B. Perilaku Religius Akuntan Publik Muslim
3. I nforman 3: I ndependensi, Menepati Janji pada Sang
I ndependensi merupakan perilaku religius yang dialami oleh Andi. Keteguhannya menegakkan kode etik adalah bentuk menepati janjinya pada Sang I lahi. Sebagai akuntan publik muslim, ia merasakan bahwa ketaatannya menjalankan perintah Allah SWT membuat dirinya dapat disiplin dalam profesi. Sejak awal keyakinannya sudah teguh, bahwa melandaskan profesinya pada I slam semata-mata karena ia telah berjanji pada Allah SWT. Hal tersebut kemudian ia implementasikan dalam menegakkan salah satu kode etik yakni, independensi.
I ndependensi adalah suatu kondisi, sikap, perilaku, bahkan hati yang harus dimiliki oleh setiap auditor terhadap klien dalam menjalankan tugas auditnya. I ndependensi berarti seorang auditor tidak boleh memiliki keberpihakan pada klien. Walaupun pekerjaan auditor memang ditugasi dan dibiayai oleh klien, tetapi auditor harus bersikap netral terhadap kondisi klien yang diaudit. Auditor tidak diperbolehkan memihak atau menutup-nutupi kondisi klien.
Disiplin dalam menjunjung tinggi independensi adalah dampak dari ketaatannya saat disiplin menjalankan ibadah. Andi meyakini bahwa ketika ia dapat disiplin dengan aturan yang dibuat oleh Sang Maha Kuasa dan Maha Pencipta, maka ia juga akan disiplin pada aturan yang dibuat oleh makhluk ciptaan-Nya yakni manusia. Berikut penuturannya:
“I ndependensi itu kan tidak memihak ke salah satu dari klien yang kita audit, maupun yang berkepentingan dengan klien. Nah, dengan kita mempunyai tingkat kepercayaan dan tingkat
kedisiplinan beribadah yang baik, ya insya Allah itu tidak akan memihak dari salah satu. Yaitu independensi, kita tetap ditengah-tengah dari pihak klien dan pihak yang berkepentingan. I tu yang memperkuat independensi saya.”
Namun, penegakkan independensi kenyatannya tidaklah mudah. Adanya pressure dari dua pihak berkepentingan dalam bentuk dua permintaan yang berbeda yang hanya menguntungkan salah satu pihak, serta berbagai penawaran menggiurkan apabila Andi berhasil meloloskan permintaan tersebut, membuat penegakkan independensi kian sulit.
“..yang kejadian di saya itu ya independensi. Ya sebenarnya sih cukup berat juga, karena dari satu sisi klien dari satu sisi pihak yang berkepentingan, dan kita harus berada di posisi itu. Ya insya Allah, dengan tingkat kedisiplinan kita, ketaatan kita terhadap beribadah, bisa mempengaruhi independensi kita sebagai auditor. Karena pasti ada pressure.”
“Ya pressure-nya ‘tolong dong ini laporan disesuain, dengan yang kita mau’, terkadang seperti itu. Kalo dari pihak yang berkepentingan, misalnya pemegang saham tapi yang minoritas ‘tolong dong akun ini dihapus’. Jadi, kegiatan-kegiatan transaksi akun-akun yang masuk ke pribadi minta dihapus tuh, bisa terjadi.”
“Kalo menawarkan sih, menawarkan pasti bagus-bagus dong. Yang satu pihak klien, yang satu pihak berkepentingan.”
“Nah kita sesuaikan dulu standarnya, terus kita selesaikan secara kekeluargaan, musyawarah. I tu diajarkan juga kan dalam agama, gitu.”
Pada posisi ini, pengalaman Andi memberikan sebuah pelajaran. Penegakkan kode etik sebuah profesi tidak hanya bisa mengandalkan keahlian seorang profesional, dalam hal ini auditor. Tetapi juga mengandalkan kesadaran diri seorang manusia, bahwa ia hanyalah
makhluk biasa yang diciptakan tidak lain untuk mengabdi pada Allah SWT. Keteguhannya sejak awal bahwa syahadat adalah sebuah janji yang harus ditepati dan dijunjung tinggi salah satunya dengan masuk ke dalam I slam sepenuhnya. Andi berusaha menyadarkan dirinya, bahwa profesi tidaklah boleh lepas dari peran dan kendali agama, kendali Sang I lahi.
4. I nforman 4: Opini Audit Sebagai Habluminallah dan Habluminannas Perilaku religius profesional seorang akuntan publik muslim yang terakhir, berasal dari Deri. Jabatannya sebagai seorang Partner, membawa amanah untuk dapat menerbitkan opini audit yang dapat menjaga habluminallah dan habluminannas.
Sebagai seorang Partner, ia bertanggungjawab atas keberlangsungan hidup dan seluruh aktivitas proses audit dalam sebuah kantor akuntan publik. Namun, tanggung jawab utamanya terletak pada penerbitan opini audit. Dalam proses penerbitan opini audit itulah, yang kemudian memunculkan perilaku religius. I a sebisa mungkin berusaha untuk tidak bertentangan dengan etika profesi, sebagaimana yang ia yakini sejak awal bahwa ia tidak ingin bertentangan dengan nilai-nilai I slam.
Deri sejak awal telah yakin, bahwa dalam menjalankan profesinya ia harus sesuai dengan etika profesi yang berlaku agar tidak bertentangan dengan nilai-nilai I slam. Oleh karena itu, selama proses penerbitan opini, ia semaksimal mungkin patuh pada aturan audit yang berlaku.
Penerbitan opini audit wajar, harus memenuhi tiga unsur dan seluruhnya harus dipenuhi. Unsur tersebut adalah kesesuaian dengan Standar Akuntansi Keuangan (SAK), dijalankannya prosedur audit, dan keberadaan bukti-bukti audit yang memadai. Jika Deri menerbitkan opini audit wajar tanpa pengecualian atau wajar, maka ia harus memiliki keyakinan dipenuhinya ketiga unsur tersebut.
Proses penerbitan opini audit wajar, tidak semulus yang dibayangkan. Deri mengakui bahwa tidaklah mudah menerbitkan opini tersebut. Selain karena ketiga unsur harus dipenuhi dan diyakini, kenyataannya tidak semua klien dapat menerima sebuah hasil audit. I a juga mengakui bahwa dirinya selama ini memang menghindari menerbitkan opini tidak wajar. I a berusaha semaksimal mungkin dalam memaksimalkan prosedur audit yang berlaku, dan diskusi dengan klien atas temuan audit.
Deri meyakini bahwa audit merupakan sebuah verifikasi, sehingga tidak serta-merta menyatakan klien salah dan menerbitkan opini tidak wajar jika menemukan sebuah temuan. I a mengatasinya dengan melakukan sebuah proses diskusi dengan klien atas temuan tersebut. Proses diskusi dilakukan sebagai cara untuk meminta penjelasan dan konfirmasi lebih lanjut dari klien mengenai temuan. Jika temuan tersebut benar, maka klien harus melalukan adjustment agar sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku. Berikut penjelasannya:
“Jadi, ya selama ini saya menghindari ngasih opini yang tidak wajar dengan artian, kita harus diskusiin dulu sebelum menghasilkan opini. Hasil perhitungan audit kita seperti apa. Sehingga bisa diberikan opini, wajar tanpa pengecualian ataupun wajar dengan pengecualian.”
“..kan kalo kita audit itu kan, sebenarnya kita mau melakukan verifikasi. Kemudian ada temuan di lapangan, nah kita diskusikan hasil temuan itu. I ni loh, ini ga sesuai dengan standar akuntansi keuangan. Jadi, kalau biasanya klien itu bertanya kan ‘gimana yang sesuai?’, kan gitu. Ya kita kasih solusinya, ‘Bapak harus melakukan adjustment seperti ini di laporan keuangannya’. Nah, selama ini sih kliennya masih bisa terima adjustment itu.”
Pengalaman Deri merefleksikan sebuah pertanggungjawaban seorang muslim, bahwa dalam kehidupan sesama manusia tidak boleh merusak habluminallah dan habluminannas. Proses penerbitan opini audit melalui sebuah pendekatan diskusi, menjelaskan bahwa tidak bisa juga menyalahkan klien ketika ada temuan, melainkan melakukan konfirmasi terlebih dahulu. Sementara itu yang terpenting, tidak boleh juga melanggar perintah Allah SWT. Keyakinannya sejak awal bahwa dengan menegakkan kode etik adalah cukup untuk tidak melanggar aturan I slam, maka hubungannya dengan Allah SWT dalam profesinya sebagai akuntan publik tidak ingin ia rusak dengan melanggar ketentuan dan kode etik profesi yang berlaku.