologi yang dibawa pengarang dalam novel Puya ke Puya adalah humanisme religius.

66 BAB IV

KELOMPOK SOSIAL PENGARANG

Karya sastra lahir dari respons pengarang sebagai wakil dari kelas sosialnya terhadap kondisi sosial budaya yang melingkupinya. Subjek kolektif yang menghasilkan pandangan dunia pengarang menurut Goldmann dapat berupa kelompok kekerabatan, kelompok sekerja, kelompok teritorial, dan sebagainya (Faruk, 2010:63).

Pengarang novel Puya ke Puya lahir dan hidup di Sulawesi Selatan sehingga pengarang mempunyai keterkaitan dengan kondisi budaya masyarakat Sulawesi Selatan. Berikut akan dipaparkan mengenai kondisi sosial yang melingkupi pengarang sejak kecil sampai proses kreatifnya menulis Puya ke Puya.

4.1 Biografi Faisal Oddang

Faisal Oddang merupakan laki-laki bersuku Bugis yang lahir pada September 1994. Ia menulis puisi, cerpen, esai, dan novel. Faisal pernah mendapatkan penghargaan ASEAN Young Writers Award 2014 dari pemerintah Thailand, Penulis Cerpen Terbaik Kompas 2015, dan Tokoh Seni Tempo 2015. Ia juga pernah diundang ke Ubud Writers and Readers Festival 2014, Makassar International Writers Festival 2015, dan Salihara International Literary Biennale 2015. Selain itu, pada tahun 2016, ia terpilih untuk mengikuti residensi penulis ke Leiden.

Karya-karyanya pernah dimuat di berbagai media massa di antaranya

67

lain-lain. Selain itu, dalam beberapa tahun terakhir, ia juga menjuarai berbagai perlombaan menulis di antaranya Juara III Lomba Puisi Nasional Kamenparekraf, Juara II Lomba Puisi dan Juara II Lomba Cerpen Nasional Writing Revolution 2013, Juara Favorit Lomba Menulis Cerpen Nasional PT. Rohto, dan Juara I Lomba Puisi Nasional dalam rangka Bulan Bahasa UGM 2014.

Beberapa karya Oddang yang sudah terbit di antaranya Rain and Tears (Divapress, 2013), Antologi Puisi Merentang Pelukan (Motion, 2012), Antologi Puisi Wasiat Cinta (Nala Cipta Litera, 2013), Antologi Cerpen Dunia di Dalam Mata (Motion, 2013), Antologi Cerpen Cerita Horor Kota (Plotpoint, 2013), Antologi Cerpen Kisah dari Rumah Kambira (Smartwriting, 2013), Antologi Cerpen Pilihan Kompas Di Tubuh Tarra, dalam Rahim Pohon (Kompas, 2015),

Puya ke Puya (KPG, 2015), dan Pertanyaan kepada Kenangan (Gagasmedia,

2016).

Oddang merupakan mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Universitas Hasanuddin, Makassar. Di dalam karya-karyanya, Oddang sering kali menanggapi persoalan-persoalan universal menggunakan sudut pandang lokal. Hal ini diakui Oddang saat sesi wawancaranya dengan buruan.co. Ia mencontohkan lewat

cerpennya yang terpilih di ASEAN Young Writers Award 2014 berjudul “Jangan

Tanyakan tentang Mereka yang Memotong Lidahku”. Di dalam cerpen tersebut, Oddang menceritakan kasus 1965, tentang komunisme yang menjadi alasan dibasminya pendeta Bugis yang memiliki kepercayaan tradisional Bugis. Oleh karena memiliki kepercayaan lain tentang Tuhan, komunisme menjadi alat pembasmian mereka.

Bahasa yang digunakan Oddang dalam karyanya cenderung tidak melupakan

dialek lokal. Akan tetapi, dalam cerpennya “Di Tubuh Tarra, dalam Rahim Pohon”,

ia menggunakan bahasa yang lebih universal. Dialek lokal bagi Oddang penting untuk membangun cerita.

4.2 Nilai-Nilai Religius di Lingkungan Masa Kecil Faisal Oddang

Orang tua Oddang tinggal di Sengkang. Profesi ayahnya adalah petani pemilik lahan dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Setelah resmi menyandang status sebagai mahasiswa, ayahnya kerap menanyakan perihal apalagi yang ditulis oleh Faisal Oddang. Hal ini membuat Oddang termotivasi untuk menulis agar ada tulisan-tulisan terbarunya yang dapat dibaca oleh ayahnya.

Faisal Oddang tinggal di keluarga dan lingkungan tradisional yang sangat memegang teguh adat. Kenyataan ini berdampak pada tulisan-tulisan yang dihasilkan Faisal Oddang. Dalam tulisan-tulisannya, Faisal kerap menulis dengan latar belakang lokalitas Sulawesi Selatan, baik itu Bugis, Toraja, maupun Mandar. Bugis merupakan salah satu etnik yang berada di wilayah Sulawesi Selatan. Kata Bugis berasal dari kata “to ubi” yang berarti orang Bugis. Penamaan “ubi” merujuk pada raja pertama kerajaan Cina yang terdapat di Pammana, Kabupaten Wajo saat ini, yaitu La Sattumpugi. Saat ini orang Bugis tersebar dalam beberapa kabupaten yaitu Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Sidrap, Pinrang, Barru. Daerah peralihan antara Bugis dan Makassar adalah Bulukumba, Sinjai, Maros, dan

69

Pangkajene Kepulauan. Daerah peralihan Bugis dengan Mandar adalah Kabupaten Polmas dan Pinrang9.

Pada masa kemerdekaan, para raja di Nusantara mendapat desakan oleh pemerintahan Orde Lama untuk membubarkan kerajaan mereka dan melebur dalam wadah NKRI. Pada tahun 1950—1960-an, Indonesia khususnya Sulawesi Selatan disibukkan dengan pemberontakan. Pemberontakan ini mengakibatkan banyaknya orang Bugis meninggalkan kampung halamannya. Pada zaman Orde Baru, budaya periferi seperti di Sulawesi dipinggirkan sehingga semakin terkikis. Saat ini, generasi muda Makassar dan Bugis adalah generasi yang lebih banyak mengonsumsi budaya material sebagai akibat dari modernisasi, kehilangan jati diri akibat pola pendidikan Orde Baru yang meminggirkan budaya mereka10.

Masyarakat Bugis tersebar di pesisir dan dataran rendah yang subur. Hal ini menyebabkan sebagian besar masyarakatnya menjadi petani dan nelayan. Selain itu, mata pencaharian lain yang diminati orang Bugis adalah berdagang. Mereka juga mengisi birokrasi pemerintahan dan menekuni bidang pendidikan.

Ada sebuah pepatah di Bugis berbunyi “Wilayah perempuan adalah sekitar

rumah, sedangkan ruang gerak laki-laki menjulang hingga ke langit”. Hal ini menunjukkan bahwa dalam organisasi sosialnya, kedudukan perempuan disamakan dengan derajat laki-laki. Akan tetapi, perempuan tidak wajib untuk mencari nafkah

9 id.wikipedia.org/wiki/Bugis diakses pada 9 Oktober 2016 10 id.wikipedia.org/wiki/Bugis diakses pada 9 Oktober 2016

bagi keluarganya karena bekerja keras untuk menghidupi keluarga adalah kewajiban seorang laki-laki.

Sejak dahulu, masyarakat Sulawesi Selatan telah memiliki aturan tata hidup. Aturan tata hidup tersebut berkenaan dengan sistem pemerintahan, sistem kemasyarakatan, dan sistem kepercayaan. Orang Bugis menyebut keseluruhan

Dalam dokumen Pandangan Dunia dalam Novel Puya ke Puya (Halaman 68-93)

Dokumen terkait