Benar, rombongan itu para tamu dari ibu kota Pakuan Pajajaran. Mereka dipimpin oleh Pamanda Kunten, adik Ayahanda Banyak Citra yang tinggal di ibu kota Pakuan
Pajajaran. Beliau menjadi pembantu menteri di sana. Pamanda Kunten datang dengan berlinang air mata. Kedatangannya itu tidak saja disambut para keluarga Banyak Citra, tetapi juga oleh hampir seluruh bangsawan Kota Medang. Malam itu, mereka berkumpul kembali di ruangan tengah istana. Banyak Sumba, sebagai anak laki-laki terbesar, diperbolehkan hadir di ruangan tengah itu. Ia tidak duduk di depan, tetapi di sudut, di tempat yang agak gelap.
Ketika ruangan mulai hening, dengan isyarat, Ayahanda memerintahkan Pamanda Kunten untuk menyampaikan berita yang dibawanya, tidak saja kepada Ayahanda, tapi juga kepada hadirin yang terkumpul. Pamanda Kunten mulai berbicara, "Kakanda Banyak Citra, bagi para bangsawan Kota
Medang, saat ini saat yang paling menyedihkan dalam hidup saya. Saya harus menyampaikan berita yang paling
menyedihkan yang dapat didengar oleh Kakanda Banyak Citra dan para bangsawan Kota Medang. Ternyata, berita sedih itu sudah tiba sebelum kami datang. Oleh karena itu, kami hanya akan menjelaskan jalan ceritanya hingga peristiwa itu terjadi.
Penjelasan tentang jalannya peristiwa ini kami terima dari pihak-pihak yang dekat hubungannya dengan istana dan juga dengan Lembaga Kepuragabayaan.
"Menurut penjelasan itu, sudah beberapa
lamajanteJaluwuyung memperlihatkan tingkah laku yang aneh. Ia seolah-olah memendam suatu persoalan yang tidak mau dikemuka-kannya kepada orang lain, juga kepada sahabat karibnya, yaitu Pangeran Anggadipati. Kemudian, Jante, seperti kita ketahui, ditempatkan di Kutabarang sebagai pengawal penguasa Kutabarang. Di situlah, Jante terlibat perselisihan dan perkelahian dengan Raden Bagus Wiratanu serta para pengiringnya. Raden Bagus Wiratanu ini putra sulung penguasa Kutawari-ngin. Ia mencintai Putri Mayang Cinde yang berasal dari kota yang sama, tetapi kemudian pindah ke Kutabarang. Rupanya antara Mayang Cinde dan Jante ada hubungan. Itulah sebabnya, Raden Bagus Wiratanu pada suatu hari menyergap Jante. Dalam perkelahian itu, Jante membunuh Raden Bagus Wiratanu dan melukai beberapa orang pengiringnya.
"Setelah peristiwa itu, Jante menghilang dari Kutabarang.
Tumenggung Wiratanu dari Kutawaringin mengadu kepada sang Prabu di Pakuan. Semua anggota keluarga wangsa Wiratanu berikrar untuk membalas dendam. Sang Prabu mengirimkan beberapa orang puragabaya untuk menyelidiki.
Lalu terjadi pula peristiwa yang menggemparkan. Beberapa orang bangsawan yang sedang berburu diserang dan dibunuh oleh Jante. Para puragabaya dikerahkan ke tempat kejadian itu untuk menangkap Jante, tetapi dalam usaha itu, Jante terjatuh ke jurang dan berita selanjutnya sudah kita ketahui.
"Sebagai tambahan, saya menyampaikan kepada Kakanda Banyak Citra dan para bangsawan Kota Medang bahwa dua hari sesudah kami berangkat, dari ibu kota diberangkatkan pula serombongan utusan sang Prabu untuk menyampaikan berita dan tanda belasungkawa kepada kita semua.
Demikianlah seluruh berita yang ingin kami sampaikan!"
Selesai penyampaian berita itu, Ayahanda mendengus.
Beberapa orang bangsawan Kota Medang tetap menunduk, tetapi beberapa lagi, yaitu ipar-ipar atau
keponakan-keponakan terdekat, memperlihatkan sikap percaya. Ruangan hening, tapi dari sudut mata beberapa orang bangsawan tampak cahaya mata menyelidiki. Mereka seperti saling mencurigai, tapi tak seorang pun berani membuka hatinya untuk mengetahui isi hati pihak lain. Akhirnya, karena tekanan keheningan itu semakin berat, beberapa orang bangsawan bergerak-gerak dari tempat duduknya. Ayahanda mendeham, kemudian berkata dengan berat tetapi lantang, "Kunten, Adikku, terima kasih atas jerih payahmu dan sahabat kalian, yang telah melakukan perjalanan begitu jauh dari ibu kota Pakuan Pajajaran. Tanpa mengurangi rasa terima kasih kami, ingin kusampaikan kepada kalian dan para bangsawan Kota Medang bahwa kisah tentang peristiwa itu terlalu bagus dan terlalu mudah membebaskan pihak-pihak yang terlibat dari kesalahan-kesalahan yang mungkin telah diperbuat, hubungan dengan kematian anakku itu. Oleh karena itu, kisah itu masih terbuka untuk penelitian dan pembahasan kami di Kota Medang. Di samping itu, kami pun memiliki kisah lain yang berbeda dengan kisah yang kalian bawa. Baiknya kisah ini kuceritakan ....
"Sebenarnya, sejak lama Jante sudah membaui rencana busuk yang diarahkan kepadanya. Ia menceritakan kepadaku bahwa dalam setiap latihan, para pelatih dan kawan-kawan seperguruannya berulang-ulang mencoba membunuhnya.
Demikian juga di medan pertempuran, Jante sering merasa dijadikan umpan untuk memancing serangan lawan. Untung,
ia cukup sigap dan waspada. Demikian Jante berulang-ulang mengatakannya kepadaku. Ia sudah curiga, lama sebelum peristiwa itu terjadi. Bahkan, begitu curiganya ia akan
pengkhianatan itu, sering ia berjaga-jaga di malam hari hingga kurang tidur. Di samping itu, ia pun sering termenung
memikirkan alasan orang-orang yang bermaksud membunuhnya.
"Pada suatu hari, ketika kumasuki biliknya, begitu curiganya Jante sehingga ia tiba-tiba menyerangku. Untung aku segera berteriak dan berseru kalau aku ayahnya. Ketika itulah, kutanya mengapa ia berbuat demikian. Ia menjawab bahwa sudah lama orang-orang di Padepokan Tajimalela mencoba membunuhnya. Ia begitu berterus terang kepadaku, padahal biasanya ia sangat tertutup. Barangkali karena menyadari betapa besarnya bahaya yang mengancamnya, akhirnya ia mencurahkan isi hatinya kepadaku, yaitu orang-orang yang bermaksud membunuhnya. Alasannya hanya satu, ia terlalu hebat sebagai seorang puragabaya."
Hadirin diam, tapi jelas bagi Banyak Sumba, tidak semua setuju dengan apa yang dikatakan Ayahanda. Sebagian bangsawan saling melirik lewat sudut mata seolah-olah mereka berbincang-bincang melalui cahaya mata mereka.
Akan tetapi, tidak ada di antara mereka yang berani membantah apa yang dikatakan Ayahanda. Karena hadirin diam, Ayahanda pun mulai berkata lagi, "Mula-mula, mereka mencoba membunuh anakku selagi latihan dan seandainya ia meninggal ketika itu, dengan mudah mereka akan
mengatakan bahwa Jante meninggal karena kecelakaan. Jante lolos dari tipu muslihat itu, maka dibawalah ia ke beberapa medan perang; ternyata ia selamat juga. Akhirnya, Bagus Wiratanu dijadikan umpan dan didapatlah alasan untuk memburu dan mengeroyok Jante secara pengecut. Semua itu dilakukan orang karena Jante terlalu hebat, orang-orang iri kepadanya dan karena ia salah seorang anggota wangsa
Banyak Citra, yang dalam sejarah telah menurunkan orang-orang besar dan orang-orang-orang-orang perkasa bagi kerajaan.
'Aku bertanya kepada kalian, bukankah tidak mustahil kalau ada keluarga bangsawan lain yang iri karena tempatnya dalam kehormatan direbut Jante? Bukankah tidak mustahil kalau wangsa Anggadipati, wangsa Gagak Pernala, atau wangsa Per-bangkara menginginkan kehormatan yang dicapai oleh salah seorang wangsa Banyak Citra?" Setelah berkata demikian, mata Ayahanda mengawasi wajah para bangsawan yang hadir.
Mendengar panjelasan terakhir itu, sebagian bangsawan tersadar dari impian. Mereka bangkit dan dengan menggeram menyatakan kemarahan mereka. Mereka bergerak-gerak dari tempat duduk seraya berpaling ke kiri dan ke kanan. Tampak bahwa akhirnya mereka melihat kebenaran yang dibukakan melalui kisah yang disampaikan Ayahanda. Akan tetapi, sebagian bangsawan itu diam saja. Di mata Banyak Sumba, mereka tampak ragu:ragu. Bahkan, Banyak Sumba menduga bahwa ada di antara mereka yang tidak percaya pada kisah Ayahanda.
Di antara mereka ini ada yang secara berani
memperlihatkan sikap tidak acuh, yaitu Raden Pembayun Jakasunu, salah seorang bangsawan tertinggi yang terkaya di Kota Medang
Ketika mengakhiri kisahnya, Ayahanda mengarahkan pandangannya ke wajah Raden Pembayun Jakasunu ini. Akan tetapi, Raden Pembayun Jakasunu dengan tak acuh melihat ke kiri dan ke kanan dengan ujung matanya. Bangsawan yang lain, yang tampak tak percaya, seolah-olah saling memberi isyarat dengan Raden Pembayun Jakasunu. Bahkan, Banyak Sumba melihat dalam remang, salah seorang bangsawan ini ada yang tersenyum mengejek. Banyak Sumba memandang hal itu dengan hati panas, tetapi ia tidak dapat berbuat
apa-apa. Ia hanya berjanji dalam hati bahwa hal itu akan dilaporkan kepada Ayahanda selelah selesai pertemuan.
"Baiklah," ujar Pamanda Kunten memecah keheningan,
"Marilah kita tunggu saja bagaimana kisah yang akan disampaikan kepada kita oleh para utusan resmi sang Prabu yang dalam waktu dekat akan tiba di Kota Medang ini. Setelah itu, kita akan mengambil sikap."
"Aku mengambil sikap, seluruh Kota Medang sudah
mengambil sikap, yaitu akan membalas dendam. Para pemuda Kota Medang malam tadi telah berikrar bahwa mereka akan membunuh para pembunuh Jante. Mereka akan meminum darahnya dan memakan hatinya, dan akan melemparkan bangkainya kepada anjing. Sumpah ini diucapkan dengan saksi Sang Hiang Tunggal dan tidak akan dicabut lagi. Para pemuda Kota Medang bukan orang-orang yang suka menjilat ludahnya kembali," kata Ayahanda.
Mendengar perkataan itu, bergumamlah sebagian
bangsawan, tetapi sebagian orang diam-diam saja. Tampak oleh
Banyak Sumba bahwa Ayahanda pun menyadari apa-apa yang dilihatnya.
Ketika pertemuan itu diakhiri, hari sudah larut malam.
Tidak ada keputusan baru yang diambil, tidak ada ikrar baru yang diucapkan. Akan tetapi, jelas bahwa keadaan sudah berubah dibandingkan dengan malam sebelumnya; ketika para bangsawan sama-sama terbakar oleh amarah. Setelah kisah baru disampaikan, sebagian mcrekajadi ragu-ragu, sedangkan sebagian kecil, yaitu Raden Pembayun Jakasunu dan sahabat-sahabatnya, tampak tak acuh.
Keesokan harinya dan hari-hari berikutnya, orang-orang di Kota Medang tidak mempercakapkan hal lain, kecuali tentang kisah-kisah kematian Kakanda Jante Jaluwuyung. Di pasar-pasar, di pandai-pandai besi, di tempat tukang menganyam
tikar, di ladang, dan di huma-huma orang-orang terdekat. Ada yang setuju dengan kisah yang pertama dan ada pula yang percaya pada kisah yang kedua. Bahkan, ada orang yang mulai bertengkar karena adanya dua kisah itu. Lebih dari itu, Banyak Sumba pernah melihat bagaimana dua orang tukang kuda berbaku hantam karena yang satu percaya pada kisah yang pertama, yang lain pada kisah yang kedua.
Pendeknya, perbedaan pendapat telah terjadi dan membagi penduduk kota menjadi beberapa golongan. Bukan saja di kalangan rakyat biasa, di kalangan bangsawan lebih-lebih lagi.
Di kalangan ini, perbedaan pendapat tidak terbuka, tetapi tidak berarti lebih lunak. Sebaliknya, walaupun dibisikkan dalam ruangan-ruangan tertutup, perbedaan pendapat tidak lebih kecil, jurang perpecahan tidak lebih sempit. Oleh karena itu, Banyak Sumba merasa tidak betah, bahkan gelisah dan cemas kalau ia harus berjalan-jalan di dalam kota. Sering sekali orang berhenti bicara kalau dia lewat, bahkan orang-orang yang biasanya ramah, kini sering menghindarkan diri kalau berpapasan di lorong-lorong. Itulah sebabnya, dalam beberapa hari belakangan, ia lebih suka pergi ke luar benteng seraya melarikan si Dawuk p'erlahan-lahan menyusuri huma-huma, semak-semak, dan hutan-hutan kecil di sekitar Kota Medang yang menjadi panas itu.
PADA suatu pagi, lima hari setelah pertemuan para bangsawan di istana, barulah Banyak Sumba punya
kesempatan bertemu dengan Ayahanda. Ketika itulah, Banyak Sumba menceritakan apa yang dilihatnya dalam pertemuan itu. Ia menceritakan bagaimana Raden Jakasunu beserta sahabat-sahabatnya seperti menganggap sepele setiap perkataan Ayahanda.
Mendengar keterangan itu, berkerutlah kening Ayahanda, lalu beliau bertanya dengan sungguh-sungguh, "Apakah mereka tersenyum mengejek?"
"Tampaknya kepada hamba demikian, Ayahanda." "Apakah mereka sering memberi isyarat atau sering memandang penuh pengertian?" tanya beliau pula.
"Hamba tidak melihat hal itu, Ayahanda. Hamba hanya melihat seolah-olah mereka bosan mendengar kata-kata Ayahanda, kemudian mereka tak acuh. Kalau Ayahanda berbicara dengan penuh... penuh semangat, mereka tersenyum masam."
"Kalau begitu, benar dugaanku," ujar Ayahanda setelah termenung beberapa lama. Banyak Sumba tertegun karena penasaran.
Bahkan, Jakasunu dan kawan-kawannya akan
mempergunakan kesempatan ini untuk kepentingan mereka.
Mereka akan menjatuhkanku dengan cara yang curang.
"Banyak Sumba, untung kauberitahukan hal ini kepadaku.
Kalau tidak, Ayahanda akan mereka pukul selagi lengah.
Banyak Sumba, ketahuilah bahwa Jakasunu sangat mengingini kedudukanku sebagai penguasa Kota Medang ini. Betapa tidak, ia sangat kaya, juga keturunan bangsawan. Kurangnya dariku hanyalah karena leluhurnya belum pernah ada yang jadi menteri. Nah, bukankah orang seperti dia harus kucurigai dari dulu?
"Banyak Sumba, sebelum aku diangkat menjadi penguasa Kota Medang ini, pada suatu malam, di tengah jalan
segerombolan penyamun menyerangku. Untung gulang-gulang kita sigap-sigap. Sekarang, makin jelas bahwa perampok-perampok itu mungkin suruhan Jakasunu. Karena kalau aku mati sang Prabu akan menempatkan dia sebagai penguasa Kota Medang ini. Mengertikah kau sekarang, Banyak Sumba?"
"Tapi, Ayahanda, hamba hanya melihat ia tak acuh." "Tak acuh, ya, tak acuh sudah cukup, Banyak Sumba. Untung kau memberitahukannya kepadaku. Untung. Dalam tiga hari
belakangan ini, aku sedang menulis surat untuk sang Prabu di Pakuan Pajajaran. Ayah memohon kepada beliau agar para pembunuh Jante diserahkan supaya keadilan dijalankan. Ayah harus waspada dan melindungi hingga surat itu dapat diterima dengan baik oleh sang Prabu. Siapa tahu Jakasunu akan mengerahkan orang-orangnya lagi dalam rangka merebut kedudukan Ayah."
Walaupun tidak tahu apa yang harus dipercaya dan harus tidak dipercaya dan pikirannya menjadi bingung oleh masalah-masalah ruwet yang hidup di antara orang-orang tua, Banyak Sumba tidak bertanya apa-apa lagi kepada Ayahanda. Di samping itu, tampak Ayahanda sangat terguncang oleh
keterangannya. Banyak Sumba bahkan merasa menyesal telah menyampaikan apa yang dilihatnya dalam pertemuan. Akan tetapi, ia pun merasa lega sebab kalau dugaan Ayahanda benar, yaitu Raden Pembayun Jakasunu akan
mempergunakan kesempatan itu untuk tujuan-tujuannya sendiri, Banyak Sumba telah membantu menghindarkan hal yang tidak diingini itu. Bagaimanapun, ia tetap bingung. Ia tidak dapat membedakan yang benar dari yang salah, yang nyata dari yang dikhayalkan, yang baik dari yang buruk. Itu pula sebabnya, ia lebih suka pergi meninggalkan istana dan kota.
SETELAH percakapan itu, Banyak Sumba meninggalkan istana. Melalui gerbang kota bagian barat, ia menuju telaga tempat ia bermain-main seorang diri atau berenang kalau hari panas. Di atas si Dawuk yang telah tahu tujuan tuannya, Banyak Sumba termenung.
Dalam renungannya itu, ia tidak mau mengingat-ingat percakapan dengan Ayahanda Banyak Citra ataupun kejadian-kejadian yang bertalian dengan pertemuan beliau dengan para bangsawan. Ia teringat kepada Kakanda Jante Jaluwuyung.
Tiba-tiba saja ia sadar bahwa Kakanda Jante telah tiada untuk
selama-lamanya. Memang, Kakanda Jante bukanlah seorang kakak yang lemah lembut. Ia kakak yang tidak suka bergaul dengan adik-adiknya, ia kakak yang keras, yang tidak ragu-ragu mempergunakan tangannya kalau ada hal-hal yang tidak disetujui dari tutur kata atau tingkah laku adik-adiknya. Akan tetapi, bagaimanapun, Kakanda Jante Jaluwuyung kakaknya.
Di samping itu, Kakanda Jante kebanggaan keluarga, seorang putra bangsawan yang karena tingkah lakunya yang baik telah terpilih menjadi puragabaya. Lalu, bukankah sebenarnya Kakandajaluwuyung sayang kepadanya dengan caranya sendiri? Bukankah Kandajaluwuyung yang mengajarinya naik kuda, memanah, mempergunakan tombak, walaupun dalam memberi pelajaran sangat murah dengan caci maki dan bahkan tempeleng? Dan bukankah kalau sekarang ia mahir dengan kepandaian seorang kesatria, hal itu berkat pendidikan Kanda Jante yang keras?
Kesadarannya itu tiba-tiba menyebabkan hati Banyak Sumba terhenyak. Tiba-tiba, matanya basah dan ketika ia menyibakkan rambut yang ditiup angin ke pipinya, telapak tangannya menjadi basah oleh air mata. Perlahan-lahan, kesedihan itu menjadi lebih dalam ketika ia menyadari bahwa sebenarnya kesedihan itu tidak ia sendiri yang merasakannya.
Ayahanda kelihatan lebih tua beberapa tahun setelah
mendengar berita kematian KakandaJantejaluwuyung. Ibunda tidak pernah meninggalkan tempat peraduan dalam beberapa hari setelah peristiwa itu. Demikian juga Ayunda Yuta Inten, yang walaupun dapat mengerjakan tugasnya sehari-hari, selalu berurai air mata. Kesadaran itu menyebabkan Banyak Sumba menyadari apa artinya ikatan keluarga, kesetiaan, dan perasaan senasib orang-orang yang sekeluarga. Kesadaran itu menyebabkan ia mengerti apa yang disebut kehormatan keluarga itu.
Ia tiba-tiba mengerti dan menghayati apa yang dikatakan Ayahanda ketika upacara di lapangan istana, ketika
pertemuan-pertemuan dengan bangsawan-bangsawan dan
adik-adik beliau yang datang dari Kutabarang maupun dari Pakuan Pajajaran. Tiba-tiba, berkobarlah kemarahan dan semangat balas dendam dalam diri Banyak Sumba. Perlahan-lahan, bibirnya membisikkan sumpah yang diucapkan oleh bangsawan-bangsawan muda di dalam upacara itu. "Minum darahnya, makan hatinya, lempar bangkainya ke tengah-tengah anjing kampung!" bisiknya. Bisikan ini keluar dari semangat yang menyala dalam hadnya, kemudian membantu memperbesar nyala itu. "Minum darahnya! Makan hadnya!
Lempar bangkainya pada anjing!" tiba-tiba Banyak Sumba berteriak.
Si Dawuk meringkik, lalu melompat dan berlari bagai anak panah. Si Dawuk melonjak-lonjak melalui ladang, huma, semak-semak, dan hutan-hutan kecil sebelah barat Kota Medang. Banyak Sumba memacunya, menuju telaga tempatnya menyepikan diri. Tidak berapa lama, langkah si Dawuk menjadi perlahan dan tibalah mereka di tepi telaga itu.
Si Dawuk minum, sementara Banyak Sumba mencelupkan kakinya. Air yang sejuk itu seolah-olah merayap,
mendinginkan kaki juga hatinya. Detak jantungnya melambat dan duduklah Banyak Sumba di atas sebatang kayu yang melintang di sana.
Tiba-tiba, didengarnya bunyi berpuluh-puluh kaki kuda dari balik hutan kecil. Banyak Sumba bangkit, lalu menyelinap ke semak-semak menuju arah datangnya bunyi kaki kuda itu.
Berulang-ulang ia melompati semak duri, berulang-ulang ia merunduk di bawah dahan-dahan yang melintang berulang-ulang pula ia membetulkan tali alas kaki kulit yang dipakainya.
Akhirnya, tampak di hadapannya suatu bagian hutan yang terbuka. Ia berhenti, menahan napasnya. Suara dengus kuda terdengar, demikian juga suara orang bercakap. Ia
menjatuhkan diri dan bergerak mendekati suara itu dengan merangkak. Maka, tampaklah apa yang ingin dilihatnya.
Dua orang bangsawan tinggi berpakaian kebesaran kerajaan, duduk di atas kuda mereka yang didandani rapi. Di belakang kedua orang bangsawan ini, sekurang-kurangnya lima belas orang jagabaya bersenjata lengkap dengan pakaian perang. Rombongan ini berhadapan dengan enam orang penduduk Kota Medang, yaitu bangsawan-bangsawan yang dipimpin Raden Pembayun Jakasunu. Mereka bersalaman, kemudian berhadapan kembali dan mulailah bangsawan asing itu bertanya: 'Jadi, kemungkinan pemberontakan itu ada?"
"Segalanyr. mungkin, Pangeran, tetapi hamba tidak melihat kemungkinan seburuk itu," jawab Raden Jakasunu.
"Bagaimanapun, kita harus memikirkan yang buruk lebih dahulu," kata bangsawan yang seorang lagi.
"Bangsawan-bangsawan muda setempat sudah berikrar untuk membalas dendam," sambung Raden Jakasunu.
"Banyak Citra ini memang keras kepala. Sayang, padahal ia seorang penguasa yang baik. Yang jadi soal, ia keras kepala, sempit, perasa, dan angkuh," kata bangsawan yang satu lagi kepada kawannya.
"Tugas kita dari sang Prabu hanya menyampaikan
keterangan dan belasungkawa. Kukira tidak perlu kita berpikir hingga ke soal kemungkinan pemberontakan."
"Soalnya, kita perlu berhati-hati. Siapa tahu kita ditangkap, lalu dijadikan sandera untuk tujuan-tujuan Banyak Citra yang tidak kita ketahui. Bukankah katamu tadi, ia akan menuntut kepada sang Prabu agar Anggadipati diserahkan kepadanya?"
tanya bangsawan itu kepada Raden Jakasunu.
"Demikian menurut pendengaran hamba dari salah seorang teman hamba yang dekat dengan Raden Banyak Citra,
Pangeran," jawab Raden Jakasunu.
Banyak Sumba tidak sabar lagi untuk memberitahukan apa yang dilihat dan didengarnya kepada Ayahanda. Ia merangkak
kembali ke tempatnya semula. Pakaiannya sobek-sobek dan kulitnya luka-luka oleh duri semak-semak, tetapi itu tidak dipedulikannya. Ia merangkak menuju si Dawuk yang sedang asyik makan daun-daunan di tepi telaga.
Setiba di tempat si Dawuk, Banyak Sumba tidak langsung menunggangi kuda itu, tetapi menuntunnya, berjalan menjauh dari tempat orang-orang mengadakan pertemuan rahasia itu.
Baru setelah yakin bahwa suara kaki kudanya tidak akan terdengar dari tempat orang-orang yang sedang berunding itu, Banyak Sumba melompat ke punggung si Dawuk, lalu memacunya ke gerbang kota. Ia memacu kuda itu begitu cepatnya hingga tidak berapa lama kemudian, ia sudah lewat di gerbangnya.
Tidak seperti biasa, ia tetap menunggangi kudanya dan memacunya di antara orang-orang yang sibuk. Ini perbuatan yang sangat tercela, apalagi kalau dilakukan seorang anak bangsawan. Akan tetapi, karena pentingnya berita yang harus disampaikannya kepada Ayahanda, ia terpaksa berlaku seperti
Tidak seperti biasa, ia tetap menunggangi kudanya dan memacunya di antara orang-orang yang sibuk. Ini perbuatan yang sangat tercela, apalagi kalau dilakukan seorang anak bangsawan. Akan tetapi, karena pentingnya berita yang harus disampaikannya kepada Ayahanda, ia terpaksa berlaku seperti